Saturday, October 9, 2021

SQUID GAME VS ALICE IN BORDERLAND : SEBUAH REVIEW JUJUR

Review Squid Game vs Alice in Borderland

Aku yakin banget nih, beberapa akun sosial media kita dipenuhi sama cuplikan spoiler series Netflix dari Korea Selatan, Squid Game. Mulai dari ngebahas betapa sadisnya game yang ada di series itu, sampai ngebahas seberapa banyak followers Instagram para pemainnya bertambah pesat setelah Squid Game jadi booming di seluruh dunia.

Jauh sebelum Squid Game rilis di pertengahan 2021, Netflix sebenernya udah rilis satu series tentang survival game lainnya berjudul Alice in Borderland di akhir tahun 2020. Bedanya, Alice in Borderland ini berangkat dari produksi perfilman Jepang yang membuat live action dari sebuah komik terkenal berjudul sama. Series ini cukup hype pada jamannya, namun masih kalah hype jika dibandingkan Squid Game.

Dari perbandingan ini harus kuakui kalau industri hiburan Korea Selatan memang sedang bagus-bagusnya. Udah banyak nih orang-orang awam yang ngga punya minat nonton ‘drakor’, akhirnya ikut-ikutan nonton juga. Sedangkan untuk kelas produksi Jepang, hiburannya masih menyasar target pasar tertentu. Misalnya wibu atau gamers. Dari cara kerja dan bentuk produksinya aja kedua negara ini udah cukup beda.

Banyak yang bilang kalau Squid Game dan Alice in Borderland bukan series yang bisa dibandingin. Karena ‘jenisnya’ aja berbeda. Kalau Squid Game murni series yang ditulis dari tangan sutradaranya sendiri sejak 10 tahun silam. Sedangkan Alice in Borderland adalah sebuah adaptasi live action dari sebuah komik.

Meskipun begitu, ngga dikit kok yang ngebandingin kedua series ini, termasuk aku. Yaaa karena baik Squid Game maupun Alice in Borderland, keduanya sama-sama menceritakan tentang survival game.

Dan yap! Ini review jujur soal pandanganku kepada Squid Game dan Alice in Borderland. Aku bakal jelasin sedetail-detailnya apa kekurangan dan kelebihan dari masing-masing series ini. So, ini bakalan panjang!

GENRE DAN ALUR CERITA

Jika dibandingkan dari segi genre dan alur cerita, keduanya memiliki 2 fungsi yang berbeda. Memang genre utama keduanya adalah thriller dengan menampilkan ketegangan bagaimana tokoh-tokoh di dalamnya berjuang memainkan sebuah game yang taruhannya nyawa. Tapi jika dilihat dari segi fungsi dan pesan yang ingin disampaikan, harus kuakui Squid Game jauh lebih realistis.

Squid Game menceritakan tentang para orang-orang yang terlilit hutang dan mereka dipertemukan dalam total 6 game maut. Masing-masing peserta bernilai 100 juta won dan dengan total 456 peserta, maka ada total 45,6 miliar won yang dipertaruhkan. Squid Game sendiri memiliki total 9 episode dengan kurang lebih 7-10 karakter utama.

Sedangkan Alice in Borderland menceritakan tentang 3 sahabat yang terjebak ke sebuah dunia paralel di mana mereka harus menyelesaikan beberapa game (total ada 52 stage) demi memperpanjang visa untuk bertahan hidup. Tidak ada tujuan uang atau hadiah dalam setiap game yang mereka mainkan. Tujuannya hanya untuk memperpanjang visa dan mendapatkan kartu. Masing-masing game memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dilihat dari jenis kartunya. Alice in Borderland sendiri memiliki total 8 episode dengan lebih dari 10 karakter utama.

Bisa disimpulkan bahwa Squid Game memiliki nilai moral yang lebih realistis bagi penontonnya, yaitu agar kita bisa melihat bagaimana uang sangat mengambil peran di kehidupan manusia. Di beberapa sisi lain kita juga bisa melihat tentang kepercayaan, pengorbanan, rasa sakit dan masih banyak lagi sifat alamiah manusia pada umumnya. Jadi, secara kasar aku bisa bilang bahwa di dunia ini, game maut yang diselenggarakan oleh pihak elite di Squid Game, kemungkinan bisa dibuat reka ulangnya di dunia nyata.

Sedangkan Alice in Borderland memiliki unsur fantasi dalam genre-nya. Tidak ada penjelasan yang jelas apa penyebab orang-orang di Tokyo menghilang, bagaimana bisa ketiga sahabat itu terjebak dalam dunia paralel (borderland) dan dipaksa bermain game? Apa tujuannya selain untuk memaksa mereka bertahan hidup? Tidak dijelaskan secara gamblang apa motivasi series ini dibuat kecuali sebagai hiburan dan pemahaman sedikit tentang persahabatan, kepercayaan dan pengorbanan.

LEVEL KREATIFITAS DAN KESULITAN GAME

Berangkat dari mengangkat tentang survival game, kedua series ini menyuguhkan pemandangan bagaimana para karakternya menyusun fisik, strategi, kepercayaan dan keberuntungan untuk menyelesaikan tantangan demi tantangan. Sebuah ide yang sebenarnya tidak baru, karena jauh sebelum kedua series ini eksis, kita sudah disuguhi banyak sekali film dan series tentang survival game, seperti Maze Runner atau The Hunger Game. Tapi akibat kreatifitas pengemasan game yang ada, kedua series ini seperti terkesan lebih fresh dan menarik untuk ditonton.

Ngomongin soal kretaifitas, aku ngga bisa 100% bandingin mana yang lebih kreatif dari Squid Game maupun Alice in Borderland. Keduanya punya karakteristiknya masing-masing yang bahkan ngga bisa disamain meskipun isi dari kedua series ini ya memang fokus untuk menyelesaikan game demi game.

Alice in Borderland membutuhkan satu kota Tokyo untuk stage semua permainannya. Ada yang berlokasi di apartemen, ada yang berlokasi di terowongan, ada yang berlokasi di botanical garden, ada yang berlokasi di taman hiburan, dll. Tingkat kesulitan game ditentukan oleh jenis dan angka kartu yang muncul, semakin tinggi angkanya maka semakin tinggi tingkat kesulitannya. Wajik berarti game tentang intelegensi (kecerdasan). Waru berarti game tentang kekuatan fisik. Keriting berarti game tentang kerjasama tim. Dan hati berarti game tentang pengkhianatan.

Dari jenis seperti ini saja sudah bisa kita lihat, kalau Alice in Borderland punya jenis game yang lebih kompleks dan melelahkan. Terlebih ketika mereka ingin memainkan game, mereka tidak punya kesempatan mundur atau memilih jenis game apa yang akan mereka mainkan. Mereka juga akan menemukan peserta yang berbeda tiap game-nya. Dan tidak ada batasan berapa peserta yang mendaftar dan berapa jumlah finalis yang berhasil survive dari masing-masing game.

Squid Game jauh lebih sederhana. Para elite yang membuat game ini menawarkan orang-orang miskin untuk bergabung tanpa paksakan. Total game hanya 6. Dan hanya dicari 1 pemenang untuk memenangkan uang 46,5 miliar won. Bahkan mereka mendapatkan ranjang tempat tidur dan fasilitas makan (meskipun tidak memadai). Setting seluruh game berada di satu tempat yang sudah didesain khusus. Jika Alice in Borderland banyak melakukan teknik CGI untuk setting lokasinya, kita perlu apresiasi Squid Game karena membuat setting sebenarnya di lokasi syuting.

Satu keunikan Squid Game dari keserdahaan game-nya adalah, mereka menyulap permainan-permainan tradisional yang dimainkan oleh anak-anak di Korea menjadi sebuah game mematikan (yang bagi beberapa orang menimbulkan sedikit kesan trauma). Tidak ada tuntutan kecerdasan pada level game di Squid Game. Mereka hanya membutuhkan fisik, keberuntungan dan pengkhianatan. Karena keenam game stage yang disiapkan bertujuan untuk memenangkan hadiah berupa uang, pengkhianatan dan keinginan untuk menang semakin besar (berbeda dengan Alice in Borderland yang memainkan game untuk bertahan hidup). Ya seperti yang kita tau, semua sifat asli manusia akan terlihat di depan uang.

TINGKAT KESADISAN PUNISHMENT

Kedua series ini memiliki tingkat kesadisan (gore) yang hampir mirip. Meskipun aku tidak terganggu dengan visualisasi darah, tapi saat melihat kedua series ini aku dibuat lumayan ‘trauma’. Seperti kalau ada scene ketika mereka gagal menyelesaikan game dan dibunuh, aku lebih memilih untuk tidak melihatnya lagi.

Squid Game cukup mengerikan. Mereka yang gagal dalam permainan memiliki pilihan untuk meninggal dengan cara ditembak, jatuh dari ketinggian atau saling membunuh. Jasad mereka yang gagal kemudian dimasukkan ke dalam peti berbentuk kotak kado berpita dan kemudian dikremasi dalam perapian khusus di ruang bawah tanah. Visualisasi darah, kepala pecah, perut dibedah dan lain sebagainya beberapa kali nyelip di scene yang ada. Jadi kita mesti bersiap untuk ngga nonton Squid Game sambil makan!

Alice in Borderland sama mengerikan. Kalau di Squid Game kegagalan dirayakan oleh ditembak senapan, maka di Alice in Borderland kegagalan diperingati oleh tembakan laser dari langit. Ya, beneran laser dari langit! Namanya juga series fantasi, aku juga ngga ngerti dari mana laser ini berasal. Tapi meskipun laser ini menghasilkan satu ‘lubang’ kecil di tubuh seseorang yang gagal, tetep aja efeknya cukup mengerikan. Belum lagi ada opsi kalung bom yang bikin kepala meledak. Eits, di series ini juga nampilin ‘pembedahan’ kepala, loh. Jadi sama ngerinya!

Tapi sebagai penikmat film yang cukup banyak melibatkan visualisasi darah, aku mulai mengenali mana fake blood yang kelihatan nyata. Kalo dibandingkan kedua series ini, Squid Game darahnya ngga terlalu banyak, tapi warna merahnya dan visualisasinya kelihatan nyata. Sedangkan Alice in Borderland memperlihatkan volume darah yang lebih banyak dan besar, tapi cenderung kelihatan kayak cat merah aja, bukan kayak darah.

So, dari sini kamu udah bisa nentuin sendiri mana series yang lebih sadis sesuai dengan kapasitas dan prefensimu masing-masing.

PENGEMBANGAN DAN KEUNIKAN KARAKTER

Masuk ke bagian terpenting dari sebuah review, nih! Yap, bagian karakter atau tokoh dalam kedua series, Squid Game dan Alice in Borderland. Sebuah film, drama atau series ngga akan pernah berhasil kalau aktor/aktrisnya ngga dipilih secara tepat. Maka dari itu, casting amat sangat diperlukan.

Kita bahas karakter di Squid Game yang lebih dikit dulu, ya!

Seong Gihun 'Squid Game'

Seong Gihun (Lee Jungjae) digambarkan sebagai pria berusia kurang lebih 40 tahunan, yang kehilangan pekerjaan. Tinggal di rumah sederhana bersama ibunya. Sesekali mengikuti judi untuk mengadu nasib. Karena ingin mengambil kembali hak asuh anak dari mantan istrinya, Gihun mengikuti tawaran game mematikan ini.

Cho Sangwoo 'Squid Game'

Cho Sangwoo (Park Haesu) adalah teman masa kecil Gihun. Digambarkan dalam sosok pria yang cerdas dan lulusan SNU (Seoul National University). Dia membohongi ibunya pergi ke luar negeri untuk sebuah pekerjaan. Karena hutang yang banyak akibat investasinya gagal, Sangwoo terpaksa melibatkan dirinya untuk mengikuti game.

Kang Saebyeok 'Squid Game'

Kang Saebyeok (Jung Hoyeon) merupakan gadis muda dari Korea Utara dengan karakter kuat dan mandiri. Ingin membebaskan ibunya dan adiknya untuk kehidupan yang lebih baik. Di saat peserta lain sibuk membuat tim, Saebyeok cenderung menyendiri dan tidak mempercayai siapapun.

Oh Ilnam 'Squid Game'

Oh Ilnam (Oh Youngsu) adalah pemain tertua dan pertama yang mendaftar. Memiliki penyakit kronis sehingga tidak peduli kapanpun kematian akan menjemputnya. Karena fisiknya yang lemah, Gihun memperhatikannya seperti keluarganya sendiri. Namun di balik penampilannya yang menyedihkan, kakek tua ini menyembunyikan sesuatu yang mencengangkan. 

Ali Abdul 'Squid Game'

Ali Abdul (Tripathi Anupam) diceritakan sebagai perantauan imigran yang berusaha menyelamatkan istri dan anaknya dari lilitan hutang. Pesonanya yang sederhana, polos dan tidak muluk-muluk membuat Ali menjadi salah satu karakter yang paling tulus. Sayang, ketulusan itu tidak cocok ditampilkan dalam game berujung maut seperti ini.

Han Miyeo 'Squid Game'

Han Minyeo (Kim Jooryung) adalah seorang ibu yang mengikuti game untuk membuat kehidupan bersama anaknya menjadi lebih baik. Awalnya dia adalah salah satu peserta yang menentang untuk melanjutkan game, tapi kemudian dia berubah menjadi salah satu peserta yang licik dan merepotkan.

Jang Deoksu 'Squid Game'

Jang Deoksu (Heo Sungtae) digambarkan sebagai seorang ‘preman’ dengan tato di dagunya. Bertubuh besar dan berambut gondrong. Akibat menggelapkan uang bosnya, ia dikejar dan terlilit banyak hutang. Untuk menyelamatkan diri, pada akhirnya ia terlibat dalam game.

Jiyeong 'Squid Game'

Jiyeong (Lee Yoomi) adalah gadis seusia Saebyeok. Kehidupan yang sulit membuatnya bersikap keras pada orang lain dan dirinya sendiri. Dia adalah satu-satunya peserta yang berhasil mengobrol banyak dan bertukar cerita dengan Saebyeok. Namun, mereka saling mengerti bahwa mereka tidak bisa keluar bersama.

Hwang Junho 'Squid Game'

Hwang Junho (Wi Hajun) ehem, Si Polisi Ganteng ini nekat menyelinap ke lokasi game diadakan dan menyamar menjadi salah satu ‘pegawai’ berseragam merah di sana. Tujuan utamanya adalah menemukan kakaknya. Namun ia menemukan fakta lain bahwa tempat itu adalah sebuah tempat kriminal yang mengerikan. Meskipun ia gagal pada misi, Junho berhasil bertemu kakaknya untuk terakhir kali.

Oke! Dari pembangunan karakter, aku ngga akan berkomentar banyak. Kelas akting mereka luar biasa keren. Sutradara dan kru berhasil meng-casting aktor dan aktris berbakat untuk peran mereka masing-masing. Tapi! Tapi, nih… ada tapinya! Tapi, ada cukup banyak kesalahan fatal sutradara dalam membangun karakter tokohnya, terutama Seong Gihun.

Kenapa aku berani bilang gitu?

Di series ini Gihun adalah tokoh utama. Sutradara seperti ingin menciptakan karakter tokoh utama yang polos dan baik hati, namun masih memaksa pada ‘main judi’ dan ‘berkhianat’. Oke aku paham dia melakukan itu semua karena dalam kondisi yang mendesak. Tapi pembangunan karakter hitam dan putih yang ada dalam diri Gihun terkesan maju mundur. Kayak gimana ya? Kayak kadang dia baik, terus dalam hitungan jam dia jahat lagi.

Kalau mau bilang karakter hanya dibedakan antara baik dan jahat, aku malah lebih suka pembangunan karakter Cho Sangwoo. Sebagai pria cerdas yang selalu dielu-elukan Gihun, dia menampilkan pikiran yang kritis dan keputusan yang tepat. Dia licik, tapi cerdas. Memang pada akhirnya dia menjadi salah satu villain di series ini, tapi keputusannya menjadi jahat yaudah jahat aja. Ngga plin-plan. Ngga maju mundur! Dan jenis jahatnya Sangwoo ini serius lebih berkelas ketimbang Gihun yang notabenenya pemeran utama.

Penilaianku semakin dipertegas saat Gihun keluar jadi pemenang 45,6 miliar won. Dia merasa bersalah karena seolah telah ‘membunuh’ 455 pemain lainnya untuk mendapatkan uang itu. Bener sih dia pake uang itu untuk membantu keluarga peserta lain yang ditinggalkan, tapi dia lupa (sutradaranya yang ngga ngejelasin) tujuan utamanya ikut main game itu, ambil hak asuh anaknya. Ngga ada!

Yang dijelasin malah fakta bahwa Si Kakek Tua itu ternyata dalang di balik game ini. Maksa banget sumpah! Kayak ayolah Squid Game ini cuma 9 episode, alurnya ngga usah bertele-tele dong! Kenapa kita udah dibuat menaruh simpati sama SI Kakek yang malang, harus dibuat kesel segala? Bener-bener ngancurin karakternya.

Dan yang paling ngeselin lagi adalah Si Ganteng Wi Hajun yang jadi polisi bernama Hwang Junho! Kenapa sutradara membunuh Wi Hajun-kuuuuuu??? Dia udah susah payah menyelinap dan menyamar ke sana, sampai dirayu sama bapak-bapak gendut mesum segala. Pas dia mau berhasil melarikan diri, kenapa dia dibunuh? Banyak sih yang berasumsi Junho sebenernya belum mati. Tapi karena ngga ada penjelasan yang rinci (plus kabarnya ngga ada season 2), ya kita cuma bisa menyimpulkan demikian?

Yahhh, sebenernya aktor sama aktrisnya ngga salah sama sekali. Mereka kan cuma dapat tawaran main, trus memainkan karakter sesuai yang udah tertulis di naskah. Kalo mau nyalahin aku mau nyalahin sutradaranya aja sih. Kenapa Seong Gihun dibuat plin-plaaaaannnnn?!?!

Oke, sekarang kita bahas karakter yang ada di Alice in Borderland!

Ryohei Arisu 'Alice in Borderland'

Ryohei Arisu/Alice (Kento Yamazaki) ehem Si Ganteng Kento memainkan tokoh sebagai pemuda berusia 20 tahun yang sibuk main game di rumah, ngga kuliah, ngga kerja. Karena terus dibanding-bandingkan dengan adiknya, dia memutuskan kabur dari rumah. Ketika kabur, dia harus terjebak dalam dunia paralel dan memainkan game yang membutuhkan strategi. Beruntung dia seorang gamer.

Daikichi Akrube 'Alice in Borderland'

Daikichi Karube (Keita Machida) teman baik Arisu, seorang bartender yang dipecat karena memacari pacar bosnya. Kalau Arisu mengandalkan intelegensi otaknya, maka Karube mengandalkan fisik dan kemampuannya bertarung. Dia digambarkan juga sebagai sosok yang pemberani, gegabah dan loyal.

Chota 'Alice in Borderland'

Segawa Chota (Yuki Morinaga) teman baik Arisu dan Karube. Digambarkan sebagai karyawan sebuah perusahaan IT. Tubuhnya paling kecil di antara dua temannya yang lain. Fisiknya lemah, intelegensinya pun tidak sepadan dengan Arisu. Untuk itulah dia merasa menjadi beban bagi teman-temannya yang lain. Meskipun begitu ketulusan hatinya mempercayai bahwa Arisu dan Karube bisa dipercaya.

Yuzuha Usagi 'Alice in Borderland'

Yuzuha Usagi (Tao Tsuchiya) seorang perempuan mudah yang tangguh. Mengikuti jejak ayahnya, Usagi terbiasa mendaki gunung dan menikmati kehidupan di alam terbuka. Oleh karenanya ia memiliki fisik yang kuat dan mampu memanjat atau berlari dengan cepat. Usagi dan Arisu kemudian saling dipertemukan, dan membentuk sebuah sekutu yang saling bisa diandalkan.

Shuntaro Chisiya 'Alice in Borderland'

Shuntaro Chisiya (Nijiro Murakami) digambarkan sebagai sosok yang misterius dengan rambut putih sebahu, memakai hoodie dan memiliki tubuh lebih pendek daripada kebanyakan orang di sekitarnya. Setiap bermain game, dia mengandalkan kecerdasan dan ketenangannya. Dia ambisius, mementingkan diri sendiri, tidak suka kalah dan pandai menggunakan orang lain untuk kepentingannya.

Hikari Kuina 'Alice in Borderland'

Hikari Kuina (Aya Asahina) memiliki penampilan yang nyentrik yang bikin mata siapapun langsung tertuju padanya. Rambut gimbal, tubuhnya yang cukup tinggi, serta pembawaannya yang tenang tentu menarik perhatian. Oleh karenanya Kuina adalah satu-satunya sekutu bagi Chisiya. Selain cantik dan tenang, Kuina dikenal jago bela diri. Kemudian telat diketahui bahwa Kuina adalah seorang transgender.

Boshiya Hatter 'Alice in Borderland'

Boshiya Hatter (Nobuaki Kaneko) adalah pemimpin ‘Pantai’, sebuah utopia buatan yang menghilangkan semua peraturan yang ada di dunia nyata. Di bawah kepemimpinannya, semua member Pantai bisa melakukan hal apapun yang dilarang di dunia nyata. Dia adalah tokoh yang dipuja karena menciptakan utopia itu, namun tidak beberapa pihak yang diam-diam ingin menyingkirkannya.

Morizono Aguni 'Alice in Borderland'

Morizono Aguni (Shou Aoyagi) adalah pemimpin sebuah kelompok di Pantai yang disebut sebagai ‘militan’. Kelompok yang cenderung berseteru dengan Hatter dan para eksekutif (anak buahnya). Di dunia nyata dia adalah mantan pasukan bela diri Jepang, yang tentu membuktikan dia memiliki fisik yang amat kuat. Meskipun terlihat tenang, Aguni dan anak buahnya tidak segan untuk membunuh siapapun yang mengganggu.

Suguru Niragi 'Alice in Borderland'

Suguru Niragi (Dori Sakurada) digambarkan sebagai bagian dari militan, berambut panjang diikat, memakai tindik di alis kiri, hidung dan lidahnya, serta selalu membawa senapan kemanapun. Seorang tempramen yang menyerang kelemahan orang lain, tidak segan menyakiti, ambisius, gegabah, menghasut orang dengan kata-katanya. Banyak yang berspekulasi dia adalah cerminan lain dari Chisiya. Mereka adalah rival yang sebanding.

Rizuna Ann 'Alice in Borderland'

Rizuna Ann (Ayaka Miyoshi) adalah seorang wanita muda yang cerdas dan berpenampilan elegan. Merupakan salah satu anggota eksekutif yang dipercaya oleh Hatter. Di dunia nyata dia bekerja di bidang forensik. Kemampuan dan ketelitiannya sebagai orang forensik. dibuktikan dalam beberapa scene ketika dia menjadi orang pertama yang curiga pada setiap kasus kematian di Pantai.

Last Boss 'Alice in Borderland'

Last Boss (Shuntaro Yanagi) merupakan anggota militant yang tidak kalah sadisnya dengan Niragi. Digambarkan dengan pria bertubuh bungkuk, kepala botak dan memiliki tato di wajah dan lengannya. Jika Niragi membawa senapan, makan Last Boss membawa pedang sebagai senjata. Dia tidak banyak bicara dan hanya bekerja menjadi bayang-bayangan Niragi dan Aguni.

Mira Kano 'Alice in Borderland'

Mira Kano (Riisa Naka) adalah member eksekutif sekelas dengan Ann. Digambarkan sebagai wanita berambut hitam panjang yang tenang dan pintar memainkan perasaan orang dengan kata-katanya. Kemudian spekulasi bermunculan ketika Mira dianggap sebagai game master setelah muncul di layar dan mengumumkan ada game stage selanjutnya ketika game terakhir (10 hati) berhasil diselesaikan di Pantai.

Nah, untuk penjelasan karakter di Alice in Borderland, agak memakan waktu karena cukup banyak dan kompleks. Tentu aja kompleks, karena ini diangkat dari sebuah komik populer bertema fantasi. Namanya juga live action, mau ngga mau, sutradara dan kru harus menyiapkan waktu super lama untuk casting aktor dan aktris yang cocok. Ngga cuma dari segi aktingnya, tapi dari segi postur dan tinggi badannya juga biar ngga ngerusak ekspektasi penonton yang udah baca komiknya.

Hebatnya, Alice in Borderland punya variasi karakter yang ngga ngebosenin. Baik cewek maupun cowok. Meskipun semua karakter murni diambil dari komik, ngga ada satupun karakter yang terbilang ‘maksa’. Maksudnya, mereka jadi diri mereka apa adanya. Misalnya Arisu, sampai di akhir series pun dia tetep cerdas dan baik hati meski kondisinya tertekan.

Variasi karakternya yang bagus ngebuat penikmat Alice in Borderland punya jagoannya masing-masing. Kalau di Squid Game, yang paling populer ya Si Kang Saebyeok yang emang secara visualisasinya cantik dan cuek. Nah, kalau di Alice in Borderland, beberapa orang ada yang ngejagoin Kuina karena dia cantik dan jago bela diri, ada juga yang kepincut sama visual Chisiya yang dingin dan misterius, ada juga yang justru jatuh cinta sama kebengisan dan kesadisan Niragi. Banyak!

Mereka dapet porsi masing-masing, ngga ada satu karakter yang pesonanya nutupin satu karakter lainnya. Pokoknya pembangunan karakter di Alice in Borderland beneran adil dan seimbang!

Dan dari segi totalitas akting, sorry to say, Squid Game kalah jauh!

Pemeran live action harus mampu mengubah image dan penampilan fisiknya sesuai dari karakter yang diperanin. Aku harus apresiasi Si Ganteng Shuntaro Yanagi yang mau ngebotakin kepala, pake elemen tato di wajah dan jalan bungkuk untuk meranin karakter Last Boss.

Juga buat Niragi yang di balik karakter bejatnya adalah seorang aktor tampan bak idol boy group bernama Dori Sakurada! Kuina yang bukannya keliatan aneh dengan rambut gimbalnya, malah jadi cantik dan bikin orang-orang love at first sight sama dia! Dan meskipun Kento Yamazaki ngga terlalu bertransformasi secara ekstrim secara fisik, tapi akting dia pas nangis karena kehilangan dua sahabatnya jauh lebih dramatis ketimbang tangisan Seong Gihun setelah kehilangan sahabatnya, Sangwoo.

Perbedaan lain juga terletak pada kemenangan Gihun yang terkesan dikarenakan keberuntungan (juga karena banyak yang berkorban demi dia), sedangkan kemenangan Arisu murni karena kecerdasan dan kekompakan timnya dalam membantu.

See? Untuk pembangunan karakter, menurutku pribadi Alice in Borderland dengan 8 episode menang telak ketimbang Squid Game yang punya 9 episode!

SINEMATOGRAFI

Kalau ngomongin film (drama dan series), tentu kita perlu ngebahas sinematografinya juga. Ini PR besar! Ngga cuma alur cerita yang bisa memuaskan penonton, tapi juga dari segi pengambilan gambar dan setting.

Seperti yang aku bilang sebelumnya kalau Alice in Borderland butuh satu kota Tokyo untuk jadi lokasi game, sedangkan Squid Game hanya punya satu lokasi yang sudah diatur sesuai dengan level game. Jadi sebenernya cukup ada perbedaan yang signifikan dari sinematografi kedua series ini.

Alice in Borderland menampilkan lokasi-lokasi dan pengambilan gambar yang variatif. Salah satu scene terbaiknya adalah ketika Arisu cs berada di tengah-tengah persimpangan kota yang kosong. Meskipun hanya menggunakan teknologi green screen, visualisasinya sangat terlihat nyata. Selayaknya kota Tokyo yang kita tahu sejauh ini, sinematografi Alice in Borderland masih berkisar tentang Tokyo. Tidak terlalu banyak space kosong yang diambil untuk membiarkan penonton menghayati scene demi scene. Misalnya dengan kekaguman peserta oleh lokasi permainan yang baru di setiap stage-nya.

Sedangkan Squid Game yang memiliki setting tersendiri harus menampilkan scene-scene tambahan untuk kita agar bisa memahami dan mengapresiasi game apa yang akan datang. Warna yang ditampilkan pun cenderung sama, merah, merah muda, hijau, kuning. Warna-warna yang cenderung digunakan di taman bermain anak-anak. Sebuah ide brilian yang cukup membuat trauma, karena mereka menyuguhkan arena yang seharusnya menyenangkan menjadi sebuah tempat terakhir orang-orang menemui ajalnya.

Dari sini, aku harus mengapresiasi kemampuan sinematografi Squid Game yang memainkan color tune di setiap scene-nya untuk membuat orang-orang bahkan tahu kita sedang menonton apa meskipun terlihat dari kejauhan.

PENUTUP

Terlepas dari review pribadi yang kutulis, aku menyerahkan kembali kedua series ini sesuai dengan preferensi kalian masing-masing. Kalo boleh jujur, aku punya pengetahuan dan pengalaman menonton drama dan film Korea jauh lebih banyak daripada Jepang. Aku murni menulis ini hanya dari pengalamanku selama menonton kedua series ini, mengukur tingkat kepuasanku selama menonton dan kemudian menuangkannya dalam sebuah review.Aku juga belum pernah baca komik Alice in Borderland, jadi ngga bisa menilai apakah live action ini terbilang berhasil?

Tapi saat aku nonton Squid Game akibat terlalu banyak orang yang nge-hype, aku menemukan kesamaan Squid Game ini persis kayak film Parasite. Terlalu dielu-elukan, padahal ada banyak plot hole yang belum terselesaikan. Orang-orang keburu membuat asumsi alur yang tidak berdasar sehingga Squid Game seperti kehilangan jati dirinya sendiri.

Dan Alice in Borderland punya banyak alur misterius yang mengharuskan kita menyimpan asumsi pribadi dan menebak sesuai kapasitas masing-masing. Ada banyak hal yang rumit, sehingga membuat kita perlu usaha lebih untuk berpikir saat menonton Alice in Borderland ketimbang Squid Game.

Dan bagiku pribadi, penilaianku pasti akan sangat berbeda jika Squid Game tidak ‘tercampur’ oleh urusan penonton yang sok menggurui. Mereka terlalu melebih-lebihkan Squid Game, menciptakan spekulasi dan mengiyakan spekulasi yang lain. Terlalu heboh, sampai-sampai aku lupa apa tujuan awal aku menikmati series ini.

Contohnya, mereka mengaku kaget pada fakta Si Kakek adalah dalang di balik seluruh game ini. Sedangkan aku justru menganggap itu salah satu kesalahan besar alur cerita yang dipaksakan!

Kalau boleh jujur, aku menulis review ini untuk menegaskan satu fakta : sesuatu yang berlebihan itu ngga baik.

Squid Game sebenarnya bagus. Tapi karena banyak penonton sok yang mencampuri kemurniannya, Squid Game mulai terlihat banyak kekurangannya. Terlebih setelah aku menonton Alice in Borderland yang tidak se-hype Squid Game.

Dan sekarang harus kuakui Sqid Game tidak meninggalkan bekas apapun padaku, kecuali penampilan Wi Hajun yang kurang cukup spotlight (ya karena aku selalu suka yang ganteng-ganteng hehe). Berbeda dengan Alice in Borderland yang sudah membuatku rewatch cuplikan beberapa episode-nya karena masih belum bisa move on.

Rasanya puas melihat kecerdasan Arisu di beberapa game yang ia mainkan. Rasanya menyenangkan melihat ketenangan Chisiya yang manipulative dan misterius. Rasanya seru melihat intimidasi Niragi, sosok villain sesungguhnya yang bersembunyi di balik peran kuat seorang Aguni.

Sekali lagi ini murni persepsi pribadiku. Sisa keputusan mana yang lebih baik di antara keduanya, ada di tangan kalian.

BONUS!


Last Boss di kehidupan dunia nyata bwahahahahaha ganteng bangeeeettttt



Ngga tau harus nambah berat badan berapa kilo sampe chubby banget Niragi wkwkwkwk
Share:

Sunday, September 12, 2021

September, Hujan dan Kacamata Baru

 

Hei, hm… ini sudah jam sebelas malam sebenarnya. Aku mendengarkan piano relaxing playlist di Spotify lewat earbuds, ditemani suara hujan dari luar. Sebuah kondisi yang sampai kapanpun akan membuatku nyaman.

Hari ini luar biasa. Pagi harinya aku dipijat setelah setengah tahun tidak olahraga dan sibuk kerja. Pundak dan tengkukku yang rasanya kaku pada akhirnya bisa sedikit rileks. Kemudian malamnya aku mengambil kacamata baruku, the first ever spectacles I’ve ever got! Aku membaca buku tentang empat tipe kepribadian (Sanguinis, Koleris, Melankolis dan Pragmatis) yang dipinjami Pak Bos minggu lalu. Menyeruput kopi sesekali, sembari mendengarkan playlist Spotify yang kuputar lewat earbuds (sampai sekarang).

Sebuah perayaan recharge energy seorang introver yang sampai kapanpun akan membuatku senang dan membaik.

September ya? Salah satu bulan favorit. Biasanya aku selalu merayakan bulan-bulan musim hujan seacara spesial. Seperti tidak ada yang lebih kusukai dibandingkan momen seperti ini. Musim hujan yang sendu, menyuguhkan banyak cerita lama yang mustahil terulang kembali.

Aku mengetik entri ini tanpa sebab. Hanya ingin merayakan malam hujan dengan kacamata baruku. Secangkir kopi tadi tidak cukup ampuh membuatku terjaga sebenarnya. Tapi aku memaksa diri sedikit bertahan lebih lama untuk mengetik satu entri sebelum tidur.

Tujuan utamaku mengetik entri semacam ini adalah sekadar perayaan. Atau boleh jadi sebuah kenangan. Aku akan sering mengunjungi blog-ku, membaca entri-entrinya untuk melihat momen-momen di mana aku merasa senang, merasa sedih, merasa cukup atau merasa kurang. Aku menemukan ada banyak kejadian yang menimpa diriku. Rasa penghargaan. Rasa penyesalan.

Aku merasa penulis sepertiku—yang juga seorang INFP dan Plegmatis—memiliki sesuatu yang istimewa. Seperti ada sebuah misteri yang membuat orang lain penasaran. Paling tidak penasaran tentang apa isi kepalaku, bagaimana aku memandang dunia, dengan siapa aku bercerita paling banyak dan kapan saja momen yang tepat bagiku untuk menulis.

Paling tidak, ada tulisan-tulisan panjang berisi metafora yang menuntut mereka menerka maksudku apa. Seperti ada rahasia yang tidak pernah kuungkapkan secara gamblang.

Aku kembali teringat ketika aku dan temanku duduk di salah satu meja favorit di salah satu restoran mie terkenal. Di sana dia mengaku iseng membaca tulisanku, mengaguminya dan menyerah untuk paham. Lantas aku terlempar pada hari dimana hidup dan matiku mengatakan hal serupa, dia bilang dia tidak memahami tulisanku, dia hanya suka. Padahal sedikit banyak sejak enam tahun yang lalu (bahkan lebih), setiap kali aku menulis, aku tidak pernah tidak melibatkannya. Aku selalu mengaitkannya dengan dia.

Sampai waktu itu, tahun-tahun terakhir kami di sekolah, dia menuntutku : sekarang aku bukan lagi topik utama dalam bukunya, aku bukan lagi bahasan-basahan yang ia tulis dalam tulisan panjangnya

Dia merasa istimewa karena aku perlakukan demikian. Hanya dengan lewat tulisan. Bukan bunga, bukan coklat, apalagi mobil mewah.

Yah, siapapun akan merasa istimewa bila diabadikan dalam tulisan. Namun tidak semua orang mahir mendeskripsikan seseorang dalam bait-bait kata, memberitahukan pada dunia bahwa ‘inilah orang yang paling aku suka, orang yang memiliki siang dan malamku, orang yang tidak pernah absen datang dalam pikiranku’. Mereka hanya menyingkatnya dengan kalimat sederhana; aku mencintainya.

Hahahaha, sebenarnya aku ingin mengaitkan entri ini dengan penjelasan tentang seorang Plegmatis. Bagaimana mereka bisa menjadi amat santai dan tidak terprovokasi. Bagaimana mereka mampu menghindari konflik dan menyediakan jalan tengah. Seperti setiap penjelasan dalam buku itu adalah membicarakan diriku. Sama seperti reaksiku saat membaca penjelasan seorang INFP. How the hell they know what actually am I doing?

Namun sebab hujan—dan entah sebab apa lainnya—entri ini malah menjurus pada rinduku yang masih sama. Kenangan enam sampai delapan tahun lalu yang mustahil terulang.

Aku akan merasa malu dan jijik jika berada di posisinya. Ini sudah 2021, kami sudah 24 tahun. Bukan lagi mengingat masa lalu yang alay, labil dan memalukan. Harusnya aku sama seperti dia, mulai memikirkan masa depan, merancang tahapan alur hidup seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Lulus, bekerja, menikah dan punya anak.

Alur mainstream yang diatur oleh negara dan agama.

Aku tidak pernah tahu apa yang akan aku lakukan September tahun depan. Atau kapan aku bertahan dengan kacamata ini. Atau kapan aku mulai bosan meminum kopi. Atau kapan aku tidak lagi mengandalkan Spotify.

Apalagi kehidupanku yang banyak tertinggal dari kehidupannya yang sempurna. Sampai-sampai sosok David dan Nathan sungguhan nyata terasa. Hitam dan putih. Siang dan malam. Yin dan Yang.

Komen terakhirku pun tidak berbalas. Seolah dia sudah membuat batas. Ada yang mesti dikejar. Orang dari masa lalu sepertiku memang memaksanya harus menghindar.

Coba lihat kembali entri-entri yang kutulis tak beraturan selama ini, sejak dua sampai tiga tahun yang lalu, sosoknya mesti bertaut. Dia abadi. Entah sampai kapan akan tetap di sana. Sampai kapan akan sungguhan kuungkapkan. Tidak dalam bentuk frasa dan metafora, namun sungguhan namanya. Jelas. Tegas.

Suatu saat aku akan mengakuinya, menyebutnya. Tapi nanti, hanya kepada dokter yang bisa kupercaya.

Aku harus memanifestasikan uang gaji untuk sebuah konsultasi. Kenapa yang kupikirkan hanya pakaian dan makanan, ya?

Share:

Sunday, September 5, 2021

THE REASON WHY I'M 100% INFP

 

Ini masih awal-awal bulan September. Dan aku masih sama seperti sebelumnya. Aku mengagumi kepribadianku yang kokoh berdiri di atas kaki sendiri. Menyembunyikan banyak rahasia masa lalu di depan orang-orang yang nyaris mengambil pusat kepercayaanku. Aku masih memendamnya rapat, mengeskpresikannya hanya lewat tulisan fiksi panjang tak berbentuk.

Biasanya aku selalu menulis entri ketika ada perasaan berat yang mengganjal. Atau ada memori lama yang mencuat keluar minta dibebaskan. Namun, kali ini pengecualian. Selepas menandaskan cheese burger dan iced coffee yang kupesan sore tadi, mendadak sosial mediaku berisi percakapan-percakapan yang menyenangkan. Padahal sebelumnya, pagi tadi ada beberapa orang yang merusak mood-ku dalam sekejap. Beruntung sore hari aku sungguhan merealisasikan keinginanku.

Aku pergi ke McD, membaca buku di meja dekat jendela sembari memesan menu kesukaan.

Aku tidak akan menjelaskan bagaimana emosiku bisa berputar naik turun bagaikan roller coaster dalam hitungan jam. Apa yang kuingin abadikan dalam entri ini adalah fakta bahwa aku masih menjadi sosok yang luar biasa meski hidupku nyaris saja berakhir sia-sia oleh keinginan bunuh diri.

Hal pertama yang membuatku tampak luar biasa adalah hobiku. Aku memilih opsi melepas stress dengan cara membaca di tempat umum. Meminum kopi, memakan snack, mendengar lagu sekaligus menikmati pemandangan kota. Sendirian (meskipun akhirnya ada beberapa hal yang membuatku pergi bersama teman). Sebuah hal yang tidak mungkin terpikirkan oleh sebagian besar orang.

Hal kedua yang membuatku semakin merasa luar biasa adalah tadi, ketika aku mengupload story tentang kegiatanku membaca (dan menulis) di luar, salah satu kakak kelas dari sekolahku dulu (kurasa SMP) membalas story itu dengan kalimat kurang lebih seperti ini: wah tulisannya masih sama seperti penulis novel dan pembuat komik yang dulu aku kenal. Dari sana aku terbahak karena terlempar nostalgia. Aku lupa bahwa skill-ku bukan hanya menulis novel atau mengetik entri blog, melainkan juga membuat komik, menulis naskah drama, skenario film, menjadi sutradara dan bahkan koreografer tarian.

Selevel asrama memang, tapi itu dulu kulakukan secara otodidak dan kontinyu.

Lalu saat kujelaskan hal-hal ini pada teman yang duduk di depanku, dia berucap : “Kamu kenapa ngga pergi ke multimedia, hah? Perfilman, DKV?”

Aku spontan menjawab : “Aku pergi ke sastra karena mau balas dendam ke seseorang.”

Dan lagi-lagi kenangan itu muncul silih berganti di kepala. Memaksaku sadar bahwa aku pernah mengambil satu keputusan besar yang mengubah hidupku 180 derajat! Hal yang akan aku hindari seumur hidupku. Membuatku takut setengah mati oleh pandangan orang-orang, seolah aku mengaku kalau aku biseksual?

Hal ketiga yang membuatku makin-makin dan makin merasa luar biasa (cenderung gila) adalah dalam satu hari yang sama (plus beberapa hari sebelumnya), orang-orang korban manipulasiku datang bertanya kabar. Mereka merindukanku, mengkhawatirkanku, memastikan kabarku. Aku merasa buruk karena telah memanipulasi mereka dengan sebuah pathologichal lying, namun lihatlah atensi yang kudapatkan dari mereka? Sesuatu yang tidak pernah kudapatkan dari kehidupan real life-ku sekarang. Sebab dulu, di usia enam belasan, mereka bersama-sama ‘terbius’ oleh kelebihan dan potensiku dalam banyak hal.

Apa ya?

Sejak usia muda aku sudah terbiasa oleh popularitas akibat karya. Mereka yang menyanjung dan mengagumiku biasanya dimulai dari membaca tulisan-tulisanku terlebih dahulu, atau melihat kemampuanku yang maksimal dalam meng-hype sesuatu. Aku mahir mempromosikan hal-hal yang kusuka pada mereka yang awam, seperti musik, film, buku, artikel, mitos, berita, gosip, dll. Aku fasih ‘mencuci otak’ mereka. Plus aku cukup cuek dan misterius sehingga membuat mereka ‘penasaran’.

Lalu lihatlah di Wattpad. Di tulisan pertamaku aku langsung mendapatkan popularitas di bab ketiga. Followersku bertambah banyak. Notifikasiku jebol! Komentar-komentar positif terus bermunculan mengagumi karyaku. Popularitas seperti itu membuatku terbiasa dipuji dan diberi dukungan oleh orang-orang yang tidak banyak kuperhatikan.

Kondisi yang saat ini, karyaku, kemampuanku, keahlian, skill, kelebihan, semua milikku adalah setara dengan tanggung jawab pekerjaan. Boro-boro dipuji dan disanjung, diapresiasi saja sudah sangat bersyukur. Langka dicari. Sulit didapatkan.

Tempo hari aku sempat mengobrol dengan partner baruku. Aku mengaku aku akan menangis bila kerja keras ‘kita’ tidak dilihat apalagi dihargai. Dia dengan sederhananya menjawab : kalau aku, aku ngga terlalu peduli sama apresiasi, selama ini aku kerja ya udah kerja aja, ngga mengharap apapun

Dari sana sempat kuanggap dia hebat. Ibarat seorang guru yang memberi ilmu tanpa mengharap balas budi.

Namun lambat aku berpikir bahwa ucapannya hanyalah setara denganku setahun yang lalu, saat aku pertama kali menjejakkan kaki di dunia kerja. Aku yang asal menerima semua tanpa menuntut banyak.

Semakin aku ‘dibentuk’ oleh sistem perusahaan, semakin nekat pula aku ‘menuntut’ balasan. Aku sudah pergi sejauh ini. Berubah dari dulu seorang yang tidak tahu apa-apa menjadi orang yang berhasil membuat nama perusahaan menjadi mudah dicari di mesin pencarian. Aku. Siapa lagi memangnya?

Seseorang akan menuntut pujian ketika ia merasa pekerjaannya sudah benar, ya ‘kan? If someone really into something they like the most, dia pasti akan memperjuangkan, iya ‘kan? Dia pasti akan memikirkan hal yang lebih dari yang sebelumnya pernah dilakukan. Tapi sebelum hal lebih itu terealisasikan, pasti dia mau memastikan dulu, apakah hal-hal yang dilakukan sebelumnya sudah dianggap jerih payahnya?

Jika aku tidak menyukai pekerjaanku dan terpaksa melakukannya, maka aku tidak akan menuntut apresiasi apapun. Aku akan sangat malu jika mendapatkan apresiasi pada hal yang tidak serius kulakukan dengan sepenuh hati,

Benar ‘kan nalarku kali ini?

Kalau boleh sombong sesombong-sombongnya, atasanku adalah salah satu orang yang beruntung telah memilihku untuk posisi itu. Sebab aku menyukainya, pekerjaannya sedikit banyak cocok dengan kemampuan dan ketertarikanku. Aku tidak merasakan beban yang berat (kecuali ketika aku diminta kerja saat weekend) saat melakukan pekerjaanku. Dan aku pasti akan melakukan yang terbaik yang aku bisa.

Asal ada apresiasi yang cukup.

Ya karena sejak SMA aku sudah dipuji karya-karyanya. Sudah dikagumi nalarnya.

Thanks God I born to be an INFP, kemampuan imajinasi yang luas, menjelaskan hal secara detail dan lengkap, peyuka literasi dan metamorfosa untuk pengekspresian diri, kejelian dalam mendengarkan cerita orang, kepedulian akan kesulitan yang dihadapi teman, pemilik keteguhan prinsip yang sulit dipengaruhi lingkungan, individualis cuek dan misterius yang sulit dimanfaatkan.

Gila! Aku keren banget!

Tapi masih aja sendiri dan pengen mati.

Wait—aku kan punya banyak hobi. Waktunya balik nonton Hospital Playlist, sih.

Share:

Saturday, August 14, 2021

That Ain't The Gifted, That's Only About INFP

  

Untuk ukuran seseorang yang sudah melewati nyaris seperempat abad usia, aku merasa ada banyak sekali PR dalam mengenali diriku sendiri. Aku terbilang terlambat memahami karakterku seperti apa, bahkan aku merasa kesulitan menjawab saat ditanya tentang apa kelebihan dan kekuranganku. Semua jawaban itu perlahan muncul di tengah pengalaman hidup yang semakin kompleks seiring bertambahnya usia.

Jika boleh jujur, blog ini adalah blog kesekian yang aku punya, serta platform kesekian pula yang kujadikan tempat pelarian menulis. Kukira—dulu, aku hanyalah seorang anak yang dikaruniai kemampuan menulis akibat hobi membaca sejak kecil. Tulisan-tulisanku berkembang pesat berangkat dari banyak jenis tulisan yang aku konsumsi waktu demi waktu. Kukira hanya itu. Sekadar itu.

Namun, di lain kesempatan aku juga merasa sangat terganggu dan jengkel ketika melihat seseorang membuat garis tidak lurus, menulis dalam desainnya menggunakan font yang penuh dan berantakan, mengetik sebuah jurnal ilmiah atau surat penting tanpa memperhatikan PUEBI, me-rename judul lagu tanpa menulis nama penyanyinya. Semua membuatku geram dan kesal. Perasaanku tidak enak. Namun sebagian besar hal-hal demikian aku berusaha untuk menganggapnya angin lalu. Sebab jika aku terlalu mengurusi hal-hal kecil seperti itu, mereka akan menganggapku aneh atau maniak.

Sampai managerku pernah berkata bahwa ia memahami dan menilaiku sebagai seorang perfeksionis. Dalam bayanganku, seorang perfeksionis menuntut ruangannya serba bersih dan rapi, marah jika ada barang yang tidak diletakkan di tempatnya. Sedangkan aku tidak sedetail itu. Aku tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan orang-orang perfeksionis. Namun, setelah disebut demikian oleh managerku, aku terus kepikiran; apakah aku sungguhan perfeksionis?

Dan juga tentang introvert—istilah yang sering disalahartikan oleh kebanyakan orang sebagai tipikal orang yang tidak mampu terlibat dalam ruang sosial. Dulu aku sempat berpikiran sama, bahwa diriku adalah seorang introvert yang tidak terlalu mahir membaurkan diri dengan lingkungan sosialku. Nyatanya, beberapa kali aku menemukan kondisi lingkungan baru, aku selalu dan nyaris merasa tidak pernah kesulitan untuk menjadi bagian dari mereka. Bukan sosok yang mencolok, namun bukan sosok yang dikucilkan juga.

Lantas aku menyadari bahwa istilah introvert ditujukan pada mereka yang mengumpulkan kembali energinya dengan cara menghabiskan waktunya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang tidak betah berlama-lama di kerumunan, cepat terkuras energinya di tengah kegiatan yang melibatkan banyak orang. Dan itu sangat sempurna untuk kondisiku kebanyakan.

Kembali lagi ke awal, tentang PR untuk mengenal diriku. Sebenarnya sejak blog ini dibuat sekitar 3 tahun yang lalu, aku merasa semakin asing dengan diriku sendiri karena aku mengalami banyak peristiwa yang belum kutemui penyebab dan istilahnya. Aku hanya mampu menerka-nerka dan menuangkannya ke dalam entri-entri di blog. Total 27 ribu tweets yang kutulis pun cukup membuktikan betapa ‘berisik’ diriku dalam mengekspresikan diri. Kukira aku hanya butuh tempat ‘curhat’ untuk sekadar melepas beban, nyatanya aku adalah tipikal orang yang ekspresif dan imajinatif—sehingga bentuk pelepasanku tersebut bukan sepenuhnya untuk mengurangi beban, melainkan juga membiarkan orang lain tahu tentang sudut pandang dan imajinasiku.

Entri ini agaknya cukup berelasi dengan entri ‘Being The Gifted is A Disaster’ yang kutulis sebelumnya. Di sana aku mengeluh tentang ‘kemampuan menulisku’ yang kelewat batas, mengeluh tentang rasa kesepian yang mendera namun tidak juga ingin orang sepenuhnya ‘melekat’ padaku. Kukira itu semua kurasakan paska aku mulai mendeteksi adanya kecenderungan penyakit mental pada diriku sendiri, nyatanya semua ini tidak mungkin terjadi bila aku bukan seorang INFP.

INFP adalah salah satu tipe dari total 16 tipe kepribadian melalui tes MBTI yang cukup terkenal. Bahkan tokoh-tokoh dunia pun dikenal oleh tipe kepribadian mereka juga selain golongan darah atau zodiaknya. Dulu aku pernah mengambil tes MBTI yang tentunya kuisi atas dasar have fun. Namun entah mengapa setelah banyak waktu berlalu terpikir olehku ada baiknya kalau aku coba mengambil tes yang sama. Dan ya, meskipun soal yang diajukan tidak berbeda dengan tes yang dulu pernah aku ikuti, hasilnya sedikit berbeda dengan sebelumnya.

Jika dulu aku adalah seorang Campaigner (ENFP)—(E) Extavarted, (N) Intuitive, (F) Feeling, (P) Prospecting, maka sekarang aku menjadi seorang Mediator (INFP)—(I) Introverted, (N) Intuitive, (F) Feeling, (P) Prospecting. Hanya berbeda di bagian ekstrover dan introver saja, namun deskripsi yang aku terima dari keduanya sedikit banyak mengalami perubahan.

INFP adalah sungguhan aku. Saat aku membaca penjelasannya, aku ditarik ke momen nyata sebagai bukti bahwa aku sunggahan INFP. Itu memang kepribadian yang kumiliki bahkan sejak aku kecil, hanya beberapa saja mengalami perubahan seiring banyaknya pengalaman dan persoalan yang dihadapi.

Fakta utama seorang INFP adalah mereka yang intorver; kenyataanya aku hanya merasa exciting saat diajak pergi ke tempat baru atau ke sebuah pertemuan, namun setelah beberapa jam atau bahkan hanya dalam waktu beberapa menit, aku merasakan kelelahan. Aku segera ingin pulang. Aku tidak aktif lagi dalam obrolan, atau bahkan ketika teman-teman lain sibuk mengambil foto selfie, aku hanya menggeleng dan memilih duduk menunggu mereka.

Fakta kedua—aku sering disebut cuek, judes dan bahkan tidak bisa didekati oleh orang-orang baru. INFP dikonotasikan sebagai tipe paling pemalu di antara keenam belas tipe MBTI. Mereka merasa tidak nyaman dengan banyak orang baru, sehingga banyak orang menyalahartikan mereka (khususnya aku) sebagai orang ‘jahat’ dan ketus.

Kenyataanya, INFP adalah orang yang sering tenggelam dalam lamunannya sendiri. Sebagai kepribadian yang imajinatif, INFP melupakan keberadaan orang di sekitarnya (realita) dan lebih tenggelam dalam pikiran-pikiran visioner mereka. Sebagai salah satu contoh; di kantorku setiap hari Rabu kita secara bergiliran diberikan waktu untuk sharing soal pengalaman, saat itu giliranku masih lama, tapi aku sudah memikirkan ke depannya aku harus menceritakan apa, bahkan saat mengendarai motor atau saat mandi aku sampai berlatih menceritakan pengalaman yang akan aku share nanti saat giliranku tiba.

INFP adalah pendefinisi yang baik. Akibat pikiran mereka yang cenderung imajinatif dibandingkan realistis, INFP mampu mengaitkan banyak hal kepada satu titik fokus topik pembicaraannya. INFP mampu membuat perumpamaan, istilah-istilah, serta kalimat metafora yang bisa membantunya untuk menjelaskan maksud yang ingin disampaikan kepada orang lain. Tidak heran, jika INFP adalah orang-orang yang gemar menulis atau bercerita. Dia menjabarkan hal sederhana secara runtut dan detail. Bahkan tidak jarang sampai melakukan revisi jika penjabarannya dirasa kurang.

Aku sering kali berpikir bahwa beberapa pekerjaanku yang tidak mampu kuselesaikan adalah sepenuhnya efek dari kondisi mental tidak stabil yang kualami. Aku menamakannya sebagai susah fokus, kehilangan minat dan mudah merasa lelah, sesuai dengan gejala depresi yang kutemui sejauh ini. Mungkin ada benarnya demikian, namun ternyata itu tidak jauh dari pengaruh kepribadian seorang INFP yang terlalu mengembangkan banyak hal, perfeksionis dan imajinatif.

Dalam sebuah pekerjaan di kantor, aku merasa terganggu saat ada satu bagian yang kurang. Aku juga berpikir bagaimana jika ini, bagaimana jika itu, tidakkah lebih baik begini atau bukankah lebih baik begitu. Aku juga berimajinasi di tengah pekerjaan, jika aku begini seharusnya aku begini. Banyak sekali kesempatan yang mampu mendistraksi aku dari fokus pekerjaan. Bahkan saat partnerku memiliki hasil kerja yang tidak sesuai standar yang biasa kulakukan, aku akan kesal dan memikirkannya secara berkepanjangan.

Kekuatan INFP dalam memegang prinsip memang cenderung mengerikan. Aku lebih senang melakukan hal-hal sesuai prinsip dan mengkesampingkan prinsip orang lain sehingga dicap sebagai orang yang sombong dan keras kepala. Bosku sering memintaku untuk menambah jumlah sesuatu, namun karena aku berprinsip dengan jumlah sebelumnya saja sudah cukup dan jika ditambah hanya akan menghabiskan ruang, aku menolak melakukan permintaan itu meskipun beliau adalah bosku.

Aku juga sangat sering melakukan hal-hal berdasarkan perasaan. Ya, sebagai kepribadian yang 54% sifatnya mengedepankan emosi ketimbang rasional, aku selalu mengambil keputusan dan berprinsip di atas toleransi kepada yang lainnya. Aku cukup sering terlibat perdebatan dengan orang yang menuntut kuntitas daripada kualitas. Kuantitas yang ideal tapi mengesampingkan perasaan banyak orang adalah pembohongan buatku. Aku lebih suka menjanjikan kualitas dengan tetap memperhatikan perasaan orang lain. Aku mudah tersentuh oleh kemanusiaan, untuk itulah banyak orang yang mau terbuka denganku.

Aku mampu menenangkan mereka, mengambil nasehat dari berbagai sudut tanpa menghakimi mereka. Mereka merasa nyaman dan sering kali berterima kasih. Karena kebaikanku, aku juga kerap kali dimanfaatkan. Mereka hanya lari padaku ketika mereka butuh dan melupakanku ketika aku yang membutuhkan. Aku tahu, tidak semua orang berkapasitas sebagai pendengar dan pemberi nasehat yang baik sepertiku. Namun aku mengusahakan semuanya agar ketika aku berbalik membutuhkan mereka untuk menjadi pendengar, mereka ada buatku.

Nyatanya?

Ah, aku ingat.

Aku pernah menjadi sangat INFP hanya dalam satu peristiwa. Dulu saat aku masih berteman dengan Lonte—sebut saja demikian, toh dia pun sudah tahu aku menyebutnya demikian—, aku ‘mengeluarkan’ semua kriteria kepribadian INFP-ku.

Saat Lonte pertama kali mengenalku, dia mengaku merasa kesulitan menembus dindingku yang tebal dan kokoh. Seolah aku tidak terbuka berkenalan dengan sembarang orang. Namun seiring waktu, aku bisa menemukan beberapa kesamaan sehingga aku mulai perlahan terbuka. Harus kuakui persamaan usia dan setidaknya lingkungan masa kecil membuatku menemukan Lonte sebagai sosok yang paling bisa melihat sisi terdalamku. Kami terlibat banyak sekali kesamaan, sehingga tidak sulit bagiku menjadi dekat dan terbuka dengannya.

Bahkan saat dia mengalami peristiwa terburuk pun, seperti pada INFP pada umumnya lakukan, aku pun menaruh simpati padanya. Aku melihat dia dari celah terbaik (tentu karena dia temanku) yang juga selalu aku lakukan kepada banyak orang lainnya. Dan meskipun dia melakukan hal yang tidak termaafkan, sampai detik terakhir aku masih saja menenangkannya, mendukungnya, membantunya.

Aku tidak tahu jenis kepribadian apakah si Lonte ini, dia jauh lebih teguh pada prinsipnya daripada seorang INFP bisa lakukan. Dia tetap melakukan kesalahan tidak termaafkan itu bahkan setelah banyak peristiwa buruk terjadi. Nasehat dan dukunganku dianggap angin lalu. Aku pun yang sudah sangat baik hati padanya ‘terpaksa’ mundur. Kubangun prinsip terjahat yang pernah aku lakukan pada seseorang.

Aku tidak akan mau memberikan kepercayaanku lagi padanya.

Detik itu, sebagai atasannya di kantor, aku mengerjakan semua pekerjaan sendiri—tanpa meminta bantuannya. Aku berusaha sebisa mungkin membuat kepercayaan-kepercayaan itu hilang darinya. Aku berusaha menegaskan bahwa dia tidak lagi bisa dipercaya—bahkan pada pekerjaan yang biasanya ia lakukan.

Untuk menekankan prinsip yang aku buat, aku memutuskan untuk tidak mengajaknya bicara sama sekali. Bukan sebagai seoarang introver yang sering tenggelam dalam lamunan, melainkan karena aku mempertegas prinsipku untuk tidak melibatkan fungsinya lagi sebagai partner kerja.

Dan voila! Dia kelabakan. Dia mencari jawaban atas diamku. Dia masih menganggapku teman di saat aku sudah memblacklist-nya dari daftar orang-orang kepercayaan seorang INFP yang sulit ditemukan. Aku merasa kehilangan orang yang sekapasitas. Namun itu lebih baik dibandingkan aku harus melihat tingkah laku bocah yang menyulitkanku yang dilakukan oleh seseorang berusia 23 tahun. Dan diamku itu kurasa menjadi salah satu alasan dan pertimbangan dia memutuskan resign.

Kurasa hal-hal seekstrim itu hanya bisa dilakukan orang-orang berkepribadian khusus seperti INFP. Tidak mudah goyah dan keras kepada prinsip. Jika aku mudah goyah, sudah sejak lama mungkin aku terjerumus pergaulan teman-temanku yang minum minuman beralkohol, merokok, bahkan clubbing.

Namun, jika diingat kembali tentang betapa keras kepalanya aku. Ada beberapa momen yang membuatku sadar bahwa seorang INFP sangatlah kompleks. Rasanya seperti ada dua kepribadian yang bersemayam dalam tubuhku. INFP bisa jadi sangat pendiam, namun bisa pula menjadi sangat keras dan berisik. INFP bisa sangat kuat dan kokoh, namun bisa pula menjadi sangat lemah dan rentan. INFP bisa jadi sangat kesepian dan butuh teman, namun bisa pula lebih memilih sendirian dan tidak mau diganggu. INFP bisa sangat percaya diri dan potensional, namun bisa pula mendadak minder dan menutup diri.

Bahkan dikatakan juga selain sebagai salah satu kepribadian yang pemalu, INFP sepertiku juga adalah sosok yang kompleks—yang banyak membuat orang penasaran untuk mendekat, namun lebih banyak yang menyerah karena kebingungan.

INFP yang terlalu idealis-perfeksionis tidak mudah bekerja dengan orang-orang yang hanya menuntut hasil. Bagiku proses itu perlu dan harus dilakukan sebaik mungkin.

INFP yang cenderung berimprovisasi tidak bisa mengenal arti ‘rencana bulan depan kita blablabla’ atau ‘ini harus ada target perminggunya’. Aku lebih mampu dan mentolerir hari ini ketemu yuk dan langsung gas, ketimbang besok ketemu yuk ternyata tertunda sesuatu yang berat sepihak.

INFP yang berpikir prinsipnya adalah yang terbenar membuatku selalu menilai siapapun laki-laki yang melecehkan perempuan secara verbal atau fisik adalah penjahat. Dan perempuan yang ‘membuka’ atau ‘mudah’ pada laki-laki yang bukan suaminya adalah lonte.

INFP yang seorang introver yang tidak introver membuat mereka terlibat oleh banyak kegiatan, namun tidak akan bertahan lama. Energinya akan cepat terkuras habis jika mereka berda dalam sebuah pertemuan yang memakan durasi lama. Bagiku, pekerjaan dan hal-hal yang melibatkan keramaian atau bertemu orang baru sangat melelahkan.

Sebagai seorang INFP, kemampuan imajinasiku digunakan secara baik dalam membuat banyak konten. Perfeksionismeku juga digunakan secara proper pada detail desain atau hal-hal yang kuedit. Penjabaranku yang baik digunakan dalam copy writing, bahkan sesekali kugunakan untuk menyampaikan ide dan sudut pandangku pada sesuatu di kantor. Introvert-ku digunakan pada ke-profesionalisme-an dalam bekerja, aku tidak membuat banyak relasi pertemanan (meskipun terkadang aku merasa kesepian), sehingga aku tidak terikat dengan orang dan kecenderungan konflik.

Aku sehebat dan secerdas itu. Tapi kenapa sampai detik ini aku masih sering kali ingin mati.

Ada banyak keputusan-keputusan berat yang telah berhasil aku ambi. Ada banyak fase-fase sulit yang berhasil aku lalui. Aku tidak terlibat sesuatu yang tidak perlu. Aku melakukan hal yang kusuka meski dianggap aneh bagi orang lain. Aku keras pendirian meskipun sering dicap kasar dan sombong. Aku tidak memiliki teman sehingga tidak ada kesempatan mereka menusukku dari belakang. Aku secara terbuka mengatakan aku tidak suka seseorang. Aku menjauhi mereka yang merepotkan.

Aku dewasa. Aku kuat. Aku berpendirian.

Tapi aku tetap takut memandang ke depan. Di depan masih terlihat gelap. Dan yang kupikir adalah tetap kematian.

 

 

 

 

 

Share:

Friday, August 6, 2021

BEING THE GIFTED IS A DISASTER

  

Jam sudah nyaris menunjukkan pukul 10 malam saat aku memutuskan membuka laptop dan memikirkan kalimat itu sebagai judul entriku kali ini. Setelah adanya banyak hal yang kulalui hari ini, obrolanku dengan teman online serta kompilasi pikiran-pikiran di kepalaku yang selalu berisik. Apalagi kalau bukan bakat alamiku yang mahir mendefinisakan hal-hal sederhana menjadi sesuatu yang besar dan kompleks. Mengaitkannya dengan sesuatu yang lain, mencari sudut pandang yang luas. Dan kemudian menuangkannya dalam tulisan.

Hari ini aku bertemu satu partner kerjasama perusahaanku. Kami terlibat perbincangan banyak meskipun yang kubicarakan dengannya bukan inovasi masa depan atau urusan politik yang menyebalkan. Aku hanya membahas pengalamanku dan hobiku, kemudian ia meresponsnya dengan antusias meskipun rasanya agak perlu usaha yang cukup untuk menyamaratakan pola pikir dan pembicaraan kami mengingat age gap kami cukup lebar.

Aku mengaku aku sedang memperbaiki pola kehidupanku untuk mengatasi stress akibat pekerjaan. Aku sudah bosan lima hari dalam total tujuh hari aku gunakan untuk bekerja, sedangkan sisa dua harinya hanya aku gunakan untuk rebahan, scroll social media, nonton, tidur atau sesekali jalan-jalan. Tidak ada kegiatan produktif sama sekali. Aku dulu sempat mengelu-elukan pekerjaanku sebagai kegiatan positif yang produktif, aku bangun pagi, berangkat kerja jam 8, ikut meeting, menyelesaikan deadline, terlibat diskusi krusial, menerima gaji. Hal-hal yang sempat kurasa menjadi lebih baik paska aku banyak menghabiskan diri di rumah sebagai pengangguran.

Nyatanya, depresi itu masih ada.

Beberapa kali aku mengunduh aplikasi di Play Store, salah satunya game role play. Di sana aku harus menjaga persentase kehidupanku agar berjalan dengan baik dan panjang umur. Salah satu caranya adalah beberapa opsi untuk self-improvement, seperti olahraga, les alat musik, mengikuti kelas bela diri, meditasi dan membaca buku.

Kemudian beberapa hari yang lalu aku merasa mood-ku jadi gampang naik turun. Lalu kuputuskan untuk mengunduh aplikasi mood tracker yang dulu pernah aku tinggalkan. Di opsi kegiatan yang ada di aplikasi itu menyantumkan istilah ‘saya yang lebih baik’ dan kegiatannya meliputi mendengarkan orang lain, berbagi, memberi hadiah, berlatih bahasa, mengikuti les musik dan tentunya membaca buku.

Dari sana aku menyadari betapa pentingnya self-improvement. Khususnya untuk orang sepertiku yang masih sering berpikir bagaimana cara mati yang tidak merepotkan.

Aku berpikir membutuhkannya setelah aku terlibat kekecewaan besar dari orang-orang yang pernah menolong dan kutolong dulu via online. Since I was too care with strangers, banyak orang yang menganggapku baik dan membalas kebaikanku dengan balik peduli. Namun seiring berjalannya waktu, ketika aku ingin menjauhi mereka dan mengambil space untuk menenangkan diri, setelah aku kembali aku sadar mereka bukan lagi orang yang sama seperti yang terakhir kali aku temui. Mereka seperti mencampakkanku, membuangku dan menganggap aku ‘sudah mati’.

Sedangkan satu-satunya tumpuanku selama setahun terakhir, pada akhirnya menyerah untuk menguatkan aku yang tidak lagi bisa dikuatkan, memahami aku yang bahkan kesulitan memahami diriku sendiri. Semua peristiwa itu terjadi teramat cepat dalam kelebatan mata. Dan seketika aku sadar, aku adalah ‘orang spesial’ yang tidak pantas berteman dengan sembarang orang, adalah  ‘orang spesial’ yang tidak bisa dikendalikan dan ditolong oleh sembarang orang.

Dan kemudian aku sadar, yang bisa mengatasi dan menolong diriku sendiri hanyalah aku.

Saat itu aku putuskan semua relasiku dengan mereka. Kuucapkan aku tidak akan pernah menghubungi mereka lagi. Aku menghapus semua kontak mereka dan memohon agar semuanya kembali ke nol—saat kita belum kenal satu sama lain. Sebuah keputusan yang tergesa dan cenderung berat. Karena aku kehilangan banyak support system dalam satu waktu sekaligus.

Setelah kehilangan mereka, aku mulai mencari cara lain untuk ‘mengalihkan’ diriku. Salah satunya adalah mengunduh mood tracker dan money manager untuk menemukan pengalihan kesibukan baru. Aku mencoba menjadwalkan kembali membaca buku di kala senggang, coba menonton film dan series dengan bahasa Inggris, mencatat kosa kata baru bahasa Inggris di buku catatan, kemudian menjadwalkan beberapa waktu untuk belajar bahasa Inggris sendiri.

Aku juga mencoba membeli buku lagi, membuat playlist baru yang jenis lagu-lagunya belum pernah aku dengarkan sebelumnya, mencoba memantau keuanganku agar tidak terlalu boros, mendaftar film dan series apa lagi yang perlu kutonton serta memaksa diriku mati-matian untuk kembali ber-passion ­dalam melanjutkan novel.

Aku berkedok ‘melarikan diri’ dari stress pekerjaan, padahal sejatinya aku hanya coba mencari cara untuk tidak merasa kesepian.

Dia tidak pernah tau what actually I’m dealing with. Dia hanya merespons ‘wah, keren ya’ atau ‘saya salut sama orang yang punya waktu untuk baca’.

Namun kalimat-kalimatnya hanya melemparku jauh pada awal semua berkat ini.

Sejak kecil aku diberkati kemampuan membaca yang di atas anak pada umumnya. Aku sudah bisa membaca di saat teman-temanku masih mengeja. Aku pernah diiming-imingi akan dibelikan banyak buku dongeng saat aku sudah bisa baca. Saat itu motivasiku jelas, sederhana dan tidak banyak yang mampu menyamai. Keinginanku hanyalah memiliki buku cerita sendiri dan bisa membacanya kapanpun aku mau.

Lalu, setiap kali aku kembali ke sekolah paska liburan. Guru bahasa Indonesia akan meminta siswanya untuk menulis pengalaman liburan dalam dua lembar kertas double folio. Ketika siswa lainnya kesulitan bahkan menuliskan cerita di satu halaman saja, aku malah butuh empat lembar kertas double folio untuk bisa menuliskan kegiatan liburanku yang hanya dihabiskan di rumah dan pantai saja.

Dari sana kemampuan membacaku bertransformasi menjadi kemampuan menulis. Aku akan sangat gelisah jika kosa kata yang aku temukan saat membaca tidak mampu aku bebaskan lewat tulisan. Aku akan sangat gelisah jika rentetan skenario yang aku temukan sebagai ide tidak aku tuangkan dalam tulisan. Dan sejak usiaku baru 8 atau 9 tahun, aku sudah berhasil menulis puluhan cerpen.

Cerpen-cerpen it uterus berkembang menjadi novel. Dan novel-novel itu berkembang menjadi skrip drama, film, aku mengatur tata panggung, pelafalan dialog, mimik wajah, kemampuan akting, sampai make up. Aku juga memutuskan scene apa yang harus aku cut, sudut kamera mana yang harus digunakan, seberapa besar intonasi dan lokasi mana sebaiknya shooting dilakukan.

Dan Demi Tuhan kenapa aku masih saja berfokus pada sastra?! Apakah sampai sebesar itu pun aku belum mampu memahami bahwa dilahirkan dengan kemampuan membaca dan memulis harus melulu diarahkan pada sastra? Apakah sastra satu-satunya jawaban?

Ternyata perjalananku dalam menemukan ‘berkat’ dan ‘kemampuan’-ku tidak berhenti di sana. Saat aku ditarik ke head office untuk meng-handle pemasaran, aku dituntut mampu menguasai peralatan desain dan strategi promosi. Aku fasih bahkan di bulan pertama terjun. Aku berkembang pesat akibat semuanya berjalan sesuai minat. Aku melakukan banyak improvisasi dan bahkan menemukan banyak solusi.

I’m gifted. Maka dari itu ‘mereka melihatku’…

Aku yang baru menemukan bakat lainnya menjadi semakin terpuruk dan merutuk. Menyesali keputusan di belakang. Dan menjadi bingung mana passion yang harus kutekuni.

Aku terdidik suka membaca, wawasan dan sudut pandangku terkait hal-hal sederhana selalu luas. Aku mahir menjabarkan satu kata menjadi ratusan kata. Untuk itulah jika ada satu saja hal yang mengganggu, aku akan memikirkannya terus menerus. Aku akan membuat kemungkinan-kemungkinan lain dari satu hal tersebut. Dan itu amat sangat melelahkan.

Aku juga dibentuk sebagai orang yang pandai memainkan kata, menemukan istilah terbaik untuk hal—bahkan hal terburuk sekalipun. Jadi, jika penat, dendam, amarah yang kurasakan tidak segera dibebaskan lewat tulisan, aku akan terus kepikiran. Jadilah aku terlalu frontal di sosial media. Aku tuliskan kebencian dan kekaguman di nyaris semua platform yang aku punya. Dengan harapan aku hanya butuh ‘menuangkan’, tidak berusaha menyindir seseorang. Karena sumpah, jika pikiran itu tidak kubebaskan dengan tulisan, aku sungguhan bisa mati karena overthinking.

Dan depresi ini masih saja mengikatku. Berkah itu masih ditahan oleh sesuatu yang menyebalkan seperti rasa malas, pesimis, membandingkan diri dengan orang lain, anti-sosial, susah fokus, selalu muram, tidak mau ribet dan lain sebagainya. Jadi pengembangan diriku serasa tertunda oleh hal-hal tersebut.

Kemudian, tadi pagi orang yang pernah kuanggap sekapasitas, orang yang pernah kukagumi dan kuelu-elukan bahkan di hadapan temanku—pada akhirnya membuatku menemukan titik jenuh. Dia marah untuk alasan yang sederhana, bersamaan dengan kondisi hatiku yang tidak sedang baik. Dia juga berbicara banyak denganku, seperti akulah satu-satunya harapan dia untuk mengerti kondisinya. Dia tidak tahu yang ia hadapi adalah aku, orang paling penuh isi kepalanya oleh perdebatan. Orang yang tidak seratus persen mengiyakan cerita dan pendapatnya.

Hari ini aku merasa seperti menemui batas akhir aku bisa mengandalkannya.

Dan ya, itu artinya baik di online dan real life pun aku benar-benar sendirian.

 

Share:

Saturday, July 24, 2021

This is My 3rd Years and I Still Remain The Same

 

Ini hari kesekian di tahun 2021 dan aku masih saja berpikir tentang kematian. Tapi kemudian aku ditarik pada ego diri sendiri, kepuasan dan kebanggaan bahwa sebenarnya aku tidak seburuk itu. Kadang aku berhasil menyelesaikan sebuah pekerjaan, mendapatkan ucapan terima kasih, lantas aku berpikir bahwa aku masih dibutuhkan. Atau ketika aku menemukan seseorang yang mendengar ceritaku, menghargai kesukaanku, mendukung pilihanku, lantas aku merasa aku masih pantas untuk hidup lebih lama lagi.

Namun malam adalah peperangan, ketika aku merasa sepi dan hampa tanpa teman. Mereka datang begitu saja padaku oleh keadaan, namun aku menghindari seolah aku mendamba kesendirian. Aku takut. Aku takut melihat keramaian. Aku takut mereka mengobrak-abrik diriku. Takut mereka mengetahui identitasku. Aku melarikan diri menjemput kesendirian kemudian merasa hampa tanpa mereka.

Aku teringat pada momen beberapa tahun yang lalu ketika ketujuh orang yang dalam waktu nyaris bersamaan bisa memendam rasa kagum pada kepribadian dan karakterku. Dan dalam beberapa hari terakhir aku pun mendengar poin penilaian tentangku dari sudut pandang orang lain. Aku cukup menyenangkan, bisa diajak berteman, asyik untuk diskusi, pintar, inovatif, good listener, misterius, humoris. Banyak poin plus yang menjadi alasan pertimbangan kenapa aku harus mati?! Kenapa aku memikirkan cara untuk bunuh diri?

Namun kemudian aku ditarik pada kenyataan pada malam-malam sepulang lelah bekerja, aku mengecek ponsel dan semua sosial media yang aku punya tidak mampu menarik perhatianku. Tidak ada chat. Tidak ada notif. Tidak ada yang peduli. Hanya hampa dan sepi. Di situlah aku kewalahan mengalihkan pikiran bunuh diri dengan cara yang tidak membantu banyak.

Aku sempat mendownload Prisga, salah satu aplikasi anonim hanya untuk mendapatkan perhatian. Aku juga pernah menjajal anonym chat di Telegram hanya untuk menemukan seseorang untuk bisa diajak cahttingan. Aku juga pernah mencoba Soul, aplikasi sosial yang sedang tenar hanya untuk bisa mengobrol dengan orang-orang dari berbagai dunia. Aku coba mendekatkan diri kepada teman-teman di Twitter, mencari celah problem yang ia punya, mendengarkannya, memberinya ketenangan dan motivasi—hanya untuk berharap they will do the same if I need them later.

BUT IT ALL DOESN’T FUCKING WORK ON ME AT ALL!!!

I’m sill hoping to die. Lagi dan lagi.

Demi Tuhan, aku sudah coba banyak sekali cara untuk melarikan diri. Termasuk saat ini, ketika aku hanya menjadikan entri-entri di blogku sebagai pelarian dari pikiran bunuh diri. Aku sudah menyerah dengan hampir semua caraku. Aku hebat, aku berbakat, aku masih dibutuhkan, aku berpotensi, aku punya skill, aku pintar, aku penuh ide, tapi aku tetap merasa tidak berguna dan ingin mati.

Aku tidak bisa menemukan masa depan. Aku sudah mengambil jalan beputar dari jalan lurus dan mudah yang pernah dipilihkan Tuhan. Aku sudah kehilangan sebagian pondasi untuk masa depanku sendiri. Semua ketakutan itu akan tetap menghantui di belakang dan bisa menyerangku kapanpun.

I hate myself, but I do love myself too. The option it’s hard.

Aku akhir-akhir ini menemukan diriku menjadi lebih serakah. Aku mencari orang-orang anonim dan teman-teman lama untuk berbagi cerita. Aku bebankan ceritaku pada mereka agar sedikit terlepas beban sesak di kepala, kemudian mengumpulkan simpati dari mereka. Lalu dengan simpati dan kekaguman itu aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku masih mendapat perhatian. Aku tidak boleh mati. Roda itu berputar secara berulang, sampai aku tidak tahu mana saja yang pulang dan mana yang bertahan.

Orang sepertiku sangat menjijikkan. Aku tahu. Aku tidak seharusnya mencoba terlihat pantas mendapatkan semua perhatian itu. Tapi tanpa itu aku pasti sudah mati.

Ini tahun ketigaku. Dan aku masih belum mendapatkan satu pertolongan pun dari psikiater. Karena aku tidak tahu apakah kondisiku seperti ini pantas dengan harga konsultasi yang kulakukan dengan psikiater? Ataukah nanti dia hanya tertawa melihatku yang terlalu bertingkah membesarkan hal-hal kecil? Tapi jika ini sesuatu yang kecil, kenapa sampai detik di mana aku mengetikkan entri ini aku masih saja merasa kesepian? Ketakutan? Ingin mati?

Nat, I just wanna tell you that I’m not okay after you’re leaving.

 

Share:

Wednesday, July 7, 2021

Dia Tidak Perlu Tahu Kondisiku

 

Aku percaya di balik semu roda kehidupan manusia akan selalu ada campur tangan Tuhan. Ada peristiwa yang bisa dibaca manusia, tapi lebih banyak yang diabaikan. Mereka abai pada fakta bahwa semua peristiwa yang dialami selalu memiliki rahasia. Manusia itu adalah aku.

Juni datang dengan hujan secara tiba-tiba. Semakin sedikit sisa hari di bulan Juni, semakin jarang pula hujan menyambangi. Namun pagi itu entah kenapa hujan datang tanpa membawa pertanda apapun. Aku tertimpa musibah, pertama kalinya dalam 24 tahun hidupku. Kaki kananku mati rasa. Otot-ototnya membengkak akibat trauma. Aku menangis seperti anak kecil setiap kali harus memaksanya bergerak.

Pikiran negatif bergantian muncul di kepala. Selain menangis akibat sakit, aku juga menangis karena takut mempertaruhkan kehidupan normalku.

Musibah itu terjadi Senin kemarin, sudah sekitar seminggu dari hari aku menuliskan ini. Kondisi kakiku membaik, namun belum sepenuhnya pulih. Di hari keempat pemulihan aku melihat kemampuan kakiku mulai membaik. Aku memaksa pergi bekerja, menukarkan rasa sakit dengan teror-teror pekerjaan yang semakin menumpuk.

Dengan keterbatasan mobilitasku, aku berusaha terlahir kembali. Memulai semua ketertinggalan dengan harapan yang baik. Aku lebih memilih kesakitan karena memaksa kerja daripada harus tidak tahu apa-apa akibat beristirahat di rumah.

Di hari keduaku bekerja, kakiku tidak semakin membaik. Beberapa nyeri terasa semakin parah dibanding hari kemarin. Sedangkan keluargaku yang awam tidak juga membantu dengan reaksi apapun. Sekali lagi aku dihadapkan pada ketakutan. Aku kembali menangis. Kupanggil ibuku, kupeluk beliau sambil menangis dan kubisikkan kata-kata bahwa aku takut.

Aku tidak tahu kenapa aku menjad begitu lemah sekarang. Akibat menangis, suhu tubuhku mendadak tinggi. Aku batuk dan bersin berkali-kali. Kondisiku ambruk dalam hitungan jam. Dan aku berharap semua baik-baik saja.

Di bawah pengaruh obat analgetik aku mencoba memejamkan mata. Dan di sanalah semuanya bermula.

Kembali pada fakta yang kutuliskan di awal. Semua peristiwa yang aku alami tentu masih di bawah pengawasan Tuhan. Saat aku ketakutan dalam tidur, Beliau mengubah ketakutan itu dengan sebuah bunga tidur yang indah. Sangat indah dan sederhana. Tidak terlihat berlebihan sehingga membuatku merasakan bahwa mimpi itu nyata.

Aku dilempar pada suasana kota yang asing. Salah satu kota favoritku meski aku tidak yakin. Ada banyak segmen dalam mimpi, namun yang berhasil bertahan di kepalaku ada satu segmen ketika aku mampu berlari.

Aku dan dia. Ya, dia dari masa lalu. Dia yang sudha enam tahun ini tetap terpenjara di kepala. Dialah bunga tidur yang merebut ketakutanku. Aku dan dia keluar dari rumah itu, hujan rintik-rintik menyapa. Lantas kami bisa melihat dari kejauhan ada bias lampu jalanan yang berjejer indah. Aku berusaha  mengabadikan bias-bias lampu itu dengan kamera ponselku.

Tiba-tiba dia mendekat, lalu memberiku saran bagaimana sebaiknya aku mengabadikan momen itu dengan kamera. Tapi di antara kata-katanya dia berujar; “Kayak gini aja, karena aku berharap bisa gini juga sama calon tunanganku.”

Deg!

Jantungku mencelos. Sudah jelas mimpi itu datang dari dia di masa depan. Tapi saat itu yang aku rasakan adalah sesuatu yang terjadi sekarang. Atau barangkali di balik diamnya, dia sudah menyiapkan semua pencapaian. Aku tidak tahu bagaimana jadinya aku jika tahu dia akan mencapai tujuan akhirnya. Garis finish yang dulu aku sempat perdebatkan.

Itu masih sekadar mimpi, tapi kenapa sakitnya luar biasa menyiksa hati?

Bagaimana jika itu terjadi sungguhan? Apakah aku akan seperti David yang memilih mati?

Dan paska mimpi itu mampir, atau memang murni karena bantuan sebutir obat, keesokan harinya aku pulih. Namun dalam dunia nyata aku menemukan satu fakta bahwa dia baru saja memposting sebuah foto di Instagramnya.

Dia definisi kesederhanaan dan kemurnian. Tidak pernah muluk-muluk. Di balik hidupnya yang terliha mulus dan serba berkecukupan dia tidak pernah berlebihan mengeksposnya. Aku sungguhan jatuh cinta sejak pertama sampai hari ini untuk kesederhanaan itu.

Siapapun yang memilikinya nanti, kuharap dia terus bersyukur kepada Tuhan atas nikmat itu.

Dan untuk relasi dengan kondisiku yang sekarang, dia tidak perlu tahu. Aku tidak mau merusak hidupnya meski sempat ia berkata untuk sesekali kembali padanya.

Share:

Monday, March 29, 2021

Aku Terjebak dalam Kantor Berwarna Abu-Abu

 

Rasanya luar biasa pada akhirnya aku menyerah dengan kondisi fisikku. Sering kali aku mulai merasakan kondisi fisik yang sedikit terganggu, kemudian memilih istirahat atau meminum susu dan vitamin, kemudian kondisiku lekas membaik seperti semula. Aku tidak pernah benar-benar jatuh sakit sampai izin tidak bekerja. Namun kali ini pengecualian, sebab selain fisikku, mentalku juga ditempa oleh hal-hal yang seharusnya tidak kuperhatikan.

Minggu kemarin adalah hari-hari terberatku. Tiga deadline besar menjadi satu, saling bertumpuk minta diperhatikan lebih dulu. Belum lagi permintaan-permintaan dari bawahan dan atasan yang secara bersamaan meminta perhatian sampai aku kelabakan. Mana yang prioritas? Mana yang seharusnya didahulukan? Mana yang urgensinya tidak bisa menunggu? Hal semudah ini mendadak menjadi sangat sulit ketika aku mulai kehilangan kemampuanku untuk fokus pada pekerjaan.

Karena mentalku terganggu sejak lama.

Kuakui aku tidak mau berteman. Tapi sebagai manusia yang sejatinya adalah makhluk sosial, mau tidak mau aku dibebat rasa kesepian. Jadilah aku membangun relasi. Ada yang membuatku nyaman, tapi menyebalkan. Ada pula yang cocok sebagai tempat berpulang, tapi tidak memberiku kenyamanan. Sulit menemukan apa yag kuinginkan di usia segini. Atau memang aku sedikit pemilih dalam pergaulan mengingat sifatku yang ketus dank aku akibat kehilangan banyak kepercayaan pada orang-orang.

Aku pernah dibodohi. Pernah dimanfaatkan. Maka sekuat tenaga aku tidak mau berlebihan memanfaatkan orang lain, sehingga mereka tidak mengambil celah untuk memanfaatkanku juga. Tapi sedewasa ini pun aku masih bersusah payah mengurusi relasiku dengan orang-orang yang selalu berbicara soal hubungan timbal balik. Rasanya sungguh melelahkan. Sedangkan untuk berdiri di kaki sendiri, rasanya aku kesepian.

Aku lupa, tapi sepertinya aku pernah menulis entri atau thread tentang kendala yang aku temui saat pertama kali merasakan dunia kerja. Waktu itu problemanya masih sarat dengan senioritas. Mereka menganggapku ‘anak baru’ yang lambat beradaptasi dan tidak terlalu membantu. Sampai akhirnya ibuku bilang, “jika kamu ingin diterima di suatu tempat, maka jadilah berguna dan buatlah mereka tidak bisa melakukan sesuatu tanpa bantuanmu”. Dan setelahnya, aku membuktikan perkataan ibuku benar adanya. Mereka yang minim tahu tentang bahasa Inggris dan teknologi ‘memanfaatkanku’ dan menjadikanku seseorang yang dibutuhkan di sana.

Kemudian perjalanan dunia kerjaku berlanjut sampai aku menemukan pengalaman dan pelajaran yang banyak. Aku berkembang cukup pesat mengingat ini adalah kali pertama aku terjun ke dunia kerja. Aku bertemu dan bergaul dengan banyak orang bersamaan dengan kemampuan adaptasiku yang sebenarnya tidak terlalu buruk. Dan kemarin aku sempat merayakan peringatan satu tahun aku bekerja di sana. Tepat saat tanggal 6 Januari kemarin.

Namun, setahun di sana membuatku belajar bahwa dunia kerja sungguhan beda dengan dunia sekolah atau kuliah. Karena semua hal berkaitan dengan ‘bayaran’, maka apapun yang terjadi di sini terasa abstrak. Tidak ada guru BK yang mengawasi, tidak ada organisasi atau komunitas yang melindungi. Kamu benar-benar sendiri. Individualis bertahan.

Aku tidak secara langsung dibuli. Tidak. Tapi mataku menangkap banyak peristiwa yang tidak bisa nuraniku terima. Bukan lemah. Tapi karena aku terlalu marah pada pergaulan yang menurutku sangat tabu terjadi bahkan setelah aku melalui banyak pergaulan di Jawa atau Bali, di tempat mayoritas muslim atau minoritas muslim. Aku sempat kaget dengan banyaknya perubahan yang kuterima. Namun aku bertahan karena aku tahu, itulah satu-satunya jalan.

Hal-hal tabu hanya bagian dari angin lalu, bukan sesuatu yang bisa dipelajari sebagai tindakan yang tidak seharusnya dilakukan di dalam perusahaan. Saling menggoda, membuli, menaruh kasih sayang yang berlebihan, profesionalisme cuma saat dalam ruang meeting, atau saat kondisi genting saat seseorang ‘berulah’ dan berbuat kriminal. Larangan dan peraturan perusahaan hanyalah wacana.

Dulu, ibuku sering sekali mengharapkan aku dibayar lebih. Ia memintaku mencari tempat lain yang akan membayarku lebih. Tapi aku enggan. Aku menemukan banyak kesempatan di sini. Kemampuanku dan pengetahuanku berkembang, aku bisa belajar, aku dijanjikan masa depan. Bagaimanapun tidak ada satu alasan pun yang bisa kutemukan untuk meninggalkan tempat ini.

Namun seiring berjalannya waktu aku menyadari hal terbesar yang membuatku ingin berhenti justru datang dari orang-orang terdekatku. Orang yang setiap hari kuajak bicara dan berdiskusi. Orang yang sering membuatku bingung, sebab hari ini dia terlihat sangat bisa diandalkan, namun besoknya dia terlihat sangat menyebalkan. Dan ada banyak sekali hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan di sebuah perusahaan yang mereka lakukan entah sengaja atau tidak secara rutin. Nyaris setiap harinya. Bukan padaku secara langsung, namun cukup menganggu.

Dan akhirnya aku sakit juga. Jatuh di atas kasur meminum obat-obatan, mengetik satu pesan singkat mengatakan hari ini aku tidak bisa kerja. Aku juga heran, biasanya aku bisa bertahan. Sebotol vitamin dan sekaleng susu untuk pencegah, kini tidak mempan. Mentalku ditimpa oleh sikap buruk satu dua orang, sekali lagi tidak padaku secara langsung, namun cukup mengganggu.

Dan fakta seolah aku mendukung kesalahan mereka—atau berpura-pura tidak memedulikan apa yang mereka perbuat dan katakan, hanya membuatku sama seperti pegawai lainnya. Bungkam dan tidak mau mencari masalah. Padahal di dalam hatiku aku sudah bergejolak ingin membantah.

Tidak ada tindakan tegas di sini. Semuanya abu-abu. Dan dalam keabu-abuan itu juga aku merasa aman, sebab kinerjaku yang sering kali tertahan gangguan mentalku, sama sekali tidak terbaca mereka.

 

Share:

Friday, January 1, 2021

Coba Lihat Apa yang Kutulis di Hari Pertama Tahun 2021

 

Hei, ini entri pertamaku di tahun 2021. Pergantian tahun yang diisi banyak resolusi sepertinya tidak menjamin akan membuat diri siapapun menjadi lebih baik. Resolusi seperti omong kosong bagai kebanyakan orang, maka dari itu aku sama sekali tidak berani mengambil risiko. Bahkan ketika harapan dan rencana orang-orang terhalang oleh adanya pandemi, aku malah kehilangan semua karena ekspektasiku sendiri. Kegagalan diriku untuk memperlakukan hati, pikiran dan fisikku dengan baik layaknya manusia normal.

Aku masih belajar bagaimana caranya untuk mencintai dan menghargai diriku lebih dari siapapun. Aku berusaha untuk masa bodo dengan semua kebahagian orang-orang, berusaha tidak membandingkan pencapaianku dengan orang-orang, berusaha tidak terganggu dengan cerita indah orang-orang. Aku ingin menikmati hidupku sendiri dan kemudian menyadari, Ya Tuhan hidupku sama sekali tidak ada apa-apanya.

Coba lihat, sebagai seorang Capricorn aku terlalu banyak menaruh rasa kepedulian bahkan kepada orang yang tidak akan pernah mau membuka dirinya untukku. Aku bertanya are u okay kepada hampir setiap orang untuk kepekaanku yang berlebihan. Rasa peduliku menghancurkanku, sebab mereka pada akhirnya akan lari kepadaku karena mereka merasa sedih, sedangkan ketika merasa bahagia, namaku hanyalah nomor sekian dalam daftar prioritasnya.

Aku merasa aku dicampakkan banyak orang. Mereka hanya bercerita soal kesedihan hidup, kegagalan dan titik terendah mereka kepadaku. Mereka tidak akan mengingatku ketika mereka merasa bahagia, entah apakah itu karena mereka tidak mau menyinggung perasaanku ataukah mereka hanya sekadar lupa untuk menceritakannya. Apa yang bisa kusimpulkan dari ini adalah; mereka hanya menganggapku sebagai manusia yang penuh dengan kesedihan dan kegagalan.

Iya, kan?

Coba pikir, kalau mereka tahu aku bahagia dan sukses, mereka akan senang berbicara denanku soal kebahagian dan kesuksesan mereka juga. BODOHNYA AKU BARU PAHAM SEKARANG. Teman yang kutemui beberapa hari kemarin, teman yang mengajakku menghabiskan malam dengan seduhan kopi di antara suara berisik hujan pukul 9 malam barangkali adalah orang yang merasa senasib denganku karena dia juga merasa dicampakkan dunia. Tunggu beberapa bulan lagi ketika dia lulus, atau ketika dia menikah, dia akan melupakanku karena terlalu asyik dengan kebahagiaannya. Toh, dia hanya menjadikanku sebagai penguatnya. Aku dimanfaatkan.

Tidak semua orang di sekitarku akan begitu. Tapi sungguh demi Tuhan aku mulai menyadari rasa peduliku yang berlebihan ternyata bisa membunuhku secara perlahan. AKu merasakan ketika satu persatu dari mereka mulai menemukan jalan keluar menuju kebahagiaan dan lantas meninggalkanku di belakang. Mereka dan aku tidak saling menyadari kalau dengan cara itu aku sungguhan cuma dimanfaatkan. Aku tidak bilang semua orang akan begitu padaku, tapi sebelum semuanya terlambat, aku mulai sadar bahwa rasa peduliku amat berbahaya.

Minggu kemarin, saat aku melihat status sedihnya, status yang bilang ia tidak berguna, entah dengan kecepatan kilat, tanpa berpikir dua kali, tanpa mempertimbangkan relasi kita yang seharusnya tidak pernah dekat, aku membalas status itu dengan kalimat penguat. Mungkin dia kaget menerima kalimat semacam itu dari orang yang tidak pernah ada di daftar teman dekatnya. Namun saat itu aku masih beranggapan aku bisa melakukan kebaikan dan kepedulian kepada siapa saja, sejauh yang kumau.

Di usiaku yang ke-24, usia yang tidak muda lagi, aku mulai menyadari duniaku bukan di sini. Orang yang paling peduli padaku, yang paling mengerti kondisi mentalku, perlahan mulai pergi. Mulanya dia hanya bilang tidak mendapat jatah libur, kerjaan menumpuk dan tidak ada waktu untuk bertemu. Lama-lama setelah kurasakan dia seperti sibuk menyembuhkan lukanya sendiri dan masih kehilangan kekuatan untuk bisa membantu menyembuhkan lukaku. Dia perlahan pergi di saat aku hanya percaya dan membutuhkan orang sepertinya. Aku kehilangan kekuatan. Kekuatan paling besar di dunia ini yang bahkan tidak bisa kudapatkan dari keluarga kandungku sendiri.

Sedangkan yang lainnya? Aku meninggalkan mereka sejak lama karena aku takut membandingkan kebahagiaan dan pencapaianku dengan mereka. Andaipun ada, mereka tidak akan paham apa yang sedang aku alami. Aku dituntut harus menjelaskan, sedangkan ketika aku menjelaskan dan mempercayai mereka karena aku terlalu hancur, mereka hanya meresposn ‘hahaha namanya juga hidup’. Jenis manusia yang tidak akan pernah bisa paham mengenai kehidupan. Manusia yang jauh dari frekuensiku, yang sayangnya kenapa bisa menjadi sisa temanku satu-satunya?!

Duniaku sungguh bukan di sini. Aku cuma mencintai orang-orang semacam Im Changkyun atau Chae Hyungwon. Mereka yang membuatku senang karena memproduksi musik yang enak didengar, atau membuat acara berdurasi pendek yang bisa membuatku tertawa. Mereka yang tidak bisa kuajak berkomunikasi, mereka yang tidak pernah bisa kujamah. Mereka yang cuma kujadikan pelarian.

Lihatlah, betapa menyedihkannya akun media sosialku. Instagram cuma membahas soal bagaimana cara terbaikku untuk memalsukan kebahagiaan. Twitter cuma membahas betapa aku menikmati karya Shownu  dan Bangchan cs. Semua jenis usaha yang kulakukan untuk mengalihkan isu kesedihanku, ketidakbahagiaanku, keputusasaanku. Semua yang kutampakkan di media sosial sama sekali bukan aku.

Uhm, aku menulis ini karena dipicu satu orang. Hahahah.

Gila, aku takut kehilangan dia padahal dia bukan siapa-siapaku. Bukan, dia bukan orang yang aku suka. Kan sudah sejak lama aku kesulitan menyukai orang. Dia adalah orang yang sering merecoki, orang yang selalu mengejar kabar di saat aku tidka berkabar, orang yang selalu nyambung untuk membahas banyak hal. Aku takut kehilangannya tapi aku malu mengakui bahwa hidupku bergantung padanya.

Sejak aku tahu fakta ini, kemungkinan dia akan pergi, aku memilih pergi duluan. Aku akan menjauh darinya duluan, aku tidak akan peduli berlebihan padanya lagi.

WHY THE FUCK I CARE FOR THOSE PEOPLE INSTEAD MYSELF?!

Ya Tuhan, ini 2021, umurku sudah 24 tahun dan aku masih ingin mati.


Share:

Saturday, December 19, 2020

Hujan dan Keberanian Membuka Diri

 


Pertengahan Desember dengan hujan sudah menjadi sahabat sejak lama. Begitu pula ketika tahun pandemi ini terjadi, hujan sedang manja-manjanya dengan Desember. Nyaris setiap hari menyapa. Namun itu sama sekali bukan kendala, sebab aku selalu menikmatinya meskipun terkadang juga dibuat kesal. Sepatuku sering terkena basah, bajuku pun beberapa ada yang kesulitan kering.

Tapi tujuan aku menulis entri ini bukan karena mengeluh soal basah, atau bahkan untuk berlebihan memuja hujan. Tujuanku yang sebenarnya adalah untuk mengabari dunia bahwa aku sudah di tahap mencoba membuka diri.

Sejak akhir 2018 aku menutup diri dari banyak hal secara perlahan dan terstruktur. Bukan aku yang mau, semua terjadi begitu saja sampai terlambat aku menyadari bahwa aku benar-benar menarik pusat kehiduapanku seratus delapan puluh derajat dari kehidupan normal.

Sebut saja ini tahun kedua, pada akhirnya aku coba untuk perlahan menyembuhkan ketakutan.

Selasa kemarin, aku memberanikan diri membuka chat room-nya, mengetik satu pesan dengan takut-takut, mencoba menjalin komunikasi yang tidak seharusnya. Dia menyapa seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi di antara kami—maksudku tidak ada yang terjadi padaku. Seolah aku masihlah orang yang sama, orang yang tidak bereaksi berlebihan pada luka dan rindu.

Namun dia sungguhan profesional. Berhadapan denganku, ia tetap menampilkan ketenangan. Dan seperti merasa tidak perlu berbasa-basi, dia akhiri percakapan dengan doa agar aku selalu sehat. Entah sehat dari segi apa. Fisikku sungguhan baik-baik saja di pergantian musim yang ekstrim, di tengah cuaca tak menentu. Seharusnya tidak perlu ia mendoakan seseorang yang jahat sepertiku.

Namun aku tidak bisa berbohong bahwa aku menghargai doanya. Dan berasumsi liar bahwa sebenarnya ia paham what the fuck are going with me! Tapi dia hanya menutup mata karena tidak mau terlibat. Sungguh sosok sempurna mirip alter ego yang aku buat.

Keterbukaanku tidak hanya berhenti padanya. Aku juga mengajak salah satu teman kampusku—teman yang tidak bersalah namun sangat membuatku ketakutan—untuk bertemu. Dia merespons sungguhan antusias. Dia menentukan tempat, waktu, seperti tidak ada satu pun kesulitan untuk bertemu. Dalam ingatanku ini pertemuan pertama kami setelah terakhir kali kami dipertemukan secara wajar dan normal di akhir tahun 2018. Sebelum semua beban yang kusimpan meledak dan membuatku kesulitan menerima dunia nyataku.

Dia datang malam itu dengan penampilan yang sama. Dengan senyum merekah dan rindu yang barangkali membuncah. Lewat lagu-lagu sengau dari pengamen jalanan, di antara riuh rendah suara pengunjung lain yang bercakap-cakap, di tengah aroma basah bekas hujan yang berpadu dengan aroma nikmat jagung bakar, aku dan dia saling bertukar cerita tentang apa yang tengah kami alami ketika dua tahun tidak bertemu.

We have our own life to sacrifice. Dia pun mengaku nyaris merasakan hal yang sama, namun berhasil mencari bantuan hingga tidak sampai separah aku.

Dalam ingatan, sungguh hanya bermodalkan ingatan, aku meyakini terakhir kali aku melihat dan berbincang dengannya secara langsung adalah akhir 2018 yang lalu. Ketika dunia masih sedang baik padanya dan padaku. Ketika ketakutanku masih belum separah ini. Dan Demi Tuhan dia masih bisa menahan semua beban itu sedangkan aku sudah lama menyerah.

“It’s okay, you have your own reason. You’re already adult enough to make a life decision.”

Begitu katanya, untuk menenangkanku yang sebenarnya tidak pernah mempan dengan kata-kata semangat dan motivasi. Namun aku menghargainya.

Obrolan kami berlanjut sampai pukul sebelas malam, di bawah kursi teras sebuah minimarket kami melanjutkan perbincangan yang melulu membahas soal kehidupan. Kami berasal dari dua latar belakang yang berbeda, agama, budaya, material, pendidikan, pengalaman, kesulitan dan pandangan hidup. Tapi kami bisa menghargai keputusan satu sama lainnya. Mendukung. Menguatkan seperti dua orang survivor yang bekerjasama mencari jalan keluar dari sebuah labirin besar.

“Demi Tuhan aku takut mendengar nama mereka.” Akuku saat ia berhasil memberiku kabar terkait nama-nama yang dulu pernah aku anggap biasa saja.

Bahkan nama-nama itu bukan sebuah mantra, bukan pula kutukan. Mereka tidak pernah meninggalkan satu pun bekas luka atau kenangan buruk padaku. Akulah yang menjauh, yang menutup diri, aku tidak mau menemui mereka, aku tidak mau mendengar kabar mereka, aku tidak mau tahu soal kehidupan mereka dan membandingkannya dengan kehidupanku. Aku takut. Sungguhan takut. Bahkan hanya dengan mendengar namanya saja aku sudah takut.

Lalu aku meminta ia berhenti.

Jangan sebut lagi. Karena upayaku membuka diri belum sampai tahap ketersediaan bathinku untuk menerima mereka kembali.

Desember adalah akhir tahun yang membuatku sedikit bersyukur. Membuat tahun 2020 tidak separah yang pernah aku bayangkan. Aku mulai menemukan diriku dan apa yang aku mau. Aku menutup mata dan tidak peduli pada orang-orang atau sesuatu yang tidak menguntungkanku. Meskipun aku masih saja belum bisa menemukan tujuan hidup, tapi apa yang kulakukan sekarang—paling tidak di bulan Desember ini—sedikit membuatku lega.

Lucunya, pada akhir tahun ini hubunganku dengan beberapa orang tertentu mendadak menjadi lebih intens. Aku juga makan lebih banyak makanan enak. Aku mulai menyisihkan uang dan berjuang untuk tidak membeli sesuatu yang tidak kuperlukan (kecuali makanan). Aku sibuk dengan hal-hal kekanakan seperti crying over how sexy Im Changkyun is atau menulis imajinasi yang kumiliki sendiri tentang cinta segitiga antara Si Kaya Raya—Im Changkyun, dengan Si Penjudi Handal—Chae Hyungwon dan Si Psikopat Tampan—Lee Minhyuk.

Hal-hal yang tidak terlalu membutuhkan banyak tenaga untuk menangisi orang yang tidak mencintaiku, atau memendam amarah pada teman yang lebih dekat dengan orang yang kusuka, atau diam-diam menyukai seseorang dan menerka apakah dia menyukaiku juga atau tidak. Hal-hal manusiawi yang sudah lama kau tinggalkan karena aku tahu rasanya sungguh melelahkan. Aku tidak masalah dikata kekanakan, aneh, maniak atau apalah. Aku tahu apa yang aku mau. Aku tahu apa yang sehat bagiku. Aku tahu apa yang bisa membuatku senang dan bisa mengurangi stress bekerja.

Aku menikmati cowok-cowok plastik seperti kata mereka. Aku menikmati drama alay seperti kata mereka. Aku menikmati ‘apasih lagu Korea’ seperti kata mereka. Karena aku tau apa yang aku mau dan apa yang bisa membuatku senang. Aku mendapatkan semua itu tanpa harus mencuri dari mereka. Tidak merugikan mereka sama sekali. Jadi, fuck the shut up.

Btw, sesuatu yang kugandrungi atau kulakukan di bulan Desember cenderung akan kuingat lebih lama. Dan ya ampun sebentar lagi aku ulang tahun. Congratulations for being strong enough. Aku masih hidup sampai usia 24 tahun woyyyy setelah berkali-kali pernah berpikiran mau mati. Huhu.

Share: