Showing posts with label aboutme. Show all posts
Showing posts with label aboutme. Show all posts

Saturday, November 30, 2024

Mari Kita Apresiasi Tahun 2024 dengan Cara Menjengkelkan

 Halo, ini aku — Radiva yang sebentar lagi bertambah usia. Memasuki bulan Desember mendadak menjadi menyeramkan untuk aku yang tahun ini tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Sudah kubahas di entri sebelumnya, 2024 tidak banyak yang berarti. Atau memang akunya saja yang menganggap semuanya jadi tidak berarti.

Tahun ini dengan cepat aku kehilangan dan mendapat teman. Aku cukup banyak menemui orang, namun tidak ada yang benar-benar bisa membuatku 'secure'. Aku berusaha melunak, mengalah, kembali menjadi seorang Mediator yang tidak suka berdebat dan menghindari pertikaian. Namun aku juga berubah cepat menjadi 180 derajat berbeda, mengonfrontasi, memarahi dan berdebat dengan orang yang mengusik kedamaian atau idealisme tertentu.

Siapa sangka? Aku bisa merasakan perasaan yang bergejolak untuk menyakiti orang lain — dan diri sendiri. Pikiran menyayat pergelangan tangan tidak muncul, jujur saja. Tapi apa yang berkelebat di kepala adalah perasaan ingin menampar orang, menendang badannya dan memaki di depan wajah mereka. Entah siapa. Dan juga hadir perasaan ingin merusak diri dengan menghantamkan kepalan tangan di kaca atau cermin, membanting barang dengan sekuat tenaga atau berteriak secara bebas untuk mengeluarkan semua jenis emosi.

Karena, aku tidak menangis.Tidak untuk emosi yang entah bentuknya apa.

Tapi demi bisa menenangkan sisi mengerikan yang ingin mengintip dari balik kepribadianku, aku coba akan menariknya untuk flashback kepada apa yang terjadi di tahun 2024 ini. Dan tentu, di setiap momen akan kutambahkan bentuk pelajaran apa yang bisa aku dapatkan.

1. Mengikuti Komunitas Buku

Sebagai seorang introver yang berelasi hanya dengan orang-orang hitungan jari, menjadi sebuah tantangan tersendiri untukku mengikuti sebuah komunitas buku. Aku terbilang member yang mendahului saat jumlah peserta yang hadir tidak lebih dari 10 orang. Aku bertemu orang-orang dengan pola pikir beragam yang luar biasa. Seketika rasa banggaku pada diri sendiri menyurut, seolah aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan mereka.

Kemudian entah apakah aku terlalu menonjol atau memang mereka gambling saja, aku terpilih menjadi salah satu panitia yang membantu keberlangsungan komunitas debutan itu. Sampai jumlah member-nya melampaui 25 orang. Apakah aku bangga? Tentu saja aku bangga. Bukan pada diriku sendiri, melainkan pada mereka yang bisa datang untuk memberikan kesan pesan tentang buku yang mereka baca dan tentang pengalaman pribadi mereka.

Sebagai seorang emotional master (referensi ini aku dapatkan dari sebuah video Youtube untuk melabeli INFP), aku tergugah pada cerita individu setiap member yang berusaha membuka diri. Aku senang dan mendapatkan energi untuk memahami perjuangan mereka. Seperti mendapat teman seperjuangan. Ada yang jauh lebih menderita daripada aku. Begitulah yang kurasakan. Sehingga aku menganggap komunitas ini menjadi seperti 'rumah kedua'.

Dibandingkan seseorang yang menganggap komunitas ini sebagai komunitas membaca buku biasa yang tidak punya aturan — hanya karena dia datang untuk menunjukkan berapa banyak judul buku yang dia tuntaskan — aku dan beberapa orang lainnya menganggap semua member adalah keluarga yang mesti dijaga dan dirayakan. Namun, orang ini merusak dengan egonya yang sama sekali tidak menghargai perasaan orang lain. Dia sebut orang-orang sepertiku sebagai orang sensitif yang tantruman hanya karena aku merasa gagal untuk merayakan kepergian salah satu member yang bahkan lebih dulu kukenal.

Seketika aku menarik diri dari komunitas ini. Hanya karena orang ini berada di sana tanpa merasa perlu meminta maaf, sedangkan dia memerintahkan aku untuk meminta maaf secara sopan layaknya pelaku pembunuhan yang akan diliput di berita televisi. Egonya besar sekali, cara bicaranya kasar dan konfrontasinya membuat panitia lain seketika berubah dari bilang A jadi bilang B. Pengaruh yang luar biasa. Sehingga aku manifestasikan sebagai salah satu bentuk pertahanan diri yang bisa ditiru — meskipun salah. Hahahaha. 

Persetan dengan orang ini. Dengan tanpa usaha berlebih aku memilih menyimpan energiku untuk memblokir semua akses dari dia, termasuk akses untuk mengikuti kembali komunitas buku ini. Toh, tanpa mereka aku juga masih bisa baca buku sebebasnya, masih bisa mendengar cerita dari para 'pasien'-ku sambil minum kopi, masih bisa berkumpul dengan orang-orang yang jauh lebih luas dan beragam hobi dan latar belakang ketertarikannya. Bukan cuma kutu buku.

Meskipun harus melepaskan, setidaknya aku punya banyak referensi buku yang menarik dan intensiku untuk membaca buku di tahun ini mendadak berkembang pesat. Tahun lalu aku hanya menyelesaikan 4 buku. Tahun ini saat entri ini ditulis, aku sudah melahap 13 buku. Sebuah apresiasi yang hebat!

2. Pengalaman Kerja Baru

Sekali lagi aku bertanya, apakah aku terlalu menonjol atau mereka hanya gambling untuk menerimaku bergabung di perusahaan mereka? Sebuah perusahaan berkembang yang produktif — yang siapa pun jika menyebutnya akan membawa rasa bangga tersendiri. Tapi ternyata kenyataan di baliknya berbeda sepenuhnya.

Sub-judul kutulis 'pengalaman kerja baru' karena sungguhan baru. Dalam sekitar kurun waktu 8 bulan aku menemukan banyak pengalaman yang bisa menamparku untuk lebih berhati-hati dalam menandatangani dokumen perusahaan yang melibatkan pihak pekerja dan perusahaan. 

Aku boleh saja baru punya satu pengalaman kerja, nyaris 4 tahun lamanya. Di bidang yang sama, yaitu 'marketing'. Secara CV seharusnya sudah menjanjikan. Terlebih di perusahaan sebelumnya aku benar-benar difasilitasi belajar marketing selama bertahun-tahun semenjak wabah Covid melanda. Aku selalu bilang ketika alasan kenapa aku bertahan di perusahaan itu meskipun dengan gaji yang tidak seberapa; "Cuma di sini kita belajar, kita dibayar."

Wow, terdengar seperti maniak belajar. Tapi jujur saja, skill dan pengalamanku bertambah berkali-kali lipat. Aku yang introver, kadang bisa switch mode to extrovert ketika dibutuhkan. Aku yang malu mengawali pembicaraan atau takut pergi kemana pun sendirian mendadak jadi fasih menghadapi semuanya akibat tuntutan pekerjaan.

Jika kubandingkan dengan pekerjaan sekarang, aku juga punya skill dan pengalaman baru yang bahkan bertambah sebelum aku genap bekerja selama satu tahun di sini. Skill dan pengalaman itu adalah skill konfrontasi dan pengalaman mendeteksi perusahaan yang punya system failure. Termasuk politik di dalamnya dengan permainan ala koruptor yang banyak menyembunyikan rahasia. Wow, tentu ini menjadi pengalaman langsung yang berharga. Mengetahui bahwa karakter seseorang bisa 'dibentuk' oleh kekuasaan dan uang.

Demi Tuhan, drama Korea yang aku tonton ternyata terjadi sungguhan di depan mataku. Bodoh jika mereka menganggap aku menerima banyak informasi yang tidak seharusnya keluar. Aku seorang intuitive — yang bahkan jika dicek berkali-kali MBTI-nya akan terus memasang huruf N ketimbang S. Aku bisa 'membaca' orang dan situasi dari intuisi, jadi aku hanya perlu penegasan dengan deklarasi dari yang lain. Kemudian aku akan berkata dalam hati; "Tuh, kan benar!"

Namanya perintis, terdengar luar biasa dalam kurun waktu dua tahun sudah ada sekian outlet dan ratusan karyawan. Ketenaran dan uang barangkali bisa dikantongi dengan mudah. Tapi aku lupa pada fakta barangkali perkembangan pesat yang terjadi bisa saja tidak seimbang dengan pemahaman pemimpinnya kepada managemen tim dan sistem kerja yang sempurna.

Aku yang terbiasa di-nina bobo di perusahaan sebelumnya dengan kelas gratis, buku, seminar untuk menjadi leader dan marketer yang baik mendadak clueless pada job desc pekerjaan sendiri. Belum tahu apa-apa soal sistem internal perusahaan sudah langsung ditodong dengan angka produksi yang mesti keluar besok. WTF? Aku bahkan tidak pernah tahu SOP, KPI dan visi misi perusahaan. Tiba-tiba banget diagungkan materi PPT-nya hanya untuk meningkatkan rasa percaya diri pada posisi tertentu, kemudian dicaci maki dan diteriaki materi PPT yang sama untuk demand semua dapat bekerja sesuai keinginannya. 

Katanya uang bukan masalah. Gaji bisa dibicarakan. Nyatanya, untuk apa gaji bertambah hanya demi bisa menjalankan kapal tanpa navigasi? Membungkam mulut dengan memberi privilige gaji dua digit dan double job? Tidak masalah jika datang terlambat dan tidak ada uang overtime — meski overtime seringkali dikaitkan dengan loyalitas. Kontradiktif sekali.

Apa yang paling lucu adalah kenapa aku bisa-bisanya ditipu dengan sign contract yang jelas-jelas merugikan sebelah pihak. Dokumen kontrak yang 'katanya' adalah peraturan perusahaan(?) dan sama sekali tidak ada copy-an slip gaji. Banyak pelanggaran yang terjadi, tapi belum satu pun yang bertindak untuk melaporkan. Mari bertahan untuk menyaksikan keruntuhan.

Ini pelajaran keduaku di tahun 2024. Intinya, bukan cuma cowo saja yang bisa dilabeli red flag. Perusahaan pun sama. Ngga melulu mereka bagus di branding, internal SDM-nya juga sama bagusnya. No way. Literally big NO. 

3. Kita adalah Manifestasi Masa Lalu

Aku bangga menggunakan kapabilitas intuisiku untuk mendeteksi orang dan lingkungan sekitar. Terlebih ketika aku bisa meraih mereka dan membuktikan intuisiku benar. Di tahun 2024, aku banyak sekali menjadi destinasi bagi beberapa orang yang membutuhkan pertolongan. Minimal validasi, lebih lagi kalau bisa solusi. Mulai dari yang perkara pacarnya, perkara pendidikannya, perkara orang tuanya, perkara saudaranya, perkara finansialnya, sampai perkara rumah tangganya. 

Aku sempat mikir; "Buset, ini kalo aku pasang tarif sepertinya lumayan."

Aku juga kurang tahu dapat kekuatan dari mana menjadi salah satu tempat ternyaman mereka untuk menceritakan hal-hal sekrusial itu. Dibandingkan dibuat sibuk oleh pekerjaan— yang mana mungkin sibuk, untuk realisasiin satu project aja alurnya lama banget— aku lebih sibuk keluar dan menjadi 'psikolog' amatir mereka.

Mereka akan selalu memulainya dengan "Kamu sibuk ngga?" untuk yang bisa bertemu tatap muka atau "Aku boleh telepon?" untuk yang jaraknya jauh. Aku selalu mengedepankan mereka, bahkan mengorbankan kebutuhan pekerjaan sendiri demi bisa memenuhi ruang kebutuhan mereka. Jika hal yang kulakukan sama seperti seorang hero menolong civilian, barangkali aku sudah masuk ke daftar Avengers, hahahahaha.

Karena penasaran, aku mencoba mengambil beberapa review dari mereka soal kenapa mereka mempercayaiku untuk mendengar cerita seberat dan serumit itu? Mereka bilang; "Karena aku tau dari awal kamu ngga judgmental." Ada pula yang bilang; "Kamu pendengar yang baik, aku ngerasa aman."

Apakah aku terbang? JELAS. Daripada orang-orang yang cuma bisa konfrontasi tanpa bisa memahami emosi orang— seperti menyebutnya oversensitive dan enggan meminta maaf— aku bangga menjadi orang yang ada dan dipercaya kapabilitasnya sebagai individu yang memikul bersama beban mereka. Karena why not? 

Orang sialan itu sempat mempertanyakan aku kenapa aku 'memvillainized' diri sendiri? Apakah untuk terlihat lebih dominan dan overpower? Aku berpikir dalam dan kemudian mengiyakan, tentu saja aku perlu terlihat dominan untuk bisa dilihat potensi dan kapabilitasnya since I couldn't offer both of visual and wealth? Dan ternyata, aku justru menjadi lebih kuat dan solid ketika ada orang yang membutuhkanku. Bukan karena ingin dominasi, lebih ke rasa bahagia ketika kamu berhasil membantu orang lain.

Tahu kan bagaimana perasaan itu? Seperti lega dan bangga.

Tidak cuma dari pihak-pihak baik saja. Aku juga menilai orang-orang 'jahat' (di hidupku) melalui intuisi dan ceritanya secara langsung. Aku memahami benar bahwa setiap perilaku mereka adalah manifestasi masa lalu yang barangkali 'menyangkut' dan belum selesai. Sehingga menciptakan karakter yang demikian. Jadi semisal perempuan gila itu memelototiku dengan matanya, berteriak dengan suara keras yang bising, aku tahu itu adalah manifestasi bahwa di rumah, dia adalah orang yang diperlakukan sama. 

Dari korban, menjadi pelaku. Selalu begitu, bukan?

Hal ini juga terjadi padaku yang ternyata punya konklusi setelah berkonsultasi dengan psikolog. Manifestasi sikap dan reaksiku yang cukup private (atau sederhananya dicap cuek), serta bagaimana aku berusaha ada di setiap kesulitan temanku untuk mendengarkan cerita mereka dan membantu mencarikan solusi. Nyatanya, itu adalah manifestasi karena selama ini aku jarang dan nyaris tidak pernah didengarkan. Komunikasiku minim sekali sejak kecil, sehingga itu juga menyebabkan aku kesulitan berkomunikasi dalam sistem profesional.

Jadi, jika pemimpin perusahaanku (aku malas menyebutnya bos atau direktur— karena aku pun tidak tahu dia memosisikan diri jadi apa) bersikap grasak grusuk tanpa planning, suka men-delay dan sekaligus menuntut semua terjadi sesuai deadline, serta punya penyakit trust issues yang parah— sampai membatasi akses pada data, sampai membeli jabatan orang hanya untuk menguntit— tentu saja aku paham. Paham betul bahwa itu semua manifestasi bahwa dia tidak pernah dipercaya di masa lalu. Atau boleh kukatakan secara kasar 'kamu tidak punya apa-apa untuk ditawarkan dan dibanggakan, sehingga orang-orang tidak mempercayaimu'.

Tidak apa-apa, aku paham.

4. Bakat yang Masih Belum Hilang






5. Aku dan Bapak

Di poin ketiga aku bilang kan bahwa relasi dan komunikasiku dengan keluarga minim sekali. Aku jarang didengarkan— atau memang terbiasa memendam akibat suatu hal. Sehingga aku sama sekali tidak punya hubungan romantis dan intim dengan keluarga, terutama kepada orang tuaku sendiri.

September menjadi titik balik untukku, ketika bapak salah satu teman terbaikku menghembuskan napas terakhirnya di hari Jumat akibat sakit. Beberapa hari setelah temanku ini ulang tahun. Beberapa minggu dan bulan sebelumnya aku melihat stories dia yang sedang merawat bapaknya, meminta doa kepada rekan terdekat. Ketika satu story-nya muncul dan memperlihatkan kepergian bapaknya, aku ikutan kalap.

Masalahnya, aku tidak berada di sana, tidak bisa menenangkannya. Aku berusaha meraihnya di DM, dia sebut butuh waktu paling tidak satu minggu. Dan ketika aku punya kesempatan untuk menemuinya secara langsung, aku bersemangat untuk menyewa jasa ojek online demi bisa menemuinya di sebuah cafe.

Dia bercerita detail tentang kronologi perawatan bapaknya. Betapa sayangnya dia pada bapaknya. Sesabar itu dia merawat dan mengabaikan kewajibannya sebagai seorang dewasa yang perlu bekerja. Menukarnya dengan barang termahal— yaitu waktu bersama bapak. Aku senang sekali mendengar banyak orang yang peduli terhadap bapaknya. Bahkan setelah bapaknya tiada, orang-orang tetap menghormati beliau.

Aku sempat mengatakan bahwa aku ingin kematian yang tenang di hari Jumat seperti bapaknya. Untuk siapapun. Agar tidak lagi menderita atau merasakan sesuatu yang mengenaskan. Kedamaian itu terkadang membuatku berharap. Dan tentu, kesabaran dan keteguhan temanku membuatku iri, sebab aku bukan anak yang demikian.

Dan benar saja.

Dua minggu yang lalu saat sebelum entri ini ditulis, ibuku menggedor pintu kamar selepas subuh. Bilang bahwa bapakku kecelakaan. Kebiasaan bapakku yang kemana-mana tidak pernah bawa ponsel membuat aku jengkel setengah mati. Telepon itu datang dari orang yang kenal bapak dan ibuku. Dengan muka pucat dan sama-sama takut, aku berangkat bersama ibu menyusul bapak. Bayangkan, hanya melihat motorku rusak parah, aku tidak tahu separah apa kecelakaan itu terjadi. Pecahan kaca di jalan, puing-puing mobil berserakan. Aku menutup mulut. Bingung mesti bereaksi apa.

Aku mengambil ponsel, mengabadikan TKP. Bukan sebagai orang pansos yang minta dikasihani, bukan pula untuk bukti dan menemukan pelaku. Tapi hanya sebagai bukti aku tidak mungkin bisa berangkat kerja dengan kondisi bapakku yang seperti ini. Hanya untuk membuktikan ke atasan bahwa kejadian ini nyata adanya. Sialan. Pekerjaanku bahkan tidak berhak mendapatkan kehadiran seorang karyawan yang sedang tertimpa musibah. Tapi aku masih saja merepotkan diri untuk meminta izin dan meminta maaf.

Ketika suara ambulan dari kejauhan terdengar, aku semakin panik lagi. Ini seperti di drama Korea atau film-film. Aku belum pernah merasakan ini seumur hidup. Aku tidak pernah melihat orang yang kukenal secara langsung dibopong masuk ke ambulan. Aku duduk di sebelahnya, memegang tangan bapakku sambil menyebut; "Sabar, Pak."

Suara nguing nguing ambulan memecah pagi hari. Bahkan matahari belum muncul. Aku kelabakan sendiri memfoto sana sini. Sumpah, ini pengalaman yang mesti kuabadikan dalam momen tahun 2024, kali pertama dalam seluruh hidupku. Dan tentu, aku berhasil mengabadikannya di entri blog ini. Pengalaman yang sama sekali tidak mau kurasakan kembali. Meski ujung-ujungnya tetap saja, foto yang kuambil di ambulan juga sebagai salah satu bukti aku izin tidak bekerja.

Aku melihat bapakku dibawa oleh perawat di atas kasur beroda— yang entah apa namanya— menuju ke IGD. Dipasang selang infus, selang oksigen dan pendeteksi denyut nadi. Astaga, Demi Tuhan, kalau bisa ditukar, mending aku saja yang begitu, aku saja yang terbaring di sana. Jangan bapakku. Setidaknya bapak tidak kesakitan di usianya yang sudah sepuh dan aku punya alasan kuat untuk absen dari kantor sialan itu— ngga papa meskipun sakit jadi taruhannya.

Aku langsung teringat dan membandingkan kapabilitasku dengan temanku itu. Bagaimana dia bisa menemani bapaknya di atas ranjang rumah sakit. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menertawakan bapakku yang mengeluh kesakitan. Masalahnya, aku berani taruhan kalau aku yang merasakan di posisi bapak, ego dan rasa maluku jauh lebih tinggi daripada bapak. Bapak mah bodo amat dilihat perawat dan dokter mengeluh kesakitan. Kalau aku di posisi bapak, aku mungkin sudah mati-matian menahan rasa sakitnya agar tidak disebut lebay. Hahahaha. 

Hal terberatnya adalah, ketika ibu datang menyusul dan langsung mengantar bapak cek rontgen, HP ibuku berkali-kali berdering. Deretan nama yang kukenal tapi lupa bergantian menelepon, bertanya kondisi bapak. Aku heran, seberapa banyak relasi bapak dan ibu sampai berita ini cepat menyebar. Bahkan itu baru dua jam setelah kejadian. Aku sungguh capek harus menganggkat satu persatu telepon dan mejelaskan berulang kali kronologi kecelakaan bapakku.

Tuhan masih sayang bapak. Bapak ngga papa dan boleh pulang. Tapi rasa takut dan amarahku masih terpendam dalam. Seperti aku ingin menuntut dan mengujarkan umpatan atau pukulan terhadap pelaku. Entah apakah jenis seperti ini adalah bentuk rasa sayangku kepada bapak? Ataukah menertawakannya yang mengeluh kesakitan juga jadi salah satunya?

Hari-hari dimana berita bapak kecelakaan menyebar cepat. Selama lebih dari seminggu, setiap hari, orang-orang datang bergantian menyambangi bapak di rumah. Orang yang tidak pernah tahu rumahku pun datang. Orang yang rumahnya berjarak 40 menit dari rumahku pun datang. Orang yang sibuk bekerja pun menyempatkan datang. Bahkan ada yang datang dua kali. Semuanya membawa bingkisan, buah, roti, susu, vitamin dan masih banyak lagi.

Apa yang hebat, kakak bapakku, keluarganya dari kampung menempuh perjalan ratusan kilometer untuk bisa datang 'menjenguk' adiknya. Dan yang paling lucu adalah, ibu-ibu pengajian kenalan ibuku yang biasanya berkumpul untuk arisan atau pengajian pada hari itu justru berkumpul hanya untuk menjenguk bapakku. Aku (juga ibu dan keluarga bapakku dari kampung) kaget melihat belasan ibu-ibu muncul di rumah, bukan untuk arisan atau pengajian. Antara mau ketawa atau nangis. Introverku meraung-raung nyaris setiap hari. Wow. Hanya bisa kusebut wow. 

Aku bingung mentranslate-kan perasaanku. Aku senang sekali ada banyak orang yang peduli pada bapak. Bapakku orang baik. Buktinya bapak menjaga keluargaku utuh. Bapakku masih diberikan kesehatan. Bapakku masih dikenal orang-orang. Kalau tidak, mana mungkin ada yang mengabari ibuku bapakku kecelakaan dan sampai repot-repot mau ikut olah TKP dan mencari kontak pelaku kecelakaan?

Namun di lain sisi aku teringat, bagaimana nanti jika suatu hari bapak mendahuluiku? Apakah aku perlu jeda lebih lama seperti temanku untuk bisa menemani dan menjelaskan kronologinya berulang kali? Melelahkan sepertinya. Maka, aku memutuskan tidak mau mengalami hal itu. Sama sekali.

Jika bisa dibalik, dari kisah terakhir ini, pelajaran yang kuambil bukan 'bagaimana aku harus memperlakukan bapak ibuku secara baik selama mereka masih ada'. Tapi justru rasa penasaran, jika nanti aku pergi terlebih dahulu, siapa yang akan datang? Apakah teman dan relasiku akan sebanyak itu bergantian datang? Kurasa yang datang justru lebih banyak dari relasi ibu dan bapakku. Aku tidak punya siapa-siapa dan seandainya punya pun aku tidak mau repot berbasa-basi demi menjaga relasi. Kind of weird.

Oh, ya satu lagi. Salah satu tamu yang datang sempat datang menjenguk bapak berujar begini; "Kalau orangnya rajin ke masjid, pasti banyak yang kenal dan peduli."

Hatiku langsung terketuk. Bagaimana dengan aku jika nanti aku mati?

Share:

Monday, March 25, 2024

Sebuah Halaman yang Kutujukan untuk Rasa Muak

 Maret nyaris berakhir. Sejauh ini, level mati rasa yang hadir bukan lagi sesuatu yang bisa diremehkan. Aku mahir merasa muak, namun bersamaan dengan ituaku juga mahir mengabaikan. Konsistensiku pada hal-hal yang aku dengungkan di awal tahun, setidaknya jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Ibaratnya, ketika tahun 2023 rasa rutinku dalam membaca buku hanya bertahan sampai tiga bulan pertamasaat ini, jumlah buku yang kulahap menyamai dengan seluruh buku selama satu tahun di tahun 2023. Alasannya? Kehidupanku lebih terstruktur dan rutin. Berbeda jauh dari khasnya seorang perceiver yang terdiktat dalam INFP.

Jauh daripada itu, rasa-rasa takut dan muak terus mengguyur bak air bah. Silih berganti datang secara bergiliran seperti pekerja shift delapan jam. Pagi muak, siang terasa tak terjadi apa-apa. Atau bisa sebaliknya. Pagi biasa-biasa saja, siangnya berubah jadi muak. Pengamatan kepada inner-self kemudian melemparku pada kenyataan potensi HSP yang tersistem dalam diri. Dan di sinilah aku mengalokasikan satu halaman untuk mengkultuskan rasa muak dari seorang HSP dan INFP yang tak bosan aku kotakkan dalam kepribadian.

Mereka yang Mendengung Dosa


Aku dapat mengklaim diriku adalah potensi besar pendosa. Setidaknya, dengan nilai-nilai hidup dan agama yang diperkenalkan, aku mampu bertahan di kaki sendiri. Tidak terjatuh atau terjerumus pada hal yang terlihat menyenangkan, namun nyatanya lebih banyak merugikan. Kehidupan di abad modern dengan semua dunia dalam genggaman, membuat akudan banyak orang, mesti mengiyakan semua perbedaan yang disuguhkan di meja kehidupan. Tidak semua sistem di kehidupan orang lain berjalan sama seperti sistem dalam kehidupan kita.

Namun yang tidak bisa dipungkiri adalah; kita hidup dalam tatanan dunia. Diciptakan beberapa peraturan agar manusia tidak menyerupai hewan. Tapi peraturan dan tatanan tidak semuanya bisa kita lahap sampai kenyang. Untuk beberapa orang, mereka berkeinginan merobek hal-hal yang tak sejalan dengan prinsip. Atau paling tidak hal-hal yang membuat mereka merasa direpotkan.

Aku menjadi bagian dunia baru. Hal-hal yang sempat menjawab mimpi dan doa yang kupanjat malam itu. Aku tersenyum sumringah, seperti berada di sebuah taman nan jauh penuh dengan bunga bermekaran. Aku seperti ingin bermain di sana, menikmati banyak keindahan yang lama terlupakan dari kehidupanku sebelumnya.

Namun datanglah sosok itu. Layaknya Dorian Gray yang diam-diam dielukan kehadiran raganya yang utuh. Aku sempat kalap. Seumur hidup, aku tidak pernah bersinggungan dengan sosok semacam Dorian Gray yang rentan terluka. Setiap kali aku mendengar kisahnya, aku merasa aku disuap paksa oleh konsumsi novel teenlit dan FTV murahan yang diburu kejar tayang. Plot-nya berantakan, satu masalah ditumpuk dengan masalah baru, tanpa ada kejelasan penyelesaian.

Aku sempat skeptis. Namun kemudian aku menyadari, sosok ini tidak pernah hidup dalam kesempurnaan. Tidak sesempurna materi yang ia coba suguhkan di social media. Meskipun aku sempat mengapresiasi dunia menyanjung rupa dan raganyalayaknya universe tempat Dorian Gray berada, nyatanya yang kudapati kemudian adalah rasa hampa yang dalam dan gelap. Dia tidak utuh. Sama sekali tidak utuh.

Hidupnya penuh kekurangan fungsi yang seharusnya berjalan layaknya kehidupan manusia lain. Namun dia tidak pernah berkesempatan mendapatkannya. Sehingga dalam diriku yang berusia lebih dari seperempat abad, kuyakini sosoknya jauh tidak lebih beruntung daripada diriku sendiri. Terlepas secara materiil dan kesempatan yang ia dapatkan jauh lebih baik dibandingkan milikku secara kasat mata. 

Dia mendambakan validasi. Seumur hidupnya.

Oleh karena itu, rasa muak, rasa jijik, rasa tidak nyaman yang tanpa sengaja ia ciptakan dalam kehadiranku di sana, perlahan berubah menjadi ketidakpedulian. Meskipun bertemu sosok sepertinya adalah pengalaman baru yang penuh rahasia untuk dieksplorasi, minatku mendadak menguap hanya dari statement validasi yang dia ajukan hampir di setiap kesempatan.

Dia tidak malu mendengung dosanya. Dia menormalisasikan ketidaknormalannya. Dan hanya dengan pemahaman aku dan mereka, tidak lantas mengiyakan bahwa apa yang dia pilih adalah sebuah kebenaran. Aku justru iba dan kasihan. Namun aku memilih untuk mengabaikan. Fokus hidupku akan jauh lebih penuh kejutan dibandingkan hidupnya yang tak kalah penuh kekosongan.

Dan tidak hanya Si Dorian Gray. Beberapa sosok yang memukauku sejak pertama kali, berubah menjadi hal-hal kosong karena pendengungan dosa yang tak terelakkan. Secara bangga, mereka mengklaim ada suatu bentuk perlawanan dari status hukum dan ketentuan fasih yang diciptakan untuk melindungi mereka. Apa yang membuatku muak adalah fakta nyata bahwa mereka dengan ringan hati menyampaikan jenis dosa yang mereka perbuat.

Mereka tidak meyakini dosa karena pada dasarnya potensi pahala selalu datang beriringan dengan kerumitan sistem. Ya, tentu banyak orang yang memilih lebih mudah dan mendapat dosa daripada lebih sulit dan mendapat pahala.

Mereka yang Menuntut Dunia Mengikutinya


Merasa muak dengan seseorang bagiku tidak butuh banyak alasan. Sekelebat penglihatan, satu dua percakapan, aku bisa langsung menentukan; dia pantas bertahan atau justru bisa dibuang. Namun kehidupan emosiku yang terlalu kaya tidak dapat menolongku untuk bersikap sedikit jahat pada orang-orang yang pusat dunianya pada diri mereka sendiri. Aku akan kembali ke status awal; penolong, pengasih, pendengar dan mediator.

Orang pertama. Dia adalah satu dari dua orang yang aku hapus kontaknya seketika aku mengepak barang-barangku dan hengkang dari kehidupan membosankan terdahulu. Aku berpikiran bahwa tidak akan lagi ada relasi kebutuhan yang bisa aku canangkan pada esensi kehadirannya di dunia. Tidak sampai pada akhirnya dialah yang justru pertama kali menghubungiku. Dengan raut bingung dan menahan tawa, aku menerima telepon dari nomor tidak terdaftar di kontakku tersebut.

"............" di mengucap sesuatu seperti hanya aku orang yang dia pikirkan untuk bisa menjadi penolong. Dan yes I am! Di dunia penuh orang baik, aku adalah orang paling baik. 

Satu setengah jam aku habiskan untuk memotivasi mentalnya yang mendadak sama lemahnya dengan mentalku. Satu setengah jam pula aku mencoba menahan tawa agar sisi manusiawiku tetap terdeteksi radarnya, terlepas seberapa banyak aku menimbun rasa benci bahkan dari detik pertama kali aku berhadapan muka dengannya.

Dia adalah salah satu orang egois yang menuntut seisi dunia harus berjalan sesuai kehendaknya. Kini, karma mulai menggerogoti mentalnya. Dan aku menawarkan solusi hanya sebagai selimut untuk tawaku yang tak tertahankan.

Orang kedua. Adalah penyesalan terbesarku kenapa aku sempat berpikir dia akan berada satu level dengankudengan kamidalam hal memandang dunia dari berlembar-lembar tulisan mahal itu. Dia hadir dengan tembok besar yang mengukung kami, menginterupsi setiap pembicaran menjadi fokus hanya pada dirinya dan dunianya. 

Aku melihat salah satu terdiam dan lebih pasif. Mengamati, berbaur dan kehilangan fungsi yang selama ini terlihat tegas. Aku tahu dia mampu. Namun karena orang kedua ini stole the show secara tidak sopan, para orang waras hanya bisa mengalah dan fokus pada tema yang nyata saat itu. Termasuk dirinya yang mendadak kelu. Kemudian dia berujar padaku semacam; "Dia mendominasi sekali dengan dunianya." Dan aku tidak bisa lebih setuju daripada melalui satu tawa ringkih yang menyampaikan rasa sama lelahnya.

Beruntung aku tidak punya kekuasaan untuk menghapus keberadaan orang kedua sialan ini. Karena jika ya, mungkin tanpa kesempatan kedua pun aku sudah membatasi interupsinya pada dunia kami yang tenang dan hangat. Aku tidak akan membiarkan lebih banyak orang muak sepertiku, bahkan hanya dari pemilihan emoji khasnya seperti seorang wibu akut yang menyebalkan. 

Orang ketiga. Kali ini kenormalan presensinya yang kala itu membuatku amazed ternyata tidak lebih dari versi upgrade dari orang kedua. Mengapa demikian? Karena orang ketiga tertolong rasionalisme dan sense pemecahan masalahnya yang cukup tinggi (baca: tidak hanya omongan tanpa isi seperti orang kedua). Dia hadir layaknya seorang jenderal dengan sebilah pisau besar dan tajam. Siap menghunus siapapun yang tidak sepemahaman dengan ideologinya.

Kukira kehadirannya yang tetap dan utuh dapat menyamai mereka yang berjenis sama. Nyatanya? Dia hanyalah seorang melankolis frustasi yang salah memilih forum. Dia ingin belajar memahami cinta lebih jauh, namun berakhir dengan persoalan alam semesta. Dia berang, merasa banyak waktunya terbuang. Dan itulah alasan yang cukup menjanjikan mengapa dia bersembunyi dalam ketakutan. 

Dia adalah pecundang. Di mata cinta, dia adalah aku yang suka mengambil langkah nekat. Bedanya, aku masih cukup perasa. Sedangkan dia tidak punya rasa dan esensi keindahan. Rencana-rencana kerdil yang ia dengungkan untuk menjemput idamannya, berakhir dengan keputusasaan karena dia tidak pernah memberi kesempatan dirinya untuk belajar dari banyak hal.

Termasuk pada perbedaan pendapat, pedebatan, diskusi yang kala itu hadir layaknya gorengan sepuluh ribu yang baru saja selesai digoreng. Hangat dan nikmat. 

Yah, begitulah kehidupanku per akhir bulan ketiga tahun ini. Tidak ada banyak hal yang menarik. Hanya rutinitas yang coba kuresapi dalam keseharian hidup, seperti pekerjaan baru, komunitas baru, kebiasaan baru dan orang-orang baru. 

Terlepas dari apapun, aku masih tidak punya siapa-siapa yang dapat menggetarkan esensi Tuhan menciptakan hati dan perasaanku sebagai manusia. Tidak sampai aku benar-benar merasakan rasa kagum dan ingin, bukan rasa penasaran belaka.

Setidaknya, aku tidak dalam kondisi mendamba kematian. Itu kabar baiknya.
Share:

Sunday, December 17, 2023

Desember dan Semua Peperangannya

Satu entri kembali kutulis, sama seperti entri-entri sebelumnya. Bedanya, aku yang sekarang adalah aku yang telah mencapai batas tertentu, yang memiliki beberapa pencapaian yang bahkan dulu hanya berada dalam anganku. Aku telah menemukan jalan keluar dan aku berhasil menjadi penyintas dalam labirin yang membosankan. Dan terlepas dari apa yang orang lain asumsikan pada diriku, aku sama sekali tidak butuh lagi validasi semenjak aku mampu membuatnya sendiri dengan sedikit sikap narsistik.

Suasana Baru

Aku adalah pemilik sifat adaptasi yang ulung. Dan aku berharap itu tetap bekerja selayaknya di tempat baru ini. Aku berada di lingkungan baru, dengan perubahan serba mendadak yang sempat menghadapkanku pada pertikaian dengan keluarga. Ibuku, bapakku, adik-adikku. Semua terjadi karena aku adalah sulung yang semestinya punya tanggung jawab untuk membantu. Sedangkan mereka sudah sama-sama tahu, aku yang butuh bantuan ini pun melakukannya serba sendirian.

Terlepas dari itu, tempat ini tidak sebaik ekspektasi yang kubayangkan. Aku mengharap ketenangan, mengharap ada sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan keluhan-keluhan itu, harusnya aku malu karena kedua orang tuaku kini memberiku ruang untuk sendiri. Memperhatikan privasiku dengan tetap mengambil taruhan terbesar untuk membayar lebih. Sedangkan aku masih dalam kondisi absence dari iktikad membantu orang tua.

Aku hanya berharap, apa yang terjadi di penghujung tahun ini adalah pilihan terbaik yang Tuhan berikan kepada kami. Baik bagiku, bagi kedua orang tuaku dan juga adik-adikku.

Kapal Karam

Semenjak keinginanku untuk meninggalkan kian mendekati batas akhir, aku menemukan lebih banyak ketidakserasian sistem yang ada di dalamnya. Aku tidak perlu membahas program, fasilitas, janji manis atau apapun usaha mereka untuk membuat yang lain bertahan. Aku hanya ingin menggarisbawahi bahwa 'kondisi mereka sedang terguncang'. 

Mereka melakukan apapun untuk bertahan. Setelah sekian manusia waras memutuskan untuk melepaskan. Dan barangkali di antara sekian manusia waras itu, aku bukanlah faktor penentu mereka meratapi nasib, merenungi apa kesalahan dalam sistem mereka yang sekiranya perlu diperbaiki? Karena mereka dinaungi oleh ENTJ dengan ego setinggi langit (sama sepertiku), yang tidak mau mengalah dan semua mesti tunduk padanya. Ia pun sanggup mengubah seorang raja menjadi tunduk dan percaya 100% pada ucapannya.

Tapi apakah itu tidak akan mempengaruhi para 'penumpang kapal' yang jumlahnya selalu dielukan? Pasti beberapa dari mereka yang belum sepenuhnya menaruh loyalitas akan terbesit pikiran 'kenapa semua memilih melompat dari kapal ini? Apakah kapal ini berada dalam bahaya?'.

Ini adalah seni bertahan hidup. Seni berperang. Siapa yang tidak memperhatikan, siapa yang tidak menaruh strategi, siapa yang hanya menunggu dalam diam, akan mati perlahan-lahan. Entah mereka mati bersama-sama, atau bahkan sendirian. Dan sebelum kapal itu karam ke dasar lautan, atau setidaknya para penumpang menderita 'kelaparan', lebih baik aku menyusul yang lain untuk membuat keputusan ekstrim yaitu melompat dari kapal dan tenggelam ke dalam lautan. 

The Tug of War

Aku berada dalam sebuah 'tug of war' dengan permainan-permainan ego yang sama tingginya. Koleris sialan itu menantangku, dengan lambat kesadaran yang selama ini mengikatku untuk mengetahui sebenarnya dia adalah serigala berbulu domba. Melalui kata-kata dan nada bicaranya yang terlatih, seperti ia sudah melatihnya selama bertahun-tahun di depan kaca agar bisa meyakinkan semua tindakannya adalah benar.

Sayangnya, Si Koleris ini berhadapan dengan seorang Plegmatis-Melankolis sepertiku. Seseorang yang memiliki kelemahan terlalu peduli dan mudah percaya, namun di lain sisi juga mampu memperhatikan situasi sekitar. Aku mengetahui dia membangun tali tambang yang kokoh dan kuat untuk menantangku. Dengan jabatan, koneksi, kepercayaan, kecerdasan, kekayaan, sudah jelas dialah pemenangnya.

Aku tidak mengaku kalah, sebab semua keputusan dan penjelasan dariku sempat aku hidangkan ke atas meja makannya. Dia sempat terguncang, kok. Dan menyalahgunakan kembali kekuasaannya untuk menjilat. memvalidasi bahwa ialah yang paling harus dipercaya. Bahkan lulusan SMA yang baru bergabung 3 bulan pun tahu tentang kepribadiannya yang salah itu. Kesemena-menaan yang ia gunakan dengan sesukanya, namun tercover dengan baik melalui motivasi-validasi bullshit yang ia dengungkan beberapa kali.

Meskipun aku tetap terlihat kalah dipandang dari sudut mana pun, aku cuma bisa tertawa seperti Joker melihat strategi apa yang ia usahakan bahkan di detik-detik terakhir.

Mengundang narasumber with no spesific background untuk mem-back up posisinya dengan materi berbelit-belit layaknya presentasi seorang mahasiswa Managemen SDM. Mencatut beberapa ayat, meyakinkan khalayak akan kolerasi yang ia bawa pada materinya dengan tema yang diberikan. Membawa rekan karena takut sendirian? Sesekali mengintip pada materi seperti baru dipersiapkan  semalam? Dan apa yang paling mengejutkan, semua terdengar seperti kutbah Jumat yang diisi oleh seorang Pastor. Bagaimana kita bisa mempercayai ucapannya jika dia sendiri pun tidak punya atau tidak menjelaskan pengalaman dan background ilmunya dalam bidang yang dibahas pada materi itu? Apakah itu jenis intervensi? 

Siapa yang mengajarkanku tentang 'politik' pada akhirnya berpolitik juga.Lucu memang.

Pertanyaan berikutnya datang dari pertanyaan dokterku soal miskomunikasi pada suatu kejadian yang menyebabkan salah satu pemicu trigger. Dan untuk menjawabnya, dengan kondisi nothing to lose, aku mengukuhkan kaki untuk menemui pihak-pihak yang berkaitan dengan miskomunikasi itu. Dan bisa tebak apa yang terjadi? Kedua jawaban mereka tidak saling berkolerasi! Wah, menakjubkan sekali.

Ini seolah apa yang aku coba jelaskan dari A-Z, menghabiskan waktu satu jam, malah diplintir dan diambil 10% poinnya saja! Alasannya karena mental issues adalah hal tabu yang dibicarakan, padahal yang sakit sepertinya bukan aku, melainkan dia. Dia pasti punya abnormal personality disorder yang masih belum terlihat karena minim pressure dan backing-annya yang kuat.

Dia pikir dia Zhuge Liang yang cerdas dan bijak? Wkwkwk. Dia cuma pengkhianat kerajaan dengan pemimpin setulus Liu Bei, yang mempercayakan seluruh hati dan pikirannya untuk dimainkan. 

Ah, makanya kerajaan Liu Bei tidak bisa sekuat Cao Cao, kan? Ya karena Liu Bei terlalu baik dan lemah, makanya dikhianati pun dia tidak tahu. Masalahnya yang di samping 'dia' sekarang bukan Zhuge Liang. Dia cuma Koleris yang suka bermain politik. Hehe.

Selamat Beristirahat

Aku mendapat cukup banyak pesan setelah keputusanku melompat dari kapal. Pesan penuh dukungan, pesan dengan doa-doa terbaik, penuh dengan link-link informasi recruitment. Tapi satu pesan yang paling membuatku tersentuh justru datang dari orang konyol yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya!

Selamat beristirahat! Begitu ucapnya. 

Ya, I know you've been there. Terlalu lelah dengan semua sistem dan memilih keputusan untuk terjun bebas juga. Dan aku menyusulmu. Aku menyusul yang lainnya dengan kesalahan terbesar, yaitu kenapa tidak kulakukan lebih awal?

Tentu aku akan beristirahat. Itu alasan utamaku kenapa aku menginginkan ini jauh-jauh hari, bahkan tahun. Jika diminta bertahan lebih lama, aku pun sanggup. Namun pada kenyataannya, melalui diagnosa baru yang kini menjadi tiga, melalui intervensi ibu 'dulu kamu bilang Ibu matre, sekarang baru nyadar, kan?', melalui pengamatan mengapa para ksatria dan jenderal memilih mundur dari barisan perang. Melalui itu semua, kemudian aku tersadar. Kenapa aku mesti memaksa bertahan?

Orang tuaku tidak menuntut materi. Teman-temanku juga mengkhawatirkan kesehatanku. Dokterku mengatakan sebaiknya aku berdamai dulu dan memproses semua diagnosa yang ada. Jadi ya, aku pasti memutuskan istirahat.

Sialnya, keputusan istirahat itu justru dijadikan senjata bahwa aku melakukannya karena sebuah hukum kerajaan yang kulanggar. Seolah impiannya untuk tetap dipercaya raja, berubah destruktif menjadi sebuah fitnah di antara yang lain. Bahkan di hari terakhir sebelum melompat ke laut, dia bersiteguh dengan 'kengeyelannya' dengan membahas soal hukuman-hukuman yang malah membelit kemana-mana. 

Itu sama halnya dengan keputusan paling lucu seolah bertanya masalah hukum pidana ke anak lulusan kedokteran hewan. Hahaha. What did you expect? Membuatku tersinggung? Hey, bahkan crush-ku tidak merespons postingan video lucu di DM Instagram jauh lebih melukai harga diriku ketimbang pertanyaan 'tipis-tipis'mu itu.

............................................................................................................................

Yah, intinya malam ini adalah pertama kali aku menulis entri di kamar baruku, dengan suasana baru. Tempat tinggal baru dan titel baruku sebagai jobless. Besok hari Senin pertamaku tanpa perlu bangun pagi-pagi lagi untuk repot berangkat ke kantor. 

Besok akan kupikirkan teks-teks sederhana (yang nyatanya tidak akan berguna) untuk kusampaikan di grup sebagai salam perpisahan. Terima kasih kapal yang sudah sejauh ini berlayar bersamaku! Aku mendoakan yang terbaik bagi awak dan penumpang kapal. Tapi tidak dengan navigatornya.

Bukan soal dendam, kalau aku dendam mah sudah kublock dia. Aku cuma sudah tahu, navigasinya salah, tapi aku terlalu takut untuk memberitahu yang lainnya. Biar mereka sendiri yang memutuskan ya, sejauh apa mereka akan berlayar bersama.

Semoga tidak banyak badai biar ngga beneran karam!

Dah, aku mau istirahat! Sampai jumpa di tahun berikutnya!

Share:

Monday, November 6, 2023

Obat, Efek Samping, Egoisme dan Mati Rasa

Hai, ini aku yang sebentar lagi berusia 27 tahun. Dari awal aku membuat blog ini, menulis banyak entri untuk menyelesaikan apa yang ada di kepala, rasanya baru kemarin aku melewatinya. Aku membaca kembali entri-entri lama, beberapa kali kusapa diriku yang berusia 23 tahun, 24 tahun, 25 tahun, 26 tahun dan barangkali (jika masih hidup) aku akan menyapa diriku di usia 27 tahun.

Waktu berjalan teramat cepat. Dan ya, tidak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi nanti saat usiaku genap 27 tahun. Bahkan di usiaku yang ke-26 saja ada banyak hal yang terjadi. Aku mulai kehilangan minat pada apapun. Berteman, menjalin hubungan. Apapun. 

Aku sempat mencoba memberi kesempatan pada satu dua orang (atau lebih) untuk mendekati. Melihat seberapa kuat tekad mereka merobohkan dinding yang kubangun sejak lama. Dan tidak ada satu pun yang berhasil mengambil atensiku. Mereka terlalu berada di bawahku. Lemah. Tidak mampu menyamai kapasitas. Bahkan ada satu orang yang menjual kisah-kisah soal keluarganya, masa sekolahnya, mendomplang dirinya sebagai Si Pemurah Hati yang meminjamkan uang ke teman-teman yang tidak punya. Nyatanya? Dia pengemis yang berkoar akan mengembalikan uangku, namun sampai sekarang ia hilang entah kemana.

Aku berjanji akan mengejarnya. Bukan soal uang. Tapi soal seberapa berani dia memanfaatkan belas kasihku untuk jiwa pengemisnya. Akan kubuat dia membayar harga yang ia tanamkan pada harga diriku, egoku, rasa tinggiku yang sejak awal tidak pernah tersentuh sedikit pun dengan segala aspek soal kepribadiannya. Bahkan fisiknya. Aku hanya merasa mampu memberinya uang, lebih mampu menjalani semua secara mandiri meskipun dia harus bersusah payah menyodorkan satu atau dua gelas kopi hanya untuk mendapatkan waktu dan atensiku. Dia gagal. Dia hanya sejumput sampah yang menjual nama keluarganya untuk dikasihani.

Dia memilih berurusan dengan orang yang salah. Orang dengan egoisme setinggi langit.

Lalu soal pekerjaan. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Aku sudah membicarakannya lebih dari yang aku mampu. Kepada ibuku, kepada dokterku, kepada teman-temanku, kepada adikku. Bahkan kepada pihak-pihak perusahaan yang semestinya tahu. Dan mereka yang secara 'tidak sengaja' tahu. 

Ini bukan soal meninggalkan atau melepaskan. Ini lebih kompleks daripada itu. Aku tipikal petarung dengan ego yang tinggi. Aku tidak mau dan tidak akan pernah membiarkan orang lain mengambil kelemahanku. Jika aku memang harus dipaksa untuk bertahan, kuyakini sepenuh hati, aku akan bertahan sampai kapan pun. Aku bahkan tidak mempan dilukai berkali-kali oleh siapapun dengan cara apapun.

Namun ini soal penyakit. Dan obat-obatan yang aku minum setiap hari. Ini soal masa lalu dan trauma yang masih belum terdeteksi sampai sekarang. Semuanya mendadak mengekangku dengan tali yang kuat dan tajam. Menarik diriku untuk kehilangan kapabilitas dalam berkompetensi. Aku bukan takut gagal. Aku hanya tidak bisa menjamin masa depanku akan baik-baik saja di pekerjaan jika penyakit ini masih bersemayam dalam diriku.

Aku menuding dan menyalahkan siapapun yang tidak bersalah. Aku ketakutan hanya pada suara notifikasi dan pandangan orang. Aku merasa dibuang dan dikucilkan ketika aku tidak mendengar namaku dipanggil. Aku merasa diremehkan ketika seseorang meminta orang lain membantuku. Aku, dengan egoisme ini tidak akan pernah menang melawan semua kecemasan. Meskipun puluhan butir obat telah kutenggak sejauh ini.

Aku membenci hampir setiap orang, dengan perlakuan-perlakuan sederhana mereka. Aku membuat asumsi buruk dalam kepala, menyalahkan mereka dan terus saja ingin menghindarkan mereka dari rasa marah yang mendadak muncul dalam diriku. 

Aku mengabaikan soal bunuh diri akhir-akhir ini. Menukarnya dengan ide menyakiti orang lain. Bagaimana rasanya ketika aku bisa membanting sesuatu, berteriak dengan lantang hingga lega, menusuk seseorang hingga ia kesakitan, melihat darah membanjiri tanganku. Bukan, aku bukan begini karena terlalu banyak menonton film atau drama kekerasan. Aku begini karena ingin merasakan barangkali dibandingkan obat SSRI yang diresepkan padaku, akan jauh lebih melegakan apabila aku berhasil melakukan salah satu di antara opsi yang kupikirkan.

Joker. Ia yang murung dan ketakutan mendadak bahagia dan senang setelah membunuh orang, bukan? Aku penasaran perasaan itu. Dan berpikiran apakah tinggal di penjara atau rumah sakit jiwa akan lebih baik ketimbang melihat dunia luar yang dipenuhi oleh tuntutan dan ekspektasi?

Dibandingkan menjadi serotonin booster, obat yang kuminum malah terkesan seperti pembunuh rasa takutku. Beberapa minggu yang lalu aku menonton film horor di biosko bersama teman-teman. Entah, meskipun musiknya terdengar menyeramkan, aku menganggap efek seram yang ditimbulkan dalam bentuk hantu dan makhluk seram di film itu tidak cukup berhasil membuatku trauma.

Aku tetap mandi seperti biasa, makan seperti biasa, pulang sendiri seperti biasa, tidur sendiri di tempat gelap seperti biasa, beribadah sendirian seperti biasa. Hal-hal yang 180 derajat berbeda denganku yang bahkan dulu, melihat satu film pun bisa berminggu-minggu menyisakan trauma.

Ini bukan kali pertama, beberapa film horor lain, dengan atau tanpa adegan gore penuh darah pun tidak sama sekali membuatku jijik atau takut. Bisa dibilang dalam kurun waktu kurang dari setengah tahun ini, aku sudah beberapa kali melihat film horor dan tidak merasakan apapun.

Apa yang lebih parah daripada ini adalah ketika aku dengan lantang dan lancar menjelaskan apa yang tidak kusuka dan menggangguku dari beberapa orang. Baik itu orang yang kukenal maupun yang tidak kukenal. Aku seolah melakukannya secara sadar dan tidak takut pada apapun yang terjadi setelahnya. Aku 'memarahi' sahabatku sendiri karena lebih memilih orang lain. Aku menyalahkan orang yang kukenal karena terlalu banyak mengeluh soal kehidupannya di saat hidup orang lain pun sama sulitnya. Aku dengan tegas menolak ajakan orang-orang yang kuanggap tidak penting dan hanya membuang waktu.

Aku melakukannya seolah aku siap kehilangan apapun. Dan hidup sendirian.

Siapa yang kupunya di dunia ini? Tidak ada teman yang benar-benar membuatku tenang dan nyaman. Orang tua pun sejauh mereka dapat memahami kondisi dan pilihanku saja rasanya sudah cukup. Aku tidak mendapatkan cukup ruang atau dukungan untuk menyadari bahwa sekeras apa egoku, aku tetap membutuhkan bantuan. Adik-adikku yang jauh lebih hebat dariku, kehidupan mereka yang seharusnya lebih baik dan berhasil. Atasan yang punya banyak fokus sehingga mengabaikan sosok kerdil tidak punya potensi sepertiku. Dokter yang punya puluhan pasien, dengan cerita perjuangan yang berbeda, menunggu bantuan yang sama darinya.

Siapa yang kupunya selain Tuhan? Meskipun yang menderita dan membutuhkan pertolongan bukan hanya aku, Tuhan tetap memperhatikanku dengan baik.

"Kalau punya masalah, perbanyak ibadah. Dekatkan diri sama Tuhan. Bukan hanya bergantung sama obat, nanti sulit lepasnya." begitu yang ibuku bilang beberapa hari setelah aku menyerahkan surat diagnosa ketigaku.

Aku memutuskan melepaskan pekerjaan pun sebenarnya adalah salah satu hasil doa-doaku dengan Tuhan. Aku masih hidup dan diberi kesempatan untuk mendapatkan bantuan profesional pun adalah bantuan yang Tuhan salurkan lewat manusia. Tuhan selalu ada untukku. Aku tahu itu.

Dan soal obat-obatan, aku yakin itu adalah salah satu bentuk ikhtiar yang juga Tuhan inginkan untuk kulakukan. Apa yang kutahu sejauh ini, obat yang kuminum hanya menjaga kestabilan mood-ku. Membuat aku yang sakit menjadi tidak terlihat sakit. Membuat aku yang seharusnya lemas tidak berdaya menjadi bersemangat dan bergairah dalam melakukan aktivitas. Namun kecemasan itu masih belum menghilang dari sana. Masih terus ada dan bisa muncul kapan pun.

Di artikel terakhir yang kutulis di Medium, aku mengklaim diriku sebagai penjahat. Ya, karena rasa cemasku ini sewaktu-waktu bisa berubah menjadi tindakan melukai siapapun. Apakah teman yang saat itu duduk di sebelahku? Ataukah atasan yang sudah melupakan bahwa apresiasi dan validasi adalah nilai yang tidak bisa terlupakan? Atau bahkan orang lain yang kebetulan lewat meskipun aku tidak mengenalinya?

Apakah di usiaku ke 27 tahun nanti aku akan mendapatkan pekerjaan baru dengan penghasilan yang lebih baik dan beban kerja yang lebih manusiawi? Atau aku justru bertambah parah, terpuruk, atau mungkin masuk rumah sakit jiwa? Penjara? Karena memikirkan serius untuk menyakiti orang akibat mati rasa yang berlebihan ini?

Persetan soal pertemanan dan percintaan. Aku bahkan bisa melukai siapapun hanya dengan sebuah perlakuan dan perkataan. Dan mereka pun bisa melukaiku tanpa mereka sadari hanya karena reaksi berlebihan dari rasa cemasku.

Saat aku membahas masalah penyakit mental ini di meja managerku, ia tampak antusias. Ini kasus baru. Nama-nama diagnosa yang kusebutkan membuat otak pintarnya menerka, apakah hal-hal yang terlihat abstrak (karena penyakit mental tidak terlihat secara fisik) ini sungguhan ada dan bagaimana tanda-tandanya. Sebagai orang yang sudah mengalami sejak tahun 2019, aku fasih menjelaskan. Terlepas apakah ia percaya, mempelajari, atau hanya mendengarkan.

Aku ingin terus beraktifitas. Bercengkerama dengan teman untuk memupuskan rasa takut dan efek samping obat dari semua penyakitku. Namun di lain sisi aku takut menyakiti mereka. Membuat orang-orang tidak bersalah juga terdampak dari penyakitku, entah itu sengaja atau tidak. Aku memutuskan menarik diri, melepaskan semua trigger terutama pada tuntutan pekerjaan yang terdengar kadang tidak masuk akal dan melelahkan. Semua bisa kutuntaskan andai saja aku tidak menjadi lebih parah akibat penyakit ini. Andai saja aku masih berfungsi secara normal seperti aku di sekolah dulu, berteman, prestasi, kegiatan. Semua berjalan teramat normal dan menyenangkan.

Mati rasa padaku menghadapkanku pada dua pilihan. Mati sendiri atau membiarkan orang lain mati. Dan aku memilih opsi pertama. Biarkan aku mati sendirian. Terpuruk sendirian.

Namun soal egoisme, aku akan tetap mempertahankannya sampai kapan pun. Akan kubuat siapapun yang melukai egoku membayar harga yang pantas. Balas dendam tidak terdengar buruk. Balas dendam tidak melulu dengan melakukan hal yang sama, 'kan? 

Dan soal pengganti. Meskipun kapabilitas mereka terlihat mengesankan, aku tahu, dalam aspek daya tahan, aku tidak bisa diremehkan. Aku bertahan sejauh ini dengan tekanan penyakit gila yang mengambil separuh fungsi dan kewarasanku, aku cukup mampu berjalan jauh. Aku menyerah karena bukan aku tidak mampu, aku hanya mengambil keputusan untuk menghindari hal-hal lebih buruk terjadi. Aku ingin mengambil jeda dari segala realita dan sumber trigger yang saat ini masih hidup dengan tawanya, tanpa tahu kenyataan bahwa ia kehilangan beberapa hal karena sifat dan karakternya sendiri.

Meskipun nanti aku menjauh, akan aku pastikan untuk tetap dekat. Bukan sebagai bukti terima kasih meskipun itu yang seharusnya aku lakukan. Namun untuk melihat banyak pertimbangan dan keputusan yang aku pertaruhkan paska 'mereka' mendahuluiku adalah benar. Aku akan melihat, apakah ada orang lain yang memiliki kapasitas pikiran kritis yang sama? Atau mereka akan tetap menjadi aku yang bodoh selama bertahun-tahun, dulu. Sebelum terapi obat panjang ini aku mulai kembali.

Setidaknya jika aku harus mati, akan kupastikan aku tidak akan mati karena bunuh diri.


Share:

Saturday, August 19, 2023

Keunikan dan Kesombongan Diri yang Menyatu

Hai, ini Agustus dan rasanya cukup lama aku tidak memberi kabar. Hidupku begini-begini saja. Beberapa yang mendekat mesti kukenalkan pada dinding tebal yang lama kubangun agar mereka tidak kelewatan batas. Bukan karena aku menolak kebaikan, tapi karena aku merasa cukup dengan diriku sendiri. 

Dan soal kealpaannya dari radarku. Aku mengikhlaskannya jauh-jauh hari. Melepaskannya seperti aku memahami bahwa dia tidak sepantasnya memiliki duniaku. Dan begitu pula aku yang tidak cocok membawa pulang atensinya. Dia memperlakukan yang lain lebih luwes dan ramah. Sedangkan padaku, terasa amat kaku, terbatas dan jauh tak terjangkau. Semua dapat kurasakan bahkan hanya dari batas social media yang rasanya agak kekanakan.

Lupakan soal dia. Dua entri di blog ini sudah sangat cukup untuk membahas hadirnya yang tak seberapa. Aku berterima kasih padanya yang kembali ciptakan perasaan suka dan kagum dari taman hatiku yang lama mati. Namun, sesuai dengan kepribadian egoisku yang tinggi, rasa sukaku pun hilang terkikis oleh perasaan risih yang juga sering muncul tiba-tiba.

Pertanyaannya, kenapa aku risih? Bahkan pada orang yang tidak berinteraksi padaku atau merugikanku? Jawabannya ada di entri ini.

Mari kita mulai.

Banyak Hal yang Tidak Kuketahui tentang Diriku Sendiri

Aku agaknya sedikit menyesal karena di usia 23 tahu ke atas aku baru mulai mempelajari tentang kepribadianku sendiri. Tepatnya saat aku mulai bekerja, mengetahui kenapa hal-hal di luar kendaliku terjadi. Aku yang dibekali rasa penasaran yang tinggi, kemampuan mengeksplorasi banyak hal baru yang menyenangkan, pada akhirnya mulai menemukan sedikit banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dulu sempat kuciptakan.

Misalnya pada pertanyaan 'kok aku begini?' atau pertanyaan 'sebenarnya aku kenapa?'.

Salah satu jawabannya hadir ketika aku mulai merasakan keinginan menangis tanpa alasan yang berkepanjangan. Rasa takut akan sesuatu yang belum terjadi dan kesedihan masa lalu yang samar  menghantui. Jawaban keduanya hadir ketika aku duduk di meja konsultasi. Ketakutan itu muncul akibat kecemasan dan kesedihan itu hadir akibat depresi. 

Aku menenggak obat untuk mendapatkan perasaan netral yang bahkan perbedaannya tidak bisa kutegaskan pada diriku sendiri. 

Kemudian pada fakta diriku yang menuntut idealisme. Membenci ketidaksempurnaan. Diriku yang terlalu sering tenggelam pada pikiran dan mengabaikan kenyataan bahwa diriku tengah berada di kerumunan orang. Atau diriku yang tidak bisa konsisten karena selalu memiliki hobi atau kesukaan baru. Dan bahkan diriku yang memilih menutup diri untuk menghindari perdebatan.

Semua jawabannya kutemukan dalam istilah tes MBTI yang menyatakan aku adalah seorang Mediator (INFP). Pecinta damai yang hidupnya penuh imajinasi, kepekaan perasaan, empati, penundaan, rasa ingin tahu, kecintaan pada seni dan alam, kebencian pada konflik, pengibaratan banyak hal, perfeksionisme dan mimpi-mimpi abstrak. Semua tertera jelas pada deskripsi seolah aku tengah ditelanjangi.

Dan aku merasa INFP adalah aku. Adalah tipe yang bisa mereka pelajari atau pahami untuk mengerti kepribadianku. 

Aku sudah mendapatkan label-label itu. Sudah memahami dan mengerti karakteristik diriku sendiri jauh lebih baik. Namun ternyata itu saja tidak cukup ketika aku mulai mendapatkan jawaban atas pertanyaan lain yang mungkin selama ini hanya terjawab apa adanya.

Atas perasaan risih, perasaan jengkel, perasaan tidak tenang, sakit kepala atau badan yang mendadak, mood yang tiba-tiba turun drastis dan masih banyak hal lainnya. Hal yang dulu selalu dikaitkan dengan 'telat makan', 'kurang tidur', 'kebanyakan kerja' atau hal lain. Namun kini aku menemukan kemungkinan bahwa aku adalah salah satu HSP (Highly Sensitive Person). Orang-orang yang punya tingkat kepekaan yang lebih tinggi pada orang umumnya. 

Aku tidak mengklaimnya sendiri. Seorang pakar mengatakan ini padaku. Jadi kemungkinan, ya.

Semua Relasi Soal Kemungkinan yang Terjadi

Mempelajari soal kepribadian adalah nilai plus yang selalu kukejar. Hal itu yang mendasari kenapa aku tertarik pada psikologi (khususnya abnormal) dan beberapa kesempatan mengenal kepribadian atau bahkan membaca kepribadian orang. Aku bahkan mengabaikan pendapat atau preferensi orang lain bahwa tidak semua dari mereka akan suka mempelajari atau dipelajari kepribadiannya. Namun karena aku cukup egois, terkadang aku mengabaikan kemungkinan itu dan tetap melakukan pembacaan kepribadian pada orang-orang, meskipun aku tidak membagikannya.

Dan hal ini mungkin membawaku pada kesempatan untuk bertemu pada salah satu pakar spiritual yang terlatih untuk memperbaiki kepribadian melalui mindset. Melalui sebuah workshop yang cukup singkat, serta konsultasi gratis yang rasanya masih baru dan awam. Aku sempat denying untuk kapabilitas mereka dalam memahami spiritual dan kepribadian seseorang. Karena sejujurnya praktisi kepribadian yang mengatasnamakan spiritual (selain agama atau kepercayaan), rasanya masih asing di telingaku. Aku hanya mempercayai praltek-praktek psikologi yang ilmunya jelas ada dan nyata.

Namun semua itu berakhir ketika sama halnya seperti tes MBTI, kepribadianku juga ditelanjangi oleh sebuah konsultasi singkat soal spiritual kepribadian ini.

Aku dan belasan peserta yang hadir diajak untuk menyelami diri sendiri melalui afirmasi. Dua kali percobaan. Di percobaan pertama mungkin kondisiku yang juga agak kurang baik, sehingga aku cukup terbawa suasana dan ikut menangis seperti peserta yang lain. Esoknya di kesempatan yang sama, ketika hampir semuanya menangis, aku justru merasa tidak ada emosi apapun. Mungkin saat itu aku merasakan kondisiku baik-baik saja.

Namun, ketika coach menghampiriku dan menepuk pundakku, beliau berbisik; "Kamu sempurna, Nak. Kamu tidak mempedulikan ucapan orang. Pertahankan. Tuhan memberkati."

Mendadak kondisiku yang baik-baik saja sebelumnya berubah jadi aneh. Kepalaku berat, rasanya seperti pening orang mengantuk. Aku bahkan tersentak karena kesadaranku nyaris terambil. Detak jantungku mendadak berdegup kencang seolah aku akan menghadapi ujian sebentar lagi. Hal itu terus terjadi bahkan setelah beberapa menit acara berakhir.

Tidak semua peserta mendapatkan 'pengucapan' dari coach. Jadi aku merasa bahwa kondisi yang kubawa saat itu adalah kondisi dimana aku dalam keadaan yang jauh lebih baik. Namun sangat berbeda terbalik dengan gejala fisik yang kepala dan dadaku alami. Kenapa?

Semua kembali terjawab ketika aku mendapatkan sesi konsultasi dengan beliau. Aku mengatakan yang sejujurnya tentang kondisi fisikku selama sesi afirmasi. Kemudian beliau bertanya, "Itu kamu menyerap energi negatif dari orang sekitar kamu. Kamu peka ya?" Aku yang ditanya seperti begitu langsung melempar ingatan ke memoriku, kemudian menjawab ya. Kemudian beliau kembali bertanya, "Kamu bisa melihat hal-hal yang tidak terlihat?". Dengan tegas aku menggeleng, kemudian meluruskan, "Tapi saya bisa sedikit membaca kondisi seseorang, kepribadian seseorang (dengan konsisten mengobrol). Bahkan saya bisa merasakan perasaan seseorang terhadap sesuatu."

Dari sana coach dan rekannya mengklaim aku adalah orang 'peka' yang bisa merasakan energi. Bahkan ketika aku ditanya soal apakah aku sering merasa tidak nyaman atau bahkan sakit ketika berada di tengah orang-orang toxic, aku merasakan aku sering merasakan tidak nyaman bahkan di sebagian besar kondisi. 

Aku tidak pernah mengklaim diriku bisa membaca kepribadian. Sama sekali tidak pernah. Namun, dalam beberapa kesempatan aku memang bisa menebak apa isi hati seseorang. Saat rekanku akan resign, bahkan aku sudah tahu niatannya itu sebelum dia menceritakannya padaku. Aku bisa mengetahui kondisi perasaannya dan alasan dibalik keputusannya resign, bahkan sebelum ia menceritakannya.

Aku hanya mengklaim aku bisa memahami orang, kepribadian, emosi, perasannya, melalui cukup pembicaraan atau pertemuan yang intens. Bukan berarti aku bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat, seperti traumanya, pengalamannya, emosinya, hanya dalam sekali bertemu tanpa cukup pembicaraan. Aku tidak sehebat coach dan rekannya untuk sampai di tahap itu.

Dan soal kesombongan. Aku mendeskripsikan kondisiku seutuhnya. Dan beliau berdua menamai aku dengan 'ada kesombongan dalam diri'. Dan aku dengan cepat mengiyakan. Karena aku merasa diriku mampu dan tidak butuh orang lain. Aku akan merasa lemah jika aku membutuhkan bantuan atau lebih tidak mampu daripada orang lain. Dan 'kesombongan' atau ego itu mereka bantu lepaskan dari dalam diriku. Meskipun aku mengaku alam bawah sadarku sulit terjamah bahkan ketika aku mengikuti sesi hipnoterapi di kesempatan lain.

Melalui bantuan beliau, aku menemukan perasaan yang lebih rileks. Kepalaku tidak lagi terasa berat. Degup jantungku kembali netral. 

Namun, selain perasaan lengang yang kudapatkan dalam sesi tersebut, aku juga membawa pulang rasa penasaran soal 'peka'. Beliau keduanya mengiyakan kondisi bahwa aku orang yang peka. Mereka dapat merasakan energi, dan aku yang denial sejak awal proses ini terjadi pada akhirnya merasa percaya ketika kedua coach merasakan akibat yang cukup signifikan saat mentransfer energi kepadaku. Salah satunya mengambil jeda diam cukup lama, kemudian ada pula yang berkali-kali batuk dan berdehem. Seolah aku menguarkan roh jahat yang paling berat untuk dieksorsis.

Klaim Sepihak Akibat Tidak Ada Diagnosa Klinis untuk HSP

Aku memiliki kesempatan untuk mengikuti banyak seminar atau coaching. Dan kurasa ini adalah salah satu seminar yang paling berbekas. Ya, karena aku bisa mendapatkan afirmasi positif dan pencerahan soal memperlakukan pribadiku lebih baik. Namun yang paling terpenting adalah karena pada akhirnya aku menemui fakta bahwa kemungkinan aku adalah orang yang 'peka'.

Aku mengingat aku pernah membaca artikel atau referensi soal kepekaan lebih pada manusia. Yang kemudian membawaku pada istilah HSP saat aku kembali coba mencarinya. Aku membaca beberapa artikel soal HSP, mulai dari penyebab, ciri-ciri dan bahkan dampaknya untuk kehidupan. HSP bukan penyakit mental seperti depresi atau anxiety, sehingga diagnosanya dan penanganannya tidak bisa dilakukan secara resmi.

Namun entah kenapa saat aku membaca ciri-cirinya, aku merasakan hampir semua ada pada diriku.

Mereka yang HSP memiliki kemampuan penyerapan energi berlebih dan mudah tidak nyaman pada kondisi yang kurang disukai. Mulai dari penciuman, penglihatan bahkan pendengaran. Dari situ aku membandingkan kenapa aku bisa sangat-sangat marah pada kondisi berisik yang diciptakan rekan kerja ketika aku butuh ketenangan. Atau kemampuanku menilai seseorang dan beberapa kali memang dibenarkan oleh mereka.

Aku yang selama ini mungkin kurang menyadari, salah satu penyebab aku sering mendadak pusing bahkan dalam kondisi paling baik pun. Atau sakit pundak, seperti ada beban. Dan banyak keluhan fisik yang ada. Mungkin banyak faktor penyebab lainnya, seperti terlalu stress, kurang istirahat atau bahkan kurang makanan bergizi. Bisa jadi.

Namun, semenjak kondisi HSP yang sangat sesuai dengan kondisiku tidak dapat didiagnosa secara klinis, rasanya sah-sah saja untuk mengklaim bahwa diriku adalah seorang HSP. Terlebih saat membaca ciri-ciri dan dampak negatifnya, aku merasakan adanya kesamaan yang cukup signifikan. Dari beberapa artikel yang kubaca, aku cantumkan beberapa contoh yang paling mendeskripsikan aku sejauh ini. 




Dan dari deskripsi di atas, aku bisa mendapatkan jawaban kenapa akudidiagnosa depresi kronis, stres berlebih, mudah annoyed, mudah terbawa emosi orang lain, menjadi pendengar yang care pada suasana hati orang dan cukup merespons berlebih pada kondisi tertentu. Yah, who knows? 













Share:

Saturday, March 12, 2022

DEPRESI; BATAS TERDEKAT KEMATIAN

 

Ini Sabtu malam. Paska mengambil waktu untuk berkeliling kota sejenak, mengendarai motor sendirian sambil membiarkan lagu-lagu dari Spotify berputar, aku akhirnya kembali menyapa blog ini lagi dengan satu entri lainnya. Sebuah entri yang menjadi jawaban serta pembeda dari semua entri yang pernah aku tulis sejak bertahun-tahun lamanya. Sebuah entri yang aku asumsikan tidak seratus persen menyuarakan apa yang aku rasakan dalam setidaknya 3 hari terakhir.

Jika menarik jauh ke belakang, aku akan menemukan ada banyak entri yang membahas tentang kondisi mentalku. Diselingi dengan kata-kata bunuh diri. Juga kalimat-kalimat sok tau yang sering kuklaim berkat apa yang kurasakan selama ini. Aku sempat frustasi ingin mendapatkan bantuan, namun di lain sisi aku sama frustasinya karena menganggap apa yang kualami hanya sebatas hal biasa. Sebuah hal yang bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penderitaan orang lain. Hal yang tidak seharusnya bisa disetarakan dengan harga satu kali duduk di ruang konsultasi.

Namun di tengah mendung gelap dan hujan yang cukup awet Kamis kemarin, aku memacu motorku melintasi kota demi mendapatkan satu bantuan pertamaku. Ya, aku akhirnya memberanikan diri untuk menemui seorang psikiater setelah bertahun-tahun lamanya bertahan seorang diri. Akhirnya aku menyerah dan mencari bantuan.

Aku gugup karena itu adalah kali pertama aku bertemu dengan seorang psikiater. Aku pernah konsultasi dengan dokter sebelumnya. Membahas tentang keluhan fisik yang aku rasakan. Seperti tahun lalu saat aku tiba-tiba anosmia, demam, batuk dan mual, yang kemudian didiagnosa sebagai gejala Covid-19. Saat aku mendeskripsikan gejala yang kualami waktu itu, rasanya sangat mudah dan apa adanya.

Namun kemarin yang duduk di depanku adalah seorang psikiater. Dokter yang tentunya akan membantuku dalam kondisi yang berbeda. Dengan sedikit kesulitan aku coba memberanikan diri untuk lebih terbuka pada kondisiku. Aku membicarakan apa yang kurasakan, apa yang kualami, semua kesedihan, ketakutan, kekhawatiran.

Karena ini pengalaman pertama, aku dibuat takjub saat Dokter menuliskan semua yang kedeskripsikan pada selembar kertas. Mirip seperti jurnalis. Beliau menambahkan catatan-catatan penting dari setiap pernyataan yang aku utarakan. Lalu beliau mengambil jeda berpikir sejenak, coba menganalisa dan menark kesimpulan dari catatan yang ditulisanya.

Dan seperti yang kuduga, aku didiagnosa depresi (nilai indikatornya berat).


Dokter sempat menjelaskan apa yang harus kulakukan setelahnya. Tentang meminum obat antidepresan, tentang terapi dan mulai latihan journaling.

Saat mendengarkan penjelasan itu aku merasa perjalananku akan sangat panjang—mengingat aku tidak punya persiapan apa-apa dalam memutuskan bahwa aku harus menemui seorang psikiater. Aku tidak mengharapkan orang tuaku ikut membantu. Aku juga tidak mengharapkan rekan kerja atau atasanku harus tau. Aku memutuskan dan melakukan semuanya sendirian. Di usiaku yang ke-25 tahun.

Yang justru aku takutkan adalah ketika aku terlibat dalam peristiwa impulsif, aku harus menyebutkan depresi sebagai pembelaan. Aku berusaha menahan diri untuk tidak mendeklarasikan kondisiku pada orang awam yang menganggap penderita depresi bukan sesuatu yang perlu diperhitungkan kondisinya.

Aku takut dalam setiap proses penyembuhan seperti terapi yang disarankan Dokter, aku akan menghadapinya sendirian, memendamnya sendirian. Tanpa dukungan. Aku belum yakin aku bisa menerima bantuan psikiter sepenuhnya. Aku takut aku tidak bisa kooperatif mengikuti arahan psikiater. Aku takut seberapa banyak biaya konsultasi, obat dan terapi yang harus kutanggung sendirian.

Dan pada fakta bahwa salah satu sahabat terbaikku meninggal dunia.

Sahabat yang tahun lalu menemaniku di sebuah café, menandaskan kopi bersama sambil bercerita secara terbuka tentang kerisauan dan ketakutan masing-masing. Sahabat yang aku menyesal karena tidak bisa sepenuhnya membalas kebaikannya sejak kami masih SMP. Dia yang membantuku, yang membuatku merasa tidak sendirian dulu saat masih pertama kali di asrama. Sahabat yang tau semua seleraku, buku, musik, film.

Sahabat yang menjadi prioritas orang pertama yang kutemui saat aku pulang kampung. Sahabat yang jika kuhitung-hitung sudah 15 tahun lamanya kenal baik denganku dan keluargaku. Sahabat yang seharusnya jadi orang pertama yang tau bahwa aku mengidap depresi.

Dia pergi jauh sehari setelah aku didiagnosa depresi. Jauuuhhh sekali. Sampai aku tidak mungkin bisa menghubunginya kembali saat aku pulang nanti.

Aku adalah orang yang sulit meluapkan emosi lewat tangisan. Namun kemarin, setelah mendengar kabar ini, aku tidak memedulikan lagi di mana posisiku, ada siapa saja di sekitarku. Aku menangis sejadi-jadinya di depan umum untuk kali pertama. Tanganku bergetar, dadaku sesak. Beberapa teman memintaku beristirahat, tapi tetap aku paksakan mengingat semua hal harus berjalan baik-baik saja.

Saat aku mengendarai motor pulang, aku kembali menangis sejadi-jadinya. Aku kehilangan satu rumah terbaikku. Rumah yang bahkan mampu menampung semua ketakutan dan kegelisahanku yang selama ini tidak pernah bisa leluasa kutumpahkan di rumahku sendiri.

Satu harapanku pergi. Tepat di hari pertama aku meminum antidepresan, tepat satu hari aku mendapat diagnosa dari psikiater pertama yang kutemui selama 25 tahun kehidupanku.

Sesampainya di rumah, aku menangis berkali-kali. Melihat chat terakhirnya yang kuabaikan menimbulkan rasa bersalah yang luar biasa padaku. Aku menyesal karena tidak menemuinya terakhir kali. Aku marah pada diriku karena dia bahkan belum sempat berpamitan. Aku benci diriku yang membiarkan chat terakhirnya yang bertanya apakah aku bisa menemuinya kuabaikan selama seminggu sebelum kematiannya.

Aku menulis entri ini jauh lebih jujur dibanding entri-entri sebelumnya. Ini sungguhan apa yang terjadi pada hidupku di usia 25 tahun. Berjuang sendirian, kehilangan tempat berpulang, kehilangan minat pada pekerjaan, tidak betah berada di rumah, keinginan mengakhiri hidup yang semakin meningkat.

Hal-hal yang sama sekali tidak selaras dengan pikiran dan pengalaman para 25 tahun lainnya yang sudah memikirkan investasi dan pernikahan.

Aku tertawa karena Nathan tidak melihat aku yang versi begini.

Share:

Sunday, January 30, 2022

PARA ANONIM UNTUK SEORANG ANONIM


Beberapa hari yang lalu, aku menemukan fotoku saat masih bayi. Aku mengasumsikan usiaku masih 2 sampai 3 bulan saat itu. Wajahku bersih, badanku gemuk berisi, mataku indah, rambutku lebat dan hitam. Aku menyaksikan foto itu saat usiaku sudah 25 tahun sekarang. Sebuah usia yang membuatku melontarkan banyak rasa kasihan pada foto bayi itu.

Aku mengasihaniku di usia 3 bulan karena ketidaktahuannya akan menjadi apa ia kelak saat dewasa. Mengapa aku di masa sekarang pernah mengambil keputusan yang salah, pernah mengabaikan pelajaran, pernah tidak berusaha sekuat tenaga, pernah menyia-nyiakan kesempatan, pernah teledor dalam melakukan sesuatu. Semua hal yang aku lakukan dan membuat bayi itu berubah menjadi sosok yang penuh keputusasaan seperti sekarang.

Foto hanya pemanis, bukan fotoku

Aku mengasihani diriku sendiri karena aku telah banyak mengubah apa yang telah dibangun oleh ibuku. Masa-masa kecil yang kulihat dalam foto, aku berpakaian rapi sekali, aku memakai tas yang lucu, memakai sepatu yang bagus, memakai aksesoris yang cantik. Aku akan sebaik dan sebagus itu di ‘tangan’ ibuku. Namun ketika aku sudah mulai diberi kesempatan mengurus diriku sendiri, mengambil keputusan sendiri, banyak sekali hal yang salah yang telah aku lakukan.

Luka-luka di tubuhku akibat aku terlalu mengabaikan dan sembrono. Rambutku yang tidak selembut dan sebagus dulu akibat aku pernah salah merawatnya. Wajahku yang kusam akibat aku malas mencuci wajah. Mata pandaku yang menyebalkan akibat aku mengulur waktu tidur dan sering mengonsumsi gadget. Semua hancur berantakan setelah ibuku lepas tangan.

Ibuku tetap memberi nasehat namun aku sering kali mengabaikan.

Aku ada di masa-masa antara hitam dan putih. Kedewasaanku sebagai manusia 25 tahun sedang diuji. Aku dihadapkan oleh sebuah pilihan yang riskan, yang masih saja kuhadapi dengan pikiran 18 tahunku. Dalam momen-momen itu tengkukku jadi sakit, kepalaku berpendar pusing, bahkan sering kali tanpa dipicu apapun aku mual dan sampai muntah.

Aku berusaha mengajak teman keluar, pergi kemanapun, memakan apapun, agar pikiranku sedikit terdistraksi oleh hal-hal yang membuat ku ketakutan dari masa lalu. Hal yang pernah melukaiku selama bertahun-tahun tanpa sebab, yang membuatku mengharapkan kematian, yang membuatku ketakutan. Aku kini kembali menantangnya! Dengan luka menganga yang belum sepenuhnya sembuh. Aku tidak tahu bagaimana akhirnya, tapi akan tetap kucoba. Ibaratnya, jika aku harus mati, maka aku akan mati.

Aku tidak tau kenapa aku sulit menghargai diriku sendiri di saat aku masih bisa menemukan para anonim menuliskan pesan padaku.

Tidak ada obat yang lebih menyenangkan ketimbang membaca pesan-pesan dari anonim yang menyemangatiku, yang memuji karyaku, yang membuat aku senyum-senyum sendiri karena terharu. Aku tidak tahu sebenarnya mereka mengirimkan itu semua murni untukku atau malah untuk David?

Yang kuyakini hanyalah aku merasa bersyukur masih bisa membaca pesan-pesan itu sebagai obat.

Ini sebab diriku yang tidak memiliki kemampuan untuk menerima diri sendiri. Low self-esteem atau identity crisis barangkali. Makanya, dibandingkan show off wajahku di foto profil media sosial, mencantumkan nama sesuai akte kelahiranku di semua platform online, aku cenderung membatasi diri sebagai anonim, atau at least menggunakan nama samaran.

Lewat abstraksi identitas ini, mereka yang terus menerka kepribadian dan sosokku pun pada akhirnya membuat imajinasi sendiri. Mereka akan menciptakan sosok baru sesuai dengan karakteristik tulisanku, cara aku merespons, gaya bahasaku atau foto profil orang lain yang aku pinjam (aku tidak pernah mencuri foto profil orang lain kecuali memang foto idol atau aktor, ya).

Maka dari itu, mereka yang terlanjur menciptakan karakter imajinerku cenderung tidak akan bisa membenci sosok ciptaannya sendiri. Mereka akan tetap menyukaiku. Kebanyakan.

Ah, mungkin kemisteriusan yang aku bawa dan label anonim yang melekat erat padaku membuat aku sulit mendapatkan jodoh. Maksudku, aku tidak menemukan satu pun sosok yang bisa mengenaliku dan membaca potensiku sebagai manusia. Toh, lebih dari apapun aku tidak ngebosenin-ngebosenin amat. Aku enak diajak ngobrol, aku pendengar yang baik, aku bisa menjadi support system yang kebanyakan orang butuhkan.

Tapi karena mungkin aku terlalu menutup diri, ditambah ada satu kondisi mental yang sangat sulit aku jelaskan, makanya aku seperti jarum dalam jerami yang sulit ditemukan. Tersembunyi dalam satu universe sendiri.

Lagipula aku dan David sudah cukup. Kami akan bekerjasama untuk tidak membunuh diri kami.

 

Share:

Sunday, September 12, 2021

September, Hujan dan Kacamata Baru

 

Hei, hm… ini sudah jam sebelas malam sebenarnya. Aku mendengarkan piano relaxing playlist di Spotify lewat earbuds, ditemani suara hujan dari luar. Sebuah kondisi yang sampai kapanpun akan membuatku nyaman.

Hari ini luar biasa. Pagi harinya aku dipijat setelah setengah tahun tidak olahraga dan sibuk kerja. Pundak dan tengkukku yang rasanya kaku pada akhirnya bisa sedikit rileks. Kemudian malamnya aku mengambil kacamata baruku, the first ever spectacles I’ve ever got! Aku membaca buku tentang empat tipe kepribadian (Sanguinis, Koleris, Melankolis dan Pragmatis) yang dipinjami Pak Bos minggu lalu. Menyeruput kopi sesekali, sembari mendengarkan playlist Spotify yang kuputar lewat earbuds (sampai sekarang).

Sebuah perayaan recharge energy seorang introver yang sampai kapanpun akan membuatku senang dan membaik.

September ya? Salah satu bulan favorit. Biasanya aku selalu merayakan bulan-bulan musim hujan seacara spesial. Seperti tidak ada yang lebih kusukai dibandingkan momen seperti ini. Musim hujan yang sendu, menyuguhkan banyak cerita lama yang mustahil terulang kembali.

Aku mengetik entri ini tanpa sebab. Hanya ingin merayakan malam hujan dengan kacamata baruku. Secangkir kopi tadi tidak cukup ampuh membuatku terjaga sebenarnya. Tapi aku memaksa diri sedikit bertahan lebih lama untuk mengetik satu entri sebelum tidur.

Tujuan utamaku mengetik entri semacam ini adalah sekadar perayaan. Atau boleh jadi sebuah kenangan. Aku akan sering mengunjungi blog-ku, membaca entri-entrinya untuk melihat momen-momen di mana aku merasa senang, merasa sedih, merasa cukup atau merasa kurang. Aku menemukan ada banyak kejadian yang menimpa diriku. Rasa penghargaan. Rasa penyesalan.

Aku merasa penulis sepertiku—yang juga seorang INFP dan Plegmatis—memiliki sesuatu yang istimewa. Seperti ada sebuah misteri yang membuat orang lain penasaran. Paling tidak penasaran tentang apa isi kepalaku, bagaimana aku memandang dunia, dengan siapa aku bercerita paling banyak dan kapan saja momen yang tepat bagiku untuk menulis.

Paling tidak, ada tulisan-tulisan panjang berisi metafora yang menuntut mereka menerka maksudku apa. Seperti ada rahasia yang tidak pernah kuungkapkan secara gamblang.

Aku kembali teringat ketika aku dan temanku duduk di salah satu meja favorit di salah satu restoran mie terkenal. Di sana dia mengaku iseng membaca tulisanku, mengaguminya dan menyerah untuk paham. Lantas aku terlempar pada hari dimana hidup dan matiku mengatakan hal serupa, dia bilang dia tidak memahami tulisanku, dia hanya suka. Padahal sedikit banyak sejak enam tahun yang lalu (bahkan lebih), setiap kali aku menulis, aku tidak pernah tidak melibatkannya. Aku selalu mengaitkannya dengan dia.

Sampai waktu itu, tahun-tahun terakhir kami di sekolah, dia menuntutku : sekarang aku bukan lagi topik utama dalam bukunya, aku bukan lagi bahasan-basahan yang ia tulis dalam tulisan panjangnya

Dia merasa istimewa karena aku perlakukan demikian. Hanya dengan lewat tulisan. Bukan bunga, bukan coklat, apalagi mobil mewah.

Yah, siapapun akan merasa istimewa bila diabadikan dalam tulisan. Namun tidak semua orang mahir mendeskripsikan seseorang dalam bait-bait kata, memberitahukan pada dunia bahwa ‘inilah orang yang paling aku suka, orang yang memiliki siang dan malamku, orang yang tidak pernah absen datang dalam pikiranku’. Mereka hanya menyingkatnya dengan kalimat sederhana; aku mencintainya.

Hahahaha, sebenarnya aku ingin mengaitkan entri ini dengan penjelasan tentang seorang Plegmatis. Bagaimana mereka bisa menjadi amat santai dan tidak terprovokasi. Bagaimana mereka mampu menghindari konflik dan menyediakan jalan tengah. Seperti setiap penjelasan dalam buku itu adalah membicarakan diriku. Sama seperti reaksiku saat membaca penjelasan seorang INFP. How the hell they know what actually am I doing?

Namun sebab hujan—dan entah sebab apa lainnya—entri ini malah menjurus pada rinduku yang masih sama. Kenangan enam sampai delapan tahun lalu yang mustahil terulang.

Aku akan merasa malu dan jijik jika berada di posisinya. Ini sudah 2021, kami sudah 24 tahun. Bukan lagi mengingat masa lalu yang alay, labil dan memalukan. Harusnya aku sama seperti dia, mulai memikirkan masa depan, merancang tahapan alur hidup seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Lulus, bekerja, menikah dan punya anak.

Alur mainstream yang diatur oleh negara dan agama.

Aku tidak pernah tahu apa yang akan aku lakukan September tahun depan. Atau kapan aku bertahan dengan kacamata ini. Atau kapan aku mulai bosan meminum kopi. Atau kapan aku tidak lagi mengandalkan Spotify.

Apalagi kehidupanku yang banyak tertinggal dari kehidupannya yang sempurna. Sampai-sampai sosok David dan Nathan sungguhan nyata terasa. Hitam dan putih. Siang dan malam. Yin dan Yang.

Komen terakhirku pun tidak berbalas. Seolah dia sudah membuat batas. Ada yang mesti dikejar. Orang dari masa lalu sepertiku memang memaksanya harus menghindar.

Coba lihat kembali entri-entri yang kutulis tak beraturan selama ini, sejak dua sampai tiga tahun yang lalu, sosoknya mesti bertaut. Dia abadi. Entah sampai kapan akan tetap di sana. Sampai kapan akan sungguhan kuungkapkan. Tidak dalam bentuk frasa dan metafora, namun sungguhan namanya. Jelas. Tegas.

Suatu saat aku akan mengakuinya, menyebutnya. Tapi nanti, hanya kepada dokter yang bisa kupercaya.

Aku harus memanifestasikan uang gaji untuk sebuah konsultasi. Kenapa yang kupikirkan hanya pakaian dan makanan, ya?

Share: