Thursday, July 4, 2024

Hidup Ini Aneh, Kapal Ini Lebih Aneh Lagi

 Apa kabar 2024?

Enam bulan sudah berlalu, sejak terakhir kali aku menghabiskan waktu terlepas dari rentetan rasa takut yang tidak beralasan. Enam bulan berlalu dari terakhir kali aku mulai beranikan diri mengabaikan keharusan mendatangi meja psikiatri. Dan enam bulan berlalu dari perasaan sedikit tenang, rasa hidup nyaris secara utuh sebagai manusia.

Nyatanya, di usia menginjak 27 aku tidak lagi menemukan esensi kemanusiaan yang bahkan sedikit saja bisa membuatku waras. Aku nyaris gila dengan perasaan kosong yang menguasai diriku. Hampa. Hitam. Gelap. Pekat. Aku tidak punya perasaan apapun selain rasa takut pada apa yang akan terjadi. Pada segala sesuatunya yang bahkan belum terjadi.

Pertama, sahabatku pergi. Aku tidak sedih atau merasa kehilangan. Ya sudah, mungkin ini salah satu kesempatan bagi kami masing-masing. Dia dengan karir barunya. Aku dengan tantangan baruku. Usia kami sama, jalan cerita kehidupan kami pun nyaris sama. Apapun tentang kami selalu bersinggungan. Dan entah, seharusnya aku merasa kehilangan. Tapi sama sekali tidak ada apapun yang bisa membuatku merasakan perasaan tersebut. Kesepian. Kesedihan. Kehilangan. Sudah lama terhapus dari kamusku. Termasuk dalam kasus kepergiannya.

Kedua, aku tidak tahu apa yang diekspektasikan orang lain padaku? Aku jelas tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Dan tidak bisa tegas pada keinginanku sendiri. Aku terlalu mencari aman dengan mengikuti alur. Ketika alurnya memaksaku untuk terjun bebas pada tanggung jawab yang lebih mengerikan, dari sisi pikiranku yang mana aku sampai mengiyakan? Rasanya bukan aku yang menjawabnya. Aku berhadapan pada deskripsi jelas dari nominal tinggi yang ditawarkan, yaitu pada tanggung jawab dan pressure berkali kali lipat.

Ini topik utamanya. 

Mungkin benar, ada harga ada kualitas. Ada hak ada kewajiban. Dan tentu apa yang terjadi padaku bukan hal-hal manis yang sempat aku ekspektasikan di awal. Ini lebih dari apa yang pernah aku bayangkan. Lebih buruk maksudnya. Dan biarlah perkataan soal manusia tidak bisa pernah puas itu benar adanya.

Mengapa? Karena ketika aku mengharap yang lebih muda, berekspektasi lebih dapat dimengerti, lebih banyak ide yang selaras, lebih dapat dibantu dan diayomi, nyatanya tidak semua yang muda dapat menutup ekspektasi itu. Culture ya. Personality. Ini benar-benar menjadi faktor utama aku mendapatkan literal culture shock.

Diayomi? Tidak ada posisi yang bisa memenuhi pengharapanku itu. Ini sesederhana perintah dan tanggung jawab. Bukan saran dan pelaksanaan. Mendadak aku rindu pada orang yang dulu aku maki karena egonya. Setidaknya dia bukan hanya memerintah, namun juga mencarikan solusi dan jalan keluar.

Aku yang selama bertahun-tahun dibuai pada kondisi demikian, saat ini benar-benar harus berdiri di kaki sendiri. Mengikat tali sepatu, dan berlari sekencangnya untuk dapat menyamai semua hal yang berkelibat dengan cepat di depan mataku. Masalahnya, tidak ada 'pembelajaran'. Aku perlu sendiri mengamati dan meniru dengan cepat. Sialnya, banyak hal baru di luar kuasaku yang datang bagai air bah. Menakutkan.

Fisikku mungkin tampak baik. Namun mentalku kembali berantakan. Pasalnya, aku tidak lagi mencari bantuan pada antidepresan. Sekalinya aku takut dan cemas, semua mendadak melelahkan. Aku ketakutan berlebihan. Padahal sejatinya hal hal tidak akan semenakutkan itu.

Aku takut ide-ide yang pernah dipuji oleh orang itu (yang kumaki habis-habisan sebelumnya) terasa sia-sia sekarang. Aku ingin bergerak maju, dan terus saja dipukul mundur ke belakang. Semua ideku terbuang seolah percuma. Seperti otak ini ada baiknya diremukkan saja bersama tumpukan mobil bekas. 

Aku takut hal-hal unfamiliar seperti yang tidak berkaitan dengan passion-ku malah menyulitkan aku ke depan. Mendadak mimpi-mimpi soal masa depan dan karir yang kubangun secara kurang ajar di kelas gratis RevoU sirna terhapus tak berguna. Seperti... untuk apa kamu berpikir jauh ke depan? Berangan karirku setidaknya akan cemerlang? Kehidupanku akan sempurna? 

Kecemasan itu malah masih bertengger di sana. Melemahkanku. 

Dan ya, aku berada di suasana mencekam yang apapun serba tertutup dan tidak transparan. 

Persis seperti di labirin yang membatasi ruang gerakku. Belum bertindak pun aku keburu takut. Takut pada kegagalan yang bahkan tidak bepotensi terjadi jika kepalaku menghadap ke depan dan pundakku tegak. Aku keburu loyo. Keburu lesu. Usia yang nyaris sama tidak bisa menjamin aku mendapatkan kesempatan untuk membagi pola pikir yang sama.

Aku tertekan pada batasan ini, batasan itu. Kecemasanku menjadi-jadi.

Barangkali aku mesti ke psikiater lagi.

Dan ya, mau tidak mau aku harus kembali menghidupkan dunia alter egoku. Aku perlu melarikan diri barang sejenak, setiap harinya dari dunia fana menyebalkan ini, untuk dapat menyambut David, Nathan dan semua karakter lain dari dunia sebelah. 

Aku harus secara cerdas dan kreatif membangkitkan mereka kembali dengan bentuk kehidupan lain yang barangkali masih tetap sama menyesakkannya.

Dan selain Dokter Widya, aku semestinya perlu mengadu pada Tuhan. Ini keterlaluan. Rasa takut dan cemas ini sungguh keterlaluan. Aku menghadapi semuanya serba sendirian. Aku bekerja dan gajiku tidak membuatku bahagia. Aku beraktivitas dan saat tidur aku tidak merasakan esensi beristirahat. Aku tidak makan dan aku tidak sedikit pun merasa kelaparan. Aku menjabat kesempatan baru dan sama sekali tidak setitik pun membuatku merasa bangga.

Aku mati rasa. Mati. Yang benar-benar sungguhan mati. Aku ini hanya mayat hidup yang kebetulan masih punya cadangan nyawa tidak berfungsi. Perasaanku tidak pernah bahagia, sedih, kecewa, puas atau illfeel. Aku hanya punya rasa cemas dan takut.

Aku tidak tahu fungsi hidupku apa. Padahal aku tidak clubbing, tidak merokok atau minum, tidak narkoba, tidak seks bebas, tidak pacaran, tidak hura-hura. Hidupku normal dan stagnan. Tapi tetap, aku tidak punya tujuan hidup.

Mati pun saat ini kuyakini bukan opsi semenggoda sebelumnya. Tapi kehidupanku sudah tidak bisa dimaknai lagi.

Satu hal pasti yang mendeteksi kenapa mati rasaku sudah sampai level tertinggi adalah ketika aku tidak terlalu peduli orang lain menilaiku. Aku lah yang menilai diriku sendiri. Dan aku terlalu malas berfungsi menjadi manusia yang mau tidak mau harus terlibat dengan penilaian orang lain terhadapku.

Seperti sekarang. Di posisiku yang sekarang. Aku yakin banyak yang menilaiku. Aku tidak peduli dengan penilaian mereka sejujurnya. Aku lebih peduli pada diriku sendiri, seperti kemampuan adaptasi yang selama ini selalu kuelukan akan tetap sesuai mengikuti lingkungan sekitarku. Namun sepertinya kemampuan itu perlahan sirna di lingkungan dan culture yang sekarang.

Bagaimana ya, rasanya aku hanya seperti 'menebeng' di rumah orang. Cuma menumpang di kapal milik orang asing yang secara waktu dan kebudayaan jauh berbeda denganku. Kapan saja aku bisa melompat atau ditendang dari kapal ini. Selama arahku tidak sama atau keinginanku sedikit berbeda.

Menegerikan. Sungguh. Aku ketakutan setengah mati.




Share:

Monday, March 25, 2024

Sebuah Halaman yang Kutujukan untuk Rasa Muak

 Maret nyaris berakhir. Sejauh ini, level mati rasa yang hadir bukan lagi sesuatu yang bisa diremehkan. Aku mahir merasa muak, namun bersamaan dengan ituaku juga mahir mengabaikan. Konsistensiku pada hal-hal yang aku dengungkan di awal tahun, setidaknya jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Ibaratnya, ketika tahun 2023 rasa rutinku dalam membaca buku hanya bertahan sampai tiga bulan pertamasaat ini, jumlah buku yang kulahap menyamai dengan seluruh buku selama satu tahun di tahun 2023. Alasannya? Kehidupanku lebih terstruktur dan rutin. Berbeda jauh dari khasnya seorang perceiver yang terdiktat dalam INFP.

Jauh daripada itu, rasa-rasa takut dan muak terus mengguyur bak air bah. Silih berganti datang secara bergiliran seperti pekerja shift delapan jam. Pagi muak, siang terasa tak terjadi apa-apa. Atau bisa sebaliknya. Pagi biasa-biasa saja, siangnya berubah jadi muak. Pengamatan kepada inner-self kemudian melemparku pada kenyataan potensi HSP yang tersistem dalam diri. Dan di sinilah aku mengalokasikan satu halaman untuk mengkultuskan rasa muak dari seorang HSP dan INFP yang tak bosan aku kotakkan dalam kepribadian.

Mereka yang Mendengung Dosa


Aku dapat mengklaim diriku adalah potensi besar pendosa. Setidaknya, dengan nilai-nilai hidup dan agama yang diperkenalkan, aku mampu bertahan di kaki sendiri. Tidak terjatuh atau terjerumus pada hal yang terlihat menyenangkan, namun nyatanya lebih banyak merugikan. Kehidupan di abad modern dengan semua dunia dalam genggaman, membuat akudan banyak orang, mesti mengiyakan semua perbedaan yang disuguhkan di meja kehidupan. Tidak semua sistem di kehidupan orang lain berjalan sama seperti sistem dalam kehidupan kita.

Namun yang tidak bisa dipungkiri adalah; kita hidup dalam tatanan dunia. Diciptakan beberapa peraturan agar manusia tidak menyerupai hewan. Tapi peraturan dan tatanan tidak semuanya bisa kita lahap sampai kenyang. Untuk beberapa orang, mereka berkeinginan merobek hal-hal yang tak sejalan dengan prinsip. Atau paling tidak hal-hal yang membuat mereka merasa direpotkan.

Aku menjadi bagian dunia baru. Hal-hal yang sempat menjawab mimpi dan doa yang kupanjat malam itu. Aku tersenyum sumringah, seperti berada di sebuah taman nan jauh penuh dengan bunga bermekaran. Aku seperti ingin bermain di sana, menikmati banyak keindahan yang lama terlupakan dari kehidupanku sebelumnya.

Namun datanglah sosok itu. Layaknya Dorian Gray yang diam-diam dielukan kehadiran raganya yang utuh. Aku sempat kalap. Seumur hidup, aku tidak pernah bersinggungan dengan sosok semacam Dorian Gray yang rentan terluka. Setiap kali aku mendengar kisahnya, aku merasa aku disuap paksa oleh konsumsi novel teenlit dan FTV murahan yang diburu kejar tayang. Plot-nya berantakan, satu masalah ditumpuk dengan masalah baru, tanpa ada kejelasan penyelesaian.

Aku sempat skeptis. Namun kemudian aku menyadari, sosok ini tidak pernah hidup dalam kesempurnaan. Tidak sesempurna materi yang ia coba suguhkan di social media. Meskipun aku sempat mengapresiasi dunia menyanjung rupa dan raganyalayaknya universe tempat Dorian Gray berada, nyatanya yang kudapati kemudian adalah rasa hampa yang dalam dan gelap. Dia tidak utuh. Sama sekali tidak utuh.

Hidupnya penuh kekurangan fungsi yang seharusnya berjalan layaknya kehidupan manusia lain. Namun dia tidak pernah berkesempatan mendapatkannya. Sehingga dalam diriku yang berusia lebih dari seperempat abad, kuyakini sosoknya jauh tidak lebih beruntung daripada diriku sendiri. Terlepas secara materiil dan kesempatan yang ia dapatkan jauh lebih baik dibandingkan milikku secara kasat mata. 

Dia mendambakan validasi. Seumur hidupnya.

Oleh karena itu, rasa muak, rasa jijik, rasa tidak nyaman yang tanpa sengaja ia ciptakan dalam kehadiranku di sana, perlahan berubah menjadi ketidakpedulian. Meskipun bertemu sosok sepertinya adalah pengalaman baru yang penuh rahasia untuk dieksplorasi, minatku mendadak menguap hanya dari statement validasi yang dia ajukan hampir di setiap kesempatan.

Dia tidak malu mendengung dosanya. Dia menormalisasikan ketidaknormalannya. Dan hanya dengan pemahaman aku dan mereka, tidak lantas mengiyakan bahwa apa yang dia pilih adalah sebuah kebenaran. Aku justru iba dan kasihan. Namun aku memilih untuk mengabaikan. Fokus hidupku akan jauh lebih penuh kejutan dibandingkan hidupnya yang tak kalah penuh kekosongan.

Dan tidak hanya Si Dorian Gray. Beberapa sosok yang memukauku sejak pertama kali, berubah menjadi hal-hal kosong karena pendengungan dosa yang tak terelakkan. Secara bangga, mereka mengklaim ada suatu bentuk perlawanan dari status hukum dan ketentuan fasih yang diciptakan untuk melindungi mereka. Apa yang membuatku muak adalah fakta nyata bahwa mereka dengan ringan hati menyampaikan jenis dosa yang mereka perbuat.

Mereka tidak meyakini dosa karena pada dasarnya potensi pahala selalu datang beriringan dengan kerumitan sistem. Ya, tentu banyak orang yang memilih lebih mudah dan mendapat dosa daripada lebih sulit dan mendapat pahala.

Mereka yang Menuntut Dunia Mengikutinya


Merasa muak dengan seseorang bagiku tidak butuh banyak alasan. Sekelebat penglihatan, satu dua percakapan, aku bisa langsung menentukan; dia pantas bertahan atau justru bisa dibuang. Namun kehidupan emosiku yang terlalu kaya tidak dapat menolongku untuk bersikap sedikit jahat pada orang-orang yang pusat dunianya pada diri mereka sendiri. Aku akan kembali ke status awal; penolong, pengasih, pendengar dan mediator.

Orang pertama. Dia adalah satu dari dua orang yang aku hapus kontaknya seketika aku mengepak barang-barangku dan hengkang dari kehidupan membosankan terdahulu. Aku berpikiran bahwa tidak akan lagi ada relasi kebutuhan yang bisa aku canangkan pada esensi kehadirannya di dunia. Tidak sampai pada akhirnya dialah yang justru pertama kali menghubungiku. Dengan raut bingung dan menahan tawa, aku menerima telepon dari nomor tidak terdaftar di kontakku tersebut.

"............" di mengucap sesuatu seperti hanya aku orang yang dia pikirkan untuk bisa menjadi penolong. Dan yes I am! Di dunia penuh orang baik, aku adalah orang paling baik. 

Satu setengah jam aku habiskan untuk memotivasi mentalnya yang mendadak sama lemahnya dengan mentalku. Satu setengah jam pula aku mencoba menahan tawa agar sisi manusiawiku tetap terdeteksi radarnya, terlepas seberapa banyak aku menimbun rasa benci bahkan dari detik pertama kali aku berhadapan muka dengannya.

Dia adalah salah satu orang egois yang menuntut seisi dunia harus berjalan sesuai kehendaknya. Kini, karma mulai menggerogoti mentalnya. Dan aku menawarkan solusi hanya sebagai selimut untuk tawaku yang tak tertahankan.

Orang kedua. Adalah penyesalan terbesarku kenapa aku sempat berpikir dia akan berada satu level dengankudengan kamidalam hal memandang dunia dari berlembar-lembar tulisan mahal itu. Dia hadir dengan tembok besar yang mengukung kami, menginterupsi setiap pembicaran menjadi fokus hanya pada dirinya dan dunianya. 

Aku melihat salah satu terdiam dan lebih pasif. Mengamati, berbaur dan kehilangan fungsi yang selama ini terlihat tegas. Aku tahu dia mampu. Namun karena orang kedua ini stole the show secara tidak sopan, para orang waras hanya bisa mengalah dan fokus pada tema yang nyata saat itu. Termasuk dirinya yang mendadak kelu. Kemudian dia berujar padaku semacam; "Dia mendominasi sekali dengan dunianya." Dan aku tidak bisa lebih setuju daripada melalui satu tawa ringkih yang menyampaikan rasa sama lelahnya.

Beruntung aku tidak punya kekuasaan untuk menghapus keberadaan orang kedua sialan ini. Karena jika ya, mungkin tanpa kesempatan kedua pun aku sudah membatasi interupsinya pada dunia kami yang tenang dan hangat. Aku tidak akan membiarkan lebih banyak orang muak sepertiku, bahkan hanya dari pemilihan emoji khasnya seperti seorang wibu akut yang menyebalkan. 

Orang ketiga. Kali ini kenormalan presensinya yang kala itu membuatku amazed ternyata tidak lebih dari versi upgrade dari orang kedua. Mengapa demikian? Karena orang ketiga tertolong rasionalisme dan sense pemecahan masalahnya yang cukup tinggi (baca: tidak hanya omongan tanpa isi seperti orang kedua). Dia hadir layaknya seorang jenderal dengan sebilah pisau besar dan tajam. Siap menghunus siapapun yang tidak sepemahaman dengan ideologinya.

Kukira kehadirannya yang tetap dan utuh dapat menyamai mereka yang berjenis sama. Nyatanya? Dia hanyalah seorang melankolis frustasi yang salah memilih forum. Dia ingin belajar memahami cinta lebih jauh, namun berakhir dengan persoalan alam semesta. Dia berang, merasa banyak waktunya terbuang. Dan itulah alasan yang cukup menjanjikan mengapa dia bersembunyi dalam ketakutan. 

Dia adalah pecundang. Di mata cinta, dia adalah aku yang suka mengambil langkah nekat. Bedanya, aku masih cukup perasa. Sedangkan dia tidak punya rasa dan esensi keindahan. Rencana-rencana kerdil yang ia dengungkan untuk menjemput idamannya, berakhir dengan keputusasaan karena dia tidak pernah memberi kesempatan dirinya untuk belajar dari banyak hal.

Termasuk pada perbedaan pendapat, pedebatan, diskusi yang kala itu hadir layaknya gorengan sepuluh ribu yang baru saja selesai digoreng. Hangat dan nikmat. 

Yah, begitulah kehidupanku per akhir bulan ketiga tahun ini. Tidak ada banyak hal yang menarik. Hanya rutinitas yang coba kuresapi dalam keseharian hidup, seperti pekerjaan baru, komunitas baru, kebiasaan baru dan orang-orang baru. 

Terlepas dari apapun, aku masih tidak punya siapa-siapa yang dapat menggetarkan esensi Tuhan menciptakan hati dan perasaanku sebagai manusia. Tidak sampai aku benar-benar merasakan rasa kagum dan ingin, bukan rasa penasaran belaka.

Setidaknya, aku tidak dalam kondisi mendamba kematian. Itu kabar baiknya.
Share:

Monday, February 12, 2024

Sapaan yang Terlambat untuk 2024

Hari ini aku menonton Supernatural episode 10 season 14, bercerita tentang usaha Sam dan Castiel membantu Dean muncul dalam pikirannya sendiri yang sudah dikuasai oleh Archangel Michael. Sam dan Castiel berada di dalam pikiran Dean, penuh dengan teriakan, ratapan, tangisan. Kemudian Castiel berujar; "Dean been through a lot. There's so many trauma in his head."

Dan kemudian aku iseng melemparkan pikiranku pada kondisiku sendiri. Trauma. Tentu saja aku tidak semenderita Winchester Brothers, tapi yang namanya trauma, mau besar atau kecil, mau jarang atau sering, tetap adalah sebuah trauma.

Sebenarnya aku sudah menyiapkan satu entri yang sekarang bersarang di draft, paska aku terlempar ke dalam jurang ketika semua skenario yang kuciptakan untuk alter egoku beralih menjadi kenyataan. Aku, dengan segudang niatan untuk solo traveling, meninggalkan traumatisme pekerjaan yang kurang ajar, kemudian mendadak menjadi hancur total oleh banyak berita dan kenyataan yang datang dari usaha kealpaanku.

Aku kurang paham siapa yang salah disini. Apakah aku yang menjunjung tinggi kealpaan selama bertahun-tahun, kemudian malah jatuh tersungkur setelah menemukan banyak kabar dari mereka yang kutinggalkan. Apakah mereka yang hidup dengan normal, tanpa mengetahui bahwa mereka sempat menciptakan satu rasa takutentah sedikit atau banyakyang menarikku pada malam penuh tangisan, khasnya seorang penderita gangguan kejiwaan.

Nathan; memberikan kabar kepada David, dia telah menikah. Sesuai dengan plot yang aku kembangkan, di universe yang aku sengaja ciptakan sejak satu tahun paska kelulusan, secara tanpa sadar. Dengung-dengung soal pernikahan Nathan telah aku tuangkan dalam beberapa plot yang menyakitkan, masih soal melarikan diri, soal kematian, soal perayaan dan soal tangisan.

Satu minggu yang lalubegitu klaimnya, bertepatan dengan tanggal aku memulai solo traveling. Perayaan yang sama soal rasa bahagia, namun berbeda dalam pengukiran luka. Dan David, setelah mendapatkan kabar itu, mendadak menjelma dalam diriku dan melumpuhkanku pada ratapan yang tidak terelakkan. 

Bukan, ini bukan soal cemburu. Ini lebih pada terlalu sempurna gambaran pada alter ego Nathan, beserta betapa perih setiap bumbu yang kutuangkan dalam universe David. Tentu juga soal garis finish yang menjadi salah satu penghambat David untuk melanjutkan hidup. Karena sampai usia yang sama denganku pun, David masih belum mendapatkan garis finish-nya. Meskipun secara nyata, siapa yang hendak menentukan garis finish? 

Jika memang garis finish kehidupan itu ada, apakah itu pada pernikahan atau kematian? Jika Nathan memiliki pernikahan untuk mencapai garis finish-nya, maka David punya seribu satu cara untuk mencapai kematian sebagai garis finish-nya.

Tidak berhenti di sana. Trauma yang muncul di kepalaku juga mengambil panggung kembali ketika aku bertemu dengan Ivan, inisial alter ego yang sempat aku tuliskan dalam cerita. Dia datang tanpa trauma, tersenyum menyambutku. Sama seperti sembilan sampai sepuluh tahun yang lalu. Dia mengorbankan dirinya, demi dapat bersamaku, menemaniku. Dan perlakuan-perlakuannya, yang bahkan sulit bisa aku lakukan setelah sembilan sampai sepuluh tahun berlalu, membuat aku setidaknya kewalahan untuk menjaga kewarasan.

Bagaimana tidak? Aku ingin meninggalkan semuanya di belakang. Namun dia justru muncul, membangkitkan nostalgia pada dosa dan luka yang sempat kulakukan di masa bodohku. Dan dia tidak sama sekali menandainya sebagai penghinaan. Dia sama sekali tidak takut padaku, membenciku. Dia tetap memanusiakanku yang sejak lama kehilangan fungsinya sebagai manusia yang utuh.

Kemudian aku mesti berbohong soal identitas Ivan. Dengan latar belakang yang semakin cemerlang, satu tiket menuju surga yang sudah ia kantongi, membuatku harus berimprovisasi. Aku dapat dengan tegas memposisikan diri pada karangan kisahku kepada para korban. Aku mendetailkan Ivan sebagai kekasih Tuhan. Suci, penuh kebenaran, hal-hal yang seharusnya jauh dari aku yang kerdil dan hina. 

Dan bicara soal kekasih Tuhan, aku semakin kehilangan kewarasan saat masa-masa sulit PTPS berlanjut. Aku mengemban tugas sebagai pengawas, sebuah pengalaman baru yang menuntut ilmu komunikasiku sebagai marketing dilatih lebih dari seharusnya. Di sanalah pada akhirnya aku mendapat kesempatan untuk menemukan sosok lain dari manusia setara Ivan. Bahkan lebih. Hampir 90% kutemukan kesempurnaan di dalam sosoknya.

Otak INFP-ku menjelajah dunia baru, ide-ide, fantasi, bayangan, imajinasi, soal bagaimana seharusnya dia yang berada di kehidupan nyata dengan segala kesempurnaannya bisa aku abadikan. Aku mengklaim sebagai INFP, sebagai salah satu artist, semua hal penting dan tidak pasti mendapatkan tempatnya sendiri untuk diabadikan. Dan dia adalah salah satunya. Kesempurnaan nyata yang bahkan melampaui Nathan dalam universe yang aku ciptakan. 

Sosok yang barangkali hanya bisa kita temukan one in million, layaknya karakter Wattpad yang sangat mustahil terjadi dan ditemui di dunia nyata.

Aku tidak akan mendeskripsikan kesempurnaannya di sini. Karena aku tidak mau dia berakhir seperti sosok yang datang pada bulan Juniyang pribadinya sempat kudengungkan dalam beberapa entri di blog ini. Tuhan menjawab doaku semalam dengan fakta bahwa kesempurnaannya telah menjadi milik seseorang yang beruntung. Dan lagi-lagi egoku mengambil kewarasan, berujar bahwa memiliki pasangan adalah sebuah kelemahan.

Seolah orang lain yang terlalu menginterupsi bisa jadi mengurangi level kesempurnaan. Padahal ini tentang dia, bukan aku yang menjalani. Ego ini terlalu gila. Bisa-bisa aku tetap terperangkap dalam trauma berkepanjangan jika terus begini.

Dan ya. Aku berhenti mengonsumsi antidepresan. Sengaja. Setelah aku tetap menangis di tengah perjalanan solo traveling yang kuanggap berhak mengurangi level depresiku, aku memutuskan untuk tidak kembali bergantung dan percaya pada proses pengobatan psikiater. Meskipun demikian, momen terpuruk yang menjelma dalam beberapa malam itu akan kucoba bagikan dengan dokterku. Semoga. Aku berusaha mengenyampingkan ego dan rasa malu, karena traumaku bisa jadi tidak terlalu penting atau bahkan terdengar lucu bagi sebagian besar orang.

Orang tuaku sudah mulai mendeklarasikan secara halus soal aku semestinya mendapatkan pekerjaan baru. Ketika satu persatu dari mereka sudah mendapatkan garis finish, memikirkan hal-hal beberapa langkah lebih depan. Aku justru terperangkap dalam penyebab trauma yang tercipta sejak 2013. Aku masih di usia 17 tahun, mencoba mencaritahu apa yang sedang terjadi saat itu. Kenapa refleksi traumatisme yang diciptakan olehku di usia 17 tahun terasa menyakitknya di usiaku yang ke-27 tahun. Senyata dan seperih itu, ia masih bertahan. Dan puluhan obat antidepresan tidak sepenuhnya membantu.

Dan demi Tuhan, aku tidak punya lagi kapabilitas untuk berkegiatan seperti bekerja, terikat pada kontrak perusahaan. Sebut saja aku tidak mau lagi mengalami 'trauma' yang sama dari berkerja di perusahaan toxic, sebut saja ini masih menjadi salah satu proses adjustment disorder yang dideklarasikan dokter bulan Oktober tahun lalu. 

Namun 100% aku telah mengikhlaskan apa yang terjadi, menghilangkan semua ego dan kebencian, rasa ingin balas dendam. Dan aku begini, tidak bertenaga untuk kembali produktif sepertinya bukan karena aku nyaman untuk tidak terikat pada apapun. Ini lebih karena aku butuh waktu lebih banyak untu beristirahat. Mati misalnya?

2024 telah berlalu nyaris 2 bulan. Dan ya, masalah kematian masih menjadi agendaku yang terasa cukup menggiurkan.

Share:

Sunday, December 17, 2023

Desember dan Semua Peperangannya

Satu entri kembali kutulis, sama seperti entri-entri sebelumnya. Bedanya, aku yang sekarang adalah aku yang telah mencapai batas tertentu, yang memiliki beberapa pencapaian yang bahkan dulu hanya berada dalam anganku. Aku telah menemukan jalan keluar dan aku berhasil menjadi penyintas dalam labirin yang membosankan. Dan terlepas dari apa yang orang lain asumsikan pada diriku, aku sama sekali tidak butuh lagi validasi semenjak aku mampu membuatnya sendiri dengan sedikit sikap narsistik.

Suasana Baru

Aku adalah pemilik sifat adaptasi yang ulung. Dan aku berharap itu tetap bekerja selayaknya di tempat baru ini. Aku berada di lingkungan baru, dengan perubahan serba mendadak yang sempat menghadapkanku pada pertikaian dengan keluarga. Ibuku, bapakku, adik-adikku. Semua terjadi karena aku adalah sulung yang semestinya punya tanggung jawab untuk membantu. Sedangkan mereka sudah sama-sama tahu, aku yang butuh bantuan ini pun melakukannya serba sendirian.

Terlepas dari itu, tempat ini tidak sebaik ekspektasi yang kubayangkan. Aku mengharap ketenangan, mengharap ada sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan keluhan-keluhan itu, harusnya aku malu karena kedua orang tuaku kini memberiku ruang untuk sendiri. Memperhatikan privasiku dengan tetap mengambil taruhan terbesar untuk membayar lebih. Sedangkan aku masih dalam kondisi absence dari iktikad membantu orang tua.

Aku hanya berharap, apa yang terjadi di penghujung tahun ini adalah pilihan terbaik yang Tuhan berikan kepada kami. Baik bagiku, bagi kedua orang tuaku dan juga adik-adikku.

Kapal Karam

Semenjak keinginanku untuk meninggalkan kian mendekati batas akhir, aku menemukan lebih banyak ketidakserasian sistem yang ada di dalamnya. Aku tidak perlu membahas program, fasilitas, janji manis atau apapun usaha mereka untuk membuat yang lain bertahan. Aku hanya ingin menggarisbawahi bahwa 'kondisi mereka sedang terguncang'. 

Mereka melakukan apapun untuk bertahan. Setelah sekian manusia waras memutuskan untuk melepaskan. Dan barangkali di antara sekian manusia waras itu, aku bukanlah faktor penentu mereka meratapi nasib, merenungi apa kesalahan dalam sistem mereka yang sekiranya perlu diperbaiki? Karena mereka dinaungi oleh ENTJ dengan ego setinggi langit (sama sepertiku), yang tidak mau mengalah dan semua mesti tunduk padanya. Ia pun sanggup mengubah seorang raja menjadi tunduk dan percaya 100% pada ucapannya.

Tapi apakah itu tidak akan mempengaruhi para 'penumpang kapal' yang jumlahnya selalu dielukan? Pasti beberapa dari mereka yang belum sepenuhnya menaruh loyalitas akan terbesit pikiran 'kenapa semua memilih melompat dari kapal ini? Apakah kapal ini berada dalam bahaya?'.

Ini adalah seni bertahan hidup. Seni berperang. Siapa yang tidak memperhatikan, siapa yang tidak menaruh strategi, siapa yang hanya menunggu dalam diam, akan mati perlahan-lahan. Entah mereka mati bersama-sama, atau bahkan sendirian. Dan sebelum kapal itu karam ke dasar lautan, atau setidaknya para penumpang menderita 'kelaparan', lebih baik aku menyusul yang lain untuk membuat keputusan ekstrim yaitu melompat dari kapal dan tenggelam ke dalam lautan. 

The Tug of War

Aku berada dalam sebuah 'tug of war' dengan permainan-permainan ego yang sama tingginya. Koleris sialan itu menantangku, dengan lambat kesadaran yang selama ini mengikatku untuk mengetahui sebenarnya dia adalah serigala berbulu domba. Melalui kata-kata dan nada bicaranya yang terlatih, seperti ia sudah melatihnya selama bertahun-tahun di depan kaca agar bisa meyakinkan semua tindakannya adalah benar.

Sayangnya, Si Koleris ini berhadapan dengan seorang Plegmatis-Melankolis sepertiku. Seseorang yang memiliki kelemahan terlalu peduli dan mudah percaya, namun di lain sisi juga mampu memperhatikan situasi sekitar. Aku mengetahui dia membangun tali tambang yang kokoh dan kuat untuk menantangku. Dengan jabatan, koneksi, kepercayaan, kecerdasan, kekayaan, sudah jelas dialah pemenangnya.

Aku tidak mengaku kalah, sebab semua keputusan dan penjelasan dariku sempat aku hidangkan ke atas meja makannya. Dia sempat terguncang, kok. Dan menyalahgunakan kembali kekuasaannya untuk menjilat. memvalidasi bahwa ialah yang paling harus dipercaya. Bahkan lulusan SMA yang baru bergabung 3 bulan pun tahu tentang kepribadiannya yang salah itu. Kesemena-menaan yang ia gunakan dengan sesukanya, namun tercover dengan baik melalui motivasi-validasi bullshit yang ia dengungkan beberapa kali.

Meskipun aku tetap terlihat kalah dipandang dari sudut mana pun, aku cuma bisa tertawa seperti Joker melihat strategi apa yang ia usahakan bahkan di detik-detik terakhir.

Mengundang narasumber with no spesific background untuk mem-back up posisinya dengan materi berbelit-belit layaknya presentasi seorang mahasiswa Managemen SDM. Mencatut beberapa ayat, meyakinkan khalayak akan kolerasi yang ia bawa pada materinya dengan tema yang diberikan. Membawa rekan karena takut sendirian? Sesekali mengintip pada materi seperti baru dipersiapkan  semalam? Dan apa yang paling mengejutkan, semua terdengar seperti kutbah Jumat yang diisi oleh seorang Pastor. Bagaimana kita bisa mempercayai ucapannya jika dia sendiri pun tidak punya atau tidak menjelaskan pengalaman dan background ilmunya dalam bidang yang dibahas pada materi itu? Apakah itu jenis intervensi? 

Siapa yang mengajarkanku tentang 'politik' pada akhirnya berpolitik juga.Lucu memang.

Pertanyaan berikutnya datang dari pertanyaan dokterku soal miskomunikasi pada suatu kejadian yang menyebabkan salah satu pemicu trigger. Dan untuk menjawabnya, dengan kondisi nothing to lose, aku mengukuhkan kaki untuk menemui pihak-pihak yang berkaitan dengan miskomunikasi itu. Dan bisa tebak apa yang terjadi? Kedua jawaban mereka tidak saling berkolerasi! Wah, menakjubkan sekali.

Ini seolah apa yang aku coba jelaskan dari A-Z, menghabiskan waktu satu jam, malah diplintir dan diambil 10% poinnya saja! Alasannya karena mental issues adalah hal tabu yang dibicarakan, padahal yang sakit sepertinya bukan aku, melainkan dia. Dia pasti punya abnormal personality disorder yang masih belum terlihat karena minim pressure dan backing-annya yang kuat.

Dia pikir dia Zhuge Liang yang cerdas dan bijak? Wkwkwk. Dia cuma pengkhianat kerajaan dengan pemimpin setulus Liu Bei, yang mempercayakan seluruh hati dan pikirannya untuk dimainkan. 

Ah, makanya kerajaan Liu Bei tidak bisa sekuat Cao Cao, kan? Ya karena Liu Bei terlalu baik dan lemah, makanya dikhianati pun dia tidak tahu. Masalahnya yang di samping 'dia' sekarang bukan Zhuge Liang. Dia cuma Koleris yang suka bermain politik. Hehe.

Selamat Beristirahat

Aku mendapat cukup banyak pesan setelah keputusanku melompat dari kapal. Pesan penuh dukungan, pesan dengan doa-doa terbaik, penuh dengan link-link informasi recruitment. Tapi satu pesan yang paling membuatku tersentuh justru datang dari orang konyol yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya!

Selamat beristirahat! Begitu ucapnya. 

Ya, I know you've been there. Terlalu lelah dengan semua sistem dan memilih keputusan untuk terjun bebas juga. Dan aku menyusulmu. Aku menyusul yang lainnya dengan kesalahan terbesar, yaitu kenapa tidak kulakukan lebih awal?

Tentu aku akan beristirahat. Itu alasan utamaku kenapa aku menginginkan ini jauh-jauh hari, bahkan tahun. Jika diminta bertahan lebih lama, aku pun sanggup. Namun pada kenyataannya, melalui diagnosa baru yang kini menjadi tiga, melalui intervensi ibu 'dulu kamu bilang Ibu matre, sekarang baru nyadar, kan?', melalui pengamatan mengapa para ksatria dan jenderal memilih mundur dari barisan perang. Melalui itu semua, kemudian aku tersadar. Kenapa aku mesti memaksa bertahan?

Orang tuaku tidak menuntut materi. Teman-temanku juga mengkhawatirkan kesehatanku. Dokterku mengatakan sebaiknya aku berdamai dulu dan memproses semua diagnosa yang ada. Jadi ya, aku pasti memutuskan istirahat.

Sialnya, keputusan istirahat itu justru dijadikan senjata bahwa aku melakukannya karena sebuah hukum kerajaan yang kulanggar. Seolah impiannya untuk tetap dipercaya raja, berubah destruktif menjadi sebuah fitnah di antara yang lain. Bahkan di hari terakhir sebelum melompat ke laut, dia bersiteguh dengan 'kengeyelannya' dengan membahas soal hukuman-hukuman yang malah membelit kemana-mana. 

Itu sama halnya dengan keputusan paling lucu seolah bertanya masalah hukum pidana ke anak lulusan kedokteran hewan. Hahaha. What did you expect? Membuatku tersinggung? Hey, bahkan crush-ku tidak merespons postingan video lucu di DM Instagram jauh lebih melukai harga diriku ketimbang pertanyaan 'tipis-tipis'mu itu.

............................................................................................................................

Yah, intinya malam ini adalah pertama kali aku menulis entri di kamar baruku, dengan suasana baru. Tempat tinggal baru dan titel baruku sebagai jobless. Besok hari Senin pertamaku tanpa perlu bangun pagi-pagi lagi untuk repot berangkat ke kantor. 

Besok akan kupikirkan teks-teks sederhana (yang nyatanya tidak akan berguna) untuk kusampaikan di grup sebagai salam perpisahan. Terima kasih kapal yang sudah sejauh ini berlayar bersamaku! Aku mendoakan yang terbaik bagi awak dan penumpang kapal. Tapi tidak dengan navigatornya.

Bukan soal dendam, kalau aku dendam mah sudah kublock dia. Aku cuma sudah tahu, navigasinya salah, tapi aku terlalu takut untuk memberitahu yang lainnya. Biar mereka sendiri yang memutuskan ya, sejauh apa mereka akan berlayar bersama.

Semoga tidak banyak badai biar ngga beneran karam!

Dah, aku mau istirahat! Sampai jumpa di tahun berikutnya!

Share:

Monday, November 6, 2023

Obat, Efek Samping, Egoisme dan Mati Rasa

Hai, ini aku yang sebentar lagi berusia 27 tahun. Dari awal aku membuat blog ini, menulis banyak entri untuk menyelesaikan apa yang ada di kepala, rasanya baru kemarin aku melewatinya. Aku membaca kembali entri-entri lama, beberapa kali kusapa diriku yang berusia 23 tahun, 24 tahun, 25 tahun, 26 tahun dan barangkali (jika masih hidup) aku akan menyapa diriku di usia 27 tahun.

Waktu berjalan teramat cepat. Dan ya, tidak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi nanti saat usiaku genap 27 tahun. Bahkan di usiaku yang ke-26 saja ada banyak hal yang terjadi. Aku mulai kehilangan minat pada apapun. Berteman, menjalin hubungan. Apapun. 

Aku sempat mencoba memberi kesempatan pada satu dua orang (atau lebih) untuk mendekati. Melihat seberapa kuat tekad mereka merobohkan dinding yang kubangun sejak lama. Dan tidak ada satu pun yang berhasil mengambil atensiku. Mereka terlalu berada di bawahku. Lemah. Tidak mampu menyamai kapasitas. Bahkan ada satu orang yang menjual kisah-kisah soal keluarganya, masa sekolahnya, mendomplang dirinya sebagai Si Pemurah Hati yang meminjamkan uang ke teman-teman yang tidak punya. Nyatanya? Dia pengemis yang berkoar akan mengembalikan uangku, namun sampai sekarang ia hilang entah kemana.

Aku berjanji akan mengejarnya. Bukan soal uang. Tapi soal seberapa berani dia memanfaatkan belas kasihku untuk jiwa pengemisnya. Akan kubuat dia membayar harga yang ia tanamkan pada harga diriku, egoku, rasa tinggiku yang sejak awal tidak pernah tersentuh sedikit pun dengan segala aspek soal kepribadiannya. Bahkan fisiknya. Aku hanya merasa mampu memberinya uang, lebih mampu menjalani semua secara mandiri meskipun dia harus bersusah payah menyodorkan satu atau dua gelas kopi hanya untuk mendapatkan waktu dan atensiku. Dia gagal. Dia hanya sejumput sampah yang menjual nama keluarganya untuk dikasihani.

Dia memilih berurusan dengan orang yang salah. Orang dengan egoisme setinggi langit.

Lalu soal pekerjaan. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Aku sudah membicarakannya lebih dari yang aku mampu. Kepada ibuku, kepada dokterku, kepada teman-temanku, kepada adikku. Bahkan kepada pihak-pihak perusahaan yang semestinya tahu. Dan mereka yang secara 'tidak sengaja' tahu. 

Ini bukan soal meninggalkan atau melepaskan. Ini lebih kompleks daripada itu. Aku tipikal petarung dengan ego yang tinggi. Aku tidak mau dan tidak akan pernah membiarkan orang lain mengambil kelemahanku. Jika aku memang harus dipaksa untuk bertahan, kuyakini sepenuh hati, aku akan bertahan sampai kapan pun. Aku bahkan tidak mempan dilukai berkali-kali oleh siapapun dengan cara apapun.

Namun ini soal penyakit. Dan obat-obatan yang aku minum setiap hari. Ini soal masa lalu dan trauma yang masih belum terdeteksi sampai sekarang. Semuanya mendadak mengekangku dengan tali yang kuat dan tajam. Menarik diriku untuk kehilangan kapabilitas dalam berkompetensi. Aku bukan takut gagal. Aku hanya tidak bisa menjamin masa depanku akan baik-baik saja di pekerjaan jika penyakit ini masih bersemayam dalam diriku.

Aku menuding dan menyalahkan siapapun yang tidak bersalah. Aku ketakutan hanya pada suara notifikasi dan pandangan orang. Aku merasa dibuang dan dikucilkan ketika aku tidak mendengar namaku dipanggil. Aku merasa diremehkan ketika seseorang meminta orang lain membantuku. Aku, dengan egoisme ini tidak akan pernah menang melawan semua kecemasan. Meskipun puluhan butir obat telah kutenggak sejauh ini.

Aku membenci hampir setiap orang, dengan perlakuan-perlakuan sederhana mereka. Aku membuat asumsi buruk dalam kepala, menyalahkan mereka dan terus saja ingin menghindarkan mereka dari rasa marah yang mendadak muncul dalam diriku. 

Aku mengabaikan soal bunuh diri akhir-akhir ini. Menukarnya dengan ide menyakiti orang lain. Bagaimana rasanya ketika aku bisa membanting sesuatu, berteriak dengan lantang hingga lega, menusuk seseorang hingga ia kesakitan, melihat darah membanjiri tanganku. Bukan, aku bukan begini karena terlalu banyak menonton film atau drama kekerasan. Aku begini karena ingin merasakan barangkali dibandingkan obat SSRI yang diresepkan padaku, akan jauh lebih melegakan apabila aku berhasil melakukan salah satu di antara opsi yang kupikirkan.

Joker. Ia yang murung dan ketakutan mendadak bahagia dan senang setelah membunuh orang, bukan? Aku penasaran perasaan itu. Dan berpikiran apakah tinggal di penjara atau rumah sakit jiwa akan lebih baik ketimbang melihat dunia luar yang dipenuhi oleh tuntutan dan ekspektasi?

Dibandingkan menjadi serotonin booster, obat yang kuminum malah terkesan seperti pembunuh rasa takutku. Beberapa minggu yang lalu aku menonton film horor di biosko bersama teman-teman. Entah, meskipun musiknya terdengar menyeramkan, aku menganggap efek seram yang ditimbulkan dalam bentuk hantu dan makhluk seram di film itu tidak cukup berhasil membuatku trauma.

Aku tetap mandi seperti biasa, makan seperti biasa, pulang sendiri seperti biasa, tidur sendiri di tempat gelap seperti biasa, beribadah sendirian seperti biasa. Hal-hal yang 180 derajat berbeda denganku yang bahkan dulu, melihat satu film pun bisa berminggu-minggu menyisakan trauma.

Ini bukan kali pertama, beberapa film horor lain, dengan atau tanpa adegan gore penuh darah pun tidak sama sekali membuatku jijik atau takut. Bisa dibilang dalam kurun waktu kurang dari setengah tahun ini, aku sudah beberapa kali melihat film horor dan tidak merasakan apapun.

Apa yang lebih parah daripada ini adalah ketika aku dengan lantang dan lancar menjelaskan apa yang tidak kusuka dan menggangguku dari beberapa orang. Baik itu orang yang kukenal maupun yang tidak kukenal. Aku seolah melakukannya secara sadar dan tidak takut pada apapun yang terjadi setelahnya. Aku 'memarahi' sahabatku sendiri karena lebih memilih orang lain. Aku menyalahkan orang yang kukenal karena terlalu banyak mengeluh soal kehidupannya di saat hidup orang lain pun sama sulitnya. Aku dengan tegas menolak ajakan orang-orang yang kuanggap tidak penting dan hanya membuang waktu.

Aku melakukannya seolah aku siap kehilangan apapun. Dan hidup sendirian.

Siapa yang kupunya di dunia ini? Tidak ada teman yang benar-benar membuatku tenang dan nyaman. Orang tua pun sejauh mereka dapat memahami kondisi dan pilihanku saja rasanya sudah cukup. Aku tidak mendapatkan cukup ruang atau dukungan untuk menyadari bahwa sekeras apa egoku, aku tetap membutuhkan bantuan. Adik-adikku yang jauh lebih hebat dariku, kehidupan mereka yang seharusnya lebih baik dan berhasil. Atasan yang punya banyak fokus sehingga mengabaikan sosok kerdil tidak punya potensi sepertiku. Dokter yang punya puluhan pasien, dengan cerita perjuangan yang berbeda, menunggu bantuan yang sama darinya.

Siapa yang kupunya selain Tuhan? Meskipun yang menderita dan membutuhkan pertolongan bukan hanya aku, Tuhan tetap memperhatikanku dengan baik.

"Kalau punya masalah, perbanyak ibadah. Dekatkan diri sama Tuhan. Bukan hanya bergantung sama obat, nanti sulit lepasnya." begitu yang ibuku bilang beberapa hari setelah aku menyerahkan surat diagnosa ketigaku.

Aku memutuskan melepaskan pekerjaan pun sebenarnya adalah salah satu hasil doa-doaku dengan Tuhan. Aku masih hidup dan diberi kesempatan untuk mendapatkan bantuan profesional pun adalah bantuan yang Tuhan salurkan lewat manusia. Tuhan selalu ada untukku. Aku tahu itu.

Dan soal obat-obatan, aku yakin itu adalah salah satu bentuk ikhtiar yang juga Tuhan inginkan untuk kulakukan. Apa yang kutahu sejauh ini, obat yang kuminum hanya menjaga kestabilan mood-ku. Membuat aku yang sakit menjadi tidak terlihat sakit. Membuat aku yang seharusnya lemas tidak berdaya menjadi bersemangat dan bergairah dalam melakukan aktivitas. Namun kecemasan itu masih belum menghilang dari sana. Masih terus ada dan bisa muncul kapan pun.

Di artikel terakhir yang kutulis di Medium, aku mengklaim diriku sebagai penjahat. Ya, karena rasa cemasku ini sewaktu-waktu bisa berubah menjadi tindakan melukai siapapun. Apakah teman yang saat itu duduk di sebelahku? Ataukah atasan yang sudah melupakan bahwa apresiasi dan validasi adalah nilai yang tidak bisa terlupakan? Atau bahkan orang lain yang kebetulan lewat meskipun aku tidak mengenalinya?

Apakah di usiaku ke 27 tahun nanti aku akan mendapatkan pekerjaan baru dengan penghasilan yang lebih baik dan beban kerja yang lebih manusiawi? Atau aku justru bertambah parah, terpuruk, atau mungkin masuk rumah sakit jiwa? Penjara? Karena memikirkan serius untuk menyakiti orang akibat mati rasa yang berlebihan ini?

Persetan soal pertemanan dan percintaan. Aku bahkan bisa melukai siapapun hanya dengan sebuah perlakuan dan perkataan. Dan mereka pun bisa melukaiku tanpa mereka sadari hanya karena reaksi berlebihan dari rasa cemasku.

Saat aku membahas masalah penyakit mental ini di meja managerku, ia tampak antusias. Ini kasus baru. Nama-nama diagnosa yang kusebutkan membuat otak pintarnya menerka, apakah hal-hal yang terlihat abstrak (karena penyakit mental tidak terlihat secara fisik) ini sungguhan ada dan bagaimana tanda-tandanya. Sebagai orang yang sudah mengalami sejak tahun 2019, aku fasih menjelaskan. Terlepas apakah ia percaya, mempelajari, atau hanya mendengarkan.

Aku ingin terus beraktifitas. Bercengkerama dengan teman untuk memupuskan rasa takut dan efek samping obat dari semua penyakitku. Namun di lain sisi aku takut menyakiti mereka. Membuat orang-orang tidak bersalah juga terdampak dari penyakitku, entah itu sengaja atau tidak. Aku memutuskan menarik diri, melepaskan semua trigger terutama pada tuntutan pekerjaan yang terdengar kadang tidak masuk akal dan melelahkan. Semua bisa kutuntaskan andai saja aku tidak menjadi lebih parah akibat penyakit ini. Andai saja aku masih berfungsi secara normal seperti aku di sekolah dulu, berteman, prestasi, kegiatan. Semua berjalan teramat normal dan menyenangkan.

Mati rasa padaku menghadapkanku pada dua pilihan. Mati sendiri atau membiarkan orang lain mati. Dan aku memilih opsi pertama. Biarkan aku mati sendirian. Terpuruk sendirian.

Namun soal egoisme, aku akan tetap mempertahankannya sampai kapan pun. Akan kubuat siapapun yang melukai egoku membayar harga yang pantas. Balas dendam tidak terdengar buruk. Balas dendam tidak melulu dengan melakukan hal yang sama, 'kan? 

Dan soal pengganti. Meskipun kapabilitas mereka terlihat mengesankan, aku tahu, dalam aspek daya tahan, aku tidak bisa diremehkan. Aku bertahan sejauh ini dengan tekanan penyakit gila yang mengambil separuh fungsi dan kewarasanku, aku cukup mampu berjalan jauh. Aku menyerah karena bukan aku tidak mampu, aku hanya mengambil keputusan untuk menghindari hal-hal lebih buruk terjadi. Aku ingin mengambil jeda dari segala realita dan sumber trigger yang saat ini masih hidup dengan tawanya, tanpa tahu kenyataan bahwa ia kehilangan beberapa hal karena sifat dan karakternya sendiri.

Meskipun nanti aku menjauh, akan aku pastikan untuk tetap dekat. Bukan sebagai bukti terima kasih meskipun itu yang seharusnya aku lakukan. Namun untuk melihat banyak pertimbangan dan keputusan yang aku pertaruhkan paska 'mereka' mendahuluiku adalah benar. Aku akan melihat, apakah ada orang lain yang memiliki kapasitas pikiran kritis yang sama? Atau mereka akan tetap menjadi aku yang bodoh selama bertahun-tahun, dulu. Sebelum terapi obat panjang ini aku mulai kembali.

Setidaknya jika aku harus mati, akan kupastikan aku tidak akan mati karena bunuh diri.


Share:

Saturday, October 7, 2023

Aku Sudah Tahu Jalan Keluar dan Aku Sedang Berjalan Ke Arahnya

Aku sempat merenung tentang egoku yang tinggi untuk sekadar merespons telepon atau chat dari orang lain yang tidak kuanggap perlu. Dulu saat rasanya untuk mendapat satu notifikasi saja tanganku bergetar ketakutan. Mendeteksi adanya bahaya yang barangkali terjadi dan mengancam keberadaanku. Dan kini kurasa karmanya sedang berjalan padaku. 

Sebab aku tengah dihadapkan pada beberapa orang yang sulit dihubungi karena mereka punya 'sesuatu' yang belum selesai kepadaku. Dan semuanya berkaitan dengan uang. Iya, uang. Mereka ada yang berusaha meskipun usahanya terasa menjengkelkan. Ada juga yang berjanji, tapi belum ditepati. Sampai ada yang tidak merespons sama sekali, padahal dulu paling rajin me-reply story. 

Bodo amat soal uang. Apa yang diambil akan dikembalikan, kan? Cuma kita saja yang terkadang tidak tahu bagaimana caranya.

Dibanding itu ada sesuatu yang terjadi lebih mengambil atensiku pada tahun 2023 ini. Dan barangkali peristiwa ini akan menjadi salah satu hal yang bakal kuingat sampai beberapa tahun ke depan. Ya, peristiwa di tahun 2023 yang cukup mengambil fokus hidupku, melebihi fakta bahwa pada akhirnya aku pergi ke konser Dewa 19.

Peristiwa itu kuberi nama sebagai 'ketidakadilan'. Awalnya, aku merasa aku yang berlebihan soal sebutan ini. Mereka adalah satu komposisi utuh yang bekerja sesuai sistem. Dan aku adalah system failure-nya, sehingga harusnya aku yang sadar diri. Namun, hari ini setelah aku mendapat satu validasi dari dokterku, aku merasa 'ketidakadilan' itu memang terjadi padaku.

Apresiasi yang Hilang Sejak 2021

Aku ingat saat itu, aku mengendarai motor sendiri. Mengantar diriku pada satu mall yang tidak terlalu ramai. Aku membawa kakiku menaiki lantai tiga menggunakan eskalator. Selama prosesi itu, aku baru selesai menyeka air mataku. Aku mengirim chat ke temanku, berharap dia ada di sana bersamaku untuk setidaknya menemani. Namun kala itu dia sibuk kerja dan atensinya soal kondisi hati orang lain agaknya kurang bagus. Dan kemudian aku berakhir menghabiskan satu porsi ramen sendirian. Makan di tempat umum—saat itu Japanese Food, mencoba mengabaikan orang lain yang datang berkelompok yang sempat menatapku. Seolah tempat yang kududuki sendirian itu mestinya dapat mereka duduki secara berkelompok.

Aku membawa diriku ke sana karena peristiwa besar yang cukup mengambil tenaga, pikiran dan waktuku—pada akhirnya terabaikan begitu saja. Tanpa ucapan terima kasih, apalagi sampai apresiasi. Sebut saja aku pendendam. Ya, aku cuma mendendam pada orang-orang tertentu yang agaknya punya kepribadian yang bersinggungan denganku. Dan orang itu, tanpa respek apapun—memang sudah sejak lama mengambil separuh kewarasanku. Aku menandai hari itu sebagai kali pertamanya aku menangis karenanya. 

Permulaan dari minim apresiasi lain yang kemudian berjalan sepanjang tahun, bahkan hingga saat ini ketika aku mengetikkan kembali satu entri setelah sekian lama.

Bahkan semenjak itu, setiap kali aku dilibatkan dalam proses 'pertanggung jawaban', aku merasa ketakutan setengah mati. Hal itu terjadi setiap bulan. Sampai sakit tengkuk, hilang nafsu makan, migrain, perasaan tidak tenang dan bahkan sampai susah tidur. Separah itu? Ya, parah. Tapi aku masih mengusahakan untuk bertahan hidup.

Motivasi adalah Pembodohan

Apakah kamu adalah tipe orang yang mudah tersentuh saat mendengar motivasi? Aku demikian. Aku tipikal yang mudah berapi-api saat diberi janji-janji masa depan, pengalaman masa lalu yang menginspirasi, ajakan dan rayuan untuk terus bersama. Aku menganggap aku sedang berada di rumah. Menemukan shelter hangat yang bisa menghalauku dari panas dan dingin. Namun rumah tidak selamanya rumah.

Aku terlalu nyaman dalam recharger motivasi yang secara terstruktur ditanamkan secara berkala. Saat itu aku seperti sama dengan para korban JMS (Jesus Morning Star)—kultus sesat yang sampai saat ini belum jelas tindaklanjutnya. Mirip orang bodoh yang hanya iya iya saja, tidak punya pikiran jernih soal pertimbangan lain. Atau barangkali aku memang orang baik yang selalu melihat seseorang atau suatu hal dari sisi positifnya saja. Sisi yang hanya berdampak baik padaku, sehingga aku abai pada fakta bahwa setengah diri dan kewarasanku perlahan telah tergerogoti.

Dan butuh lebih dari sekian tahun, aku akhirnya sadar bahwa aku sudah tidak utuh. Ada banyak emosi terpendam yang menumpuk. Ada banyak 'gwenchana' yang terpatri dalam hati. Ada masa depan lain yang aku potensi korbankan.

Motivasi adalah pembodohan. Titik. Janji manis mirip kampanye itu seharusnya tidak bekerja seperti petinggi JMS mencari jemaatnya. Butuh satu peristiwa besar sampai pada akhirnya aku tertampar. Selama ini aku hanya jadi salah satu senjata tumpul yang bahan bakarnya diisi dengan kuantitas apa adanya. 

Di Fisika disebutkan 'energi yang masuk harus sesuai dengan energi yang keluar'. Tapi ini dengan minim energi yang diberikan, yang diharapkan energi keluarnya harus semaksimal mungkin. Lebih baik mati, 'kan? 

Setelah aku duduk dengan A, dengan B, dengan C, dengan D, harus sampai abjad mana lagi yang duduk denganku, aku baru dibuat sadar, ada banyak sistem yang salah di sana. Sistem yang membuat mereka menetralkan soal energi tadi. Sehingga fokusnya bukan lagi ke soal pengembangan, melainkan soal kembali mengulang. 

Persetan motivasi. Kupingku kebal.

Banyak Validasi yang Menampar

Peristiwa itu datang bagai Tsunami. Namun beruntung aku seperti negara Jepang yang punya alat pendeteksi terbaik. Dan ya, pendeteksiku berfungsi bagus bahkan sebelum Tsunami itu sungguhan datang meluluh lantahkan kondisi kewarasanku. Dan pada akhirnya, dibandingkan menangisi kondisiku sendiri, aku justru dibuat nangis oleh kondisi mereka yang lebih tidak diperlakukan secara adil. Mengapa? Sebab aku masih punya perilaku defensif, masih punya beberapa tempat pelarian. Sedangkan mereka yang diperlakukan tidak adil adalah orang-orang dalam kondisi terlemah yang tidak diuntungkan. Ini ibarat aparat Indonesia dengan pengemis jalanan. 

Peristiwa itu seperti pintu gerbang untuk menyadari posisiku. Aku yang pernah memberi kesempatan 30:70 pada keinginan untuk bertahan:melepaskan, pada akhirnya memberikan hampir 80% keyakinanku untuk memerdekakan angka 70-nya. Kebiasaan lama yang pernah kuelukan kini berubah keruh oleh satu atau dua ego dalam diri orang-orang. Sama seperti egoku, ego si A, si B, si C yang kemudian berpikir untuk membuat angka 100 pada opsi melepaskan.

Perbincangan lima jam di dua tempat itu membuka mataku pada fakta tidak ada lagi alasan untuk bertahan. Atensiku tergerus oleh perilaku kekanakan dari orang-orang yang pernah mengisap energiku dan membuang sepahku ketika sarinya sudah habis. They're like vampire, menunggu orang sampai anemia dulu baru mencari mangsa lain. Dan mungkin anemiaku sudah sampai ditahap tidak bisa ditransfusi darah lagi. Hahaha. Itu validasi pertama.

Kedua, keisenganku untuk menonton kembali film lama yang pernah membuatku menangis karena relate, ternyata memberikan satu dialog yang seperti sebuah validasi. 

"Mana yang lebih mudah? Melepaskan atau mati?" tanya salah satu tokoh utamanyaseorang penyelamat di film itu.

Pertanyaan itu seperti langsung ditujukan kepadaku. Karena bagaimana pun dalam beberapa kondisi aku juga pernah merasakan ingin mati. Benar-benar ingin mati. Namun di lain sisi, sama halnya dengan pemeran utama di film itu, aku juga merasa lega karena masih bisa hidup. Aneh, kan?

Validasi ketiga, datang hari ini. Akan kubahas di sub-judul berikutnya.

Aku dan Obat-Obatan

Hari ini aku bertemu dokterku lagi. Aku menyempatkan diri untuk mandi, berpakaian yang proper. Menyiapkan hati dan pikiran. Sebenarnya janji temu dilakukan seminggu yang lalu, namun karena aku belum siap, aku reschedule satu minggu setelahnya. Kukira apa yang akan kubawa ke meja konsultasi adalah perasaan sesaat yang akan berangsur menghilang setelah beberapa hari. Ternyata, setelah satu minggu berlalu, setelah aku utarakan juga ke dua orang temanku, rasanya masih sama merah dan perihnya saat aku utarakan kembali ke dokter.

Aku bahkan menangis.



"Kamu dalam proses adaptasi. Dan biasanya adaptasi butuh waktu 3 bulan." ujarnya setelah mendengar ceritaku yang sudah kusiapkan selama berhari-hari dan nyatanya yang keluar dari mulutku jauh berbeda dari apa yang kusiapkan. 

Aku dapat memahami 3 bulan juga adalah janji yang diserukan kala itu. Dan juga janji yang diam-diam kudengungkan dalam hatiku sendiri. Aku tidak akan mengorbankan egoku untuk cepat-cepat mengambil keputusan. Dan 3 bulan adalah cukup untuk semua pertimbangan.

Namun, dengan respons dari dua temanku yang juga aku ceritakan perasaan yang sama, mereka merespons rasa ketakutanku dengan potensi susahnya mencari hal baru. Respons itu yang kemudian membuatku berpikir dan tertahan. Namun validasi yang muncul dari dokter kemudian sedikit banyak mengingatkanku pada film saat itusemalam sebelum aku bertemu dengannya, soal pilihan mana yang lebih sulit dan mana yang lebih baik.

Beliau bertanya padaku, "Apa prioritasmu sekarang? Materi atau kesehatan mentalmu?"

Aku merasa tertampar dengan pertanyaan itu. Kembali teringat menjalani satu hari saja seperti berada di neraka selama sekian tahun. Aku mendeteksi perasaan ini adalah overcome yang salah seperti yang aku lakukan saat kuliah dulu. 

Namun lebih dari itu, validasi yang paling menamparku adalah tidak adanya komunikasi.

Aku tidak bertanya apa alasan di balik menu 'ketidakadilan' yang tersaji di meja kala itu. Serta tidak adanya penjelasan atau konfirmasi lebih lanjut soal 'ketidakadilan' bahkan dari posisi utama pun. Sumpah! Jika dipikir, dia hanya bersembunyi di balik tirai, mencuci bersih tangannya dari kegiatan-kegiatan berisiko yang cukup mempertaruhkan establish aset terbesarnya. Dia terlalu mengandalkan pion lamanya yang menurutku juga sudah kehilangan fungsi.

Dia tidak berusaha bertemu denganku. Tidak pernah memanggil siapapun untuk sebuah penjelasan. Dia hanya duduk di singgasana, menunggu kemenangan perang yang ia dambakan.

Memang, posisi secure-nya membuat dia dapat melakukan apapun. Namun sesuai dari pertimbangan dokterku yang sejatinya tahu bahwa komunikasi adalah kunci kondisi relasi yang baik, hal ini adalah nol besar. Posisinya bukan alasan untuk tidak memberi penjelasan. Namun dia tidak melakukannya sama sekali. Bahkan para pion-pionnya pun seolah mengabaikan dan lupa bahwa ada satu posisi yang juga mesti mereka perhatikan.

Dan setelah memberikan pernyataan validasi itu, dokter menyarankan aku untuk mengandalkan obat selama sekian bulan. Yang kemudian baru kuketahui bahwa setiap sesi membawa satu diagnosa berbeda, satu resep obat yang berbeda. Kukira aku bisa mendapatkan obat kapanpun hanya ketika aku merasa payah. Namun ternyata, aku harus 'bergantung' padanya.

Aku lupa obat-obat dengan berbagai nama dan dosis yang diresepkan padaku sebenarnya adalah sejenis 'narkotika'. Membuat lupa, berdampak ketergantunganmeskipun tidak seberbahaya itu.

"Kamu siap minum obat?" dokter bertanya padaku, yang aku asumsikan bahwa aku akan mengonsumsi obat untuk waktu yang lama. Dan pasti itu akan mempengaruhi berat badanku, punya efek samping pada fungsi-fungsi lain dalam kehidupanku.

Apakah aku siap?

Siap tidak siap, dokter sudah menyuratkan surat pengantar diagnosa sementara. Meresepkan obat yang dosisnya lebih rendah untuk beberapa hari ke depan. Dan itu artinya, sebelum dosis obatnya habis, aku harus menyelesaikan tugas jurnaling dan merealisasikan perjalanan panjang konsultasi dengan menebus surat pengantar itu ke rumah sakit.

Semuanya kulakukan sendiri! Terima kasih para stressor yang setiap hari muncul dalam radar dan kewarasanku. Hanya dengan kehadiran kalian, aku bisa merasa terancam! Semoga obatnya membantu!



Share:

Saturday, August 19, 2023

Keunikan dan Kesombongan Diri yang Menyatu

Hai, ini Agustus dan rasanya cukup lama aku tidak memberi kabar. Hidupku begini-begini saja. Beberapa yang mendekat mesti kukenalkan pada dinding tebal yang lama kubangun agar mereka tidak kelewatan batas. Bukan karena aku menolak kebaikan, tapi karena aku merasa cukup dengan diriku sendiri. 

Dan soal kealpaannya dari radarku. Aku mengikhlaskannya jauh-jauh hari. Melepaskannya seperti aku memahami bahwa dia tidak sepantasnya memiliki duniaku. Dan begitu pula aku yang tidak cocok membawa pulang atensinya. Dia memperlakukan yang lain lebih luwes dan ramah. Sedangkan padaku, terasa amat kaku, terbatas dan jauh tak terjangkau. Semua dapat kurasakan bahkan hanya dari batas social media yang rasanya agak kekanakan.

Lupakan soal dia. Dua entri di blog ini sudah sangat cukup untuk membahas hadirnya yang tak seberapa. Aku berterima kasih padanya yang kembali ciptakan perasaan suka dan kagum dari taman hatiku yang lama mati. Namun, sesuai dengan kepribadian egoisku yang tinggi, rasa sukaku pun hilang terkikis oleh perasaan risih yang juga sering muncul tiba-tiba.

Pertanyaannya, kenapa aku risih? Bahkan pada orang yang tidak berinteraksi padaku atau merugikanku? Jawabannya ada di entri ini.

Mari kita mulai.

Banyak Hal yang Tidak Kuketahui tentang Diriku Sendiri

Aku agaknya sedikit menyesal karena di usia 23 tahu ke atas aku baru mulai mempelajari tentang kepribadianku sendiri. Tepatnya saat aku mulai bekerja, mengetahui kenapa hal-hal di luar kendaliku terjadi. Aku yang dibekali rasa penasaran yang tinggi, kemampuan mengeksplorasi banyak hal baru yang menyenangkan, pada akhirnya mulai menemukan sedikit banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dulu sempat kuciptakan.

Misalnya pada pertanyaan 'kok aku begini?' atau pertanyaan 'sebenarnya aku kenapa?'.

Salah satu jawabannya hadir ketika aku mulai merasakan keinginan menangis tanpa alasan yang berkepanjangan. Rasa takut akan sesuatu yang belum terjadi dan kesedihan masa lalu yang samar  menghantui. Jawaban keduanya hadir ketika aku duduk di meja konsultasi. Ketakutan itu muncul akibat kecemasan dan kesedihan itu hadir akibat depresi. 

Aku menenggak obat untuk mendapatkan perasaan netral yang bahkan perbedaannya tidak bisa kutegaskan pada diriku sendiri. 

Kemudian pada fakta diriku yang menuntut idealisme. Membenci ketidaksempurnaan. Diriku yang terlalu sering tenggelam pada pikiran dan mengabaikan kenyataan bahwa diriku tengah berada di kerumunan orang. Atau diriku yang tidak bisa konsisten karena selalu memiliki hobi atau kesukaan baru. Dan bahkan diriku yang memilih menutup diri untuk menghindari perdebatan.

Semua jawabannya kutemukan dalam istilah tes MBTI yang menyatakan aku adalah seorang Mediator (INFP). Pecinta damai yang hidupnya penuh imajinasi, kepekaan perasaan, empati, penundaan, rasa ingin tahu, kecintaan pada seni dan alam, kebencian pada konflik, pengibaratan banyak hal, perfeksionisme dan mimpi-mimpi abstrak. Semua tertera jelas pada deskripsi seolah aku tengah ditelanjangi.

Dan aku merasa INFP adalah aku. Adalah tipe yang bisa mereka pelajari atau pahami untuk mengerti kepribadianku. 

Aku sudah mendapatkan label-label itu. Sudah memahami dan mengerti karakteristik diriku sendiri jauh lebih baik. Namun ternyata itu saja tidak cukup ketika aku mulai mendapatkan jawaban atas pertanyaan lain yang mungkin selama ini hanya terjawab apa adanya.

Atas perasaan risih, perasaan jengkel, perasaan tidak tenang, sakit kepala atau badan yang mendadak, mood yang tiba-tiba turun drastis dan masih banyak hal lainnya. Hal yang dulu selalu dikaitkan dengan 'telat makan', 'kurang tidur', 'kebanyakan kerja' atau hal lain. Namun kini aku menemukan kemungkinan bahwa aku adalah salah satu HSP (Highly Sensitive Person). Orang-orang yang punya tingkat kepekaan yang lebih tinggi pada orang umumnya. 

Aku tidak mengklaimnya sendiri. Seorang pakar mengatakan ini padaku. Jadi kemungkinan, ya.

Semua Relasi Soal Kemungkinan yang Terjadi

Mempelajari soal kepribadian adalah nilai plus yang selalu kukejar. Hal itu yang mendasari kenapa aku tertarik pada psikologi (khususnya abnormal) dan beberapa kesempatan mengenal kepribadian atau bahkan membaca kepribadian orang. Aku bahkan mengabaikan pendapat atau preferensi orang lain bahwa tidak semua dari mereka akan suka mempelajari atau dipelajari kepribadiannya. Namun karena aku cukup egois, terkadang aku mengabaikan kemungkinan itu dan tetap melakukan pembacaan kepribadian pada orang-orang, meskipun aku tidak membagikannya.

Dan hal ini mungkin membawaku pada kesempatan untuk bertemu pada salah satu pakar spiritual yang terlatih untuk memperbaiki kepribadian melalui mindset. Melalui sebuah workshop yang cukup singkat, serta konsultasi gratis yang rasanya masih baru dan awam. Aku sempat denying untuk kapabilitas mereka dalam memahami spiritual dan kepribadian seseorang. Karena sejujurnya praktisi kepribadian yang mengatasnamakan spiritual (selain agama atau kepercayaan), rasanya masih asing di telingaku. Aku hanya mempercayai praltek-praktek psikologi yang ilmunya jelas ada dan nyata.

Namun semua itu berakhir ketika sama halnya seperti tes MBTI, kepribadianku juga ditelanjangi oleh sebuah konsultasi singkat soal spiritual kepribadian ini.

Aku dan belasan peserta yang hadir diajak untuk menyelami diri sendiri melalui afirmasi. Dua kali percobaan. Di percobaan pertama mungkin kondisiku yang juga agak kurang baik, sehingga aku cukup terbawa suasana dan ikut menangis seperti peserta yang lain. Esoknya di kesempatan yang sama, ketika hampir semuanya menangis, aku justru merasa tidak ada emosi apapun. Mungkin saat itu aku merasakan kondisiku baik-baik saja.

Namun, ketika coach menghampiriku dan menepuk pundakku, beliau berbisik; "Kamu sempurna, Nak. Kamu tidak mempedulikan ucapan orang. Pertahankan. Tuhan memberkati."

Mendadak kondisiku yang baik-baik saja sebelumnya berubah jadi aneh. Kepalaku berat, rasanya seperti pening orang mengantuk. Aku bahkan tersentak karena kesadaranku nyaris terambil. Detak jantungku mendadak berdegup kencang seolah aku akan menghadapi ujian sebentar lagi. Hal itu terus terjadi bahkan setelah beberapa menit acara berakhir.

Tidak semua peserta mendapatkan 'pengucapan' dari coach. Jadi aku merasa bahwa kondisi yang kubawa saat itu adalah kondisi dimana aku dalam keadaan yang jauh lebih baik. Namun sangat berbeda terbalik dengan gejala fisik yang kepala dan dadaku alami. Kenapa?

Semua kembali terjawab ketika aku mendapatkan sesi konsultasi dengan beliau. Aku mengatakan yang sejujurnya tentang kondisi fisikku selama sesi afirmasi. Kemudian beliau bertanya, "Itu kamu menyerap energi negatif dari orang sekitar kamu. Kamu peka ya?" Aku yang ditanya seperti begitu langsung melempar ingatan ke memoriku, kemudian menjawab ya. Kemudian beliau kembali bertanya, "Kamu bisa melihat hal-hal yang tidak terlihat?". Dengan tegas aku menggeleng, kemudian meluruskan, "Tapi saya bisa sedikit membaca kondisi seseorang, kepribadian seseorang (dengan konsisten mengobrol). Bahkan saya bisa merasakan perasaan seseorang terhadap sesuatu."

Dari sana coach dan rekannya mengklaim aku adalah orang 'peka' yang bisa merasakan energi. Bahkan ketika aku ditanya soal apakah aku sering merasa tidak nyaman atau bahkan sakit ketika berada di tengah orang-orang toxic, aku merasakan aku sering merasakan tidak nyaman bahkan di sebagian besar kondisi. 

Aku tidak pernah mengklaim diriku bisa membaca kepribadian. Sama sekali tidak pernah. Namun, dalam beberapa kesempatan aku memang bisa menebak apa isi hati seseorang. Saat rekanku akan resign, bahkan aku sudah tahu niatannya itu sebelum dia menceritakannya padaku. Aku bisa mengetahui kondisi perasaannya dan alasan dibalik keputusannya resign, bahkan sebelum ia menceritakannya.

Aku hanya mengklaim aku bisa memahami orang, kepribadian, emosi, perasannya, melalui cukup pembicaraan atau pertemuan yang intens. Bukan berarti aku bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat, seperti traumanya, pengalamannya, emosinya, hanya dalam sekali bertemu tanpa cukup pembicaraan. Aku tidak sehebat coach dan rekannya untuk sampai di tahap itu.

Dan soal kesombongan. Aku mendeskripsikan kondisiku seutuhnya. Dan beliau berdua menamai aku dengan 'ada kesombongan dalam diri'. Dan aku dengan cepat mengiyakan. Karena aku merasa diriku mampu dan tidak butuh orang lain. Aku akan merasa lemah jika aku membutuhkan bantuan atau lebih tidak mampu daripada orang lain. Dan 'kesombongan' atau ego itu mereka bantu lepaskan dari dalam diriku. Meskipun aku mengaku alam bawah sadarku sulit terjamah bahkan ketika aku mengikuti sesi hipnoterapi di kesempatan lain.

Melalui bantuan beliau, aku menemukan perasaan yang lebih rileks. Kepalaku tidak lagi terasa berat. Degup jantungku kembali netral. 

Namun, selain perasaan lengang yang kudapatkan dalam sesi tersebut, aku juga membawa pulang rasa penasaran soal 'peka'. Beliau keduanya mengiyakan kondisi bahwa aku orang yang peka. Mereka dapat merasakan energi, dan aku yang denial sejak awal proses ini terjadi pada akhirnya merasa percaya ketika kedua coach merasakan akibat yang cukup signifikan saat mentransfer energi kepadaku. Salah satunya mengambil jeda diam cukup lama, kemudian ada pula yang berkali-kali batuk dan berdehem. Seolah aku menguarkan roh jahat yang paling berat untuk dieksorsis.

Klaim Sepihak Akibat Tidak Ada Diagnosa Klinis untuk HSP

Aku memiliki kesempatan untuk mengikuti banyak seminar atau coaching. Dan kurasa ini adalah salah satu seminar yang paling berbekas. Ya, karena aku bisa mendapatkan afirmasi positif dan pencerahan soal memperlakukan pribadiku lebih baik. Namun yang paling terpenting adalah karena pada akhirnya aku menemui fakta bahwa kemungkinan aku adalah orang yang 'peka'.

Aku mengingat aku pernah membaca artikel atau referensi soal kepekaan lebih pada manusia. Yang kemudian membawaku pada istilah HSP saat aku kembali coba mencarinya. Aku membaca beberapa artikel soal HSP, mulai dari penyebab, ciri-ciri dan bahkan dampaknya untuk kehidupan. HSP bukan penyakit mental seperti depresi atau anxiety, sehingga diagnosanya dan penanganannya tidak bisa dilakukan secara resmi.

Namun entah kenapa saat aku membaca ciri-cirinya, aku merasakan hampir semua ada pada diriku.

Mereka yang HSP memiliki kemampuan penyerapan energi berlebih dan mudah tidak nyaman pada kondisi yang kurang disukai. Mulai dari penciuman, penglihatan bahkan pendengaran. Dari situ aku membandingkan kenapa aku bisa sangat-sangat marah pada kondisi berisik yang diciptakan rekan kerja ketika aku butuh ketenangan. Atau kemampuanku menilai seseorang dan beberapa kali memang dibenarkan oleh mereka.

Aku yang selama ini mungkin kurang menyadari, salah satu penyebab aku sering mendadak pusing bahkan dalam kondisi paling baik pun. Atau sakit pundak, seperti ada beban. Dan banyak keluhan fisik yang ada. Mungkin banyak faktor penyebab lainnya, seperti terlalu stress, kurang istirahat atau bahkan kurang makanan bergizi. Bisa jadi.

Namun, semenjak kondisi HSP yang sangat sesuai dengan kondisiku tidak dapat didiagnosa secara klinis, rasanya sah-sah saja untuk mengklaim bahwa diriku adalah seorang HSP. Terlebih saat membaca ciri-ciri dan dampak negatifnya, aku merasakan adanya kesamaan yang cukup signifikan. Dari beberapa artikel yang kubaca, aku cantumkan beberapa contoh yang paling mendeskripsikan aku sejauh ini. 




Dan dari deskripsi di atas, aku bisa mendapatkan jawaban kenapa akudidiagnosa depresi kronis, stres berlebih, mudah annoyed, mudah terbawa emosi orang lain, menjadi pendengar yang care pada suasana hati orang dan cukup merespons berlebih pada kondisi tertentu. Yah, who knows? 













Share:

Sunday, June 4, 2023

Alokasi Satu Tahun yang Cukup untuk Mematangkan Sebuah Perasaan

 Aku tidak ingat lagu apa yang menemaniku kala menulis entri di blog tepat satu tahun yang lalu. Tapi yang kutahu, aku sedang ketularan orang-orang untuk mendengarkan SDP Interlude Extend Version-nya Travis Scott sekarang. Lagu yang bukan cuma menurutku, tapi juga menurut mereka bisa menghadirkan satu suasana yang berbeda. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa lagu ini seperti melemparkan kamu ke another space. Mereka seharusnya bisa menemukan istilah yang lebih baik untuk mendiskripsikan perasaan itu. Tapi kemampuan manusia memang terbatas, sehingga mereka hanya memilih perumpaan seadanya.

Berbicara soal satu tahun yang lalu, aku merasa ada banyak hal magis yang cenderung tidak masuk akal yang bisa secara kurang ajar muncul dari otak INFP sepertiku. Karena aku terlempar ke dalam jurang, menangis pada momen larut malam untuk satu orang yang sama. Untuk satu perasaan yang sama. Kamu bahkan bisa buktikan entri yang kutulis tepat satu tahun yang lalu. Di awal bulan Juni yang kala itu masih rutin hujan. Aku berpikir; apakah ini kebetulan? Atau justru sebuah jawaban karena setahun yang lalu aku meyakini perasaanku hanyalah perasaan berusia dua hari yang masih merah dan mentah. Perasaan yang kapanpun bisa terkikis dan terlupakan.

Nyatanya? Jauh di bawah kemampuanku, perasaan itu masih ada. Untuk orang yang sama. Dan bahkan memunculkan air mata yang tidak bisa aku tahan.

Aku menulis entri kali ini berbekal dari perasaan gamang dan aneh semalam. Ketika tubuhku benar-benar di luar kendali, merasa lelah dan sakit. Saat itulah pikiran senang, bingung dan takut bercampur ruah menjadi satu keutuhan. Aku tergoda untuk menenggak satu pil antidepresan, namun berkahir mengabaikannya. Mengingat dia bukan pemicu depresi, dia adalah hal baru yang sering kunikmati dalam kefanaan. 

Aku menerka apakah di luar sana masih banyak orang yang juga mengalami hal serupa. Ketika merasa kagum atau jatuh cinta, setiap berada di ruang yang sama, koneksi pikiran kita justru berada di luar angkasa. Membayangkan betapa indah dirinya, setiap detail yang ia punya, setiap proporsi yang terpahat pada dirinya, setiap hal kecil yang ia lakukan. Semua terasa lebih sempurna dan indah. Kalau itu hanya perasaan merah dan mentah, tidak mungkin akan bertahan sejauh ini. Selama satu tahun mengabdi dalam hati dan pikiranku.

Satu tahun. Di dua momen berbeda dengan suasana dan perasaan yang masih utuh sama. Apakah aku akan terus bertahan dalam diam? Pasif? Merelakan hal-hal di luar kendali untuk tetap menyembunyikan jati diri dan berdiam dalam dinding tebal seolah tidak ada yang terjadi?

Aku sudah siap jauh-jauh hari, perpisahan akan tetap terjadi. Dan dirinya akan tetap terhindar dari pengakuanku. Aku tidak akan pernah membiarkan kesempurnaan dirinya bersambut dengan semua deretan kelemahanku. Meski kini perasaan mentah itu sudah terkonfirmasi menjadi perasaan yang utuh dan matang. Aku tetap tidak akan pernah membiarkan dirinya tahu.

Daripada rasa cemburu melihat dirinya berada di ruang yang sama dengan yang lain, seperti yang pertama kudeteksi di tahun lalu. Aku lebih takut barangkali ketika kewarasanku hilang, aku mengotori ruangnya dengan reaksiku yang berlebihan. Seperti hal-hal yang kubuat di luar kendaliku, mengabadikannya dalam tulisan, karya, imajinasi atau bahkan doa. Siapapun pasti benci diperlakukan demikian oleh orang yang tidak punya level yang bahkan menyamainya.

Dan aku sangat sangat sadar diri. Di antara rentetan perasaan yang pernah kubangun untuk orang lain, perasaanku padanya menjadi perasaan yang paling sulit kutahan. Sebab ada banyak gap. Ada banyak perbedaan. Diiringi dengan hal-hal wajar yang terjadi di antara kita. Seolah aku mendapatkan banyak kesempatan tapi tidak boleh kupergunakan secara sembarangan. Mengingat aku hanya satu butir ingatan yang kerdil di otaknya yang megah. Hanya satu noktah hitam yang mungil tidak terbaca pada hatinya yang lapang. Aku bukan apa-apa buatnya. Dan tidak akan pernah menjadi apa-apa.

Entah apakah karena usiaku sudah sangat dewasa? Atau aku sudah pro dalam hal menyembunyikan perasaan? Rasanya aku tidak pernah merasa merindukannya secara berlebihan. Seandainya ia ada, aku mensyukurinya. Ketika tiada pun, aku tidak mengharapkannya. Aku membiarkan perasaanku padanya hilang dan datang kapanpun. Bahkan aku tidak pernah merasa gemetar gugup dan jantung berdegup ketika memiliki satu waktu atau satu atensinya. Semuanya berjalan normal dan tidak akan pernah terdeteksi oleh siapapun.

Hal terumit dari ini adalah ketika teori anima-animus Carl Jung sangat berkerja pada relasiku dan dia. Aku menemukan ada ketertarikan anima dan animus pada kami, seperti saling mengisi satu sama lain. Khususnya aku, yang merasa dia memiliki anima yang sangat sesuai dengan kepribadianku sebagai sulung pemilik egoisme tinggi. Oleh karenanya, ketika aku berkesempatan berkenalan dengan sosok lain yang memiliki anima berbeda, aku tidak merasa tertarik sekalipun. Tidak peduli ada berapa banyak kesamaan dan frekuensi serupa yang kita bangun satu sama lain.

Jadi, dibandingkan aku menyebutkan 'aku suka kamu'. Akan lebih sopan dan proper ketika aku menyebutnya 'kamu punya anima yang ngga ada di aku'. Sudah pasti ketika aku mengatakan ini (meskipun mustahil), orang secerdas dia pun akan mencaritahu di mesin pencari apa maksud ucapanku.

Anehnya aku terus mempelajari kepribadiannya. Entah kenapa. Seolah aku berusaha memahaminya jauh daripada yang ia bisa bayangkan. Aku mencoba mengenalinya dari banyak pembicaraan, pembahasan, kesempatan. Meskipun dia berhasil membuatku jatuh berulang kali, aku tetap merasa beberapa kesamaan mungkin menggerus skeptisme dalam pikiranku. Oh, dia melakukan ini jangan-jangan karena ucapanku kemarin? Ah, dia sengaja muncul seperti itu karena tau aku bisa gila melihatnya kan? Dia bertanya padaku duluan dan bukan keada yang lain? Ya ampun dia memikirkan hal-hal sederhana tentangku. Pikiran seperti itulah yang silih berganti menjadi amunisi bangkitku kembali dari keterpurukan pada fakta betapa jauhnya galaksi tempat kami hidup.

Dan karena semalam aku tidak bisa tidur, aku mencoba menghubungi beberapa temanku yang tersisa. Satu di antaranya sudah verified terpercaya untuk bisa kuajukan curhatan. Namun aku memilih cara agar ceritaku hanya sekali terbaca atau terdengar. Dan kutemukanlah satu metode yang paling tepat, yaitu menggunakan media tulisan online yang dulu pernah kupunya. Saat aku mencoba meraih tulisan-tulisan lamaku, aku menemukan betapa depresifnya mereka. Dan meskipun aku yang menulis, aku bahkan kagum dengan tata bahasa dan diksi yang kupilih. Terkadang semakin depresif sebuah otak, semakin banyak juga akumulasi kata padanan untuk penggambaran sempurna yang tercipta dari otak itu.

Aku kemudian mencantumkan media itu pada profileku, berharap saat aku mati nanti, tulisanku, karyaku, foto yang pernah aku ambil, video yang pernah aku buat, playlist yang pernah aku dengarkan, bisa dinikmati oleh mereka. Dan anehnya, saat aku berniat mengecek insight dari link itu, aku menemukan ada 69 kali klik dalam satu bulan terakhir. Wah, it ain't me I swear. Aku bahkan tidak ingat aku meletakkannya di sana. Dan seandainya aku membuka blog untuk membaca tulisaknku ulang, aku mengandalkan link utuhnya, atau membukanya melalui aplikasi.

Siapa ya yang sampai klik link itu 69 kali? Apakah dia sudah sampai membaca entri-entri pada blog ini? Apakah salah satu dari mereka adalah orang yang sudah menjadi bintang utama dalam entri ini? Btw, congrats! Kukira aku membuat blog hanya untuk memindahkan kebiasaanku mengabadikan dia dari masa lalu dari buku ke media tulis online. Ternyata kamu sudah mulai bisa mengambil alih posisi itu sejak satu tahun yang lalu.

Kamu ingat tidak apa yang kamu lakukan satu tahun yang lalu sampai bisa menimbulkan perasaan ini pada orang pasif sepertiku? Tetap baca tulisanku jika itu memang kamu, salah satu dari orang yang klik link 69 kali itu. Karena seperti yang kamu tau, aku adalah artist, seorang INFP yang membuat 'karya'. Sampai mati pun, jika kamu masih mengambil alih pikiran dan hatiku secara utuh, aku akan temukan seribu satu cara untuk tetap mengabadikanmu dalam karya-karyaku.

Btw, ini foto yang kuambil pas di Malang hehe ga ada nyambungnya sama entri ini tapi yaudahlah ya





Share:

Tuesday, May 16, 2023

Mereka Bersembunyi dan Tak Menyapa

 

Dua bulan berlalu sejak entri terakhir. Selama itu, tidak sekali pun aku melewati malam dengan tangisan keras yang mengambil kewarasanku untuk tidak terlelap. Aku juga tidak tahu kenapa depresi dan kecemasan kini bersembunyi cukup dalam, sehingga aku tidak lagi bersua dengan mereka. Meskipun demikian, aku merasa bersyukur. Aku setidaknya mampu berfungsi layaknya manusia seutuhnya.

Selama dua bulan berlalu, ada banyak peristiwa yang seharusnya kuceritakan. Mulai dari momen bulan Ramadan yang jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya. Seperti perasaan sederhana yang tercipta ketika aku tidak merasa lapar. Atau kefasihanku pada ibadah yang sedikit kubandingkan dengan teman-teman yang tidak melakukannya. Atau kesempatanku berbuka bersama dengan beberapa teman. Atau keinginanku untuk menyambut Hari Raya dan bertemu dengan banyak orang, sangat berbanding terbalik dengan tahun lalu yang memilih untuk mengunci diri di rumah dan tidak pergi kemanapun.

Dua perbedaan ini sangat bergantung pada penyakitku. Ketika ia bersembunyi cukup rapi, maka yang kurasakan adalah rasa senang pada hal-hal wajar. Bukan lagi ketakutan atau ketidakpercayaan. 

Dan pada momen yang paling kusyukuri, kesempatan menghabiskan cuti hari Raya dengan waktu yang lebih luang, dengan perasaan yang lebih tenang. Aku berkesempatan untuk keliling kota bersama sepupu dengan motor, mengunjungi cafe lokal dengan rasa kopi yang lumayan. Hal yang tidak pernah sempat kulakukan sebelumnya dalam waktu sempit. 

Pergi bertemu teman lama, teman kampus. Mengunjungi rumahnya, pergi foto dan makan bersama. Membicarakan banyak hal yang tidak terlampau intens. Lebih menginginkan bersua melepas rindu daripada mengadu nasib. 

Membuat janji dengan teman sekolah yang terakhir kali kutemui sekitar 7 tahun yang lalu. Melepas rindu sambil memakan ramen dan menyeruput kopi. Mendengarkan banyak konflik yang terjadi di antara teman-teman lainnya, berita yang secara kurang ajar kutinggalkan. Dan dengan sadar menamparku bahwa aku terlalu tidak peduli pada relasi yang seharusnya kubangun dan kujaga.

Menyempatkan pergi menyeberangi pulau, menyapa Kota Madura dan mencicip kulinernya. Melipir ke Tunjungan Plaza untuk melihat-lihat kehidupan super cepat khasnya Kota Surabaya. Menyapa kembali Malang, yang saat itu datang dengan mendung gelapnya. 

Liburan sederhana yang belum pernah kunikmati sejauh ini. Tanpa gangguan penyakitku. Tanpa gangguan pekerjaan yang berarti. Bahkan kuakui aku kembali berkerja dengan perasaan yang nyaman, fisik yang tidak terlampau lelah meski sejatinya aku menempuh perjalanan ratusan kilometer. Sekali lagi, penyakitku mengambil peran soal ini. Tanpa mereka, semua berjalan teramat normal dan baik.

Kemudian soal perasaanku. Aku masih sama halnya seperti yang dulu. Menyimpan dalam semua perasaan suka diam-diam. Mencoba menetralkan perasaan jengkel dan marah pada hal-hal sepele yang pemicunya tergolong tidak penting. Aku mendengar kabar soal dirinya, yang dalam waktu dekat akan menjadi sosok lain yang mungkin akan sulit kupahami. Daripada merasa takut akan kehilangan, aku justru menikmati hal-hal yang masih bisa kami bahas bersama.

Sebenarnya, perasaanku pada dia sudah lama netral. Aku mengandalkan kenyataan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Maka, tanpa perlu kutemukan, aku disuguhi beberapa kekurangannya yang jika dipaksakan berselaras denganku, akan sangat berpotensi besar untuk saling menghancurkan.

Jadi sisa waktu yang kumiliki hanya kugunakan untuk menikmati sisa kelebihannya yang terlihat. Hal-hal yang mengundang atensiku secara berlebih sebelumnya, yang tidak kutemukan dalam pribadi lain orang-orang di sekitarku.

Berjalan lebih jauh dari perasaan suka atau kagum, aku sempat dihadapkan pada kondisi yang sudah tertanam dalam radarku. Ketika aku mampu membaca pikiran seseorang bahkan sebelum ia mengucapkannya. Daripada kesulitan memahami apa yang hendak ia utarakan, aku lebih bingung bagaimana caranya bereaksi. Aku hanya bisa mendengarkan, menenangkan, meyakinkan. Dan kemudian menyadari bahwa aku bukan lagi pendengar dan pemberi solusi yang baik.

Klaim-klaim sepihak itu harusnya sudah kutanggalkan sejak lama.

Aku sudah kehilangan diriku sejak lama. Sejak penyakit ini mampir dan enggan pergi, hanya bersembunyi. Jadi, demi apapun aku tidak pernah takut kehilangan orang-orang di luar lingkup keluargaku. Mereka yang memutuskan datang, maka sudah seharusnya aku membiarkan mereka pergi. Dan ketika satu per satu orang yang pernah memilihku, pada akhirnya memilih yang lain, aku sudah cukup kuat dan tegas untuk ditinggalkan. Yang tersulit justru datang dari bagaimana cara aku semestinya bersikap? Apakah aku harus menangis? Apakah aku harus mengiyakan saja? Atau aku harus menahannya sekuat tenaga?

Yang terjadi adalah aku berusaha menjalankan fungsiku sebagai manusia. Mengutarakan hal-hal yang seharusnya diucapkan dan entah apakah itu memberi mereka makna atau tidak.

Oh ya, beberapa kali aku terlibat dalam seminar atau pelatihan tentang membaca kepribadian tim. Ada beberapa cara dan tips yang mereka sampaikan. Aku merasa beberapa hal sudah tidak cukup relevan denganku semenjak aku sudah menaruh lebih ketertarikan pada membaca kepribadian orang sejak lama. Dan setelah menemukan beberapa kepribadian, aku merasa enggan untuk mencaritahu kepribadian-kepribadian lain untuk sekarang. Bahkan aku masih merasa bingung dengan kepribadian sendiri, yang terkadang berubah sesuka hati.

Tapi kepribadian baru yang sudah mencapai level diriku kali ini adalah 'pemarah'. Sejauh yang aku tahu, aku adalah tipikal orang yang menghindari konflik, menjunjung kedamaian, sampai-sampai fokus pada ketenangan jiwa dan dianggap cuek. Namun, akhir-akhir ini emosiku gampang tersulut untuk hal-hal kecil. Ada sedikit saja celah untuk memicu amarahku, maka kesabaranku yang dibatasi dinding tipis setipis tisu akan pecah berantakan. Ketika orang tua atau rekan kerja menggunakan nada yang agak tinggi, maka kubalas dengan nada yang agak tinggi juga. Ketika aku fokus berkerja, dan beberapa orang menganggu, aku tidak segan memarahinya.

Aku sudah sampai ditahap, bagaimana untuk melatih kesabaran? Apakah aku perlu yoga? Hahahaha. Tidak masalah, apapun akan kulakukan selain harus menghadi godaan untuk melukai diri lagi.







Share: