Saturday, November 30, 2024

Mari Kita Apresiasi Tahun 2024 dengan Cara Menjengkelkan

 Halo, ini aku — Radiva yang sebentar lagi bertambah usia. Memasuki bulan Desember mendadak menjadi menyeramkan untuk aku yang tahun ini tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Sudah kubahas di entri sebelumnya, 2024 tidak banyak yang berarti. Atau memang akunya saja yang menganggap semuanya jadi tidak berarti.

Tahun ini dengan cepat aku kehilangan dan mendapat teman. Aku cukup banyak menemui orang, namun tidak ada yang benar-benar bisa membuatku 'secure'. Aku berusaha melunak, mengalah, kembali menjadi seorang Mediator yang tidak suka berdebat dan menghindari pertikaian. Namun aku juga berubah cepat menjadi 180 derajat berbeda, mengonfrontasi, memarahi dan berdebat dengan orang yang mengusik kedamaian atau idealisme tertentu.

Siapa sangka? Aku bisa merasakan perasaan yang bergejolak untuk menyakiti orang lain — dan diri sendiri. Pikiran menyayat pergelangan tangan tidak muncul, jujur saja. Tapi apa yang berkelebat di kepala adalah perasaan ingin menampar orang, menendang badannya dan memaki di depan wajah mereka. Entah siapa. Dan juga hadir perasaan ingin merusak diri dengan menghantamkan kepalan tangan di kaca atau cermin, membanting barang dengan sekuat tenaga atau berteriak secara bebas untuk mengeluarkan semua jenis emosi.

Karena, aku tidak menangis.Tidak untuk emosi yang entah bentuknya apa.

Tapi demi bisa menenangkan sisi mengerikan yang ingin mengintip dari balik kepribadianku, aku coba akan menariknya untuk flashback kepada apa yang terjadi di tahun 2024 ini. Dan tentu, di setiap momen akan kutambahkan bentuk pelajaran apa yang bisa aku dapatkan.

1. Mengikuti Komunitas Buku

Sebagai seorang introver yang berelasi hanya dengan orang-orang hitungan jari, menjadi sebuah tantangan tersendiri untukku mengikuti sebuah komunitas buku. Aku terbilang member yang mendahului saat jumlah peserta yang hadir tidak lebih dari 10 orang. Aku bertemu orang-orang dengan pola pikir beragam yang luar biasa. Seketika rasa banggaku pada diri sendiri menyurut, seolah aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan mereka.

Kemudian entah apakah aku terlalu menonjol atau memang mereka gambling saja, aku terpilih menjadi salah satu panitia yang membantu keberlangsungan komunitas debutan itu. Sampai jumlah member-nya melampaui 25 orang. Apakah aku bangga? Tentu saja aku bangga. Bukan pada diriku sendiri, melainkan pada mereka yang bisa datang untuk memberikan kesan pesan tentang buku yang mereka baca dan tentang pengalaman pribadi mereka.

Sebagai seorang emotional master (referensi ini aku dapatkan dari sebuah video Youtube untuk melabeli INFP), aku tergugah pada cerita individu setiap member yang berusaha membuka diri. Aku senang dan mendapatkan energi untuk memahami perjuangan mereka. Seperti mendapat teman seperjuangan. Ada yang jauh lebih menderita daripada aku. Begitulah yang kurasakan. Sehingga aku menganggap komunitas ini menjadi seperti 'rumah kedua'.

Dibandingkan seseorang yang menganggap komunitas ini sebagai komunitas membaca buku biasa yang tidak punya aturan — hanya karena dia datang untuk menunjukkan berapa banyak judul buku yang dia tuntaskan — aku dan beberapa orang lainnya menganggap semua member adalah keluarga yang mesti dijaga dan dirayakan. Namun, orang ini merusak dengan egonya yang sama sekali tidak menghargai perasaan orang lain. Dia sebut orang-orang sepertiku sebagai orang sensitif yang tantruman hanya karena aku merasa gagal untuk merayakan kepergian salah satu member yang bahkan lebih dulu kukenal.

Seketika aku menarik diri dari komunitas ini. Hanya karena orang ini berada di sana tanpa merasa perlu meminta maaf, sedangkan dia memerintahkan aku untuk meminta maaf secara sopan layaknya pelaku pembunuhan yang akan diliput di berita televisi. Egonya besar sekali, cara bicaranya kasar dan konfrontasinya membuat panitia lain seketika berubah dari bilang A jadi bilang B. Pengaruh yang luar biasa. Sehingga aku manifestasikan sebagai salah satu bentuk pertahanan diri yang bisa ditiru — meskipun salah. Hahahaha. 

Persetan dengan orang ini. Dengan tanpa usaha berlebih aku memilih menyimpan energiku untuk memblokir semua akses dari dia, termasuk akses untuk mengikuti kembali komunitas buku ini. Toh, tanpa mereka aku juga masih bisa baca buku sebebasnya, masih bisa mendengar cerita dari para 'pasien'-ku sambil minum kopi, masih bisa berkumpul dengan orang-orang yang jauh lebih luas dan beragam hobi dan latar belakang ketertarikannya. Bukan cuma kutu buku.

Meskipun harus melepaskan, setidaknya aku punya banyak referensi buku yang menarik dan intensiku untuk membaca buku di tahun ini mendadak berkembang pesat. Tahun lalu aku hanya menyelesaikan 4 buku. Tahun ini saat entri ini ditulis, aku sudah melahap 13 buku. Sebuah apresiasi yang hebat!

2. Pengalaman Kerja Baru

Sekali lagi aku bertanya, apakah aku terlalu menonjol atau mereka hanya gambling untuk menerimaku bergabung di perusahaan mereka? Sebuah perusahaan berkembang yang produktif — yang siapa pun jika menyebutnya akan membawa rasa bangga tersendiri. Tapi ternyata kenyataan di baliknya berbeda sepenuhnya.

Sub-judul kutulis 'pengalaman kerja baru' karena sungguhan baru. Dalam sekitar kurun waktu 8 bulan aku menemukan banyak pengalaman yang bisa menamparku untuk lebih berhati-hati dalam menandatangani dokumen perusahaan yang melibatkan pihak pekerja dan perusahaan. 

Aku boleh saja baru punya satu pengalaman kerja, nyaris 4 tahun lamanya. Di bidang yang sama, yaitu 'marketing'. Secara CV seharusnya sudah menjanjikan. Terlebih di perusahaan sebelumnya aku benar-benar difasilitasi belajar marketing selama bertahun-tahun semenjak wabah Covid melanda. Aku selalu bilang ketika alasan kenapa aku bertahan di perusahaan itu meskipun dengan gaji yang tidak seberapa; "Cuma di sini kita belajar, kita dibayar."

Wow, terdengar seperti maniak belajar. Tapi jujur saja, skill dan pengalamanku bertambah berkali-kali lipat. Aku yang introver, kadang bisa switch mode to extrovert ketika dibutuhkan. Aku yang malu mengawali pembicaraan atau takut pergi kemana pun sendirian mendadak jadi fasih menghadapi semuanya akibat tuntutan pekerjaan.

Jika kubandingkan dengan pekerjaan sekarang, aku juga punya skill dan pengalaman baru yang bahkan bertambah sebelum aku genap bekerja selama satu tahun di sini. Skill dan pengalaman itu adalah skill konfrontasi dan pengalaman mendeteksi perusahaan yang punya system failure. Termasuk politik di dalamnya dengan permainan ala koruptor yang banyak menyembunyikan rahasia. Wow, tentu ini menjadi pengalaman langsung yang berharga. Mengetahui bahwa karakter seseorang bisa 'dibentuk' oleh kekuasaan dan uang.

Demi Tuhan, drama Korea yang aku tonton ternyata terjadi sungguhan di depan mataku. Bodoh jika mereka menganggap aku menerima banyak informasi yang tidak seharusnya keluar. Aku seorang intuitive — yang bahkan jika dicek berkali-kali MBTI-nya akan terus memasang huruf N ketimbang S. Aku bisa 'membaca' orang dan situasi dari intuisi, jadi aku hanya perlu penegasan dengan deklarasi dari yang lain. Kemudian aku akan berkata dalam hati; "Tuh, kan benar!"

Namanya perintis, terdengar luar biasa dalam kurun waktu dua tahun sudah ada sekian outlet dan ratusan karyawan. Ketenaran dan uang barangkali bisa dikantongi dengan mudah. Tapi aku lupa pada fakta barangkali perkembangan pesat yang terjadi bisa saja tidak seimbang dengan pemahaman pemimpinnya kepada managemen tim dan sistem kerja yang sempurna.

Aku yang terbiasa di-nina bobo di perusahaan sebelumnya dengan kelas gratis, buku, seminar untuk menjadi leader dan marketer yang baik mendadak clueless pada job desc pekerjaan sendiri. Belum tahu apa-apa soal sistem internal perusahaan sudah langsung ditodong dengan angka produksi yang mesti keluar besok. WTF? Aku bahkan tidak pernah tahu SOP, KPI dan visi misi perusahaan. Tiba-tiba banget diagungkan materi PPT-nya hanya untuk meningkatkan rasa percaya diri pada posisi tertentu, kemudian dicaci maki dan diteriaki materi PPT yang sama untuk demand semua dapat bekerja sesuai keinginannya. 

Katanya uang bukan masalah. Gaji bisa dibicarakan. Nyatanya, untuk apa gaji bertambah hanya demi bisa menjalankan kapal tanpa navigasi? Membungkam mulut dengan memberi privilige gaji dua digit dan double job? Tidak masalah jika datang terlambat dan tidak ada uang overtime — meski overtime seringkali dikaitkan dengan loyalitas. Kontradiktif sekali.

Apa yang paling lucu adalah kenapa aku bisa-bisanya ditipu dengan sign contract yang jelas-jelas merugikan sebelah pihak. Dokumen kontrak yang 'katanya' adalah peraturan perusahaan(?) dan sama sekali tidak ada copy-an slip gaji. Banyak pelanggaran yang terjadi, tapi belum satu pun yang bertindak untuk melaporkan. Mari bertahan untuk menyaksikan keruntuhan.

Ini pelajaran keduaku di tahun 2024. Intinya, bukan cuma cowo saja yang bisa dilabeli red flag. Perusahaan pun sama. Ngga melulu mereka bagus di branding, internal SDM-nya juga sama bagusnya. No way. Literally big NO. 

3. Kita adalah Manifestasi Masa Lalu

Aku bangga menggunakan kapabilitas intuisiku untuk mendeteksi orang dan lingkungan sekitar. Terlebih ketika aku bisa meraih mereka dan membuktikan intuisiku benar. Di tahun 2024, aku banyak sekali menjadi destinasi bagi beberapa orang yang membutuhkan pertolongan. Minimal validasi, lebih lagi kalau bisa solusi. Mulai dari yang perkara pacarnya, perkara pendidikannya, perkara orang tuanya, perkara saudaranya, perkara finansialnya, sampai perkara rumah tangganya. 

Aku sempat mikir; "Buset, ini kalo aku pasang tarif sepertinya lumayan."

Aku juga kurang tahu dapat kekuatan dari mana menjadi salah satu tempat ternyaman mereka untuk menceritakan hal-hal sekrusial itu. Dibandingkan dibuat sibuk oleh pekerjaan— yang mana mungkin sibuk, untuk realisasiin satu project aja alurnya lama banget— aku lebih sibuk keluar dan menjadi 'psikolog' amatir mereka.

Mereka akan selalu memulainya dengan "Kamu sibuk ngga?" untuk yang bisa bertemu tatap muka atau "Aku boleh telepon?" untuk yang jaraknya jauh. Aku selalu mengedepankan mereka, bahkan mengorbankan kebutuhan pekerjaan sendiri demi bisa memenuhi ruang kebutuhan mereka. Jika hal yang kulakukan sama seperti seorang hero menolong civilian, barangkali aku sudah masuk ke daftar Avengers, hahahahaha.

Karena penasaran, aku mencoba mengambil beberapa review dari mereka soal kenapa mereka mempercayaiku untuk mendengar cerita seberat dan serumit itu? Mereka bilang; "Karena aku tau dari awal kamu ngga judgmental." Ada pula yang bilang; "Kamu pendengar yang baik, aku ngerasa aman."

Apakah aku terbang? JELAS. Daripada orang-orang yang cuma bisa konfrontasi tanpa bisa memahami emosi orang— seperti menyebutnya oversensitive dan enggan meminta maaf— aku bangga menjadi orang yang ada dan dipercaya kapabilitasnya sebagai individu yang memikul bersama beban mereka. Karena why not? 

Orang sialan itu sempat mempertanyakan aku kenapa aku 'memvillainized' diri sendiri? Apakah untuk terlihat lebih dominan dan overpower? Aku berpikir dalam dan kemudian mengiyakan, tentu saja aku perlu terlihat dominan untuk bisa dilihat potensi dan kapabilitasnya since I couldn't offer both of visual and wealth? Dan ternyata, aku justru menjadi lebih kuat dan solid ketika ada orang yang membutuhkanku. Bukan karena ingin dominasi, lebih ke rasa bahagia ketika kamu berhasil membantu orang lain.

Tahu kan bagaimana perasaan itu? Seperti lega dan bangga.

Tidak cuma dari pihak-pihak baik saja. Aku juga menilai orang-orang 'jahat' (di hidupku) melalui intuisi dan ceritanya secara langsung. Aku memahami benar bahwa setiap perilaku mereka adalah manifestasi masa lalu yang barangkali 'menyangkut' dan belum selesai. Sehingga menciptakan karakter yang demikian. Jadi semisal perempuan gila itu memelototiku dengan matanya, berteriak dengan suara keras yang bising, aku tahu itu adalah manifestasi bahwa di rumah, dia adalah orang yang diperlakukan sama. 

Dari korban, menjadi pelaku. Selalu begitu, bukan?

Hal ini juga terjadi padaku yang ternyata punya konklusi setelah berkonsultasi dengan psikolog. Manifestasi sikap dan reaksiku yang cukup private (atau sederhananya dicap cuek), serta bagaimana aku berusaha ada di setiap kesulitan temanku untuk mendengarkan cerita mereka dan membantu mencarikan solusi. Nyatanya, itu adalah manifestasi karena selama ini aku jarang dan nyaris tidak pernah didengarkan. Komunikasiku minim sekali sejak kecil, sehingga itu juga menyebabkan aku kesulitan berkomunikasi dalam sistem profesional.

Jadi, jika pemimpin perusahaanku (aku malas menyebutnya bos atau direktur— karena aku pun tidak tahu dia memosisikan diri jadi apa) bersikap grasak grusuk tanpa planning, suka men-delay dan sekaligus menuntut semua terjadi sesuai deadline, serta punya penyakit trust issues yang parah— sampai membatasi akses pada data, sampai membeli jabatan orang hanya untuk menguntit— tentu saja aku paham. Paham betul bahwa itu semua manifestasi bahwa dia tidak pernah dipercaya di masa lalu. Atau boleh kukatakan secara kasar 'kamu tidak punya apa-apa untuk ditawarkan dan dibanggakan, sehingga orang-orang tidak mempercayaimu'.

Tidak apa-apa, aku paham.

4. Bakat yang Masih Belum Hilang






5. Aku dan Bapak

Di poin ketiga aku bilang kan bahwa relasi dan komunikasiku dengan keluarga minim sekali. Aku jarang didengarkan— atau memang terbiasa memendam akibat suatu hal. Sehingga aku sama sekali tidak punya hubungan romantis dan intim dengan keluarga, terutama kepada orang tuaku sendiri.

September menjadi titik balik untukku, ketika bapak salah satu teman terbaikku menghembuskan napas terakhirnya di hari Jumat akibat sakit. Beberapa hari setelah temanku ini ulang tahun. Beberapa minggu dan bulan sebelumnya aku melihat stories dia yang sedang merawat bapaknya, meminta doa kepada rekan terdekat. Ketika satu story-nya muncul dan memperlihatkan kepergian bapaknya, aku ikutan kalap.

Masalahnya, aku tidak berada di sana, tidak bisa menenangkannya. Aku berusaha meraihnya di DM, dia sebut butuh waktu paling tidak satu minggu. Dan ketika aku punya kesempatan untuk menemuinya secara langsung, aku bersemangat untuk menyewa jasa ojek online demi bisa menemuinya di sebuah cafe.

Dia bercerita detail tentang kronologi perawatan bapaknya. Betapa sayangnya dia pada bapaknya. Sesabar itu dia merawat dan mengabaikan kewajibannya sebagai seorang dewasa yang perlu bekerja. Menukarnya dengan barang termahal— yaitu waktu bersama bapak. Aku senang sekali mendengar banyak orang yang peduli terhadap bapaknya. Bahkan setelah bapaknya tiada, orang-orang tetap menghormati beliau.

Aku sempat mengatakan bahwa aku ingin kematian yang tenang di hari Jumat seperti bapaknya. Untuk siapapun. Agar tidak lagi menderita atau merasakan sesuatu yang mengenaskan. Kedamaian itu terkadang membuatku berharap. Dan tentu, kesabaran dan keteguhan temanku membuatku iri, sebab aku bukan anak yang demikian.

Dan benar saja.

Dua minggu yang lalu saat sebelum entri ini ditulis, ibuku menggedor pintu kamar selepas subuh. Bilang bahwa bapakku kecelakaan. Kebiasaan bapakku yang kemana-mana tidak pernah bawa ponsel membuat aku jengkel setengah mati. Telepon itu datang dari orang yang kenal bapak dan ibuku. Dengan muka pucat dan sama-sama takut, aku berangkat bersama ibu menyusul bapak. Bayangkan, hanya melihat motorku rusak parah, aku tidak tahu separah apa kecelakaan itu terjadi. Pecahan kaca di jalan, puing-puing mobil berserakan. Aku menutup mulut. Bingung mesti bereaksi apa.

Aku mengambil ponsel, mengabadikan TKP. Bukan sebagai orang pansos yang minta dikasihani, bukan pula untuk bukti dan menemukan pelaku. Tapi hanya sebagai bukti aku tidak mungkin bisa berangkat kerja dengan kondisi bapakku yang seperti ini. Hanya untuk membuktikan ke atasan bahwa kejadian ini nyata adanya. Sialan. Pekerjaanku bahkan tidak berhak mendapatkan kehadiran seorang karyawan yang sedang tertimpa musibah. Tapi aku masih saja merepotkan diri untuk meminta izin dan meminta maaf.

Ketika suara ambulan dari kejauhan terdengar, aku semakin panik lagi. Ini seperti di drama Korea atau film-film. Aku belum pernah merasakan ini seumur hidup. Aku tidak pernah melihat orang yang kukenal secara langsung dibopong masuk ke ambulan. Aku duduk di sebelahnya, memegang tangan bapakku sambil menyebut; "Sabar, Pak."

Suara nguing nguing ambulan memecah pagi hari. Bahkan matahari belum muncul. Aku kelabakan sendiri memfoto sana sini. Sumpah, ini pengalaman yang mesti kuabadikan dalam momen tahun 2024, kali pertama dalam seluruh hidupku. Dan tentu, aku berhasil mengabadikannya di entri blog ini. Pengalaman yang sama sekali tidak mau kurasakan kembali. Meski ujung-ujungnya tetap saja, foto yang kuambil di ambulan juga sebagai salah satu bukti aku izin tidak bekerja.

Aku melihat bapakku dibawa oleh perawat di atas kasur beroda— yang entah apa namanya— menuju ke IGD. Dipasang selang infus, selang oksigen dan pendeteksi denyut nadi. Astaga, Demi Tuhan, kalau bisa ditukar, mending aku saja yang begitu, aku saja yang terbaring di sana. Jangan bapakku. Setidaknya bapak tidak kesakitan di usianya yang sudah sepuh dan aku punya alasan kuat untuk absen dari kantor sialan itu— ngga papa meskipun sakit jadi taruhannya.

Aku langsung teringat dan membandingkan kapabilitasku dengan temanku itu. Bagaimana dia bisa menemani bapaknya di atas ranjang rumah sakit. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menertawakan bapakku yang mengeluh kesakitan. Masalahnya, aku berani taruhan kalau aku yang merasakan di posisi bapak, ego dan rasa maluku jauh lebih tinggi daripada bapak. Bapak mah bodo amat dilihat perawat dan dokter mengeluh kesakitan. Kalau aku di posisi bapak, aku mungkin sudah mati-matian menahan rasa sakitnya agar tidak disebut lebay. Hahahaha. 

Hal terberatnya adalah, ketika ibu datang menyusul dan langsung mengantar bapak cek rontgen, HP ibuku berkali-kali berdering. Deretan nama yang kukenal tapi lupa bergantian menelepon, bertanya kondisi bapak. Aku heran, seberapa banyak relasi bapak dan ibu sampai berita ini cepat menyebar. Bahkan itu baru dua jam setelah kejadian. Aku sungguh capek harus menganggkat satu persatu telepon dan mejelaskan berulang kali kronologi kecelakaan bapakku.

Tuhan masih sayang bapak. Bapak ngga papa dan boleh pulang. Tapi rasa takut dan amarahku masih terpendam dalam. Seperti aku ingin menuntut dan mengujarkan umpatan atau pukulan terhadap pelaku. Entah apakah jenis seperti ini adalah bentuk rasa sayangku kepada bapak? Ataukah menertawakannya yang mengeluh kesakitan juga jadi salah satunya?

Hari-hari dimana berita bapak kecelakaan menyebar cepat. Selama lebih dari seminggu, setiap hari, orang-orang datang bergantian menyambangi bapak di rumah. Orang yang tidak pernah tahu rumahku pun datang. Orang yang rumahnya berjarak 40 menit dari rumahku pun datang. Orang yang sibuk bekerja pun menyempatkan datang. Bahkan ada yang datang dua kali. Semuanya membawa bingkisan, buah, roti, susu, vitamin dan masih banyak lagi.

Apa yang hebat, kakak bapakku, keluarganya dari kampung menempuh perjalan ratusan kilometer untuk bisa datang 'menjenguk' adiknya. Dan yang paling lucu adalah, ibu-ibu pengajian kenalan ibuku yang biasanya berkumpul untuk arisan atau pengajian pada hari itu justru berkumpul hanya untuk menjenguk bapakku. Aku (juga ibu dan keluarga bapakku dari kampung) kaget melihat belasan ibu-ibu muncul di rumah, bukan untuk arisan atau pengajian. Antara mau ketawa atau nangis. Introverku meraung-raung nyaris setiap hari. Wow. Hanya bisa kusebut wow. 

Aku bingung mentranslate-kan perasaanku. Aku senang sekali ada banyak orang yang peduli pada bapak. Bapakku orang baik. Buktinya bapak menjaga keluargaku utuh. Bapakku masih diberikan kesehatan. Bapakku masih dikenal orang-orang. Kalau tidak, mana mungkin ada yang mengabari ibuku bapakku kecelakaan dan sampai repot-repot mau ikut olah TKP dan mencari kontak pelaku kecelakaan?

Namun di lain sisi aku teringat, bagaimana nanti jika suatu hari bapak mendahuluiku? Apakah aku perlu jeda lebih lama seperti temanku untuk bisa menemani dan menjelaskan kronologinya berulang kali? Melelahkan sepertinya. Maka, aku memutuskan tidak mau mengalami hal itu. Sama sekali.

Jika bisa dibalik, dari kisah terakhir ini, pelajaran yang kuambil bukan 'bagaimana aku harus memperlakukan bapak ibuku secara baik selama mereka masih ada'. Tapi justru rasa penasaran, jika nanti aku pergi terlebih dahulu, siapa yang akan datang? Apakah teman dan relasiku akan sebanyak itu bergantian datang? Kurasa yang datang justru lebih banyak dari relasi ibu dan bapakku. Aku tidak punya siapa-siapa dan seandainya punya pun aku tidak mau repot berbasa-basi demi menjaga relasi. Kind of weird.

Oh, ya satu lagi. Salah satu tamu yang datang sempat datang menjenguk bapak berujar begini; "Kalau orangnya rajin ke masjid, pasti banyak yang kenal dan peduli."

Hatiku langsung terketuk. Bagaimana dengan aku jika nanti aku mati?

Share:

0 komentar:

Post a Comment