Saturday, November 30, 2024

Mari Kita Apresiasi Tahun 2024 dengan Cara Menjengkelkan

 Halo, ini aku — Radiva yang sebentar lagi bertambah usia. Memasuki bulan Desember mendadak menjadi menyeramkan untuk aku yang tahun ini tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Sudah kubahas di entri sebelumnya, 2024 tidak banyak yang berarti. Atau memang akunya saja yang menganggap semuanya jadi tidak berarti.

Tahun ini dengan cepat aku kehilangan dan mendapat teman. Aku cukup banyak menemui orang, namun tidak ada yang benar-benar bisa membuatku 'secure'. Aku berusaha melunak, mengalah, kembali menjadi seorang Mediator yang tidak suka berdebat dan menghindari pertikaian. Namun aku juga berubah cepat menjadi 180 derajat berbeda, mengonfrontasi, memarahi dan berdebat dengan orang yang mengusik kedamaian atau idealisme tertentu.

Siapa sangka? Aku bisa merasakan perasaan yang bergejolak untuk menyakiti orang lain — dan diri sendiri. Pikiran menyayat pergelangan tangan tidak muncul, jujur saja. Tapi apa yang berkelebat di kepala adalah perasaan ingin menampar orang, menendang badannya dan memaki di depan wajah mereka. Entah siapa. Dan juga hadir perasaan ingin merusak diri dengan menghantamkan kepalan tangan di kaca atau cermin, membanting barang dengan sekuat tenaga atau berteriak secara bebas untuk mengeluarkan semua jenis emosi.

Karena, aku tidak menangis.Tidak untuk emosi yang entah bentuknya apa.

Tapi demi bisa menenangkan sisi mengerikan yang ingin mengintip dari balik kepribadianku, aku coba akan menariknya untuk flashback kepada apa yang terjadi di tahun 2024 ini. Dan tentu, di setiap momen akan kutambahkan bentuk pelajaran apa yang bisa aku dapatkan.

1. Mengikuti Komunitas Buku

Sebagai seorang introver yang berelasi hanya dengan orang-orang hitungan jari, menjadi sebuah tantangan tersendiri untukku mengikuti sebuah komunitas buku. Aku terbilang member yang mendahului saat jumlah peserta yang hadir tidak lebih dari 10 orang. Aku bertemu orang-orang dengan pola pikir beragam yang luar biasa. Seketika rasa banggaku pada diri sendiri menyurut, seolah aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan mereka.

Kemudian entah apakah aku terlalu menonjol atau memang mereka gambling saja, aku terpilih menjadi salah satu panitia yang membantu keberlangsungan komunitas debutan itu. Sampai jumlah member-nya melampaui 25 orang. Apakah aku bangga? Tentu saja aku bangga. Bukan pada diriku sendiri, melainkan pada mereka yang bisa datang untuk memberikan kesan pesan tentang buku yang mereka baca dan tentang pengalaman pribadi mereka.

Sebagai seorang emotional master (referensi ini aku dapatkan dari sebuah video Youtube untuk melabeli INFP), aku tergugah pada cerita individu setiap member yang berusaha membuka diri. Aku senang dan mendapatkan energi untuk memahami perjuangan mereka. Seperti mendapat teman seperjuangan. Ada yang jauh lebih menderita daripada aku. Begitulah yang kurasakan. Sehingga aku menganggap komunitas ini menjadi seperti 'rumah kedua'.

Dibandingkan seseorang yang menganggap komunitas ini sebagai komunitas membaca buku biasa yang tidak punya aturan — hanya karena dia datang untuk menunjukkan berapa banyak judul buku yang dia tuntaskan — aku dan beberapa orang lainnya menganggap semua member adalah keluarga yang mesti dijaga dan dirayakan. Namun, orang ini merusak dengan egonya yang sama sekali tidak menghargai perasaan orang lain. Dia sebut orang-orang sepertiku sebagai orang sensitif yang tantruman hanya karena aku merasa gagal untuk merayakan kepergian salah satu member yang bahkan lebih dulu kukenal.

Seketika aku menarik diri dari komunitas ini. Hanya karena orang ini berada di sana tanpa merasa perlu meminta maaf, sedangkan dia memerintahkan aku untuk meminta maaf secara sopan layaknya pelaku pembunuhan yang akan diliput di berita televisi. Egonya besar sekali, cara bicaranya kasar dan konfrontasinya membuat panitia lain seketika berubah dari bilang A jadi bilang B. Pengaruh yang luar biasa. Sehingga aku manifestasikan sebagai salah satu bentuk pertahanan diri yang bisa ditiru — meskipun salah. Hahahaha. 

Persetan dengan orang ini. Dengan tanpa usaha berlebih aku memilih menyimpan energiku untuk memblokir semua akses dari dia, termasuk akses untuk mengikuti kembali komunitas buku ini. Toh, tanpa mereka aku juga masih bisa baca buku sebebasnya, masih bisa mendengar cerita dari para 'pasien'-ku sambil minum kopi, masih bisa berkumpul dengan orang-orang yang jauh lebih luas dan beragam hobi dan latar belakang ketertarikannya. Bukan cuma kutu buku.

Meskipun harus melepaskan, setidaknya aku punya banyak referensi buku yang menarik dan intensiku untuk membaca buku di tahun ini mendadak berkembang pesat. Tahun lalu aku hanya menyelesaikan 4 buku. Tahun ini saat entri ini ditulis, aku sudah melahap 13 buku. Sebuah apresiasi yang hebat!

2. Pengalaman Kerja Baru

Sekali lagi aku bertanya, apakah aku terlalu menonjol atau mereka hanya gambling untuk menerimaku bergabung di perusahaan mereka? Sebuah perusahaan berkembang yang produktif — yang siapa pun jika menyebutnya akan membawa rasa bangga tersendiri. Tapi ternyata kenyataan di baliknya berbeda sepenuhnya.

Sub-judul kutulis 'pengalaman kerja baru' karena sungguhan baru. Dalam sekitar kurun waktu 8 bulan aku menemukan banyak pengalaman yang bisa menamparku untuk lebih berhati-hati dalam menandatangani dokumen perusahaan yang melibatkan pihak pekerja dan perusahaan. 

Aku boleh saja baru punya satu pengalaman kerja, nyaris 4 tahun lamanya. Di bidang yang sama, yaitu 'marketing'. Secara CV seharusnya sudah menjanjikan. Terlebih di perusahaan sebelumnya aku benar-benar difasilitasi belajar marketing selama bertahun-tahun semenjak wabah Covid melanda. Aku selalu bilang ketika alasan kenapa aku bertahan di perusahaan itu meskipun dengan gaji yang tidak seberapa; "Cuma di sini kita belajar, kita dibayar."

Wow, terdengar seperti maniak belajar. Tapi jujur saja, skill dan pengalamanku bertambah berkali-kali lipat. Aku yang introver, kadang bisa switch mode to extrovert ketika dibutuhkan. Aku yang malu mengawali pembicaraan atau takut pergi kemana pun sendirian mendadak jadi fasih menghadapi semuanya akibat tuntutan pekerjaan.

Jika kubandingkan dengan pekerjaan sekarang, aku juga punya skill dan pengalaman baru yang bahkan bertambah sebelum aku genap bekerja selama satu tahun di sini. Skill dan pengalaman itu adalah skill konfrontasi dan pengalaman mendeteksi perusahaan yang punya system failure. Termasuk politik di dalamnya dengan permainan ala koruptor yang banyak menyembunyikan rahasia. Wow, tentu ini menjadi pengalaman langsung yang berharga. Mengetahui bahwa karakter seseorang bisa 'dibentuk' oleh kekuasaan dan uang.

Demi Tuhan, drama Korea yang aku tonton ternyata terjadi sungguhan di depan mataku. Bodoh jika mereka menganggap aku menerima banyak informasi yang tidak seharusnya keluar. Aku seorang intuitive — yang bahkan jika dicek berkali-kali MBTI-nya akan terus memasang huruf N ketimbang S. Aku bisa 'membaca' orang dan situasi dari intuisi, jadi aku hanya perlu penegasan dengan deklarasi dari yang lain. Kemudian aku akan berkata dalam hati; "Tuh, kan benar!"

Namanya perintis, terdengar luar biasa dalam kurun waktu dua tahun sudah ada sekian outlet dan ratusan karyawan. Ketenaran dan uang barangkali bisa dikantongi dengan mudah. Tapi aku lupa pada fakta barangkali perkembangan pesat yang terjadi bisa saja tidak seimbang dengan pemahaman pemimpinnya kepada managemen tim dan sistem kerja yang sempurna.

Aku yang terbiasa di-nina bobo di perusahaan sebelumnya dengan kelas gratis, buku, seminar untuk menjadi leader dan marketer yang baik mendadak clueless pada job desc pekerjaan sendiri. Belum tahu apa-apa soal sistem internal perusahaan sudah langsung ditodong dengan angka produksi yang mesti keluar besok. WTF? Aku bahkan tidak pernah tahu SOP, KPI dan visi misi perusahaan. Tiba-tiba banget diagungkan materi PPT-nya hanya untuk meningkatkan rasa percaya diri pada posisi tertentu, kemudian dicaci maki dan diteriaki materi PPT yang sama untuk demand semua dapat bekerja sesuai keinginannya. 

Katanya uang bukan masalah. Gaji bisa dibicarakan. Nyatanya, untuk apa gaji bertambah hanya demi bisa menjalankan kapal tanpa navigasi? Membungkam mulut dengan memberi privilige gaji dua digit dan double job? Tidak masalah jika datang terlambat dan tidak ada uang overtime — meski overtime seringkali dikaitkan dengan loyalitas. Kontradiktif sekali.

Apa yang paling lucu adalah kenapa aku bisa-bisanya ditipu dengan sign contract yang jelas-jelas merugikan sebelah pihak. Dokumen kontrak yang 'katanya' adalah peraturan perusahaan(?) dan sama sekali tidak ada copy-an slip gaji. Banyak pelanggaran yang terjadi, tapi belum satu pun yang bertindak untuk melaporkan. Mari bertahan untuk menyaksikan keruntuhan.

Ini pelajaran keduaku di tahun 2024. Intinya, bukan cuma cowo saja yang bisa dilabeli red flag. Perusahaan pun sama. Ngga melulu mereka bagus di branding, internal SDM-nya juga sama bagusnya. No way. Literally big NO. 

3. Kita adalah Manifestasi Masa Lalu

Aku bangga menggunakan kapabilitas intuisiku untuk mendeteksi orang dan lingkungan sekitar. Terlebih ketika aku bisa meraih mereka dan membuktikan intuisiku benar. Di tahun 2024, aku banyak sekali menjadi destinasi bagi beberapa orang yang membutuhkan pertolongan. Minimal validasi, lebih lagi kalau bisa solusi. Mulai dari yang perkara pacarnya, perkara pendidikannya, perkara orang tuanya, perkara saudaranya, perkara finansialnya, sampai perkara rumah tangganya. 

Aku sempat mikir; "Buset, ini kalo aku pasang tarif sepertinya lumayan."

Aku juga kurang tahu dapat kekuatan dari mana menjadi salah satu tempat ternyaman mereka untuk menceritakan hal-hal sekrusial itu. Dibandingkan dibuat sibuk oleh pekerjaan— yang mana mungkin sibuk, untuk realisasiin satu project aja alurnya lama banget— aku lebih sibuk keluar dan menjadi 'psikolog' amatir mereka.

Mereka akan selalu memulainya dengan "Kamu sibuk ngga?" untuk yang bisa bertemu tatap muka atau "Aku boleh telepon?" untuk yang jaraknya jauh. Aku selalu mengedepankan mereka, bahkan mengorbankan kebutuhan pekerjaan sendiri demi bisa memenuhi ruang kebutuhan mereka. Jika hal yang kulakukan sama seperti seorang hero menolong civilian, barangkali aku sudah masuk ke daftar Avengers, hahahahaha.

Karena penasaran, aku mencoba mengambil beberapa review dari mereka soal kenapa mereka mempercayaiku untuk mendengar cerita seberat dan serumit itu? Mereka bilang; "Karena aku tau dari awal kamu ngga judgmental." Ada pula yang bilang; "Kamu pendengar yang baik, aku ngerasa aman."

Apakah aku terbang? JELAS. Daripada orang-orang yang cuma bisa konfrontasi tanpa bisa memahami emosi orang— seperti menyebutnya oversensitive dan enggan meminta maaf— aku bangga menjadi orang yang ada dan dipercaya kapabilitasnya sebagai individu yang memikul bersama beban mereka. Karena why not? 

Orang sialan itu sempat mempertanyakan aku kenapa aku 'memvillainized' diri sendiri? Apakah untuk terlihat lebih dominan dan overpower? Aku berpikir dalam dan kemudian mengiyakan, tentu saja aku perlu terlihat dominan untuk bisa dilihat potensi dan kapabilitasnya since I couldn't offer both of visual and wealth? Dan ternyata, aku justru menjadi lebih kuat dan solid ketika ada orang yang membutuhkanku. Bukan karena ingin dominasi, lebih ke rasa bahagia ketika kamu berhasil membantu orang lain.

Tahu kan bagaimana perasaan itu? Seperti lega dan bangga.

Tidak cuma dari pihak-pihak baik saja. Aku juga menilai orang-orang 'jahat' (di hidupku) melalui intuisi dan ceritanya secara langsung. Aku memahami benar bahwa setiap perilaku mereka adalah manifestasi masa lalu yang barangkali 'menyangkut' dan belum selesai. Sehingga menciptakan karakter yang demikian. Jadi semisal perempuan gila itu memelototiku dengan matanya, berteriak dengan suara keras yang bising, aku tahu itu adalah manifestasi bahwa di rumah, dia adalah orang yang diperlakukan sama. 

Dari korban, menjadi pelaku. Selalu begitu, bukan?

Hal ini juga terjadi padaku yang ternyata punya konklusi setelah berkonsultasi dengan psikolog. Manifestasi sikap dan reaksiku yang cukup private (atau sederhananya dicap cuek), serta bagaimana aku berusaha ada di setiap kesulitan temanku untuk mendengarkan cerita mereka dan membantu mencarikan solusi. Nyatanya, itu adalah manifestasi karena selama ini aku jarang dan nyaris tidak pernah didengarkan. Komunikasiku minim sekali sejak kecil, sehingga itu juga menyebabkan aku kesulitan berkomunikasi dalam sistem profesional.

Jadi, jika pemimpin perusahaanku (aku malas menyebutnya bos atau direktur— karena aku pun tidak tahu dia memosisikan diri jadi apa) bersikap grasak grusuk tanpa planning, suka men-delay dan sekaligus menuntut semua terjadi sesuai deadline, serta punya penyakit trust issues yang parah— sampai membatasi akses pada data, sampai membeli jabatan orang hanya untuk menguntit— tentu saja aku paham. Paham betul bahwa itu semua manifestasi bahwa dia tidak pernah dipercaya di masa lalu. Atau boleh kukatakan secara kasar 'kamu tidak punya apa-apa untuk ditawarkan dan dibanggakan, sehingga orang-orang tidak mempercayaimu'.

Tidak apa-apa, aku paham.

4. Bakat yang Masih Belum Hilang






5. Aku dan Bapak

Di poin ketiga aku bilang kan bahwa relasi dan komunikasiku dengan keluarga minim sekali. Aku jarang didengarkan— atau memang terbiasa memendam akibat suatu hal. Sehingga aku sama sekali tidak punya hubungan romantis dan intim dengan keluarga, terutama kepada orang tuaku sendiri.

September menjadi titik balik untukku, ketika bapak salah satu teman terbaikku menghembuskan napas terakhirnya di hari Jumat akibat sakit. Beberapa hari setelah temanku ini ulang tahun. Beberapa minggu dan bulan sebelumnya aku melihat stories dia yang sedang merawat bapaknya, meminta doa kepada rekan terdekat. Ketika satu story-nya muncul dan memperlihatkan kepergian bapaknya, aku ikutan kalap.

Masalahnya, aku tidak berada di sana, tidak bisa menenangkannya. Aku berusaha meraihnya di DM, dia sebut butuh waktu paling tidak satu minggu. Dan ketika aku punya kesempatan untuk menemuinya secara langsung, aku bersemangat untuk menyewa jasa ojek online demi bisa menemuinya di sebuah cafe.

Dia bercerita detail tentang kronologi perawatan bapaknya. Betapa sayangnya dia pada bapaknya. Sesabar itu dia merawat dan mengabaikan kewajibannya sebagai seorang dewasa yang perlu bekerja. Menukarnya dengan barang termahal— yaitu waktu bersama bapak. Aku senang sekali mendengar banyak orang yang peduli terhadap bapaknya. Bahkan setelah bapaknya tiada, orang-orang tetap menghormati beliau.

Aku sempat mengatakan bahwa aku ingin kematian yang tenang di hari Jumat seperti bapaknya. Untuk siapapun. Agar tidak lagi menderita atau merasakan sesuatu yang mengenaskan. Kedamaian itu terkadang membuatku berharap. Dan tentu, kesabaran dan keteguhan temanku membuatku iri, sebab aku bukan anak yang demikian.

Dan benar saja.

Dua minggu yang lalu saat sebelum entri ini ditulis, ibuku menggedor pintu kamar selepas subuh. Bilang bahwa bapakku kecelakaan. Kebiasaan bapakku yang kemana-mana tidak pernah bawa ponsel membuat aku jengkel setengah mati. Telepon itu datang dari orang yang kenal bapak dan ibuku. Dengan muka pucat dan sama-sama takut, aku berangkat bersama ibu menyusul bapak. Bayangkan, hanya melihat motorku rusak parah, aku tidak tahu separah apa kecelakaan itu terjadi. Pecahan kaca di jalan, puing-puing mobil berserakan. Aku menutup mulut. Bingung mesti bereaksi apa.

Aku mengambil ponsel, mengabadikan TKP. Bukan sebagai orang pansos yang minta dikasihani, bukan pula untuk bukti dan menemukan pelaku. Tapi hanya sebagai bukti aku tidak mungkin bisa berangkat kerja dengan kondisi bapakku yang seperti ini. Hanya untuk membuktikan ke atasan bahwa kejadian ini nyata adanya. Sialan. Pekerjaanku bahkan tidak berhak mendapatkan kehadiran seorang karyawan yang sedang tertimpa musibah. Tapi aku masih saja merepotkan diri untuk meminta izin dan meminta maaf.

Ketika suara ambulan dari kejauhan terdengar, aku semakin panik lagi. Ini seperti di drama Korea atau film-film. Aku belum pernah merasakan ini seumur hidup. Aku tidak pernah melihat orang yang kukenal secara langsung dibopong masuk ke ambulan. Aku duduk di sebelahnya, memegang tangan bapakku sambil menyebut; "Sabar, Pak."

Suara nguing nguing ambulan memecah pagi hari. Bahkan matahari belum muncul. Aku kelabakan sendiri memfoto sana sini. Sumpah, ini pengalaman yang mesti kuabadikan dalam momen tahun 2024, kali pertama dalam seluruh hidupku. Dan tentu, aku berhasil mengabadikannya di entri blog ini. Pengalaman yang sama sekali tidak mau kurasakan kembali. Meski ujung-ujungnya tetap saja, foto yang kuambil di ambulan juga sebagai salah satu bukti aku izin tidak bekerja.

Aku melihat bapakku dibawa oleh perawat di atas kasur beroda— yang entah apa namanya— menuju ke IGD. Dipasang selang infus, selang oksigen dan pendeteksi denyut nadi. Astaga, Demi Tuhan, kalau bisa ditukar, mending aku saja yang begitu, aku saja yang terbaring di sana. Jangan bapakku. Setidaknya bapak tidak kesakitan di usianya yang sudah sepuh dan aku punya alasan kuat untuk absen dari kantor sialan itu— ngga papa meskipun sakit jadi taruhannya.

Aku langsung teringat dan membandingkan kapabilitasku dengan temanku itu. Bagaimana dia bisa menemani bapaknya di atas ranjang rumah sakit. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menertawakan bapakku yang mengeluh kesakitan. Masalahnya, aku berani taruhan kalau aku yang merasakan di posisi bapak, ego dan rasa maluku jauh lebih tinggi daripada bapak. Bapak mah bodo amat dilihat perawat dan dokter mengeluh kesakitan. Kalau aku di posisi bapak, aku mungkin sudah mati-matian menahan rasa sakitnya agar tidak disebut lebay. Hahahaha. 

Hal terberatnya adalah, ketika ibu datang menyusul dan langsung mengantar bapak cek rontgen, HP ibuku berkali-kali berdering. Deretan nama yang kukenal tapi lupa bergantian menelepon, bertanya kondisi bapak. Aku heran, seberapa banyak relasi bapak dan ibu sampai berita ini cepat menyebar. Bahkan itu baru dua jam setelah kejadian. Aku sungguh capek harus menganggkat satu persatu telepon dan mejelaskan berulang kali kronologi kecelakaan bapakku.

Tuhan masih sayang bapak. Bapak ngga papa dan boleh pulang. Tapi rasa takut dan amarahku masih terpendam dalam. Seperti aku ingin menuntut dan mengujarkan umpatan atau pukulan terhadap pelaku. Entah apakah jenis seperti ini adalah bentuk rasa sayangku kepada bapak? Ataukah menertawakannya yang mengeluh kesakitan juga jadi salah satunya?

Hari-hari dimana berita bapak kecelakaan menyebar cepat. Selama lebih dari seminggu, setiap hari, orang-orang datang bergantian menyambangi bapak di rumah. Orang yang tidak pernah tahu rumahku pun datang. Orang yang rumahnya berjarak 40 menit dari rumahku pun datang. Orang yang sibuk bekerja pun menyempatkan datang. Bahkan ada yang datang dua kali. Semuanya membawa bingkisan, buah, roti, susu, vitamin dan masih banyak lagi.

Apa yang hebat, kakak bapakku, keluarganya dari kampung menempuh perjalan ratusan kilometer untuk bisa datang 'menjenguk' adiknya. Dan yang paling lucu adalah, ibu-ibu pengajian kenalan ibuku yang biasanya berkumpul untuk arisan atau pengajian pada hari itu justru berkumpul hanya untuk menjenguk bapakku. Aku (juga ibu dan keluarga bapakku dari kampung) kaget melihat belasan ibu-ibu muncul di rumah, bukan untuk arisan atau pengajian. Antara mau ketawa atau nangis. Introverku meraung-raung nyaris setiap hari. Wow. Hanya bisa kusebut wow. 

Aku bingung mentranslate-kan perasaanku. Aku senang sekali ada banyak orang yang peduli pada bapak. Bapakku orang baik. Buktinya bapak menjaga keluargaku utuh. Bapakku masih diberikan kesehatan. Bapakku masih dikenal orang-orang. Kalau tidak, mana mungkin ada yang mengabari ibuku bapakku kecelakaan dan sampai repot-repot mau ikut olah TKP dan mencari kontak pelaku kecelakaan?

Namun di lain sisi aku teringat, bagaimana nanti jika suatu hari bapak mendahuluiku? Apakah aku perlu jeda lebih lama seperti temanku untuk bisa menemani dan menjelaskan kronologinya berulang kali? Melelahkan sepertinya. Maka, aku memutuskan tidak mau mengalami hal itu. Sama sekali.

Jika bisa dibalik, dari kisah terakhir ini, pelajaran yang kuambil bukan 'bagaimana aku harus memperlakukan bapak ibuku secara baik selama mereka masih ada'. Tapi justru rasa penasaran, jika nanti aku pergi terlebih dahulu, siapa yang akan datang? Apakah teman dan relasiku akan sebanyak itu bergantian datang? Kurasa yang datang justru lebih banyak dari relasi ibu dan bapakku. Aku tidak punya siapa-siapa dan seandainya punya pun aku tidak mau repot berbasa-basi demi menjaga relasi. Kind of weird.

Oh, ya satu lagi. Salah satu tamu yang datang sempat datang menjenguk bapak berujar begini; "Kalau orangnya rajin ke masjid, pasti banyak yang kenal dan peduli."

Hatiku langsung terketuk. Bagaimana dengan aku jika nanti aku mati?

Share:

Monday, October 28, 2024

Entri Ini Sebaiknya Ngga Dibaca

 Dua bulan tersisa sampai tahun 2024 mengakhiri masa abdinya. Sebuah tahun yang tidak banyak punya arti buatku kecuali 'dapat pekerjaan'. Sudah. Itu saja yang sepertinya spesial. Aku mengikuti interview pertama, kemudian langsung lolos. Berada di sebuah perusahaan yang terbilang cukup baru dan penuh adaptasi pada banyak tren. Terjun bebas pada bidang kreatif yang tidak punya batasan. Sehingga semuanya terasa sulit dibatasi. Rasanya selalu kurang ini, kurang itu. Blablabla.

Tahun 2024 juga menjadi tahun pertama kalinya aku menangis di depan umum. Anxiety sialan itu kambuh tidak tahu tempat. Padahal cuma rasa khawatir doang, tapi bikin mual setiap pagi, pusing ngga karuan. Sulit tidur dan ngga nafsu makan. Aku belum benar-benar menimbang lagi berat badanku. Mungkin sudah berkurang dari angka terakhir yang kulihat di awal tahun. 

Aku lanjut minum fluoxtine, berdampingan langsung dengan clobazam. Dosisnya ngga turun-turun dari tahun lalu. Tapi aku ngga bohong soal mereka sungguhan bekerja keras lebih keras daripada karyawan satu office yang kutemui. Mereka mana mungkin bisa membuatku nyaman dan aman. Fluoxtine dan clobazam does their part so damn well. Lucunya, kombinasi kedua obat ini ngga ada efek apapun kalau coba aku satukan dengan kafein.

Dibandingkan tahun sebelumnya yang penuh naik turun, aku cenderung mati rasa di tahun ini. Padahal kalau aku bisa urutkan, ada banyak kebaikan yang bahkan belum pernah aku terima dari tahun sebelumnya. Tapi aku memang kurang bersyukur, jadinya terasa flat. Rumah baru. Pekerjaan baru. Teman baru. Kesempatan baru. Kalau aku mau, bisa saja aku menulis sepuluh ribu kalimat pada entri ini soal kebaikan-kebaikan itu. Nyatanya? Aku terlalu malas.

Mungkin aku akan mengungkapkan apa saja yang terjadi di 2024 dan membuatku menjadi lebih memahami bagaimana dunia bekerja. Sepertinya itu bukan pembahasan yang membosankan.

Baiklah. Akan aku mulai dari pekerjaan.

Seperti yang kusebutkan di awal, aku terlalu hoki bisa menerima invitation interview pertama dan langsung diterima tanpa perlu interview ke tempat lain lagi (sebenarnya ada 2 lainnya, tapi aku tidak tertarik juga). Ibaratnya langsung klop. Aku dengan ekspektasi pengembangan karir, mereka dengan ekspektasi pengalaman tiga tahunku di bidang kreatif marketing.

Tapi lucunya, kami berdua sama-sama bertolak belakang. Seperti Tom and Jerry yang berkelahi jika bertemu, namun akan saling merindukan jika berjauhan. Aku lupa pada fakta perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan baru berusia dua tahun, settlement bukan bagian dari mereka. Aku terlibat banyak oleh trial and error dengan segudang ketidakpastian. Aku tidak bisa membedakan mana identitas brand atau identitas pemilik. Sebagai karyawan medioker, aku masih bersusah payah berenang dalam lautan ketidakpastian mau dibawa kemana sebenarnya perusahaan ini. 

Mereka pun sama kalapnya. Tiga tahun masa abdiku di bidang itu memang barangkali menandakan aku punya skill. Tapi mereka terlalu terburu-buru. Mereka tidak punya banyak waktu dan pertimbangan untuk menelaah sisi diriku yang lain. Aku adalah sosok yang pernah terluka tanpa sengaja, tengah berusaha melawan trauma yang tidak diketahui asal muasalnya. Ketika mereka berekspektasi aku bisa menahan pressure yang katanya serba 'fast pace', mereka melihat sosok sakitku. Sosok lemah dan kambuhan yang seperti baiknya tidur saja di ranjang Rumah Sakit Jiwa.

Pelajaran yang kudapat dari sini adalah sesederhana; I'm worth to millions. Aku tidak bisa hanya iya-iya saja, hanya oke, noted, baik, siap. Aku perlu membeberkan apa yang ada di kepala, soal apapun yang secara perspektifku barangkali akan menjadi cermin atau pertimbangan mereka. Belajar dari temanku Si Debater, aku seorang Mediator mulai memahami pola-pola ini. System failure is really exist, nearer than our breath. Caranya adalah, lawan, negosiasi atau tinggalkan. 

Kedua, hal ini jauh lebih lucu. Trauma masing-masing orang itu sungguhan lucu. Seperti komedi yang bisa ditampilkan per episode dan ditunggu setiap minggunya. Kebetulan aku terlibat dalam komedi ini, yang mana aku seorang paling mengabaikan dan menghindari pertikaian ditarik kerah bajunya oleh seseorang yang butuh komunikasi, kejelasan dan familiar dengan konfrontasi. Jika pertikaian fisik dibolehkan, dengan tubuh yang jauh lebih besar aku bisa saja menendang badan munglinya dengan keras. Menampar wajah yang bertengger dua mata melotot itu dengan tanganku sampai memerah.

Beruntung sebelumnya aku sempat mengobrol dan tahu sedikit banyak tentang latar belakang karakter gila itu terbentuk. Jadi, aku memaklumi dengan sangat bahwa konfrontasi dan 'marah-marah' memang sarapan dan makan malam hariannya. Aku sempat menyarankannya bertemu psikolog atau psikiater, tapi dia menolak karena bersikukuh pada pendirian 'dia masih normal'. Aku pun agak bingung, normal yang dimaksud apakah saat dia berada di tengah keluarganya yang serba marah-marah itu?

Dan aku pun sama saja. Minim komunikasi dari kecil ternyata tidak secara sadar membawaku pada sosok yang tertutup dan menghindari penyelesaian. Aku benci pertikaian jauh lebih daripada aku harus melakukan apa-apa sendiri. Aku akan cenderung mengalah dan terlihat lemah. Tapi menurutku, itu satu-satunya coping mechanism yang bisa kulewati untuk keep my sanity fine. Takutnya, aku sungguhan bisa membunuh.

Aku terlalu banyak memendam. Terlaluuuuuu banyak. Tak terhitung jumlahnya. Aku takut meledak di salah satu kondisi dan kutembak kepalanya like Joker does. Jadi, aku akan memilih hengkang dan dicap sebagai pengecut.

Apa yang lucu di bagian ini juga terlihat dari satu dua orang yang berusaha terlibat tapi tidak menghasilkan apa-apa. Trauma masa lalu mereka yang kudengar secara suka rela dari mulut mereka sendiri membuatku menarik kesimpulan, suara patah-patahnya, jemari yang gemetar, mata yang sulit fokus, hey, kamu sungguhan tidak apa-apa untuk terlihat kuat di chat dan sangat butuh bantuan saat hadir secara jasad? 

Kamu yang berusaha netral dan memvalidasi perasaan hampir setiap orang, terlalu lemah untuk mengambil keputusan, pada akhirnya kalah telak oleh dominasi orang yang derajatnya bahkan jauh berada di bawah kakimu. Kenapa? Apakah kamu takut pada mata membeliaknya yang seperti barong itu? Hey, percayalah kalian sama-sama punya trauma, aku pun sama. Kehidupan kita belum selesai. Wajar kalau kamu tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Tapi ini pun jadi pelajaran buatku bahwa semua orang adalah manifestasi trauma masa lalunya. Termasuk aku. Hahahaha.

Beralih yang ketiga, mungkin agak melompat karena ini terjadi baru kemarin. Sejauh ini aku berdampingan erat dengan masalah mental yang mengganggu fungsiku sebagai manusia normal. Dan pada akhirnya aku coba bagikan ceritaku secara utuh (yeay akhirnya David sungguhan bertemu profesional). Aku memperkenalkan David kepada seorang psikolog. Bagaimana aku menghidupkannya dan secara fasih membuat dunianya. Btw, tanggal 31 ini David ulang tahun. Happy birthday David! Dan Noah Sebastian! Uhuy!

Ketika ditarik ke belakang, ujung-ujungnya aku adalah manifestasi dari kurangnya komunikasi di internal keluarga. Gila aja. Keluargaku utuh, sempurna, bahagia. Tidak ada KDRT. Tidak hidup terpisah. Masih bisa makan. Bisa berpakaian. Bisa berpegian. Aku punya fasilitas. Aku punya tempat pulang. Aku punya dukungan. Tapi apa kata psikolog itu? Keluarga utuh bukan satu-satunya jaminan bahwa aku bisa hidup secara normal?

Wah, ada kurang adilnya di sini. Mari bicarakan temanku yang saat ini hidup satu keluarganya terpisah karena kesibukan masing-masing. Tidak pernah ada bonding yang mengikat seperti halnya aku yang setiap hari masih bisa melihat kedua orang tuaku. Tapi dia normal. Dia tidak menderita penyakit mental apapun. Dia kuat dan beraktivitas seperti orang lainnya secara fasih dan kuat. Bahkan dia sempat berujar "Aku iri dengan hidupmu, orang tuamu." tanpa dia sadari bahwa keduanya adalah manifestasi jangka panjang aku yang begini. Aku dengan David. 

Psikolog mahal. Mahal banget njir. Aku agak kapok menghabiskan uang sebanyak itu untuk satu buah konsultasi. Masalahnya, ketika aku mengandalkan meja Indomaret, yang jadi psikolog justru aku. Aku menampung cerita mereka dan bisa mengambil posisi untuk memvalidasi, menguatkan atau bahkan memberikan solusi (ada kafein akan lebih efektif).

Tapi setidaknya dengan kesempatan bertemu psikolog pertama kalinya seumur hidup aku jadi tahu, bahwa aku yang berusia 27 tahun ini adalah hasil dari aku yang berusia 10 tahun, 16 tahun. Dan aku mesti menyelesaikannya segera sebelum aku benar-benar berusia 30 nanti. Aku tidak mau anakku dibesarkan oleh orang tua yang belum selesai dengan dirinya, dengan masa lalunya. Mengerikan.

Dan yah, jika dibandingkan tahun 2023, aku masih punya teman nongkrong sepulang kerja yang asyik karena pekerjaan sebelumnya memang tidak seserius sekarang. Driver sampai orang gudang pun bisa jadi sangat dekat denganku, kita bolak-balik Denpasar-Singaraja rutin dan tidak menganggap itu pekerjaan overtime karena dilakukan dengan suka cita.

Kalo sekarang? Bisa pulang aja syukur. Keluarnya juga masih bahas ngga jauh-jauh soal kerjaan. Bisa-bisanya di kontrak kerja dateng jam 8 pagi dan masih ada yang setengah 9 baru absen. What the fuck? Giliran pulang on time jam 4 teng, dibahas terus ngga kelar kelar hinaannya. Funny how you try to playing about time with the most on time human ever existed? Mau ada acara selingan pun nol besar. Nonsense. Aku mostly keluar untuk baca dan nulis sendiri di cafe, sekalinya ada tandem itu pun untuk buka sesi konsultasi. HAHAHAHAHA.

Tahun lalu aku juga masih sempat dekat dengan beberapa 'cowo' yang ujung-ujungnya juga menyerah dengan sifat dinginku. Kalah dingin mungkin dan aku suka sekali melihat they're falling together for no further hope. Aku sampai datang mengunjungi tempat kerja salah satunya yang jauh di Jimbaran hanya untuk mengejutkan "Sureprise Motherfucker!" dan menagih utang yang tidak pernah ia sanggup bayar lunas. Dasar cowo ngga modal. Sudah pendek, ngga beriman, sok iye, suka ngutang. Kalo bagian begini, sifat dinginku barangkali bisa mengalahkan "dingin tetapi tidak kejam"-nya Alucard.

Tahun ini aku kebanyakan melihat orang-orang di sekitarku bersama istri, suami, anak, menikah, pacaran, blablablabla. Sedangkan aku tahun ini sungguhan lagi ngga suka sama siapa-siapa dan ngga ada yang juga suka sama aku. Bisa-bisanya ada temanku yang lama ngga ketemu, sekalinya ngajak ketemu untuk bahas pacar dan cowo yang lagi deketin dia. Kubukalah lagi sesi konsultasiku (plus kafein dari Aren Oat Latte), memberi saran yang auto dikerjakan. It seems work on her. Setahun cuma ketemu dua kali, ketemuan pertama berita soal CV yang kubuat untuk dia berhasil ngebuat dia keterima kerja dan aku pun keterima kerja di bulan yang sama, pertemuan kedua ya soal cowo yang lagi deketin dia. Udah, abis itu she no bother me with another meet.

Ada juga cowo rese yang unconscious 'melecehkan' cewe samar-samar, ngga cuma satu. Aku sampai tampar mukanya dengan kalimat panjang ala psikolog sesat yang lebih banyak caci maki daripada ngasih solusi (ditemani kafein dari Caffe Mocha juga kebetulan). Gila aja dia obsesive ngga sehat ke cewe orang. Perlu dijedotin kepalanya berkali-kali sampai dia sadar, dunia ngga cuma berputar buat dia doang. Perkara ngga ada yang mau terima tawaran menu makan siangnya aja ngga berarti orang lain ngejauh dan benci dia. Kukira aku paling melankolis, ternyata masih ada jauh yang udah over dan ngga ketolong. Grow up please.

Tapi man of the show nya adalah dua orang XXTJ yang kebetulan sama-sama muncul di tahun ini. Rese, sumpah. Paling iye soal data, padahal nol. Nir empati, udah teriak-teriak ngga jelas, nada bicara kayak lagi seriosa, masih ngga sadar letak kesalahannya. Pernah minta maaf? Sama sekali ngga. Sok-sok an nutup identitas diri biar ga bisa dijatuhin orang lain, padahal diri mereka yang ngejatuhin diri sendiri dengan sifat ekstrimnya.

Kalo yang satu sih masih bisa diajak kerjasama, aku masih punya benteng besar yang bisa kujadiin tempat sembunyi. Mungkin bisa agak luwes, atau aku konfrontasi langsung karena posisinya cukup mengunci dia untuk bertindak overreacting. Nah, yang satu ini, orang biasa, modal nolep dan backingan doang. Jadi kalo mau overreacting over everything dia mah kayak nothing to lose. Kan orang-orang taunya dia capable. Yah, ngga ngurusin juga orang yang ini. Fluoxtine ngga mempan sama dia, lihat mukanya bikin mual. Bukan mual takut, lebih ke mual yang ewwww what the fucking fuck?

Udahlah itu aja recent update kehidupan Radiva yang begini begini aja. Flat banget broh 2024 kayak ngga ada yang terjadi. Mana sisa lagi dua bulan. Satu-satunya yang bisa bikin aku puas adalah hmmmmm bisa solo trip lagi kali ya kayak awal tahun hahahahaha.


Share:

Thursday, July 4, 2024

Hidup Ini Aneh, Kapal Ini Lebih Aneh Lagi

 Apa kabar 2024?

Enam bulan sudah berlalu, sejak terakhir kali aku menghabiskan waktu terlepas dari rentetan rasa takut yang tidak beralasan. Enam bulan berlalu dari terakhir kali aku mulai beranikan diri mengabaikan keharusan mendatangi meja psikiatri. Dan enam bulan berlalu dari perasaan sedikit tenang, rasa hidup nyaris secara utuh sebagai manusia.

Nyatanya, di usia menginjak 27 aku tidak lagi menemukan esensi kemanusiaan yang bahkan sedikit saja bisa membuatku waras. Aku nyaris gila dengan perasaan kosong yang menguasai diriku. Hampa. Hitam. Gelap. Pekat. Aku tidak punya perasaan apapun selain rasa takut pada apa yang akan terjadi. Pada segala sesuatunya yang bahkan belum terjadi.

Pertama, sahabatku pergi. Aku tidak sedih atau merasa kehilangan. Ya sudah, mungkin ini salah satu kesempatan bagi kami masing-masing. Dia dengan karir barunya. Aku dengan tantangan baruku. Usia kami sama, jalan cerita kehidupan kami pun nyaris sama. Apapun tentang kami selalu bersinggungan. Dan entah, seharusnya aku merasa kehilangan. Tapi sama sekali tidak ada apapun yang bisa membuatku merasakan perasaan tersebut. Kesepian. Kesedihan. Kehilangan. Sudah lama terhapus dari kamusku. Termasuk dalam kasus kepergiannya.

Kedua, aku tidak tahu apa yang diekspektasikan orang lain padaku? Aku jelas tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Dan tidak bisa tegas pada keinginanku sendiri. Aku terlalu mencari aman dengan mengikuti alur. Ketika alurnya memaksaku untuk terjun bebas pada tanggung jawab yang lebih mengerikan, dari sisi pikiranku yang mana aku sampai mengiyakan? Rasanya bukan aku yang menjawabnya. Aku berhadapan pada deskripsi jelas dari nominal tinggi yang ditawarkan, yaitu pada tanggung jawab dan pressure berkali kali lipat.

Ini topik utamanya. 

Mungkin benar, ada harga ada kualitas. Ada hak ada kewajiban. Dan tentu apa yang terjadi padaku bukan hal-hal manis yang sempat aku ekspektasikan di awal. Ini lebih dari apa yang pernah aku bayangkan. Lebih buruk maksudnya. Dan biarlah perkataan soal manusia tidak bisa pernah puas itu benar adanya.

Mengapa? Karena ketika aku mengharap yang lebih muda, berekspektasi lebih dapat dimengerti, lebih banyak ide yang selaras, lebih dapat dibantu dan diayomi, nyatanya tidak semua yang muda dapat menutup ekspektasi itu. Culture ya. Personality. Ini benar-benar menjadi faktor utama aku mendapatkan literal culture shock.

Diayomi? Tidak ada posisi yang bisa memenuhi pengharapanku itu. Ini sesederhana perintah dan tanggung jawab. Bukan saran dan pelaksanaan. Mendadak aku rindu pada orang yang dulu aku maki karena egonya. Setidaknya dia bukan hanya memerintah, namun juga mencarikan solusi dan jalan keluar.

Aku yang selama bertahun-tahun dibuai pada kondisi demikian, saat ini benar-benar harus berdiri di kaki sendiri. Mengikat tali sepatu, dan berlari sekencangnya untuk dapat menyamai semua hal yang berkelibat dengan cepat di depan mataku. Masalahnya, tidak ada 'pembelajaran'. Aku perlu sendiri mengamati dan meniru dengan cepat. Sialnya, banyak hal baru di luar kuasaku yang datang bagai air bah. Menakutkan.

Fisikku mungkin tampak baik. Namun mentalku kembali berantakan. Pasalnya, aku tidak lagi mencari bantuan pada antidepresan. Sekalinya aku takut dan cemas, semua mendadak melelahkan. Aku ketakutan berlebihan. Padahal sejatinya hal hal tidak akan semenakutkan itu.

Aku takut ide-ide yang pernah dipuji oleh orang itu (yang kumaki habis-habisan sebelumnya) terasa sia-sia sekarang. Aku ingin bergerak maju, dan terus saja dipukul mundur ke belakang. Semua ideku terbuang seolah percuma. Seperti otak ini ada baiknya diremukkan saja bersama tumpukan mobil bekas. 

Aku takut hal-hal unfamiliar seperti yang tidak berkaitan dengan passion-ku malah menyulitkan aku ke depan. Mendadak mimpi-mimpi soal masa depan dan karir yang kubangun secara kurang ajar di kelas gratis RevoU sirna terhapus tak berguna. Seperti... untuk apa kamu berpikir jauh ke depan? Berangan karirku setidaknya akan cemerlang? Kehidupanku akan sempurna? 

Kecemasan itu malah masih bertengger di sana. Melemahkanku. 

Dan ya, aku berada di suasana mencekam yang apapun serba tertutup dan tidak transparan. 

Persis seperti di labirin yang membatasi ruang gerakku. Belum bertindak pun aku keburu takut. Takut pada kegagalan yang bahkan tidak bepotensi terjadi jika kepalaku menghadap ke depan dan pundakku tegak. Aku keburu loyo. Keburu lesu. Usia yang nyaris sama tidak bisa menjamin aku mendapatkan kesempatan untuk membagi pola pikir yang sama.

Aku tertekan pada batasan ini, batasan itu. Kecemasanku menjadi-jadi.

Barangkali aku mesti ke psikiater lagi.

Dan ya, mau tidak mau aku harus kembali menghidupkan dunia alter egoku. Aku perlu melarikan diri barang sejenak, setiap harinya dari dunia fana menyebalkan ini, untuk dapat menyambut David, Nathan dan semua karakter lain dari dunia sebelah. 

Aku harus secara cerdas dan kreatif membangkitkan mereka kembali dengan bentuk kehidupan lain yang barangkali masih tetap sama menyesakkannya.

Dan selain Dokter Widya, aku semestinya perlu mengadu pada Tuhan. Ini keterlaluan. Rasa takut dan cemas ini sungguh keterlaluan. Aku menghadapi semuanya serba sendirian. Aku bekerja dan gajiku tidak membuatku bahagia. Aku beraktivitas dan saat tidur aku tidak merasakan esensi beristirahat. Aku tidak makan dan aku tidak sedikit pun merasa kelaparan. Aku menjabat kesempatan baru dan sama sekali tidak setitik pun membuatku merasa bangga.

Aku mati rasa. Mati. Yang benar-benar sungguhan mati. Aku ini hanya mayat hidup yang kebetulan masih punya cadangan nyawa tidak berfungsi. Perasaanku tidak pernah bahagia, sedih, kecewa, puas atau illfeel. Aku hanya punya rasa cemas dan takut.

Aku tidak tahu fungsi hidupku apa. Padahal aku tidak clubbing, tidak merokok atau minum, tidak narkoba, tidak seks bebas, tidak pacaran, tidak hura-hura. Hidupku normal dan stagnan. Tapi tetap, aku tidak punya tujuan hidup.

Mati pun saat ini kuyakini bukan opsi semenggoda sebelumnya. Tapi kehidupanku sudah tidak bisa dimaknai lagi.

Satu hal pasti yang mendeteksi kenapa mati rasaku sudah sampai level tertinggi adalah ketika aku tidak terlalu peduli orang lain menilaiku. Aku lah yang menilai diriku sendiri. Dan aku terlalu malas berfungsi menjadi manusia yang mau tidak mau harus terlibat dengan penilaian orang lain terhadapku.

Seperti sekarang. Di posisiku yang sekarang. Aku yakin banyak yang menilaiku. Aku tidak peduli dengan penilaian mereka sejujurnya. Aku lebih peduli pada diriku sendiri, seperti kemampuan adaptasi yang selama ini selalu kuelukan akan tetap sesuai mengikuti lingkungan sekitarku. Namun sepertinya kemampuan itu perlahan sirna di lingkungan dan culture yang sekarang.

Bagaimana ya, rasanya aku hanya seperti 'menebeng' di rumah orang. Cuma menumpang di kapal milik orang asing yang secara waktu dan kebudayaan jauh berbeda denganku. Kapan saja aku bisa melompat atau ditendang dari kapal ini. Selama arahku tidak sama atau keinginanku sedikit berbeda.

Menegerikan. Sungguh. Aku ketakutan setengah mati.




Share:

Monday, March 25, 2024

Sebuah Halaman yang Kutujukan untuk Rasa Muak

 Maret nyaris berakhir. Sejauh ini, level mati rasa yang hadir bukan lagi sesuatu yang bisa diremehkan. Aku mahir merasa muak, namun bersamaan dengan ituaku juga mahir mengabaikan. Konsistensiku pada hal-hal yang aku dengungkan di awal tahun, setidaknya jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Ibaratnya, ketika tahun 2023 rasa rutinku dalam membaca buku hanya bertahan sampai tiga bulan pertamasaat ini, jumlah buku yang kulahap menyamai dengan seluruh buku selama satu tahun di tahun 2023. Alasannya? Kehidupanku lebih terstruktur dan rutin. Berbeda jauh dari khasnya seorang perceiver yang terdiktat dalam INFP.

Jauh daripada itu, rasa-rasa takut dan muak terus mengguyur bak air bah. Silih berganti datang secara bergiliran seperti pekerja shift delapan jam. Pagi muak, siang terasa tak terjadi apa-apa. Atau bisa sebaliknya. Pagi biasa-biasa saja, siangnya berubah jadi muak. Pengamatan kepada inner-self kemudian melemparku pada kenyataan potensi HSP yang tersistem dalam diri. Dan di sinilah aku mengalokasikan satu halaman untuk mengkultuskan rasa muak dari seorang HSP dan INFP yang tak bosan aku kotakkan dalam kepribadian.

Mereka yang Mendengung Dosa


Aku dapat mengklaim diriku adalah potensi besar pendosa. Setidaknya, dengan nilai-nilai hidup dan agama yang diperkenalkan, aku mampu bertahan di kaki sendiri. Tidak terjatuh atau terjerumus pada hal yang terlihat menyenangkan, namun nyatanya lebih banyak merugikan. Kehidupan di abad modern dengan semua dunia dalam genggaman, membuat akudan banyak orang, mesti mengiyakan semua perbedaan yang disuguhkan di meja kehidupan. Tidak semua sistem di kehidupan orang lain berjalan sama seperti sistem dalam kehidupan kita.

Namun yang tidak bisa dipungkiri adalah; kita hidup dalam tatanan dunia. Diciptakan beberapa peraturan agar manusia tidak menyerupai hewan. Tapi peraturan dan tatanan tidak semuanya bisa kita lahap sampai kenyang. Untuk beberapa orang, mereka berkeinginan merobek hal-hal yang tak sejalan dengan prinsip. Atau paling tidak hal-hal yang membuat mereka merasa direpotkan.

Aku menjadi bagian dunia baru. Hal-hal yang sempat menjawab mimpi dan doa yang kupanjat malam itu. Aku tersenyum sumringah, seperti berada di sebuah taman nan jauh penuh dengan bunga bermekaran. Aku seperti ingin bermain di sana, menikmati banyak keindahan yang lama terlupakan dari kehidupanku sebelumnya.

Namun datanglah sosok itu. Layaknya Dorian Gray yang diam-diam dielukan kehadiran raganya yang utuh. Aku sempat kalap. Seumur hidup, aku tidak pernah bersinggungan dengan sosok semacam Dorian Gray yang rentan terluka. Setiap kali aku mendengar kisahnya, aku merasa aku disuap paksa oleh konsumsi novel teenlit dan FTV murahan yang diburu kejar tayang. Plot-nya berantakan, satu masalah ditumpuk dengan masalah baru, tanpa ada kejelasan penyelesaian.

Aku sempat skeptis. Namun kemudian aku menyadari, sosok ini tidak pernah hidup dalam kesempurnaan. Tidak sesempurna materi yang ia coba suguhkan di social media. Meskipun aku sempat mengapresiasi dunia menyanjung rupa dan raganyalayaknya universe tempat Dorian Gray berada, nyatanya yang kudapati kemudian adalah rasa hampa yang dalam dan gelap. Dia tidak utuh. Sama sekali tidak utuh.

Hidupnya penuh kekurangan fungsi yang seharusnya berjalan layaknya kehidupan manusia lain. Namun dia tidak pernah berkesempatan mendapatkannya. Sehingga dalam diriku yang berusia lebih dari seperempat abad, kuyakini sosoknya jauh tidak lebih beruntung daripada diriku sendiri. Terlepas secara materiil dan kesempatan yang ia dapatkan jauh lebih baik dibandingkan milikku secara kasat mata. 

Dia mendambakan validasi. Seumur hidupnya.

Oleh karena itu, rasa muak, rasa jijik, rasa tidak nyaman yang tanpa sengaja ia ciptakan dalam kehadiranku di sana, perlahan berubah menjadi ketidakpedulian. Meskipun bertemu sosok sepertinya adalah pengalaman baru yang penuh rahasia untuk dieksplorasi, minatku mendadak menguap hanya dari statement validasi yang dia ajukan hampir di setiap kesempatan.

Dia tidak malu mendengung dosanya. Dia menormalisasikan ketidaknormalannya. Dan hanya dengan pemahaman aku dan mereka, tidak lantas mengiyakan bahwa apa yang dia pilih adalah sebuah kebenaran. Aku justru iba dan kasihan. Namun aku memilih untuk mengabaikan. Fokus hidupku akan jauh lebih penuh kejutan dibandingkan hidupnya yang tak kalah penuh kekosongan.

Dan tidak hanya Si Dorian Gray. Beberapa sosok yang memukauku sejak pertama kali, berubah menjadi hal-hal kosong karena pendengungan dosa yang tak terelakkan. Secara bangga, mereka mengklaim ada suatu bentuk perlawanan dari status hukum dan ketentuan fasih yang diciptakan untuk melindungi mereka. Apa yang membuatku muak adalah fakta nyata bahwa mereka dengan ringan hati menyampaikan jenis dosa yang mereka perbuat.

Mereka tidak meyakini dosa karena pada dasarnya potensi pahala selalu datang beriringan dengan kerumitan sistem. Ya, tentu banyak orang yang memilih lebih mudah dan mendapat dosa daripada lebih sulit dan mendapat pahala.

Mereka yang Menuntut Dunia Mengikutinya


Merasa muak dengan seseorang bagiku tidak butuh banyak alasan. Sekelebat penglihatan, satu dua percakapan, aku bisa langsung menentukan; dia pantas bertahan atau justru bisa dibuang. Namun kehidupan emosiku yang terlalu kaya tidak dapat menolongku untuk bersikap sedikit jahat pada orang-orang yang pusat dunianya pada diri mereka sendiri. Aku akan kembali ke status awal; penolong, pengasih, pendengar dan mediator.

Orang pertama. Dia adalah satu dari dua orang yang aku hapus kontaknya seketika aku mengepak barang-barangku dan hengkang dari kehidupan membosankan terdahulu. Aku berpikiran bahwa tidak akan lagi ada relasi kebutuhan yang bisa aku canangkan pada esensi kehadirannya di dunia. Tidak sampai pada akhirnya dialah yang justru pertama kali menghubungiku. Dengan raut bingung dan menahan tawa, aku menerima telepon dari nomor tidak terdaftar di kontakku tersebut.

"............" di mengucap sesuatu seperti hanya aku orang yang dia pikirkan untuk bisa menjadi penolong. Dan yes I am! Di dunia penuh orang baik, aku adalah orang paling baik. 

Satu setengah jam aku habiskan untuk memotivasi mentalnya yang mendadak sama lemahnya dengan mentalku. Satu setengah jam pula aku mencoba menahan tawa agar sisi manusiawiku tetap terdeteksi radarnya, terlepas seberapa banyak aku menimbun rasa benci bahkan dari detik pertama kali aku berhadapan muka dengannya.

Dia adalah salah satu orang egois yang menuntut seisi dunia harus berjalan sesuai kehendaknya. Kini, karma mulai menggerogoti mentalnya. Dan aku menawarkan solusi hanya sebagai selimut untuk tawaku yang tak tertahankan.

Orang kedua. Adalah penyesalan terbesarku kenapa aku sempat berpikir dia akan berada satu level dengankudengan kamidalam hal memandang dunia dari berlembar-lembar tulisan mahal itu. Dia hadir dengan tembok besar yang mengukung kami, menginterupsi setiap pembicaran menjadi fokus hanya pada dirinya dan dunianya. 

Aku melihat salah satu terdiam dan lebih pasif. Mengamati, berbaur dan kehilangan fungsi yang selama ini terlihat tegas. Aku tahu dia mampu. Namun karena orang kedua ini stole the show secara tidak sopan, para orang waras hanya bisa mengalah dan fokus pada tema yang nyata saat itu. Termasuk dirinya yang mendadak kelu. Kemudian dia berujar padaku semacam; "Dia mendominasi sekali dengan dunianya." Dan aku tidak bisa lebih setuju daripada melalui satu tawa ringkih yang menyampaikan rasa sama lelahnya.

Beruntung aku tidak punya kekuasaan untuk menghapus keberadaan orang kedua sialan ini. Karena jika ya, mungkin tanpa kesempatan kedua pun aku sudah membatasi interupsinya pada dunia kami yang tenang dan hangat. Aku tidak akan membiarkan lebih banyak orang muak sepertiku, bahkan hanya dari pemilihan emoji khasnya seperti seorang wibu akut yang menyebalkan. 

Orang ketiga. Kali ini kenormalan presensinya yang kala itu membuatku amazed ternyata tidak lebih dari versi upgrade dari orang kedua. Mengapa demikian? Karena orang ketiga tertolong rasionalisme dan sense pemecahan masalahnya yang cukup tinggi (baca: tidak hanya omongan tanpa isi seperti orang kedua). Dia hadir layaknya seorang jenderal dengan sebilah pisau besar dan tajam. Siap menghunus siapapun yang tidak sepemahaman dengan ideologinya.

Kukira kehadirannya yang tetap dan utuh dapat menyamai mereka yang berjenis sama. Nyatanya? Dia hanyalah seorang melankolis frustasi yang salah memilih forum. Dia ingin belajar memahami cinta lebih jauh, namun berakhir dengan persoalan alam semesta. Dia berang, merasa banyak waktunya terbuang. Dan itulah alasan yang cukup menjanjikan mengapa dia bersembunyi dalam ketakutan. 

Dia adalah pecundang. Di mata cinta, dia adalah aku yang suka mengambil langkah nekat. Bedanya, aku masih cukup perasa. Sedangkan dia tidak punya rasa dan esensi keindahan. Rencana-rencana kerdil yang ia dengungkan untuk menjemput idamannya, berakhir dengan keputusasaan karena dia tidak pernah memberi kesempatan dirinya untuk belajar dari banyak hal.

Termasuk pada perbedaan pendapat, pedebatan, diskusi yang kala itu hadir layaknya gorengan sepuluh ribu yang baru saja selesai digoreng. Hangat dan nikmat. 

Yah, begitulah kehidupanku per akhir bulan ketiga tahun ini. Tidak ada banyak hal yang menarik. Hanya rutinitas yang coba kuresapi dalam keseharian hidup, seperti pekerjaan baru, komunitas baru, kebiasaan baru dan orang-orang baru. 

Terlepas dari apapun, aku masih tidak punya siapa-siapa yang dapat menggetarkan esensi Tuhan menciptakan hati dan perasaanku sebagai manusia. Tidak sampai aku benar-benar merasakan rasa kagum dan ingin, bukan rasa penasaran belaka.

Setidaknya, aku tidak dalam kondisi mendamba kematian. Itu kabar baiknya.
Share:

Monday, February 12, 2024

Sapaan yang Terlambat untuk 2024

Hari ini aku menonton Supernatural episode 10 season 14, bercerita tentang usaha Sam dan Castiel membantu Dean muncul dalam pikirannya sendiri yang sudah dikuasai oleh Archangel Michael. Sam dan Castiel berada di dalam pikiran Dean, penuh dengan teriakan, ratapan, tangisan. Kemudian Castiel berujar; "Dean been through a lot. There's so many trauma in his head."

Dan kemudian aku iseng melemparkan pikiranku pada kondisiku sendiri. Trauma. Tentu saja aku tidak semenderita Winchester Brothers, tapi yang namanya trauma, mau besar atau kecil, mau jarang atau sering, tetap adalah sebuah trauma.

Sebenarnya aku sudah menyiapkan satu entri yang sekarang bersarang di draft, paska aku terlempar ke dalam jurang ketika semua skenario yang kuciptakan untuk alter egoku beralih menjadi kenyataan. Aku, dengan segudang niatan untuk solo traveling, meninggalkan traumatisme pekerjaan yang kurang ajar, kemudian mendadak menjadi hancur total oleh banyak berita dan kenyataan yang datang dari usaha kealpaanku.

Aku kurang paham siapa yang salah disini. Apakah aku yang menjunjung tinggi kealpaan selama bertahun-tahun, kemudian malah jatuh tersungkur setelah menemukan banyak kabar dari mereka yang kutinggalkan. Apakah mereka yang hidup dengan normal, tanpa mengetahui bahwa mereka sempat menciptakan satu rasa takutentah sedikit atau banyakyang menarikku pada malam penuh tangisan, khasnya seorang penderita gangguan kejiwaan.

Nathan; memberikan kabar kepada David, dia telah menikah. Sesuai dengan plot yang aku kembangkan, di universe yang aku sengaja ciptakan sejak satu tahun paska kelulusan, secara tanpa sadar. Dengung-dengung soal pernikahan Nathan telah aku tuangkan dalam beberapa plot yang menyakitkan, masih soal melarikan diri, soal kematian, soal perayaan dan soal tangisan.

Satu minggu yang lalubegitu klaimnya, bertepatan dengan tanggal aku memulai solo traveling. Perayaan yang sama soal rasa bahagia, namun berbeda dalam pengukiran luka. Dan David, setelah mendapatkan kabar itu, mendadak menjelma dalam diriku dan melumpuhkanku pada ratapan yang tidak terelakkan. 

Bukan, ini bukan soal cemburu. Ini lebih pada terlalu sempurna gambaran pada alter ego Nathan, beserta betapa perih setiap bumbu yang kutuangkan dalam universe David. Tentu juga soal garis finish yang menjadi salah satu penghambat David untuk melanjutkan hidup. Karena sampai usia yang sama denganku pun, David masih belum mendapatkan garis finish-nya. Meskipun secara nyata, siapa yang hendak menentukan garis finish? 

Jika memang garis finish kehidupan itu ada, apakah itu pada pernikahan atau kematian? Jika Nathan memiliki pernikahan untuk mencapai garis finish-nya, maka David punya seribu satu cara untuk mencapai kematian sebagai garis finish-nya.

Tidak berhenti di sana. Trauma yang muncul di kepalaku juga mengambil panggung kembali ketika aku bertemu dengan Ivan, inisial alter ego yang sempat aku tuliskan dalam cerita. Dia datang tanpa trauma, tersenyum menyambutku. Sama seperti sembilan sampai sepuluh tahun yang lalu. Dia mengorbankan dirinya, demi dapat bersamaku, menemaniku. Dan perlakuan-perlakuannya, yang bahkan sulit bisa aku lakukan setelah sembilan sampai sepuluh tahun berlalu, membuat aku setidaknya kewalahan untuk menjaga kewarasan.

Bagaimana tidak? Aku ingin meninggalkan semuanya di belakang. Namun dia justru muncul, membangkitkan nostalgia pada dosa dan luka yang sempat kulakukan di masa bodohku. Dan dia tidak sama sekali menandainya sebagai penghinaan. Dia sama sekali tidak takut padaku, membenciku. Dia tetap memanusiakanku yang sejak lama kehilangan fungsinya sebagai manusia yang utuh.

Kemudian aku mesti berbohong soal identitas Ivan. Dengan latar belakang yang semakin cemerlang, satu tiket menuju surga yang sudah ia kantongi, membuatku harus berimprovisasi. Aku dapat dengan tegas memposisikan diri pada karangan kisahku kepada para korban. Aku mendetailkan Ivan sebagai kekasih Tuhan. Suci, penuh kebenaran, hal-hal yang seharusnya jauh dari aku yang kerdil dan hina. 

Dan bicara soal kekasih Tuhan, aku semakin kehilangan kewarasan saat masa-masa sulit PTPS berlanjut. Aku mengemban tugas sebagai pengawas, sebuah pengalaman baru yang menuntut ilmu komunikasiku sebagai marketing dilatih lebih dari seharusnya. Di sanalah pada akhirnya aku mendapat kesempatan untuk menemukan sosok lain dari manusia setara Ivan. Bahkan lebih. Hampir 90% kutemukan kesempurnaan di dalam sosoknya.

Otak INFP-ku menjelajah dunia baru, ide-ide, fantasi, bayangan, imajinasi, soal bagaimana seharusnya dia yang berada di kehidupan nyata dengan segala kesempurnaannya bisa aku abadikan. Aku mengklaim sebagai INFP, sebagai salah satu artist, semua hal penting dan tidak pasti mendapatkan tempatnya sendiri untuk diabadikan. Dan dia adalah salah satunya. Kesempurnaan nyata yang bahkan melampaui Nathan dalam universe yang aku ciptakan. 

Sosok yang barangkali hanya bisa kita temukan one in million, layaknya karakter Wattpad yang sangat mustahil terjadi dan ditemui di dunia nyata.

Aku tidak akan mendeskripsikan kesempurnaannya di sini. Karena aku tidak mau dia berakhir seperti sosok yang datang pada bulan Juniyang pribadinya sempat kudengungkan dalam beberapa entri di blog ini. Tuhan menjawab doaku semalam dengan fakta bahwa kesempurnaannya telah menjadi milik seseorang yang beruntung. Dan lagi-lagi egoku mengambil kewarasan, berujar bahwa memiliki pasangan adalah sebuah kelemahan.

Seolah orang lain yang terlalu menginterupsi bisa jadi mengurangi level kesempurnaan. Padahal ini tentang dia, bukan aku yang menjalani. Ego ini terlalu gila. Bisa-bisa aku tetap terperangkap dalam trauma berkepanjangan jika terus begini.

Dan ya. Aku berhenti mengonsumsi antidepresan. Sengaja. Setelah aku tetap menangis di tengah perjalanan solo traveling yang kuanggap berhak mengurangi level depresiku, aku memutuskan untuk tidak kembali bergantung dan percaya pada proses pengobatan psikiater. Meskipun demikian, momen terpuruk yang menjelma dalam beberapa malam itu akan kucoba bagikan dengan dokterku. Semoga. Aku berusaha mengenyampingkan ego dan rasa malu, karena traumaku bisa jadi tidak terlalu penting atau bahkan terdengar lucu bagi sebagian besar orang.

Orang tuaku sudah mulai mendeklarasikan secara halus soal aku semestinya mendapatkan pekerjaan baru. Ketika satu persatu dari mereka sudah mendapatkan garis finish, memikirkan hal-hal beberapa langkah lebih depan. Aku justru terperangkap dalam penyebab trauma yang tercipta sejak 2013. Aku masih di usia 17 tahun, mencoba mencaritahu apa yang sedang terjadi saat itu. Kenapa refleksi traumatisme yang diciptakan olehku di usia 17 tahun terasa menyakitknya di usiaku yang ke-27 tahun. Senyata dan seperih itu, ia masih bertahan. Dan puluhan obat antidepresan tidak sepenuhnya membantu.

Dan demi Tuhan, aku tidak punya lagi kapabilitas untuk berkegiatan seperti bekerja, terikat pada kontrak perusahaan. Sebut saja aku tidak mau lagi mengalami 'trauma' yang sama dari berkerja di perusahaan toxic, sebut saja ini masih menjadi salah satu proses adjustment disorder yang dideklarasikan dokter bulan Oktober tahun lalu. 

Namun 100% aku telah mengikhlaskan apa yang terjadi, menghilangkan semua ego dan kebencian, rasa ingin balas dendam. Dan aku begini, tidak bertenaga untuk kembali produktif sepertinya bukan karena aku nyaman untuk tidak terikat pada apapun. Ini lebih karena aku butuh waktu lebih banyak untu beristirahat. Mati misalnya?

2024 telah berlalu nyaris 2 bulan. Dan ya, masalah kematian masih menjadi agendaku yang terasa cukup menggiurkan.

Share:

Sunday, December 17, 2023

Desember dan Semua Peperangannya

Satu entri kembali kutulis, sama seperti entri-entri sebelumnya. Bedanya, aku yang sekarang adalah aku yang telah mencapai batas tertentu, yang memiliki beberapa pencapaian yang bahkan dulu hanya berada dalam anganku. Aku telah menemukan jalan keluar dan aku berhasil menjadi penyintas dalam labirin yang membosankan. Dan terlepas dari apa yang orang lain asumsikan pada diriku, aku sama sekali tidak butuh lagi validasi semenjak aku mampu membuatnya sendiri dengan sedikit sikap narsistik.

Suasana Baru

Aku adalah pemilik sifat adaptasi yang ulung. Dan aku berharap itu tetap bekerja selayaknya di tempat baru ini. Aku berada di lingkungan baru, dengan perubahan serba mendadak yang sempat menghadapkanku pada pertikaian dengan keluarga. Ibuku, bapakku, adik-adikku. Semua terjadi karena aku adalah sulung yang semestinya punya tanggung jawab untuk membantu. Sedangkan mereka sudah sama-sama tahu, aku yang butuh bantuan ini pun melakukannya serba sendirian.

Terlepas dari itu, tempat ini tidak sebaik ekspektasi yang kubayangkan. Aku mengharap ketenangan, mengharap ada sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan keluhan-keluhan itu, harusnya aku malu karena kedua orang tuaku kini memberiku ruang untuk sendiri. Memperhatikan privasiku dengan tetap mengambil taruhan terbesar untuk membayar lebih. Sedangkan aku masih dalam kondisi absence dari iktikad membantu orang tua.

Aku hanya berharap, apa yang terjadi di penghujung tahun ini adalah pilihan terbaik yang Tuhan berikan kepada kami. Baik bagiku, bagi kedua orang tuaku dan juga adik-adikku.

Kapal Karam

Semenjak keinginanku untuk meninggalkan kian mendekati batas akhir, aku menemukan lebih banyak ketidakserasian sistem yang ada di dalamnya. Aku tidak perlu membahas program, fasilitas, janji manis atau apapun usaha mereka untuk membuat yang lain bertahan. Aku hanya ingin menggarisbawahi bahwa 'kondisi mereka sedang terguncang'. 

Mereka melakukan apapun untuk bertahan. Setelah sekian manusia waras memutuskan untuk melepaskan. Dan barangkali di antara sekian manusia waras itu, aku bukanlah faktor penentu mereka meratapi nasib, merenungi apa kesalahan dalam sistem mereka yang sekiranya perlu diperbaiki? Karena mereka dinaungi oleh ENTJ dengan ego setinggi langit (sama sepertiku), yang tidak mau mengalah dan semua mesti tunduk padanya. Ia pun sanggup mengubah seorang raja menjadi tunduk dan percaya 100% pada ucapannya.

Tapi apakah itu tidak akan mempengaruhi para 'penumpang kapal' yang jumlahnya selalu dielukan? Pasti beberapa dari mereka yang belum sepenuhnya menaruh loyalitas akan terbesit pikiran 'kenapa semua memilih melompat dari kapal ini? Apakah kapal ini berada dalam bahaya?'.

Ini adalah seni bertahan hidup. Seni berperang. Siapa yang tidak memperhatikan, siapa yang tidak menaruh strategi, siapa yang hanya menunggu dalam diam, akan mati perlahan-lahan. Entah mereka mati bersama-sama, atau bahkan sendirian. Dan sebelum kapal itu karam ke dasar lautan, atau setidaknya para penumpang menderita 'kelaparan', lebih baik aku menyusul yang lain untuk membuat keputusan ekstrim yaitu melompat dari kapal dan tenggelam ke dalam lautan. 

The Tug of War

Aku berada dalam sebuah 'tug of war' dengan permainan-permainan ego yang sama tingginya. Koleris sialan itu menantangku, dengan lambat kesadaran yang selama ini mengikatku untuk mengetahui sebenarnya dia adalah serigala berbulu domba. Melalui kata-kata dan nada bicaranya yang terlatih, seperti ia sudah melatihnya selama bertahun-tahun di depan kaca agar bisa meyakinkan semua tindakannya adalah benar.

Sayangnya, Si Koleris ini berhadapan dengan seorang Plegmatis-Melankolis sepertiku. Seseorang yang memiliki kelemahan terlalu peduli dan mudah percaya, namun di lain sisi juga mampu memperhatikan situasi sekitar. Aku mengetahui dia membangun tali tambang yang kokoh dan kuat untuk menantangku. Dengan jabatan, koneksi, kepercayaan, kecerdasan, kekayaan, sudah jelas dialah pemenangnya.

Aku tidak mengaku kalah, sebab semua keputusan dan penjelasan dariku sempat aku hidangkan ke atas meja makannya. Dia sempat terguncang, kok. Dan menyalahgunakan kembali kekuasaannya untuk menjilat. memvalidasi bahwa ialah yang paling harus dipercaya. Bahkan lulusan SMA yang baru bergabung 3 bulan pun tahu tentang kepribadiannya yang salah itu. Kesemena-menaan yang ia gunakan dengan sesukanya, namun tercover dengan baik melalui motivasi-validasi bullshit yang ia dengungkan beberapa kali.

Meskipun aku tetap terlihat kalah dipandang dari sudut mana pun, aku cuma bisa tertawa seperti Joker melihat strategi apa yang ia usahakan bahkan di detik-detik terakhir.

Mengundang narasumber with no spesific background untuk mem-back up posisinya dengan materi berbelit-belit layaknya presentasi seorang mahasiswa Managemen SDM. Mencatut beberapa ayat, meyakinkan khalayak akan kolerasi yang ia bawa pada materinya dengan tema yang diberikan. Membawa rekan karena takut sendirian? Sesekali mengintip pada materi seperti baru dipersiapkan  semalam? Dan apa yang paling mengejutkan, semua terdengar seperti kutbah Jumat yang diisi oleh seorang Pastor. Bagaimana kita bisa mempercayai ucapannya jika dia sendiri pun tidak punya atau tidak menjelaskan pengalaman dan background ilmunya dalam bidang yang dibahas pada materi itu? Apakah itu jenis intervensi? 

Siapa yang mengajarkanku tentang 'politik' pada akhirnya berpolitik juga.Lucu memang.

Pertanyaan berikutnya datang dari pertanyaan dokterku soal miskomunikasi pada suatu kejadian yang menyebabkan salah satu pemicu trigger. Dan untuk menjawabnya, dengan kondisi nothing to lose, aku mengukuhkan kaki untuk menemui pihak-pihak yang berkaitan dengan miskomunikasi itu. Dan bisa tebak apa yang terjadi? Kedua jawaban mereka tidak saling berkolerasi! Wah, menakjubkan sekali.

Ini seolah apa yang aku coba jelaskan dari A-Z, menghabiskan waktu satu jam, malah diplintir dan diambil 10% poinnya saja! Alasannya karena mental issues adalah hal tabu yang dibicarakan, padahal yang sakit sepertinya bukan aku, melainkan dia. Dia pasti punya abnormal personality disorder yang masih belum terlihat karena minim pressure dan backing-annya yang kuat.

Dia pikir dia Zhuge Liang yang cerdas dan bijak? Wkwkwk. Dia cuma pengkhianat kerajaan dengan pemimpin setulus Liu Bei, yang mempercayakan seluruh hati dan pikirannya untuk dimainkan. 

Ah, makanya kerajaan Liu Bei tidak bisa sekuat Cao Cao, kan? Ya karena Liu Bei terlalu baik dan lemah, makanya dikhianati pun dia tidak tahu. Masalahnya yang di samping 'dia' sekarang bukan Zhuge Liang. Dia cuma Koleris yang suka bermain politik. Hehe.

Selamat Beristirahat

Aku mendapat cukup banyak pesan setelah keputusanku melompat dari kapal. Pesan penuh dukungan, pesan dengan doa-doa terbaik, penuh dengan link-link informasi recruitment. Tapi satu pesan yang paling membuatku tersentuh justru datang dari orang konyol yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya!

Selamat beristirahat! Begitu ucapnya. 

Ya, I know you've been there. Terlalu lelah dengan semua sistem dan memilih keputusan untuk terjun bebas juga. Dan aku menyusulmu. Aku menyusul yang lainnya dengan kesalahan terbesar, yaitu kenapa tidak kulakukan lebih awal?

Tentu aku akan beristirahat. Itu alasan utamaku kenapa aku menginginkan ini jauh-jauh hari, bahkan tahun. Jika diminta bertahan lebih lama, aku pun sanggup. Namun pada kenyataannya, melalui diagnosa baru yang kini menjadi tiga, melalui intervensi ibu 'dulu kamu bilang Ibu matre, sekarang baru nyadar, kan?', melalui pengamatan mengapa para ksatria dan jenderal memilih mundur dari barisan perang. Melalui itu semua, kemudian aku tersadar. Kenapa aku mesti memaksa bertahan?

Orang tuaku tidak menuntut materi. Teman-temanku juga mengkhawatirkan kesehatanku. Dokterku mengatakan sebaiknya aku berdamai dulu dan memproses semua diagnosa yang ada. Jadi ya, aku pasti memutuskan istirahat.

Sialnya, keputusan istirahat itu justru dijadikan senjata bahwa aku melakukannya karena sebuah hukum kerajaan yang kulanggar. Seolah impiannya untuk tetap dipercaya raja, berubah destruktif menjadi sebuah fitnah di antara yang lain. Bahkan di hari terakhir sebelum melompat ke laut, dia bersiteguh dengan 'kengeyelannya' dengan membahas soal hukuman-hukuman yang malah membelit kemana-mana. 

Itu sama halnya dengan keputusan paling lucu seolah bertanya masalah hukum pidana ke anak lulusan kedokteran hewan. Hahaha. What did you expect? Membuatku tersinggung? Hey, bahkan crush-ku tidak merespons postingan video lucu di DM Instagram jauh lebih melukai harga diriku ketimbang pertanyaan 'tipis-tipis'mu itu.

............................................................................................................................

Yah, intinya malam ini adalah pertama kali aku menulis entri di kamar baruku, dengan suasana baru. Tempat tinggal baru dan titel baruku sebagai jobless. Besok hari Senin pertamaku tanpa perlu bangun pagi-pagi lagi untuk repot berangkat ke kantor. 

Besok akan kupikirkan teks-teks sederhana (yang nyatanya tidak akan berguna) untuk kusampaikan di grup sebagai salam perpisahan. Terima kasih kapal yang sudah sejauh ini berlayar bersamaku! Aku mendoakan yang terbaik bagi awak dan penumpang kapal. Tapi tidak dengan navigatornya.

Bukan soal dendam, kalau aku dendam mah sudah kublock dia. Aku cuma sudah tahu, navigasinya salah, tapi aku terlalu takut untuk memberitahu yang lainnya. Biar mereka sendiri yang memutuskan ya, sejauh apa mereka akan berlayar bersama.

Semoga tidak banyak badai biar ngga beneran karam!

Dah, aku mau istirahat! Sampai jumpa di tahun berikutnya!

Share:

Monday, November 6, 2023

Obat, Efek Samping, Egoisme dan Mati Rasa

Hai, ini aku yang sebentar lagi berusia 27 tahun. Dari awal aku membuat blog ini, menulis banyak entri untuk menyelesaikan apa yang ada di kepala, rasanya baru kemarin aku melewatinya. Aku membaca kembali entri-entri lama, beberapa kali kusapa diriku yang berusia 23 tahun, 24 tahun, 25 tahun, 26 tahun dan barangkali (jika masih hidup) aku akan menyapa diriku di usia 27 tahun.

Waktu berjalan teramat cepat. Dan ya, tidak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi nanti saat usiaku genap 27 tahun. Bahkan di usiaku yang ke-26 saja ada banyak hal yang terjadi. Aku mulai kehilangan minat pada apapun. Berteman, menjalin hubungan. Apapun. 

Aku sempat mencoba memberi kesempatan pada satu dua orang (atau lebih) untuk mendekati. Melihat seberapa kuat tekad mereka merobohkan dinding yang kubangun sejak lama. Dan tidak ada satu pun yang berhasil mengambil atensiku. Mereka terlalu berada di bawahku. Lemah. Tidak mampu menyamai kapasitas. Bahkan ada satu orang yang menjual kisah-kisah soal keluarganya, masa sekolahnya, mendomplang dirinya sebagai Si Pemurah Hati yang meminjamkan uang ke teman-teman yang tidak punya. Nyatanya? Dia pengemis yang berkoar akan mengembalikan uangku, namun sampai sekarang ia hilang entah kemana.

Aku berjanji akan mengejarnya. Bukan soal uang. Tapi soal seberapa berani dia memanfaatkan belas kasihku untuk jiwa pengemisnya. Akan kubuat dia membayar harga yang ia tanamkan pada harga diriku, egoku, rasa tinggiku yang sejak awal tidak pernah tersentuh sedikit pun dengan segala aspek soal kepribadiannya. Bahkan fisiknya. Aku hanya merasa mampu memberinya uang, lebih mampu menjalani semua secara mandiri meskipun dia harus bersusah payah menyodorkan satu atau dua gelas kopi hanya untuk mendapatkan waktu dan atensiku. Dia gagal. Dia hanya sejumput sampah yang menjual nama keluarganya untuk dikasihani.

Dia memilih berurusan dengan orang yang salah. Orang dengan egoisme setinggi langit.

Lalu soal pekerjaan. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Aku sudah membicarakannya lebih dari yang aku mampu. Kepada ibuku, kepada dokterku, kepada teman-temanku, kepada adikku. Bahkan kepada pihak-pihak perusahaan yang semestinya tahu. Dan mereka yang secara 'tidak sengaja' tahu. 

Ini bukan soal meninggalkan atau melepaskan. Ini lebih kompleks daripada itu. Aku tipikal petarung dengan ego yang tinggi. Aku tidak mau dan tidak akan pernah membiarkan orang lain mengambil kelemahanku. Jika aku memang harus dipaksa untuk bertahan, kuyakini sepenuh hati, aku akan bertahan sampai kapan pun. Aku bahkan tidak mempan dilukai berkali-kali oleh siapapun dengan cara apapun.

Namun ini soal penyakit. Dan obat-obatan yang aku minum setiap hari. Ini soal masa lalu dan trauma yang masih belum terdeteksi sampai sekarang. Semuanya mendadak mengekangku dengan tali yang kuat dan tajam. Menarik diriku untuk kehilangan kapabilitas dalam berkompetensi. Aku bukan takut gagal. Aku hanya tidak bisa menjamin masa depanku akan baik-baik saja di pekerjaan jika penyakit ini masih bersemayam dalam diriku.

Aku menuding dan menyalahkan siapapun yang tidak bersalah. Aku ketakutan hanya pada suara notifikasi dan pandangan orang. Aku merasa dibuang dan dikucilkan ketika aku tidak mendengar namaku dipanggil. Aku merasa diremehkan ketika seseorang meminta orang lain membantuku. Aku, dengan egoisme ini tidak akan pernah menang melawan semua kecemasan. Meskipun puluhan butir obat telah kutenggak sejauh ini.

Aku membenci hampir setiap orang, dengan perlakuan-perlakuan sederhana mereka. Aku membuat asumsi buruk dalam kepala, menyalahkan mereka dan terus saja ingin menghindarkan mereka dari rasa marah yang mendadak muncul dalam diriku. 

Aku mengabaikan soal bunuh diri akhir-akhir ini. Menukarnya dengan ide menyakiti orang lain. Bagaimana rasanya ketika aku bisa membanting sesuatu, berteriak dengan lantang hingga lega, menusuk seseorang hingga ia kesakitan, melihat darah membanjiri tanganku. Bukan, aku bukan begini karena terlalu banyak menonton film atau drama kekerasan. Aku begini karena ingin merasakan barangkali dibandingkan obat SSRI yang diresepkan padaku, akan jauh lebih melegakan apabila aku berhasil melakukan salah satu di antara opsi yang kupikirkan.

Joker. Ia yang murung dan ketakutan mendadak bahagia dan senang setelah membunuh orang, bukan? Aku penasaran perasaan itu. Dan berpikiran apakah tinggal di penjara atau rumah sakit jiwa akan lebih baik ketimbang melihat dunia luar yang dipenuhi oleh tuntutan dan ekspektasi?

Dibandingkan menjadi serotonin booster, obat yang kuminum malah terkesan seperti pembunuh rasa takutku. Beberapa minggu yang lalu aku menonton film horor di biosko bersama teman-teman. Entah, meskipun musiknya terdengar menyeramkan, aku menganggap efek seram yang ditimbulkan dalam bentuk hantu dan makhluk seram di film itu tidak cukup berhasil membuatku trauma.

Aku tetap mandi seperti biasa, makan seperti biasa, pulang sendiri seperti biasa, tidur sendiri di tempat gelap seperti biasa, beribadah sendirian seperti biasa. Hal-hal yang 180 derajat berbeda denganku yang bahkan dulu, melihat satu film pun bisa berminggu-minggu menyisakan trauma.

Ini bukan kali pertama, beberapa film horor lain, dengan atau tanpa adegan gore penuh darah pun tidak sama sekali membuatku jijik atau takut. Bisa dibilang dalam kurun waktu kurang dari setengah tahun ini, aku sudah beberapa kali melihat film horor dan tidak merasakan apapun.

Apa yang lebih parah daripada ini adalah ketika aku dengan lantang dan lancar menjelaskan apa yang tidak kusuka dan menggangguku dari beberapa orang. Baik itu orang yang kukenal maupun yang tidak kukenal. Aku seolah melakukannya secara sadar dan tidak takut pada apapun yang terjadi setelahnya. Aku 'memarahi' sahabatku sendiri karena lebih memilih orang lain. Aku menyalahkan orang yang kukenal karena terlalu banyak mengeluh soal kehidupannya di saat hidup orang lain pun sama sulitnya. Aku dengan tegas menolak ajakan orang-orang yang kuanggap tidak penting dan hanya membuang waktu.

Aku melakukannya seolah aku siap kehilangan apapun. Dan hidup sendirian.

Siapa yang kupunya di dunia ini? Tidak ada teman yang benar-benar membuatku tenang dan nyaman. Orang tua pun sejauh mereka dapat memahami kondisi dan pilihanku saja rasanya sudah cukup. Aku tidak mendapatkan cukup ruang atau dukungan untuk menyadari bahwa sekeras apa egoku, aku tetap membutuhkan bantuan. Adik-adikku yang jauh lebih hebat dariku, kehidupan mereka yang seharusnya lebih baik dan berhasil. Atasan yang punya banyak fokus sehingga mengabaikan sosok kerdil tidak punya potensi sepertiku. Dokter yang punya puluhan pasien, dengan cerita perjuangan yang berbeda, menunggu bantuan yang sama darinya.

Siapa yang kupunya selain Tuhan? Meskipun yang menderita dan membutuhkan pertolongan bukan hanya aku, Tuhan tetap memperhatikanku dengan baik.

"Kalau punya masalah, perbanyak ibadah. Dekatkan diri sama Tuhan. Bukan hanya bergantung sama obat, nanti sulit lepasnya." begitu yang ibuku bilang beberapa hari setelah aku menyerahkan surat diagnosa ketigaku.

Aku memutuskan melepaskan pekerjaan pun sebenarnya adalah salah satu hasil doa-doaku dengan Tuhan. Aku masih hidup dan diberi kesempatan untuk mendapatkan bantuan profesional pun adalah bantuan yang Tuhan salurkan lewat manusia. Tuhan selalu ada untukku. Aku tahu itu.

Dan soal obat-obatan, aku yakin itu adalah salah satu bentuk ikhtiar yang juga Tuhan inginkan untuk kulakukan. Apa yang kutahu sejauh ini, obat yang kuminum hanya menjaga kestabilan mood-ku. Membuat aku yang sakit menjadi tidak terlihat sakit. Membuat aku yang seharusnya lemas tidak berdaya menjadi bersemangat dan bergairah dalam melakukan aktivitas. Namun kecemasan itu masih belum menghilang dari sana. Masih terus ada dan bisa muncul kapan pun.

Di artikel terakhir yang kutulis di Medium, aku mengklaim diriku sebagai penjahat. Ya, karena rasa cemasku ini sewaktu-waktu bisa berubah menjadi tindakan melukai siapapun. Apakah teman yang saat itu duduk di sebelahku? Ataukah atasan yang sudah melupakan bahwa apresiasi dan validasi adalah nilai yang tidak bisa terlupakan? Atau bahkan orang lain yang kebetulan lewat meskipun aku tidak mengenalinya?

Apakah di usiaku ke 27 tahun nanti aku akan mendapatkan pekerjaan baru dengan penghasilan yang lebih baik dan beban kerja yang lebih manusiawi? Atau aku justru bertambah parah, terpuruk, atau mungkin masuk rumah sakit jiwa? Penjara? Karena memikirkan serius untuk menyakiti orang akibat mati rasa yang berlebihan ini?

Persetan soal pertemanan dan percintaan. Aku bahkan bisa melukai siapapun hanya dengan sebuah perlakuan dan perkataan. Dan mereka pun bisa melukaiku tanpa mereka sadari hanya karena reaksi berlebihan dari rasa cemasku.

Saat aku membahas masalah penyakit mental ini di meja managerku, ia tampak antusias. Ini kasus baru. Nama-nama diagnosa yang kusebutkan membuat otak pintarnya menerka, apakah hal-hal yang terlihat abstrak (karena penyakit mental tidak terlihat secara fisik) ini sungguhan ada dan bagaimana tanda-tandanya. Sebagai orang yang sudah mengalami sejak tahun 2019, aku fasih menjelaskan. Terlepas apakah ia percaya, mempelajari, atau hanya mendengarkan.

Aku ingin terus beraktifitas. Bercengkerama dengan teman untuk memupuskan rasa takut dan efek samping obat dari semua penyakitku. Namun di lain sisi aku takut menyakiti mereka. Membuat orang-orang tidak bersalah juga terdampak dari penyakitku, entah itu sengaja atau tidak. Aku memutuskan menarik diri, melepaskan semua trigger terutama pada tuntutan pekerjaan yang terdengar kadang tidak masuk akal dan melelahkan. Semua bisa kutuntaskan andai saja aku tidak menjadi lebih parah akibat penyakit ini. Andai saja aku masih berfungsi secara normal seperti aku di sekolah dulu, berteman, prestasi, kegiatan. Semua berjalan teramat normal dan menyenangkan.

Mati rasa padaku menghadapkanku pada dua pilihan. Mati sendiri atau membiarkan orang lain mati. Dan aku memilih opsi pertama. Biarkan aku mati sendirian. Terpuruk sendirian.

Namun soal egoisme, aku akan tetap mempertahankannya sampai kapan pun. Akan kubuat siapapun yang melukai egoku membayar harga yang pantas. Balas dendam tidak terdengar buruk. Balas dendam tidak melulu dengan melakukan hal yang sama, 'kan? 

Dan soal pengganti. Meskipun kapabilitas mereka terlihat mengesankan, aku tahu, dalam aspek daya tahan, aku tidak bisa diremehkan. Aku bertahan sejauh ini dengan tekanan penyakit gila yang mengambil separuh fungsi dan kewarasanku, aku cukup mampu berjalan jauh. Aku menyerah karena bukan aku tidak mampu, aku hanya mengambil keputusan untuk menghindari hal-hal lebih buruk terjadi. Aku ingin mengambil jeda dari segala realita dan sumber trigger yang saat ini masih hidup dengan tawanya, tanpa tahu kenyataan bahwa ia kehilangan beberapa hal karena sifat dan karakternya sendiri.

Meskipun nanti aku menjauh, akan aku pastikan untuk tetap dekat. Bukan sebagai bukti terima kasih meskipun itu yang seharusnya aku lakukan. Namun untuk melihat banyak pertimbangan dan keputusan yang aku pertaruhkan paska 'mereka' mendahuluiku adalah benar. Aku akan melihat, apakah ada orang lain yang memiliki kapasitas pikiran kritis yang sama? Atau mereka akan tetap menjadi aku yang bodoh selama bertahun-tahun, dulu. Sebelum terapi obat panjang ini aku mulai kembali.

Setidaknya jika aku harus mati, akan kupastikan aku tidak akan mati karena bunuh diri.


Share:

Saturday, October 7, 2023

Aku Sudah Tahu Jalan Keluar dan Aku Sedang Berjalan Ke Arahnya

Aku sempat merenung tentang egoku yang tinggi untuk sekadar merespons telepon atau chat dari orang lain yang tidak kuanggap perlu. Dulu saat rasanya untuk mendapat satu notifikasi saja tanganku bergetar ketakutan. Mendeteksi adanya bahaya yang barangkali terjadi dan mengancam keberadaanku. Dan kini kurasa karmanya sedang berjalan padaku. 

Sebab aku tengah dihadapkan pada beberapa orang yang sulit dihubungi karena mereka punya 'sesuatu' yang belum selesai kepadaku. Dan semuanya berkaitan dengan uang. Iya, uang. Mereka ada yang berusaha meskipun usahanya terasa menjengkelkan. Ada juga yang berjanji, tapi belum ditepati. Sampai ada yang tidak merespons sama sekali, padahal dulu paling rajin me-reply story. 

Bodo amat soal uang. Apa yang diambil akan dikembalikan, kan? Cuma kita saja yang terkadang tidak tahu bagaimana caranya.

Dibanding itu ada sesuatu yang terjadi lebih mengambil atensiku pada tahun 2023 ini. Dan barangkali peristiwa ini akan menjadi salah satu hal yang bakal kuingat sampai beberapa tahun ke depan. Ya, peristiwa di tahun 2023 yang cukup mengambil fokus hidupku, melebihi fakta bahwa pada akhirnya aku pergi ke konser Dewa 19.

Peristiwa itu kuberi nama sebagai 'ketidakadilan'. Awalnya, aku merasa aku yang berlebihan soal sebutan ini. Mereka adalah satu komposisi utuh yang bekerja sesuai sistem. Dan aku adalah system failure-nya, sehingga harusnya aku yang sadar diri. Namun, hari ini setelah aku mendapat satu validasi dari dokterku, aku merasa 'ketidakadilan' itu memang terjadi padaku.

Apresiasi yang Hilang Sejak 2021

Aku ingat saat itu, aku mengendarai motor sendiri. Mengantar diriku pada satu mall yang tidak terlalu ramai. Aku membawa kakiku menaiki lantai tiga menggunakan eskalator. Selama prosesi itu, aku baru selesai menyeka air mataku. Aku mengirim chat ke temanku, berharap dia ada di sana bersamaku untuk setidaknya menemani. Namun kala itu dia sibuk kerja dan atensinya soal kondisi hati orang lain agaknya kurang bagus. Dan kemudian aku berakhir menghabiskan satu porsi ramen sendirian. Makan di tempat umum—saat itu Japanese Food, mencoba mengabaikan orang lain yang datang berkelompok yang sempat menatapku. Seolah tempat yang kududuki sendirian itu mestinya dapat mereka duduki secara berkelompok.

Aku membawa diriku ke sana karena peristiwa besar yang cukup mengambil tenaga, pikiran dan waktuku—pada akhirnya terabaikan begitu saja. Tanpa ucapan terima kasih, apalagi sampai apresiasi. Sebut saja aku pendendam. Ya, aku cuma mendendam pada orang-orang tertentu yang agaknya punya kepribadian yang bersinggungan denganku. Dan orang itu, tanpa respek apapun—memang sudah sejak lama mengambil separuh kewarasanku. Aku menandai hari itu sebagai kali pertamanya aku menangis karenanya. 

Permulaan dari minim apresiasi lain yang kemudian berjalan sepanjang tahun, bahkan hingga saat ini ketika aku mengetikkan kembali satu entri setelah sekian lama.

Bahkan semenjak itu, setiap kali aku dilibatkan dalam proses 'pertanggung jawaban', aku merasa ketakutan setengah mati. Hal itu terjadi setiap bulan. Sampai sakit tengkuk, hilang nafsu makan, migrain, perasaan tidak tenang dan bahkan sampai susah tidur. Separah itu? Ya, parah. Tapi aku masih mengusahakan untuk bertahan hidup.

Motivasi adalah Pembodohan

Apakah kamu adalah tipe orang yang mudah tersentuh saat mendengar motivasi? Aku demikian. Aku tipikal yang mudah berapi-api saat diberi janji-janji masa depan, pengalaman masa lalu yang menginspirasi, ajakan dan rayuan untuk terus bersama. Aku menganggap aku sedang berada di rumah. Menemukan shelter hangat yang bisa menghalauku dari panas dan dingin. Namun rumah tidak selamanya rumah.

Aku terlalu nyaman dalam recharger motivasi yang secara terstruktur ditanamkan secara berkala. Saat itu aku seperti sama dengan para korban JMS (Jesus Morning Star)—kultus sesat yang sampai saat ini belum jelas tindaklanjutnya. Mirip orang bodoh yang hanya iya iya saja, tidak punya pikiran jernih soal pertimbangan lain. Atau barangkali aku memang orang baik yang selalu melihat seseorang atau suatu hal dari sisi positifnya saja. Sisi yang hanya berdampak baik padaku, sehingga aku abai pada fakta bahwa setengah diri dan kewarasanku perlahan telah tergerogoti.

Dan butuh lebih dari sekian tahun, aku akhirnya sadar bahwa aku sudah tidak utuh. Ada banyak emosi terpendam yang menumpuk. Ada banyak 'gwenchana' yang terpatri dalam hati. Ada masa depan lain yang aku potensi korbankan.

Motivasi adalah pembodohan. Titik. Janji manis mirip kampanye itu seharusnya tidak bekerja seperti petinggi JMS mencari jemaatnya. Butuh satu peristiwa besar sampai pada akhirnya aku tertampar. Selama ini aku hanya jadi salah satu senjata tumpul yang bahan bakarnya diisi dengan kuantitas apa adanya. 

Di Fisika disebutkan 'energi yang masuk harus sesuai dengan energi yang keluar'. Tapi ini dengan minim energi yang diberikan, yang diharapkan energi keluarnya harus semaksimal mungkin. Lebih baik mati, 'kan? 

Setelah aku duduk dengan A, dengan B, dengan C, dengan D, harus sampai abjad mana lagi yang duduk denganku, aku baru dibuat sadar, ada banyak sistem yang salah di sana. Sistem yang membuat mereka menetralkan soal energi tadi. Sehingga fokusnya bukan lagi ke soal pengembangan, melainkan soal kembali mengulang. 

Persetan motivasi. Kupingku kebal.

Banyak Validasi yang Menampar

Peristiwa itu datang bagai Tsunami. Namun beruntung aku seperti negara Jepang yang punya alat pendeteksi terbaik. Dan ya, pendeteksiku berfungsi bagus bahkan sebelum Tsunami itu sungguhan datang meluluh lantahkan kondisi kewarasanku. Dan pada akhirnya, dibandingkan menangisi kondisiku sendiri, aku justru dibuat nangis oleh kondisi mereka yang lebih tidak diperlakukan secara adil. Mengapa? Sebab aku masih punya perilaku defensif, masih punya beberapa tempat pelarian. Sedangkan mereka yang diperlakukan tidak adil adalah orang-orang dalam kondisi terlemah yang tidak diuntungkan. Ini ibarat aparat Indonesia dengan pengemis jalanan. 

Peristiwa itu seperti pintu gerbang untuk menyadari posisiku. Aku yang pernah memberi kesempatan 30:70 pada keinginan untuk bertahan:melepaskan, pada akhirnya memberikan hampir 80% keyakinanku untuk memerdekakan angka 70-nya. Kebiasaan lama yang pernah kuelukan kini berubah keruh oleh satu atau dua ego dalam diri orang-orang. Sama seperti egoku, ego si A, si B, si C yang kemudian berpikir untuk membuat angka 100 pada opsi melepaskan.

Perbincangan lima jam di dua tempat itu membuka mataku pada fakta tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Atensiku tergerus oleh perilaku kekanakan dari orang-orang yang pernah mengisap energiku dan membuang sepahku ketika sarinya sudah habis. They're like vampire, menunggu orang sampai anemia dulu baru mencari mangsa lain. Dan mungkin anemiaku sudah sampai ditahap tidak bisa ditransfusi darah lagi. Hahaha. Itu validasi pertama.

Kedua, keisenganku untuk menonton kembali film lama yang pernah membuatku menangis karena relate, ternyata memberikan satu dialog yang seperti sebuah validasi. 

"Mana yang lebih mudah? Melepaskan atau mati?" tanya salah satu tokoh utamanyaseorang penyelamat di film itu.

Pertanyaan itu seperti langsung ditujukan kepadaku. Karena bagaimana pun dalam beberapa kondisi aku juga pernah merasakan ingin mati. Benar-benar ingin mati. Namun di lain sisi, sama halnya dengan pemeran utama di film itu, aku juga merasa lega karena masih bisa hidup. Aneh, kan?

Validasi ketiga, datang hari ini. Akan kubahas di sub-judul berikutnya.

Aku dan Obat-Obatan

Hari ini aku bertemu dokterku lagi. Aku menyempatkan diri untuk mandi, berpakaian yang proper. Menyiapkan hati dan pikiran. Sebenarnya janji temu dilakukan seminggu yang lalu, namun karena aku belum siap, aku reschedule satu minggu setelahnya. Kukira apa yang akan kubawa ke meja konsultasi adalah perasaan sesaat yang akan berangsur menghilang setelah beberapa hari. Ternyata, setelah satu minggu berlalu, setelah aku utarakan juga ke dua orang temanku, rasanya masih sama merah dan perihnya saat aku utarakan kembali ke dokter.

Aku bahkan menangis.



"Kamu dalam proses adaptasi. Dan biasanya adaptasi butuh waktu 3 bulan." ujarnya setelah mendengar ceritaku yang sudah kusiapkan selama berhari-hari dan nyatanya yang keluar dari mulutku jauh berbeda dari apa yang kusiapkan. 

Aku dapat memahami 3 bulan juga adalah janji yang diserukan kala itu. Dan juga janji yang diam-diam kudengungkan dalam hatiku sendiri. Aku tidak akan mengorbankan egoku untuk cepat-cepat mengambil keputusan. Dan 3 bulan adalah cukup untuk semua pertimbangan.

Namun, dengan respons dari dua temanku yang juga aku ceritakan perasaan yang sama, mereka merespons rasa ketakutanku dengan potensi susahnya mencari hal baru. Respons itu yang kemudian membuatku berpikir dan tertahan. Namun validasi yang muncul dari dokter kemudian sedikit banyak mengingatkanku pada film saat itusemalam sebelum aku bertemu dengannya, soal pilihan mana yang lebih sulit dan mana yang lebih baik.

Beliau bertanya padaku, "Apa prioritasmu sekarang? Materi atau kesehatan mentalmu?"

Aku merasa tertampar dengan pertanyaan itu. Kembali teringat menjalani satu hari saja seperti berada di neraka selama sekian tahun. Aku mendeteksi perasaan ini adalah overcome yang salah seperti yang aku lakukan saat kuliah dulu. 

Namun lebih dari itu, validasi yang paling menamparku adalah tidak adanya komunikasi.

Aku tidak bertanya apa alasan di balik menu 'ketidakadilan' yang tersaji di meja kala itu. Serta tidak adanya penjelasan atau konfirmasi lebih lanjut soal 'ketidakadilan' bahkan dari posisi utama pun. Sumpah! Jika dipikir, dia hanya bersembunyi di balik tirai, mencuci bersih tangannya dari kegiatan-kegiatan berisiko yang cukup mempertaruhkan establish aset terbesarnya. Dia terlalu mengandalkan pion lamanya yang menurutku juga sudah kehilangan fungsi.

Dia tidak berusaha bertemu denganku. Tidak pernah memanggil siapapun untuk sebuah penjelasan. Dia hanya duduk di singgasana, menunggu kemenangan perang yang ia dambakan.

Memang, posisi secure-nya membuat dia dapat melakukan apapun. Namun sesuai dari pertimbangan dokterku yang sejatinya tahu bahwa komunikasi adalah kunci kondisi relasi yang baik, hal ini adalah nol besar. Posisinya bukan alasan untuk tidak memberi penjelasan. Namun dia tidak melakukannya sama sekali. Bahkan para pion-pionnya pun seolah mengabaikan dan lupa bahwa ada satu posisi yang juga mesti mereka perhatikan.

Dan setelah memberikan pernyataan validasi itu, dokter menyarankan aku untuk mengandalkan obat selama sekian bulan. Yang kemudian baru kuketahui bahwa setiap sesi membawa satu diagnosa berbeda, satu resep obat yang berbeda. Kukira aku bisa mendapatkan obat kapanpun hanya ketika aku merasa payah. Namun ternyata, aku harus 'bergantung' padanya.

Aku lupa obat-obat dengan berbagai nama dan dosis yang diresepkan padaku sebenarnya adalah sejenis 'narkotika'. Membuat lupa, berdampak ketergantunganmeskipun tidak seberbahaya itu.

"Kamu siap minum obat?" dokter bertanya padaku, yang aku asumsikan bahwa aku akan mengonsumsi obat untuk waktu yang lama. Dan pasti itu akan mempengaruhi berat badanku, punya efek samping pada fungsi-fungsi lain dalam kehidupanku.

Apakah aku siap?

Siap tidak siap, dokter sudah menyuratkan surat pengantar diagnosa sementara. Meresepkan obat yang dosisnya lebih rendah untuk beberapa hari ke depan. Dan itu artinya, sebelum dosis obatnya habis, aku harus menyelesaikan tugas jurnaling dan merealisasikan perjalanan panjang konsultasi dengan menebus surat pengantar itu ke rumah sakit.

Semuanya kulakukan sendiri! Terima kasih para stressor yang setiap hari muncul dalam radar dan kewarasanku. Hanya dengan kehadiran kalian, aku bisa merasa terancam! Semoga obatnya membantu!



Share: