Saturday, August 14, 2021

That Ain't The Gifted, That's Only About INFP

  

Untuk ukuran seseorang yang sudah melewati nyaris seperempat abad usia, aku merasa ada banyak sekali PR dalam mengenali diriku sendiri. Aku terbilang terlambat memahami karakterku seperti apa, bahkan aku merasa kesulitan menjawab saat ditanya tentang apa kelebihan dan kekuranganku. Semua jawaban itu perlahan muncul di tengah pengalaman hidup yang semakin kompleks seiring bertambahnya usia.

Jika boleh jujur, blog ini adalah blog kesekian yang aku punya, serta platform kesekian pula yang kujadikan tempat pelarian menulis. Kukira—dulu, aku hanyalah seorang anak yang dikaruniai kemampuan menulis akibat hobi membaca sejak kecil. Tulisan-tulisanku berkembang pesat berangkat dari banyak jenis tulisan yang aku konsumsi waktu demi waktu. Kukira hanya itu. Sekadar itu.

Namun, di lain kesempatan aku juga merasa sangat terganggu dan jengkel ketika melihat seseorang membuat garis tidak lurus, menulis dalam desainnya menggunakan font yang penuh dan berantakan, mengetik sebuah jurnal ilmiah atau surat penting tanpa memperhatikan PUEBI, me-rename judul lagu tanpa menulis nama penyanyinya. Semua membuatku geram dan kesal. Perasaanku tidak enak. Namun sebagian besar hal-hal demikian aku berusaha untuk menganggapnya angin lalu. Sebab jika aku terlalu mengurusi hal-hal kecil seperti itu, mereka akan menganggapku aneh atau maniak.

Sampai managerku pernah berkata bahwa ia memahami dan menilaiku sebagai seorang perfeksionis. Dalam bayanganku, seorang perfeksionis menuntut ruangannya serba bersih dan rapi, marah jika ada barang yang tidak diletakkan di tempatnya. Sedangkan aku tidak sedetail itu. Aku tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan orang-orang perfeksionis. Namun, setelah disebut demikian oleh managerku, aku terus kepikiran; apakah aku sungguhan perfeksionis?

Dan juga tentang introvert—istilah yang sering disalahartikan oleh kebanyakan orang sebagai tipikal orang yang tidak mampu terlibat dalam ruang sosial. Dulu aku sempat berpikiran sama, bahwa diriku adalah seorang introvert yang tidak terlalu mahir membaurkan diri dengan lingkungan sosialku. Nyatanya, beberapa kali aku menemukan kondisi lingkungan baru, aku selalu dan nyaris merasa tidak pernah kesulitan untuk menjadi bagian dari mereka. Bukan sosok yang mencolok, namun bukan sosok yang dikucilkan juga.

Lantas aku menyadari bahwa istilah introvert ditujukan pada mereka yang mengumpulkan kembali energinya dengan cara menghabiskan waktunya sendiri. Mereka adalah orang-orang yang tidak betah berlama-lama di kerumunan, cepat terkuras energinya di tengah kegiatan yang melibatkan banyak orang. Dan itu sangat sempurna untuk kondisiku kebanyakan.

Kembali lagi ke awal, tentang PR untuk mengenal diriku. Sebenarnya sejak blog ini dibuat sekitar 3 tahun yang lalu, aku merasa semakin asing dengan diriku sendiri karena aku mengalami banyak peristiwa yang belum kutemui penyebab dan istilahnya. Aku hanya mampu menerka-nerka dan menuangkannya ke dalam entri-entri di blog. Total 27 ribu tweets yang kutulis pun cukup membuktikan betapa ‘berisik’ diriku dalam mengekspresikan diri. Kukira aku hanya butuh tempat ‘curhat’ untuk sekadar melepas beban, nyatanya aku adalah tipikal orang yang ekspresif dan imajinatif—sehingga bentuk pelepasanku tersebut bukan sepenuhnya untuk mengurangi beban, melainkan juga membiarkan orang lain tahu tentang sudut pandang dan imajinasiku.

Entri ini agaknya cukup berelasi dengan entri ‘Being The Gifted is A Disaster’ yang kutulis sebelumnya. Di sana aku mengeluh tentang ‘kemampuan menulisku’ yang kelewat batas, mengeluh tentang rasa kesepian yang mendera namun tidak juga ingin orang sepenuhnya ‘melekat’ padaku. Kukira itu semua kurasakan paska aku mulai mendeteksi adanya kecenderungan penyakit mental pada diriku sendiri, nyatanya semua ini tidak mungkin terjadi bila aku bukan seorang INFP.

INFP adalah salah satu tipe dari total 16 tipe kepribadian melalui tes MBTI yang cukup terkenal. Bahkan tokoh-tokoh dunia pun dikenal oleh tipe kepribadian mereka juga selain golongan darah atau zodiaknya. Dulu aku pernah mengambil tes MBTI yang tentunya kuisi atas dasar have fun. Namun entah mengapa setelah banyak waktu berlalu terpikir olehku ada baiknya kalau aku coba mengambil tes yang sama. Dan ya, meskipun soal yang diajukan tidak berbeda dengan tes yang dulu pernah aku ikuti, hasilnya sedikit berbeda dengan sebelumnya.

Jika dulu aku adalah seorang Campaigner (ENFP)—(E) Extavarted, (N) Intuitive, (F) Feeling, (P) Prospecting, maka sekarang aku menjadi seorang Mediator (INFP)—(I) Introverted, (N) Intuitive, (F) Feeling, (P) Prospecting. Hanya berbeda di bagian ekstrover dan introver saja, namun deskripsi yang aku terima dari keduanya sedikit banyak mengalami perubahan.

INFP adalah sungguhan aku. Saat aku membaca penjelasannya, aku ditarik ke momen nyata sebagai bukti bahwa aku sunggahan INFP. Itu memang kepribadian yang kumiliki bahkan sejak aku kecil, hanya beberapa saja mengalami perubahan seiring banyaknya pengalaman dan persoalan yang dihadapi.

Fakta utama seorang INFP adalah mereka yang intorver; kenyataanya aku hanya merasa exciting saat diajak pergi ke tempat baru atau ke sebuah pertemuan, namun setelah beberapa jam atau bahkan hanya dalam waktu beberapa menit, aku merasakan kelelahan. Aku segera ingin pulang. Aku tidak aktif lagi dalam obrolan, atau bahkan ketika teman-teman lain sibuk mengambil foto selfie, aku hanya menggeleng dan memilih duduk menunggu mereka.

Fakta kedua—aku sering disebut cuek, judes dan bahkan tidak bisa didekati oleh orang-orang baru. INFP dikonotasikan sebagai tipe paling pemalu di antara keenam belas tipe MBTI. Mereka merasa tidak nyaman dengan banyak orang baru, sehingga banyak orang menyalahartikan mereka (khususnya aku) sebagai orang ‘jahat’ dan ketus.

Kenyataanya, INFP adalah orang yang sering tenggelam dalam lamunannya sendiri. Sebagai kepribadian yang imajinatif, INFP melupakan keberadaan orang di sekitarnya (realita) dan lebih tenggelam dalam pikiran-pikiran visioner mereka. Sebagai salah satu contoh; di kantorku setiap hari Rabu kita secara bergiliran diberikan waktu untuk sharing soal pengalaman, saat itu giliranku masih lama, tapi aku sudah memikirkan ke depannya aku harus menceritakan apa, bahkan saat mengendarai motor atau saat mandi aku sampai berlatih menceritakan pengalaman yang akan aku share nanti saat giliranku tiba.

INFP adalah pendefinisi yang baik. Akibat pikiran mereka yang cenderung imajinatif dibandingkan realistis, INFP mampu mengaitkan banyak hal kepada satu titik fokus topik pembicaraannya. INFP mampu membuat perumpamaan, istilah-istilah, serta kalimat metafora yang bisa membantunya untuk menjelaskan maksud yang ingin disampaikan kepada orang lain. Tidak heran, jika INFP adalah orang-orang yang gemar menulis atau bercerita. Dia menjabarkan hal sederhana secara runtut dan detail. Bahkan tidak jarang sampai melakukan revisi jika penjabarannya dirasa kurang.

Aku sering kali berpikir bahwa beberapa pekerjaanku yang tidak mampu kuselesaikan adalah sepenuhnya efek dari kondisi mental tidak stabil yang kualami. Aku menamakannya sebagai susah fokus, kehilangan minat dan mudah merasa lelah, sesuai dengan gejala depresi yang kutemui sejauh ini. Mungkin ada benarnya demikian, namun ternyata itu tidak jauh dari pengaruh kepribadian seorang INFP yang terlalu mengembangkan banyak hal, perfeksionis dan imajinatif.

Dalam sebuah pekerjaan di kantor, aku merasa terganggu saat ada satu bagian yang kurang. Aku juga berpikir bagaimana jika ini, bagaimana jika itu, tidakkah lebih baik begini atau bukankah lebih baik begitu. Aku juga berimajinasi di tengah pekerjaan, jika aku begini seharusnya aku begini. Banyak sekali kesempatan yang mampu mendistraksi aku dari fokus pekerjaan. Bahkan saat partnerku memiliki hasil kerja yang tidak sesuai standar yang biasa kulakukan, aku akan kesal dan memikirkannya secara berkepanjangan.

Kekuatan INFP dalam memegang prinsip memang cenderung mengerikan. Aku lebih senang melakukan hal-hal sesuai prinsip dan mengkesampingkan prinsip orang lain sehingga dicap sebagai orang yang sombong dan keras kepala. Bosku sering memintaku untuk menambah jumlah sesuatu, namun karena aku berprinsip dengan jumlah sebelumnya saja sudah cukup dan jika ditambah hanya akan menghabiskan ruang, aku menolak melakukan permintaan itu meskipun beliau adalah bosku.

Aku juga sangat sering melakukan hal-hal berdasarkan perasaan. Ya, sebagai kepribadian yang 54% sifatnya mengedepankan emosi ketimbang rasional, aku selalu mengambil keputusan dan berprinsip di atas toleransi kepada yang lainnya. Aku cukup sering terlibat perdebatan dengan orang yang menuntut kuntitas daripada kualitas. Kuantitas yang ideal tapi mengesampingkan perasaan banyak orang adalah pembohongan buatku. Aku lebih suka menjanjikan kualitas dengan tetap memperhatikan perasaan orang lain. Aku mudah tersentuh oleh kemanusiaan, untuk itulah banyak orang yang mau terbuka denganku.

Aku mampu menenangkan mereka, mengambil nasehat dari berbagai sudut tanpa menghakimi mereka. Mereka merasa nyaman dan sering kali berterima kasih. Karena kebaikanku, aku juga kerap kali dimanfaatkan. Mereka hanya lari padaku ketika mereka butuh dan melupakanku ketika aku yang membutuhkan. Aku tahu, tidak semua orang berkapasitas sebagai pendengar dan pemberi nasehat yang baik sepertiku. Namun aku mengusahakan semuanya agar ketika aku berbalik membutuhkan mereka untuk menjadi pendengar, mereka ada buatku.

Nyatanya?

Ah, aku ingat.

Aku pernah menjadi sangat INFP hanya dalam satu peristiwa. Dulu saat aku masih berteman dengan Lonte—sebut saja demikian, toh dia pun sudah tahu aku menyebutnya demikian—, aku ‘mengeluarkan’ semua kriteria kepribadian INFP-ku.

Saat Lonte pertama kali mengenalku, dia mengaku merasa kesulitan menembus dindingku yang tebal dan kokoh. Seolah aku tidak terbuka berkenalan dengan sembarang orang. Namun seiring waktu, aku bisa menemukan beberapa kesamaan sehingga aku mulai perlahan terbuka. Harus kuakui persamaan usia dan setidaknya lingkungan masa kecil membuatku menemukan Lonte sebagai sosok yang paling bisa melihat sisi terdalamku. Kami terlibat banyak sekali kesamaan, sehingga tidak sulit bagiku menjadi dekat dan terbuka dengannya.

Bahkan saat dia mengalami peristiwa terburuk pun, seperti pada INFP pada umumnya lakukan, aku pun menaruh simpati padanya. Aku melihat dia dari celah terbaik (tentu karena dia temanku) yang juga selalu aku lakukan kepada banyak orang lainnya. Dan meskipun dia melakukan hal yang tidak termaafkan, sampai detik terakhir aku masih saja menenangkannya, mendukungnya, membantunya.

Aku tidak tahu jenis kepribadian apakah si Lonte ini, dia jauh lebih teguh pada prinsipnya daripada seorang INFP bisa lakukan. Dia tetap melakukan kesalahan tidak termaafkan itu bahkan setelah banyak peristiwa buruk terjadi. Nasehat dan dukunganku dianggap angin lalu. Aku pun yang sudah sangat baik hati padanya ‘terpaksa’ mundur. Kubangun prinsip terjahat yang pernah aku lakukan pada seseorang.

Aku tidak akan mau memberikan kepercayaanku lagi padanya.

Detik itu, sebagai atasannya di kantor, aku mengerjakan semua pekerjaan sendiri—tanpa meminta bantuannya. Aku berusaha sebisa mungkin membuat kepercayaan-kepercayaan itu hilang darinya. Aku berusaha menegaskan bahwa dia tidak lagi bisa dipercaya—bahkan pada pekerjaan yang biasanya ia lakukan.

Untuk menekankan prinsip yang aku buat, aku memutuskan untuk tidak mengajaknya bicara sama sekali. Bukan sebagai seoarang introver yang sering tenggelam dalam lamunan, melainkan karena aku mempertegas prinsipku untuk tidak melibatkan fungsinya lagi sebagai partner kerja.

Dan voila! Dia kelabakan. Dia mencari jawaban atas diamku. Dia masih menganggapku teman di saat aku sudah memblacklist-nya dari daftar orang-orang kepercayaan seorang INFP yang sulit ditemukan. Aku merasa kehilangan orang yang sekapasitas. Namun itu lebih baik dibandingkan aku harus melihat tingkah laku bocah yang menyulitkanku yang dilakukan oleh seseorang berusia 23 tahun. Dan diamku itu kurasa menjadi salah satu alasan dan pertimbangan dia memutuskan resign.

Kurasa hal-hal seekstrim itu hanya bisa dilakukan orang-orang berkepribadian khusus seperti INFP. Tidak mudah goyah dan keras kepada prinsip. Jika aku mudah goyah, sudah sejak lama mungkin aku terjerumus pergaulan teman-temanku yang minum minuman beralkohol, merokok, bahkan clubbing.

Namun, jika diingat kembali tentang betapa keras kepalanya aku. Ada beberapa momen yang membuatku sadar bahwa seorang INFP sangatlah kompleks. Rasanya seperti ada dua kepribadian yang bersemayam dalam tubuhku. INFP bisa jadi sangat pendiam, namun bisa pula menjadi sangat keras dan berisik. INFP bisa sangat kuat dan kokoh, namun bisa pula menjadi sangat lemah dan rentan. INFP bisa jadi sangat kesepian dan butuh teman, namun bisa pula lebih memilih sendirian dan tidak mau diganggu. INFP bisa sangat percaya diri dan potensional, namun bisa pula mendadak minder dan menutup diri.

Bahkan dikatakan juga selain sebagai salah satu kepribadian yang pemalu, INFP sepertiku juga adalah sosok yang kompleks—yang banyak membuat orang penasaran untuk mendekat, namun lebih banyak yang menyerah karena kebingungan.

INFP yang terlalu idealis-perfeksionis tidak mudah bekerja dengan orang-orang yang hanya menuntut hasil. Bagiku proses itu perlu dan harus dilakukan sebaik mungkin.

INFP yang cenderung berimprovisasi tidak bisa mengenal arti ‘rencana bulan depan kita blablabla’ atau ‘ini harus ada target perminggunya’. Aku lebih mampu dan mentolerir hari ini ketemu yuk dan langsung gas, ketimbang besok ketemu yuk ternyata tertunda sesuatu yang berat sepihak.

INFP yang berpikir prinsipnya adalah yang terbenar membuatku selalu menilai siapapun laki-laki yang melecehkan perempuan secara verbal atau fisik adalah penjahat. Dan perempuan yang ‘membuka’ atau ‘mudah’ pada laki-laki yang bukan suaminya adalah lonte.

INFP yang seorang introver yang tidak introver membuat mereka terlibat oleh banyak kegiatan, namun tidak akan bertahan lama. Energinya akan cepat terkuras habis jika mereka berda dalam sebuah pertemuan yang memakan durasi lama. Bagiku, pekerjaan dan hal-hal yang melibatkan keramaian atau bertemu orang baru sangat melelahkan.

Sebagai seorang INFP, kemampuan imajinasiku digunakan secara baik dalam membuat banyak konten. Perfeksionismeku juga digunakan secara proper pada detail desain atau hal-hal yang kuedit. Penjabaranku yang baik digunakan dalam copy writing, bahkan sesekali kugunakan untuk menyampaikan ide dan sudut pandangku pada sesuatu di kantor. Introvert-ku digunakan pada ke-profesionalisme-an dalam bekerja, aku tidak membuat banyak relasi pertemanan (meskipun terkadang aku merasa kesepian), sehingga aku tidak terikat dengan orang dan kecenderungan konflik.

Aku sehebat dan secerdas itu. Tapi kenapa sampai detik ini aku masih sering kali ingin mati.

Ada banyak keputusan-keputusan berat yang telah berhasil aku ambi. Ada banyak fase-fase sulit yang berhasil aku lalui. Aku tidak terlibat sesuatu yang tidak perlu. Aku melakukan hal yang kusuka meski dianggap aneh bagi orang lain. Aku keras pendirian meskipun sering dicap kasar dan sombong. Aku tidak memiliki teman sehingga tidak ada kesempatan mereka menusukku dari belakang. Aku secara terbuka mengatakan aku tidak suka seseorang. Aku menjauhi mereka yang merepotkan.

Aku dewasa. Aku kuat. Aku berpendirian.

Tapi aku tetap takut memandang ke depan. Di depan masih terlihat gelap. Dan yang kupikir adalah tetap kematian.

 

 

 

 

 

Share:

Friday, August 6, 2021

BEING THE GIFTED IS A DISASTER

  

Jam sudah nyaris menunjukkan pukul 10 malam saat aku memutuskan membuka laptop dan memikirkan kalimat itu sebagai judul entriku kali ini. Setelah adanya banyak hal yang kulalui hari ini, obrolanku dengan teman online serta kompilasi pikiran-pikiran di kepalaku yang selalu berisik. Apalagi kalau bukan bakat alamiku yang mahir mendefinisakan hal-hal sederhana menjadi sesuatu yang besar dan kompleks. Mengaitkannya dengan sesuatu yang lain, mencari sudut pandang yang luas. Dan kemudian menuangkannya dalam tulisan.

Hari ini aku bertemu satu partner kerjasama perusahaanku. Kami terlibat perbincangan banyak meskipun yang kubicarakan dengannya bukan inovasi masa depan atau urusan politik yang menyebalkan. Aku hanya membahas pengalamanku dan hobiku, kemudian ia meresponsnya dengan antusias meskipun rasanya agak perlu usaha yang cukup untuk menyamaratakan pola pikir dan pembicaraan kami mengingat age gap kami cukup lebar.

Aku mengaku aku sedang memperbaiki pola kehidupanku untuk mengatasi stress akibat pekerjaan. Aku sudah bosan lima hari dalam total tujuh hari aku gunakan untuk bekerja, sedangkan sisa dua harinya hanya aku gunakan untuk rebahan, scroll social media, nonton, tidur atau sesekali jalan-jalan. Tidak ada kegiatan produktif sama sekali. Aku dulu sempat mengelu-elukan pekerjaanku sebagai kegiatan positif yang produktif, aku bangun pagi, berangkat kerja jam 8, ikut meeting, menyelesaikan deadline, terlibat diskusi krusial, menerima gaji. Hal-hal yang sempat kurasa menjadi lebih baik paska aku banyak menghabiskan diri di rumah sebagai pengangguran.

Nyatanya, depresi itu masih ada.

Beberapa kali aku mengunduh aplikasi di Play Store, salah satunya game role play. Di sana aku harus menjaga persentase kehidupanku agar berjalan dengan baik dan panjang umur. Salah satu caranya adalah beberapa opsi untuk self-improvement, seperti olahraga, les alat musik, mengikuti kelas bela diri, meditasi dan membaca buku.

Kemudian beberapa hari yang lalu aku merasa mood-ku jadi gampang naik turun. Lalu kuputuskan untuk mengunduh aplikasi mood tracker yang dulu pernah aku tinggalkan. Di opsi kegiatan yang ada di aplikasi itu menyantumkan istilah ‘saya yang lebih baik’ dan kegiatannya meliputi mendengarkan orang lain, berbagi, memberi hadiah, berlatih bahasa, mengikuti les musik dan tentunya membaca buku.

Dari sana aku menyadari betapa pentingnya self-improvement. Khususnya untuk orang sepertiku yang masih sering berpikir bagaimana cara mati yang tidak merepotkan.

Aku berpikir membutuhkannya setelah aku terlibat kekecewaan besar dari orang-orang yang pernah menolong dan kutolong dulu via online. Since I was too care with strangers, banyak orang yang menganggapku baik dan membalas kebaikanku dengan balik peduli. Namun seiring berjalannya waktu, ketika aku ingin menjauhi mereka dan mengambil space untuk menenangkan diri, setelah aku kembali aku sadar mereka bukan lagi orang yang sama seperti yang terakhir kali aku temui. Mereka seperti mencampakkanku, membuangku dan menganggap aku ‘sudah mati’.

Sedangkan satu-satunya tumpuanku selama setahun terakhir, pada akhirnya menyerah untuk menguatkan aku yang tidak lagi bisa dikuatkan, memahami aku yang bahkan kesulitan memahami diriku sendiri. Semua peristiwa itu terjadi teramat cepat dalam kelebatan mata. Dan seketika aku sadar, aku adalah ‘orang spesial’ yang tidak pantas berteman dengan sembarang orang, adalah  ‘orang spesial’ yang tidak bisa dikendalikan dan ditolong oleh sembarang orang.

Dan kemudian aku sadar, yang bisa mengatasi dan menolong diriku sendiri hanyalah aku.

Saat itu aku putuskan semua relasiku dengan mereka. Kuucapkan aku tidak akan pernah menghubungi mereka lagi. Aku menghapus semua kontak mereka dan memohon agar semuanya kembali ke nol—saat kita belum kenal satu sama lain. Sebuah keputusan yang tergesa dan cenderung berat. Karena aku kehilangan banyak support system dalam satu waktu sekaligus.

Setelah kehilangan mereka, aku mulai mencari cara lain untuk ‘mengalihkan’ diriku. Salah satunya adalah mengunduh mood tracker dan money manager untuk menemukan pengalihan kesibukan baru. Aku mencoba menjadwalkan kembali membaca buku di kala senggang, coba menonton film dan series dengan bahasa Inggris, mencatat kosa kata baru bahasa Inggris di buku catatan, kemudian menjadwalkan beberapa waktu untuk belajar bahasa Inggris sendiri.

Aku juga mencoba membeli buku lagi, membuat playlist baru yang jenis lagu-lagunya belum pernah aku dengarkan sebelumnya, mencoba memantau keuanganku agar tidak terlalu boros, mendaftar film dan series apa lagi yang perlu kutonton serta memaksa diriku mati-matian untuk kembali ber-passion ­dalam melanjutkan novel.

Aku berkedok ‘melarikan diri’ dari stress pekerjaan, padahal sejatinya aku hanya coba mencari cara untuk tidak merasa kesepian.

Dia tidak pernah tau what actually I’m dealing with. Dia hanya merespons ‘wah, keren ya’ atau ‘saya salut sama orang yang punya waktu untuk baca’.

Namun kalimat-kalimatnya hanya melemparku jauh pada awal semua berkat ini.

Sejak kecil aku diberkati kemampuan membaca yang di atas anak pada umumnya. Aku sudah bisa membaca di saat teman-temanku masih mengeja. Aku pernah diiming-imingi akan dibelikan banyak buku dongeng saat aku sudah bisa baca. Saat itu motivasiku jelas, sederhana dan tidak banyak yang mampu menyamai. Keinginanku hanyalah memiliki buku cerita sendiri dan bisa membacanya kapanpun aku mau.

Lalu, setiap kali aku kembali ke sekolah paska liburan. Guru bahasa Indonesia akan meminta siswanya untuk menulis pengalaman liburan dalam dua lembar kertas double folio. Ketika siswa lainnya kesulitan bahkan menuliskan cerita di satu halaman saja, aku malah butuh empat lembar kertas double folio untuk bisa menuliskan kegiatan liburanku yang hanya dihabiskan di rumah dan pantai saja.

Dari sana kemampuan membacaku bertransformasi menjadi kemampuan menulis. Aku akan sangat gelisah jika kosa kata yang aku temukan saat membaca tidak mampu aku bebaskan lewat tulisan. Aku akan sangat gelisah jika rentetan skenario yang aku temukan sebagai ide tidak aku tuangkan dalam tulisan. Dan sejak usiaku baru 8 atau 9 tahun, aku sudah berhasil menulis puluhan cerpen.

Cerpen-cerpen it uterus berkembang menjadi novel. Dan novel-novel itu berkembang menjadi skrip drama, film, aku mengatur tata panggung, pelafalan dialog, mimik wajah, kemampuan akting, sampai make up. Aku juga memutuskan scene apa yang harus aku cut, sudut kamera mana yang harus digunakan, seberapa besar intonasi dan lokasi mana sebaiknya shooting dilakukan.

Dan Demi Tuhan kenapa aku masih saja berfokus pada sastra?! Apakah sampai sebesar itu pun aku belum mampu memahami bahwa dilahirkan dengan kemampuan membaca dan memulis harus melulu diarahkan pada sastra? Apakah sastra satu-satunya jawaban?

Ternyata perjalananku dalam menemukan ‘berkat’ dan ‘kemampuan’-ku tidak berhenti di sana. Saat aku ditarik ke head office untuk meng-handle pemasaran, aku dituntut mampu menguasai peralatan desain dan strategi promosi. Aku fasih bahkan di bulan pertama terjun. Aku berkembang pesat akibat semuanya berjalan sesuai minat. Aku melakukan banyak improvisasi dan bahkan menemukan banyak solusi.

I’m gifted. Maka dari itu ‘mereka melihatku’…

Aku yang baru menemukan bakat lainnya menjadi semakin terpuruk dan merutuk. Menyesali keputusan di belakang. Dan menjadi bingung mana passion yang harus kutekuni.

Aku terdidik suka membaca, wawasan dan sudut pandangku terkait hal-hal sederhana selalu luas. Aku mahir menjabarkan satu kata menjadi ratusan kata. Untuk itulah jika ada satu saja hal yang mengganggu, aku akan memikirkannya terus menerus. Aku akan membuat kemungkinan-kemungkinan lain dari satu hal tersebut. Dan itu amat sangat melelahkan.

Aku juga dibentuk sebagai orang yang pandai memainkan kata, menemukan istilah terbaik untuk hal—bahkan hal terburuk sekalipun. Jadi, jika penat, dendam, amarah yang kurasakan tidak segera dibebaskan lewat tulisan, aku akan terus kepikiran. Jadilah aku terlalu frontal di sosial media. Aku tuliskan kebencian dan kekaguman di nyaris semua platform yang aku punya. Dengan harapan aku hanya butuh ‘menuangkan’, tidak berusaha menyindir seseorang. Karena sumpah, jika pikiran itu tidak kubebaskan dengan tulisan, aku sungguhan bisa mati karena overthinking.

Dan depresi ini masih saja mengikatku. Berkah itu masih ditahan oleh sesuatu yang menyebalkan seperti rasa malas, pesimis, membandingkan diri dengan orang lain, anti-sosial, susah fokus, selalu muram, tidak mau ribet dan lain sebagainya. Jadi pengembangan diriku serasa tertunda oleh hal-hal tersebut.

Kemudian, tadi pagi orang yang pernah kuanggap sekapasitas, orang yang pernah kukagumi dan kuelu-elukan bahkan di hadapan temanku—pada akhirnya membuatku menemukan titik jenuh. Dia marah untuk alasan yang sederhana, bersamaan dengan kondisi hatiku yang tidak sedang baik. Dia juga berbicara banyak denganku, seperti akulah satu-satunya harapan dia untuk mengerti kondisinya. Dia tidak tahu yang ia hadapi adalah aku, orang paling penuh isi kepalanya oleh perdebatan. Orang yang tidak seratus persen mengiyakan cerita dan pendapatnya.

Hari ini aku merasa seperti menemui batas akhir aku bisa mengandalkannya.

Dan ya, itu artinya baik di online dan real life pun aku benar-benar sendirian.

 

Share:

Saturday, July 24, 2021

This is My 3rd Years and I Still Remain The Same

 

Ini hari kesekian di tahun 2021 dan aku masih saja berpikir tentang kematian. Tapi kemudian aku ditarik pada ego diri sendiri, kepuasan dan kebanggaan bahwa sebenarnya aku tidak seburuk itu. Kadang aku berhasil menyelesaikan sebuah pekerjaan, mendapatkan ucapan terima kasih, lantas aku berpikir bahwa aku masih dibutuhkan. Atau ketika aku menemukan seseorang yang mendengar ceritaku, menghargai kesukaanku, mendukung pilihanku, lantas aku merasa aku masih pantas untuk hidup lebih lama lagi.

Namun malam adalah peperangan, ketika aku merasa sepi dan hampa tanpa teman. Mereka datang begitu saja padaku oleh keadaan, namun aku menghindari seolah aku mendamba kesendirian. Aku takut. Aku takut melihat keramaian. Aku takut mereka mengobrak-abrik diriku. Takut mereka mengetahui identitasku. Aku melarikan diri menjemput kesendirian kemudian merasa hampa tanpa mereka.

Aku teringat pada momen beberapa tahun yang lalu ketika ketujuh orang yang dalam waktu nyaris bersamaan bisa memendam rasa kagum pada kepribadian dan karakterku. Dan dalam beberapa hari terakhir aku pun mendengar poin penilaian tentangku dari sudut pandang orang lain. Aku cukup menyenangkan, bisa diajak berteman, asyik untuk diskusi, pintar, inovatif, good listener, misterius, humoris. Banyak poin plus yang menjadi alasan pertimbangan kenapa aku harus mati?! Kenapa aku memikirkan cara untuk bunuh diri?

Namun kemudian aku ditarik pada kenyataan pada malam-malam sepulang lelah bekerja, aku mengecek ponsel dan semua sosial media yang aku punya tidak mampu menarik perhatianku. Tidak ada chat. Tidak ada notif. Tidak ada yang peduli. Hanya hampa dan sepi. Di situlah aku kewalahan mengalihkan pikiran bunuh diri dengan cara yang tidak membantu banyak.

Aku sempat mendownload Prisga, salah satu aplikasi anonim hanya untuk mendapatkan perhatian. Aku juga pernah menjajal anonym chat di Telegram hanya untuk menemukan seseorang untuk bisa diajak cahttingan. Aku juga pernah mencoba Soul, aplikasi sosial yang sedang tenar hanya untuk bisa mengobrol dengan orang-orang dari berbagai dunia. Aku coba mendekatkan diri kepada teman-teman di Twitter, mencari celah problem yang ia punya, mendengarkannya, memberinya ketenangan dan motivasi—hanya untuk berharap they will do the same if I need them later.

BUT IT ALL DOESN’T FUCKING WORK ON ME AT ALL!!!

I’m sill hoping to die. Lagi dan lagi.

Demi Tuhan, aku sudah coba banyak sekali cara untuk melarikan diri. Termasuk saat ini, ketika aku hanya menjadikan entri-entri di blogku sebagai pelarian dari pikiran bunuh diri. Aku sudah menyerah dengan hampir semua caraku. Aku hebat, aku berbakat, aku masih dibutuhkan, aku berpotensi, aku punya skill, aku pintar, aku penuh ide, tapi aku tetap merasa tidak berguna dan ingin mati.

Aku tidak bisa menemukan masa depan. Aku sudah mengambil jalan beputar dari jalan lurus dan mudah yang pernah dipilihkan Tuhan. Aku sudah kehilangan sebagian pondasi untuk masa depanku sendiri. Semua ketakutan itu akan tetap menghantui di belakang dan bisa menyerangku kapanpun.

I hate myself, but I do love myself too. The option it’s hard.

Aku akhir-akhir ini menemukan diriku menjadi lebih serakah. Aku mencari orang-orang anonim dan teman-teman lama untuk berbagi cerita. Aku bebankan ceritaku pada mereka agar sedikit terlepas beban sesak di kepala, kemudian mengumpulkan simpati dari mereka. Lalu dengan simpati dan kekaguman itu aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku masih mendapat perhatian. Aku tidak boleh mati. Roda itu berputar secara berulang, sampai aku tidak tahu mana saja yang pulang dan mana yang bertahan.

Orang sepertiku sangat menjijikkan. Aku tahu. Aku tidak seharusnya mencoba terlihat pantas mendapatkan semua perhatian itu. Tapi tanpa itu aku pasti sudah mati.

Ini tahun ketigaku. Dan aku masih belum mendapatkan satu pertolongan pun dari psikiater. Karena aku tidak tahu apakah kondisiku seperti ini pantas dengan harga konsultasi yang kulakukan dengan psikiater? Ataukah nanti dia hanya tertawa melihatku yang terlalu bertingkah membesarkan hal-hal kecil? Tapi jika ini sesuatu yang kecil, kenapa sampai detik di mana aku mengetikkan entri ini aku masih saja merasa kesepian? Ketakutan? Ingin mati?

Nat, I just wanna tell you that I’m not okay after you’re leaving.

 

Share:

Wednesday, July 7, 2021

Dia Tidak Perlu Tahu Kondisiku

 

Aku percaya di balik semu roda kehidupan manusia akan selalu ada campur tangan Tuhan. Ada peristiwa yang bisa dibaca manusia, tapi lebih banyak yang diabaikan. Mereka abai pada fakta bahwa semua peristiwa yang dialami selalu memiliki rahasia. Manusia itu adalah aku.

Juni datang dengan hujan secara tiba-tiba. Semakin sedikit sisa hari di bulan Juni, semakin jarang pula hujan menyambangi. Namun pagi itu entah kenapa hujan datang tanpa membawa pertanda apapun. Aku tertimpa musibah, pertama kalinya dalam 24 tahun hidupku. Kaki kananku mati rasa. Otot-ototnya membengkak akibat trauma. Aku menangis seperti anak kecil setiap kali harus memaksanya bergerak.

Pikiran negatif bergantian muncul di kepala. Selain menangis akibat sakit, aku juga menangis karena takut mempertaruhkan kehidupan normalku.

Musibah itu terjadi Senin kemarin, sudah sekitar seminggu dari hari aku menuliskan ini. Kondisi kakiku membaik, namun belum sepenuhnya pulih. Di hari keempat pemulihan aku melihat kemampuan kakiku mulai membaik. Aku memaksa pergi bekerja, menukarkan rasa sakit dengan teror-teror pekerjaan yang semakin menumpuk.

Dengan keterbatasan mobilitasku, aku berusaha terlahir kembali. Memulai semua ketertinggalan dengan harapan yang baik. Aku lebih memilih kesakitan karena memaksa kerja daripada harus tidak tahu apa-apa akibat beristirahat di rumah.

Di hari keduaku bekerja, kakiku tidak semakin membaik. Beberapa nyeri terasa semakin parah dibanding hari kemarin. Sedangkan keluargaku yang awam tidak juga membantu dengan reaksi apapun. Sekali lagi aku dihadapkan pada ketakutan. Aku kembali menangis. Kupanggil ibuku, kupeluk beliau sambil menangis dan kubisikkan kata-kata bahwa aku takut.

Aku tidak tahu kenapa aku menjad begitu lemah sekarang. Akibat menangis, suhu tubuhku mendadak tinggi. Aku batuk dan bersin berkali-kali. Kondisiku ambruk dalam hitungan jam. Dan aku berharap semua baik-baik saja.

Di bawah pengaruh obat analgetik aku mencoba memejamkan mata. Dan di sanalah semuanya bermula.

Kembali pada fakta yang kutuliskan di awal. Semua peristiwa yang aku alami tentu masih di bawah pengawasan Tuhan. Saat aku ketakutan dalam tidur, Beliau mengubah ketakutan itu dengan sebuah bunga tidur yang indah. Sangat indah dan sederhana. Tidak terlihat berlebihan sehingga membuatku merasakan bahwa mimpi itu nyata.

Aku dilempar pada suasana kota yang asing. Salah satu kota favoritku meski aku tidak yakin. Ada banyak segmen dalam mimpi, namun yang berhasil bertahan di kepalaku ada satu segmen ketika aku mampu berlari.

Aku dan dia. Ya, dia dari masa lalu. Dia yang sudha enam tahun ini tetap terpenjara di kepala. Dialah bunga tidur yang merebut ketakutanku. Aku dan dia keluar dari rumah itu, hujan rintik-rintik menyapa. Lantas kami bisa melihat dari kejauhan ada bias lampu jalanan yang berjejer indah. Aku berusaha  mengabadikan bias-bias lampu itu dengan kamera ponselku.

Tiba-tiba dia mendekat, lalu memberiku saran bagaimana sebaiknya aku mengabadikan momen itu dengan kamera. Tapi di antara kata-katanya dia berujar; “Kayak gini aja, karena aku berharap bisa gini juga sama calon tunanganku.”

Deg!

Jantungku mencelos. Sudah jelas mimpi itu datang dari dia di masa depan. Tapi saat itu yang aku rasakan adalah sesuatu yang terjadi sekarang. Atau barangkali di balik diamnya, dia sudah menyiapkan semua pencapaian. Aku tidak tahu bagaimana jadinya aku jika tahu dia akan mencapai tujuan akhirnya. Garis finish yang dulu aku sempat perdebatkan.

Itu masih sekadar mimpi, tapi kenapa sakitnya luar biasa menyiksa hati?

Bagaimana jika itu terjadi sungguhan? Apakah aku akan seperti David yang memilih mati?

Dan paska mimpi itu mampir, atau memang murni karena bantuan sebutir obat, keesokan harinya aku pulih. Namun dalam dunia nyata aku menemukan satu fakta bahwa dia baru saja memposting sebuah foto di Instagramnya.

Dia definisi kesederhanaan dan kemurnian. Tidak pernah muluk-muluk. Di balik hidupnya yang terliha mulus dan serba berkecukupan dia tidak pernah berlebihan mengeksposnya. Aku sungguhan jatuh cinta sejak pertama sampai hari ini untuk kesederhanaan itu.

Siapapun yang memilikinya nanti, kuharap dia terus bersyukur kepada Tuhan atas nikmat itu.

Dan untuk relasi dengan kondisiku yang sekarang, dia tidak perlu tahu. Aku tidak mau merusak hidupnya meski sempat ia berkata untuk sesekali kembali padanya.

Share:

Monday, March 29, 2021

Aku Terjebak dalam Kantor Berwarna Abu-Abu

 

Rasanya luar biasa pada akhirnya aku menyerah dengan kondisi fisikku. Sering kali aku mulai merasakan kondisi fisik yang sedikit terganggu, kemudian memilih istirahat atau meminum susu dan vitamin, kemudian kondisiku lekas membaik seperti semula. Aku tidak pernah benar-benar jatuh sakit sampai izin tidak bekerja. Namun kali ini pengecualian, sebab selain fisikku, mentalku juga ditempa oleh hal-hal yang seharusnya tidak kuperhatikan.

Minggu kemarin adalah hari-hari terberatku. Tiga deadline besar menjadi satu, saling bertumpuk minta diperhatikan lebih dulu. Belum lagi permintaan-permintaan dari bawahan dan atasan yang secara bersamaan meminta perhatian sampai aku kelabakan. Mana yang prioritas? Mana yang seharusnya didahulukan? Mana yang urgensinya tidak bisa menunggu? Hal semudah ini mendadak menjadi sangat sulit ketika aku mulai kehilangan kemampuanku untuk fokus pada pekerjaan.

Karena mentalku terganggu sejak lama.

Kuakui aku tidak mau berteman. Tapi sebagai manusia yang sejatinya adalah makhluk sosial, mau tidak mau aku dibebat rasa kesepian. Jadilah aku membangun relasi. Ada yang membuatku nyaman, tapi menyebalkan. Ada pula yang cocok sebagai tempat berpulang, tapi tidak memberiku kenyamanan. Sulit menemukan apa yag kuinginkan di usia segini. Atau memang aku sedikit pemilih dalam pergaulan mengingat sifatku yang ketus dank aku akibat kehilangan banyak kepercayaan pada orang-orang.

Aku pernah dibodohi. Pernah dimanfaatkan. Maka sekuat tenaga aku tidak mau berlebihan memanfaatkan orang lain, sehingga mereka tidak mengambil celah untuk memanfaatkanku juga. Tapi sedewasa ini pun aku masih bersusah payah mengurusi relasiku dengan orang-orang yang selalu berbicara soal hubungan timbal balik. Rasanya sungguh melelahkan. Sedangkan untuk berdiri di kaki sendiri, rasanya aku kesepian.

Aku lupa, tapi sepertinya aku pernah menulis entri atau thread tentang kendala yang aku temui saat pertama kali merasakan dunia kerja. Waktu itu problemanya masih sarat dengan senioritas. Mereka menganggapku ‘anak baru’ yang lambat beradaptasi dan tidak terlalu membantu. Sampai akhirnya ibuku bilang, “jika kamu ingin diterima di suatu tempat, maka jadilah berguna dan buatlah mereka tidak bisa melakukan sesuatu tanpa bantuanmu”. Dan setelahnya, aku membuktikan perkataan ibuku benar adanya. Mereka yang minim tahu tentang bahasa Inggris dan teknologi ‘memanfaatkanku’ dan menjadikanku seseorang yang dibutuhkan di sana.

Kemudian perjalanan dunia kerjaku berlanjut sampai aku menemukan pengalaman dan pelajaran yang banyak. Aku berkembang cukup pesat mengingat ini adalah kali pertama aku terjun ke dunia kerja. Aku bertemu dan bergaul dengan banyak orang bersamaan dengan kemampuan adaptasiku yang sebenarnya tidak terlalu buruk. Dan kemarin aku sempat merayakan peringatan satu tahun aku bekerja di sana. Tepat saat tanggal 6 Januari kemarin.

Namun, setahun di sana membuatku belajar bahwa dunia kerja sungguhan beda dengan dunia sekolah atau kuliah. Karena semua hal berkaitan dengan ‘bayaran’, maka apapun yang terjadi di sini terasa abstrak. Tidak ada guru BK yang mengawasi, tidak ada organisasi atau komunitas yang melindungi. Kamu benar-benar sendiri. Individualis bertahan.

Aku tidak secara langsung dibuli. Tidak. Tapi mataku menangkap banyak peristiwa yang tidak bisa nuraniku terima. Bukan lemah. Tapi karena aku terlalu marah pada pergaulan yang menurutku sangat tabu terjadi bahkan setelah aku melalui banyak pergaulan di Jawa atau Bali, di tempat mayoritas muslim atau minoritas muslim. Aku sempat kaget dengan banyaknya perubahan yang kuterima. Namun aku bertahan karena aku tahu, itulah satu-satunya jalan.

Hal-hal tabu hanya bagian dari angin lalu, bukan sesuatu yang bisa dipelajari sebagai tindakan yang tidak seharusnya dilakukan di dalam perusahaan. Saling menggoda, membuli, menaruh kasih sayang yang berlebihan, profesionalisme cuma saat dalam ruang meeting, atau saat kondisi genting saat seseorang ‘berulah’ dan berbuat kriminal. Larangan dan peraturan perusahaan hanyalah wacana.

Dulu, ibuku sering sekali mengharapkan aku dibayar lebih. Ia memintaku mencari tempat lain yang akan membayarku lebih. Tapi aku enggan. Aku menemukan banyak kesempatan di sini. Kemampuanku dan pengetahuanku berkembang, aku bisa belajar, aku dijanjikan masa depan. Bagaimanapun tidak ada satu alasan pun yang bisa kutemukan untuk meninggalkan tempat ini.

Namun seiring berjalannya waktu aku menyadari hal terbesar yang membuatku ingin berhenti justru datang dari orang-orang terdekatku. Orang yang setiap hari kuajak bicara dan berdiskusi. Orang yang sering membuatku bingung, sebab hari ini dia terlihat sangat bisa diandalkan, namun besoknya dia terlihat sangat menyebalkan. Dan ada banyak sekali hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan di sebuah perusahaan yang mereka lakukan entah sengaja atau tidak secara rutin. Nyaris setiap harinya. Bukan padaku secara langsung, namun cukup menganggu.

Dan akhirnya aku sakit juga. Jatuh di atas kasur meminum obat-obatan, mengetik satu pesan singkat mengatakan hari ini aku tidak bisa kerja. Aku juga heran, biasanya aku bisa bertahan. Sebotol vitamin dan sekaleng susu untuk pencegah, kini tidak mempan. Mentalku ditimpa oleh sikap buruk satu dua orang, sekali lagi tidak padaku secara langsung, namun cukup mengganggu.

Dan fakta seolah aku mendukung kesalahan mereka—atau berpura-pura tidak memedulikan apa yang mereka perbuat dan katakan, hanya membuatku sama seperti pegawai lainnya. Bungkam dan tidak mau mencari masalah. Padahal di dalam hatiku aku sudah bergejolak ingin membantah.

Tidak ada tindakan tegas di sini. Semuanya abu-abu. Dan dalam keabu-abuan itu juga aku merasa aman, sebab kinerjaku yang sering kali tertahan gangguan mentalku, sama sekali tidak terbaca mereka.

 

Share:

Friday, January 1, 2021

Coba Lihat Apa yang Kutulis di Hari Pertama Tahun 2021

 

Hei, ini entri pertamaku di tahun 2021. Pergantian tahun yang diisi banyak resolusi sepertinya tidak menjamin akan membuat diri siapapun menjadi lebih baik. Resolusi seperti omong kosong bagai kebanyakan orang, maka dari itu aku sama sekali tidak berani mengambil risiko. Bahkan ketika harapan dan rencana orang-orang terhalang oleh adanya pandemi, aku malah kehilangan semua karena ekspektasiku sendiri. Kegagalan diriku untuk memperlakukan hati, pikiran dan fisikku dengan baik layaknya manusia normal.

Aku masih belajar bagaimana caranya untuk mencintai dan menghargai diriku lebih dari siapapun. Aku berusaha untuk masa bodo dengan semua kebahagian orang-orang, berusaha tidak membandingkan pencapaianku dengan orang-orang, berusaha tidak terganggu dengan cerita indah orang-orang. Aku ingin menikmati hidupku sendiri dan kemudian menyadari, Ya Tuhan hidupku sama sekali tidak ada apa-apanya.

Coba lihat, sebagai seorang Capricorn aku terlalu banyak menaruh rasa kepedulian bahkan kepada orang yang tidak akan pernah mau membuka dirinya untukku. Aku bertanya are u okay kepada hampir setiap orang untuk kepekaanku yang berlebihan. Rasa peduliku menghancurkanku, sebab mereka pada akhirnya akan lari kepadaku karena mereka merasa sedih, sedangkan ketika merasa bahagia, namaku hanyalah nomor sekian dalam daftar prioritasnya.

Aku merasa aku dicampakkan banyak orang. Mereka hanya bercerita soal kesedihan hidup, kegagalan dan titik terendah mereka kepadaku. Mereka tidak akan mengingatku ketika mereka merasa bahagia, entah apakah itu karena mereka tidak mau menyinggung perasaanku ataukah mereka hanya sekadar lupa untuk menceritakannya. Apa yang bisa kusimpulkan dari ini adalah; mereka hanya menganggapku sebagai manusia yang penuh dengan kesedihan dan kegagalan.

Iya, kan?

Coba pikir, kalau mereka tahu aku bahagia dan sukses, mereka akan senang berbicara denanku soal kebahagian dan kesuksesan mereka juga. BODOHNYA AKU BARU PAHAM SEKARANG. Teman yang kutemui beberapa hari kemarin, teman yang mengajakku menghabiskan malam dengan seduhan kopi di antara suara berisik hujan pukul 9 malam barangkali adalah orang yang merasa senasib denganku karena dia juga merasa dicampakkan dunia. Tunggu beberapa bulan lagi ketika dia lulus, atau ketika dia menikah, dia akan melupakanku karena terlalu asyik dengan kebahagiaannya. Toh, dia hanya menjadikanku sebagai penguatnya. Aku dimanfaatkan.

Tidak semua orang di sekitarku akan begitu. Tapi sungguh demi Tuhan aku mulai menyadari rasa peduliku yang berlebihan ternyata bisa membunuhku secara perlahan. AKu merasakan ketika satu persatu dari mereka mulai menemukan jalan keluar menuju kebahagiaan dan lantas meninggalkanku di belakang. Mereka dan aku tidak saling menyadari kalau dengan cara itu aku sungguhan cuma dimanfaatkan. Aku tidak bilang semua orang akan begitu padaku, tapi sebelum semuanya terlambat, aku mulai sadar bahwa rasa peduliku amat berbahaya.

Minggu kemarin, saat aku melihat status sedihnya, status yang bilang ia tidak berguna, entah dengan kecepatan kilat, tanpa berpikir dua kali, tanpa mempertimbangkan relasi kita yang seharusnya tidak pernah dekat, aku membalas status itu dengan kalimat penguat. Mungkin dia kaget menerima kalimat semacam itu dari orang yang tidak pernah ada di daftar teman dekatnya. Namun saat itu aku masih beranggapan aku bisa melakukan kebaikan dan kepedulian kepada siapa saja, sejauh yang kumau.

Di usiaku yang ke-24, usia yang tidak muda lagi, aku mulai menyadari duniaku bukan di sini. Orang yang paling peduli padaku, yang paling mengerti kondisi mentalku, perlahan mulai pergi. Mulanya dia hanya bilang tidak mendapat jatah libur, kerjaan menumpuk dan tidak ada waktu untuk bertemu. Lama-lama setelah kurasakan dia seperti sibuk menyembuhkan lukanya sendiri dan masih kehilangan kekuatan untuk bisa membantu menyembuhkan lukaku. Dia perlahan pergi di saat aku hanya percaya dan membutuhkan orang sepertinya. Aku kehilangan kekuatan. Kekuatan paling besar di dunia ini yang bahkan tidak bisa kudapatkan dari keluarga kandungku sendiri.

Sedangkan yang lainnya? Aku meninggalkan mereka sejak lama karena aku takut membandingkan kebahagiaan dan pencapaianku dengan mereka. Andaipun ada, mereka tidak akan paham apa yang sedang aku alami. Aku dituntut harus menjelaskan, sedangkan ketika aku menjelaskan dan mempercayai mereka karena aku terlalu hancur, mereka hanya meresposn ‘hahaha namanya juga hidup’. Jenis manusia yang tidak akan pernah bisa paham mengenai kehidupan. Manusia yang jauh dari frekuensiku, yang sayangnya kenapa bisa menjadi sisa temanku satu-satunya?!

Duniaku sungguh bukan di sini. Aku cuma mencintai orang-orang semacam Im Changkyun atau Chae Hyungwon. Mereka yang membuatku senang karena memproduksi musik yang enak didengar, atau membuat acara berdurasi pendek yang bisa membuatku tertawa. Mereka yang tidak bisa kuajak berkomunikasi, mereka yang tidak pernah bisa kujamah. Mereka yang cuma kujadikan pelarian.

Lihatlah, betapa menyedihkannya akun media sosialku. Instagram cuma membahas soal bagaimana cara terbaikku untuk memalsukan kebahagiaan. Twitter cuma membahas betapa aku menikmati karya Shownu  dan Bangchan cs. Semua jenis usaha yang kulakukan untuk mengalihkan isu kesedihanku, ketidakbahagiaanku, keputusasaanku. Semua yang kutampakkan di media sosial sama sekali bukan aku.

Uhm, aku menulis ini karena dipicu satu orang. Hahahah.

Gila, aku takut kehilangan dia padahal dia bukan siapa-siapaku. Bukan, dia bukan orang yang aku suka. Kan sudah sejak lama aku kesulitan menyukai orang. Dia adalah orang yang sering merecoki, orang yang selalu mengejar kabar di saat aku tidka berkabar, orang yang selalu nyambung untuk membahas banyak hal. Aku takut kehilangannya tapi aku malu mengakui bahwa hidupku bergantung padanya.

Sejak aku tahu fakta ini, kemungkinan dia akan pergi, aku memilih pergi duluan. Aku akan menjauh darinya duluan, aku tidak akan peduli berlebihan padanya lagi.

WHY THE FUCK I CARE FOR THOSE PEOPLE INSTEAD MYSELF?!

Ya Tuhan, ini 2021, umurku sudah 24 tahun dan aku masih ingin mati.


Share:

Saturday, December 19, 2020

Hujan dan Keberanian Membuka Diri

 


Pertengahan Desember dengan hujan sudah menjadi sahabat sejak lama. Begitu pula ketika tahun pandemi ini terjadi, hujan sedang manja-manjanya dengan Desember. Nyaris setiap hari menyapa. Namun itu sama sekali bukan kendala, sebab aku selalu menikmatinya meskipun terkadang juga dibuat kesal. Sepatuku sering terkena basah, bajuku pun beberapa ada yang kesulitan kering.

Tapi tujuan aku menulis entri ini bukan karena mengeluh soal basah, atau bahkan untuk berlebihan memuja hujan. Tujuanku yang sebenarnya adalah untuk mengabari dunia bahwa aku sudah di tahap mencoba membuka diri.

Sejak akhir 2018 aku menutup diri dari banyak hal secara perlahan dan terstruktur. Bukan aku yang mau, semua terjadi begitu saja sampai terlambat aku menyadari bahwa aku benar-benar menarik pusat kehiduapanku seratus delapan puluh derajat dari kehidupan normal.

Sebut saja ini tahun kedua, pada akhirnya aku coba untuk perlahan menyembuhkan ketakutan.

Selasa kemarin, aku memberanikan diri membuka chat room-nya, mengetik satu pesan dengan takut-takut, mencoba menjalin komunikasi yang tidak seharusnya. Dia menyapa seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi di antara kami—maksudku tidak ada yang terjadi padaku. Seolah aku masihlah orang yang sama, orang yang tidak bereaksi berlebihan pada luka dan rindu.

Namun dia sungguhan profesional. Berhadapan denganku, ia tetap menampilkan ketenangan. Dan seperti merasa tidak perlu berbasa-basi, dia akhiri percakapan dengan doa agar aku selalu sehat. Entah sehat dari segi apa. Fisikku sungguhan baik-baik saja di pergantian musim yang ekstrim, di tengah cuaca tak menentu. Seharusnya tidak perlu ia mendoakan seseorang yang jahat sepertiku.

Namun aku tidak bisa berbohong bahwa aku menghargai doanya. Dan berasumsi liar bahwa sebenarnya ia paham what the fuck are going with me! Tapi dia hanya menutup mata karena tidak mau terlibat. Sungguh sosok sempurna mirip alter ego yang aku buat.

Keterbukaanku tidak hanya berhenti padanya. Aku juga mengajak salah satu teman kampusku—teman yang tidak bersalah namun sangat membuatku ketakutan—untuk bertemu. Dia merespons sungguhan antusias. Dia menentukan tempat, waktu, seperti tidak ada satu pun kesulitan untuk bertemu. Dalam ingatanku ini pertemuan pertama kami setelah terakhir kali kami dipertemukan secara wajar dan normal di akhir tahun 2018. Sebelum semua beban yang kusimpan meledak dan membuatku kesulitan menerima dunia nyataku.

Dia datang malam itu dengan penampilan yang sama. Dengan senyum merekah dan rindu yang barangkali membuncah. Lewat lagu-lagu sengau dari pengamen jalanan, di antara riuh rendah suara pengunjung lain yang bercakap-cakap, di tengah aroma basah bekas hujan yang berpadu dengan aroma nikmat jagung bakar, aku dan dia saling bertukar cerita tentang apa yang tengah kami alami ketika dua tahun tidak bertemu.

We have our own life to sacrifice. Dia pun mengaku nyaris merasakan hal yang sama, namun berhasil mencari bantuan hingga tidak sampai separah aku.

Dalam ingatan, sungguh hanya bermodalkan ingatan, aku meyakini terakhir kali aku melihat dan berbincang dengannya secara langsung adalah akhir 2018 yang lalu. Ketika dunia masih sedang baik padanya dan padaku. Ketika ketakutanku masih belum separah ini. Dan Demi Tuhan dia masih bisa menahan semua beban itu sedangkan aku sudah lama menyerah.

“It’s okay, you have your own reason. You’re already adult enough to make a life decision.”

Begitu katanya, untuk menenangkanku yang sebenarnya tidak pernah mempan dengan kata-kata semangat dan motivasi. Namun aku menghargainya.

Obrolan kami berlanjut sampai pukul sebelas malam, di bawah kursi teras sebuah minimarket kami melanjutkan perbincangan yang melulu membahas soal kehidupan. Kami berasal dari dua latar belakang yang berbeda, agama, budaya, material, pendidikan, pengalaman, kesulitan dan pandangan hidup. Tapi kami bisa menghargai keputusan satu sama lainnya. Mendukung. Menguatkan seperti dua orang survivor yang bekerjasama mencari jalan keluar dari sebuah labirin besar.

“Demi Tuhan aku takut mendengar nama mereka.” Akuku saat ia berhasil memberiku kabar terkait nama-nama yang dulu pernah aku anggap biasa saja.

Bahkan nama-nama itu bukan sebuah mantra, bukan pula kutukan. Mereka tidak pernah meninggalkan satu pun bekas luka atau kenangan buruk padaku. Akulah yang menjauh, yang menutup diri, aku tidak mau menemui mereka, aku tidak mau mendengar kabar mereka, aku tidak mau tahu soal kehidupan mereka dan membandingkannya dengan kehidupanku. Aku takut. Sungguhan takut. Bahkan hanya dengan mendengar namanya saja aku sudah takut.

Lalu aku meminta ia berhenti.

Jangan sebut lagi. Karena upayaku membuka diri belum sampai tahap ketersediaan bathinku untuk menerima mereka kembali.

Desember adalah akhir tahun yang membuatku sedikit bersyukur. Membuat tahun 2020 tidak separah yang pernah aku bayangkan. Aku mulai menemukan diriku dan apa yang aku mau. Aku menutup mata dan tidak peduli pada orang-orang atau sesuatu yang tidak menguntungkanku. Meskipun aku masih saja belum bisa menemukan tujuan hidup, tapi apa yang kulakukan sekarang—paling tidak di bulan Desember ini—sedikit membuatku lega.

Lucunya, pada akhir tahun ini hubunganku dengan beberapa orang tertentu mendadak menjadi lebih intens. Aku juga makan lebih banyak makanan enak. Aku mulai menyisihkan uang dan berjuang untuk tidak membeli sesuatu yang tidak kuperlukan (kecuali makanan). Aku sibuk dengan hal-hal kekanakan seperti crying over how sexy Im Changkyun is atau menulis imajinasi yang kumiliki sendiri tentang cinta segitiga antara Si Kaya Raya—Im Changkyun, dengan Si Penjudi Handal—Chae Hyungwon dan Si Psikopat Tampan—Lee Minhyuk.

Hal-hal yang tidak terlalu membutuhkan banyak tenaga untuk menangisi orang yang tidak mencintaiku, atau memendam amarah pada teman yang lebih dekat dengan orang yang kusuka, atau diam-diam menyukai seseorang dan menerka apakah dia menyukaiku juga atau tidak. Hal-hal manusiawi yang sudah lama kau tinggalkan karena aku tahu rasanya sungguh melelahkan. Aku tidak masalah dikata kekanakan, aneh, maniak atau apalah. Aku tahu apa yang aku mau. Aku tahu apa yang sehat bagiku. Aku tahu apa yang bisa membuatku senang dan bisa mengurangi stress bekerja.

Aku menikmati cowok-cowok plastik seperti kata mereka. Aku menikmati drama alay seperti kata mereka. Aku menikmati ‘apasih lagu Korea’ seperti kata mereka. Karena aku tau apa yang aku mau dan apa yang bisa membuatku senang. Aku mendapatkan semua itu tanpa harus mencuri dari mereka. Tidak merugikan mereka sama sekali. Jadi, fuck the shut up.

Btw, sesuatu yang kugandrungi atau kulakukan di bulan Desember cenderung akan kuingat lebih lama. Dan ya ampun sebentar lagi aku ulang tahun. Congratulations for being strong enough. Aku masih hidup sampai usia 24 tahun woyyyy setelah berkali-kali pernah berpikiran mau mati. Huhu.

Share:

Thursday, November 26, 2020

Kamu pun Menjelma Menjadi Alter Ego

 

"Pergilah sejauh-jauhnya, karena aku ingin merindukanmu sedalam-dalamnya, membahasmu sepuas-puasnya, mengingatmu sedetail-detailnya, mengharapmu sesakit-sakitnya dan memahami eksistensimu senyata-nyatanya. Pergilah sejauh mungkin, maka kau tidak perlu tahu itu aku."

November, salah satu bulan favoritku karena dianugerahi hujan. Dan aku menulis ini di saat hujan sedang rutin-rutinnya menyambangi bumi ketika cuaca sedang panas-panasnya. Dan entah, aku memang terlalu mahir manyangkutpautkan semesta dengan kejadian yang aku alami, dengan perasaan yang aku rasakan. Seperti dilebih-lebihkan, padahal ini cuma sebuah apresiasi atas bakat menulisku.

Penggalan puisi singkat di atas mendadak muncul di kepala saat aku tanpa sengaja membaca salah satu ‘status’nya. Seperti aku ingin menjawab dengan lantang, merespons dengan tegas bahwa keputusannya untuk pergi bukanlah hal yang menggentarkan. Meskipun aku tidak tahu subjek dalam ‘statusnya’ sungguhan aku atau bukan.

Malam saat aku akhirnya menyerah memberitahunya semua naskah-naskah berisi lukaku, berisi kedooku, berisi aibku, saat itulah aku sebenarnya sudah mempersilakan ia pergi. Aku sudah siap dengan segala risiko dibenci. Seolah sosok dia yang selama ini kuidamkan sudah ter-copy, menjadi satu sosok alter ego atas kehendakku sendiri.

Kubangun ia menjadi apa yang aku mau, sosok yang paling mampu menyakiti lewat semua kesempurnaan. Sangat jauh berbeda dari apa yang sebenarnya nyata ada dalam sosoknya. Aku benar-benar tenggelam dalam ilusi kesempurnaan yang kuciptakan sendirian. Membiarkan sosok nyatanya pergi lewat semua keikhlasan.

Aku ikhlas. Sungguh-sungguh ikhlas bila ia membenciku. Terlebih setelah ia tahu apa yang selama ini kutulis tentangnya. Tentang imajinasi indah yang kurealisasikan lewat sebuah cerita-cerita panjang. Cerita yang semestinya bisa mendapat banyak apresiasi, namun tidak pantas mendapatkan publikasi.

Oleh karena itu saat dia memutuskan pergi, aku sungguhan siap. Hatiku kuat. Aku tidak akan mengemis meminta kehadirannya kembali dalam hidupku. Aku sudah memahami diriku sendiri, sudah mampu mengenali mana luka, mana ilusi, mana bahagia dan mana nyata. Aku tidak keberatan sama sekali jika ia pergi, memutus semua rantai komunikasi yang kita miliki.

Terima kasih karena pernah ada. Kepergianmu malah memberiku banyak ruang sebebas-bebasnya untuk berekspresi tanpa takut diketahui.

Ya Tuhan, berapa entri yang cuma bisa kutulis dalam satu tahun ini?

Semoga di bulan Desember nanti ada satu entri lagi, ya? *senyum*

Share:

Sunday, October 4, 2020

Kim Junghyun and His Psycopath Role

 

 

Blog ini memang memiliki tingkatan abstraksi yang tinggi. Isinya bisa mengarah ke mana saja, tapi aku selalu memiliki satu tujuan; yaitu diriku. Setiap entri yang aku publikasikan di sini adalah penjelasan secara tidak langsung mengenai apa yang aku alami dan rasakan, termasuk satu entri ini. Sebuah entri yang judulnya mirip seperti judul artikel gosip K-Drama yang kebanyakan ditulis dengan minim informasi dan menonjolkan foto-foto aktor gantengnya.

Sebelum aku menyalahkan Kim Junghyun yang tidak terlalu terkenal (aku yakin), izinkan aku menjelaskan kenapa aku sampai menulis artikel dengan mencatut namanya sebagai judul.

Pertama, dibandingkan aktor K-Drama lain yang memiliki tubuh tinggi dan atletis, sebut saja seperti Kim Woobin, Lee Minho atau Park Seojun, aku malah tertarik dengan perawakan seorang Kwak Siyang yang bahkan namanya belum pernah menduduki posisi main role disebuah drama.

Kemunculan dan performa Kwak Siyang di Running Man membuatku kagum. Entah, perawakannya tinggi dan cukup atletis namun tidak berlebihan. Sebuah sosok yang kuasumsikan sangat cocok untuk menggambarkan seorang David Joachim—tokoh utama novel yang sedang kutulis. Bahunya lebar, rahangnya kokoh, dia terlihat tampan dan bisa sangat manis bila tersenyum. Terlebih suaranya yang khas serta tawanya yang renyah membuatku semakin mengimajinasikan begitulah sosok David sebenarnya.

Sebentar, sudah berapa nama aktor Korea yang kusebutkan? Apakah cukup membingungkan? Hahaha. Aku memang harus memutar lewat stasiun dulu untuk sampai ke pasar dekat rumah. Intinya aku memang menikmati setiap penjelasan yang detail seperti ini. Toh aku menulis entri ini untuk diriku sendiri. Namun aku mengasumsikan seperti ada pihak kedua yang kuajak berbicara di sini.

Jadi, mari kita ingat sosok Kwak Siyang yang aku simpan untuk role model tokohku.

Jika kalian membaca ceritaku Beautiful Move On, di sana setiap detail fisik yang aku gambarkan untuk David selalu kuambil dari Kwak Siyang. Namun dengan kesan lokal tentunya. Tidak 100% mirip dengan Kwak Siyang.

Sudah cukup dengan Kwak Siyang. Sekarang kita akan memasuki babak baru perkenalan dengan nama dalam judul entri ini. Sebelum itu izinkan aku menjelaskan kenapa aku menulis entri ini dengan sangat runtut dan panjang.

Di entri-entri sebelumnya, aku selalu membandingkan keberhasilan, pencapaian, kebahagiaanku dengan seseorang. Aku mengasumsikan diriku sebagai orang yang kalah, orang yang tidak bisa beranjak dari masa lalu, if u’re guys get the point. Aku sungguhan menulis tentang diriku, tentang apa yang aku rasakan. Namun, setelah aku rasakan, aku telah lagi, aku pun bertanya; apakah benar aku gagal move on? Apakah sungguhan aku merasa tidak bahagia karena terus membandingkannya dengan dia?

Dia; harus kuakui dialah satu sosok dari masa lalu yang menciptakan momen paling bahagia dalam hidupku. Aku sungguhan memiliki dia. Sosok yang aku anggap sebagai alasan kenapa aku merasa gagal. Gagal bahagia, gagal menemukan apa yang aku mau, gagal mencintai orang lain, gagal percaya pada diri sendiri, gagal membiarkan orang lain untuk bersimpati denganku. Aku hanya berfokus padanya. Seperti dialah pusat duniaku.

Tapi aku sadar, dia baru datang sebagai interupsi di saat aku mulai menulis DLN, prekuel Beautiful Move On di tahun 2018. Padahal kisah kami sudah lama berakhir sejak 2015. Kenapa aku baru merasakan kesedihan mendalam seolah aku gagal move on di tahun ketiga setelah aku berpisah darinya?

Dulu aku buta. Aku menutup mata. Sampai Kim Junghyun dan peran psikopatnya memberiku sedikit pertimbangan.

Kim Junghyun adalah main aktor di serial Welcome to Waikiki season pertama. Sebuah drama lucu yang level humornya cenderung tidak masuk akal. Tapi meskipun begitu, aku terhibur dengan dramanya. Sampai pada akhirnya aku merasa tokoh Kang Donggu yang diperankan oleh Kim Junghyun mengingatkanku pada seseorang. Suaranya yang dalam saat berbicara, model rambutnya yang dipotong sederhana dan sedikit berponi, perawakannya yang tegap tinggi dengan bahu lebarnya.

Kwak Siyang. Dia mengingatkanku pada sosok Kwak Siyang milik David Joachim dalam karakter novelku.

Jujur, disaat aku mengecek cast drama ini, nama Kim Junghyun bukan berada di daftar utama pemainnya. Padahal di dalam dramanya dia memerankan tokoh utama central yang berkaitan dengan semua tokoh di sana. Saat itu aku merasa tidak adil dan memutuskan untuk mencaritahu mengenai Kim Junghyun lebih lanjut.

Paska memerankan sosok absurd, kocak dan cenderung aneh di drama Welcome to Waikiki, Junghyun menerima tawaran untuk bermain di drama bertajuk Time (bukan sebuah drama yang hype I guess). Di sana dia mendapatkan peran sebagai Cheon Suho, sosok kaya raya yang sedikit dingin dan bengis, bahkan diibaratkan sebagai psikopat. Aku kurang tau bagaimana alur cerita drama Time itu, tapi dari artikel yang aku baca, ternyata berita yang dituliskan tentang Kim Junghyun dan perannya di Time cukup pantas untuk dibicarakan.

Kim Junghyun dalam jumpa pers drama Time


Dalam sebuah jumpa pers drama Time, Junghyun menuai kontroversi karena sikapnya yang dinilai tidak profesional. Banyak netter yang membicarakannya dan menyebutnya berperingai buruk. Namun kemudian terungkap saat acara jumpa pers tersebut ternyata Junghyun sudah mengalami depresi.

Depresi atas apa?

Sebagai aktor, tentu saja Junghyun merasa tertantang setelah mendapatkan peran psikopat. Ia berlatih keras untuk menyesuaikan karakternya dengan tokoh Cheon Suho tersebut. Karena terlalu ‘mendalami’ karakternya, Junghyun menjalani kesehariannya (di luar kepentingan syuting) sebagai Cheon Suho, bukan lagi sebagai Kim Junghyun. Dia mengalami abstraksi dalam dirinya hingga membuat dia kesulitan makan dan tidur. Memang kalau hanya membaca fakta ini, rasanya seperti biasa saja. Tapi tidak mudah untuk mengalami kesulitan melakukan 2 hal penting seperti makan dan tidur jika memiliki gangguan yang serius.

Lalu atas saran dokter, Kim Junghyun harus berhenti dari drama Time. Dan jalan hengkang Junghyun pun terasa amat panjang. Ia mesti melakukan banyak diskusi dengan kru produksi, belum lagi para netter yang tidak sepenuhnya bisa memahami kondisinya. Namun pada akhirnya sang sutradara memutuskan sosok Cheon Suho mati akibat sakit. Dengan begitu Kim Junghyun berhenti dari proses syuting drama sepanjang 32 episode itu.

Kim Junghyun dalam drama Welcome to Waikiki


Dan apa hubungannya dengan entri ini?

Hm, entahlah. Kuharap sampai sini saja semuanya sudah bisa dipahami.

Setelah membaca artikel Junghyun aku seperti mendapatkan cermin untuk merefleksikan diri sendiri. Tapi aku tekankan sekali lagi, aku belum resmi duduk di kursi konsultasi, berhadapan dengan psikolog profesional dan mendapatkan diagnosanya. Aku hanya berasumsi, serba berasumsi.

Aku yang kehilangan selera makan, aku yang sering sedih secara berebihan, aku yang sering menangis tanpa alasan, aku yang merasa hidupku sudah tidak berguna, aku yang merasa kehilangan tujuan tanpanya, bagaimana jika itu semua hanyalah ‘alter ego-’ku karena terlalu mendalami karakter David Joachim?

Dan di awal aku mengalami semua prosesi ini, saat aku menangis tidak berkesudahan pertama kalinya, aku berasumsi ini hanyalah pendalaman karakterku pada tokoh yang kubuat. Aku terlalu berlarut-larut dengan novel Beautiful Move On dan menciptakan sosok David dalam diriku. Dan aku nyaman dengan itu. Aku seperti menjadikan David sebagai diriku yang hidup di dunia yang lain. Apa yang aku inginkan, apa yang belum sempat aku dapatkan, apa yang pernah aku lewatkan, kutuliskan semuanya dengan jelas dalam karakter David.

Persis, seolah David adalah sosokku yang paling aku inginkan ada.

Aku tidak tahu istilah apa yang harus aku gunakan untuk menyebut masalah yang kualami. Tapi ini berpengaruh pada kehidupan nyataku. Bukan hanya membuatku kehilangan selera makan, aku bahkan menarik diri dari lingkungan, aku sungguhan berwatak kasar, cuek, tidak pedulian, temperamental dan bahkan kesulitan berempati apalagi jatuh cinta. Persis seperti David.

Aku tidak tahu apakah yang kurasakan ini serupa dengan apa yang dirasakan Kim Junghyun.

Bedanya, Kim Junghyun sudah berhasil mengatasi dirinya. Dia sudah sembuh dan sudah kembali berakting. Sedangkan aku, aku masih menikmati prosesi menghidupkan David untuk memuaskan dahaga yang tidak kulegakan di dunia nyataku.

Aku masih sibuk menulis Beautiful Move On dan mencoba memenangkan diriku sendiri. Meski sejatinya David dalam diriku sangat-sangat mempengaruhi kehidupan nyataku.

Apa aku sungguhan butuh psikolog? Ataukah aku terlalu berlebihan menyikapi ini.

Hahaha, sepertinya aku saja yang lebay.


Share:

Wednesday, May 20, 2020

The World I Live In; Pathologhical Liar



Hai, Nat.
Umurku sudah 23 tahun. Seharusnya aku sudah bisa sebahagia kamu. Sudah bisa mulai memikirkan masa depan, menyusun kisah cinta dengan calon pedamping idaman, atau mulai meniti kariri agar tetap berpenghasilan.
Tapi semakin dewasa, akalku mulai tergerogoti ketidakwarasan. Aku lebih suka bermain-main, mencari keberadaan hidup yang tidak pernah bisa aku miliki. Misalnya soal kekasih idaman. Aku menjelma menjadi sosok yang aku inginkan, sesuatu yang bila sungguh aku nekatkan hanya akan menambah dosa dan beban keluarga.
Lalu mereka datang; para korbanku. Mereka percaya figur ini ada. Figur yang aku definisikan sebaik mungkin, sifat, rupa, lata belakang, fisik dan lain sebagainya. Lantas larut dalam cerita karena aku pendefinisi yang baik. Atau barangkali adalah manipulatif ulung. Merasa berdosa? Tidak.
Aku melakukannya sekali, kemudian lagi. Terus berulang kali. Ketahuan sekali, merasa aman dan tetap mengulanginya lagi. Aku memanipulasi semua secara bertahap. Membangun rasa simpati dari mereka seolah mereka sedang bberkenalan dengan figur yang aku idamkan ada. Bahkan hebatnya, aku tidak kesulitan membedakan mana dunia nyataku dan mana dunia hasil manipulasiku.
Sampai detik di mana aku mulai sadar, korbanku banyak sekali.
Detik di mana di sebuah platform ada yang tengah mendiskusikan istilah faker dan bagaimana manipulasinya bekerja. Lantas aku berkaca, Nat. pakah aku sama jahatnya seperti para fakers itu? apakah aku bagian dari mereka?
Tapi kebohonganku tanpa mencari untung! Aku tidak butuh uang! Aku hanya ingin menghidupkan figur yang ingin sekali kuhidupkan. Aku hanya butuh sebuah cerita hidup yang lebih baik dari kehidupanku sekarang. Aku cuma butuh perhatian, simpati dan rasa sayang.
Aku tidak sama.
Sampai tadi, kutemui istilah pathological liar.
Hey, it suits me well.
Pathological liar biasanya berbohong tanpa ada keinginan mendapatkan sesuatu. Merupakan pencerita yang ulung, meski garis besar cerita mereka terdengar rumit, namun dengan kemampuannya mereka dapat meyakinkan orang lain. Hal ini dapat dikatakan dipicu oleh keinginan untuk mendapatkan simpati dan kekaguman orang lain. Tak jarang mereka sampai terbawa arus sampai mempercayai kebohongannya sendiri. Dan kebohongan pathological liar terjadi dalam skala besar dan berulang, tanpa mngambil keuntungan materi sesudahnya.
See?
Setelah bertahun aku hidup mengcover diri menjadi orang lain, membiarkan orang menganggap aku seperti itu, membenci diri sendiri saat tampil apa adanya. Aku baru tau, mungkin inilah yang kuderita selama ini.
Tidak ada studi lanjutan yang bisa menjelaskan penyebab terjadinya pathological liar, atau berefek apa nanti pada akhirnya. Yang jelas, aku mesti membuang rasa cinta banyak orang padaku karena sosok yang kumainkan tidak sungguhan ada.
Jahat sekali. Tapi aku terus mengulanginya.
Nat, kenapa aku tidak punya banyak uang bahkan setelah aku bekerja, ya? Sebelum aku tau diagnosa apa yang sebenarnya ada pada tangisan-tangisanku di malam hari dan keinginanku untuk bunuh diri, kini aku tau ada abnormlaitas lain dalam batas warasku. Aku butu psikiater. Tapi kenapa mahal sekali untuk satu konsultasi.
Aku bingung harus menceritakan yang mana. Tapi sepertinya semua abnormalitas ini bermula setelah aku kehilangan kebahagiaan dari keberadaanmu.
Kalau kamu sampai baca ini, aku berani sumpah kamu tidak akan mengerti. Kamu terlalu normal untuk emamhami aku yang abnormal.
Kamu satu dari sekian orang awam itu, yang tidak bisa menilai sebuah kesalahan dari segi psikologi. Apa yang akan kamu tanamkan hanyalah aku jahat, aku menyedihkan dan aku tidak pantas dikasihani.
Ya Tuhan, siapa yang sebenarnya jahat di sini?
Aku yang abnormal atau dia yang awam?
Dan satu hal yang perlu kamu tau Nat, tidak ada kebahagiaan yang sempurna dari sebuah manipulasi. Jadi aku tidak pernah bahagia. Hehe.

Share: