Thursday, March 13, 2025

Welcoming Myself 3.0

Mengawali tahun 2025, dengan sangat berat hati harus aku sampaikan, bahwa Radivapemilik blog ini sudah mati di akhir tahun 2024.

Iya, mati dengan persona yang memuakkan dan membosankan itu. 

Entri yang kutulis di bulan November adalah entri terakhir yang mungkin bisa aku asosiasikan sebagai entri yang ditulis oleh seorang perasa yang fokus pada intelegensi emosional. Dan di awal tahun inisampai pada aku menulis entri ini, kamu berhadapan dengan revolusi Radiva 3.0.

Aku menemukan perbedaan yang cukup signifikan dalam respons sosial yang selalu membebaniku secara personaldulu. Saat ini aku jarang mentoleransi sesuatu yang menurutku remeh, seperti seseorang yang melanggar batas valueku atau adanya suatu sistem yang monoton dan tidak visioner. 

Saat menulis ini, aku sedang duduk di kursi office yang lengang tanpa banyak keributan. Hanya ada suara mesin printer dari kejauhan. Lagu-lagu nostalgia zaman sekolah bergiliran mengisi headphone yang kupasang dari pagi tadi. Di sebelahku ada novel A Little Life yang hari ini sudah kubaca mencapai halaman 400. Dan mengapa semua situasi ini terjadi adalah sebuah result dari ketidakmampuan sistem di office untuk membuatku produktif.

Bayangkan saja, dua bulan terakhir Spotify Wrap bagian minutes listening milikku berhasil menyentuh angka 11 ribu lebih. Dalam artian, aku mendengarkan musik seharian selama kurang lebih enam jam. Artinya, kuhabiskan waktu kerjaku hanya duduk di depan laptop, mengerjakan sesuatuentah apasambil memutar Spotify. Hal yang mustahil bisa kulakukan kalau aku berada di rumahkarena aku akan memilih untuk menonton Netflix daripada cuma mendengarkan Spotify. Atau bahkan apabila aku punya tugas di luarseperti pada pekerjaanku di perusahaan sebelumnya.

Sistem di office ini membosankan. Seperti buku yang tidak punya klimaks dan lemah dalam pengenalan karakter. Aku bahkan akan segera menutupnya sebelum mencapai akhir bab pertama. Aku berkata demikian karena saat aku menulis entri ini, aku sudah berulang tahun ke satu tahun sembilan hari dari awal aku bergabung ke perusahaan ini. Jadi aku berani menyebut konklusi bahwa dalam durasi waktu tersebut, aku kebanyakan jenuh dan tidak menemukan kejelasan dalam pekerjaan. 

Sederhananya, kalau semua porsi pekerjaan aktif dan terkendali, hidupku di office ini pasti akan diinterupsi oleh tugas lapanganhowever I'm a marketer and a marketer should be both at internal and external activitiesatau minimal meeting rutinlah yang tidak memungkinkan aku mendengarkan Spotify. Masalahnya, hanya untuk membuat suatu project berjalan, kepala perusahaan ini tidak punya kapabilitas untuk deciding and navigating. Dia hanya memerintah tanpa tahu perspektif lain yang mungkin bisa lebih efektif. Khas-nya seorang kepribadian S dan J yang objektif pada data terlihat dan kaku.

Ngomongin soal kepribadian, ini tujuan awalku untuk menyempatkan diri menulis satu entri di tengah waktu luang di office. Aku mengalami banyak improvisasi dan bahkan extreme shifting akibat banyak peristiwa. Mungkin perubahan ini sudah terjadi lama, tapi aku baru merasakan dan menemukan konklusinya di beberapa bulan terakhirkhususnya di awal tahun 2025.

Baiklah, entri panjang khas Radiva akan dimulai sekarang.

Shifting of Social Responses

Ini adalah salah satu hal basic yang cukup memberikan efek domino yang signifikan dalam pola menjalani kehidupan. Masalahnya, label 'everyone psychologist' udah ngga tertempel lagi di aku. Seperti sudah jatuh, hilang entah ke mana. Teman-temanku tidak lagi meraihku untuk membagi kisahnya dan mencari simpati atau solusi. Aku tidak lagi tertarik mencari waktu luang untuk ngopi dan membahas pengalaman mereka. Seandainya aku pergi ke cafe untuk ngopi, kemungkinan besar akan kulakukan sendiri, untuk membaca buku. Atau paling tidak, jika memang harus membahas sesuatu bersama satu dua orang, apa yang kubahas adalah sesi fun tentang cerita yang ada di office, atau pengalaman netral tentang mereka. Bukan lagi drama percintaan, hubungan keluarga yang chaos, penentuan langkah hidup atau bahkan permasalahan rumah tangga.

Wah aku pun ngga nyangka cerita seberat dan too much draining energy semacam itu dulu bisa kulahap apa adanya dari orang lain.

Beberapa orang pernah datang ke ruang konsultasi Radiva dengan membawa ceritanya. Ada yang bersungut-sungut kesal, ada juga yang mengeluh bingung dan bimbang. Melihat respons mereka di awal, aku yang sekarang sudah keburu malas. It ain't that hard to find the answer, bro. Kenapa sampai dibawa ke meja kita? Di tengah pertemuan yang harusnya untuk menikmati kopi dan snacking saja?

Jika mereka membawanya ke ruang konsultasi Radiva yang dulu, barangkali mereka akan disambut dengan secangkir teh dan satu bantal sofa yang hangat. Tapi ini bukan dulu. Ini adalah sekarangRadiva dengan ruangan baru yang jauh lebih dingin dan sedikit ada sentuhan gelap.

Case 1 : atasan di kantor mendekatinya, demand perhatiannya dan mulai menunjukkan ketertarikan dengan memberi dia barang atau uang. 

Jawaban : just ignore him, don't even let any chance opens to make your relationship's getting worse

Memangnya ada jawaban lain? Mau dijelaskan A sampai Z pun dengan ratusan alasan dan pertimbangan, menurutku ya sudah, dari awal jangan beri kesempatan apapun. Orang jatuh cinta itu bodoh dan gila, mudah dimanipulasi. Jadi kalau kamu tidak tertarik, harusnya jangan coba-coba ambil chance untuk membiarkan dia dimanipulasi. The worst case is, pasien ini menerima uang dan barang dari atasannya. Satu kata, BODOH. Ibarat perjanjian antara manusia dan iblis, kalau kamu sudah menerima 'sesuatu' dari dia, artinya kamu sudah mengikat janji untuk available pada emosi dan perasaan yang dia curahkan ke kamu. 

Aku akan sangat mentolerir kalau alasan tidak bisa ignore komunikasi karena alasan pekerjaan. Tapi akan sangat bodoh kalau sudah sampai menerima sesuatu. Untuk case ini, aku sama sekali tidak mendukung pasienkuapalagi pelaku. Di sekian konsultasi (baca: pertemuan) kita, aku tidak pernah 'memaafkan' kebodohannya di awal. Mau seberapa kuat dia berusaha menjelaskan situasinya. Karena solusi dan jawaban yang kuberikan sejak awal menurutku sudah proven by same case before. Jadi opsinya cuma dua, lakukan solusi itu atau jangan datang dan mengeluh sama sekali.

Bayangkan jika pasien ini datang ke ruang konsultasi setahun atau dua tahun yang lalu. Mungkin Radiva akan meminjamkan pelukan atau menaruh 100% empati pada pasien. Kalau perlu 'ayo kita bakar rumahnya'. Emotion-driven sekali. Sama sekali ngga efektif. Akan lebih menghemat energi kalau dari awal sudah ignore.

Case 2 : salah satu co-worker dari luar pulau mulai mendekati dan menaruh perhatian (lagi?) meskipun dia sudah berpacaran selama lebih dari 10 tahun dengan kekasihnya

Jawaban : kalau bisa dua orang yang kasih perhatian, kenapa harus satu? BUKAN. Tentu saja jawaban seperti ini sama sekali ngga sulit. Kenapa sampai dibahas segala? 

Sepuluh tahun bukan waktu sebentar untuk mengorbankan kesabaran dan kesetiaan untuk satu orang yang masih baru, ngga jelas asal usulnya, apa kepribadian dan apa iktikadnya. Kenapa dia merasa bisa membeli perhatianmu dengan transferan uangmeskipun dia tahu kamu sudah punya pasangandan dia pun juga.

Ah, aku benci kenapa hal-hal ini mesti tersajikan di meja pertemuan kita. Hal-hal yang jawabannya sudah pasti, seperti soal matematika 1 + 1 = 2. Jangan berspekulasi berlebih atau mencari kemungkinan yang tidak perlu. Apalagi kalau menyangkut insanity. Bro, we're at our late twenties, masalah hubungan ini bukan sesuatu yang bisa dipakai main-main. Kenapa mau membagi energi, fokus dan waktu untuk hal remeh temeh seperti ini. Apakah kamu punya waktu 72 jam dalam sehari sedangkan aku 24 jam saja? Sampai kamu punya banyak waktu luang untuk mencoba hal bodoh.

"Jangan laporin ke pacarku, please." you demand. Tapi aku balas; "Lu masih kayak gitu sama dia, gua laporin."

Bohong. Dalam pikiranku ngga pernah ada tendensi untuk terlibat masalah remeh macam ini. Buat apa provokasi dilema hubungan percintaan orang lain kalau waktu luang yang aku punya bisa kugunakan untuk tidur atau lanjut nonton Netflix? Aku mengancam begitu karena aku tahu kamu terlalu lemah dan ngga bisa tegas sama diri sendiri, jadi mudah banget dimanipulasibahkan oleh temanmu sendiri. Bodoh.

Higher Value and Standard

Jiwaku tetap sama seperti aku yang berusia enam belas tahun. Mengagumi siapa pun tanpa berpatokan pada gender. Terlebih saat ini dunia seolah diisi oleh genderlessbanyak orang yang sudah surpassed rule tentang gender ini. Meskipun demikian, aku bukan orang rebel yang akan menabrak semua aturan. Karena harus kuakui, kalau pinjam istilah dari Shouei Barou dari Blue Lock; akulah aturan ituaku merasa cukup dengan batasan dan aturan yang kubuat sendiri.

Presensi seseorang pernah membuat aku amazed, di hari pertamanya bertemu denganku. Entah berawal dari mana, intinya aku seperti bisa mendapatkan sinyal bahwa orang semacam dialah yang akan membangunkan alarm. Lalu kubiarkan hari berlanjut sambil memperhatikan situasi. Meskipun aku terlihat serius soal dia, sampai menuliskan satu entri lain khusus untuk kehadiran dan perilakunya yang asing dan demanding, aku tetap tidak menaruh ekspektasi apapun. Aku tidak mengaharapkan apapun. Just go with flow.

Lucunya, kalau ini adalah novel romansa yang dimulai dari tokoh utama yang menaruh kekaguman secara diam, maka ini bakal jadi novel roamansa dengan alur yang singkat transisinya. Karena tidak perlu menunggu hitungan minggu, semua curiosity-ku bersambut hangatteramat hangat malah. Sampai aku kelabakan sendiri. Huh? What the fucking fuck is this? 

Gampang sekali didapatkan! Khasnya seorang ISFJ yang terlalu sungkan untuk menolak segala sesuatu di dunia. Bahkan hint kecil yang sama sekali tidak kentara sekali pun? Luar biasa menyusahkan diri sendiri!

Semua kisah receh itu berjalan apa adanya sesuai arus. Kalau memang diibaratkan dengan arus, arus yang hadir di antara kita adalah arus yang tenang dan cuma menghanyutkan daun-daun kecil. Santai dan indah. Bisa dilanjutkan menjadi sesuatu yang lebih ekstrim, lebih besar, lebih mendebarkan, kalau saja aku punya cukup energi dan keberanian untuk melakukannya. 

Tapi belum sampai aku mencicipi adrenalin itu, aku keburu turn off. HAHAHA.

Ada satu dan dua value dan standar yang ditembus olehnya, yang membuatku berpikir seketika; "Dia tidak berhak untuk dapat atensiku." 

Ya, sejak menjadi seorang perasa dan penuh emotional attachment dulu, aku sudah punya value atau standar yang memang kurengkuh untuk diri sendiri. Sesuatu yang mungkin tidak bisa kudapatkan dari orang lain, sehingga perlu kulakukan untuk diri sendiri. Tapi saat ini, ketika duniaku sudah dipisahkan dari hal-hal emosional, aku tanpa sengaja mengubahnya menjadi lebih terbatas, konkrit dan tajam. Persis seperti pisau dapur yang dulunya untuk mengupas buah dan memotong sayur, sekarang diasah sebegitu tajam untuk berburu hewan buas di hutantentunya dengan sentuhan kenekatan.

Jika boleh aku sebut sedikit, apa yang seketika membuat dia tidak seindah dulu dan lil bit boring adalah karena dia tidak punya keteguhan pribadi untuk mengatur kemampuan dan keinginannya sendiri. Dia menyerahkan 'nasib' dan 'masa depannya' untuk seseorang yang jauh dari radar manusia yang bisa aku pertimbangkan eksistensinya. Sekilas kulihat presensinya, dia sangat tidak punya kapabiltas untuk masuk ke dalam radarku. 

Mungkin agak berlebihan ketika aku menyebut ini. Tapi aku bukan Si S yang hanya membaca bukti konkrit, memahami realita dan menerima apa adanya. Aku adalah Si N yang menghubungkan pola, melihat sesuatu yang bahkan belum pernah diceritakan, jadi tentu aku tahu dan berani mengambil konklusi ini. Begini, akan kujelaskan.

Dia, Si Pemilik atensiku di minggu pertama, adalah orang yang openly menerima radarku yang tipis dan tidak terlihat. Berangkat dari darah ISFJ-nya, aku tahu dia sulit menolak banyak hal dalam dunia. Dia akan menyerahkan dunianya pada orang lain hanya untuk terlihat dia bisa diandalkan. Itu bahkan terbukti dari daily habit yang bisa aku lihat lebih jelas. Apalagi kalau dikaitkan dengan manifestasi besar seperti keputusan hidup.

Dia sama sekali tidak punya pendirian dan hanya mengikuti arus. Sangat melanggar value dan standarku.

Itu salah satu contoh dari banyak contoh. Aku memberlakukan value dan standarku sama rata. Lebih tinggi. Lebih menyakitkan.

Emotional Detachment

Kata kunci yang kupegang saat ini adalah: ignorant, detachment. Dengan dua kata kunci ini, entah kenapa aku tidak butuh obat-obatan sialan itu lagi. Aku tidak perlu susah payah menerima emosi berlebih dari atasan yang rese atau lingkungan kerja yang tidak produktif. Aku juga sudah tidak menemukan drama dalam hubungan sosial, seandainya ada pun itu bukan tentang aku.

Now I'm genuinely asking, what emotions made for?

Ekstrem movement-nya adalah aku menjadi salah satu dalang di balik temanku yang di-cut off. I really do my part. Bagaimana ya, dia datang dengan eksplorasi unik di kepalanya, aku berharap dia bisa menjadi tandem yang oke untuk orang yang lebih pasif sepertiku. Aku juga sempat belajar beberapa cara defending and confronting dari dia, sesuatu yang langka aku bisa temukan dari manusia-manusia cari amanyang bahkan membicarakan musik saja sekptis dan kaget setengah mati.

Presensinya kuat, really. Tapi ketika dia datang dengan driving my perspective toward something bad, really bad, aku mulai questioning; "Wait, siapa aku? Kenapa aku iya-iya doang sama pendapatnya?". Oke, aku akui here is suck like hell. The system failure ain't something that they've planned to take care about. Jadi, dari apapun sudut pandang dan pendapatnya, aku setuju. Tapi dia mulai berlebihan dan tidak sesuai porsi value-ku. Akhirnya aku menarik diri dan mengambil batas. Aku memperhatikan dari jarak yang cukup, mengumpulkan informasi dari dua sisi sebelum kemudian mempertimbangkan.

Both of them were fucked off. 

Aku sudah punya plan untuk pergi dari sini. Dalam hitungan hari, aku akan melepaskan rutinitas yang terlalu nyaman tapi berasosiasi pada rasa bosan dan jenuh yang berkepanjangan. Jadi untuk memastikan plan lain berjalan dengan lancar, maka aku memberanikan diri bertemu orang ESTJ sialan itu. Aku menjabarkan fakta (bukan gosip karena aku sudah banyak punya bukti) dan menaruh satu statement bahwa aku sudah muak bekerjasama dengannya.

Namanya juga ESTJ. Mudah sekali dimanipulasi dengan sistem intuisinya yang lemah. Tidak lama dari pertemuan itu, anggap saja satu bulan setelahnya, ESTJ yang secara posisi berada di atas levelku, pada akhirnya 'menjalankan perintahku' secara tidak langsung dengan menyudahi tindakan dia yang melewati batas.

Apakah aku menyesal? Jika aku adalah Radiva yang dulu, bahkan sebelum memikirkan akan menjejalkan fakta di meja Si ESTJ itu, aku sudah keburu banyak pertimbangandriven by emotions tentang bagaimana nasibnya. Namun saat ini, melalui hasil ini, aku merasa sangat lega dan puas. Di hari kepergiannya pun aku tidak merasa perlu beremeh temeh merasa sedih atau menyesal. Aku hanya menyampaikan salam perpisahaan secukupnya.

Karena dia sudah melampaui value dan standarku terlalu jauh. Plus, dia terlalu eksentrik dan menghabiskan energi/waktu yang tidak perlu.

Kasus lainnya adalah hal paling remeh yang mungkin pernah terjadi di antara hubunganku dengan seseorang ini. Orang yang presensinya memenuhi 80% atensiku akibat pemahaman dan kecenderungan yang mirip. Namun, semuanya berakhir ketika dia beberapa kali mengusik 'ruang tenang'-ku dengan beberapa caranya mempresentasikan diri sebagai seorang ekstrover.

Aku tidak perlu bersabar menjelaskan detail apa saja yang dia lakukan untuk melewati batas yang kumaklumi. Dia berkali-kali melanggar batas itu, batas tipis yang sepertinya tidak akan rusak jika hanya tersentuh oleh hal-hal sepele. Tapi menurutku akan tetap rusak meskipun jika hanya tergores sebaris. 

Dia melewati itu berkali-kali, sampai aku muak dan mencoba detach dari presensinya. Aku sudah di fase tidak akan menyediakan lebih banyak emosi untuk hal-hal seperti ini.




Share:

Saturday, November 30, 2024

Mari Kita Apresiasi Tahun 2024 dengan Cara Menjengkelkan

 Halo, ini aku — Radiva yang sebentar lagi bertambah usia. Memasuki bulan Desember mendadak menjadi menyeramkan untuk aku yang tahun ini tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Sudah kubahas di entri sebelumnya, 2024 tidak banyak yang berarti. Atau memang akunya saja yang menganggap semuanya jadi tidak berarti.

Tahun ini dengan cepat aku kehilangan dan mendapat teman. Aku cukup banyak menemui orang, namun tidak ada yang benar-benar bisa membuatku 'secure'. Aku berusaha melunak, mengalah, kembali menjadi seorang Mediator yang tidak suka berdebat dan menghindari pertikaian. Namun aku juga berubah cepat menjadi 180 derajat berbeda, mengonfrontasi, memarahi dan berdebat dengan orang yang mengusik kedamaian atau idealisme tertentu.

Siapa sangka? Aku bisa merasakan perasaan yang bergejolak untuk menyakiti orang lain — dan diri sendiri. Pikiran menyayat pergelangan tangan tidak muncul, jujur saja. Tapi apa yang berkelebat di kepala adalah perasaan ingin menampar orang, menendang badannya dan memaki di depan wajah mereka. Entah siapa. Dan juga hadir perasaan ingin merusak diri dengan menghantamkan kepalan tangan di kaca atau cermin, membanting barang dengan sekuat tenaga atau berteriak secara bebas untuk mengeluarkan semua jenis emosi.

Karena, aku tidak menangis.Tidak untuk emosi yang entah bentuknya apa.

Tapi demi bisa menenangkan sisi mengerikan yang ingin mengintip dari balik kepribadianku, aku coba akan menariknya untuk flashback kepada apa yang terjadi di tahun 2024 ini. Dan tentu, di setiap momen akan kutambahkan bentuk pelajaran apa yang bisa aku dapatkan.

1. Mengikuti Komunitas Buku

Sebagai seorang introver yang berelasi hanya dengan orang-orang hitungan jari, menjadi sebuah tantangan tersendiri untukku mengikuti sebuah komunitas buku. Aku terbilang member yang mendahului saat jumlah peserta yang hadir tidak lebih dari 10 orang. Aku bertemu orang-orang dengan pola pikir beragam yang luar biasa. Seketika rasa banggaku pada diri sendiri menyurut, seolah aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan mereka.

Kemudian entah apakah aku terlalu menonjol atau memang mereka gambling saja, aku terpilih menjadi salah satu panitia yang membantu keberlangsungan komunitas debutan itu. Sampai jumlah member-nya melampaui 25 orang. Apakah aku bangga? Tentu saja aku bangga. Bukan pada diriku sendiri, melainkan pada mereka yang bisa datang untuk memberikan kesan pesan tentang buku yang mereka baca dan tentang pengalaman pribadi mereka.

Sebagai seorang emotional master (referensi ini aku dapatkan dari sebuah video Youtube untuk melabeli INFP), aku tergugah pada cerita individu setiap member yang berusaha membuka diri. Aku senang dan mendapatkan energi untuk memahami perjuangan mereka. Seperti mendapat teman seperjuangan. Ada yang jauh lebih menderita daripada aku. Begitulah yang kurasakan. Sehingga aku menganggap komunitas ini menjadi seperti 'rumah kedua'.

Dibandingkan seseorang yang menganggap komunitas ini sebagai komunitas membaca buku biasa yang tidak punya aturan — hanya karena dia datang untuk menunjukkan berapa banyak judul buku yang dia tuntaskan — aku dan beberapa orang lainnya menganggap semua member adalah keluarga yang mesti dijaga dan dirayakan. Namun, orang ini merusak dengan egonya yang sama sekali tidak menghargai perasaan orang lain. Dia sebut orang-orang sepertiku sebagai orang sensitif yang tantruman hanya karena aku merasa gagal untuk merayakan kepergian salah satu member yang bahkan lebih dulu kukenal.

Seketika aku menarik diri dari komunitas ini. Hanya karena orang ini berada di sana tanpa merasa perlu meminta maaf, sedangkan dia memerintahkan aku untuk meminta maaf secara sopan layaknya pelaku pembunuhan yang akan diliput di berita televisi. Egonya besar sekali, cara bicaranya kasar dan konfrontasinya membuat panitia lain seketika berubah dari bilang A jadi bilang B. Pengaruh yang luar biasa. Sehingga aku manifestasikan sebagai salah satu bentuk pertahanan diri yang bisa ditiru — meskipun salah. Hahahaha. 

Persetan dengan orang ini. Dengan tanpa usaha berlebih aku memilih menyimpan energiku untuk memblokir semua akses dari dia, termasuk akses untuk mengikuti kembali komunitas buku ini. Toh, tanpa mereka aku juga masih bisa baca buku sebebasnya, masih bisa mendengar cerita dari para 'pasien'-ku sambil minum kopi, masih bisa berkumpul dengan orang-orang yang jauh lebih luas dan beragam hobi dan latar belakang ketertarikannya. Bukan cuma kutu buku.

Meskipun harus melepaskan, setidaknya aku punya banyak referensi buku yang menarik dan intensiku untuk membaca buku di tahun ini mendadak berkembang pesat. Tahun lalu aku hanya menyelesaikan 4 buku. Tahun ini saat entri ini ditulis, aku sudah melahap 13 buku. Sebuah apresiasi yang hebat!

2. Pengalaman Kerja Baru

Sekali lagi aku bertanya, apakah aku terlalu menonjol atau mereka hanya gambling untuk menerimaku bergabung di perusahaan mereka? Sebuah perusahaan berkembang yang produktif — yang siapa pun jika menyebutnya akan membawa rasa bangga tersendiri. Tapi ternyata kenyataan di baliknya berbeda sepenuhnya.

Sub-judul kutulis 'pengalaman kerja baru' karena sungguhan baru. Dalam sekitar kurun waktu 8 bulan aku menemukan banyak pengalaman yang bisa menamparku untuk lebih berhati-hati dalam menandatangani dokumen perusahaan yang melibatkan pihak pekerja dan perusahaan. 

Aku boleh saja baru punya satu pengalaman kerja, nyaris 4 tahun lamanya. Di bidang yang sama, yaitu 'marketing'. Secara CV seharusnya sudah menjanjikan. Terlebih di perusahaan sebelumnya aku benar-benar difasilitasi belajar marketing selama bertahun-tahun semenjak wabah Covid melanda. Aku selalu bilang ketika alasan kenapa aku bertahan di perusahaan itu meskipun dengan gaji yang tidak seberapa; "Cuma di sini kita belajar, kita dibayar."

Wow, terdengar seperti maniak belajar. Tapi jujur saja, skill dan pengalamanku bertambah berkali-kali lipat. Aku yang introver, kadang bisa switch mode to extrovert ketika dibutuhkan. Aku yang malu mengawali pembicaraan atau takut pergi kemana pun sendirian mendadak jadi fasih menghadapi semuanya akibat tuntutan pekerjaan.

Jika kubandingkan dengan pekerjaan sekarang, aku juga punya skill dan pengalaman baru yang bahkan bertambah sebelum aku genap bekerja selama satu tahun di sini. Skill dan pengalaman itu adalah skill konfrontasi dan pengalaman mendeteksi perusahaan yang punya system failure. Termasuk politik di dalamnya dengan permainan ala koruptor yang banyak menyembunyikan rahasia. Wow, tentu ini menjadi pengalaman langsung yang berharga. Mengetahui bahwa karakter seseorang bisa 'dibentuk' oleh kekuasaan dan uang.

Demi Tuhan, drama Korea yang aku tonton ternyata terjadi sungguhan di depan mataku. Bodoh jika mereka menganggap aku menerima banyak informasi yang tidak seharusnya keluar. Aku seorang intuitive — yang bahkan jika dicek berkali-kali MBTI-nya akan terus memasang huruf N ketimbang S. Aku bisa 'membaca' orang dan situasi dari intuisi, jadi aku hanya perlu penegasan dengan deklarasi dari yang lain. Kemudian aku akan berkata dalam hati; "Tuh, kan benar!"

Namanya perintis, terdengar luar biasa dalam kurun waktu dua tahun sudah ada sekian outlet dan ratusan karyawan. Ketenaran dan uang barangkali bisa dikantongi dengan mudah. Tapi aku lupa pada fakta barangkali perkembangan pesat yang terjadi bisa saja tidak seimbang dengan pemahaman pemimpinnya kepada managemen tim dan sistem kerja yang sempurna.

Aku yang terbiasa di-nina bobo di perusahaan sebelumnya dengan kelas gratis, buku, seminar untuk menjadi leader dan marketer yang baik mendadak clueless pada job desc pekerjaan sendiri. Belum tahu apa-apa soal sistem internal perusahaan sudah langsung ditodong dengan angka produksi yang mesti keluar besok. WTF? Aku bahkan tidak pernah tahu SOP, KPI dan visi misi perusahaan. Tiba-tiba banget diagungkan materi PPT-nya hanya untuk meningkatkan rasa percaya diri pada posisi tertentu, kemudian dicaci maki dan diteriaki materi PPT yang sama untuk demand semua dapat bekerja sesuai keinginannya. 

Katanya uang bukan masalah. Gaji bisa dibicarakan. Nyatanya, untuk apa gaji bertambah hanya demi bisa menjalankan kapal tanpa navigasi? Membungkam mulut dengan memberi privilige gaji dua digit dan double job? Tidak masalah jika datang terlambat dan tidak ada uang overtime — meski overtime seringkali dikaitkan dengan loyalitas. Kontradiktif sekali.

Apa yang paling lucu adalah kenapa aku bisa-bisanya ditipu dengan sign contract yang jelas-jelas merugikan sebelah pihak. Dokumen kontrak yang 'katanya' adalah peraturan perusahaan(?) dan sama sekali tidak ada copy-an slip gaji. Banyak pelanggaran yang terjadi, tapi belum satu pun yang bertindak untuk melaporkan. Mari bertahan untuk menyaksikan keruntuhan.

Ini pelajaran keduaku di tahun 2024. Intinya, bukan cuma cowo saja yang bisa dilabeli red flag. Perusahaan pun sama. Ngga melulu mereka bagus di branding, internal SDM-nya juga sama bagusnya. No way. Literally big NO. 

3. Kita adalah Manifestasi Masa Lalu

Aku bangga menggunakan kapabilitas intuisiku untuk mendeteksi orang dan lingkungan sekitar. Terlebih ketika aku bisa meraih mereka dan membuktikan intuisiku benar. Di tahun 2024, aku banyak sekali menjadi destinasi bagi beberapa orang yang membutuhkan pertolongan. Minimal validasi, lebih lagi kalau bisa solusi. Mulai dari yang perkara pacarnya, perkara pendidikannya, perkara orang tuanya, perkara saudaranya, perkara finansialnya, sampai perkara rumah tangganya. 

Aku sempat mikir; "Buset, ini kalo aku pasang tarif sepertinya lumayan."

Aku juga kurang tahu dapat kekuatan dari mana menjadi salah satu tempat ternyaman mereka untuk menceritakan hal-hal sekrusial itu. Dibandingkan dibuat sibuk oleh pekerjaan— yang mana mungkin sibuk, untuk realisasiin satu project aja alurnya lama banget— aku lebih sibuk keluar dan menjadi 'psikolog' amatir mereka.

Mereka akan selalu memulainya dengan "Kamu sibuk ngga?" untuk yang bisa bertemu tatap muka atau "Aku boleh telepon?" untuk yang jaraknya jauh. Aku selalu mengedepankan mereka, bahkan mengorbankan kebutuhan pekerjaan sendiri demi bisa memenuhi ruang kebutuhan mereka. Jika hal yang kulakukan sama seperti seorang hero menolong civilian, barangkali aku sudah masuk ke daftar Avengers, hahahahaha.

Karena penasaran, aku mencoba mengambil beberapa review dari mereka soal kenapa mereka mempercayaiku untuk mendengar cerita seberat dan serumit itu? Mereka bilang; "Karena aku tau dari awal kamu ngga judgmental." Ada pula yang bilang; "Kamu pendengar yang baik, aku ngerasa aman."

Apakah aku terbang? JELAS. Daripada orang-orang yang cuma bisa konfrontasi tanpa bisa memahami emosi orang— seperti menyebutnya oversensitive dan enggan meminta maaf— aku bangga menjadi orang yang ada dan dipercaya kapabilitasnya sebagai individu yang memikul bersama beban mereka. Karena why not? 

Orang sialan itu sempat mempertanyakan aku kenapa aku 'memvillainized' diri sendiri? Apakah untuk terlihat lebih dominan dan overpower? Aku berpikir dalam dan kemudian mengiyakan, tentu saja aku perlu terlihat dominan untuk bisa dilihat potensi dan kapabilitasnya since I couldn't offer both of visual and wealth? Dan ternyata, aku justru menjadi lebih kuat dan solid ketika ada orang yang membutuhkanku. Bukan karena ingin dominasi, lebih ke rasa bahagia ketika kamu berhasil membantu orang lain.

Tahu kan bagaimana perasaan itu? Seperti lega dan bangga.

Tidak cuma dari pihak-pihak baik saja. Aku juga menilai orang-orang 'jahat' (di hidupku) melalui intuisi dan ceritanya secara langsung. Aku memahami benar bahwa setiap perilaku mereka adalah manifestasi masa lalu yang barangkali 'menyangkut' dan belum selesai. Sehingga menciptakan karakter yang demikian. Jadi semisal perempuan gila itu memelototiku dengan matanya, berteriak dengan suara keras yang bising, aku tahu itu adalah manifestasi bahwa di rumah, dia adalah orang yang diperlakukan sama. 

Dari korban, menjadi pelaku. Selalu begitu, bukan?

Hal ini juga terjadi padaku yang ternyata punya konklusi setelah berkonsultasi dengan psikolog. Manifestasi sikap dan reaksiku yang cukup private (atau sederhananya dicap cuek), serta bagaimana aku berusaha ada di setiap kesulitan temanku untuk mendengarkan cerita mereka dan membantu mencarikan solusi. Nyatanya, itu adalah manifestasi karena selama ini aku jarang dan nyaris tidak pernah didengarkan. Komunikasiku minim sekali sejak kecil, sehingga itu juga menyebabkan aku kesulitan berkomunikasi dalam sistem profesional.

Jadi, jika pemimpin perusahaanku (aku malas menyebutnya bos atau direktur— karena aku pun tidak tahu dia memosisikan diri jadi apa) bersikap grasak grusuk tanpa planning, suka men-delay dan sekaligus menuntut semua terjadi sesuai deadline, serta punya penyakit trust issues yang parah— sampai membatasi akses pada data, sampai membeli jabatan orang hanya untuk menguntit— tentu saja aku paham. Paham betul bahwa itu semua manifestasi bahwa dia tidak pernah dipercaya di masa lalu. Atau boleh kukatakan secara kasar 'kamu tidak punya apa-apa untuk ditawarkan dan dibanggakan, sehingga orang-orang tidak mempercayaimu'.

Tidak apa-apa, aku paham.

4. Bakat yang Masih Belum Hilang






5. Aku dan Bapak

Di poin ketiga aku bilang kan bahwa relasi dan komunikasiku dengan keluarga minim sekali. Aku jarang didengarkan— atau memang terbiasa memendam akibat suatu hal. Sehingga aku sama sekali tidak punya hubungan romantis dan intim dengan keluarga, terutama kepada orang tuaku sendiri.

September menjadi titik balik untukku, ketika bapak salah satu teman terbaikku menghembuskan napas terakhirnya di hari Jumat akibat sakit. Beberapa hari setelah temanku ini ulang tahun. Beberapa minggu dan bulan sebelumnya aku melihat stories dia yang sedang merawat bapaknya, meminta doa kepada rekan terdekat. Ketika satu story-nya muncul dan memperlihatkan kepergian bapaknya, aku ikutan kalap.

Masalahnya, aku tidak berada di sana, tidak bisa menenangkannya. Aku berusaha meraihnya di DM, dia sebut butuh waktu paling tidak satu minggu. Dan ketika aku punya kesempatan untuk menemuinya secara langsung, aku bersemangat untuk menyewa jasa ojek online demi bisa menemuinya di sebuah cafe.

Dia bercerita detail tentang kronologi perawatan bapaknya. Betapa sayangnya dia pada bapaknya. Sesabar itu dia merawat dan mengabaikan kewajibannya sebagai seorang dewasa yang perlu bekerja. Menukarnya dengan barang termahal— yaitu waktu bersama bapak. Aku senang sekali mendengar banyak orang yang peduli terhadap bapaknya. Bahkan setelah bapaknya tiada, orang-orang tetap menghormati beliau.

Aku sempat mengatakan bahwa aku ingin kematian yang tenang di hari Jumat seperti bapaknya. Untuk siapapun. Agar tidak lagi menderita atau merasakan sesuatu yang mengenaskan. Kedamaian itu terkadang membuatku berharap. Dan tentu, kesabaran dan keteguhan temanku membuatku iri, sebab aku bukan anak yang demikian.

Dan benar saja.

Dua minggu yang lalu saat sebelum entri ini ditulis, ibuku menggedor pintu kamar selepas subuh. Bilang bahwa bapakku kecelakaan. Kebiasaan bapakku yang kemana-mana tidak pernah bawa ponsel membuat aku jengkel setengah mati. Telepon itu datang dari orang yang kenal bapak dan ibuku. Dengan muka pucat dan sama-sama takut, aku berangkat bersama ibu menyusul bapak. Bayangkan, hanya melihat motorku rusak parah, aku tidak tahu separah apa kecelakaan itu terjadi. Pecahan kaca di jalan, puing-puing mobil berserakan. Aku menutup mulut. Bingung mesti bereaksi apa.

Aku mengambil ponsel, mengabadikan TKP. Bukan sebagai orang pansos yang minta dikasihani, bukan pula untuk bukti dan menemukan pelaku. Tapi hanya sebagai bukti aku tidak mungkin bisa berangkat kerja dengan kondisi bapakku yang seperti ini. Hanya untuk membuktikan ke atasan bahwa kejadian ini nyata adanya. Sialan. Pekerjaanku bahkan tidak berhak mendapatkan kehadiran seorang karyawan yang sedang tertimpa musibah. Tapi aku masih saja merepotkan diri untuk meminta izin dan meminta maaf.

Ketika suara ambulan dari kejauhan terdengar, aku semakin panik lagi. Ini seperti di drama Korea atau film-film. Aku belum pernah merasakan ini seumur hidup. Aku tidak pernah melihat orang yang kukenal secara langsung dibopong masuk ke ambulan. Aku duduk di sebelahnya, memegang tangan bapakku sambil menyebut; "Sabar, Pak."

Suara nguing nguing ambulan memecah pagi hari. Bahkan matahari belum muncul. Aku kelabakan sendiri memfoto sana sini. Sumpah, ini pengalaman yang mesti kuabadikan dalam momen tahun 2024, kali pertama dalam seluruh hidupku. Dan tentu, aku berhasil mengabadikannya di entri blog ini. Pengalaman yang sama sekali tidak mau kurasakan kembali. Meski ujung-ujungnya tetap saja, foto yang kuambil di ambulan juga sebagai salah satu bukti aku izin tidak bekerja.

Aku melihat bapakku dibawa oleh perawat di atas kasur beroda— yang entah apa namanya— menuju ke IGD. Dipasang selang infus, selang oksigen dan pendeteksi denyut nadi. Astaga, Demi Tuhan, kalau bisa ditukar, mending aku saja yang begitu, aku saja yang terbaring di sana. Jangan bapakku. Setidaknya bapak tidak kesakitan di usianya yang sudah sepuh dan aku punya alasan kuat untuk absen dari kantor sialan itu— ngga papa meskipun sakit jadi taruhannya.

Aku langsung teringat dan membandingkan kapabilitasku dengan temanku itu. Bagaimana dia bisa menemani bapaknya di atas ranjang rumah sakit. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menertawakan bapakku yang mengeluh kesakitan. Masalahnya, aku berani taruhan kalau aku yang merasakan di posisi bapak, ego dan rasa maluku jauh lebih tinggi daripada bapak. Bapak mah bodo amat dilihat perawat dan dokter mengeluh kesakitan. Kalau aku di posisi bapak, aku mungkin sudah mati-matian menahan rasa sakitnya agar tidak disebut lebay. Hahahaha. 

Hal terberatnya adalah, ketika ibu datang menyusul dan langsung mengantar bapak cek rontgen, HP ibuku berkali-kali berdering. Deretan nama yang kukenal tapi lupa bergantian menelepon, bertanya kondisi bapak. Aku heran, seberapa banyak relasi bapak dan ibu sampai berita ini cepat menyebar. Bahkan itu baru dua jam setelah kejadian. Aku sungguh capek harus menganggkat satu persatu telepon dan mejelaskan berulang kali kronologi kecelakaan bapakku.

Tuhan masih sayang bapak. Bapak ngga papa dan boleh pulang. Tapi rasa takut dan amarahku masih terpendam dalam. Seperti aku ingin menuntut dan mengujarkan umpatan atau pukulan terhadap pelaku. Entah apakah jenis seperti ini adalah bentuk rasa sayangku kepada bapak? Ataukah menertawakannya yang mengeluh kesakitan juga jadi salah satunya?

Hari-hari dimana berita bapak kecelakaan menyebar cepat. Selama lebih dari seminggu, setiap hari, orang-orang datang bergantian menyambangi bapak di rumah. Orang yang tidak pernah tahu rumahku pun datang. Orang yang rumahnya berjarak 40 menit dari rumahku pun datang. Orang yang sibuk bekerja pun menyempatkan datang. Bahkan ada yang datang dua kali. Semuanya membawa bingkisan, buah, roti, susu, vitamin dan masih banyak lagi.

Apa yang hebat, kakak bapakku, keluarganya dari kampung menempuh perjalan ratusan kilometer untuk bisa datang 'menjenguk' adiknya. Dan yang paling lucu adalah, ibu-ibu pengajian kenalan ibuku yang biasanya berkumpul untuk arisan atau pengajian pada hari itu justru berkumpul hanya untuk menjenguk bapakku. Aku (juga ibu dan keluarga bapakku dari kampung) kaget melihat belasan ibu-ibu muncul di rumah, bukan untuk arisan atau pengajian. Antara mau ketawa atau nangis. Introverku meraung-raung nyaris setiap hari. Wow. Hanya bisa kusebut wow. 

Aku bingung mentranslate-kan perasaanku. Aku senang sekali ada banyak orang yang peduli pada bapak. Bapakku orang baik. Buktinya bapak menjaga keluargaku utuh. Bapakku masih diberikan kesehatan. Bapakku masih dikenal orang-orang. Kalau tidak, mana mungkin ada yang mengabari ibuku bapakku kecelakaan dan sampai repot-repot mau ikut olah TKP dan mencari kontak pelaku kecelakaan?

Namun di lain sisi aku teringat, bagaimana nanti jika suatu hari bapak mendahuluiku? Apakah aku perlu jeda lebih lama seperti temanku untuk bisa menemani dan menjelaskan kronologinya berulang kali? Melelahkan sepertinya. Maka, aku memutuskan tidak mau mengalami hal itu. Sama sekali.

Jika bisa dibalik, dari kisah terakhir ini, pelajaran yang kuambil bukan 'bagaimana aku harus memperlakukan bapak ibuku secara baik selama mereka masih ada'. Tapi justru rasa penasaran, jika nanti aku pergi terlebih dahulu, siapa yang akan datang? Apakah teman dan relasiku akan sebanyak itu bergantian datang? Kurasa yang datang justru lebih banyak dari relasi ibu dan bapakku. Aku tidak punya siapa-siapa dan seandainya punya pun aku tidak mau repot berbasa-basi demi menjaga relasi. Kind of weird.

Oh, ya satu lagi. Salah satu tamu yang datang sempat datang menjenguk bapak berujar begini; "Kalau orangnya rajin ke masjid, pasti banyak yang kenal dan peduli."

Hatiku langsung terketuk. Bagaimana dengan aku jika nanti aku mati?

Share:

Monday, October 28, 2024

Entri Ini Sebaiknya Ngga Dibaca

 Dua bulan tersisa sampai tahun 2024 mengakhiri masa abdinya. Sebuah tahun yang tidak banyak punya arti buatku kecuali 'dapat pekerjaan'. Sudah. Itu saja yang sepertinya spesial. Aku mengikuti interview pertama, kemudian langsung lolos. Berada di sebuah perusahaan yang terbilang cukup baru dan penuh adaptasi pada banyak tren. Terjun bebas pada bidang kreatif yang tidak punya batasan. Sehingga semuanya terasa sulit dibatasi. Rasanya selalu kurang ini, kurang itu. Blablabla.

Tahun 2024 juga menjadi tahun pertama kalinya aku menangis di depan umum. Anxiety sialan itu kambuh tidak tahu tempat. Padahal cuma rasa khawatir doang, tapi bikin mual setiap pagi, pusing ngga karuan. Sulit tidur dan ngga nafsu makan. Aku belum benar-benar menimbang lagi berat badanku. Mungkin sudah berkurang dari angka terakhir yang kulihat di awal tahun. 

Aku lanjut minum fluoxtine, berdampingan langsung dengan clobazam. Dosisnya ngga turun-turun dari tahun lalu. Tapi aku ngga bohong soal mereka sungguhan bekerja keras lebih keras daripada karyawan satu office yang kutemui. Mereka mana mungkin bisa membuatku nyaman dan aman. Fluoxtine dan clobazam does their part so damn well. Lucunya, kombinasi kedua obat ini ngga ada efek apapun kalau coba aku satukan dengan kafein.

Dibandingkan tahun sebelumnya yang penuh naik turun, aku cenderung mati rasa di tahun ini. Padahal kalau aku bisa urutkan, ada banyak kebaikan yang bahkan belum pernah aku terima dari tahun sebelumnya. Tapi aku memang kurang bersyukur, jadinya terasa flat. Rumah baru. Pekerjaan baru. Teman baru. Kesempatan baru. Kalau aku mau, bisa saja aku menulis sepuluh ribu kalimat pada entri ini soal kebaikan-kebaikan itu. Nyatanya? Aku terlalu malas.

Mungkin aku akan mengungkapkan apa saja yang terjadi di 2024 dan membuatku menjadi lebih memahami bagaimana dunia bekerja. Sepertinya itu bukan pembahasan yang membosankan.

Baiklah. Akan aku mulai dari pekerjaan.

Seperti yang kusebutkan di awal, aku terlalu hoki bisa menerima invitation interview pertama dan langsung diterima tanpa perlu interview ke tempat lain lagi (sebenarnya ada 2 lainnya, tapi aku tidak tertarik juga). Ibaratnya langsung klop. Aku dengan ekspektasi pengembangan karir, mereka dengan ekspektasi pengalaman tiga tahunku di bidang kreatif marketing.

Tapi lucunya, kami berdua sama-sama bertolak belakang. Seperti Tom and Jerry yang berkelahi jika bertemu, namun akan saling merindukan jika berjauhan. Aku lupa pada fakta perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan baru berusia dua tahun, settlement bukan bagian dari mereka. Aku terlibat banyak oleh trial and error dengan segudang ketidakpastian. Aku tidak bisa membedakan mana identitas brand atau identitas pemilik. Sebagai karyawan medioker, aku masih bersusah payah berenang dalam lautan ketidakpastian mau dibawa kemana sebenarnya perusahaan ini. 

Mereka pun sama kalapnya. Tiga tahun masa abdiku di bidang itu memang barangkali menandakan aku punya skill. Tapi mereka terlalu terburu-buru. Mereka tidak punya banyak waktu dan pertimbangan untuk menelaah sisi diriku yang lain. Aku adalah sosok yang pernah terluka tanpa sengaja, tengah berusaha melawan trauma yang tidak diketahui asal muasalnya. Ketika mereka berekspektasi aku bisa menahan pressure yang katanya serba 'fast pace', mereka melihat sosok sakitku. Sosok lemah dan kambuhan yang seperti baiknya tidur saja di ranjang Rumah Sakit Jiwa.

Pelajaran yang kudapat dari sini adalah sesederhana; I'm worth to millions. Aku tidak bisa hanya iya-iya saja, hanya oke, noted, baik, siap. Aku perlu membeberkan apa yang ada di kepala, soal apapun yang secara perspektifku barangkali akan menjadi cermin atau pertimbangan mereka. Belajar dari temanku Si Debater, aku seorang Mediator mulai memahami pola-pola ini. System failure is really exist, nearer than our breath. Caranya adalah, lawan, negosiasi atau tinggalkan. 

Kedua, hal ini jauh lebih lucu. Trauma masing-masing orang itu sungguhan lucu. Seperti komedi yang bisa ditampilkan per episode dan ditunggu setiap minggunya. Kebetulan aku terlibat dalam komedi ini, yang mana aku seorang paling mengabaikan dan menghindari pertikaian ditarik kerah bajunya oleh seseorang yang butuh komunikasi, kejelasan dan familiar dengan konfrontasi. Jika pertikaian fisik dibolehkan, dengan tubuh yang jauh lebih besar aku bisa saja menendang badan munglinya dengan keras. Menampar wajah yang bertengger dua mata melotot itu dengan tanganku sampai memerah.

Beruntung sebelumnya aku sempat mengobrol dan tahu sedikit banyak tentang latar belakang karakter gila itu terbentuk. Jadi, aku memaklumi dengan sangat bahwa konfrontasi dan 'marah-marah' memang sarapan dan makan malam hariannya. Aku sempat menyarankannya bertemu psikolog atau psikiater, tapi dia menolak karena bersikukuh pada pendirian 'dia masih normal'. Aku pun agak bingung, normal yang dimaksud apakah saat dia berada di tengah keluarganya yang serba marah-marah itu?

Dan aku pun sama saja. Minim komunikasi dari kecil ternyata tidak secara sadar membawaku pada sosok yang tertutup dan menghindari penyelesaian. Aku benci pertikaian jauh lebih daripada aku harus melakukan apa-apa sendiri. Aku akan cenderung mengalah dan terlihat lemah. Tapi menurutku, itu satu-satunya coping mechanism yang bisa kulewati untuk keep my sanity fine. Takutnya, aku sungguhan bisa membunuh.

Aku terlalu banyak memendam. Terlaluuuuuu banyak. Tak terhitung jumlahnya. Aku takut meledak di salah satu kondisi dan kutembak kepalanya like Joker does. Jadi, aku akan memilih hengkang dan dicap sebagai pengecut.

Apa yang lucu di bagian ini juga terlihat dari satu dua orang yang berusaha terlibat tapi tidak menghasilkan apa-apa. Trauma masa lalu mereka yang kudengar secara suka rela dari mulut mereka sendiri membuatku menarik kesimpulan, suara patah-patahnya, jemari yang gemetar, mata yang sulit fokus, hey, kamu sungguhan tidak apa-apa untuk terlihat kuat di chat dan sangat butuh bantuan saat hadir secara jasad? 

Kamu yang berusaha netral dan memvalidasi perasaan hampir setiap orang, terlalu lemah untuk mengambil keputusan, pada akhirnya kalah telak oleh dominasi orang yang derajatnya bahkan jauh berada di bawah kakimu. Kenapa? Apakah kamu takut pada mata membeliaknya yang seperti barong itu? Hey, percayalah kalian sama-sama punya trauma, aku pun sama. Kehidupan kita belum selesai. Wajar kalau kamu tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Tapi ini pun jadi pelajaran buatku bahwa semua orang adalah manifestasi trauma masa lalunya. Termasuk aku. Hahahaha.

Beralih yang ketiga, mungkin agak melompat karena ini terjadi baru kemarin. Sejauh ini aku berdampingan erat dengan masalah mental yang mengganggu fungsiku sebagai manusia normal. Dan pada akhirnya aku coba bagikan ceritaku secara utuh (yeay akhirnya David sungguhan bertemu profesional). Aku memperkenalkan David kepada seorang psikolog. Bagaimana aku menghidupkannya dan secara fasih membuat dunianya. Btw, tanggal 31 ini David ulang tahun. Happy birthday David! Dan Noah Sebastian! Uhuy!

Ketika ditarik ke belakang, ujung-ujungnya aku adalah manifestasi dari kurangnya komunikasi di internal keluarga. Gila aja. Keluargaku utuh, sempurna, bahagia. Tidak ada KDRT. Tidak hidup terpisah. Masih bisa makan. Bisa berpakaian. Bisa berpegian. Aku punya fasilitas. Aku punya tempat pulang. Aku punya dukungan. Tapi apa kata psikolog itu? Keluarga utuh bukan satu-satunya jaminan bahwa aku bisa hidup secara normal?

Wah, ada kurang adilnya di sini. Mari bicarakan temanku yang saat ini hidup satu keluarganya terpisah karena kesibukan masing-masing. Tidak pernah ada bonding yang mengikat seperti halnya aku yang setiap hari masih bisa melihat kedua orang tuaku. Tapi dia normal. Dia tidak menderita penyakit mental apapun. Dia kuat dan beraktivitas seperti orang lainnya secara fasih dan kuat. Bahkan dia sempat berujar "Aku iri dengan hidupmu, orang tuamu." tanpa dia sadari bahwa keduanya adalah manifestasi jangka panjang aku yang begini. Aku dengan David. 

Psikolog mahal. Mahal banget njir. Aku agak kapok menghabiskan uang sebanyak itu untuk satu buah konsultasi. Masalahnya, ketika aku mengandalkan meja Indomaret, yang jadi psikolog justru aku. Aku menampung cerita mereka dan bisa mengambil posisi untuk memvalidasi, menguatkan atau bahkan memberikan solusi (ada kafein akan lebih efektif).

Tapi setidaknya dengan kesempatan bertemu psikolog pertama kalinya seumur hidup aku jadi tahu, bahwa aku yang berusia 27 tahun ini adalah hasil dari aku yang berusia 10 tahun, 16 tahun. Dan aku mesti menyelesaikannya segera sebelum aku benar-benar berusia 30 nanti. Aku tidak mau anakku dibesarkan oleh orang tua yang belum selesai dengan dirinya, dengan masa lalunya. Mengerikan.

Dan yah, jika dibandingkan tahun 2023, aku masih punya teman nongkrong sepulang kerja yang asyik karena pekerjaan sebelumnya memang tidak seserius sekarang. Driver sampai orang gudang pun bisa jadi sangat dekat denganku, kita bolak-balik Denpasar-Singaraja rutin dan tidak menganggap itu pekerjaan overtime karena dilakukan dengan suka cita.

Kalo sekarang? Bisa pulang aja syukur. Keluarnya juga masih bahas ngga jauh-jauh soal kerjaan. Bisa-bisanya di kontrak kerja dateng jam 8 pagi dan masih ada yang setengah 9 baru absen. What the fuck? Giliran pulang on time jam 4 teng, dibahas terus ngga kelar kelar hinaannya. Funny how you try to playing about time with the most on time human ever existed? Mau ada acara selingan pun nol besar. Nonsense. Aku mostly keluar untuk baca dan nulis sendiri di cafe, sekalinya ada tandem itu pun untuk buka sesi konsultasi. HAHAHAHAHA.

Tahun lalu aku juga masih sempat dekat dengan beberapa 'cowo' yang ujung-ujungnya juga menyerah dengan sifat dinginku. Kalah dingin mungkin dan aku suka sekali melihat they're falling together for no further hope. Aku sampai datang mengunjungi tempat kerja salah satunya yang jauh di Jimbaran hanya untuk mengejutkan "Sureprise Motherfucker!" dan menagih utang yang tidak pernah ia sanggup bayar lunas. Dasar cowo ngga modal. Sudah pendek, ngga beriman, sok iye, suka ngutang. Kalo bagian begini, sifat dinginku barangkali bisa mengalahkan "dingin tetapi tidak kejam"-nya Alucard.

Tahun ini aku kebanyakan melihat orang-orang di sekitarku bersama istri, suami, anak, menikah, pacaran, blablablabla. Sedangkan aku tahun ini sungguhan lagi ngga suka sama siapa-siapa dan ngga ada yang juga suka sama aku. Bisa-bisanya ada temanku yang lama ngga ketemu, sekalinya ngajak ketemu untuk bahas pacar dan cowo yang lagi deketin dia. Kubukalah lagi sesi konsultasiku (plus kafein dari Aren Oat Latte), memberi saran yang auto dikerjakan. It seems work on her. Setahun cuma ketemu dua kali, ketemuan pertama berita soal CV yang kubuat untuk dia berhasil ngebuat dia keterima kerja dan aku pun keterima kerja di bulan yang sama, pertemuan kedua ya soal cowo yang lagi deketin dia. Udah, abis itu she no bother me with another meet.

Ada juga cowo rese yang unconscious 'melecehkan' cewe samar-samar, ngga cuma satu. Aku sampai tampar mukanya dengan kalimat panjang ala psikolog sesat yang lebih banyak caci maki daripada ngasih solusi (ditemani kafein dari Caffe Mocha juga kebetulan). Gila aja dia obsesive ngga sehat ke cewe orang. Perlu dijedotin kepalanya berkali-kali sampai dia sadar, dunia ngga cuma berputar buat dia doang. Perkara ngga ada yang mau terima tawaran menu makan siangnya aja ngga berarti orang lain ngejauh dan benci dia. Kukira aku paling melankolis, ternyata masih ada jauh yang udah over dan ngga ketolong. Grow up please.

Tapi man of the show nya adalah dua orang XXTJ yang kebetulan sama-sama muncul di tahun ini. Rese, sumpah. Paling iye soal data, padahal nol. Nir empati, udah teriak-teriak ngga jelas, nada bicara kayak lagi seriosa, masih ngga sadar letak kesalahannya. Pernah minta maaf? Sama sekali ngga. Sok-sok an nutup identitas diri biar ga bisa dijatuhin orang lain, padahal diri mereka yang ngejatuhin diri sendiri dengan sifat ekstrimnya.

Kalo yang satu sih masih bisa diajak kerjasama, aku masih punya benteng besar yang bisa kujadiin tempat sembunyi. Mungkin bisa agak luwes, atau aku konfrontasi langsung karena posisinya cukup mengunci dia untuk bertindak overreacting. Nah, yang satu ini, orang biasa, modal nolep dan backingan doang. Jadi kalo mau overreacting over everything dia mah kayak nothing to lose. Kan orang-orang taunya dia capable. Yah, ngga ngurusin juga orang yang ini. Fluoxtine ngga mempan sama dia, lihat mukanya bikin mual. Bukan mual takut, lebih ke mual yang ewwww what the fucking fuck?

Udahlah itu aja recent update kehidupan Radiva yang begini begini aja. Flat banget broh 2024 kayak ngga ada yang terjadi. Mana sisa lagi dua bulan. Satu-satunya yang bisa bikin aku puas adalah hmmmmm bisa solo trip lagi kali ya kayak awal tahun hahahahaha.


Share: