Mengawali tahun 2025, dengan sangat berat hati harus aku sampaikan, bahwa Radiva─pemilik blog ini sudah mati di akhir tahun 2024.
Iya, mati dengan persona yang memuakkan dan membosankan itu.
Entri yang kutulis di bulan November adalah entri terakhir yang mungkin bisa aku asosiasikan sebagai entri yang ditulis oleh seorang perasa yang fokus pada intelegensi emosional. Dan di awal tahun ini─sampai pada aku menulis entri ini, kamu berhadapan dengan revolusi Radiva 3.0.
Aku menemukan perbedaan yang cukup signifikan dalam respons sosial yang selalu membebaniku secara personal─dulu. Saat ini aku jarang mentoleransi sesuatu yang menurutku remeh, seperti seseorang yang melanggar batas valueku atau adanya suatu sistem yang monoton dan tidak visioner.
Saat menulis ini, aku sedang duduk di kursi office yang lengang tanpa banyak keributan. Hanya ada suara mesin printer dari kejauhan. Lagu-lagu nostalgia zaman sekolah bergiliran mengisi headphone yang kupasang dari pagi tadi. Di sebelahku ada novel A Little Life yang hari ini sudah kubaca mencapai halaman 400. Dan mengapa semua situasi ini terjadi adalah sebuah result dari ketidakmampuan sistem di office untuk membuatku produktif.
Bayangkan saja, dua bulan terakhir Spotify Wrap bagian minutes listening milikku berhasil menyentuh angka 11 ribu lebih. Dalam artian, aku mendengarkan musik seharian selama kurang lebih enam jam. Artinya, kuhabiskan waktu kerjaku hanya duduk di depan laptop, mengerjakan sesuatu─entah apa─sambil memutar Spotify. Hal yang mustahil bisa kulakukan kalau aku berada di rumah─karena aku akan memilih untuk menonton Netflix daripada cuma mendengarkan Spotify. Atau bahkan apabila aku punya tugas di luar─seperti pada pekerjaanku di perusahaan sebelumnya.
Sistem di office ini membosankan. Seperti buku yang tidak punya klimaks dan lemah dalam pengenalan karakter. Aku bahkan akan segera menutupnya sebelum mencapai akhir bab pertama. Aku berkata demikian karena saat aku menulis entri ini, aku sudah berulang tahun ke satu tahun sembilan hari dari awal aku bergabung ke perusahaan ini. Jadi aku berani menyebut konklusi bahwa dalam durasi waktu tersebut, aku kebanyakan jenuh dan tidak menemukan kejelasan dalam pekerjaan.
Sederhananya, kalau semua porsi pekerjaan aktif dan terkendali, hidupku di office ini pasti akan diinterupsi oleh tugas lapangan─however I'm a marketer and a marketer should be both at internal and external activities─atau minimal meeting rutinlah yang tidak memungkinkan aku mendengarkan Spotify. Masalahnya, hanya untuk membuat suatu project berjalan, kepala perusahaan ini tidak punya kapabilitas untuk deciding and navigating. Dia hanya memerintah tanpa tahu perspektif lain yang mungkin bisa lebih efektif. Khas-nya seorang kepribadian S dan J yang objektif pada data terlihat dan kaku.
Ngomongin soal kepribadian, ini tujuan awalku untuk menyempatkan diri menulis satu entri di tengah waktu luang di office. Aku mengalami banyak improvisasi dan bahkan extreme shifting akibat banyak peristiwa. Mungkin perubahan ini sudah terjadi lama, tapi aku baru merasakan dan menemukan konklusinya di beberapa bulan terakhir─khususnya di awal tahun 2025.
Baiklah, entri panjang khas Radiva akan dimulai sekarang.
Shifting of Social Responses
Ini adalah salah satu hal basic yang cukup memberikan efek domino yang signifikan dalam pola menjalani kehidupan. Masalahnya, label 'everyone psychologist' udah ngga tertempel lagi di aku. Seperti sudah jatuh, hilang entah ke mana. Teman-temanku tidak lagi meraihku untuk membagi kisahnya dan mencari simpati atau solusi. Aku tidak lagi tertarik mencari waktu luang untuk ngopi dan membahas pengalaman mereka. Seandainya aku pergi ke cafe untuk ngopi, kemungkinan besar akan kulakukan sendiri, untuk membaca buku. Atau paling tidak, jika memang harus membahas sesuatu bersama satu dua orang, apa yang kubahas adalah sesi fun tentang cerita yang ada di office, atau pengalaman netral tentang mereka. Bukan lagi drama percintaan, hubungan keluarga yang chaos, penentuan langkah hidup atau bahkan permasalahan rumah tangga.
Wah aku pun ngga nyangka cerita seberat dan too much draining energy semacam itu dulu bisa kulahap apa adanya dari orang lain.
Beberapa orang pernah datang ke ruang konsultasi Radiva dengan membawa ceritanya. Ada yang bersungut-sungut kesal, ada juga yang mengeluh bingung dan bimbang. Melihat respons mereka di awal, aku yang sekarang sudah keburu malas. It ain't that hard to find the answer, bro. Kenapa sampai dibawa ke meja kita? Di tengah pertemuan yang harusnya untuk menikmati kopi dan snacking saja?
Jika mereka membawanya ke ruang konsultasi Radiva yang dulu, barangkali mereka akan disambut dengan secangkir teh dan satu bantal sofa yang hangat. Tapi ini bukan dulu. Ini adalah sekarang─Radiva dengan ruangan baru yang jauh lebih dingin dan sedikit ada sentuhan gelap.
Case 1 : atasan di kantor mendekatinya, demand perhatiannya dan mulai menunjukkan ketertarikan dengan memberi dia barang atau uang.
Jawaban : just ignore him, don't even let any chance opens to make your relationship's getting worse
Memangnya ada jawaban lain? Mau dijelaskan A sampai Z pun dengan ratusan alasan dan pertimbangan, menurutku ya sudah, dari awal jangan beri kesempatan apapun. Orang jatuh cinta itu bodoh dan gila, mudah dimanipulasi. Jadi kalau kamu tidak tertarik, harusnya jangan coba-coba ambil chance untuk membiarkan dia dimanipulasi. The worst case is, pasien ini menerima uang dan barang dari atasannya. Satu kata, BODOH. Ibarat perjanjian antara manusia dan iblis, kalau kamu sudah menerima 'sesuatu' dari dia, artinya kamu sudah mengikat janji untuk available pada emosi dan perasaan yang dia curahkan ke kamu.
Aku akan sangat mentolerir kalau alasan tidak bisa ignore komunikasi karena alasan pekerjaan. Tapi akan sangat bodoh kalau sudah sampai menerima sesuatu. Untuk case ini, aku sama sekali tidak mendukung pasienku─apalagi pelaku. Di sekian konsultasi (baca: pertemuan) kita, aku tidak pernah 'memaafkan' kebodohannya di awal. Mau seberapa kuat dia berusaha menjelaskan situasinya. Karena solusi dan jawaban yang kuberikan sejak awal menurutku sudah proven by same case before. Jadi opsinya cuma dua, lakukan solusi itu atau jangan datang dan mengeluh sama sekali.
Bayangkan jika pasien ini datang ke ruang konsultasi setahun atau dua tahun yang lalu. Mungkin Radiva akan meminjamkan pelukan atau menaruh 100% empati pada pasien. Kalau perlu 'ayo kita bakar rumahnya'. Emotion-driven sekali. Sama sekali ngga efektif. Akan lebih menghemat energi kalau dari awal sudah ignore.
Case 2 : salah satu co-worker dari luar pulau mulai mendekati dan menaruh perhatian (lagi?) meskipun dia sudah berpacaran selama lebih dari 10 tahun dengan kekasihnya
Jawaban : kalau bisa dua orang yang kasih perhatian, kenapa harus satu? BUKAN. Tentu saja jawaban seperti ini sama sekali ngga sulit. Kenapa sampai dibahas segala?
Sepuluh tahun bukan waktu sebentar untuk mengorbankan kesabaran dan kesetiaan untuk satu orang yang masih baru, ngga jelas asal usulnya, apa kepribadian dan apa iktikadnya. Kenapa dia merasa bisa membeli perhatianmu dengan transferan uang─meskipun dia tahu kamu sudah punya pasangan─dan dia pun juga.
Ah, aku benci kenapa hal-hal ini mesti tersajikan di meja pertemuan kita. Hal-hal yang jawabannya sudah pasti, seperti soal matematika 1 + 1 = 2. Jangan berspekulasi berlebih atau mencari kemungkinan yang tidak perlu. Apalagi kalau menyangkut insanity. Bro, we're at our late twenties, masalah hubungan ini bukan sesuatu yang bisa dipakai main-main. Kenapa mau membagi energi, fokus dan waktu untuk hal remeh temeh seperti ini. Apakah kamu punya waktu 72 jam dalam sehari sedangkan aku 24 jam saja? Sampai kamu punya banyak waktu luang untuk mencoba hal bodoh.
"Jangan laporin ke pacarku, please." you demand. Tapi aku balas; "Lu masih kayak gitu sama dia, gua laporin."
Bohong. Dalam pikiranku ngga pernah ada tendensi untuk terlibat masalah remeh macam ini. Buat apa provokasi dilema hubungan percintaan orang lain kalau waktu luang yang aku punya bisa kugunakan untuk tidur atau lanjut nonton Netflix? Aku mengancam begitu karena aku tahu kamu terlalu lemah dan ngga bisa tegas sama diri sendiri, jadi mudah banget dimanipulasi─bahkan oleh temanmu sendiri. Bodoh.
Higher Value and Standard
Jiwaku tetap sama seperti aku yang berusia enam belas tahun. Mengagumi siapa pun tanpa berpatokan pada gender. Terlebih saat ini dunia seolah diisi oleh genderless─banyak orang yang sudah surpassed rule tentang gender ini. Meskipun demikian, aku bukan orang rebel yang akan menabrak semua aturan. Karena harus kuakui, kalau pinjam istilah dari Shouei Barou dari Blue Lock; akulah aturan itu─aku merasa cukup dengan batasan dan aturan yang kubuat sendiri.
Presensi seseorang pernah membuat aku amazed, di hari pertamanya bertemu denganku. Entah berawal dari mana, intinya aku seperti bisa mendapatkan sinyal bahwa orang semacam dialah yang akan membangunkan alarm. Lalu kubiarkan hari berlanjut sambil memperhatikan situasi. Meskipun aku terlihat serius soal dia, sampai menuliskan satu entri lain khusus untuk kehadiran dan perilakunya yang asing dan demanding, aku tetap tidak menaruh ekspektasi apapun. Aku tidak mengaharapkan apapun. Just go with flow.
Lucunya, kalau ini adalah novel romansa yang dimulai dari tokoh utama yang menaruh kekaguman secara diam, maka ini bakal jadi novel roamansa dengan alur yang singkat transisinya. Karena tidak perlu menunggu hitungan minggu, semua curiosity-ku bersambut hangat─teramat hangat malah. Sampai aku kelabakan sendiri. Huh? What the fucking fuck is this?
Gampang sekali didapatkan! Khasnya seorang ISFJ yang terlalu sungkan untuk menolak segala sesuatu di dunia. Bahkan hint kecil yang sama sekali tidak kentara sekali pun? Luar biasa menyusahkan diri sendiri!
Semua kisah receh itu berjalan apa adanya sesuai arus. Kalau memang diibaratkan dengan arus, arus yang hadir di antara kita adalah arus yang tenang dan cuma menghanyutkan daun-daun kecil. Santai dan indah. Bisa dilanjutkan menjadi sesuatu yang lebih ekstrim, lebih besar, lebih mendebarkan, kalau saja aku punya cukup energi dan keberanian untuk melakukannya.
Tapi belum sampai aku mencicipi adrenalin itu, aku keburu turn off. HAHAHA.
Ada satu dan dua value dan standar yang ditembus olehnya, yang membuatku berpikir seketika; "Dia tidak berhak untuk dapat atensiku."
Ya, sejak menjadi seorang perasa dan penuh emotional attachment dulu, aku sudah punya value atau standar yang memang kurengkuh untuk diri sendiri. Sesuatu yang mungkin tidak bisa kudapatkan dari orang lain, sehingga perlu kulakukan untuk diri sendiri. Tapi saat ini, ketika duniaku sudah dipisahkan dari hal-hal emosional, aku tanpa sengaja mengubahnya menjadi lebih terbatas, konkrit dan tajam. Persis seperti pisau dapur yang dulunya untuk mengupas buah dan memotong sayur, sekarang diasah sebegitu tajam untuk berburu hewan buas di hutan─tentunya dengan sentuhan kenekatan.
Jika boleh aku sebut sedikit, apa yang seketika membuat dia tidak seindah dulu dan lil bit boring adalah karena dia tidak punya keteguhan pribadi untuk mengatur kemampuan dan keinginannya sendiri. Dia menyerahkan 'nasib' dan 'masa depannya' untuk seseorang yang jauh dari radar manusia yang bisa aku pertimbangkan eksistensinya. Sekilas kulihat presensinya, dia sangat tidak punya kapabiltas untuk masuk ke dalam radarku.
Mungkin agak berlebihan ketika aku menyebut ini. Tapi aku bukan Si S yang hanya membaca bukti konkrit, memahami realita dan menerima apa adanya. Aku adalah Si N yang menghubungkan pola, melihat sesuatu yang bahkan belum pernah diceritakan, jadi tentu aku tahu dan berani mengambil konklusi ini. Begini, akan kujelaskan.
Dia, Si Pemilik atensiku di minggu pertama, adalah orang yang openly menerima radarku yang tipis dan tidak terlihat. Berangkat dari darah ISFJ-nya, aku tahu dia sulit menolak banyak hal dalam dunia. Dia akan menyerahkan dunianya pada orang lain hanya untuk terlihat dia bisa diandalkan. Itu bahkan terbukti dari daily habit yang bisa aku lihat lebih jelas. Apalagi kalau dikaitkan dengan manifestasi besar seperti keputusan hidup.
Dia sama sekali tidak punya pendirian dan hanya mengikuti arus. Sangat melanggar value dan standarku.
Itu salah satu contoh dari banyak contoh. Aku memberlakukan value dan standarku sama rata. Lebih tinggi. Lebih menyakitkan.
Emotional Detachment
Kata kunci yang kupegang saat ini adalah: ignorant, detachment. Dengan dua kata kunci ini, entah kenapa aku tidak butuh obat-obatan sialan itu lagi. Aku tidak perlu susah payah menerima emosi berlebih dari atasan yang rese atau lingkungan kerja yang tidak produktif. Aku juga sudah tidak menemukan drama dalam hubungan sosial, seandainya ada pun itu bukan tentang aku.
Now I'm genuinely asking, what emotions made for?
Ekstrem movement-nya adalah aku menjadi salah satu dalang di balik temanku yang di-cut off. I really do my part. Bagaimana ya, dia datang dengan eksplorasi unik di kepalanya, aku berharap dia bisa menjadi tandem yang oke untuk orang yang lebih pasif sepertiku. Aku juga sempat belajar beberapa cara defending and confronting dari dia, sesuatu yang langka aku bisa temukan dari manusia-manusia cari aman─yang bahkan membicarakan musik saja sekptis dan kaget setengah mati.
Presensinya kuat, really. Tapi ketika dia datang dengan driving my perspective toward something bad, really bad, aku mulai questioning; "Wait, siapa aku? Kenapa aku iya-iya doang sama pendapatnya?". Oke, aku akui here is suck like hell. The system failure ain't something that they've planned to take care about. Jadi, dari apapun sudut pandang dan pendapatnya, aku setuju. Tapi dia mulai berlebihan dan tidak sesuai porsi value-ku. Akhirnya aku menarik diri dan mengambil batas. Aku memperhatikan dari jarak yang cukup, mengumpulkan informasi dari dua sisi sebelum kemudian mempertimbangkan.
Both of them were fucked off.
Aku sudah punya plan untuk pergi dari sini. Dalam hitungan hari, aku akan melepaskan rutinitas yang terlalu nyaman tapi berasosiasi pada rasa bosan dan jenuh yang berkepanjangan. Jadi untuk memastikan plan lain berjalan dengan lancar, maka aku memberanikan diri bertemu orang ESTJ sialan itu. Aku menjabarkan fakta (bukan gosip karena aku sudah banyak punya bukti) dan menaruh satu statement bahwa aku sudah muak bekerjasama dengannya.
Namanya juga ESTJ. Mudah sekali dimanipulasi dengan sistem intuisinya yang lemah. Tidak lama dari pertemuan itu, anggap saja satu bulan setelahnya, ESTJ yang secara posisi berada di atas levelku, pada akhirnya 'menjalankan perintahku' secara tidak langsung dengan menyudahi tindakan dia yang melewati batas.
Apakah aku menyesal? Jika aku adalah Radiva yang dulu, bahkan sebelum memikirkan akan menjejalkan fakta di meja Si ESTJ itu, aku sudah keburu banyak pertimbangan─driven by emotions tentang bagaimana nasibnya. Namun saat ini, melalui hasil ini, aku merasa sangat lega dan puas. Di hari kepergiannya pun aku tidak merasa perlu beremeh temeh merasa sedih atau menyesal. Aku hanya menyampaikan salam perpisahaan secukupnya.
Karena dia sudah melampaui value dan standarku terlalu jauh. Plus, dia terlalu eksentrik dan menghabiskan energi/waktu yang tidak perlu.
Kasus lainnya adalah hal paling remeh yang mungkin pernah terjadi di antara hubunganku dengan seseorang ini. Orang yang presensinya memenuhi 80% atensiku akibat pemahaman dan kecenderungan yang mirip. Namun, semuanya berakhir ketika dia beberapa kali mengusik 'ruang tenang'-ku dengan beberapa caranya mempresentasikan diri sebagai seorang ekstrover.
Aku tidak perlu bersabar menjelaskan detail apa saja yang dia lakukan untuk melewati batas yang kumaklumi. Dia berkali-kali melanggar batas itu, batas tipis yang sepertinya tidak akan rusak jika hanya tersentuh oleh hal-hal sepele. Tapi menurutku akan tetap rusak meskipun jika hanya tergores sebaris.
Dia melewati itu berkali-kali, sampai aku muak dan mencoba detach dari presensinya. Aku sudah di fase tidak akan menyediakan lebih banyak emosi untuk hal-hal seperti ini.
