Showing posts with label whatsonmind. Show all posts
Showing posts with label whatsonmind. Show all posts

Saturday, November 30, 2024

Mari Kita Apresiasi Tahun 2024 dengan Cara Menjengkelkan

 Halo, ini aku — Radiva yang sebentar lagi bertambah usia. Memasuki bulan Desember mendadak menjadi menyeramkan untuk aku yang tahun ini tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Sudah kubahas di entri sebelumnya, 2024 tidak banyak yang berarti. Atau memang akunya saja yang menganggap semuanya jadi tidak berarti.

Tahun ini dengan cepat aku kehilangan dan mendapat teman. Aku cukup banyak menemui orang, namun tidak ada yang benar-benar bisa membuatku 'secure'. Aku berusaha melunak, mengalah, kembali menjadi seorang Mediator yang tidak suka berdebat dan menghindari pertikaian. Namun aku juga berubah cepat menjadi 180 derajat berbeda, mengonfrontasi, memarahi dan berdebat dengan orang yang mengusik kedamaian atau idealisme tertentu.

Siapa sangka? Aku bisa merasakan perasaan yang bergejolak untuk menyakiti orang lain — dan diri sendiri. Pikiran menyayat pergelangan tangan tidak muncul, jujur saja. Tapi apa yang berkelebat di kepala adalah perasaan ingin menampar orang, menendang badannya dan memaki di depan wajah mereka. Entah siapa. Dan juga hadir perasaan ingin merusak diri dengan menghantamkan kepalan tangan di kaca atau cermin, membanting barang dengan sekuat tenaga atau berteriak secara bebas untuk mengeluarkan semua jenis emosi.

Karena, aku tidak menangis.Tidak untuk emosi yang entah bentuknya apa.

Tapi demi bisa menenangkan sisi mengerikan yang ingin mengintip dari balik kepribadianku, aku coba akan menariknya untuk flashback kepada apa yang terjadi di tahun 2024 ini. Dan tentu, di setiap momen akan kutambahkan bentuk pelajaran apa yang bisa aku dapatkan.

1. Mengikuti Komunitas Buku

Sebagai seorang introver yang berelasi hanya dengan orang-orang hitungan jari, menjadi sebuah tantangan tersendiri untukku mengikuti sebuah komunitas buku. Aku terbilang member yang mendahului saat jumlah peserta yang hadir tidak lebih dari 10 orang. Aku bertemu orang-orang dengan pola pikir beragam yang luar biasa. Seketika rasa banggaku pada diri sendiri menyurut, seolah aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan mereka.

Kemudian entah apakah aku terlalu menonjol atau memang mereka gambling saja, aku terpilih menjadi salah satu panitia yang membantu keberlangsungan komunitas debutan itu. Sampai jumlah member-nya melampaui 25 orang. Apakah aku bangga? Tentu saja aku bangga. Bukan pada diriku sendiri, melainkan pada mereka yang bisa datang untuk memberikan kesan pesan tentang buku yang mereka baca dan tentang pengalaman pribadi mereka.

Sebagai seorang emotional master (referensi ini aku dapatkan dari sebuah video Youtube untuk melabeli INFP), aku tergugah pada cerita individu setiap member yang berusaha membuka diri. Aku senang dan mendapatkan energi untuk memahami perjuangan mereka. Seperti mendapat teman seperjuangan. Ada yang jauh lebih menderita daripada aku. Begitulah yang kurasakan. Sehingga aku menganggap komunitas ini menjadi seperti 'rumah kedua'.

Dibandingkan seseorang yang menganggap komunitas ini sebagai komunitas membaca buku biasa yang tidak punya aturan — hanya karena dia datang untuk menunjukkan berapa banyak judul buku yang dia tuntaskan — aku dan beberapa orang lainnya menganggap semua member adalah keluarga yang mesti dijaga dan dirayakan. Namun, orang ini merusak dengan egonya yang sama sekali tidak menghargai perasaan orang lain. Dia sebut orang-orang sepertiku sebagai orang sensitif yang tantruman hanya karena aku merasa gagal untuk merayakan kepergian salah satu member yang bahkan lebih dulu kukenal.

Seketika aku menarik diri dari komunitas ini. Hanya karena orang ini berada di sana tanpa merasa perlu meminta maaf, sedangkan dia memerintahkan aku untuk meminta maaf secara sopan layaknya pelaku pembunuhan yang akan diliput di berita televisi. Egonya besar sekali, cara bicaranya kasar dan konfrontasinya membuat panitia lain seketika berubah dari bilang A jadi bilang B. Pengaruh yang luar biasa. Sehingga aku manifestasikan sebagai salah satu bentuk pertahanan diri yang bisa ditiru — meskipun salah. Hahahaha. 

Persetan dengan orang ini. Dengan tanpa usaha berlebih aku memilih menyimpan energiku untuk memblokir semua akses dari dia, termasuk akses untuk mengikuti kembali komunitas buku ini. Toh, tanpa mereka aku juga masih bisa baca buku sebebasnya, masih bisa mendengar cerita dari para 'pasien'-ku sambil minum kopi, masih bisa berkumpul dengan orang-orang yang jauh lebih luas dan beragam hobi dan latar belakang ketertarikannya. Bukan cuma kutu buku.

Meskipun harus melepaskan, setidaknya aku punya banyak referensi buku yang menarik dan intensiku untuk membaca buku di tahun ini mendadak berkembang pesat. Tahun lalu aku hanya menyelesaikan 4 buku. Tahun ini saat entri ini ditulis, aku sudah melahap 13 buku. Sebuah apresiasi yang hebat!

2. Pengalaman Kerja Baru

Sekali lagi aku bertanya, apakah aku terlalu menonjol atau mereka hanya gambling untuk menerimaku bergabung di perusahaan mereka? Sebuah perusahaan berkembang yang produktif — yang siapa pun jika menyebutnya akan membawa rasa bangga tersendiri. Tapi ternyata kenyataan di baliknya berbeda sepenuhnya.

Sub-judul kutulis 'pengalaman kerja baru' karena sungguhan baru. Dalam sekitar kurun waktu 8 bulan aku menemukan banyak pengalaman yang bisa menamparku untuk lebih berhati-hati dalam menandatangani dokumen perusahaan yang melibatkan pihak pekerja dan perusahaan. 

Aku boleh saja baru punya satu pengalaman kerja, nyaris 4 tahun lamanya. Di bidang yang sama, yaitu 'marketing'. Secara CV seharusnya sudah menjanjikan. Terlebih di perusahaan sebelumnya aku benar-benar difasilitasi belajar marketing selama bertahun-tahun semenjak wabah Covid melanda. Aku selalu bilang ketika alasan kenapa aku bertahan di perusahaan itu meskipun dengan gaji yang tidak seberapa; "Cuma di sini kita belajar, kita dibayar."

Wow, terdengar seperti maniak belajar. Tapi jujur saja, skill dan pengalamanku bertambah berkali-kali lipat. Aku yang introver, kadang bisa switch mode to extrovert ketika dibutuhkan. Aku yang malu mengawali pembicaraan atau takut pergi kemana pun sendirian mendadak jadi fasih menghadapi semuanya akibat tuntutan pekerjaan.

Jika kubandingkan dengan pekerjaan sekarang, aku juga punya skill dan pengalaman baru yang bahkan bertambah sebelum aku genap bekerja selama satu tahun di sini. Skill dan pengalaman itu adalah skill konfrontasi dan pengalaman mendeteksi perusahaan yang punya system failure. Termasuk politik di dalamnya dengan permainan ala koruptor yang banyak menyembunyikan rahasia. Wow, tentu ini menjadi pengalaman langsung yang berharga. Mengetahui bahwa karakter seseorang bisa 'dibentuk' oleh kekuasaan dan uang.

Demi Tuhan, drama Korea yang aku tonton ternyata terjadi sungguhan di depan mataku. Bodoh jika mereka menganggap aku menerima banyak informasi yang tidak seharusnya keluar. Aku seorang intuitive — yang bahkan jika dicek berkali-kali MBTI-nya akan terus memasang huruf N ketimbang S. Aku bisa 'membaca' orang dan situasi dari intuisi, jadi aku hanya perlu penegasan dengan deklarasi dari yang lain. Kemudian aku akan berkata dalam hati; "Tuh, kan benar!"

Namanya perintis, terdengar luar biasa dalam kurun waktu dua tahun sudah ada sekian outlet dan ratusan karyawan. Ketenaran dan uang barangkali bisa dikantongi dengan mudah. Tapi aku lupa pada fakta barangkali perkembangan pesat yang terjadi bisa saja tidak seimbang dengan pemahaman pemimpinnya kepada managemen tim dan sistem kerja yang sempurna.

Aku yang terbiasa di-nina bobo di perusahaan sebelumnya dengan kelas gratis, buku, seminar untuk menjadi leader dan marketer yang baik mendadak clueless pada job desc pekerjaan sendiri. Belum tahu apa-apa soal sistem internal perusahaan sudah langsung ditodong dengan angka produksi yang mesti keluar besok. WTF? Aku bahkan tidak pernah tahu SOP, KPI dan visi misi perusahaan. Tiba-tiba banget diagungkan materi PPT-nya hanya untuk meningkatkan rasa percaya diri pada posisi tertentu, kemudian dicaci maki dan diteriaki materi PPT yang sama untuk demand semua dapat bekerja sesuai keinginannya. 

Katanya uang bukan masalah. Gaji bisa dibicarakan. Nyatanya, untuk apa gaji bertambah hanya demi bisa menjalankan kapal tanpa navigasi? Membungkam mulut dengan memberi privilige gaji dua digit dan double job? Tidak masalah jika datang terlambat dan tidak ada uang overtime — meski overtime seringkali dikaitkan dengan loyalitas. Kontradiktif sekali.

Apa yang paling lucu adalah kenapa aku bisa-bisanya ditipu dengan sign contract yang jelas-jelas merugikan sebelah pihak. Dokumen kontrak yang 'katanya' adalah peraturan perusahaan(?) dan sama sekali tidak ada copy-an slip gaji. Banyak pelanggaran yang terjadi, tapi belum satu pun yang bertindak untuk melaporkan. Mari bertahan untuk menyaksikan keruntuhan.

Ini pelajaran keduaku di tahun 2024. Intinya, bukan cuma cowo saja yang bisa dilabeli red flag. Perusahaan pun sama. Ngga melulu mereka bagus di branding, internal SDM-nya juga sama bagusnya. No way. Literally big NO. 

3. Kita adalah Manifestasi Masa Lalu

Aku bangga menggunakan kapabilitas intuisiku untuk mendeteksi orang dan lingkungan sekitar. Terlebih ketika aku bisa meraih mereka dan membuktikan intuisiku benar. Di tahun 2024, aku banyak sekali menjadi destinasi bagi beberapa orang yang membutuhkan pertolongan. Minimal validasi, lebih lagi kalau bisa solusi. Mulai dari yang perkara pacarnya, perkara pendidikannya, perkara orang tuanya, perkara saudaranya, perkara finansialnya, sampai perkara rumah tangganya. 

Aku sempat mikir; "Buset, ini kalo aku pasang tarif sepertinya lumayan."

Aku juga kurang tahu dapat kekuatan dari mana menjadi salah satu tempat ternyaman mereka untuk menceritakan hal-hal sekrusial itu. Dibandingkan dibuat sibuk oleh pekerjaan— yang mana mungkin sibuk, untuk realisasiin satu project aja alurnya lama banget— aku lebih sibuk keluar dan menjadi 'psikolog' amatir mereka.

Mereka akan selalu memulainya dengan "Kamu sibuk ngga?" untuk yang bisa bertemu tatap muka atau "Aku boleh telepon?" untuk yang jaraknya jauh. Aku selalu mengedepankan mereka, bahkan mengorbankan kebutuhan pekerjaan sendiri demi bisa memenuhi ruang kebutuhan mereka. Jika hal yang kulakukan sama seperti seorang hero menolong civilian, barangkali aku sudah masuk ke daftar Avengers, hahahahaha.

Karena penasaran, aku mencoba mengambil beberapa review dari mereka soal kenapa mereka mempercayaiku untuk mendengar cerita seberat dan serumit itu? Mereka bilang; "Karena aku tau dari awal kamu ngga judgmental." Ada pula yang bilang; "Kamu pendengar yang baik, aku ngerasa aman."

Apakah aku terbang? JELAS. Daripada orang-orang yang cuma bisa konfrontasi tanpa bisa memahami emosi orang— seperti menyebutnya oversensitive dan enggan meminta maaf— aku bangga menjadi orang yang ada dan dipercaya kapabilitasnya sebagai individu yang memikul bersama beban mereka. Karena why not? 

Orang sialan itu sempat mempertanyakan aku kenapa aku 'memvillainized' diri sendiri? Apakah untuk terlihat lebih dominan dan overpower? Aku berpikir dalam dan kemudian mengiyakan, tentu saja aku perlu terlihat dominan untuk bisa dilihat potensi dan kapabilitasnya since I couldn't offer both of visual and wealth? Dan ternyata, aku justru menjadi lebih kuat dan solid ketika ada orang yang membutuhkanku. Bukan karena ingin dominasi, lebih ke rasa bahagia ketika kamu berhasil membantu orang lain.

Tahu kan bagaimana perasaan itu? Seperti lega dan bangga.

Tidak cuma dari pihak-pihak baik saja. Aku juga menilai orang-orang 'jahat' (di hidupku) melalui intuisi dan ceritanya secara langsung. Aku memahami benar bahwa setiap perilaku mereka adalah manifestasi masa lalu yang barangkali 'menyangkut' dan belum selesai. Sehingga menciptakan karakter yang demikian. Jadi semisal perempuan gila itu memelototiku dengan matanya, berteriak dengan suara keras yang bising, aku tahu itu adalah manifestasi bahwa di rumah, dia adalah orang yang diperlakukan sama. 

Dari korban, menjadi pelaku. Selalu begitu, bukan?

Hal ini juga terjadi padaku yang ternyata punya konklusi setelah berkonsultasi dengan psikolog. Manifestasi sikap dan reaksiku yang cukup private (atau sederhananya dicap cuek), serta bagaimana aku berusaha ada di setiap kesulitan temanku untuk mendengarkan cerita mereka dan membantu mencarikan solusi. Nyatanya, itu adalah manifestasi karena selama ini aku jarang dan nyaris tidak pernah didengarkan. Komunikasiku minim sekali sejak kecil, sehingga itu juga menyebabkan aku kesulitan berkomunikasi dalam sistem profesional.

Jadi, jika pemimpin perusahaanku (aku malas menyebutnya bos atau direktur— karena aku pun tidak tahu dia memosisikan diri jadi apa) bersikap grasak grusuk tanpa planning, suka men-delay dan sekaligus menuntut semua terjadi sesuai deadline, serta punya penyakit trust issues yang parah— sampai membatasi akses pada data, sampai membeli jabatan orang hanya untuk menguntit— tentu saja aku paham. Paham betul bahwa itu semua manifestasi bahwa dia tidak pernah dipercaya di masa lalu. Atau boleh kukatakan secara kasar 'kamu tidak punya apa-apa untuk ditawarkan dan dibanggakan, sehingga orang-orang tidak mempercayaimu'.

Tidak apa-apa, aku paham.

4. Bakat yang Masih Belum Hilang






5. Aku dan Bapak

Di poin ketiga aku bilang kan bahwa relasi dan komunikasiku dengan keluarga minim sekali. Aku jarang didengarkan— atau memang terbiasa memendam akibat suatu hal. Sehingga aku sama sekali tidak punya hubungan romantis dan intim dengan keluarga, terutama kepada orang tuaku sendiri.

September menjadi titik balik untukku, ketika bapak salah satu teman terbaikku menghembuskan napas terakhirnya di hari Jumat akibat sakit. Beberapa hari setelah temanku ini ulang tahun. Beberapa minggu dan bulan sebelumnya aku melihat stories dia yang sedang merawat bapaknya, meminta doa kepada rekan terdekat. Ketika satu story-nya muncul dan memperlihatkan kepergian bapaknya, aku ikutan kalap.

Masalahnya, aku tidak berada di sana, tidak bisa menenangkannya. Aku berusaha meraihnya di DM, dia sebut butuh waktu paling tidak satu minggu. Dan ketika aku punya kesempatan untuk menemuinya secara langsung, aku bersemangat untuk menyewa jasa ojek online demi bisa menemuinya di sebuah cafe.

Dia bercerita detail tentang kronologi perawatan bapaknya. Betapa sayangnya dia pada bapaknya. Sesabar itu dia merawat dan mengabaikan kewajibannya sebagai seorang dewasa yang perlu bekerja. Menukarnya dengan barang termahal— yaitu waktu bersama bapak. Aku senang sekali mendengar banyak orang yang peduli terhadap bapaknya. Bahkan setelah bapaknya tiada, orang-orang tetap menghormati beliau.

Aku sempat mengatakan bahwa aku ingin kematian yang tenang di hari Jumat seperti bapaknya. Untuk siapapun. Agar tidak lagi menderita atau merasakan sesuatu yang mengenaskan. Kedamaian itu terkadang membuatku berharap. Dan tentu, kesabaran dan keteguhan temanku membuatku iri, sebab aku bukan anak yang demikian.

Dan benar saja.

Dua minggu yang lalu saat sebelum entri ini ditulis, ibuku menggedor pintu kamar selepas subuh. Bilang bahwa bapakku kecelakaan. Kebiasaan bapakku yang kemana-mana tidak pernah bawa ponsel membuat aku jengkel setengah mati. Telepon itu datang dari orang yang kenal bapak dan ibuku. Dengan muka pucat dan sama-sama takut, aku berangkat bersama ibu menyusul bapak. Bayangkan, hanya melihat motorku rusak parah, aku tidak tahu separah apa kecelakaan itu terjadi. Pecahan kaca di jalan, puing-puing mobil berserakan. Aku menutup mulut. Bingung mesti bereaksi apa.

Aku mengambil ponsel, mengabadikan TKP. Bukan sebagai orang pansos yang minta dikasihani, bukan pula untuk bukti dan menemukan pelaku. Tapi hanya sebagai bukti aku tidak mungkin bisa berangkat kerja dengan kondisi bapakku yang seperti ini. Hanya untuk membuktikan ke atasan bahwa kejadian ini nyata adanya. Sialan. Pekerjaanku bahkan tidak berhak mendapatkan kehadiran seorang karyawan yang sedang tertimpa musibah. Tapi aku masih saja merepotkan diri untuk meminta izin dan meminta maaf.

Ketika suara ambulan dari kejauhan terdengar, aku semakin panik lagi. Ini seperti di drama Korea atau film-film. Aku belum pernah merasakan ini seumur hidup. Aku tidak pernah melihat orang yang kukenal secara langsung dibopong masuk ke ambulan. Aku duduk di sebelahnya, memegang tangan bapakku sambil menyebut; "Sabar, Pak."

Suara nguing nguing ambulan memecah pagi hari. Bahkan matahari belum muncul. Aku kelabakan sendiri memfoto sana sini. Sumpah, ini pengalaman yang mesti kuabadikan dalam momen tahun 2024, kali pertama dalam seluruh hidupku. Dan tentu, aku berhasil mengabadikannya di entri blog ini. Pengalaman yang sama sekali tidak mau kurasakan kembali. Meski ujung-ujungnya tetap saja, foto yang kuambil di ambulan juga sebagai salah satu bukti aku izin tidak bekerja.

Aku melihat bapakku dibawa oleh perawat di atas kasur beroda— yang entah apa namanya— menuju ke IGD. Dipasang selang infus, selang oksigen dan pendeteksi denyut nadi. Astaga, Demi Tuhan, kalau bisa ditukar, mending aku saja yang begitu, aku saja yang terbaring di sana. Jangan bapakku. Setidaknya bapak tidak kesakitan di usianya yang sudah sepuh dan aku punya alasan kuat untuk absen dari kantor sialan itu— ngga papa meskipun sakit jadi taruhannya.

Aku langsung teringat dan membandingkan kapabilitasku dengan temanku itu. Bagaimana dia bisa menemani bapaknya di atas ranjang rumah sakit. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menertawakan bapakku yang mengeluh kesakitan. Masalahnya, aku berani taruhan kalau aku yang merasakan di posisi bapak, ego dan rasa maluku jauh lebih tinggi daripada bapak. Bapak mah bodo amat dilihat perawat dan dokter mengeluh kesakitan. Kalau aku di posisi bapak, aku mungkin sudah mati-matian menahan rasa sakitnya agar tidak disebut lebay. Hahahaha. 

Hal terberatnya adalah, ketika ibu datang menyusul dan langsung mengantar bapak cek rontgen, HP ibuku berkali-kali berdering. Deretan nama yang kukenal tapi lupa bergantian menelepon, bertanya kondisi bapak. Aku heran, seberapa banyak relasi bapak dan ibu sampai berita ini cepat menyebar. Bahkan itu baru dua jam setelah kejadian. Aku sungguh capek harus menganggkat satu persatu telepon dan mejelaskan berulang kali kronologi kecelakaan bapakku.

Tuhan masih sayang bapak. Bapak ngga papa dan boleh pulang. Tapi rasa takut dan amarahku masih terpendam dalam. Seperti aku ingin menuntut dan mengujarkan umpatan atau pukulan terhadap pelaku. Entah apakah jenis seperti ini adalah bentuk rasa sayangku kepada bapak? Ataukah menertawakannya yang mengeluh kesakitan juga jadi salah satunya?

Hari-hari dimana berita bapak kecelakaan menyebar cepat. Selama lebih dari seminggu, setiap hari, orang-orang datang bergantian menyambangi bapak di rumah. Orang yang tidak pernah tahu rumahku pun datang. Orang yang rumahnya berjarak 40 menit dari rumahku pun datang. Orang yang sibuk bekerja pun menyempatkan datang. Bahkan ada yang datang dua kali. Semuanya membawa bingkisan, buah, roti, susu, vitamin dan masih banyak lagi.

Apa yang hebat, kakak bapakku, keluarganya dari kampung menempuh perjalan ratusan kilometer untuk bisa datang 'menjenguk' adiknya. Dan yang paling lucu adalah, ibu-ibu pengajian kenalan ibuku yang biasanya berkumpul untuk arisan atau pengajian pada hari itu justru berkumpul hanya untuk menjenguk bapakku. Aku (juga ibu dan keluarga bapakku dari kampung) kaget melihat belasan ibu-ibu muncul di rumah, bukan untuk arisan atau pengajian. Antara mau ketawa atau nangis. Introverku meraung-raung nyaris setiap hari. Wow. Hanya bisa kusebut wow. 

Aku bingung mentranslate-kan perasaanku. Aku senang sekali ada banyak orang yang peduli pada bapak. Bapakku orang baik. Buktinya bapak menjaga keluargaku utuh. Bapakku masih diberikan kesehatan. Bapakku masih dikenal orang-orang. Kalau tidak, mana mungkin ada yang mengabari ibuku bapakku kecelakaan dan sampai repot-repot mau ikut olah TKP dan mencari kontak pelaku kecelakaan?

Namun di lain sisi aku teringat, bagaimana nanti jika suatu hari bapak mendahuluiku? Apakah aku perlu jeda lebih lama seperti temanku untuk bisa menemani dan menjelaskan kronologinya berulang kali? Melelahkan sepertinya. Maka, aku memutuskan tidak mau mengalami hal itu. Sama sekali.

Jika bisa dibalik, dari kisah terakhir ini, pelajaran yang kuambil bukan 'bagaimana aku harus memperlakukan bapak ibuku secara baik selama mereka masih ada'. Tapi justru rasa penasaran, jika nanti aku pergi terlebih dahulu, siapa yang akan datang? Apakah teman dan relasiku akan sebanyak itu bergantian datang? Kurasa yang datang justru lebih banyak dari relasi ibu dan bapakku. Aku tidak punya siapa-siapa dan seandainya punya pun aku tidak mau repot berbasa-basi demi menjaga relasi. Kind of weird.

Oh, ya satu lagi. Salah satu tamu yang datang sempat datang menjenguk bapak berujar begini; "Kalau orangnya rajin ke masjid, pasti banyak yang kenal dan peduli."

Hatiku langsung terketuk. Bagaimana dengan aku jika nanti aku mati?

Share:

Thursday, July 4, 2024

Hidup Ini Aneh, Kapal Ini Lebih Aneh Lagi

 Apa kabar 2024?

Enam bulan sudah berlalu, sejak terakhir kali aku menghabiskan waktu terlepas dari rentetan rasa takut yang tidak beralasan. Enam bulan berlalu dari terakhir kali aku mulai beranikan diri mengabaikan keharusan mendatangi meja psikiatri. Dan enam bulan berlalu dari perasaan sedikit tenang, rasa hidup nyaris secara utuh sebagai manusia.

Nyatanya, di usia menginjak 27 aku tidak lagi menemukan esensi kemanusiaan yang bahkan sedikit saja bisa membuatku waras. Aku nyaris gila dengan perasaan kosong yang menguasai diriku. Hampa. Hitam. Gelap. Pekat. Aku tidak punya perasaan apapun selain rasa takut pada apa yang akan terjadi. Pada segala sesuatunya yang bahkan belum terjadi.

Pertama, sahabatku pergi. Aku tidak sedih atau merasa kehilangan. Ya sudah, mungkin ini salah satu kesempatan bagi kami masing-masing. Dia dengan karir barunya. Aku dengan tantangan baruku. Usia kami sama, jalan cerita kehidupan kami pun nyaris sama. Apapun tentang kami selalu bersinggungan. Dan entah, seharusnya aku merasa kehilangan. Tapi sama sekali tidak ada apapun yang bisa membuatku merasakan perasaan tersebut. Kesepian. Kesedihan. Kehilangan. Sudah lama terhapus dari kamusku. Termasuk dalam kasus kepergiannya.

Kedua, aku tidak tahu apa yang diekspektasikan orang lain padaku? Aku jelas tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Dan tidak bisa tegas pada keinginanku sendiri. Aku terlalu mencari aman dengan mengikuti alur. Ketika alurnya memaksaku untuk terjun bebas pada tanggung jawab yang lebih mengerikan, dari sisi pikiranku yang mana aku sampai mengiyakan? Rasanya bukan aku yang menjawabnya. Aku berhadapan pada deskripsi jelas dari nominal tinggi yang ditawarkan, yaitu pada tanggung jawab dan pressure berkali kali lipat.

Ini topik utamanya. 

Mungkin benar, ada harga ada kualitas. Ada hak ada kewajiban. Dan tentu apa yang terjadi padaku bukan hal-hal manis yang sempat aku ekspektasikan di awal. Ini lebih dari apa yang pernah aku bayangkan. Lebih buruk maksudnya. Dan biarlah perkataan soal manusia tidak bisa pernah puas itu benar adanya.

Mengapa? Karena ketika aku mengharap yang lebih muda, berekspektasi lebih dapat dimengerti, lebih banyak ide yang selaras, lebih dapat dibantu dan diayomi, nyatanya tidak semua yang muda dapat menutup ekspektasi itu. Culture ya. Personality. Ini benar-benar menjadi faktor utama aku mendapatkan literal culture shock.

Diayomi? Tidak ada posisi yang bisa memenuhi pengharapanku itu. Ini sesederhana perintah dan tanggung jawab. Bukan saran dan pelaksanaan. Mendadak aku rindu pada orang yang dulu aku maki karena egonya. Setidaknya dia bukan hanya memerintah, namun juga mencarikan solusi dan jalan keluar.

Aku yang selama bertahun-tahun dibuai pada kondisi demikian, saat ini benar-benar harus berdiri di kaki sendiri. Mengikat tali sepatu, dan berlari sekencangnya untuk dapat menyamai semua hal yang berkelibat dengan cepat di depan mataku. Masalahnya, tidak ada 'pembelajaran'. Aku perlu sendiri mengamati dan meniru dengan cepat. Sialnya, banyak hal baru di luar kuasaku yang datang bagai air bah. Menakutkan.

Fisikku mungkin tampak baik. Namun mentalku kembali berantakan. Pasalnya, aku tidak lagi mencari bantuan pada antidepresan. Sekalinya aku takut dan cemas, semua mendadak melelahkan. Aku ketakutan berlebihan. Padahal sejatinya hal hal tidak akan semenakutkan itu.

Aku takut ide-ide yang pernah dipuji oleh orang itu (yang kumaki habis-habisan sebelumnya) terasa sia-sia sekarang. Aku ingin bergerak maju, dan terus saja dipukul mundur ke belakang. Semua ideku terbuang seolah percuma. Seperti otak ini ada baiknya diremukkan saja bersama tumpukan mobil bekas. 

Aku takut hal-hal unfamiliar seperti yang tidak berkaitan dengan passion-ku malah menyulitkan aku ke depan. Mendadak mimpi-mimpi soal masa depan dan karir yang kubangun secara kurang ajar di kelas gratis RevoU sirna terhapus tak berguna. Seperti... untuk apa kamu berpikir jauh ke depan? Berangan karirku setidaknya akan cemerlang? Kehidupanku akan sempurna? 

Kecemasan itu malah masih bertengger di sana. Melemahkanku. 

Dan ya, aku berada di suasana mencekam yang apapun serba tertutup dan tidak transparan. 

Persis seperti di labirin yang membatasi ruang gerakku. Belum bertindak pun aku keburu takut. Takut pada kegagalan yang bahkan tidak bepotensi terjadi jika kepalaku menghadap ke depan dan pundakku tegak. Aku keburu loyo. Keburu lesu. Usia yang nyaris sama tidak bisa menjamin aku mendapatkan kesempatan untuk membagi pola pikir yang sama.

Aku tertekan pada batasan ini, batasan itu. Kecemasanku menjadi-jadi.

Barangkali aku mesti ke psikiater lagi.

Dan ya, mau tidak mau aku harus kembali menghidupkan dunia alter egoku. Aku perlu melarikan diri barang sejenak, setiap harinya dari dunia fana menyebalkan ini, untuk dapat menyambut David, Nathan dan semua karakter lain dari dunia sebelah. 

Aku harus secara cerdas dan kreatif membangkitkan mereka kembali dengan bentuk kehidupan lain yang barangkali masih tetap sama menyesakkannya.

Dan selain Dokter Widya, aku semestinya perlu mengadu pada Tuhan. Ini keterlaluan. Rasa takut dan cemas ini sungguh keterlaluan. Aku menghadapi semuanya serba sendirian. Aku bekerja dan gajiku tidak membuatku bahagia. Aku beraktivitas dan saat tidur aku tidak merasakan esensi beristirahat. Aku tidak makan dan aku tidak sedikit pun merasa kelaparan. Aku menjabat kesempatan baru dan sama sekali tidak setitik pun membuatku merasa bangga.

Aku mati rasa. Mati. Yang benar-benar sungguhan mati. Aku ini hanya mayat hidup yang kebetulan masih punya cadangan nyawa tidak berfungsi. Perasaanku tidak pernah bahagia, sedih, kecewa, puas atau illfeel. Aku hanya punya rasa cemas dan takut.

Aku tidak tahu fungsi hidupku apa. Padahal aku tidak clubbing, tidak merokok atau minum, tidak narkoba, tidak seks bebas, tidak pacaran, tidak hura-hura. Hidupku normal dan stagnan. Tapi tetap, aku tidak punya tujuan hidup.

Mati pun saat ini kuyakini bukan opsi semenggoda sebelumnya. Tapi kehidupanku sudah tidak bisa dimaknai lagi.

Satu hal pasti yang mendeteksi kenapa mati rasaku sudah sampai level tertinggi adalah ketika aku tidak terlalu peduli orang lain menilaiku. Aku lah yang menilai diriku sendiri. Dan aku terlalu malas berfungsi menjadi manusia yang mau tidak mau harus terlibat dengan penilaian orang lain terhadapku.

Seperti sekarang. Di posisiku yang sekarang. Aku yakin banyak yang menilaiku. Aku tidak peduli dengan penilaian mereka sejujurnya. Aku lebih peduli pada diriku sendiri, seperti kemampuan adaptasi yang selama ini selalu kuelukan akan tetap sesuai mengikuti lingkungan sekitarku. Namun sepertinya kemampuan itu perlahan sirna di lingkungan dan culture yang sekarang.

Bagaimana ya, rasanya aku hanya seperti 'menebeng' di rumah orang. Cuma menumpang di kapal milik orang asing yang secara waktu dan kebudayaan jauh berbeda denganku. Kapan saja aku bisa melompat atau ditendang dari kapal ini. Selama arahku tidak sama atau keinginanku sedikit berbeda.

Menegerikan. Sungguh. Aku ketakutan setengah mati.




Share:

Monday, February 12, 2024

Sapaan yang Terlambat untuk 2024

Hari ini aku menonton Supernatural episode 10 season 14, bercerita tentang usaha Sam dan Castiel membantu Dean muncul dalam pikirannya sendiri yang sudah dikuasai oleh Archangel Michael. Sam dan Castiel berada di dalam pikiran Dean, penuh dengan teriakan, ratapan, tangisan. Kemudian Castiel berujar; "Dean been through a lot. There's so many trauma in his head."

Dan kemudian aku iseng melemparkan pikiranku pada kondisiku sendiri. Trauma. Tentu saja aku tidak semenderita Winchester Brothers, tapi yang namanya trauma, mau besar atau kecil, mau jarang atau sering, tetap adalah sebuah trauma.

Sebenarnya aku sudah menyiapkan satu entri yang sekarang bersarang di draft, paska aku terlempar ke dalam jurang ketika semua skenario yang kuciptakan untuk alter egoku beralih menjadi kenyataan. Aku, dengan segudang niatan untuk solo traveling, meninggalkan traumatisme pekerjaan yang kurang ajar, kemudian mendadak menjadi hancur total oleh banyak berita dan kenyataan yang datang dari usaha kealpaanku.

Aku kurang paham siapa yang salah disini. Apakah aku yang menjunjung tinggi kealpaan selama bertahun-tahun, kemudian malah jatuh tersungkur setelah menemukan banyak kabar dari mereka yang kutinggalkan. Apakah mereka yang hidup dengan normal, tanpa mengetahui bahwa mereka sempat menciptakan satu rasa takutentah sedikit atau banyakyang menarikku pada malam penuh tangisan, khasnya seorang penderita gangguan kejiwaan.

Nathan; memberikan kabar kepada David, dia telah menikah. Sesuai dengan plot yang aku kembangkan, di universe yang aku sengaja ciptakan sejak satu tahun paska kelulusan, secara tanpa sadar. Dengung-dengung soal pernikahan Nathan telah aku tuangkan dalam beberapa plot yang menyakitkan, masih soal melarikan diri, soal kematian, soal perayaan dan soal tangisan.

Satu minggu yang lalubegitu klaimnya, bertepatan dengan tanggal aku memulai solo traveling. Perayaan yang sama soal rasa bahagia, namun berbeda dalam pengukiran luka. Dan David, setelah mendapatkan kabar itu, mendadak menjelma dalam diriku dan melumpuhkanku pada ratapan yang tidak terelakkan. 

Bukan, ini bukan soal cemburu. Ini lebih pada terlalu sempurna gambaran pada alter ego Nathan, beserta betapa perih setiap bumbu yang kutuangkan dalam universe David. Tentu juga soal garis finish yang menjadi salah satu penghambat David untuk melanjutkan hidup. Karena sampai usia yang sama denganku pun, David masih belum mendapatkan garis finish-nya. Meskipun secara nyata, siapa yang hendak menentukan garis finish? 

Jika memang garis finish kehidupan itu ada, apakah itu pada pernikahan atau kematian? Jika Nathan memiliki pernikahan untuk mencapai garis finish-nya, maka David punya seribu satu cara untuk mencapai kematian sebagai garis finish-nya.

Tidak berhenti di sana. Trauma yang muncul di kepalaku juga mengambil panggung kembali ketika aku bertemu dengan Ivan, inisial alter ego yang sempat aku tuliskan dalam cerita. Dia datang tanpa trauma, tersenyum menyambutku. Sama seperti sembilan sampai sepuluh tahun yang lalu. Dia mengorbankan dirinya, demi dapat bersamaku, menemaniku. Dan perlakuan-perlakuannya, yang bahkan sulit bisa aku lakukan setelah sembilan sampai sepuluh tahun berlalu, membuat aku setidaknya kewalahan untuk menjaga kewarasan.

Bagaimana tidak? Aku ingin meninggalkan semuanya di belakang. Namun dia justru muncul, membangkitkan nostalgia pada dosa dan luka yang sempat kulakukan di masa bodohku. Dan dia tidak sama sekali menandainya sebagai penghinaan. Dia sama sekali tidak takut padaku, membenciku. Dia tetap memanusiakanku yang sejak lama kehilangan fungsinya sebagai manusia yang utuh.

Kemudian aku mesti berbohong soal identitas Ivan. Dengan latar belakang yang semakin cemerlang, satu tiket menuju surga yang sudah ia kantongi, membuatku harus berimprovisasi. Aku dapat dengan tegas memposisikan diri pada karangan kisahku kepada para korban. Aku mendetailkan Ivan sebagai kekasih Tuhan. Suci, penuh kebenaran, hal-hal yang seharusnya jauh dari aku yang kerdil dan hina. 

Dan bicara soal kekasih Tuhan, aku semakin kehilangan kewarasan saat masa-masa sulit PTPS berlanjut. Aku mengemban tugas sebagai pengawas, sebuah pengalaman baru yang menuntut ilmu komunikasiku sebagai marketing dilatih lebih dari seharusnya. Di sanalah pada akhirnya aku mendapat kesempatan untuk menemukan sosok lain dari manusia setara Ivan. Bahkan lebih. Hampir 90% kutemukan kesempurnaan di dalam sosoknya.

Otak INFP-ku menjelajah dunia baru, ide-ide, fantasi, bayangan, imajinasi, soal bagaimana seharusnya dia yang berada di kehidupan nyata dengan segala kesempurnaannya bisa aku abadikan. Aku mengklaim sebagai INFP, sebagai salah satu artist, semua hal penting dan tidak pasti mendapatkan tempatnya sendiri untuk diabadikan. Dan dia adalah salah satunya. Kesempurnaan nyata yang bahkan melampaui Nathan dalam universe yang aku ciptakan. 

Sosok yang barangkali hanya bisa kita temukan one in million, layaknya karakter Wattpad yang sangat mustahil terjadi dan ditemui di dunia nyata.

Aku tidak akan mendeskripsikan kesempurnaannya di sini. Karena aku tidak mau dia berakhir seperti sosok yang datang pada bulan Juniyang pribadinya sempat kudengungkan dalam beberapa entri di blog ini. Tuhan menjawab doaku semalam dengan fakta bahwa kesempurnaannya telah menjadi milik seseorang yang beruntung. Dan lagi-lagi egoku mengambil kewarasan, berujar bahwa memiliki pasangan adalah sebuah kelemahan.

Seolah orang lain yang terlalu menginterupsi bisa jadi mengurangi level kesempurnaan. Padahal ini tentang dia, bukan aku yang menjalani. Ego ini terlalu gila. Bisa-bisa aku tetap terperangkap dalam trauma berkepanjangan jika terus begini.

Dan ya. Aku berhenti mengonsumsi antidepresan. Sengaja. Setelah aku tetap menangis di tengah perjalanan solo traveling yang kuanggap berhak mengurangi level depresiku, aku memutuskan untuk tidak kembali bergantung dan percaya pada proses pengobatan psikiater. Meskipun demikian, momen terpuruk yang menjelma dalam beberapa malam itu akan kucoba bagikan dengan dokterku. Semoga. Aku berusaha mengenyampingkan ego dan rasa malu, karena traumaku bisa jadi tidak terlalu penting atau bahkan terdengar lucu bagi sebagian besar orang.

Orang tuaku sudah mulai mendeklarasikan secara halus soal aku semestinya mendapatkan pekerjaan baru. Ketika satu persatu dari mereka sudah mendapatkan garis finish, memikirkan hal-hal beberapa langkah lebih depan. Aku justru terperangkap dalam penyebab trauma yang tercipta sejak 2013. Aku masih di usia 17 tahun, mencoba mencaritahu apa yang sedang terjadi saat itu. Kenapa refleksi traumatisme yang diciptakan olehku di usia 17 tahun terasa menyakitknya di usiaku yang ke-27 tahun. Senyata dan seperih itu, ia masih bertahan. Dan puluhan obat antidepresan tidak sepenuhnya membantu.

Dan demi Tuhan, aku tidak punya lagi kapabilitas untuk berkegiatan seperti bekerja, terikat pada kontrak perusahaan. Sebut saja aku tidak mau lagi mengalami 'trauma' yang sama dari berkerja di perusahaan toxic, sebut saja ini masih menjadi salah satu proses adjustment disorder yang dideklarasikan dokter bulan Oktober tahun lalu. 

Namun 100% aku telah mengikhlaskan apa yang terjadi, menghilangkan semua ego dan kebencian, rasa ingin balas dendam. Dan aku begini, tidak bertenaga untuk kembali produktif sepertinya bukan karena aku nyaman untuk tidak terikat pada apapun. Ini lebih karena aku butuh waktu lebih banyak untu beristirahat. Mati misalnya?

2024 telah berlalu nyaris 2 bulan. Dan ya, masalah kematian masih menjadi agendaku yang terasa cukup menggiurkan.

Share:

Monday, November 6, 2023

Obat, Efek Samping, Egoisme dan Mati Rasa

Hai, ini aku yang sebentar lagi berusia 27 tahun. Dari awal aku membuat blog ini, menulis banyak entri untuk menyelesaikan apa yang ada di kepala, rasanya baru kemarin aku melewatinya. Aku membaca kembali entri-entri lama, beberapa kali kusapa diriku yang berusia 23 tahun, 24 tahun, 25 tahun, 26 tahun dan barangkali (jika masih hidup) aku akan menyapa diriku di usia 27 tahun.

Waktu berjalan teramat cepat. Dan ya, tidak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi nanti saat usiaku genap 27 tahun. Bahkan di usiaku yang ke-26 saja ada banyak hal yang terjadi. Aku mulai kehilangan minat pada apapun. Berteman, menjalin hubungan. Apapun. 

Aku sempat mencoba memberi kesempatan pada satu dua orang (atau lebih) untuk mendekati. Melihat seberapa kuat tekad mereka merobohkan dinding yang kubangun sejak lama. Dan tidak ada satu pun yang berhasil mengambil atensiku. Mereka terlalu berada di bawahku. Lemah. Tidak mampu menyamai kapasitas. Bahkan ada satu orang yang menjual kisah-kisah soal keluarganya, masa sekolahnya, mendomplang dirinya sebagai Si Pemurah Hati yang meminjamkan uang ke teman-teman yang tidak punya. Nyatanya? Dia pengemis yang berkoar akan mengembalikan uangku, namun sampai sekarang ia hilang entah kemana.

Aku berjanji akan mengejarnya. Bukan soal uang. Tapi soal seberapa berani dia memanfaatkan belas kasihku untuk jiwa pengemisnya. Akan kubuat dia membayar harga yang ia tanamkan pada harga diriku, egoku, rasa tinggiku yang sejak awal tidak pernah tersentuh sedikit pun dengan segala aspek soal kepribadiannya. Bahkan fisiknya. Aku hanya merasa mampu memberinya uang, lebih mampu menjalani semua secara mandiri meskipun dia harus bersusah payah menyodorkan satu atau dua gelas kopi hanya untuk mendapatkan waktu dan atensiku. Dia gagal. Dia hanya sejumput sampah yang menjual nama keluarganya untuk dikasihani.

Dia memilih berurusan dengan orang yang salah. Orang dengan egoisme setinggi langit.

Lalu soal pekerjaan. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Aku sudah membicarakannya lebih dari yang aku mampu. Kepada ibuku, kepada dokterku, kepada teman-temanku, kepada adikku. Bahkan kepada pihak-pihak perusahaan yang semestinya tahu. Dan mereka yang secara 'tidak sengaja' tahu. 

Ini bukan soal meninggalkan atau melepaskan. Ini lebih kompleks daripada itu. Aku tipikal petarung dengan ego yang tinggi. Aku tidak mau dan tidak akan pernah membiarkan orang lain mengambil kelemahanku. Jika aku memang harus dipaksa untuk bertahan, kuyakini sepenuh hati, aku akan bertahan sampai kapan pun. Aku bahkan tidak mempan dilukai berkali-kali oleh siapapun dengan cara apapun.

Namun ini soal penyakit. Dan obat-obatan yang aku minum setiap hari. Ini soal masa lalu dan trauma yang masih belum terdeteksi sampai sekarang. Semuanya mendadak mengekangku dengan tali yang kuat dan tajam. Menarik diriku untuk kehilangan kapabilitas dalam berkompetensi. Aku bukan takut gagal. Aku hanya tidak bisa menjamin masa depanku akan baik-baik saja di pekerjaan jika penyakit ini masih bersemayam dalam diriku.

Aku menuding dan menyalahkan siapapun yang tidak bersalah. Aku ketakutan hanya pada suara notifikasi dan pandangan orang. Aku merasa dibuang dan dikucilkan ketika aku tidak mendengar namaku dipanggil. Aku merasa diremehkan ketika seseorang meminta orang lain membantuku. Aku, dengan egoisme ini tidak akan pernah menang melawan semua kecemasan. Meskipun puluhan butir obat telah kutenggak sejauh ini.

Aku membenci hampir setiap orang, dengan perlakuan-perlakuan sederhana mereka. Aku membuat asumsi buruk dalam kepala, menyalahkan mereka dan terus saja ingin menghindarkan mereka dari rasa marah yang mendadak muncul dalam diriku. 

Aku mengabaikan soal bunuh diri akhir-akhir ini. Menukarnya dengan ide menyakiti orang lain. Bagaimana rasanya ketika aku bisa membanting sesuatu, berteriak dengan lantang hingga lega, menusuk seseorang hingga ia kesakitan, melihat darah membanjiri tanganku. Bukan, aku bukan begini karena terlalu banyak menonton film atau drama kekerasan. Aku begini karena ingin merasakan barangkali dibandingkan obat SSRI yang diresepkan padaku, akan jauh lebih melegakan apabila aku berhasil melakukan salah satu di antara opsi yang kupikirkan.

Joker. Ia yang murung dan ketakutan mendadak bahagia dan senang setelah membunuh orang, bukan? Aku penasaran perasaan itu. Dan berpikiran apakah tinggal di penjara atau rumah sakit jiwa akan lebih baik ketimbang melihat dunia luar yang dipenuhi oleh tuntutan dan ekspektasi?

Dibandingkan menjadi serotonin booster, obat yang kuminum malah terkesan seperti pembunuh rasa takutku. Beberapa minggu yang lalu aku menonton film horor di biosko bersama teman-teman. Entah, meskipun musiknya terdengar menyeramkan, aku menganggap efek seram yang ditimbulkan dalam bentuk hantu dan makhluk seram di film itu tidak cukup berhasil membuatku trauma.

Aku tetap mandi seperti biasa, makan seperti biasa, pulang sendiri seperti biasa, tidur sendiri di tempat gelap seperti biasa, beribadah sendirian seperti biasa. Hal-hal yang 180 derajat berbeda denganku yang bahkan dulu, melihat satu film pun bisa berminggu-minggu menyisakan trauma.

Ini bukan kali pertama, beberapa film horor lain, dengan atau tanpa adegan gore penuh darah pun tidak sama sekali membuatku jijik atau takut. Bisa dibilang dalam kurun waktu kurang dari setengah tahun ini, aku sudah beberapa kali melihat film horor dan tidak merasakan apapun.

Apa yang lebih parah daripada ini adalah ketika aku dengan lantang dan lancar menjelaskan apa yang tidak kusuka dan menggangguku dari beberapa orang. Baik itu orang yang kukenal maupun yang tidak kukenal. Aku seolah melakukannya secara sadar dan tidak takut pada apapun yang terjadi setelahnya. Aku 'memarahi' sahabatku sendiri karena lebih memilih orang lain. Aku menyalahkan orang yang kukenal karena terlalu banyak mengeluh soal kehidupannya di saat hidup orang lain pun sama sulitnya. Aku dengan tegas menolak ajakan orang-orang yang kuanggap tidak penting dan hanya membuang waktu.

Aku melakukannya seolah aku siap kehilangan apapun. Dan hidup sendirian.

Siapa yang kupunya di dunia ini? Tidak ada teman yang benar-benar membuatku tenang dan nyaman. Orang tua pun sejauh mereka dapat memahami kondisi dan pilihanku saja rasanya sudah cukup. Aku tidak mendapatkan cukup ruang atau dukungan untuk menyadari bahwa sekeras apa egoku, aku tetap membutuhkan bantuan. Adik-adikku yang jauh lebih hebat dariku, kehidupan mereka yang seharusnya lebih baik dan berhasil. Atasan yang punya banyak fokus sehingga mengabaikan sosok kerdil tidak punya potensi sepertiku. Dokter yang punya puluhan pasien, dengan cerita perjuangan yang berbeda, menunggu bantuan yang sama darinya.

Siapa yang kupunya selain Tuhan? Meskipun yang menderita dan membutuhkan pertolongan bukan hanya aku, Tuhan tetap memperhatikanku dengan baik.

"Kalau punya masalah, perbanyak ibadah. Dekatkan diri sama Tuhan. Bukan hanya bergantung sama obat, nanti sulit lepasnya." begitu yang ibuku bilang beberapa hari setelah aku menyerahkan surat diagnosa ketigaku.

Aku memutuskan melepaskan pekerjaan pun sebenarnya adalah salah satu hasil doa-doaku dengan Tuhan. Aku masih hidup dan diberi kesempatan untuk mendapatkan bantuan profesional pun adalah bantuan yang Tuhan salurkan lewat manusia. Tuhan selalu ada untukku. Aku tahu itu.

Dan soal obat-obatan, aku yakin itu adalah salah satu bentuk ikhtiar yang juga Tuhan inginkan untuk kulakukan. Apa yang kutahu sejauh ini, obat yang kuminum hanya menjaga kestabilan mood-ku. Membuat aku yang sakit menjadi tidak terlihat sakit. Membuat aku yang seharusnya lemas tidak berdaya menjadi bersemangat dan bergairah dalam melakukan aktivitas. Namun kecemasan itu masih belum menghilang dari sana. Masih terus ada dan bisa muncul kapan pun.

Di artikel terakhir yang kutulis di Medium, aku mengklaim diriku sebagai penjahat. Ya, karena rasa cemasku ini sewaktu-waktu bisa berubah menjadi tindakan melukai siapapun. Apakah teman yang saat itu duduk di sebelahku? Ataukah atasan yang sudah melupakan bahwa apresiasi dan validasi adalah nilai yang tidak bisa terlupakan? Atau bahkan orang lain yang kebetulan lewat meskipun aku tidak mengenalinya?

Apakah di usiaku ke 27 tahun nanti aku akan mendapatkan pekerjaan baru dengan penghasilan yang lebih baik dan beban kerja yang lebih manusiawi? Atau aku justru bertambah parah, terpuruk, atau mungkin masuk rumah sakit jiwa? Penjara? Karena memikirkan serius untuk menyakiti orang akibat mati rasa yang berlebihan ini?

Persetan soal pertemanan dan percintaan. Aku bahkan bisa melukai siapapun hanya dengan sebuah perlakuan dan perkataan. Dan mereka pun bisa melukaiku tanpa mereka sadari hanya karena reaksi berlebihan dari rasa cemasku.

Saat aku membahas masalah penyakit mental ini di meja managerku, ia tampak antusias. Ini kasus baru. Nama-nama diagnosa yang kusebutkan membuat otak pintarnya menerka, apakah hal-hal yang terlihat abstrak (karena penyakit mental tidak terlihat secara fisik) ini sungguhan ada dan bagaimana tanda-tandanya. Sebagai orang yang sudah mengalami sejak tahun 2019, aku fasih menjelaskan. Terlepas apakah ia percaya, mempelajari, atau hanya mendengarkan.

Aku ingin terus beraktifitas. Bercengkerama dengan teman untuk memupuskan rasa takut dan efek samping obat dari semua penyakitku. Namun di lain sisi aku takut menyakiti mereka. Membuat orang-orang tidak bersalah juga terdampak dari penyakitku, entah itu sengaja atau tidak. Aku memutuskan menarik diri, melepaskan semua trigger terutama pada tuntutan pekerjaan yang terdengar kadang tidak masuk akal dan melelahkan. Semua bisa kutuntaskan andai saja aku tidak menjadi lebih parah akibat penyakit ini. Andai saja aku masih berfungsi secara normal seperti aku di sekolah dulu, berteman, prestasi, kegiatan. Semua berjalan teramat normal dan menyenangkan.

Mati rasa padaku menghadapkanku pada dua pilihan. Mati sendiri atau membiarkan orang lain mati. Dan aku memilih opsi pertama. Biarkan aku mati sendirian. Terpuruk sendirian.

Namun soal egoisme, aku akan tetap mempertahankannya sampai kapan pun. Akan kubuat siapapun yang melukai egoku membayar harga yang pantas. Balas dendam tidak terdengar buruk. Balas dendam tidak melulu dengan melakukan hal yang sama, 'kan? 

Dan soal pengganti. Meskipun kapabilitas mereka terlihat mengesankan, aku tahu, dalam aspek daya tahan, aku tidak bisa diremehkan. Aku bertahan sejauh ini dengan tekanan penyakit gila yang mengambil separuh fungsi dan kewarasanku, aku cukup mampu berjalan jauh. Aku menyerah karena bukan aku tidak mampu, aku hanya mengambil keputusan untuk menghindari hal-hal lebih buruk terjadi. Aku ingin mengambil jeda dari segala realita dan sumber trigger yang saat ini masih hidup dengan tawanya, tanpa tahu kenyataan bahwa ia kehilangan beberapa hal karena sifat dan karakternya sendiri.

Meskipun nanti aku menjauh, akan aku pastikan untuk tetap dekat. Bukan sebagai bukti terima kasih meskipun itu yang seharusnya aku lakukan. Namun untuk melihat banyak pertimbangan dan keputusan yang aku pertaruhkan paska 'mereka' mendahuluiku adalah benar. Aku akan melihat, apakah ada orang lain yang memiliki kapasitas pikiran kritis yang sama? Atau mereka akan tetap menjadi aku yang bodoh selama bertahun-tahun, dulu. Sebelum terapi obat panjang ini aku mulai kembali.

Setidaknya jika aku harus mati, akan kupastikan aku tidak akan mati karena bunuh diri.


Share:

Tuesday, May 16, 2023

Mereka Bersembunyi dan Tak Menyapa

 

Dua bulan berlalu sejak entri terakhir. Selama itu, tidak sekali pun aku melewati malam dengan tangisan keras yang mengambil kewarasanku untuk tidak terlelap. Aku juga tidak tahu kenapa depresi dan kecemasan kini bersembunyi cukup dalam, sehingga aku tidak lagi bersua dengan mereka. Meskipun demikian, aku merasa bersyukur. Aku setidaknya mampu berfungsi layaknya manusia seutuhnya.

Selama dua bulan berlalu, ada banyak peristiwa yang seharusnya kuceritakan. Mulai dari momen bulan Ramadan yang jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya. Seperti perasaan sederhana yang tercipta ketika aku tidak merasa lapar. Atau kefasihanku pada ibadah yang sedikit kubandingkan dengan teman-teman yang tidak melakukannya. Atau kesempatanku berbuka bersama dengan beberapa teman. Atau keinginanku untuk menyambut Hari Raya dan bertemu dengan banyak orang, sangat berbanding terbalik dengan tahun lalu yang memilih untuk mengunci diri di rumah dan tidak pergi kemanapun.

Dua perbedaan ini sangat bergantung pada penyakitku. Ketika ia bersembunyi cukup rapi, maka yang kurasakan adalah rasa senang pada hal-hal wajar. Bukan lagi ketakutan atau ketidakpercayaan. 

Dan pada momen yang paling kusyukuri, kesempatan menghabiskan cuti hari Raya dengan waktu yang lebih luang, dengan perasaan yang lebih tenang. Aku berkesempatan untuk keliling kota bersama sepupu dengan motor, mengunjungi cafe lokal dengan rasa kopi yang lumayan. Hal yang tidak pernah sempat kulakukan sebelumnya dalam waktu sempit. 

Pergi bertemu teman lama, teman kampus. Mengunjungi rumahnya, pergi foto dan makan bersama. Membicarakan banyak hal yang tidak terlampau intens. Lebih menginginkan bersua melepas rindu daripada mengadu nasib. 

Membuat janji dengan teman sekolah yang terakhir kali kutemui sekitar 7 tahun yang lalu. Melepas rindu sambil memakan ramen dan menyeruput kopi. Mendengarkan banyak konflik yang terjadi di antara teman-teman lainnya, berita yang secara kurang ajar kutinggalkan. Dan dengan sadar menamparku bahwa aku terlalu tidak peduli pada relasi yang seharusnya kubangun dan kujaga.

Menyempatkan pergi menyeberangi pulau, menyapa Kota Madura dan mencicip kulinernya. Melipir ke Tunjungan Plaza untuk melihat-lihat kehidupan super cepat khasnya Kota Surabaya. Menyapa kembali Malang, yang saat itu datang dengan mendung gelapnya. 

Liburan sederhana yang belum pernah kunikmati sejauh ini. Tanpa gangguan penyakitku. Tanpa gangguan pekerjaan yang berarti. Bahkan kuakui aku kembali berkerja dengan perasaan yang nyaman, fisik yang tidak terlampau lelah meski sejatinya aku menempuh perjalanan ratusan kilometer. Sekali lagi, penyakitku mengambil peran soal ini. Tanpa mereka, semua berjalan teramat normal dan baik.

Kemudian soal perasaanku. Aku masih sama halnya seperti yang dulu. Menyimpan dalam semua perasaan suka diam-diam. Mencoba menetralkan perasaan jengkel dan marah pada hal-hal sepele yang pemicunya tergolong tidak penting. Aku mendengar kabar soal dirinya, yang dalam waktu dekat akan menjadi sosok lain yang mungkin akan sulit kupahami. Daripada merasa takut akan kehilangan, aku justru menikmati hal-hal yang masih bisa kami bahas bersama.

Sebenarnya, perasaanku pada dia sudah lama netral. Aku mengandalkan kenyataan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Maka, tanpa perlu kutemukan, aku disuguhi beberapa kekurangannya yang jika dipaksakan berselaras denganku, akan sangat berpotensi besar untuk saling menghancurkan.

Jadi sisa waktu yang kumiliki hanya kugunakan untuk menikmati sisa kelebihannya yang terlihat. Hal-hal yang mengundang atensiku secara berlebih sebelumnya, yang tidak kutemukan dalam pribadi lain orang-orang di sekitarku.

Berjalan lebih jauh dari perasaan suka atau kagum, aku sempat dihadapkan pada kondisi yang sudah tertanam dalam radarku. Ketika aku mampu membaca pikiran seseorang bahkan sebelum ia mengucapkannya. Daripada kesulitan memahami apa yang hendak ia utarakan, aku lebih bingung bagaimana caranya bereaksi. Aku hanya bisa mendengarkan, menenangkan, meyakinkan. Dan kemudian menyadari bahwa aku bukan lagi pendengar dan pemberi solusi yang baik.

Klaim-klaim sepihak itu harusnya sudah kutanggalkan sejak lama.

Aku sudah kehilangan diriku sejak lama. Sejak penyakit ini mampir dan enggan pergi, hanya bersembunyi. Jadi, demi apapun aku tidak pernah takut kehilangan orang-orang di luar lingkup keluargaku. Mereka yang memutuskan datang, maka sudah seharusnya aku membiarkan mereka pergi. Dan ketika satu per satu orang yang pernah memilihku, pada akhirnya memilih yang lain, aku sudah cukup kuat dan tegas untuk ditinggalkan. Yang tersulit justru datang dari bagaimana cara aku semestinya bersikap? Apakah aku harus menangis? Apakah aku harus mengiyakan saja? Atau aku harus menahannya sekuat tenaga?

Yang terjadi adalah aku berusaha menjalankan fungsiku sebagai manusia. Mengutarakan hal-hal yang seharusnya diucapkan dan entah apakah itu memberi mereka makna atau tidak.

Oh ya, beberapa kali aku terlibat dalam seminar atau pelatihan tentang membaca kepribadian tim. Ada beberapa cara dan tips yang mereka sampaikan. Aku merasa beberapa hal sudah tidak cukup relevan denganku semenjak aku sudah menaruh lebih ketertarikan pada membaca kepribadian orang sejak lama. Dan setelah menemukan beberapa kepribadian, aku merasa enggan untuk mencaritahu kepribadian-kepribadian lain untuk sekarang. Bahkan aku masih merasa bingung dengan kepribadian sendiri, yang terkadang berubah sesuka hati.

Tapi kepribadian baru yang sudah mencapai level diriku kali ini adalah 'pemarah'. Sejauh yang aku tahu, aku adalah tipikal orang yang menghindari konflik, menjunjung kedamaian, sampai-sampai fokus pada ketenangan jiwa dan dianggap cuek. Namun, akhir-akhir ini emosiku gampang tersulut untuk hal-hal kecil. Ada sedikit saja celah untuk memicu amarahku, maka kesabaranku yang dibatasi dinding tipis setipis tisu akan pecah berantakan. Ketika orang tua atau rekan kerja menggunakan nada yang agak tinggi, maka kubalas dengan nada yang agak tinggi juga. Ketika aku fokus berkerja, dan beberapa orang menganggu, aku tidak segan memarahinya.

Aku sudah sampai ditahap, bagaimana untuk melatih kesabaran? Apakah aku perlu yoga? Hahahaha. Tidak masalah, apapun akan kulakukan selain harus menghadi godaan untuk melukai diri lagi.







Share:

Sunday, March 5, 2023

Ketika Aku Mendadak Lebih Diam daripada Malam

 "Kak, sorry, ya. Tapi pas pertama kenal Kakak, kukira Kakak galak tau. Soalnya mukanya jutek banget."

Itu salah satu pengakuan yang kudengar kurang lebih minggu kemarin. Dari salah satu tim baru yang bergabung dengan perusahaan. Yang entah kenapa justru diiyakan oleh teman-temannya yang lain. Dan bahkan disetujui cepat oleh timku. 

Aku tidak pernah menganggap itu sebagai hinaan. Sebab, soal demikian aku suddah familiar mendengarnya bahkan sejak kuliah dulu. Kalau waktu itu aku masih diliputi penuh tanda tanya soal kenapa cap 'jutek' itu melekat erat pada raut wajahku. Kini di saat aku telah berhasil mempelajari soal diriku sendiri, aku mengerti apa penyebabnya.

Karena aku seorang INFP murni.

Ya, lagi-lagi soal MBTI. Mungkin beberapa temanku sudah bosan mendengarkan aku berkoar soal tipe kepribadian ini. Namun, aku tidak pernah lelah membahasnya—meski beberapa orang sudah mengklaim MBTI layaknya zodiak, sebab melalui MBTI aku berhasil memahami kepribadianku sendiri. Tahu jawaban atas segala pertanyaan yang tidak terdefinisi bahkan sejak dulu aku masih di sekolah. Kenapa aku pandai menulis naskah cerita yang menyesakkan, kenapa aku selalu dihantui mimpi-mimpi aneh dalam tidur, kenapa aku bisa membuat relasi dengan orang yang paling dijauhi sekalipun, kenapa beberapa orang merasa segan dan sungkan untuk pointing me out as a joke.

Ya, karena aku INFP. Murni. Lima kali tes lebih kuambil pun, hasilnya tetap INFP. 

Dari situlah aku memahami, penilaian sederhana yang diasumsikan orang ketika pertama kali mengenalku bukanlah berasal dari wajahku yang jutek—sebenarnya. Itu karena aku tidak pernah menaruh fokus pada orang lain karena terlalu sibuk tenggelam dalam pikiranku sendiri. Ada banyak ide, memori, fantasi yang bertarung di dalam kepalaku. Sehingga fokusku itu dinilai sebagai diam yang dingin. Yang membangun dinding di sekitarnya, sehingga tidak bisa membiarkan sembarang orang mau masuk untuk berkenalan. Wajar mereka takut.

Jangankan mereka yang baru, teman lamaku, seseorang yang paling spesial pun, akan kalah atensi jika harus ditandingkan dengan isi kepalaku. Tidak ada yang spesial. Hanya diam. Diam dan tenang. Seperti tidak punya energi untuk biacara. Bahkan hanya untuk menanggapi.

Aku punya satu cerita yang menjadi pemicu awal aku memutuskan untuk menulis entri ini.

Sebagai seorang introver, aku tidak punya teman. Ibuku sampai bertanya dalam sebuah kondisi, "emang kamu ngga punya temen?". Yah, dengan apa adanya aku menjawab, "memang ngga punya."

Jadi, yang benar-benar kuanggap teman adalah yang kurasa memang punya kesamaan denganku. Entah itu sesederhana sama usia, sama berat badan, atau bahkan yang paling menggelikan adalah sama-sama pasien seorang psikiater. 

Dalam beberapa hari, aku pergi dengan salah satu temanku ini. Teman senasib yang dulu pernah kubawa masalahnya ke meja konsultasi. Teman yang paling kutakuti ia akan pergi. Selama perjalanan sampai di tempat tujuan, dia terus mengajakku bicara. Mulai A sampai Z. Apapun itu. Dia bahkan tanya soal kabar rekan kerjaku, bagaimana pekerjaanku. Hal-hal yang dulu dengan mudahnya kuceritakan padanya tanpa satupun pemicu. Seolah aku mengajaknya bertemu memang hanya untuk menceritakan kabar masing-masing.

Namun malam itu tidak demikian. Selama kami bersama, hanya dia yang mengisi pembicaraan. Aku hanya merespons dengan iya, tidak, senyum, tawa kagok dan hal-hal remeh yang jika dia adalah aku, aku pasti sudah marah. Namun dia cukup sabar dan memahami. Dia tetap menerimaku yang pasif untuk tetap berada dalam satu waktu dan ruangan dengannya. Tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali.



Mulai dari kita nonton Netflix bersama, makan bersama, sampai main ke pantai bersama. Semuanya diisi oleh kepasifanku. Di sanalah aku menjadi seburuk-buruknya introver yang lebih mirip anti-sosial. Biasanya sekelas duduk di tepi pantai, mendengarkan debur ombak dan merasakan angin sepoi yang menyibak pakaian, ada satu sesi paling jujur di antara kami. Siapapun yang duduk di sebelahku. Selalu kuberitakan soal kesenangan, kepedihan, kekecewaaan, penderitaan. Sesi jujur yang bahkan bisa menjadi ajang untuk saling menelanjangi diri. Oh, ternyata aku sebenarnya ini. Oh, ternyata kamu adalah itu.

Namun, sampai roda motornya mencapai halaman rumahku, aku tetap beku bak manekin. Yang kuucapkan hanya 'terima kasih dan hati-hati'.

Ini pun berlaku pada pertemuanku dengan salah satu teman lama di sebuah kota baru. Kota yang kini seperti rumah ketigaku setelah Malang. Kota yang jalanan, kuliner dan cuacanya seperti telah kupahami. Malam itu, melalui sedikit kesempatan kita menyempatkan bertemu. Diawali dengan makan malam bersama, diakhiri dengan ngobrol panjang di emperan Point Coffee sambil menyaksikan pegawai setempat mulai bergantian shift.

Aku yang pernah menjadi the best story teller, yang pernah mengklaim diriku sebagai pendefinisi terbaik, malam itu hanya berlaku seperti pendengar yang tidak punya banyak respons. Padahal, materi yang tersaji di meja kami adalahh materi yang paling langka kubicarakan. Status kondisi dan latar belakang yang terpendam nyaris serupa. Sesama INFP, sesama penulis, sesama penikmat buku, sesama pemiliki alter ego, sesama pengonsumsi obat. Ada sejumlah topik yang sangat berpotensi dibahas, memakan lebih banyak waktu ketimbang sisa jam malam di hari itu.

Namun semua hanya nyaris menjadi pembicaraan satu arah. Karena aku cuma bisa merespons di bagian akhir. Dan dia pun mungkin merasa, ahini teman yang aku cari, ada banyak kesamaan, dia pasti akan mengerti perasaanku. Seharusnya aku juga merasa begitu. Tapi, aku cuma bisa mendengarkan seluruh ceritanya dengan sedikit respons jika diperlukan.

Semua itu terjadi bukan karena ada satu definisi mutlak bahwa seorang INFP adalah pendengar yang baik, yang akan memahami persoalanmu dan tidak menjustifikasi masalahmu sepihak. Bukan. Itu lebih ke karena hidupku begitu saja, sulit seperti biasa, tidak ada yang menarik, jadi apa yang harus aku ceritakan?

Terlepas aku masih dalam fase mengagumi seseorang pun, aku tidak berniat untuk menceritakannya. Atau bahkan aku telah menuntaskan beberapa series dan drama pun, meski menarik aku tidak merasa butuh merekomendasikannya. Yang benar-benar terjadi hanyalah ketika we share same thought about psychology. Aku memperjelas teori psikologi dari buku terakhir yang kubaca dan menarik keingintahuannya lebih jauh. Lihat! Pukul sebelas malam, di emper teras sebuah convinience center, kita bahas soal psikologi! Segila itu!

Jika topik itu tidak terangkat dalam perbincangan, mungkin aku benar-benar pasif menghadapinya. Teori psikologi awal abad ke-20 nyatanya jauh lebih menggairahkan daripada membahas konten hidupku yang tidak jauh-jauh dari rasa cemas. Dari sanalah bisa kusimpulkan, dibandingkan membahas soal kabar dan kehidupan yang sudah mulai mencapai titik kebosanan di usia 26 tahun, aku lebih terpacu untuk membahas hal-hal di dunia yang masih belum terpecahkan

Khas-nya seorang INFP.

Terlepas dari itu, aku menyadari bahwa aku sudah benar-benar ada di tahap yang lelah pada kondisiku sekarang. Meski di entri sebelumnya kusambut tahun 2023 dengan semangat menggebu soal hobi dan resolusi baru, nyatanya seiring berjalannya waktu, aku merasa penyakit lamaku kembali merenggut keceriaanku. Aku kehilangan minat pada banyak hal. Termasuk pada sosok idaman yang selama ini kukagumi dalam diam. Aku kehilangan minat pada hobi, pekerjaan, rutinitas. Semuanya.

Kehilangan minat itu menjadikan aku tidak memiliki apapun untuk dibicarakan. Meski sejatinya isi kepalaku benar-benar berisik sekali tidak ada satupun kesempatan aku bisa mengeluarkannya meski itu harus kepada orang yang tepat. Bukan karena aku tidak berani, tapi lebih ke karena aku malas ini akan memakan banyak waktu. Bagaimana kalau pengutaraan isi kepalaku justru berujung pada pertikaian? Karena sejatinya kepalaku tidak lagi diisi oleh sesuatu yang menyenangkan? Aku tidak suka berdebat, memilih diam dan mengalah. 

Sebelumnya, aku menemui fase yang luar biasa melelahkan. Ketika setiap kali aku tidur, aku tidak pernah tidak bermimpi. Mimpi soal apapun. Soal lanjutan kejadian hari ini, mimpi soal masa lalu, mimpi soal hal yang mustahil terjadi, mimpi soal selebriti terkenal, mimpi soal bencana alam. Tidak pernah terlewat satu kali pun. Dan ini membuat tidurku justru tidak nyaman. Aku cukup sering terbangun di tengah malam akibat mimpi. Atau merasa bangun tidur dalam kondisi yang kurang melegakan.

Sebelum tidur pun demikian. Misalnya aku melakukan aktifitas yang menyenangkan seperti hang out, menonton film atau apapun. Namun saat aku berusaha tidur, kelebat pikiran melemparku pada fakta-fakta tidak nyata. Ketakutan yang belum terjadi. Bagaimana kalau begini. Bagaimana kalau begitu. Seharusnya begini. Seharusnya begitu. Setiap aku berusaha memejamkan mata, butuh waktu setengah sampai satu jam untuk bedamai oleh pikiran itu.

Pikiran-pikiran itu bahkan menciptakan aku yang benci mendengar suara notifikasi karena mengakumulasikan ketakutan akan terjadi dalam sebuah chat atau telepon. Menciptakan diriku untuk menghindari lebih banyak orang, tempat, situasi, yang bahkan belum tentu buruk. Tapi sudah tertanam dalam pikiranku melalui ketakutan sebelum tidur itu.

Dari sanalah aku merasa bahwa aku menjadi amat lebih diam daripada malam sekalipun. Ketika malam masih bersua dengan hiruk pikuk kota yang ramai, aku benar-benar kehilangan citra diri sebagai makhluk sosial yang berkomunikasi. Aku tidak sedang melakukan pembicaraan dengan siapapun di sosial media. Instagram, Twitter. Semua kosong. WhatsApp yang tidak melakukan kesalahan, kini menjadi salah satu media yang mulai kutakuti seperti Line sebelumnya. Telegram hanya teman lama, yang pembahasannya ini itu saja. 

Terlebih di dunia nyata. Kepasifanku bertambah parah. Ketika berhadapan dengan seseorang, di kepalaku ada satu dua skenario jawaban yang hendaknya aku lontarkan. Namun berakhir hanya dengan satu dua anggukan. Oke, biar ngga lama dan ribet, saya iyain aja omonganmu. Kira-kira seperti itu.

Dan iya. Soal tangisan. Aku sudah lama tidak menangis. Ekspresi emosi itu sama sekali hilang dari dalam diriku. Seolah yang tersisa hanya ada emosi takut, khawatir dan biasa saja. Bahagia pun tidak ada. Terakhir menangis sepertinya malam saat bulan Juni kala itu, ketika aku merutuki diriku sendiri soal menimbulkan perasaan aneh pada individu baru. Itu saja. Sudah lama ternyata.

Dan aku benar-benar tidak tahu cara berkomunikasi sekarang. Lebih banyak diam dan berjuang mengontrol isi kepala yang kalut dan kusut. Aku takut bahkan sampai kubawa hal ini ke meja konsultasi pun aku masih kesulitan bicara. 

Bahkan aku tidak membuat reaksi pada hal-hal yang terjadi di sekitar. Semua emosi berakhir dengan tanpa reaksi sama sekali. Separah itukah?


Share:

Friday, January 13, 2023

Sapaan Pertama di Tahun 2023

 Hai, it's been so long since the last I posted my entry. Waktu berlalu teramat cepat dan aku resmi berusia 26 tahun sekarang. Tidak ada urgensi yang berarti untuk bisa membawaku kembali menyapa di blog ini—sebenarnya. Tapi mengingat adakalanya kita mesti berkabar, untuk memberitahu siapapun bahwa kita masih hidup, maka di sini aku mulai menulis lagi. Bukan di kamar tidur dengan lampu padam seperti biasanya, kini aku duduk di sebuah cafe dan memutuskan untuk menulis satu entrirandomly.

Karena sudah lebih dari lima bulan aku tidak menyapa. Dan ini adalah tahun baru, however it's still January. Maka biarkan aku memberi kabar dulu terkait perkembangan dan hal-hal yang terjadi selama ini.

Pertama, rasa aneh yang muncul di dadaku sejak hari pertama bulan Juni adalah sesuatu yang nyata. Bukan sebuah bentuk abstrak yang tidak terdefinisi. Karena bagaimana pun aku mencoba mengabaikannya, aku selalu bereaksi berlebihan setiap kali ada sesuatu yang baik terjadi. Namun, perasaan itu tetap terinterupsi oleh sifat bawaanku sebagai anak pertama dan  seorang INFP—barangkali. Karena aku selalu punya momen di mana pada akhirnya aku membencinya tanpa atau dengan alasan, bahkan yang paling sederhana sekali pun. Namun di kemudian hari aku tetap tersenyum oleh candaannya.

Aku merasa itu titik terlemah ketika aku membagi fokus dunia kepada seseorang secara berlebih. Jadi, kuputuskan perasaan aneh itu tetap di situ tanpa usaha dikembangkan. 

Kedua, pada akhirnya aku berhasil menuntaskan apa yang dulu pernah aku dambakan. Laptop. Aku berhasil mendapatkan laptop seharga dua digit dengan uangku sendiri. Ini bukan bentuk kesombongan. Demi Tuhan. Jika mengingat dulu aku pernah menganggap laptop adalah barang yang hanya bisa dibeli oleh 'orang kaya', maka ini seperti ada keinginan terpendam untuk mematahkan anggapan itu. Terlebih aku memang tipikal orang yang tidak sepenuhnya bisa terlepas dari laptop. Aku bisa melakukan apa saja dengan laptop yang selama ini kupunya. Jadi, bukannya mubazir, laptop dua digit ini akan sangat membantuku. Terlebih ketika mengingat laptop sebelumnya mungkin akan menangis jika bisa berbicara, menuntutku karena terlalu banyak kuforsir untuk berkerja, hahaha.

Di samping itu seperti saat sekarang, kala aku duduk seorang diri di cafe. Menyicipi kopi kesukaan dengan ditemani laptop. Akan kutunjukkan bahwa laptop yang kubawa bukan lagi laptop seberat 3 kilo dengan layar penuh frame. 


Ketiga, dalam kurun waktu lima bulan terakhir aku mulai kembali mengambil atensi pada buku bacaan. Bukan hal yang merepotkan mengingat aku memang terbiasa dengan kegiatan itu bahkan sejak aku masih mengenakan seragam putih merah. Aku mulai memperbaiki lagi kealpaan literasiku yang jujur saja cukup mempengaruhi tingkat fokusku, mempengaruhi kapabilitasku dalam mengungkapkan pikiran, mempengaruhi kemampuan untuk menyusun kata. Reading helps me a lot!

Dan aku semakin memperluas koneksi untuk bisa menjaga minatku soal buku. Membentuk target sendiri agar bisa membaca sekian buku dalam kurun waktu tertentu. Dan membeli buku dengan uang gaji tanpa merasa keberatan atau berpikir dua kali—karena itu yang selalu kupikirkan sebelum kerja dulu. Membentuk koneksi dengan teman-teman sehobi untuk mendapatkan motivasi 'mereka saja bisa maka aku harus bisa'.

Keempat, aku merasa ada banyak hal yang lebih baik yang bisa kulakukan. Seperti menjawab mimpi-mimpi sederhana keluargaku yang dulu belum sempat terwujud. Meskipun jika dibandingkan dengan pencapaian orang lain, aku berada di titik ini bukanlah suatu hal yang bisa dikomparisasikan. Namun aku telah lama berhenti menggunakan standar orang lain untuk bisa mencari arti keberhasilan.

Kelima, hal paling baik. Beberapa minggu setelah aku menuliskan entri sebelumnya, aku kembali mengunjungi dokterku. Mengadu padanya tentang rasa iri yang mengembang layaknya airbag di dalam hati. Kuluncurkan rasa kebencian itu pada dokterku dan apa yang kudapat? Aku tidak menemukan esensi melarikan diri untuk sesi yang kubayar dengan jerih payah dari gajiku.

Dari sana aku mengetahui, dokter pun melakukannya untuk uang. Dokter pun manusia yang juga butuh pertolongan dari masalahnya. Dan tidak seperti mendapat resep obat demam dan flu yang bisa kamu dapatkan dari dokter manapun. Untuk menemukan dokter yang cocok dengan kondisi mentalmu, kamu butuh trial and error berkali-kali. Bersyukur jika menemukannya kali pertama. Jika sepertiku yang merasa tidak cocok? Bahkan bukan hanya obat penenang, dokternya pun membuat semuanya terasa sesak.

Namun ketidakcocokan itu justru berbuah panjang lima bulan ke depan. Di sini aku duduk di cafe selepas kerja, aku sedang dalam kondisi netral yang tidak merasakan emosi berlebih. Tidak senang. Tidak sedih. Tidak marah juga. Aku bisa lebih mengontrol perasaanku dan berfokus pada diriku sendiri. Rasa takut sudah jarang ada. Terlebih pada hal-hal tidak perlu yang bahkan belum terjadi.

Speaking of mental condition, setiap orang yang punya masalah pada mentalnya tentu ada bentuk atau sistem unik di dalam kepalanya, kan? Aku merasa demikian. Meskipun aku sudah tidak pernah merasa takut atau bereaksi berlebihan pada hal-hal sepele. Aku tetap saja mendapatkan mimpi buruk tentang kehilangan, bencana, putus asa. Aku meyakini mimpi adalah peran alam bawah sadar yang mengakumulasi semua peristiwa yang ada dalam hidup. Dan mimpi buruk yang terjadi dalam tidurku bukanlah kebetulan semata. Aku tau itu adalah proyeksi dari ramainya alam bawah sadar yang tidak bisa kukunjungi di kala aku sadar seperti sekarang.

Lalu aku juga membicarakannya pada teman satu kapasitas. Di sebuah cafe lain di tengah kota sana. Aku menjelaskan soal mimpi-mimpiku. Juga pada mimpi tidak penting yang berasal dari akumulasi hal-hal yang kualami dalam dua atau empat hari terakhir. Dia mengaku dia tidak pernah mendapatkan mimpi seperti itu di saat aku menganggapnya itu adalah hal lumrah yang terjadi hampir di setiap pengalaman manusia.

Dia justru mengaku sering menemukan dejavu dalam kegiatannya. Seperti pernah merasakan atau melakukan hal yang sama namun tidak berhasil ia temukan tepatnya kapan itu terjadi. Dari sana aku menyadari dengan kondisi yang sama-sama tidak sempurna, nyatanya hasil yang diproyeksikan oleh sistem di kepala kita berbeda. Dan memang, manusia seunik itu. Psikologi benar-benar tidak kalah untuk merebut atensi sama halnya dengan astronomi.

Meneruskan soal isi kepala manusia yang unik, aku mengantongi buku Jung's Map of The Soul. Buku ini kubeli atas rekomendasi teman di Twitter. Berisi pengenalan tentang ilmu Psikologi Jungian yang ditulis oleh 'fans-nya', Murray Stein. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan rata-rata bahasa ilmiah psikologi yang pemahamannya butuh satu fokus yang kuat.

Meskipun harus kuakui jauh lebih mudah membaca buku diktat mata kuliah bahasa Jepang, Jung's Map of The Soul membuka mataku soal keunikan isi kepala manusia yang abstrak. Sama halnya dengan atensi dan rasa penasaranku soal alam semesta. Mereka jauh di sana, gelap, tak tergapai. Namun kita mempercayainya. Oleh karena itu ketika Jung memperkenalkan istilah Ego, Shadow, Persona, Anima/Animus dan lain sebagainya di dalam pikiran manusia, entah kenapa aku menganggap semua itu ada sama halnya dengan alpha centaury yang jaraknya ratusan juta tahun cahaya di atas sana.

Dan yah, itulah kabarku di awal tahun 2023. Menikmati streaming netflix secara bebas tanpa gangguan—pasalnya aku sudah memiliki aksesnya dengan dukungan sinyal Wifi di rumah yang cukup cepat. Mempertaruhkan waktu kerjaku yang sibuk untuk membaca buku dengan target 20 buku dalam setahun. Menerima kritikan yang cukup mengukir luka di hati, namun berhasil kutaklukkan dengan pikiran-pikiran positif tanpa bantuan obat atau dokter lagi. Tidak ada dalam waktu dekat meniatkan diri untuk mencari bantuan lagi, sementara waktu dan semoga untuk selamanya.

Dan semoga hal luar biasa yang tidak pernah aku planning di awal tahun, hal yang menyenangkan dan membuatku bangga pada pencapaianku sendiri bisa benar-benar terjadi di tahun ini.

Jika sebelumnya aku menutup entri dengan keinginan mati, maka kali ini aku menutupnya dengan doa. Aku menerima diriku apa adanya. Tidak peduli apa kekuranganku, karena fokus duniaku bukan mereka. Bukan untuk membuat mereka mau menerimaku, melainkan untuk membuat aku nyaman dengan kondisiku saat ini.

Semoga kalian pun sehat selalu.

 

Share:

Thursday, June 2, 2022

Terlalu Banyak Pengecualian yang Dia Ciptakan di Bulan Juni

 

Dua Juni. Juni bukan bulan spesial bagiku, meski ada istilah ‘Hujan Bulan Juni’ yang diambil langsung dari karya Sapardi. Tidak memberi alasan apapun padaku meski sejatinya aku selalu jatuh cinta pada hujan. Aku juga kurang paham apa yang membuatku lama tidak mengunjungi blog. Semua perasaan dan kebiasaan yang dulu lama bersarang di dalam diriku perlahan menghilang. Entah terkikis apa. Aku tidak lagi mengejar blogging sebagai sesuatu yang perlu untuk melepas penat. Tidak lagi bisa fokus membaca buku atau tulisan sendiri bahkan lima menit pun.

Aku sudah kehilangan sebagian besar jati diri, meski hanya sekali aku mengunjungi meja konsultasi.

Sebenarnya, hari-hari yang kulalui tidak memiliki episode penting yang perlu dibagikan. Seandainya ada, aku tidak punya keinginan dan minat untuk membagikannya. Aku hanya melakukan rutinitas harian sebagai sebuah robot yang hanya bertumpu pada baterai. Bergerak seperlunya, sudah mati sesungguhnya.

Satu-satunya alasan aku menulis satu entri di tengah gempuran deadline—plus besok aku ada meeting—adalah karena aku menangis untuk perasaan baru. Pertama kali setelah sekian lama. Perasaan yang entah bisa kuasumsikan sebagai rasa kagum atau suka, rasa nyaman atau bahkan jatuh cinta.

Apa yang paling kuat menggempurku adalah perasaan cemburu ketika ‘seseorang’ itu bersanding dengan orang lain. Bukan, maksudku jika ada orang lain yang bersanding dengannya.

Masalah terbesar bukan dari kesulitanku untuk mencari celah agar bisa berbahasa banyak dengannya. Bukan pula tentang bagaimana aku susah payah mendaftar organisasi demi bisa menemuinya lebih lama, mencari cara untuk berinteraksi dengannya.

Bukan.

Masalah terbesarnya terletak pada dia adalah keseharianku. Sosok yang semua datanya bisa kudapatkan tanpa perlu mencari. Bukan sosok misterius yang perlu kukejar dan kucaritahu tanpa basic sebagai informan, mata-mata atau detektif. Kegiatan yang dulu pernah dengan gila kulakukan pada kakak tingkat di kampus.

Sosok ini datang di ruang yang sama denganku. Kapasitas yang tidak perlu diragukan. Frekuensi yang menyerupai. Hal-hal yang seharusnya mesti kusyukuri, namun berakhir harus kutangisi.

Seseorang yang sejak awal sudah menaruh ruang kesempatan bagi siapapun untuk mencintainya. Atau paling tidak ingin mendekati dan berinteraksi lebih dengannya. Dia membuka kesempatan bagi siapapun, termasuk aku—untuk mengisi ruang itu. Tanpa atau dengan iktikan lain yang bahkan aku pun tidak tahu apakah akan sama referensinya dengan milikku?

Aku bahkan bisa menikmati setiap detailnya dengan mudah. Mendapatkan apa yang tidak atau sulit mereka dapatkan darinya. Aku menyimpan baik hal-hal yang ia berikan tanpa sadar. Hal-hal yang dulu tidak pernah aku asumsikan akan aku jaga dan simpan.

Namun, dalam sekelebat momen semuanya berubah.

Kali pertama aku mulai merasa cemburu. Kali kedua aku mulai mendeteksi tidak ada yang berubah darinya, namun aku merasa dia tampak menjadi lebih istimewa di mataku. Dan saat itu, tanpa percobaan kali berpapun berikutnya—aku menangis.

Di perjalanan malam melalui jalanan lengang pukul 10 malam, aku menepuk dada untuk memastikan jantungku tidak boleh berdegup. Aku memastikan kalau aku tidak boleh jatuh cinta. Aku memastikan kalau aku tidak boleh kembali terluka.

Bagaimana pun, sosoknya berada di galaksi paling jauh, meski raganya berdiri di bayangan yang sama denganku. Dengannya, aku memunculkan pengecualian-pengecualian yang dulu belum pernah aku bangun. Pengecualian seperti aku tidak suka A kecuali dia, aku tidak mau B kecuali dia, aku tidak boleh C kecuali dia.

Dia datang seperti pembeda. Entah kenapa dia bisa menciptakan banyak jenis pengecualian.

Namanya Dokter Widhya. Psikiater pertama yang mendengar secuil keluhku bulan Maret kemarin. Psikiater yang menyatakan bahwa aku berteman erat dengan gangguan kecemasan. Aku tidak tahu apakah dengan deklarasi seorang psikiater aku boleh mendiagnosis diriku sendiri setelahnya?

Karena setiap kali sosok itu muncul dengan pengecualian, aku datang bersama kecemasan. Cemas soal banyak kekurangan yang berbaris di belakangku. Tidak rupawan, tidak cerdas, tidak kaya, tidak aktif, tidak ramah, tidak baik, tidak supel, tidak mapu dalam banyak hal dan banyak-banyak-banyak lagi kecemasan.

Cemas bagaimana aku bisa tersiksa patah hati nanti—ketika ia hahahihi dengan orang lain. Cemas bagaimana aku bisa membagi lagi waktuku yang sudah padat untuk mengurusi urusan hati karena dirinya. Cemas bagaimana aku yang sudah punya kebiasaan menangis tanpa alasan, akhirnya bertambah alasannya untuk menangis.

Jangankan nanti, semalam pun aku menangis. Takut kecemasan yang belum terjadi memenuhi kepalaku.

Aku menangis saat perjalanan pulang, saat di atas Kasur sebelum tidur malam, sampai pagi saat aku mematut diri di depan kaca, kutemui mataku bengkak.

Hanya karena satu sosok pembawa pengecualian; dirinya.

Bahkan kini, mendengar suaranya saja sudah membuat jemariku terkepal. Ingin memukul tembok keras-keras. Melihat fotonya saja sudah membuatku menjambak rambut, berusaha melepas pikiran dan ketakutan dari kepala.

Ini baru permulaan. Biasanya, akan menghilang seiring berjalannya waktu. Aku mendoakan pengecualian yang dia buat pada prinsipku tidak akan bertahan lama. Aku sudah berkali-kali menampar diri dengan kenyataan jarak kami terlampau jauh. Mustahil bagiku untuk mengejarnya.

Ah, begini ternyata rasanya ‘jatuh cinta’ seseorang yang mengidap depresi. Lebih banyak takutnya ketimbang senyum-senyum sendirinya.

Share:

Sunday, January 30, 2022

PARA ANONIM UNTUK SEORANG ANONIM


Beberapa hari yang lalu, aku menemukan fotoku saat masih bayi. Aku mengasumsikan usiaku masih 2 sampai 3 bulan saat itu. Wajahku bersih, badanku gemuk berisi, mataku indah, rambutku lebat dan hitam. Aku menyaksikan foto itu saat usiaku sudah 25 tahun sekarang. Sebuah usia yang membuatku melontarkan banyak rasa kasihan pada foto bayi itu.

Aku mengasihaniku di usia 3 bulan karena ketidaktahuannya akan menjadi apa ia kelak saat dewasa. Mengapa aku di masa sekarang pernah mengambil keputusan yang salah, pernah mengabaikan pelajaran, pernah tidak berusaha sekuat tenaga, pernah menyia-nyiakan kesempatan, pernah teledor dalam melakukan sesuatu. Semua hal yang aku lakukan dan membuat bayi itu berubah menjadi sosok yang penuh keputusasaan seperti sekarang.

Foto hanya pemanis, bukan fotoku

Aku mengasihani diriku sendiri karena aku telah banyak mengubah apa yang telah dibangun oleh ibuku. Masa-masa kecil yang kulihat dalam foto, aku berpakaian rapi sekali, aku memakai tas yang lucu, memakai sepatu yang bagus, memakai aksesoris yang cantik. Aku akan sebaik dan sebagus itu di ‘tangan’ ibuku. Namun ketika aku sudah mulai diberi kesempatan mengurus diriku sendiri, mengambil keputusan sendiri, banyak sekali hal yang salah yang telah aku lakukan.

Luka-luka di tubuhku akibat aku terlalu mengabaikan dan sembrono. Rambutku yang tidak selembut dan sebagus dulu akibat aku pernah salah merawatnya. Wajahku yang kusam akibat aku malas mencuci wajah. Mata pandaku yang menyebalkan akibat aku mengulur waktu tidur dan sering mengonsumsi gadget. Semua hancur berantakan setelah ibuku lepas tangan.

Ibuku tetap memberi nasehat namun aku sering kali mengabaikan.

Aku ada di masa-masa antara hitam dan putih. Kedewasaanku sebagai manusia 25 tahun sedang diuji. Aku dihadapkan oleh sebuah pilihan yang riskan, yang masih saja kuhadapi dengan pikiran 18 tahunku. Dalam momen-momen itu tengkukku jadi sakit, kepalaku berpendar pusing, bahkan sering kali tanpa dipicu apapun aku mual dan sampai muntah.

Aku berusaha mengajak teman keluar, pergi kemanapun, memakan apapun, agar pikiranku sedikit terdistraksi oleh hal-hal yang membuat ku ketakutan dari masa lalu. Hal yang pernah melukaiku selama bertahun-tahun tanpa sebab, yang membuatku mengharapkan kematian, yang membuatku ketakutan. Aku kini kembali menantangnya! Dengan luka menganga yang belum sepenuhnya sembuh. Aku tidak tahu bagaimana akhirnya, tapi akan tetap kucoba. Ibaratnya, jika aku harus mati, maka aku akan mati.

Aku tidak tau kenapa aku sulit menghargai diriku sendiri di saat aku masih bisa menemukan para anonim menuliskan pesan padaku.

Tidak ada obat yang lebih menyenangkan ketimbang membaca pesan-pesan dari anonim yang menyemangatiku, yang memuji karyaku, yang membuat aku senyum-senyum sendiri karena terharu. Aku tidak tahu sebenarnya mereka mengirimkan itu semua murni untukku atau malah untuk David?

Yang kuyakini hanyalah aku merasa bersyukur masih bisa membaca pesan-pesan itu sebagai obat.

Ini sebab diriku yang tidak memiliki kemampuan untuk menerima diri sendiri. Low self-esteem atau identity crisis barangkali. Makanya, dibandingkan show off wajahku di foto profil media sosial, mencantumkan nama sesuai akte kelahiranku di semua platform online, aku cenderung membatasi diri sebagai anonim, atau at least menggunakan nama samaran.

Lewat abstraksi identitas ini, mereka yang terus menerka kepribadian dan sosokku pun pada akhirnya membuat imajinasi sendiri. Mereka akan menciptakan sosok baru sesuai dengan karakteristik tulisanku, cara aku merespons, gaya bahasaku atau foto profil orang lain yang aku pinjam (aku tidak pernah mencuri foto profil orang lain kecuali memang foto idol atau aktor, ya).

Maka dari itu, mereka yang terlanjur menciptakan karakter imajinerku cenderung tidak akan bisa membenci sosok ciptaannya sendiri. Mereka akan tetap menyukaiku. Kebanyakan.

Ah, mungkin kemisteriusan yang aku bawa dan label anonim yang melekat erat padaku membuat aku sulit mendapatkan jodoh. Maksudku, aku tidak menemukan satu pun sosok yang bisa mengenaliku dan membaca potensiku sebagai manusia. Toh, lebih dari apapun aku tidak ngebosenin-ngebosenin amat. Aku enak diajak ngobrol, aku pendengar yang baik, aku bisa menjadi support system yang kebanyakan orang butuhkan.

Tapi karena mungkin aku terlalu menutup diri, ditambah ada satu kondisi mental yang sangat sulit aku jelaskan, makanya aku seperti jarum dalam jerami yang sulit ditemukan. Tersembunyi dalam satu universe sendiri.

Lagipula aku dan David sudah cukup. Kami akan bekerjasama untuk tidak membunuh diri kami.

 

Share:

Friday, January 7, 2022

Januari, Rasa Tidak Bersyukur dan Mimpi yang Kurang Ajar

 

Aku mengetik entri ini di usiaku yang sudah 25 tahun. Siapa sangka kan seorang berusia 25 tahun masih sempat-sempatnya mengeluhkan soal beban hidup? Padahal hal itu sudah terjadi bahkan sejak pertama menginjak usia 20-an. Ibaratnya ini sudah tahun keempat atau kelima seharusnya aku berhasil adaptasi atau menikmati semua beban hidup yang sering dikeluhkan orang-orang sebagai ‘quarter life crisis’.

Gambar 1.1 Lokasi terakhir sebelum aku jatuh sakit



Namanya juga INFPs. Tipe manusia yang paling cerewet isi kepalanya. Plus aku sudah terbiasa menulis sejak kelas dua SD. Bukan hal yang patut dipertanyakan sebenarnya. Justru ketika orang maniak menulis sepertiku justru tidak punya tulisan sama sekali dalam kurun waktu amat lama. Seolah patut dipertanyakan ‘bencana hati’ apa yang menderaku sampai-sampai aku kehilangan kemampuan menulis?

Keluhan pertamaku berasal dari rasa luar biasa karena untuk kedua kalinya tubuhku bereaksi akibat kelelahan. Di bulan Mei atau April, aku pernah ambruk sekitar tujuh hari. Dokter bilang aku punya gejala Covid-19. Memang waktu itu beberapa rekan kantor sempat ada yang sakit, aku tidak merasakan barangkali aku terinfeksi dari penyakit mereka.

Tapi kemarin. Tepat setelah aku pulang kerja di hari ulang tahun. Tepat setelah kutandaskan segelas vanilla latte bersama salah satu malaikatku—dan kami terlibat perbincangan tidak penting soal film dan drama—pada akhirnya aku ambruk. Fisikku sudah tidak tahan lagi. Aku demam tiga hari. Ditambah darah rendah, pusing, mual, batuk, flu. Perpaduan klasik kalau tubuh sudah kelelahan.

Ada tiga sampai empat macam obat yang aku konsumsi. Tapi penyakit yang kuprediksikan akan pulih dalam satu hari nyatanya membutuhkan waktu lebih lama dari dugaanku. Butuh lebih banyak dosis obat sampai aku sungguhan pulih. Dan bahkan di hari pertamaku kembali berkerja, aku masih merasa duniaku seperti berputar.

Tapi aku bersyukur atas rasa sakit yang sempat kualami selama nyaris seminggu kemarin. Aku mendapat lebih banyak waktu istirahat, lebih banyak waktu untuk menikmati ruangku sebagai introver, lebih banyak waktu untuk tidak dituntut apapun.

Karena bagaimana pun, aku merasa ada dua sisi dalam diriku. Malaikat dan iblis.

Keluhan keduaku berasal dari ketidakmampuan aku mengendalikan emosiku sendiri. Di satu sisi, aku ingin memberontak, menuntut, mendebat. Di sisi lain aku hanya berserah diri dan membiarkan semua terjadi karena aku masih tahu diri.

Masih ingat Yoon Jongwoo yang diperankan Im Siwan di series OCN ‘Strangers from Hell’?

Di sana Jongwoo digambarkan sering membanting barang, memukuli orang, mendebat, mencela, merusak. Namun kenyataannya, semua itu hanya bayangan di kepala yang tidak mungkin ia realisasikan. Itu pelanggaran. Kamu akan dicap aneh, jahat, buruk, jika kamu bersikeras membebaskan emosimu itu dari kepala.

Nah, itulah yang kurasakan beberapa bulan belakang.

Dalam kondisi jenuh, ditambah trauma dan depresi yang masih tidak tertolong, serta rasa takut pada banyak hal yang tidak terdifinisi, aku dipaksa dihadapkan pada keinginan dan tuntutan pekerjaan yang melampaui akal sehatku. Bukan. Bukan jenis pekerjaan apa yang harus aku lakukan. Bukan pula pada bagaimana aku seharusnya melakukannya. Sudah kubilang di entri-entri sebelumnya, aku bekerja di bidang yang aku kuasai, jadi aku menikmatinya.

Hal-hal yang seketika mengubahku menjadi Yoon Jongwoo adalah ketika aku bisa melihat dengan jelas perbandingan di saat atasanku tidak mampu membaca bahwa aku telah berhasil. Ya, memang divisiku bukan divisi yang gagal-suksesnya bisa diukur dengan nominal angka. Divisiku sangat abstrak. Sangat tidak kentara.

Maka di saat aku berhasil, di saat aku sudah melakukan tanpa diminta, di saat aku menemukan jalan sendiri, di saat aku sudah melakukan inovasi, semuanya seperti abu dari kertas yang terbakar. Berterbangan tertiup angina dan hilang tak berbekas.

Aku tidak butuh apresiasi. Aku hanya butuh hasil kerjaku diakui.

Masa semua rencana kerja yang aku buat—aku yang paling rapi dan terstruktur—masih dikomentari kurang ini kurang itu? Sedangkan divisi lain yang tidak jauh berbeda denganku, hanya punya sekitar 20 menit komentar dibanding aku yang 1,5 jam lamanya.

Timeline katanya, tapi tadi aku lihat tidak semua divisi mencantumkan timeline. Dan tidak ada yang dikomentari.

Tidak sesuai dengan RK tahunan katanya, tapi dalam beberapa agenda kerjaku memang sudah mencakup bagian RK tahunan. Aku ingin sekali defend dan menunjukkan poin-poinnya, tapi aku masihlah Yoon Jongwoo di episode ketiga, yang masih belum hilang kesabaran dan akal sehatnya gara-gara Seo Munjoo.

Aku baca interaksi para pekerja di salah satu postingan Twitter. Alasan seorang karyawan resign lebih banyak dipengaruhi oleh atasan, kemudian lingkungan kerja, barulah struktur dan jenjang karir. Untuk gaji sebenarnya nomor sekian. Rasanya tidak elok juga kalau kita bisa menikmati gaji yang banyak tapi gaji itu bukan dari jerih payah kita yang dilirik.

Di tengah meeting, INFP sepertiku melayangkan lamunan tentang cuti yang ingin kuambil nanti. Tentang bagaimana aku bertemu ini, bersama ini, makan ini, pergi ke sini, melakukan ini. Banyak hal.

Aku terlalu jenuh. Terlalu kehilangan kendali atas diriku sendiri. Aku seperti kehilangan visi hidup, semangat hidup. Depresi benar-benar menggerogoti kehidupan normalku.

Aku tahu, dalam sudut hatiku yang terdalam aku tetap merasa bersyukur. Semua atasanku memberikan kritik padaku untuk membuatku sadar dan bangun dari tidur panjang. Mereka tidak akan melakukannya jika mereka tidak memedulikanku, kan? Mereka sebenarnya peduli padaku, tapi karena aku merasa seperti Yoon Jongwoo, rasa kepedulian itu berubah seperti penghinaan.

Ingat kan atasan sekaligus kakak kelas Yoon Jongwoo di kantor? Dia super baik, peduli dan suka menolong semua kesulitan Yoon Jongwoo. Dia kasih Jongwoo pekerjaan, kepercayaan, treatment baik, bahkan materi juga. Tapi apa yang Jongwoo lihat? Atasannya seperti menghina dirinya, mengganggu, melukai.

Persis seperti itu yang aku rasakan.

Akal sehatku bilang ini wajar, ini bentuk kepedulian dan rasa sayang. Tapi hatiku terus berontak, you got a pride! You should never let someone brings you down!

Aku bener-bener ngga tau harus bawa masalah ini ke siapa. Aku sakit kepala dan hilang nafsu makan setiap kali mikirin ini.

Dan keluhan terakhir, yang membuat hari ini semakin buruk.

Aku ngga tau ini ada campur tangan Tuhan atau ngga, atau ini memang murni ulah dari alam bawah sadarku yang bermain-main soal mimpi. Semalam akum impi tentang dia lagi. Jelas sekali. Durasi yang lama dan bahkan saat aku terbangung karena alarm, aku tertidur dan bisa melanjutkan mimpiku lagi.

Di universe yang aku rasakan di mimpi, aku bertemu dia. Mengobrol, bercengkerama, tukeran parfum, dll. Aku ngga tau kenapa alam bawah sadarku selalu memproyeksikan dia sebagai sosok yang sempurna dan berada di level tertinggi. Sosok yang tidak akan pernah bisa aku raih meski dulu kita pernah di tempat yang sejajar.

Ada seperti satu universe lain yang ia tinggali dan tidak bisa aku kunjungi. Seperti ada dalam frame yang berbeda. Tertahan oleh satu portal yang hanya bisa orang-orang tertentu masuki dan itu bukan aku.

Mimpi itu membawaku duduk terdiam cukup lama. Terlalu nyata. Seperti ada kesan ‘yah… cuma mimpi’ yang mendalam. Lalu, dengan nekat aku coba kembali menghubunginya. Iseng bertanya kabar, karena aku tahu dalam beberapa aspek dia coba menghapus semua yang bisa membuatnya berelasi denganku. Dia tidak pernah berinteraksi lagi dengan duniaku (bahkan hanya lewat social media). Seperti sengaja menciptakan jarak.

Namun dengan bodohnya, aku melintasi portal itu hari ini. Menghasilkan sesuatu yang baik? Oh, tentu saja tidak.

Mau kamu sebutkan Leonardo DiCaprio atau Camilla Cabelo, manusia yang mustahil terjamah oleh tanganmu yang masih sering menyentuh tahu isi dan pisang goreng. Bagiku cuma dia satu-satunya manusia dengan dinding penyekat yang tinggi dan dingin.

Aku tidak merindukan dia sebagai orang yang kucenderungi dalam konteks tuntutan nafsu atau rasa ketertarikan. Aku merindukan dia karena dia satu-satunya orang yang cuma meninggalkan bekas baik dalam rapor hidupku yang merah. Dia yang membuat aku tidak pernah menjadi orang yang lemah dan putus asa. Dia pernah menjadi sumber semangatku, menjadi alasan terbesar aku bersemangat pergi ke sekolah.

Aku hanya ingin mendapatkan sumber kebahagiaanku kembali. Tapi dia menyalahartikannya sebagai hal yang harus dihindari.

Setelah kuciptakan alter ego bernama David dan pujaannya, Nathan. Semua terasa lebih mudah sekaligus menjengkelkan. Aku masih tidak bisa yakin mana dunia nyataku dan mana yang cuma ilusi bagiku.

Siapa yang punya 25 tahun lebih berat daripada ini?

 

Share: