Showing posts with label whatsonlist. Show all posts
Showing posts with label whatsonlist. Show all posts

Saturday, October 9, 2021

SQUID GAME VS ALICE IN BORDERLAND : SEBUAH REVIEW JUJUR

Review Squid Game vs Alice in Borderland

Aku yakin banget nih, beberapa akun sosial media kita dipenuhi sama cuplikan spoiler series Netflix dari Korea Selatan, Squid Game. Mulai dari ngebahas betapa sadisnya game yang ada di series itu, sampai ngebahas seberapa banyak followers Instagram para pemainnya bertambah pesat setelah Squid Game jadi booming di seluruh dunia.

Jauh sebelum Squid Game rilis di pertengahan 2021, Netflix sebenernya udah rilis satu series tentang survival game lainnya berjudul Alice in Borderland di akhir tahun 2020. Bedanya, Alice in Borderland ini berangkat dari produksi perfilman Jepang yang membuat live action dari sebuah komik terkenal berjudul sama. Series ini cukup hype pada jamannya, namun masih kalah hype jika dibandingkan Squid Game.

Dari perbandingan ini harus kuakui kalau industri hiburan Korea Selatan memang sedang bagus-bagusnya. Udah banyak nih orang-orang awam yang ngga punya minat nonton ‘drakor’, akhirnya ikut-ikutan nonton juga. Sedangkan untuk kelas produksi Jepang, hiburannya masih menyasar target pasar tertentu. Misalnya wibu atau gamers. Dari cara kerja dan bentuk produksinya aja kedua negara ini udah cukup beda.

Banyak yang bilang kalau Squid Game dan Alice in Borderland bukan series yang bisa dibandingin. Karena ‘jenisnya’ aja berbeda. Kalau Squid Game murni series yang ditulis dari tangan sutradaranya sendiri sejak 10 tahun silam. Sedangkan Alice in Borderland adalah sebuah adaptasi live action dari sebuah komik.

Meskipun begitu, ngga dikit kok yang ngebandingin kedua series ini, termasuk aku. Yaaa karena baik Squid Game maupun Alice in Borderland, keduanya sama-sama menceritakan tentang survival game.

Dan yap! Ini review jujur soal pandanganku kepada Squid Game dan Alice in Borderland. Aku bakal jelasin sedetail-detailnya apa kekurangan dan kelebihan dari masing-masing series ini. So, ini bakalan panjang!

GENRE DAN ALUR CERITA

Jika dibandingkan dari segi genre dan alur cerita, keduanya memiliki 2 fungsi yang berbeda. Memang genre utama keduanya adalah thriller dengan menampilkan ketegangan bagaimana tokoh-tokoh di dalamnya berjuang memainkan sebuah game yang taruhannya nyawa. Tapi jika dilihat dari segi fungsi dan pesan yang ingin disampaikan, harus kuakui Squid Game jauh lebih realistis.

Squid Game menceritakan tentang para orang-orang yang terlilit hutang dan mereka dipertemukan dalam total 6 game maut. Masing-masing peserta bernilai 100 juta won dan dengan total 456 peserta, maka ada total 45,6 miliar won yang dipertaruhkan. Squid Game sendiri memiliki total 9 episode dengan kurang lebih 7-10 karakter utama.

Sedangkan Alice in Borderland menceritakan tentang 3 sahabat yang terjebak ke sebuah dunia paralel di mana mereka harus menyelesaikan beberapa game (total ada 52 stage) demi memperpanjang visa untuk bertahan hidup. Tidak ada tujuan uang atau hadiah dalam setiap game yang mereka mainkan. Tujuannya hanya untuk memperpanjang visa dan mendapatkan kartu. Masing-masing game memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dilihat dari jenis kartunya. Alice in Borderland sendiri memiliki total 8 episode dengan lebih dari 10 karakter utama.

Bisa disimpulkan bahwa Squid Game memiliki nilai moral yang lebih realistis bagi penontonnya, yaitu agar kita bisa melihat bagaimana uang sangat mengambil peran di kehidupan manusia. Di beberapa sisi lain kita juga bisa melihat tentang kepercayaan, pengorbanan, rasa sakit dan masih banyak lagi sifat alamiah manusia pada umumnya. Jadi, secara kasar aku bisa bilang bahwa di dunia ini, game maut yang diselenggarakan oleh pihak elite di Squid Game, kemungkinan bisa dibuat reka ulangnya di dunia nyata.

Sedangkan Alice in Borderland memiliki unsur fantasi dalam genre-nya. Tidak ada penjelasan yang jelas apa penyebab orang-orang di Tokyo menghilang, bagaimana bisa ketiga sahabat itu terjebak dalam dunia paralel (borderland) dan dipaksa bermain game? Apa tujuannya selain untuk memaksa mereka bertahan hidup? Tidak dijelaskan secara gamblang apa motivasi series ini dibuat kecuali sebagai hiburan dan pemahaman sedikit tentang persahabatan, kepercayaan dan pengorbanan.

LEVEL KREATIFITAS DAN KESULITAN GAME

Berangkat dari mengangkat tentang survival game, kedua series ini menyuguhkan pemandangan bagaimana para karakternya menyusun fisik, strategi, kepercayaan dan keberuntungan untuk menyelesaikan tantangan demi tantangan. Sebuah ide yang sebenarnya tidak baru, karena jauh sebelum kedua series ini eksis, kita sudah disuguhi banyak sekali film dan series tentang survival game, seperti Maze Runner atau The Hunger Game. Tapi akibat kreatifitas pengemasan game yang ada, kedua series ini seperti terkesan lebih fresh dan menarik untuk ditonton.

Ngomongin soal kretaifitas, aku ngga bisa 100% bandingin mana yang lebih kreatif dari Squid Game maupun Alice in Borderland. Keduanya punya karakteristiknya masing-masing yang bahkan ngga bisa disamain meskipun isi dari kedua series ini ya memang fokus untuk menyelesaikan game demi game.

Alice in Borderland membutuhkan satu kota Tokyo untuk stage semua permainannya. Ada yang berlokasi di apartemen, ada yang berlokasi di terowongan, ada yang berlokasi di botanical garden, ada yang berlokasi di taman hiburan, dll. Tingkat kesulitan game ditentukan oleh jenis dan angka kartu yang muncul, semakin tinggi angkanya maka semakin tinggi tingkat kesulitannya. Wajik berarti game tentang intelegensi (kecerdasan). Waru berarti game tentang kekuatan fisik. Keriting berarti game tentang kerjasama tim. Dan hati berarti game tentang pengkhianatan.

Dari jenis seperti ini saja sudah bisa kita lihat, kalau Alice in Borderland punya jenis game yang lebih kompleks dan melelahkan. Terlebih ketika mereka ingin memainkan game, mereka tidak punya kesempatan mundur atau memilih jenis game apa yang akan mereka mainkan. Mereka juga akan menemukan peserta yang berbeda tiap game-nya. Dan tidak ada batasan berapa peserta yang mendaftar dan berapa jumlah finalis yang berhasil survive dari masing-masing game.

Squid Game jauh lebih sederhana. Para elite yang membuat game ini menawarkan orang-orang miskin untuk bergabung tanpa paksakan. Total game hanya 6. Dan hanya dicari 1 pemenang untuk memenangkan uang 46,5 miliar won. Bahkan mereka mendapatkan ranjang tempat tidur dan fasilitas makan (meskipun tidak memadai). Setting seluruh game berada di satu tempat yang sudah didesain khusus. Jika Alice in Borderland banyak melakukan teknik CGI untuk setting lokasinya, kita perlu apresiasi Squid Game karena membuat setting sebenarnya di lokasi syuting.

Satu keunikan Squid Game dari keserdahaan game-nya adalah, mereka menyulap permainan-permainan tradisional yang dimainkan oleh anak-anak di Korea menjadi sebuah game mematikan (yang bagi beberapa orang menimbulkan sedikit kesan trauma). Tidak ada tuntutan kecerdasan pada level game di Squid Game. Mereka hanya membutuhkan fisik, keberuntungan dan pengkhianatan. Karena keenam game stage yang disiapkan bertujuan untuk memenangkan hadiah berupa uang, pengkhianatan dan keinginan untuk menang semakin besar (berbeda dengan Alice in Borderland yang memainkan game untuk bertahan hidup). Ya seperti yang kita tau, semua sifat asli manusia akan terlihat di depan uang.

TINGKAT KESADISAN PUNISHMENT

Kedua series ini memiliki tingkat kesadisan (gore) yang hampir mirip. Meskipun aku tidak terganggu dengan visualisasi darah, tapi saat melihat kedua series ini aku dibuat lumayan ‘trauma’. Seperti kalau ada scene ketika mereka gagal menyelesaikan game dan dibunuh, aku lebih memilih untuk tidak melihatnya lagi.

Squid Game cukup mengerikan. Mereka yang gagal dalam permainan memiliki pilihan untuk meninggal dengan cara ditembak, jatuh dari ketinggian atau saling membunuh. Jasad mereka yang gagal kemudian dimasukkan ke dalam peti berbentuk kotak kado berpita dan kemudian dikremasi dalam perapian khusus di ruang bawah tanah. Visualisasi darah, kepala pecah, perut dibedah dan lain sebagainya beberapa kali nyelip di scene yang ada. Jadi kita mesti bersiap untuk ngga nonton Squid Game sambil makan!

Alice in Borderland sama mengerikan. Kalau di Squid Game kegagalan dirayakan oleh ditembak senapan, maka di Alice in Borderland kegagalan diperingati oleh tembakan laser dari langit. Ya, beneran laser dari langit! Namanya juga series fantasi, aku juga ngga ngerti dari mana laser ini berasal. Tapi meskipun laser ini menghasilkan satu ‘lubang’ kecil di tubuh seseorang yang gagal, tetep aja efeknya cukup mengerikan. Belum lagi ada opsi kalung bom yang bikin kepala meledak. Eits, di series ini juga nampilin ‘pembedahan’ kepala, loh. Jadi sama ngerinya!

Tapi sebagai penikmat film yang cukup banyak melibatkan visualisasi darah, aku mulai mengenali mana fake blood yang kelihatan nyata. Kalo dibandingkan kedua series ini, Squid Game darahnya ngga terlalu banyak, tapi warna merahnya dan visualisasinya kelihatan nyata. Sedangkan Alice in Borderland memperlihatkan volume darah yang lebih banyak dan besar, tapi cenderung kelihatan kayak cat merah aja, bukan kayak darah.

So, dari sini kamu udah bisa nentuin sendiri mana series yang lebih sadis sesuai dengan kapasitas dan prefensimu masing-masing.

PENGEMBANGAN DAN KEUNIKAN KARAKTER

Masuk ke bagian terpenting dari sebuah review, nih! Yap, bagian karakter atau tokoh dalam kedua series, Squid Game dan Alice in Borderland. Sebuah film, drama atau series ngga akan pernah berhasil kalau aktor/aktrisnya ngga dipilih secara tepat. Maka dari itu, casting amat sangat diperlukan.

Kita bahas karakter di Squid Game yang lebih dikit dulu, ya!

Seong Gihun 'Squid Game'

Seong Gihun (Lee Jungjae) digambarkan sebagai pria berusia kurang lebih 40 tahunan, yang kehilangan pekerjaan. Tinggal di rumah sederhana bersama ibunya. Sesekali mengikuti judi untuk mengadu nasib. Karena ingin mengambil kembali hak asuh anak dari mantan istrinya, Gihun mengikuti tawaran game mematikan ini.

Cho Sangwoo 'Squid Game'

Cho Sangwoo (Park Haesu) adalah teman masa kecil Gihun. Digambarkan dalam sosok pria yang cerdas dan lulusan SNU (Seoul National University). Dia membohongi ibunya pergi ke luar negeri untuk sebuah pekerjaan. Karena hutang yang banyak akibat investasinya gagal, Sangwoo terpaksa melibatkan dirinya untuk mengikuti game.

Kang Saebyeok 'Squid Game'

Kang Saebyeok (Jung Hoyeon) merupakan gadis muda dari Korea Utara dengan karakter kuat dan mandiri. Ingin membebaskan ibunya dan adiknya untuk kehidupan yang lebih baik. Di saat peserta lain sibuk membuat tim, Saebyeok cenderung menyendiri dan tidak mempercayai siapapun.

Oh Ilnam 'Squid Game'

Oh Ilnam (Oh Youngsu) adalah pemain tertua dan pertama yang mendaftar. Memiliki penyakit kronis sehingga tidak peduli kapanpun kematian akan menjemputnya. Karena fisiknya yang lemah, Gihun memperhatikannya seperti keluarganya sendiri. Namun di balik penampilannya yang menyedihkan, kakek tua ini menyembunyikan sesuatu yang mencengangkan. 

Ali Abdul 'Squid Game'

Ali Abdul (Tripathi Anupam) diceritakan sebagai perantauan imigran yang berusaha menyelamatkan istri dan anaknya dari lilitan hutang. Pesonanya yang sederhana, polos dan tidak muluk-muluk membuat Ali menjadi salah satu karakter yang paling tulus. Sayang, ketulusan itu tidak cocok ditampilkan dalam game berujung maut seperti ini.

Han Miyeo 'Squid Game'

Han Minyeo (Kim Jooryung) adalah seorang ibu yang mengikuti game untuk membuat kehidupan bersama anaknya menjadi lebih baik. Awalnya dia adalah salah satu peserta yang menentang untuk melanjutkan game, tapi kemudian dia berubah menjadi salah satu peserta yang licik dan merepotkan.

Jang Deoksu 'Squid Game'

Jang Deoksu (Heo Sungtae) digambarkan sebagai seorang ‘preman’ dengan tato di dagunya. Bertubuh besar dan berambut gondrong. Akibat menggelapkan uang bosnya, ia dikejar dan terlilit banyak hutang. Untuk menyelamatkan diri, pada akhirnya ia terlibat dalam game.

Jiyeong 'Squid Game'

Jiyeong (Lee Yoomi) adalah gadis seusia Saebyeok. Kehidupan yang sulit membuatnya bersikap keras pada orang lain dan dirinya sendiri. Dia adalah satu-satunya peserta yang berhasil mengobrol banyak dan bertukar cerita dengan Saebyeok. Namun, mereka saling mengerti bahwa mereka tidak bisa keluar bersama.

Hwang Junho 'Squid Game'

Hwang Junho (Wi Hajun) ehem, Si Polisi Ganteng ini nekat menyelinap ke lokasi game diadakan dan menyamar menjadi salah satu ‘pegawai’ berseragam merah di sana. Tujuan utamanya adalah menemukan kakaknya. Namun ia menemukan fakta lain bahwa tempat itu adalah sebuah tempat kriminal yang mengerikan. Meskipun ia gagal pada misi, Junho berhasil bertemu kakaknya untuk terakhir kali.

Oke! Dari pembangunan karakter, aku ngga akan berkomentar banyak. Kelas akting mereka luar biasa keren. Sutradara dan kru berhasil meng-casting aktor dan aktris berbakat untuk peran mereka masing-masing. Tapi! Tapi, nih… ada tapinya! Tapi, ada cukup banyak kesalahan fatal sutradara dalam membangun karakter tokohnya, terutama Seong Gihun.

Kenapa aku berani bilang gitu?

Di series ini Gihun adalah tokoh utama. Sutradara seperti ingin menciptakan karakter tokoh utama yang polos dan baik hati, namun masih memaksa pada ‘main judi’ dan ‘berkhianat’. Oke aku paham dia melakukan itu semua karena dalam kondisi yang mendesak. Tapi pembangunan karakter hitam dan putih yang ada dalam diri Gihun terkesan maju mundur. Kayak gimana ya? Kayak kadang dia baik, terus dalam hitungan jam dia jahat lagi.

Kalau mau bilang karakter hanya dibedakan antara baik dan jahat, aku malah lebih suka pembangunan karakter Cho Sangwoo. Sebagai pria cerdas yang selalu dielu-elukan Gihun, dia menampilkan pikiran yang kritis dan keputusan yang tepat. Dia licik, tapi cerdas. Memang pada akhirnya dia menjadi salah satu villain di series ini, tapi keputusannya menjadi jahat yaudah jahat aja. Ngga plin-plan. Ngga maju mundur! Dan jenis jahatnya Sangwoo ini serius lebih berkelas ketimbang Gihun yang notabenenya pemeran utama.

Penilaianku semakin dipertegas saat Gihun keluar jadi pemenang 45,6 miliar won. Dia merasa bersalah karena seolah telah ‘membunuh’ 455 pemain lainnya untuk mendapatkan uang itu. Bener sih dia pake uang itu untuk membantu keluarga peserta lain yang ditinggalkan, tapi dia lupa (sutradaranya yang ngga ngejelasin) tujuan utamanya ikut main game itu, ambil hak asuh anaknya. Ngga ada!

Yang dijelasin malah fakta bahwa Si Kakek Tua itu ternyata dalang di balik game ini. Maksa banget sumpah! Kayak ayolah Squid Game ini cuma 9 episode, alurnya ngga usah bertele-tele dong! Kenapa kita udah dibuat menaruh simpati sama SI Kakek yang malang, harus dibuat kesel segala? Bener-bener ngancurin karakternya.

Dan yang paling ngeselin lagi adalah Si Ganteng Wi Hajun yang jadi polisi bernama Hwang Junho! Kenapa sutradara membunuh Wi Hajun-kuuuuuu??? Dia udah susah payah menyelinap dan menyamar ke sana, sampai dirayu sama bapak-bapak gendut mesum segala. Pas dia mau berhasil melarikan diri, kenapa dia dibunuh? Banyak sih yang berasumsi Junho sebenernya belum mati. Tapi karena ngga ada penjelasan yang rinci (plus kabarnya ngga ada season 2), ya kita cuma bisa menyimpulkan demikian?

Yahhh, sebenernya aktor sama aktrisnya ngga salah sama sekali. Mereka kan cuma dapat tawaran main, trus memainkan karakter sesuai yang udah tertulis di naskah. Kalo mau nyalahin aku mau nyalahin sutradaranya aja sih. Kenapa Seong Gihun dibuat plin-plaaaaannnnn?!?!

Oke, sekarang kita bahas karakter yang ada di Alice in Borderland!

Ryohei Arisu 'Alice in Borderland'

Ryohei Arisu/Alice (Kento Yamazaki) ehem Si Ganteng Kento memainkan tokoh sebagai pemuda berusia 20 tahun yang sibuk main game di rumah, ngga kuliah, ngga kerja. Karena terus dibanding-bandingkan dengan adiknya, dia memutuskan kabur dari rumah. Ketika kabur, dia harus terjebak dalam dunia paralel dan memainkan game yang membutuhkan strategi. Beruntung dia seorang gamer.

Daikichi Akrube 'Alice in Borderland'

Daikichi Karube (Keita Machida) teman baik Arisu, seorang bartender yang dipecat karena memacari pacar bosnya. Kalau Arisu mengandalkan intelegensi otaknya, maka Karube mengandalkan fisik dan kemampuannya bertarung. Dia digambarkan juga sebagai sosok yang pemberani, gegabah dan loyal.

Chota 'Alice in Borderland'

Segawa Chota (Yuki Morinaga) teman baik Arisu dan Karube. Digambarkan sebagai karyawan sebuah perusahaan IT. Tubuhnya paling kecil di antara dua temannya yang lain. Fisiknya lemah, intelegensinya pun tidak sepadan dengan Arisu. Untuk itulah dia merasa menjadi beban bagi teman-temannya yang lain. Meskipun begitu ketulusan hatinya mempercayai bahwa Arisu dan Karube bisa dipercaya.

Yuzuha Usagi 'Alice in Borderland'

Yuzuha Usagi (Tao Tsuchiya) seorang perempuan mudah yang tangguh. Mengikuti jejak ayahnya, Usagi terbiasa mendaki gunung dan menikmati kehidupan di alam terbuka. Oleh karenanya ia memiliki fisik yang kuat dan mampu memanjat atau berlari dengan cepat. Usagi dan Arisu kemudian saling dipertemukan, dan membentuk sebuah sekutu yang saling bisa diandalkan.

Shuntaro Chisiya 'Alice in Borderland'

Shuntaro Chisiya (Nijiro Murakami) digambarkan sebagai sosok yang misterius dengan rambut putih sebahu, memakai hoodie dan memiliki tubuh lebih pendek daripada kebanyakan orang di sekitarnya. Setiap bermain game, dia mengandalkan kecerdasan dan ketenangannya. Dia ambisius, mementingkan diri sendiri, tidak suka kalah dan pandai menggunakan orang lain untuk kepentingannya.

Hikari Kuina 'Alice in Borderland'

Hikari Kuina (Aya Asahina) memiliki penampilan yang nyentrik yang bikin mata siapapun langsung tertuju padanya. Rambut gimbal, tubuhnya yang cukup tinggi, serta pembawaannya yang tenang tentu menarik perhatian. Oleh karenanya Kuina adalah satu-satunya sekutu bagi Chisiya. Selain cantik dan tenang, Kuina dikenal jago bela diri. Kemudian telat diketahui bahwa Kuina adalah seorang transgender.

Boshiya Hatter 'Alice in Borderland'

Boshiya Hatter (Nobuaki Kaneko) adalah pemimpin ‘Pantai’, sebuah utopia buatan yang menghilangkan semua peraturan yang ada di dunia nyata. Di bawah kepemimpinannya, semua member Pantai bisa melakukan hal apapun yang dilarang di dunia nyata. Dia adalah tokoh yang dipuja karena menciptakan utopia itu, namun tidak beberapa pihak yang diam-diam ingin menyingkirkannya.

Morizono Aguni 'Alice in Borderland'

Morizono Aguni (Shou Aoyagi) adalah pemimpin sebuah kelompok di Pantai yang disebut sebagai ‘militan’. Kelompok yang cenderung berseteru dengan Hatter dan para eksekutif (anak buahnya). Di dunia nyata dia adalah mantan pasukan bela diri Jepang, yang tentu membuktikan dia memiliki fisik yang amat kuat. Meskipun terlihat tenang, Aguni dan anak buahnya tidak segan untuk membunuh siapapun yang mengganggu.

Suguru Niragi 'Alice in Borderland'

Suguru Niragi (Dori Sakurada) digambarkan sebagai bagian dari militan, berambut panjang diikat, memakai tindik di alis kiri, hidung dan lidahnya, serta selalu membawa senapan kemanapun. Seorang tempramen yang menyerang kelemahan orang lain, tidak segan menyakiti, ambisius, gegabah, menghasut orang dengan kata-katanya. Banyak yang berspekulasi dia adalah cerminan lain dari Chisiya. Mereka adalah rival yang sebanding.

Rizuna Ann 'Alice in Borderland'

Rizuna Ann (Ayaka Miyoshi) adalah seorang wanita muda yang cerdas dan berpenampilan elegan. Merupakan salah satu anggota eksekutif yang dipercaya oleh Hatter. Di dunia nyata dia bekerja di bidang forensik. Kemampuan dan ketelitiannya sebagai orang forensik. dibuktikan dalam beberapa scene ketika dia menjadi orang pertama yang curiga pada setiap kasus kematian di Pantai.

Last Boss 'Alice in Borderland'

Last Boss (Shuntaro Yanagi) merupakan anggota militant yang tidak kalah sadisnya dengan Niragi. Digambarkan dengan pria bertubuh bungkuk, kepala botak dan memiliki tato di wajah dan lengannya. Jika Niragi membawa senapan, makan Last Boss membawa pedang sebagai senjata. Dia tidak banyak bicara dan hanya bekerja menjadi bayang-bayangan Niragi dan Aguni.

Mira Kano 'Alice in Borderland'

Mira Kano (Riisa Naka) adalah member eksekutif sekelas dengan Ann. Digambarkan sebagai wanita berambut hitam panjang yang tenang dan pintar memainkan perasaan orang dengan kata-katanya. Kemudian spekulasi bermunculan ketika Mira dianggap sebagai game master setelah muncul di layar dan mengumumkan ada game stage selanjutnya ketika game terakhir (10 hati) berhasil diselesaikan di Pantai.

Nah, untuk penjelasan karakter di Alice in Borderland, agak memakan waktu karena cukup banyak dan kompleks. Tentu aja kompleks, karena ini diangkat dari sebuah komik populer bertema fantasi. Namanya juga live action, mau ngga mau, sutradara dan kru harus menyiapkan waktu super lama untuk casting aktor dan aktris yang cocok. Ngga cuma dari segi aktingnya, tapi dari segi postur dan tinggi badannya juga biar ngga ngerusak ekspektasi penonton yang udah baca komiknya.

Hebatnya, Alice in Borderland punya variasi karakter yang ngga ngebosenin. Baik cewek maupun cowok. Meskipun semua karakter murni diambil dari komik, ngga ada satupun karakter yang terbilang ‘maksa’. Maksudnya, mereka jadi diri mereka apa adanya. Misalnya Arisu, sampai di akhir series pun dia tetep cerdas dan baik hati meski kondisinya tertekan.

Variasi karakternya yang bagus ngebuat penikmat Alice in Borderland punya jagoannya masing-masing. Kalau di Squid Game, yang paling populer ya Si Kang Saebyeok yang emang secara visualisasinya cantik dan cuek. Nah, kalau di Alice in Borderland, beberapa orang ada yang ngejagoin Kuina karena dia cantik dan jago bela diri, ada juga yang kepincut sama visual Chisiya yang dingin dan misterius, ada juga yang justru jatuh cinta sama kebengisan dan kesadisan Niragi. Banyak!

Mereka dapet porsi masing-masing, ngga ada satu karakter yang pesonanya nutupin satu karakter lainnya. Pokoknya pembangunan karakter di Alice in Borderland beneran adil dan seimbang!

Dan dari segi totalitas akting, sorry to say, Squid Game kalah jauh!

Pemeran live action harus mampu mengubah image dan penampilan fisiknya sesuai dari karakter yang diperanin. Aku harus apresiasi Si Ganteng Shuntaro Yanagi yang mau ngebotakin kepala, pake elemen tato di wajah dan jalan bungkuk untuk meranin karakter Last Boss.

Juga buat Niragi yang di balik karakter bejatnya adalah seorang aktor tampan bak idol boy group bernama Dori Sakurada! Kuina yang bukannya keliatan aneh dengan rambut gimbalnya, malah jadi cantik dan bikin orang-orang love at first sight sama dia! Dan meskipun Kento Yamazaki ngga terlalu bertransformasi secara ekstrim secara fisik, tapi akting dia pas nangis karena kehilangan dua sahabatnya jauh lebih dramatis ketimbang tangisan Seong Gihun setelah kehilangan sahabatnya, Sangwoo.

Perbedaan lain juga terletak pada kemenangan Gihun yang terkesan dikarenakan keberuntungan (juga karena banyak yang berkorban demi dia), sedangkan kemenangan Arisu murni karena kecerdasan dan kekompakan timnya dalam membantu.

See? Untuk pembangunan karakter, menurutku pribadi Alice in Borderland dengan 8 episode menang telak ketimbang Squid Game yang punya 9 episode!

SINEMATOGRAFI

Kalau ngomongin film (drama dan series), tentu kita perlu ngebahas sinematografinya juga. Ini PR besar! Ngga cuma alur cerita yang bisa memuaskan penonton, tapi juga dari segi pengambilan gambar dan setting.

Seperti yang aku bilang sebelumnya kalau Alice in Borderland butuh satu kota Tokyo untuk jadi lokasi game, sedangkan Squid Game hanya punya satu lokasi yang sudah diatur sesuai dengan level game. Jadi sebenernya cukup ada perbedaan yang signifikan dari sinematografi kedua series ini.

Alice in Borderland menampilkan lokasi-lokasi dan pengambilan gambar yang variatif. Salah satu scene terbaiknya adalah ketika Arisu cs berada di tengah-tengah persimpangan kota yang kosong. Meskipun hanya menggunakan teknologi green screen, visualisasinya sangat terlihat nyata. Selayaknya kota Tokyo yang kita tahu sejauh ini, sinematografi Alice in Borderland masih berkisar tentang Tokyo. Tidak terlalu banyak space kosong yang diambil untuk membiarkan penonton menghayati scene demi scene. Misalnya dengan kekaguman peserta oleh lokasi permainan yang baru di setiap stage-nya.

Sedangkan Squid Game yang memiliki setting tersendiri harus menampilkan scene-scene tambahan untuk kita agar bisa memahami dan mengapresiasi game apa yang akan datang. Warna yang ditampilkan pun cenderung sama, merah, merah muda, hijau, kuning. Warna-warna yang cenderung digunakan di taman bermain anak-anak. Sebuah ide brilian yang cukup membuat trauma, karena mereka menyuguhkan arena yang seharusnya menyenangkan menjadi sebuah tempat terakhir orang-orang menemui ajalnya.

Dari sini, aku harus mengapresiasi kemampuan sinematografi Squid Game yang memainkan color tune di setiap scene-nya untuk membuat orang-orang bahkan tahu kita sedang menonton apa meskipun terlihat dari kejauhan.

PENUTUP

Terlepas dari review pribadi yang kutulis, aku menyerahkan kembali kedua series ini sesuai dengan preferensi kalian masing-masing. Kalo boleh jujur, aku punya pengetahuan dan pengalaman menonton drama dan film Korea jauh lebih banyak daripada Jepang. Aku murni menulis ini hanya dari pengalamanku selama menonton kedua series ini, mengukur tingkat kepuasanku selama menonton dan kemudian menuangkannya dalam sebuah review.Aku juga belum pernah baca komik Alice in Borderland, jadi ngga bisa menilai apakah live action ini terbilang berhasil?

Tapi saat aku nonton Squid Game akibat terlalu banyak orang yang nge-hype, aku menemukan kesamaan Squid Game ini persis kayak film Parasite. Terlalu dielu-elukan, padahal ada banyak plot hole yang belum terselesaikan. Orang-orang keburu membuat asumsi alur yang tidak berdasar sehingga Squid Game seperti kehilangan jati dirinya sendiri.

Dan Alice in Borderland punya banyak alur misterius yang mengharuskan kita menyimpan asumsi pribadi dan menebak sesuai kapasitas masing-masing. Ada banyak hal yang rumit, sehingga membuat kita perlu usaha lebih untuk berpikir saat menonton Alice in Borderland ketimbang Squid Game.

Dan bagiku pribadi, penilaianku pasti akan sangat berbeda jika Squid Game tidak ‘tercampur’ oleh urusan penonton yang sok menggurui. Mereka terlalu melebih-lebihkan Squid Game, menciptakan spekulasi dan mengiyakan spekulasi yang lain. Terlalu heboh, sampai-sampai aku lupa apa tujuan awal aku menikmati series ini.

Contohnya, mereka mengaku kaget pada fakta Si Kakek adalah dalang di balik seluruh game ini. Sedangkan aku justru menganggap itu salah satu kesalahan besar alur cerita yang dipaksakan!

Kalau boleh jujur, aku menulis review ini untuk menegaskan satu fakta : sesuatu yang berlebihan itu ngga baik.

Squid Game sebenarnya bagus. Tapi karena banyak penonton sok yang mencampuri kemurniannya, Squid Game mulai terlihat banyak kekurangannya. Terlebih setelah aku menonton Alice in Borderland yang tidak se-hype Squid Game.

Dan sekarang harus kuakui Sqid Game tidak meninggalkan bekas apapun padaku, kecuali penampilan Wi Hajun yang kurang cukup spotlight (ya karena aku selalu suka yang ganteng-ganteng hehe). Berbeda dengan Alice in Borderland yang sudah membuatku rewatch cuplikan beberapa episode-nya karena masih belum bisa move on.

Rasanya puas melihat kecerdasan Arisu di beberapa game yang ia mainkan. Rasanya menyenangkan melihat ketenangan Chisiya yang manipulative dan misterius. Rasanya seru melihat intimidasi Niragi, sosok villain sesungguhnya yang bersembunyi di balik peran kuat seorang Aguni.

Sekali lagi ini murni persepsi pribadiku. Sisa keputusan mana yang lebih baik di antara keduanya, ada di tangan kalian.

BONUS!


Last Boss di kehidupan dunia nyata bwahahahahaha ganteng bangeeeettttt



Ngga tau harus nambah berat badan berapa kilo sampe chubby banget Niragi wkwkwkwk
Share:

Monday, October 28, 2019

FAKTA TENTANG 1MILLION DANCE STUDIO



Gedung 1 Million Dance Studio yang ada di Gangnam.

INTRO
Sebenernya aku udah tau lama tentang komunitas dancer ini, pernah sesekali cek video mereka juga. Tapi aku nggak notice sama channel Youtube mereka dan nggak ada rasa kepo yang berlebihan. Aku mulai ngikutin dan cari tau tentang 1Million Dance Studio itu setelah videonya Mina Myoung featuring Mamamoo yang GOGOBEBE. Kebetulan kan aku suka sama lagunya, jadi kepo sama koreonya juga.
Dan dari sanalah aku mulai put my interest for them. Di sini aku mau coba buat nulis entri tentang apa yang aku tau soal 1Million Dance Studio. Check this out!
Jadi apa sih 1Million Dance Studio itu?
1Million Dance Studio adalah sebuah sekolah dancer yang ada di Gangnam, Seoul, Korea Selatan. Dibuka awal Desember tahun 2014. Tapi 1Million Dance Studio baru berfokus untuk mengelola akun Youtube sejak tahun 2015. Pemilik aslinya Timon Youn dan ada nama Lia Kim sebagai co-founder. Dia juga adalah koreografer terkenal di Korea (bahkan di dunia), yang paling berpengaruh dan bertanggung jawab atas semua kegiatan di 1Million Dance Studio.
PENJELASAN MENGENAI KELAS DI 1MILLION DANCE STUDIO
Di 1Million Dance Studio ada banyak guru koreografi. Tiap koreografer punya gaya khas dance masing-masing. Dan bahkan sebagian besar dari mereka udah dipercaya sama agensi terkenal kayak SM, JYP dan YG Entertaiment untuk bikin koreo tarian para idol di sana. Misal ada Kasper yang sering bikinin koreo buat tariannya EXO atau Rikimaru yang dikenal untuk koreografinya Taemin. Mereka juga udah banyak kerjasama bareng brand, artis, musisi dan bahkan pemerintahan Korea.
Nah, total dari koreografer di sana ada sekitar 20-an lebih. Setiap murid yang mendaftar di sana bisa milih mau ambil berapa kelas perbulan dan mau ikut kelasnya siapa. Satu bulan ditarget minimal satu kelas dan maksimal unlimited atau tidak terbatas. Perkelasnya murid harus membayar 35000 won atau sekitar 400 ribu rupiah. Dan untuk kelas unlimited mereka harus keluar duit sekitar 450000 won atau sekitar 5 juta rupiah. Mahal, ya. Hehe. Rugi banget kalo bolos kelasnya.
Nah, setelah kalian bayar dan daftar di meja resepsionis (mereka bisa bahasa Inggris, Cina dan Jepang), kalian bisa mulai ambil kelasnya. Terserah mau mulai kapan, intinya jumlah kelas yang bisa kalian ambil harus sesuai sama jumlah uang yang kalian keluarkan. Misalnya kalian ambil tiga kelas per satu bulan dan kalian suka banget nih sama Lia Kim, kalian boleh ambil tiga kelas Lia Kim atau ambil satu kelas Lia Kim dan dua kelas koreografer lain.
Atau kalo kalian masih ragu sama kemampuan kalian, kalian bisa ambil beginner class. Dan untuk kelas pemula ini, koreografernya bebas, nggak nentu siapa aja yang mau ngajarin pas hari itu. Meski disebut ‘pemula’, sebenernya kelas ini tetep aja susah. Kalian mesti punya basic atau passion yang kuat untuk nge-dance biar rasanya nggak terlalu sulit.
Dan 1Million Dance Studio udah punya banyak banget murid dari penjuru dunia. Bule-bule nekat ke Korea demi bisa ngambil kelas dan jadi seorang dancer. Ada juga yang pas liburan ke Korea iseng ambil satu atau tiga kelas koreografer favoritnya. Aku pengen juga gabung ke sana. Andai dance segampang itu, aku mau ambil kelasnya Junsun, Enoh atau Jinwoo wkwkwk. Langsung patah tulang deh kayaknya.
Selain itu mereka juga sering ngadain workshop keliling dunia untuk memperkenalkan dunia dance dan tentunya 1Million Dance Studio. Mereka pernah ke Indonesia juga di tahun 2017. Tapi nggak menutup kemungkinan para koreografer itu juga mempunyai jadwal untuk mengisi kelas dance di studio lain, bahkan sampai di luar negeri. Mereka juga sering kolaborasi sama korografer lain untuk mengisi kelas-kelas yang ada. Dan tentunya dibayar! Bayangin betapa kayanya mereka hohoho. Marry me, Jinwoo!
KOREOGRAFI YANG DIPOSTING DI CHANNEL YOUTUBE 1MILLION DANCE STUDIO
Setiap koreografer punya ciri khas koreografi dan jenis dance sendiri. Ibarat kayak guru di sekolah gitulah, ada yang galak, ada yang nyantai, ada yang seneng bercanda dan lain sebagainya. Tapi aku percaya sih di samping mereka semua bertalenta, mereka juga lot of fun. Mereka sering menyampaikan kepada penonton buat jangan takut untuk berinteraksi sama mereka di kelas, karena nggak seperti yang terlihat saat nge-dance, mereka juga seru dan bisa diajak diskusi bareng, kok.
Beberapa dari mereka juga ngasih kriteria buat kelasnya masing-masing. Misalnya, Koosung Jung yang nggak terlalu seneng punya murid banyak. Jadi kalo ada yang mau daftar ikut kelasnya, dia bakal batesin cuma beberapa orang doang. Meski batesan satu kelas boleh diikutin oleh 60 orang (termasuk murid dan koreografer lainnya). Iya, sesama koreografer boleh saling ikut kelas masing-masing. Untuk tetep bayar atau nggaknya sih aku nggak tau wkwkwk.
Setiap kelas dibagi menjadi tiga hari. Hari pertama semua murid pendaftar boleh ikut. Hari kedua, koreografer itu milih beberapa yang terbaik untuk diasah lagi di hari berikutnya. Dan hari ketiga adalah hari pengambilan video. Koreografer biasanya ambil murid terbaik untuk jadi penari latar mereka dan beberapa sisanya bisa masuk video itu juga. Sebuah kebanggan kalo seorang murid bisa masuk ke dalam video untuk kemudian diupload di Youtube dan ditonton sama jutaan orang.
Well, di tahun 2016 channel Youtube mereka udah mencapai 1 juta subscribers. Dan saat aku nulis ini, subscriber mereka udah mencapai 18 juta! Wow, daebak! Tujuh belas juta orang dalam tiga tahun!!! Dan aku yakin sih mereka mampu mencapai 20 juta nggak lama lagi.
Selain upload kegiatan kelas atau project dance mereka, 1Million Dance Studio juga punya channel Youtube selingan yaitu 1Million TV dan 1Million Life. Kalo 1Million TV isinya kayak variety show gitu, ada behind the scene pembuatan video, ada battle dance, battle rap, prank, daily life dan lain sebagainya. Sedangkan kalo 1Million Life isinya tentang tutorial dance dari para koreografer. Sayang kedua channel itu sekarang udah jarang upadate.
PARA KOREOGRAFER KECE!
Seperti yang udah kubilang, 1Million Dance Studio ini punya banyak banget koreografer bertalenta. Kebanyakan dari mereka direkrut sama Lia Kim lewat open recruitment. Jadi mereka ngelamar buat jadi instruktur di 1Million Dance Studio kayak pegawai yang ngelamar kerja gitu.
Tapi ada juga murid yang ditawarin untuk punya kelas sendiri setelah mereka jadi ikut kelas selama beberapa bulan atau tahun dan menunjukkan progess yang bagus. Mereka yang udah sibuk sama karir masing-masing juga masih boleh ngajar di sana. Koreografer 1Million Dance juga boleh dateng ke studio lain untuk punya kelas sendiri dan begitu pula koreografer dari studio lainnya. 
Nah, di sini aku bakal bahas sedikit tentang koreografer yang paling aku kepoin dari 1Million Dance Studio.
Junsun Yoo

Foto Junsun di kanal Youtube-nya yang bikin aku love at first sight.

Ini bias pertama aku di 1Million Dance Studio. Koreografer pertama yang aku suka hanya karena dia selalu senyum pas nge-dance. Udah ganteng, ada tahi lalat kecil di hidungnya pula, lucu! Junsun ini punya jenis tarian atraktif yang fast moving. Banyak banget gerakan dance dia mengandalkan kecepatan perpindahan kaki. Junsun juga suka ngambek, digodain yang lebih tua, ngerusuhin May J dan sedikit pemalu. Kesan dia malah lucu daripada seksi sih wkwkwk. Makanya di mata para murid, Junsun ini playful dan mudah dideketin.

Rambut panjang Junsun dan jaket warna favoritnya.

Dia suka musik hip hop, dia fans-nya Zico dari Block B (hampir tiap Zico rilis lagu, Junsun langsun bikin koreografinya), dia PD pake baju colorful kayak kuning, biru, merah dan lebih suka nge-dance dengan celana pendek. Junsun ini juga punya adik yang jadi anggota girl group Oh My Girl namanya YooA. Adeknya tjakep bener kayak boneka. Abangnya juga cakep sih. Junsun kelahiran 1994, sedangkan adeknya 1995. Kalo mereka foto bareng bisa kayak orang pacaran gitu, lucu.
Sekarang Junsun tampil lebih dewasa dengan rambut ikal gondrong. Dia juga keliatan lebih matang gitu, dari segi koreografi dan pembawaan sifatnya. 
Eunho Kim aka Enoh

Bentuk rahang Eunho dan bentuk alisnya bikin dia makin keliatan maskulin.

He’s my bias wrecker!
Aku suka dia setelah Junsun. Senyum gingsulnya lucu, orangnya juga playful kayak Junsun. Banyak murid yang nggak nyangka sama sifatnya yang ramah ini. Bahkan banyak koreografer lain yang suka ikut kelasnya dia. Katanya sih pas kelas dia serius gitu, eh pas breaktime dianya kocak. Eunho ini punya gerakan yang powerful dan artistik. Badannya tinggi kurus, jadi keindahan koreografi tarian yang kubilang artistik itu beneran kerasa.
Eunho dikenal dengan matanya yang besar dan bibirnya yang kecil dan tebel. Dia ngaku kalo dia seksi, tapi menurutku Eunho ini hanya tampan. Kalo seksi, masih banyak koreografer yang lebih seksi daripada dia wkwkwk jahat. Eunho ini paling klop sama Junsun kayaknya. Soalnya mereka seumuran, sifatnya juga sama. Mereka udah dikenal sebagai best buddie sama para fans 1Million Dance Studio.

Peoples say he's changed. For me he's just getting better.

Di antara semua koreografer, Eunho-lah yang bikin semua fans kaget. Kalo Junsun sekarang manjangin rambutnya, Eunho malah ngebotakin rambutnya. Banyak yang ngira dia abis wamil, tapi jarak dia jadi botak cuma beberapa minggu. Dan pada saat dia muncul dengan kepala botak, namanya udah ganti jadi Enoh, bukan Eunho Kim lagi.
Satu hal yang bikin kaget juga adalah Enoh kayaknya baru bikin IG lagi. Di IG dia sekarang juga dia jarang upload tentang dance lagi, dia lebih sering posting tentang foto ala model. Gaya tariannya juga katanya berubah, dia keliatan jauh lebih misterius dan nggak seceria dulu. Aku yakin dia menemui babak baru dalam hidupnya. Cuma dia yang tau.
Mina Myoung

Perut sobeknya :(

She’s an angel!
Suka banget liat Mina karena wajahnya sama koreografinya itu menunjukkan dia seksi, siapapun pasti tergoda sama dia, tapi dia juga tangguh, jadi nggak ada yang berani sama dia. Aku nggak pinter ngejelasin, tapi begitulah yang kuliat dari sosok Mina.
Dia cantik, bodinya bagus, punya abs pula. Ikon cewek seksi yang dimiliki 1Million Dance Studio. Nggak heran sih Mina suka pake crop top, bentuk perutnya bagus banget. Cewek ber-abs kan jarang ada gitu. Dia juga punya jenis tarian seducting, yang kayaknya selain berhasil buat godain cowok juga bakal berhasil bikin cewek-cewek terpukau deh.
Mina ini cenderung serius dan nggak begitu suka bercanda. Waktu dia lagi sesi pemotretan, ada Junsun sama Eunho bercanda dia nyuruh diem. Katanya berisik. Meski sebenernya Mina ini seumuran juga sama Junsun-Eunho.
Meski begitu, aku mungkin nggak bakal berani ambil kelasnya Mina. Im not that sexy to dance like her.
May J Lee

Kenapa imut banget sih Mbak?

Meskipun usianya nggak muda lagi (dia kelahiran 1988), May J Lee tetep aja punya wajah baby face yang cantik dan imut. Dia selalu ngingetin aku sama sosok Haruka ex-JKT48. Rambut bob sebahu, berponi dan murah senyum. Karena sifatnya yang childish dan lucu, May Jee sering banget digodain sama yang lebih muda.
Junsun adalah biang kerok yang demen bikin May J ngambek. Tapi mereka udah kayak kakak adek gitu, May J nggak pernah serius ngambek sama Junsun dan Junsun selalu minta maaf setelah godain May J.
May J ini punya tarian yang feminin dan cheerful. Kalo Junsun adalah King of Smile-nya 1Million Dance, maka May J adalah Queen-nya. Mereka murah senyum baik itu di dalam kelas atau di luar kelas. Dan menurutku May J ini adalah member tercantik. Mau dibikin gaya apapun dia tetep cantik. Gayanya dia yang bikin kaget itu waktu dia kolab di videonya Killagramz bareng Junsun dan Eunho. Gilak itu asli cakep bener!
Lia Kim

Ekspresi Lia selalu bagus. Master.

Lia Kim sepertinya yang tertua, sesepuh gitu wkwkwk. Jelas dia pendiri 1Million Dance Studio. Kehebatan koreografinya udah nggak diragukan lagi (menurutku dia yang paling menguasai banyak macam koreografi) ini udah pernah kerja bareng sama gitaris hot nan tamvan dan seksi dari Jepang, Miyavi. Pernah juga diundang sama tim Running Man buat bantu ajarin dance. Kiprah karir dan namanya udah nggak diragukan lagilah.
Tapi entah aku nggak begitu suka liat koreografinya Lia, karena udah terlalu bagus dan dia bisa menguasai segala jenis tarian, jadi kurang ada ciri khasnya gitu menurutku. Tapi seandainya aku beneran bisa milih kelas di 1Million Dance Studio, aku bakal ambil salah satu kelasnya Lia, karena aku tau dia instruktur dan guru yang tegas. Aku pengen cepet bisa kayak anggota Running Man wkwkwk.
Jinwoo Yoon

Ah, kamu, nggak tau umurmu tapi kupanggil dedek.

He's my another bias wrecker!
Mukanya itu imut, tapi gayanya swag. Dia mau tampil keren kayak apapun, mukanya tetep imut. Bahkan dia tetep imut di mataku meski ada tato di lengannya hahahah. Dia flat mukanya aja tetep imut, kalo senyum ya makin ambyar dah.

Tatomu ih :(

Nggak ada satupun web yang nyebutin dia kelahiran tahun berapa. Tapi kayaknya lebih muda daripada Junsun-Enoh, deh. Jinwoo punya khas tarian popping di hampir tiap koreonya. Aku bisa cepat menyimpulkan setelah nonton koreonya dia yang Believer milik Imagine Dragons. Setelah liat yang lainnya, eh ternyata beneran cukup banyak popping-nya.
Of course, aku bakal ambil kelasnya Jinwoo kalo berkesempatan!
Koosung Jung

Pas project ini Koosung keren banget sih. 

Ini nih koreografer yang ngaku suka ikut kelas koreografer lain, dan dia ngaku paling suka ikut kelasnya Enoh. Koosung sama Enoh dibilang bromance banget. Makanya Koosung berpesan sama Enoh, jangan terlalu mencintaiku, hubungan kita cuma sebatas pekerjaan. Kocak ih wkwkwk.
Aku belum begitu banyak nontonin video-video dia, sih. Tapi yang aku tau Koosung ini punya kepribadian yang agak pendiam dan pemalu di luar kelasnya. Dia merupakan murid di 1Million Dance Studio sebelum akhirnya bergabung menjadi koreografer dan punya kelasnya sendiri. Btw, dia kelahiran 1991.

Rambut ini mengingatkanku pada koreo Bad Guy - Billie Eilish-mu.

Oh, ya, Koosung juga salah satu koreografer yang penampilannya berubah. Dia sekarang manjangin rambut bagian depannya, jadi kayak ada poninya gitu. Makin tjakep, deh. Keep this style, Dude!
Yoojung Lee

Kamu sama Koosung aja, kalian cocok sih.

Si cantik nan kalem. Kalo disuruh milih mau macarin koreografer cewek siapa di 1Million Dance, aku bakal milih Yoojung. Dia keliatan manja tapi nggak kekanakan, keliatan feminim tapi ada kesan kuat. Jenis koreografernya nunjukin segi keindahan dengan sebagian besar pake lagu-lagu dramatis.
Cewek kelahiran 1992 ini sering dikapelin sama Koosung. Tapi aku paling suka sama couple dance dia bareng Eunho yang Maroon 5 - Sugar. 
Shawn

Dear, Shawn. Panjangin rambut gih, pasti makin seksi.

Nama aslinya Hwang Se Hyun. Dulu sempet kukira dia bule gitu gara-gara namanya. Aku baru-baru aja nih merhatiin Shawn. Ternyata dia cocok masuk daftar koreografer cowok terseksi karena dia sering tampil memamerkan tato-nya dan tindiknya. Aku suka liat tatonya Shawn omg! Coba cek Instagramnya deh.
Shawn ini juga sering muncul jadi penari latar koreografer lainnya. Dan di mana dia muncul, di situlah ada Jacob. Banyak banget kelas yang mereka ambil bareng wkwkwk. Dan kayaknya mereka berdua ini seneng ambil kelasnya Junsun. Jadi aku belum kenal banget sama jenis ciri khas tarian dia itu gimana. Intinya, Shawn ini awet dengan gaya rambutnya yang berponi gelombang wkwkwk.
Jacob aka Jun Liu

Kulit putih, bibir kecil merah, jago nari. Kurang apa kamu?

Atau dikenal juga sebagai Jun Liu.  Dia half-Chinese. Makanya muka dia agak-agak gimana gitu. Jacob ini dulunya hanyalah seoarang murid di 1Million Dance Studio. Karena performanya makin bagus, dia diangkat untuk jadi salah satu instruktur koreografi juga. Dan karena dia kelahiran 1997, dia dinobatkan sebagai koreografer termuda.
Dia sering jadi penari latar di belakang koreografer lain yang kebanyakan bareng  sama Shawn. Kalo dari sudut pandang penonton, Shawn di sebelah kanan, Jacob di sebelah kiri. Bareeeeng mulu. Junsun sama Enoh yang best buddies aja jarang ikut kelas bareng, wkwkwk.
Dan karena performanya bagus, pada akhirnya di tahun 2017 dia resmi menjadi koreografer yang boleh membuka kelasnya sendiri. Tampang imut, tariannya artistik ngebuat Jacob punya banyak fans. Coret dia dari daftar koreografer cowok terseksi, karena menurutku dia koreografer cowok terimut!
Austin Pak

Tidak bermaksud nantangin, tapi emang cuma
nemu foto ini yang bagus.

Yeuh, awalnya aku nggak kenal dan nggak suka sama Austin Pak ini. Tapi pas tau dia salah satu kandidat koreografer cowok terseksi dengan abs dan tatonya, aku mulai tertarik wkwkwk.
Sebagai ikon cowok seksi, Austin juga sering bikin koreografi buat lagu-lagu yang bisa menampilkan kemaskulinitasannya! Kalo istilah di Indonesia apasi yang alay gitu, rahim anget. Iya anjer liat dia nge-dance bikin rahim anget wkwkwk. Udah, sekarang buruan cek video koreonya buat lagu Senorita bareng May J Lee. Jantung nggak pa-pa gitu liat Austin dalam balutan sleveless plus celana item dan otot bisep yang tampak menantang?
Bongyoung Park

Banyak foto dia yang lebih layak, tapi sebagai pendukung
konten yang kutulis, fotonya begini aja ya.

Ini dia nih koreografer dengan julukan King of Couple Dance. Dia sering banget bikin koreografi buat couple dance. Maklum ya, dia ini ibarat ketua kelasnya persatuan koreografer cowok terseksi. Setahuku dia nggak punya tato, tapi itu nggak mengurangi keseksiannya. Cowok kelahiran 1991 ini punya postur badan yang tinggi banget. Dan muka mirip sama Rich Brian wkwkwk. Rich Brian versi tinggi.
Bongyoung agak berbeda sama Austin atau Shawn yang juga kubilang seksi. Bedanya apa? Dia lebih cheerful, terbuka, nggak misterius gitu. Banyak nih murid cowok yang ikut kelas dia karena mendadak pengen seksi sekaligus punya mentor baik hati.

Katanya Bongyoung sering dapet komen tentang fans cowoknya yang berharap dia gay. Saking seksinya! Dan dengan muka lucunya Bongyoung bilang, maaf ya saya bukan gay, hehe.
Tapi sayang, Bongyoung udah resmi meninggalkan 1Million Dance Studio dan katanya sih dia bikin studio dance sendiri. Tapi sepertinya dilihat dari IG dia, Bongyoung ini lagi vakum karena sedang menjalankan wamil. Mau lihat foto dia wamil? Cus ke IG-nya! Tiati tapi ya sama hati kalian, seksi soalnya.
Sori Na

Cantik sih, tapi kalo garang cantiknya ilang. 

Salah satu koreografer cewek yang sering dikapelin sama banyak banget koreografer cowok. Mulai dari Koosung, Junsun sampe Bongyoung! Mukanya yang imut dan karakternya yang swag bikin Sori Na ini punya banyak fans, karena dia juga kelihatan tangguh gitu di depan cowok-cowok.
Sori Na juga satu-satunya orang di 1Million Dance Studio yang bisa menghentikan keusilan seorang Junsun Yoo. Junsun paling nggak bisa ngelawan dia. Selain dia lebih tua 2 tahun dari Junsun, Sori Na ini juga sering bales ngusilin Junsun. Makanya Junsun sama Sori Na sering banget dikapelin.
Sayangnya, dia memilih berhenti dari 1Million Dance untuk fokus mengejar karir sebagai guru dance di universitas seni.

Rikimaru


Orang jelek ngedance aja jadi cakep,
lah apa kabar yang modelan begini?

Satu fakta lagi kalo sebenernya 1Million Dance Studio ini nggak hanya punya koreografer dari Korea aja. Salah satunya Chikada bersaudara. Tapi aku lebih demen sama abangnya, Rikimaru. Sekilas tampangnya nggak kayak orang Jepang, tapi kalo lama kelamaan diliat, muka dia kerasa Jepangnya wkwkwk.
Ini sih salah satu koreografer tertamvan di 1Million Dance Studio. Jago bahasa Inggris dan humoris pula. Dia itu tipe orang ganteng yang berani tampil jelek. Sayangnya, cowok kelahiran 1993 ini udah keluar dari 1Million Dance Studio dan lebih berfokus untuk buka kelas dance di Jepang bareng adiknya, Yumeri.
Yumeki 

Kayak orang Indo kamu. Eh, orang indo yang kayak kamu.

Terakhir nih! Nama koreografer yang paling hot issue. Kenapa? Karena selain namanya yang cakep, yaitu Yumeki Takenaka, dia juga punya good looking face yang cenderung imut dan bisa menjadi saingan terberat Jacob untuk menduduki posisi koreografer cowok terimut di 1Million Dance Studio!
Yumeki udah punya banyak kelas dan ngajar di berbagai macam studio dance. Tapi dia baru gabung sama 1Million Dance Studio akhir-akhir ini. Jadi namanya masih belum terlalu dikenal sama para fans. Beruntung sih cowok kelahiran Korea dengan nama kayak orang Jepang ini punya wajah yang 'cantik', jadi fans-nya langsung bejibun ada banyak.
Dan rekor yang terpecahkan dari Yumeki adalah dia kelahiran 1999. Dan merebut gelar koreografer termuda di 1Million Dance Studio yang sebelumnya dipegang oleh Jacob. Wow, daebak!

Penutup
Sebenernya ada banyak nama-nama lain koreografer kece dari 1Million Dance Studio. Misalnya ada Minny Park, Tina Boo, Jin Lee, Jay Kim dan lain sebagainya. Tapi seperti yang kubilang, di atas adalah sebagian koreografer yang paling sering mengisi kelas dan paling aktif di 1Million Dance Studio.

Meskipun mereka adalah koreografer tetap di 1Million Dance Studio, mereka sesekali punya jadwal untuk ngajar di kelas studio lain, kadang ada workshop kolaborasi sama koreografer internasional juga. Jadi jadwal mereka sebenernya sangat padat. Dan kalo misalnya koreografer utama kayak mereka sedang sibuk, ada beberapa koreografer baru (entah itu dari luar studio atau dari murid yang berpotensi) buat ngisi kelas di 1Million Dance Studio.

Kalian bisa samperin langsung channel Youtube mereka dan jadilah saksi tentang kehebatan dance para koreografer kece dengan pesona dan ciri khas masing-masing. Ada juga playlist video yang mereka buat sesuai dengan nama koreografernya. Dan sampe sekarang Junsun sama Mina Myoung yang video kelas koreografinya paling banyak diupload!
Semua entri ini aku tulis atas dasar have fun karena aku seneng bisa mengenal orang-orang bertalenta yang kece seperti mereka (meski telat as always). Dan isi dari tulisan ini murni diambil dari sudut pandangku. Info-info yang aku dapetin dari berbagai sumber, termasuk video-video yang mereka upload. 
Entri berikutnya bahas apaan lagi, ya?

Share: