Saturday, July 24, 2021

This is My 3rd Years and I Still Remain The Same

 

Ini hari kesekian di tahun 2021 dan aku masih saja berpikir tentang kematian. Tapi kemudian aku ditarik pada ego diri sendiri, kepuasan dan kebanggaan bahwa sebenarnya aku tidak seburuk itu. Kadang aku berhasil menyelesaikan sebuah pekerjaan, mendapatkan ucapan terima kasih, lantas aku berpikir bahwa aku masih dibutuhkan. Atau ketika aku menemukan seseorang yang mendengar ceritaku, menghargai kesukaanku, mendukung pilihanku, lantas aku merasa aku masih pantas untuk hidup lebih lama lagi.

Namun malam adalah peperangan, ketika aku merasa sepi dan hampa tanpa teman. Mereka datang begitu saja padaku oleh keadaan, namun aku menghindari seolah aku mendamba kesendirian. Aku takut. Aku takut melihat keramaian. Aku takut mereka mengobrak-abrik diriku. Takut mereka mengetahui identitasku. Aku melarikan diri menjemput kesendirian kemudian merasa hampa tanpa mereka.

Aku teringat pada momen beberapa tahun yang lalu ketika ketujuh orang yang dalam waktu nyaris bersamaan bisa memendam rasa kagum pada kepribadian dan karakterku. Dan dalam beberapa hari terakhir aku pun mendengar poin penilaian tentangku dari sudut pandang orang lain. Aku cukup menyenangkan, bisa diajak berteman, asyik untuk diskusi, pintar, inovatif, good listener, misterius, humoris. Banyak poin plus yang menjadi alasan pertimbangan kenapa aku harus mati?! Kenapa aku memikirkan cara untuk bunuh diri?

Namun kemudian aku ditarik pada kenyataan pada malam-malam sepulang lelah bekerja, aku mengecek ponsel dan semua sosial media yang aku punya tidak mampu menarik perhatianku. Tidak ada chat. Tidak ada notif. Tidak ada yang peduli. Hanya hampa dan sepi. Di situlah aku kewalahan mengalihkan pikiran bunuh diri dengan cara yang tidak membantu banyak.

Aku sempat mendownload Prisga, salah satu aplikasi anonim hanya untuk mendapatkan perhatian. Aku juga pernah menjajal anonym chat di Telegram hanya untuk menemukan seseorang untuk bisa diajak cahttingan. Aku juga pernah mencoba Soul, aplikasi sosial yang sedang tenar hanya untuk bisa mengobrol dengan orang-orang dari berbagai dunia. Aku coba mendekatkan diri kepada teman-teman di Twitter, mencari celah problem yang ia punya, mendengarkannya, memberinya ketenangan dan motivasi—hanya untuk berharap they will do the same if I need them later.

BUT IT ALL DOESN’T FUCKING WORK ON ME AT ALL!!!

I’m sill hoping to die. Lagi dan lagi.

Demi Tuhan, aku sudah coba banyak sekali cara untuk melarikan diri. Termasuk saat ini, ketika aku hanya menjadikan entri-entri di blogku sebagai pelarian dari pikiran bunuh diri. Aku sudah menyerah dengan hampir semua caraku. Aku hebat, aku berbakat, aku masih dibutuhkan, aku berpotensi, aku punya skill, aku pintar, aku penuh ide, tapi aku tetap merasa tidak berguna dan ingin mati.

Aku tidak bisa menemukan masa depan. Aku sudah mengambil jalan beputar dari jalan lurus dan mudah yang pernah dipilihkan Tuhan. Aku sudah kehilangan sebagian pondasi untuk masa depanku sendiri. Semua ketakutan itu akan tetap menghantui di belakang dan bisa menyerangku kapanpun.

I hate myself, but I do love myself too. The option it’s hard.

Aku akhir-akhir ini menemukan diriku menjadi lebih serakah. Aku mencari orang-orang anonim dan teman-teman lama untuk berbagi cerita. Aku bebankan ceritaku pada mereka agar sedikit terlepas beban sesak di kepala, kemudian mengumpulkan simpati dari mereka. Lalu dengan simpati dan kekaguman itu aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku masih mendapat perhatian. Aku tidak boleh mati. Roda itu berputar secara berulang, sampai aku tidak tahu mana saja yang pulang dan mana yang bertahan.

Orang sepertiku sangat menjijikkan. Aku tahu. Aku tidak seharusnya mencoba terlihat pantas mendapatkan semua perhatian itu. Tapi tanpa itu aku pasti sudah mati.

Ini tahun ketigaku. Dan aku masih belum mendapatkan satu pertolongan pun dari psikiater. Karena aku tidak tahu apakah kondisiku seperti ini pantas dengan harga konsultasi yang kulakukan dengan psikiater? Ataukah nanti dia hanya tertawa melihatku yang terlalu bertingkah membesarkan hal-hal kecil? Tapi jika ini sesuatu yang kecil, kenapa sampai detik di mana aku mengetikkan entri ini aku masih saja merasa kesepian? Ketakutan? Ingin mati?

Nat, I just wanna tell you that I’m not okay after you’re leaving.

 

Share:

Wednesday, July 7, 2021

Dia Tidak Perlu Tahu Kondisiku

 

Aku percaya di balik semu roda kehidupan manusia akan selalu ada campur tangan Tuhan. Ada peristiwa yang bisa dibaca manusia, tapi lebih banyak yang diabaikan. Mereka abai pada fakta bahwa semua peristiwa yang dialami selalu memiliki rahasia. Manusia itu adalah aku.

Juni datang dengan hujan secara tiba-tiba. Semakin sedikit sisa hari di bulan Juni, semakin jarang pula hujan menyambangi. Namun pagi itu entah kenapa hujan datang tanpa membawa pertanda apapun. Aku tertimpa musibah, pertama kalinya dalam 24 tahun hidupku. Kaki kananku mati rasa. Otot-ototnya membengkak akibat trauma. Aku menangis seperti anak kecil setiap kali harus memaksanya bergerak.

Pikiran negatif bergantian muncul di kepala. Selain menangis akibat sakit, aku juga menangis karena takut mempertaruhkan kehidupan normalku.

Musibah itu terjadi Senin kemarin, sudah sekitar seminggu dari hari aku menuliskan ini. Kondisi kakiku membaik, namun belum sepenuhnya pulih. Di hari keempat pemulihan aku melihat kemampuan kakiku mulai membaik. Aku memaksa pergi bekerja, menukarkan rasa sakit dengan teror-teror pekerjaan yang semakin menumpuk.

Dengan keterbatasan mobilitasku, aku berusaha terlahir kembali. Memulai semua ketertinggalan dengan harapan yang baik. Aku lebih memilih kesakitan karena memaksa kerja daripada harus tidak tahu apa-apa akibat beristirahat di rumah.

Di hari keduaku bekerja, kakiku tidak semakin membaik. Beberapa nyeri terasa semakin parah dibanding hari kemarin. Sedangkan keluargaku yang awam tidak juga membantu dengan reaksi apapun. Sekali lagi aku dihadapkan pada ketakutan. Aku kembali menangis. Kupanggil ibuku, kupeluk beliau sambil menangis dan kubisikkan kata-kata bahwa aku takut.

Aku tidak tahu kenapa aku menjad begitu lemah sekarang. Akibat menangis, suhu tubuhku mendadak tinggi. Aku batuk dan bersin berkali-kali. Kondisiku ambruk dalam hitungan jam. Dan aku berharap semua baik-baik saja.

Di bawah pengaruh obat analgetik aku mencoba memejamkan mata. Dan di sanalah semuanya bermula.

Kembali pada fakta yang kutuliskan di awal. Semua peristiwa yang aku alami tentu masih di bawah pengawasan Tuhan. Saat aku ketakutan dalam tidur, Beliau mengubah ketakutan itu dengan sebuah bunga tidur yang indah. Sangat indah dan sederhana. Tidak terlihat berlebihan sehingga membuatku merasakan bahwa mimpi itu nyata.

Aku dilempar pada suasana kota yang asing. Salah satu kota favoritku meski aku tidak yakin. Ada banyak segmen dalam mimpi, namun yang berhasil bertahan di kepalaku ada satu segmen ketika aku mampu berlari.

Aku dan dia. Ya, dia dari masa lalu. Dia yang sudha enam tahun ini tetap terpenjara di kepala. Dialah bunga tidur yang merebut ketakutanku. Aku dan dia keluar dari rumah itu, hujan rintik-rintik menyapa. Lantas kami bisa melihat dari kejauhan ada bias lampu jalanan yang berjejer indah. Aku berusaha  mengabadikan bias-bias lampu itu dengan kamera ponselku.

Tiba-tiba dia mendekat, lalu memberiku saran bagaimana sebaiknya aku mengabadikan momen itu dengan kamera. Tapi di antara kata-katanya dia berujar; “Kayak gini aja, karena aku berharap bisa gini juga sama calon tunanganku.”

Deg!

Jantungku mencelos. Sudah jelas mimpi itu datang dari dia di masa depan. Tapi saat itu yang aku rasakan adalah sesuatu yang terjadi sekarang. Atau barangkali di balik diamnya, dia sudah menyiapkan semua pencapaian. Aku tidak tahu bagaimana jadinya aku jika tahu dia akan mencapai tujuan akhirnya. Garis finish yang dulu aku sempat perdebatkan.

Itu masih sekadar mimpi, tapi kenapa sakitnya luar biasa menyiksa hati?

Bagaimana jika itu terjadi sungguhan? Apakah aku akan seperti David yang memilih mati?

Dan paska mimpi itu mampir, atau memang murni karena bantuan sebutir obat, keesokan harinya aku pulih. Namun dalam dunia nyata aku menemukan satu fakta bahwa dia baru saja memposting sebuah foto di Instagramnya.

Dia definisi kesederhanaan dan kemurnian. Tidak pernah muluk-muluk. Di balik hidupnya yang terliha mulus dan serba berkecukupan dia tidak pernah berlebihan mengeksposnya. Aku sungguhan jatuh cinta sejak pertama sampai hari ini untuk kesederhanaan itu.

Siapapun yang memilikinya nanti, kuharap dia terus bersyukur kepada Tuhan atas nikmat itu.

Dan untuk relasi dengan kondisiku yang sekarang, dia tidak perlu tahu. Aku tidak mau merusak hidupnya meski sempat ia berkata untuk sesekali kembali padanya.

Share:

Monday, March 29, 2021

Aku Terjebak dalam Kantor Berwarna Abu-Abu

 

Rasanya luar biasa pada akhirnya aku menyerah dengan kondisi fisikku. Sering kali aku mulai merasakan kondisi fisik yang sedikit terganggu, kemudian memilih istirahat atau meminum susu dan vitamin, kemudian kondisiku lekas membaik seperti semula. Aku tidak pernah benar-benar jatuh sakit sampai izin tidak bekerja. Namun kali ini pengecualian, sebab selain fisikku, mentalku juga ditempa oleh hal-hal yang seharusnya tidak kuperhatikan.

Minggu kemarin adalah hari-hari terberatku. Tiga deadline besar menjadi satu, saling bertumpuk minta diperhatikan lebih dulu. Belum lagi permintaan-permintaan dari bawahan dan atasan yang secara bersamaan meminta perhatian sampai aku kelabakan. Mana yang prioritas? Mana yang seharusnya didahulukan? Mana yang urgensinya tidak bisa menunggu? Hal semudah ini mendadak menjadi sangat sulit ketika aku mulai kehilangan kemampuanku untuk fokus pada pekerjaan.

Karena mentalku terganggu sejak lama.

Kuakui aku tidak mau berteman. Tapi sebagai manusia yang sejatinya adalah makhluk sosial, mau tidak mau aku dibebat rasa kesepian. Jadilah aku membangun relasi. Ada yang membuatku nyaman, tapi menyebalkan. Ada pula yang cocok sebagai tempat berpulang, tapi tidak memberiku kenyamanan. Sulit menemukan apa yag kuinginkan di usia segini. Atau memang aku sedikit pemilih dalam pergaulan mengingat sifatku yang ketus dank aku akibat kehilangan banyak kepercayaan pada orang-orang.

Aku pernah dibodohi. Pernah dimanfaatkan. Maka sekuat tenaga aku tidak mau berlebihan memanfaatkan orang lain, sehingga mereka tidak mengambil celah untuk memanfaatkanku juga. Tapi sedewasa ini pun aku masih bersusah payah mengurusi relasiku dengan orang-orang yang selalu berbicara soal hubungan timbal balik. Rasanya sungguh melelahkan. Sedangkan untuk berdiri di kaki sendiri, rasanya aku kesepian.

Aku lupa, tapi sepertinya aku pernah menulis entri atau thread tentang kendala yang aku temui saat pertama kali merasakan dunia kerja. Waktu itu problemanya masih sarat dengan senioritas. Mereka menganggapku ‘anak baru’ yang lambat beradaptasi dan tidak terlalu membantu. Sampai akhirnya ibuku bilang, “jika kamu ingin diterima di suatu tempat, maka jadilah berguna dan buatlah mereka tidak bisa melakukan sesuatu tanpa bantuanmu”. Dan setelahnya, aku membuktikan perkataan ibuku benar adanya. Mereka yang minim tahu tentang bahasa Inggris dan teknologi ‘memanfaatkanku’ dan menjadikanku seseorang yang dibutuhkan di sana.

Kemudian perjalanan dunia kerjaku berlanjut sampai aku menemukan pengalaman dan pelajaran yang banyak. Aku berkembang cukup pesat mengingat ini adalah kali pertama aku terjun ke dunia kerja. Aku bertemu dan bergaul dengan banyak orang bersamaan dengan kemampuan adaptasiku yang sebenarnya tidak terlalu buruk. Dan kemarin aku sempat merayakan peringatan satu tahun aku bekerja di sana. Tepat saat tanggal 6 Januari kemarin.

Namun, setahun di sana membuatku belajar bahwa dunia kerja sungguhan beda dengan dunia sekolah atau kuliah. Karena semua hal berkaitan dengan ‘bayaran’, maka apapun yang terjadi di sini terasa abstrak. Tidak ada guru BK yang mengawasi, tidak ada organisasi atau komunitas yang melindungi. Kamu benar-benar sendiri. Individualis bertahan.

Aku tidak secara langsung dibuli. Tidak. Tapi mataku menangkap banyak peristiwa yang tidak bisa nuraniku terima. Bukan lemah. Tapi karena aku terlalu marah pada pergaulan yang menurutku sangat tabu terjadi bahkan setelah aku melalui banyak pergaulan di Jawa atau Bali, di tempat mayoritas muslim atau minoritas muslim. Aku sempat kaget dengan banyaknya perubahan yang kuterima. Namun aku bertahan karena aku tahu, itulah satu-satunya jalan.

Hal-hal tabu hanya bagian dari angin lalu, bukan sesuatu yang bisa dipelajari sebagai tindakan yang tidak seharusnya dilakukan di dalam perusahaan. Saling menggoda, membuli, menaruh kasih sayang yang berlebihan, profesionalisme cuma saat dalam ruang meeting, atau saat kondisi genting saat seseorang ‘berulah’ dan berbuat kriminal. Larangan dan peraturan perusahaan hanyalah wacana.

Dulu, ibuku sering sekali mengharapkan aku dibayar lebih. Ia memintaku mencari tempat lain yang akan membayarku lebih. Tapi aku enggan. Aku menemukan banyak kesempatan di sini. Kemampuanku dan pengetahuanku berkembang, aku bisa belajar, aku dijanjikan masa depan. Bagaimanapun tidak ada satu alasan pun yang bisa kutemukan untuk meninggalkan tempat ini.

Namun seiring berjalannya waktu aku menyadari hal terbesar yang membuatku ingin berhenti justru datang dari orang-orang terdekatku. Orang yang setiap hari kuajak bicara dan berdiskusi. Orang yang sering membuatku bingung, sebab hari ini dia terlihat sangat bisa diandalkan, namun besoknya dia terlihat sangat menyebalkan. Dan ada banyak sekali hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan di sebuah perusahaan yang mereka lakukan entah sengaja atau tidak secara rutin. Nyaris setiap harinya. Bukan padaku secara langsung, namun cukup menganggu.

Dan akhirnya aku sakit juga. Jatuh di atas kasur meminum obat-obatan, mengetik satu pesan singkat mengatakan hari ini aku tidak bisa kerja. Aku juga heran, biasanya aku bisa bertahan. Sebotol vitamin dan sekaleng susu untuk pencegah, kini tidak mempan. Mentalku ditimpa oleh sikap buruk satu dua orang, sekali lagi tidak padaku secara langsung, namun cukup mengganggu.

Dan fakta seolah aku mendukung kesalahan mereka—atau berpura-pura tidak memedulikan apa yang mereka perbuat dan katakan, hanya membuatku sama seperti pegawai lainnya. Bungkam dan tidak mau mencari masalah. Padahal di dalam hatiku aku sudah bergejolak ingin membantah.

Tidak ada tindakan tegas di sini. Semuanya abu-abu. Dan dalam keabu-abuan itu juga aku merasa aman, sebab kinerjaku yang sering kali tertahan gangguan mentalku, sama sekali tidak terbaca mereka.

 

Share:

Friday, January 1, 2021

Coba Lihat Apa yang Kutulis di Hari Pertama Tahun 2021

 

Hei, ini entri pertamaku di tahun 2021. Pergantian tahun yang diisi banyak resolusi sepertinya tidak menjamin akan membuat diri siapapun menjadi lebih baik. Resolusi seperti omong kosong bagai kebanyakan orang, maka dari itu aku sama sekali tidak berani mengambil risiko. Bahkan ketika harapan dan rencana orang-orang terhalang oleh adanya pandemi, aku malah kehilangan semua karena ekspektasiku sendiri. Kegagalan diriku untuk memperlakukan hati, pikiran dan fisikku dengan baik layaknya manusia normal.

Aku masih belajar bagaimana caranya untuk mencintai dan menghargai diriku lebih dari siapapun. Aku berusaha untuk masa bodo dengan semua kebahagian orang-orang, berusaha tidak membandingkan pencapaianku dengan orang-orang, berusaha tidak terganggu dengan cerita indah orang-orang. Aku ingin menikmati hidupku sendiri dan kemudian menyadari, Ya Tuhan hidupku sama sekali tidak ada apa-apanya.

Coba lihat, sebagai seorang Capricorn aku terlalu banyak menaruh rasa kepedulian bahkan kepada orang yang tidak akan pernah mau membuka dirinya untukku. Aku bertanya are u okay kepada hampir setiap orang untuk kepekaanku yang berlebihan. Rasa peduliku menghancurkanku, sebab mereka pada akhirnya akan lari kepadaku karena mereka merasa sedih, sedangkan ketika merasa bahagia, namaku hanyalah nomor sekian dalam daftar prioritasnya.

Aku merasa aku dicampakkan banyak orang. Mereka hanya bercerita soal kesedihan hidup, kegagalan dan titik terendah mereka kepadaku. Mereka tidak akan mengingatku ketika mereka merasa bahagia, entah apakah itu karena mereka tidak mau menyinggung perasaanku ataukah mereka hanya sekadar lupa untuk menceritakannya. Apa yang bisa kusimpulkan dari ini adalah; mereka hanya menganggapku sebagai manusia yang penuh dengan kesedihan dan kegagalan.

Iya, kan?

Coba pikir, kalau mereka tahu aku bahagia dan sukses, mereka akan senang berbicara denanku soal kebahagian dan kesuksesan mereka juga. BODOHNYA AKU BARU PAHAM SEKARANG. Teman yang kutemui beberapa hari kemarin, teman yang mengajakku menghabiskan malam dengan seduhan kopi di antara suara berisik hujan pukul 9 malam barangkali adalah orang yang merasa senasib denganku karena dia juga merasa dicampakkan dunia. Tunggu beberapa bulan lagi ketika dia lulus, atau ketika dia menikah, dia akan melupakanku karena terlalu asyik dengan kebahagiaannya. Toh, dia hanya menjadikanku sebagai penguatnya. Aku dimanfaatkan.

Tidak semua orang di sekitarku akan begitu. Tapi sungguh demi Tuhan aku mulai menyadari rasa peduliku yang berlebihan ternyata bisa membunuhku secara perlahan. AKu merasakan ketika satu persatu dari mereka mulai menemukan jalan keluar menuju kebahagiaan dan lantas meninggalkanku di belakang. Mereka dan aku tidak saling menyadari kalau dengan cara itu aku sungguhan cuma dimanfaatkan. Aku tidak bilang semua orang akan begitu padaku, tapi sebelum semuanya terlambat, aku mulai sadar bahwa rasa peduliku amat berbahaya.

Minggu kemarin, saat aku melihat status sedihnya, status yang bilang ia tidak berguna, entah dengan kecepatan kilat, tanpa berpikir dua kali, tanpa mempertimbangkan relasi kita yang seharusnya tidak pernah dekat, aku membalas status itu dengan kalimat penguat. Mungkin dia kaget menerima kalimat semacam itu dari orang yang tidak pernah ada di daftar teman dekatnya. Namun saat itu aku masih beranggapan aku bisa melakukan kebaikan dan kepedulian kepada siapa saja, sejauh yang kumau.

Di usiaku yang ke-24, usia yang tidak muda lagi, aku mulai menyadari duniaku bukan di sini. Orang yang paling peduli padaku, yang paling mengerti kondisi mentalku, perlahan mulai pergi. Mulanya dia hanya bilang tidak mendapat jatah libur, kerjaan menumpuk dan tidak ada waktu untuk bertemu. Lama-lama setelah kurasakan dia seperti sibuk menyembuhkan lukanya sendiri dan masih kehilangan kekuatan untuk bisa membantu menyembuhkan lukaku. Dia perlahan pergi di saat aku hanya percaya dan membutuhkan orang sepertinya. Aku kehilangan kekuatan. Kekuatan paling besar di dunia ini yang bahkan tidak bisa kudapatkan dari keluarga kandungku sendiri.

Sedangkan yang lainnya? Aku meninggalkan mereka sejak lama karena aku takut membandingkan kebahagiaan dan pencapaianku dengan mereka. Andaipun ada, mereka tidak akan paham apa yang sedang aku alami. Aku dituntut harus menjelaskan, sedangkan ketika aku menjelaskan dan mempercayai mereka karena aku terlalu hancur, mereka hanya meresposn ‘hahaha namanya juga hidup’. Jenis manusia yang tidak akan pernah bisa paham mengenai kehidupan. Manusia yang jauh dari frekuensiku, yang sayangnya kenapa bisa menjadi sisa temanku satu-satunya?!

Duniaku sungguh bukan di sini. Aku cuma mencintai orang-orang semacam Im Changkyun atau Chae Hyungwon. Mereka yang membuatku senang karena memproduksi musik yang enak didengar, atau membuat acara berdurasi pendek yang bisa membuatku tertawa. Mereka yang tidak bisa kuajak berkomunikasi, mereka yang tidak pernah bisa kujamah. Mereka yang cuma kujadikan pelarian.

Lihatlah, betapa menyedihkannya akun media sosialku. Instagram cuma membahas soal bagaimana cara terbaikku untuk memalsukan kebahagiaan. Twitter cuma membahas betapa aku menikmati karya Shownu  dan Bangchan cs. Semua jenis usaha yang kulakukan untuk mengalihkan isu kesedihanku, ketidakbahagiaanku, keputusasaanku. Semua yang kutampakkan di media sosial sama sekali bukan aku.

Uhm, aku menulis ini karena dipicu satu orang. Hahahah.

Gila, aku takut kehilangan dia padahal dia bukan siapa-siapaku. Bukan, dia bukan orang yang aku suka. Kan sudah sejak lama aku kesulitan menyukai orang. Dia adalah orang yang sering merecoki, orang yang selalu mengejar kabar di saat aku tidka berkabar, orang yang selalu nyambung untuk membahas banyak hal. Aku takut kehilangannya tapi aku malu mengakui bahwa hidupku bergantung padanya.

Sejak aku tahu fakta ini, kemungkinan dia akan pergi, aku memilih pergi duluan. Aku akan menjauh darinya duluan, aku tidak akan peduli berlebihan padanya lagi.

WHY THE FUCK I CARE FOR THOSE PEOPLE INSTEAD MYSELF?!

Ya Tuhan, ini 2021, umurku sudah 24 tahun dan aku masih ingin mati.


Share:

Saturday, December 19, 2020

Hujan dan Keberanian Membuka Diri

 


Pertengahan Desember dengan hujan sudah menjadi sahabat sejak lama. Begitu pula ketika tahun pandemi ini terjadi, hujan sedang manja-manjanya dengan Desember. Nyaris setiap hari menyapa. Namun itu sama sekali bukan kendala, sebab aku selalu menikmatinya meskipun terkadang juga dibuat kesal. Sepatuku sering terkena basah, bajuku pun beberapa ada yang kesulitan kering.

Tapi tujuan aku menulis entri ini bukan karena mengeluh soal basah, atau bahkan untuk berlebihan memuja hujan. Tujuanku yang sebenarnya adalah untuk mengabari dunia bahwa aku sudah di tahap mencoba membuka diri.

Sejak akhir 2018 aku menutup diri dari banyak hal secara perlahan dan terstruktur. Bukan aku yang mau, semua terjadi begitu saja sampai terlambat aku menyadari bahwa aku benar-benar menarik pusat kehiduapanku seratus delapan puluh derajat dari kehidupan normal.

Sebut saja ini tahun kedua, pada akhirnya aku coba untuk perlahan menyembuhkan ketakutan.

Selasa kemarin, aku memberanikan diri membuka chat room-nya, mengetik satu pesan dengan takut-takut, mencoba menjalin komunikasi yang tidak seharusnya. Dia menyapa seperti biasa seolah tidak ada yang terjadi di antara kami—maksudku tidak ada yang terjadi padaku. Seolah aku masihlah orang yang sama, orang yang tidak bereaksi berlebihan pada luka dan rindu.

Namun dia sungguhan profesional. Berhadapan denganku, ia tetap menampilkan ketenangan. Dan seperti merasa tidak perlu berbasa-basi, dia akhiri percakapan dengan doa agar aku selalu sehat. Entah sehat dari segi apa. Fisikku sungguhan baik-baik saja di pergantian musim yang ekstrim, di tengah cuaca tak menentu. Seharusnya tidak perlu ia mendoakan seseorang yang jahat sepertiku.

Namun aku tidak bisa berbohong bahwa aku menghargai doanya. Dan berasumsi liar bahwa sebenarnya ia paham what the fuck are going with me! Tapi dia hanya menutup mata karena tidak mau terlibat. Sungguh sosok sempurna mirip alter ego yang aku buat.

Keterbukaanku tidak hanya berhenti padanya. Aku juga mengajak salah satu teman kampusku—teman yang tidak bersalah namun sangat membuatku ketakutan—untuk bertemu. Dia merespons sungguhan antusias. Dia menentukan tempat, waktu, seperti tidak ada satu pun kesulitan untuk bertemu. Dalam ingatanku ini pertemuan pertama kami setelah terakhir kali kami dipertemukan secara wajar dan normal di akhir tahun 2018. Sebelum semua beban yang kusimpan meledak dan membuatku kesulitan menerima dunia nyataku.

Dia datang malam itu dengan penampilan yang sama. Dengan senyum merekah dan rindu yang barangkali membuncah. Lewat lagu-lagu sengau dari pengamen jalanan, di antara riuh rendah suara pengunjung lain yang bercakap-cakap, di tengah aroma basah bekas hujan yang berpadu dengan aroma nikmat jagung bakar, aku dan dia saling bertukar cerita tentang apa yang tengah kami alami ketika dua tahun tidak bertemu.

We have our own life to sacrifice. Dia pun mengaku nyaris merasakan hal yang sama, namun berhasil mencari bantuan hingga tidak sampai separah aku.

Dalam ingatan, sungguh hanya bermodalkan ingatan, aku meyakini terakhir kali aku melihat dan berbincang dengannya secara langsung adalah akhir 2018 yang lalu. Ketika dunia masih sedang baik padanya dan padaku. Ketika ketakutanku masih belum separah ini. Dan Demi Tuhan dia masih bisa menahan semua beban itu sedangkan aku sudah lama menyerah.

“It’s okay, you have your own reason. You’re already adult enough to make a life decision.”

Begitu katanya, untuk menenangkanku yang sebenarnya tidak pernah mempan dengan kata-kata semangat dan motivasi. Namun aku menghargainya.

Obrolan kami berlanjut sampai pukul sebelas malam, di bawah kursi teras sebuah minimarket kami melanjutkan perbincangan yang melulu membahas soal kehidupan. Kami berasal dari dua latar belakang yang berbeda, agama, budaya, material, pendidikan, pengalaman, kesulitan dan pandangan hidup. Tapi kami bisa menghargai keputusan satu sama lainnya. Mendukung. Menguatkan seperti dua orang survivor yang bekerjasama mencari jalan keluar dari sebuah labirin besar.

“Demi Tuhan aku takut mendengar nama mereka.” Akuku saat ia berhasil memberiku kabar terkait nama-nama yang dulu pernah aku anggap biasa saja.

Bahkan nama-nama itu bukan sebuah mantra, bukan pula kutukan. Mereka tidak pernah meninggalkan satu pun bekas luka atau kenangan buruk padaku. Akulah yang menjauh, yang menutup diri, aku tidak mau menemui mereka, aku tidak mau mendengar kabar mereka, aku tidak mau tahu soal kehidupan mereka dan membandingkannya dengan kehidupanku. Aku takut. Sungguhan takut. Bahkan hanya dengan mendengar namanya saja aku sudah takut.

Lalu aku meminta ia berhenti.

Jangan sebut lagi. Karena upayaku membuka diri belum sampai tahap ketersediaan bathinku untuk menerima mereka kembali.

Desember adalah akhir tahun yang membuatku sedikit bersyukur. Membuat tahun 2020 tidak separah yang pernah aku bayangkan. Aku mulai menemukan diriku dan apa yang aku mau. Aku menutup mata dan tidak peduli pada orang-orang atau sesuatu yang tidak menguntungkanku. Meskipun aku masih saja belum bisa menemukan tujuan hidup, tapi apa yang kulakukan sekarang—paling tidak di bulan Desember ini—sedikit membuatku lega.

Lucunya, pada akhir tahun ini hubunganku dengan beberapa orang tertentu mendadak menjadi lebih intens. Aku juga makan lebih banyak makanan enak. Aku mulai menyisihkan uang dan berjuang untuk tidak membeli sesuatu yang tidak kuperlukan (kecuali makanan). Aku sibuk dengan hal-hal kekanakan seperti crying over how sexy Im Changkyun is atau menulis imajinasi yang kumiliki sendiri tentang cinta segitiga antara Si Kaya Raya—Im Changkyun, dengan Si Penjudi Handal—Chae Hyungwon dan Si Psikopat Tampan—Lee Minhyuk.

Hal-hal yang tidak terlalu membutuhkan banyak tenaga untuk menangisi orang yang tidak mencintaiku, atau memendam amarah pada teman yang lebih dekat dengan orang yang kusuka, atau diam-diam menyukai seseorang dan menerka apakah dia menyukaiku juga atau tidak. Hal-hal manusiawi yang sudah lama kau tinggalkan karena aku tahu rasanya sungguh melelahkan. Aku tidak masalah dikata kekanakan, aneh, maniak atau apalah. Aku tahu apa yang aku mau. Aku tahu apa yang sehat bagiku. Aku tahu apa yang bisa membuatku senang dan bisa mengurangi stress bekerja.

Aku menikmati cowok-cowok plastik seperti kata mereka. Aku menikmati drama alay seperti kata mereka. Aku menikmati ‘apasih lagu Korea’ seperti kata mereka. Karena aku tau apa yang aku mau dan apa yang bisa membuatku senang. Aku mendapatkan semua itu tanpa harus mencuri dari mereka. Tidak merugikan mereka sama sekali. Jadi, fuck the shut up.

Btw, sesuatu yang kugandrungi atau kulakukan di bulan Desember cenderung akan kuingat lebih lama. Dan ya ampun sebentar lagi aku ulang tahun. Congratulations for being strong enough. Aku masih hidup sampai usia 24 tahun woyyyy setelah berkali-kali pernah berpikiran mau mati. Huhu.

Share:

Thursday, November 26, 2020

Kamu pun Menjelma Menjadi Alter Ego

 

"Pergilah sejauh-jauhnya, karena aku ingin merindukanmu sedalam-dalamnya, membahasmu sepuas-puasnya, mengingatmu sedetail-detailnya, mengharapmu sesakit-sakitnya dan memahami eksistensimu senyata-nyatanya. Pergilah sejauh mungkin, maka kau tidak perlu tahu itu aku."

November, salah satu bulan favoritku karena dianugerahi hujan. Dan aku menulis ini di saat hujan sedang rutin-rutinnya menyambangi bumi ketika cuaca sedang panas-panasnya. Dan entah, aku memang terlalu mahir manyangkutpautkan semesta dengan kejadian yang aku alami, dengan perasaan yang aku rasakan. Seperti dilebih-lebihkan, padahal ini cuma sebuah apresiasi atas bakat menulisku.

Penggalan puisi singkat di atas mendadak muncul di kepala saat aku tanpa sengaja membaca salah satu ‘status’nya. Seperti aku ingin menjawab dengan lantang, merespons dengan tegas bahwa keputusannya untuk pergi bukanlah hal yang menggentarkan. Meskipun aku tidak tahu subjek dalam ‘statusnya’ sungguhan aku atau bukan.

Malam saat aku akhirnya menyerah memberitahunya semua naskah-naskah berisi lukaku, berisi kedooku, berisi aibku, saat itulah aku sebenarnya sudah mempersilakan ia pergi. Aku sudah siap dengan segala risiko dibenci. Seolah sosok dia yang selama ini kuidamkan sudah ter-copy, menjadi satu sosok alter ego atas kehendakku sendiri.

Kubangun ia menjadi apa yang aku mau, sosok yang paling mampu menyakiti lewat semua kesempurnaan. Sangat jauh berbeda dari apa yang sebenarnya nyata ada dalam sosoknya. Aku benar-benar tenggelam dalam ilusi kesempurnaan yang kuciptakan sendirian. Membiarkan sosok nyatanya pergi lewat semua keikhlasan.

Aku ikhlas. Sungguh-sungguh ikhlas bila ia membenciku. Terlebih setelah ia tahu apa yang selama ini kutulis tentangnya. Tentang imajinasi indah yang kurealisasikan lewat sebuah cerita-cerita panjang. Cerita yang semestinya bisa mendapat banyak apresiasi, namun tidak pantas mendapatkan publikasi.

Oleh karena itu saat dia memutuskan pergi, aku sungguhan siap. Hatiku kuat. Aku tidak akan mengemis meminta kehadirannya kembali dalam hidupku. Aku sudah memahami diriku sendiri, sudah mampu mengenali mana luka, mana ilusi, mana bahagia dan mana nyata. Aku tidak keberatan sama sekali jika ia pergi, memutus semua rantai komunikasi yang kita miliki.

Terima kasih karena pernah ada. Kepergianmu malah memberiku banyak ruang sebebas-bebasnya untuk berekspresi tanpa takut diketahui.

Ya Tuhan, berapa entri yang cuma bisa kutulis dalam satu tahun ini?

Semoga di bulan Desember nanti ada satu entri lagi, ya? *senyum*

Share:

Sunday, October 4, 2020

Kim Junghyun and His Psycopath Role

 

 

Blog ini memang memiliki tingkatan abstraksi yang tinggi. Isinya bisa mengarah ke mana saja, tapi aku selalu memiliki satu tujuan; yaitu diriku. Setiap entri yang aku publikasikan di sini adalah penjelasan secara tidak langsung mengenai apa yang aku alami dan rasakan, termasuk satu entri ini. Sebuah entri yang judulnya mirip seperti judul artikel gosip K-Drama yang kebanyakan ditulis dengan minim informasi dan menonjolkan foto-foto aktor gantengnya.

Sebelum aku menyalahkan Kim Junghyun yang tidak terlalu terkenal (aku yakin), izinkan aku menjelaskan kenapa aku sampai menulis artikel dengan mencatut namanya sebagai judul.

Pertama, dibandingkan aktor K-Drama lain yang memiliki tubuh tinggi dan atletis, sebut saja seperti Kim Woobin, Lee Minho atau Park Seojun, aku malah tertarik dengan perawakan seorang Kwak Siyang yang bahkan namanya belum pernah menduduki posisi main role disebuah drama.

Kemunculan dan performa Kwak Siyang di Running Man membuatku kagum. Entah, perawakannya tinggi dan cukup atletis namun tidak berlebihan. Sebuah sosok yang kuasumsikan sangat cocok untuk menggambarkan seorang David Joachim—tokoh utama novel yang sedang kutulis. Bahunya lebar, rahangnya kokoh, dia terlihat tampan dan bisa sangat manis bila tersenyum. Terlebih suaranya yang khas serta tawanya yang renyah membuatku semakin mengimajinasikan begitulah sosok David sebenarnya.

Sebentar, sudah berapa nama aktor Korea yang kusebutkan? Apakah cukup membingungkan? Hahaha. Aku memang harus memutar lewat stasiun dulu untuk sampai ke pasar dekat rumah. Intinya aku memang menikmati setiap penjelasan yang detail seperti ini. Toh aku menulis entri ini untuk diriku sendiri. Namun aku mengasumsikan seperti ada pihak kedua yang kuajak berbicara di sini.

Jadi, mari kita ingat sosok Kwak Siyang yang aku simpan untuk role model tokohku.

Jika kalian membaca ceritaku Beautiful Move On, di sana setiap detail fisik yang aku gambarkan untuk David selalu kuambil dari Kwak Siyang. Namun dengan kesan lokal tentunya. Tidak 100% mirip dengan Kwak Siyang.

Sudah cukup dengan Kwak Siyang. Sekarang kita akan memasuki babak baru perkenalan dengan nama dalam judul entri ini. Sebelum itu izinkan aku menjelaskan kenapa aku menulis entri ini dengan sangat runtut dan panjang.

Di entri-entri sebelumnya, aku selalu membandingkan keberhasilan, pencapaian, kebahagiaanku dengan seseorang. Aku mengasumsikan diriku sebagai orang yang kalah, orang yang tidak bisa beranjak dari masa lalu, if u’re guys get the point. Aku sungguhan menulis tentang diriku, tentang apa yang aku rasakan. Namun, setelah aku rasakan, aku telah lagi, aku pun bertanya; apakah benar aku gagal move on? Apakah sungguhan aku merasa tidak bahagia karena terus membandingkannya dengan dia?

Dia; harus kuakui dialah satu sosok dari masa lalu yang menciptakan momen paling bahagia dalam hidupku. Aku sungguhan memiliki dia. Sosok yang aku anggap sebagai alasan kenapa aku merasa gagal. Gagal bahagia, gagal menemukan apa yang aku mau, gagal mencintai orang lain, gagal percaya pada diri sendiri, gagal membiarkan orang lain untuk bersimpati denganku. Aku hanya berfokus padanya. Seperti dialah pusat duniaku.

Tapi aku sadar, dia baru datang sebagai interupsi di saat aku mulai menulis DLN, prekuel Beautiful Move On di tahun 2018. Padahal kisah kami sudah lama berakhir sejak 2015. Kenapa aku baru merasakan kesedihan mendalam seolah aku gagal move on di tahun ketiga setelah aku berpisah darinya?

Dulu aku buta. Aku menutup mata. Sampai Kim Junghyun dan peran psikopatnya memberiku sedikit pertimbangan.

Kim Junghyun adalah main aktor di serial Welcome to Waikiki season pertama. Sebuah drama lucu yang level humornya cenderung tidak masuk akal. Tapi meskipun begitu, aku terhibur dengan dramanya. Sampai pada akhirnya aku merasa tokoh Kang Donggu yang diperankan oleh Kim Junghyun mengingatkanku pada seseorang. Suaranya yang dalam saat berbicara, model rambutnya yang dipotong sederhana dan sedikit berponi, perawakannya yang tegap tinggi dengan bahu lebarnya.

Kwak Siyang. Dia mengingatkanku pada sosok Kwak Siyang milik David Joachim dalam karakter novelku.

Jujur, disaat aku mengecek cast drama ini, nama Kim Junghyun bukan berada di daftar utama pemainnya. Padahal di dalam dramanya dia memerankan tokoh utama central yang berkaitan dengan semua tokoh di sana. Saat itu aku merasa tidak adil dan memutuskan untuk mencaritahu mengenai Kim Junghyun lebih lanjut.

Paska memerankan sosok absurd, kocak dan cenderung aneh di drama Welcome to Waikiki, Junghyun menerima tawaran untuk bermain di drama bertajuk Time (bukan sebuah drama yang hype I guess). Di sana dia mendapatkan peran sebagai Cheon Suho, sosok kaya raya yang sedikit dingin dan bengis, bahkan diibaratkan sebagai psikopat. Aku kurang tau bagaimana alur cerita drama Time itu, tapi dari artikel yang aku baca, ternyata berita yang dituliskan tentang Kim Junghyun dan perannya di Time cukup pantas untuk dibicarakan.

Kim Junghyun dalam jumpa pers drama Time


Dalam sebuah jumpa pers drama Time, Junghyun menuai kontroversi karena sikapnya yang dinilai tidak profesional. Banyak netter yang membicarakannya dan menyebutnya berperingai buruk. Namun kemudian terungkap saat acara jumpa pers tersebut ternyata Junghyun sudah mengalami depresi.

Depresi atas apa?

Sebagai aktor, tentu saja Junghyun merasa tertantang setelah mendapatkan peran psikopat. Ia berlatih keras untuk menyesuaikan karakternya dengan tokoh Cheon Suho tersebut. Karena terlalu ‘mendalami’ karakternya, Junghyun menjalani kesehariannya (di luar kepentingan syuting) sebagai Cheon Suho, bukan lagi sebagai Kim Junghyun. Dia mengalami abstraksi dalam dirinya hingga membuat dia kesulitan makan dan tidur. Memang kalau hanya membaca fakta ini, rasanya seperti biasa saja. Tapi tidak mudah untuk mengalami kesulitan melakukan 2 hal penting seperti makan dan tidur jika memiliki gangguan yang serius.

Lalu atas saran dokter, Kim Junghyun harus berhenti dari drama Time. Dan jalan hengkang Junghyun pun terasa amat panjang. Ia mesti melakukan banyak diskusi dengan kru produksi, belum lagi para netter yang tidak sepenuhnya bisa memahami kondisinya. Namun pada akhirnya sang sutradara memutuskan sosok Cheon Suho mati akibat sakit. Dengan begitu Kim Junghyun berhenti dari proses syuting drama sepanjang 32 episode itu.

Kim Junghyun dalam drama Welcome to Waikiki


Dan apa hubungannya dengan entri ini?

Hm, entahlah. Kuharap sampai sini saja semuanya sudah bisa dipahami.

Setelah membaca artikel Junghyun aku seperti mendapatkan cermin untuk merefleksikan diri sendiri. Tapi aku tekankan sekali lagi, aku belum resmi duduk di kursi konsultasi, berhadapan dengan psikolog profesional dan mendapatkan diagnosanya. Aku hanya berasumsi, serba berasumsi.

Aku yang kehilangan selera makan, aku yang sering sedih secara berebihan, aku yang sering menangis tanpa alasan, aku yang merasa hidupku sudah tidak berguna, aku yang merasa kehilangan tujuan tanpanya, bagaimana jika itu semua hanyalah ‘alter ego-’ku karena terlalu mendalami karakter David Joachim?

Dan di awal aku mengalami semua prosesi ini, saat aku menangis tidak berkesudahan pertama kalinya, aku berasumsi ini hanyalah pendalaman karakterku pada tokoh yang kubuat. Aku terlalu berlarut-larut dengan novel Beautiful Move On dan menciptakan sosok David dalam diriku. Dan aku nyaman dengan itu. Aku seperti menjadikan David sebagai diriku yang hidup di dunia yang lain. Apa yang aku inginkan, apa yang belum sempat aku dapatkan, apa yang pernah aku lewatkan, kutuliskan semuanya dengan jelas dalam karakter David.

Persis, seolah David adalah sosokku yang paling aku inginkan ada.

Aku tidak tahu istilah apa yang harus aku gunakan untuk menyebut masalah yang kualami. Tapi ini berpengaruh pada kehidupan nyataku. Bukan hanya membuatku kehilangan selera makan, aku bahkan menarik diri dari lingkungan, aku sungguhan berwatak kasar, cuek, tidak pedulian, temperamental dan bahkan kesulitan berempati apalagi jatuh cinta. Persis seperti David.

Aku tidak tahu apakah yang kurasakan ini serupa dengan apa yang dirasakan Kim Junghyun.

Bedanya, Kim Junghyun sudah berhasil mengatasi dirinya. Dia sudah sembuh dan sudah kembali berakting. Sedangkan aku, aku masih menikmati prosesi menghidupkan David untuk memuaskan dahaga yang tidak kulegakan di dunia nyataku.

Aku masih sibuk menulis Beautiful Move On dan mencoba memenangkan diriku sendiri. Meski sejatinya David dalam diriku sangat-sangat mempengaruhi kehidupan nyataku.

Apa aku sungguhan butuh psikolog? Ataukah aku terlalu berlebihan menyikapi ini.

Hahaha, sepertinya aku saja yang lebay.


Share:

Wednesday, May 20, 2020

The World I Live In; Pathologhical Liar



Hai, Nat.
Umurku sudah 23 tahun. Seharusnya aku sudah bisa sebahagia kamu. Sudah bisa mulai memikirkan masa depan, menyusun kisah cinta dengan calon pedamping idaman, atau mulai meniti kariri agar tetap berpenghasilan.
Tapi semakin dewasa, akalku mulai tergerogoti ketidakwarasan. Aku lebih suka bermain-main, mencari keberadaan hidup yang tidak pernah bisa aku miliki. Misalnya soal kekasih idaman. Aku menjelma menjadi sosok yang aku inginkan, sesuatu yang bila sungguh aku nekatkan hanya akan menambah dosa dan beban keluarga.
Lalu mereka datang; para korbanku. Mereka percaya figur ini ada. Figur yang aku definisikan sebaik mungkin, sifat, rupa, lata belakang, fisik dan lain sebagainya. Lantas larut dalam cerita karena aku pendefinisi yang baik. Atau barangkali adalah manipulatif ulung. Merasa berdosa? Tidak.
Aku melakukannya sekali, kemudian lagi. Terus berulang kali. Ketahuan sekali, merasa aman dan tetap mengulanginya lagi. Aku memanipulasi semua secara bertahap. Membangun rasa simpati dari mereka seolah mereka sedang bberkenalan dengan figur yang aku idamkan ada. Bahkan hebatnya, aku tidak kesulitan membedakan mana dunia nyataku dan mana dunia hasil manipulasiku.
Sampai detik di mana aku mulai sadar, korbanku banyak sekali.
Detik di mana di sebuah platform ada yang tengah mendiskusikan istilah faker dan bagaimana manipulasinya bekerja. Lantas aku berkaca, Nat. pakah aku sama jahatnya seperti para fakers itu? apakah aku bagian dari mereka?
Tapi kebohonganku tanpa mencari untung! Aku tidak butuh uang! Aku hanya ingin menghidupkan figur yang ingin sekali kuhidupkan. Aku hanya butuh sebuah cerita hidup yang lebih baik dari kehidupanku sekarang. Aku cuma butuh perhatian, simpati dan rasa sayang.
Aku tidak sama.
Sampai tadi, kutemui istilah pathological liar.
Hey, it suits me well.
Pathological liar biasanya berbohong tanpa ada keinginan mendapatkan sesuatu. Merupakan pencerita yang ulung, meski garis besar cerita mereka terdengar rumit, namun dengan kemampuannya mereka dapat meyakinkan orang lain. Hal ini dapat dikatakan dipicu oleh keinginan untuk mendapatkan simpati dan kekaguman orang lain. Tak jarang mereka sampai terbawa arus sampai mempercayai kebohongannya sendiri. Dan kebohongan pathological liar terjadi dalam skala besar dan berulang, tanpa mngambil keuntungan materi sesudahnya.
See?
Setelah bertahun aku hidup mengcover diri menjadi orang lain, membiarkan orang menganggap aku seperti itu, membenci diri sendiri saat tampil apa adanya. Aku baru tau, mungkin inilah yang kuderita selama ini.
Tidak ada studi lanjutan yang bisa menjelaskan penyebab terjadinya pathological liar, atau berefek apa nanti pada akhirnya. Yang jelas, aku mesti membuang rasa cinta banyak orang padaku karena sosok yang kumainkan tidak sungguhan ada.
Jahat sekali. Tapi aku terus mengulanginya.
Nat, kenapa aku tidak punya banyak uang bahkan setelah aku bekerja, ya? Sebelum aku tau diagnosa apa yang sebenarnya ada pada tangisan-tangisanku di malam hari dan keinginanku untuk bunuh diri, kini aku tau ada abnormlaitas lain dalam batas warasku. Aku butu psikiater. Tapi kenapa mahal sekali untuk satu konsultasi.
Aku bingung harus menceritakan yang mana. Tapi sepertinya semua abnormalitas ini bermula setelah aku kehilangan kebahagiaan dari keberadaanmu.
Kalau kamu sampai baca ini, aku berani sumpah kamu tidak akan mengerti. Kamu terlalu normal untuk emamhami aku yang abnormal.
Kamu satu dari sekian orang awam itu, yang tidak bisa menilai sebuah kesalahan dari segi psikologi. Apa yang akan kamu tanamkan hanyalah aku jahat, aku menyedihkan dan aku tidak pantas dikasihani.
Ya Tuhan, siapa yang sebenarnya jahat di sini?
Aku yang abnormal atau dia yang awam?
Dan satu hal yang perlu kamu tau Nat, tidak ada kebahagiaan yang sempurna dari sebuah manipulasi. Jadi aku tidak pernah bahagia. Hehe.

Share:

Friday, March 20, 2020

I Cannot Find My Grand Escape



Berpikir ini bukan depresi selalu terjadi. Menertawakan diri sendiri kemudian bilang kalau ini cuma halusinasi tanpa ekstasi. Demi Tuhan, sebagian hati yang lain terkadang berontak dan bilang; kamu sakit. Tapi pikiran datang mempertegas rasionalitas bahwa ini terjadi sebab fantasi. Aku seorang penulis yang mahir berkhayal membangun cerita yang sebenarnya tiada. Dan ketiadaan itu bertransformasi menjadi tangis-tangis yang kudengungkan sebagai depresi. Barangkali.

Aku belum benar-benar duduk di kursi klinik, bertatap muka dengan psikolog dan membicarakan segala sesuatunya dengan kesaksian sebuah meja.

Bulan-bulan melelahkan yang mengundang putus asa nyaris tiap malam kini telah sedikit memudar. Tahun 2020 menjemput takdir baru sembari berharap ada satu jalan pintas untuk menemukan pintu keluar dari nestapa berkepanjangan. Lewat sebuah pekerjaan. Pengalaman luar biasa yang aku dapatkan. Terlalu antusias hingga lemah diri mengantarkanku lelap tanpa sulitnya buaian. Cukup pejamkan mata dan menghilang di dalam alam mimpi.

Senikmat itu rasanya tertidur tanpa usaha.

Dan kini, saat lelah yang kurasa berubah menjadi ogah. Tuntutan yang tak pernah habis, target yang seringkali tak masuk akal, suruhan yang mesti diikuti, masukan yang tak pernah mendapat tempat. Semua mengubahku perlahan menjadi pengingkar janji. Janji yang pernah kubualkan di depan pertemuan, saat mereka mengetes sejauh mana aku menginginkan pekerjaan ini.

Semua tekanan telah membuatku padam. Harapan yang pernah kujunjung setinggi langit nyaris runtuh di hadapan kepengecutan. Aku nyaris menghentikan langkah, menutup pintu jalan pintas ini karena tak sekapasitas. Sesak sekali untuk bertahan di ruangan yang tak memberimu napas.

Meski jalan ini tetap kutapaki, sesekali aku masih saja goyah. Apakah ini sungguhan jalan keluar yang aku inginkan? Apakah ini sungguhan cara agar membuatku bertahan?

Aku kehilangan saat tujuanku bukan lagi kamu.

Semua keinginanku berhamburan. Semua ingatan ekstensiku hidup perlahan berguguran. Masa depan tak pernah lagi terlihat. Sedangkan masa lalu tercetak jelas mengikuti langkahku. Aku sendirian. Tanpa bantuan.

Mau mencari pinjaman tangan saja perlu menukar ribuan rahasia. Bila enggan, mereka mana paham? Untuk apa aku mengemis bantuan sedangkan ketakutanku tak pernah diungkapkan? Padahal aku takut pada diriku sendiri. Kenapa sampai saat ini tidak pernah berhasil menjadi apa yang kuinginkan. Kenapa sampai detik ini bergerak sesuai apa yang diinginkan orang.

Tapi keinginanku sepenuhnya berkawan dengan dosa. Identitasku nyaris tak diterima dunia. Satu saja kuungkapkan, maka dia akan lari. Takut setelah tau siapa aku. Ngeri aku menjerumuskannnya barangkali. Tidak sudi pinjamkan tangan sebentar untuk membantu.

Aku tidak pernah diterima oleh diriku sendiri. Bagaimana aku bisa diterima oleh orang lain?

Tidak ada yang benar-benar mengundang tawaku. Demi Tuhan aku rindu bagaimana aku berkawan tanpa kepalsuan. Tertawa tanpa sembunyikan luka. Aku sungguhan takut menuliskan ini. Takut luka itu basah lagi. 
Share:

Thursday, January 30, 2020

Hujan Seharian dan Kesedihan Menahun


Aroma hujan masih bersisa. Bekasnya bahkan terasa di ujung penciuman. Suaranya masih kentara di telinga. Basahnya tetap terasa di ujung jemari. Karena sungguh Tuhan telah tunjukkan kuasa-Nya. Satu doa dari hamba kerdil sepertiku kembali dikabulkan.

Paska sujud rutinku pada-Nya, hari ini doaku berulang sama; Tuhan, biarkan hujan tetap begini. Aku tidak pernah membenci hujan meski basahnya kadang menyebalkan.

Lantas hujan turun seharian tanpa henti. Sejak pagi tadi aku belum melihat mentari sampai malam ini aku menggigil di balik selimut. Dan sekali lagi, Tuhan masih peduli padaku yang kerap lalai pada hubungan kami. Antara pencipta yang tunggal dan mahkluk ciptaan serba kekurangan.

Tapi nikmat hujan yang tak pernah kubenci mesti berakhir kala pesan yang kukirimkan kemarin berujung sebuah sambutan. Sedikit banyak kami berbasa-basi, ia hanya sebagai formalitas. Dan aku susah payah tampilkan keadaan yang sama baiknya.

Satu kabar itu datang bagaikan jelmaan tulisanku yang menjadi nyata. Mendorong aku sebagai tokoh utama jatuh ke dalam lubang hitam berisi duri tajam. Di mana-mana rasanya sakit. Butuh banyak waktu sampai aku berhenti melamun. Butuh berjuta tenaga sampai kakiku kembali bergerak. Aku dibuatnya diam. Lama. Resapi kesadaran diri; oh kita sudah jauh sekali.

Aku tidak pernah tahu, puncak yang ia buat setinggi apa. Dia terlalu dewasa untuk mengartikan jalan hidupnya dengan sempurna. Sokongan latar belakang kehidupan yang baik. Menjadikan semua jalannya mulus tanpa hambatan. Atau memang ia adalah sosok sempurna yang takdirnya bersih dari kecacatan. Hingga apapun pilihannya tidak pernah salah sedikit pun.

Lalu aku? Hanya seonggok daging yang nyaris mati. Salahkan takdir melulu, gampang meyesal dan menyerah. Bosan adalah nama tengah. Tidak pernah mencintai apa yang dilakukan sedangkan harapannya dipupuk setinggi langit. Sudah tau jalannya terjal, tidak ada sokongan pula. Masih saja tertidur di ranjang dan enggan beranjak.

Menatap masa depan saja tak bisa.

Tahun 2020. Satu perbedaan jarak kembali tergelar. Panjang. Jauh. Tak tergapai. Aku merangkak, ia berlari. Aku mencari, ia menemukan.

Satu kunci yang kuyakini menjadi perbedaan besar dari kita bukanlah soal siapa yang bersemangat dan siapa yang malas. Melainkan siapa yang berhasil melupakan dan siapa yang masih berkubang dalam ingatan.

Demi apapun. Bila rasa sakit di kaki akibat 8 jam berdiri tidak pernah kurasakan seperti sekarang, dan aku hanya terdiam di atas kasur setiap hari, aku mungkin sudah sungguhan mati.

8 jam ini adalah gang kecil berkelok tempatku kabur dari kejaran kematian. Tiap hari aku berlari. Lelah pada malam hari, hingga tak sempat menangisi bantal yang tak bersalah. Sibuk di siang hari, hingga tak ingat berapa luka yang terus bertumpuk bebani pikiran.

Aku cuma harus bertahan. Demi apapun aku mesti bertahan untuk 8 jam ini. Tiap hari. Bukan materi yang kunanti. Tapi hanya kesibukan, kelelahan, agar rasa tak bergunaku berkurang.

Sempat berpikir kenapa Tuhan sekejam ini rayakan hujan seharian yang lama kunanti dengan satu kabar menusuk dada sampai aku tak kuat berdiri?

Ternyata ini adalah harga yang mesti kubayar. Tuhan telah kabulkan doaku pagi ini memohon hujan turun karena aku merindukannya.

Semoga setelah ini aku masih bertahan hidup.











Share:

Monday, December 23, 2019

I'm Dead on My Own Nightmare




Mungkin ini sudah agak sedikit terlambat, ketika seharusnya pagi tadi setelah aku terbangun, aku bisa langsung menuliskan setiap detail apa yang aku alami. Aku mengira semua mimpi-mimpi tentang pesawat jatuh, gempa, tsunami yang pernah menghampiri adalah yang terburuk. Nyatanya, semalam aku mengalami fase paling buruk dalam mimpiku. Mimpi yang menjelaskan ketakutan terbesarku selama ini.

Bukan bencana alam. Bukan juga psikopat kejam berlari mengejarku sambil mengangkat pecahan botol.

Ketakutan terbesarku adalah diriku sendiri.
Aku yang dulu masih bisa tertawa tanpa perlu banyak usaha kini menjelma menjadi sosok yang ingin menghentikan kehidupan. Aku. Aku yang ternyata sudah berubah sejauh ini. Sebanyak ini.

Mimpi itu adalah visualisasi apa yang aku takutkan selama ini. Apa yang paling mengganggu dan membebaniku. Aku masih ingat mimpi semalam terdiri dari banyak fragmen yang berantakan. Tiap fragmen berisi masing-masing ketakutan dan pesan yang jelas. Aku tidak ingat fragmen mana yang lebih dulu datang dan mana yang kemudian menyusul di belakang. Tapi aku akan mencoba untuk mereka ulang semampu ingatanku.


Kejadian pertama, aku mengajak salah satu teman terdekat yang aku asumsikan sebagai orang paling dekat dan sering hang out denganku. Atau kemungkinan dia adalah saudara yang lama tidak bertemu dan mau mengajakku pergi keluar, menghabiskan waktu bersama. Saat itu aku yang biasanya selalu menggunakan pakaian serba monokrom, tiba-tiba saja memilih pakaian warna kuning cerah dengan perpaduan hijau. Dan hebatnya, aku tidak merasa risih sama sekali.

Ibuku memberiku uang 500 ribu, padahal aku tidak pernah diberi uang saku sebanyak itu. Aku mengasumsikan bagian ini terjadi setelah aku dititipkan uang sekian juta setelah ibu menyelesaikan pesanannya. Tapi waktu itu aku menolak. Aku mengambil uang 100 ribu sebagai bekal untuk pergi dengan 'orang itu'.

Saat aku menyalakan motor dan menyusul dia di rumahnya, mendadak rumah itu menjelma menjadi rumah tetanggaku dulu. Dia bukan bagian anggota keluarga itu, namun dia berdiri di sana dengan pakaiannya yang rapi. Tapi ketika aku melintasi depan rumahnya, aku melihat anggota keluarganya sedang memindahkan banyak barang ke dalam bagasi mobil. Aku berpikir keluarganya akan pergi.

Dan tentu saja, dia tersenyum getir ke arahku sambil menggeleng. Dia tidak jadi pergi denganku. Dia lebih memilih pergi dengan keluarganya.

Aku cuma bisa senyum saat itu. Sedikit kecewa karena dia membatalkan janji sepihak. Aku tidak masalah dengan banyak waktu yang kugunakan untuk berpakaian serapi ini. Aku hanya kecewa tidak banyak waktu yang kami punya malah berujung pada pembatalan pertemuan secara sepihak.

Dan meskipun itu hanya mimpi, aku sungguhan kecewa.

Bagian ini adalah refleksi setelah beberapa kali teman-temanku sibuk mengumbar janji bertemu denganku dan kemudian membatalkan sepihak dengan alasan yang tidak masuk akal. Meski mereka temanku, aku kehilangan banyak respek kepada mereka. Aku hanya pura-pura menikmati berbicara dengan mereka, tapi jauh di dalam hati aku sudah dikecewakan berkali-kali. Ini bukan masalah besar bagi orang normal pada umumnya. Membatalkan janji, not kind of big deal. Tapi buatku, yang hatinya sering tertempa banyak luka, satu kekecewaan berujung kebencian yang berlamat-tamat.

Aku yang kecewa karena dia membatalkan janji pada akhirnya menepikan motor. Aku melihat kontak di ponsel, mencari sekiranya siapa teman yang bisa kuajak pergi agar hari ini rencanaku tetap berjalan. Bahkan aku ingat dengan uang 100 ribu yang kupegang, aku bisa mentraktirnya beli tiket bioskop untuk nonton berdua. Tapi mimpiku bagian ini terputus dan berganti ke fragmen berikutnya.

Kejadian kedua, adalah ketika aku memasuki sebuah ruangan sempit yang dipenuhi oleh meja makan bundar. Sekelilingnya ada beberapa orang yang duduk sambil menikmati hidangan serba mewah yang ada di atas meja. Aku melihat salah satu di antara mereka adalah C, sosok yang selalu menjadi momok yang paling kubenci selama di kampus. Dia dikenal sebagai 'sosialita' dengan para gank-nya. Mereka semua berkumpul di sana, menikmati hidangan.

Aku mengasumsikan fragmen ini sebagai akibat dari rasa benci setiap kali aku melihat C di kampus. Tidak hanya aku, banyak teman-teman sekelas yang enggan berbaur dengan C yang punya gaya hidup berlebihan. Dan aku pun tidak tahu kenapa harus dia yang duduk di sana, menikmati banyak makanan enak dengan teman-teman satu gank-nya?

Fragmen berikutnya. Kejadian ketiga, terjadi ketika aku membaur dengan sebuah komunitas yang tidak aku ingat namanya. Kami mendatangi salah satu tempat wisata di Bali, yang dikelilingi sawah menghijau. Seorang perempuan dengan kaos polo merah seragam resmi tempat wisata itu menjelaskan tiap detail informasi kepada rombongan kami.

Tapi tiba-tiba saja gerimis turun dan membuat rombongan berpencar untuk mencari tempat berteduh. Aku mengikuti pemandu wisata itu berteduh di bawah gazebo. Salah satu temanku dan temannya ikut duduk di sana. Kami berempat terlibat perbincangan. Lebih tepatnya pemandu wisata itu melanjutkan penjelasan yang ia bisa di bawah gazebo. Aku dan temanku mendengarkan dengan saksama.

Aku masih ingat bagaimana posisi duduk kami. Aku duduk sendiri menghadap pemandu wisata itu, sedangkan dia dan temannya duduk bersebalahan dengan badan agak condong ke arah temanku. Temanku sendiri duduk di paling ujung deretan mereka berdua.

Meskipun si pemandu wisata tidak langsung berbicara denganku, aku masih memperhatikannya. Sampai temanku itu berdiri dan berpamitan. Dia bilang maaf karena dia harus pergi ke suatu tempat saat pemandu wisata tadi sedang asyik menjelaskan. Setelah kepergiannya, pemandu wisata itu terlihat kagok. Dia memutar sedikit posisi duduknya ke arahku untuk berpura-pura senang melanjutkan penjelasannya.

Tapi tidak lama setelah itu, hujan semakin menjadi dan basahnya merembes sampai tempat duduk kami di gazebo. Pemandu wisata itu menjadikan alasan bocor sebagai topeng agar ia bisa pergi. Dia berpamitan sambil tersenyum padaku. Dia memakai sandalnya terburu-buru, seakan aku bisa menikam punggungnya kapan saja dengan pisau.

Di sana aku tau, dia hanya tidak mau berbicara denganku. Dia jauh lebih nyaman dan mengenali temanku, bukan aku. Dia lebih memilih pergi daripada terlibat perbincangan denganku. Saat itu aku merasa aku benar-benar ditinggalkan sendiri.

Aku ikut turun dari gazebo, menerobos hujan sendirian. Hujan tidak terlalu besar sebenarnya, pandanganku masih belum terganggu. Hanya saja rambut dan pakaianku menjadi basah. Aku berjalan menelusuri tempat wisata itu, melihat rombongan lain juga sama nekatnya menerobos hujan. Bedanya, mereka berjalan secara berkelompok. Mereka tertawa dan membicarakan sesuatu. Ada pula yang bercanda di bawah payung. Ada juga yang sibuk bercerita dengan salah satu pedagang kaki lima.

Sedangkan cuma aku yang sendirian di sana. Aku kesulitan harus membaur kemana. Karena aku tahu, mereka semua tidak akan menerimaku.

Kejadian ini aku asumsikan sebagai pengalaman yang kualami ketika aku duduk di gazebo kampus sendirian, sedangkan mahasiswa lain asyik bercengkerama satu sama lain. Aku yang duduk sendiri karena semua temanku pergi, atau aku memang bukan 'bagian' dari mereka. Momen ini sering terjadi dulu saat aku masih sibuk kuliah dan 'terpaksa' ikut organisasi. Aku sering duduk sendirian tanpa teman di gazebo kampus. Melihat mahasiswa lain saling bercanda tanpa beban.

Kejadian keempat, kejadian terakhir sebelum aku dipaksa bangun.

Adalah ketika aku menjadi salah satu siswa SMA dengan seragam bewarna krem. Kemeja atas krem polos dengan dasi warna kecoklatan dan bawahan rok atau celana kotak-kotak bewarna senada dengan dasi. Aku masih ingat detail itu dengan jelas. Bahkan suasana sekolah pun sama suramnya. Seperti kita berada di sebuah momen preset lightroom Instagram yang marak digunakan anak kekinian.

Mulanya, aku melihat V. Dia adalah sosok bertubuh tambun yang pernah menjadi momok yang kubenci saat SMP, sama seperti C. Tidak ada relasi yang berarti sebenarnya antara aku dan dia. Hanya saja aku membencinya karena dia bersama teman-teman segank-nya pernah merusak salah satu kenanganku di sekolah dulu.

Aku melihat V tengah berdiri bersama teman-temannya di depan kelas. Melingkar. Entah membahas apa. Saat aku melintas di depan mereka, tatapan mereka berubah menjadi sadis. Memandangku jijik seolah aku adalah orang yang tidak seharusnya mereka lihat. Aku berjalan pelan sambil sedikit mengabaikan. Lagi-lagi sendirian.

Dan entah kemudian aku duduk di salah satu tepian lorong sekolah. Saat itu ada banyak siswa berkeliaran. Bahkan beberapa terlihat duduk di sebelahku, membicarakan sesuatu tanpa menganggapku ada di sana. Aku hanya diam selama beberapa saat, merenungi sesuatu sembari bersandar di tiang penyangga yang terbuat dari beton yang dicat warna krem perpaduan coklat.

Tiba-tiba saja aku berputar arah menghadap tiang, aku mengepalkan tangan kanan dan memukul tiang itu dengan keras. Sekali, dua kali. Tidak ada yang memperhatikan. Karena aku merasa belum ada darah yang keluar, aku memukul lebih keras lagi. Terus dan terus. Mereka yang melintas hanya menyaksikan sambil berteriak, sebagian lagi berbisik dengan teman di sebelahnya. Tidak ada satupun yang berusaha menghentikanku.

Sampai salah seorang guru pria muncul dari salah satu kelas. Dia berteriak memerintahkan seseorang menahanku. Akhirnya siswa yang duduk di sebelahku tadi bergerak, ia mencengkeram lenganku agar aku berhenti memukul tiang. Tapi itu hanyalah cengkeraman biasa, tidak ada tenaga sama sekali untuk benar-benar menghentikanku. Dari sana aku paham dia tidak sungguhan ingin memintaku berhenti. Dia hanya melakukannya agar ia terlihat bersimpati.

Setelah mereka tahu ada orang yang menghandle-ku, mereka kemudian kembali menjalani aktifitas masing-masing. Para siswa yang melintas dan sempat terdiam menyaksikanku kembali berjalan menuju kantin. Pak Guru yang tadi sempat menyuruhku berhenti pada akhirnya kembali memasuki kelas tanpa perlu turun tangan dan cuma mengandalkan perintah. Aku terus melukai tanganku sampai berdarah. Rasanya sakit sekali. Tulang-tulang di tanganku seperti berserakan di dalam kulit.

Aku melupakan fakta bahwa setelah ini aku tidak bisa menulis lagi.

Aku mendorong siswa yang mencengkeram tanganku, membuatnya terjungkat ke belakang. Aku melihat kepalan tanganku, lebam membiru. Hanya itu. Tanpa ada darah. Dan karena aku tidak menemukan darah, aku merasa kurang. Aku merasa belum puas. Larilah aku ke sebuah ruangan kecil dan gelap di salah satu bagian sekolah. Aku asumsikan itu sebagai gudang. Di sana aku tidak ingat proses ceritanya. Yang aku tahu adalah akhir dari fragmen ini menunjukkan fakta bahwa aku gantung diri.

Ya. Aku membunuh diriku sendiri di dalam mimpi.

Aku tidak tahu apakah aku langsung mati di gudang itu, ataukah para siswa dan guru menemukan aku di sana? Yang jelas aku merasa mesti menggantung diriku sendiri demi membebaskan perasaan yang membebaniku setelah menatap mata mereka.

Dan kemudian aku bangun.

Aku menyadari aku hanya terbaring di atas kasur, beralaskan bantal, memeluk guling, terbebat selimut. Bukan aku yang sedang menggantung tak bernyawa di gudang sekolah.

Saat itu air mataku menetes. Pelan. Sedikit. Tapi susah untuk dihentikan. Aku mengusapnya, menetes lagi, menyekanya, turun lagi. Butuh banyak waktu sampai aku benar-benar sadar. Fragmen-fragmen mimpi itu terasa nyata. Aku diam beberapa waktu untuk mencerna. Kenapa harus batal janjian? Kenapa harus C dan makanan mewah? Kenapa harus gazebo dan diabaikan? Kenapa harus memukul beton dan berdarah? Kenapa harus gantung diri?
Ternyata semua fragmen itu tercipta dari sudut tersembunyi dalam hatiku. Apa yang aku takutkan. Apa yang aku inginkan.

Lalu aku coba bangkit dari tidur, memeriksa  kepalan tangan kananku. Normal. Tanpa luka. Tanpa rasa sakit. Tapi semua itu nyata.

Kenapa mimpi kali ini kisahnya tersusun begitu sempurna? Mereka yang kubenci muncul secara bersamaan. Apa yang kutakutkan datang secara bergiliran. Dan apa yang aku inginkan hadir sebagai akhir yang klimaks.

Aku sudah setahap ini. Apakah masih perlu kuperdebatkan lagi? Apakah masih pantas kusebut ini bukan hal besar yang tidak perlu terlalu dipikirkan?

Jadi, kapan aku benar-benar mati?



Share:

Monday, December 16, 2019

Desember, dan Aku Masih Begini


Siapa yang tidak menanti bulan ini? Mungkin karena hujannya? Atau sebab dinginnya? Atau bahkan demi habiskan natal dan tahun baru? Pada akhirnya Desember tidak lagi kuingat sebagai bulan kelahiran, bulan yang aku asumsikan sebagai pelepas rindu pada masa-masa SMA dulu. Mengulang ingatan bersama dia, yang masih enggan beranjak dari singgasananya di pikiranku.

Desember menjadi penanda, ini bulan keduabelas aku resmi menjalani 'night session' hampir setiap malam. Setiap kali emosiku mulai goyah, ratapan tangis dan pilu kembali menyela di antara empuk bantalku. Lalu ada satu tanya yang selalu terulang, "Kenapa aku masih hidup?".

Dan satu pernyataan lantang kuucapkan, "Aku pengen nyerah."

Tapi siapa yang dengar? Ini sudah malam. Semua terlelap tenang dalam buaian. Sedangkan aku nyaris kehilangan cara untuk bertahan. Menulis adalah caraku untuk tetap tinggal di bumi. Tanpanya, aku benar-benar kehilangan harapan. Lantas, saat aku kehilangan kesempatan, aku bisa apa? Aku tidak dipermudahkan untuk menguasai diri lewat tulisan lagi.

Untungnya, aku masih punya akal.

Aku ambil ponsel pinjaman, menulisi blog ini dengan pengaduan yang tidak jauh berbeda. Harapan satu beban ikut terbawa meski nanti, saat kembali kuletakkan ponsel ini di bawah bantal, pikiran dan ketakutan itu kembali terulang.

Menertawaiku yang masih lemah pada masa lalu.

Aku tidak yakin apa yang benar-benar bisa membuatku begini? Apakah sungguh karenanya? Aku merindukan dia di masa lalu? Ataukah aku memang telah terlampau jauh dari penciptaku, hingga hidupku tak menemui kemajuan? Ataukah aku memang sungguhan gila, berspekulasi pada penyakit yang barangkali tidak pernah benar-benar menggerogotiku?

Intinya, aku takut.

Aku takut menatap cerah matahari pagi. Lucu? Tertawakan saja. Bagiku sinarnya bukan untukku. Bila sehari ada 24 jam, aku ingin 20 jamnya untuk malam. Agar tidak banyak waktu yang kulalui untuk bertanggung jawab, dan lebih banyak waktu kuhabiskan untuk meratap.

Aku tidak pernah merasa benar-benar dibutuhkan. Aku bahkan lupa bagaimana rasanya dicintai. Meski ada ratusan orang yang bersedia pinjamkan pundaknya untukku, kematian jauh lebih mahir menggoda agar aku lebih bergantung padanya. Sayangnya, kematian tidak pernah memberiku jawaban atas rasa sakit yang selama ini kupertanyakan.

Memotong urat nadi atau merusak batang tenggorokan dengan tali? Melompat dari gedung tinggi atau menenggak cairan pemutih sampai botolnya kosong?

Mana? Mana yang instan dan tidak menyakitkan?

Kenapa tidak transfer saja penyakit padaku agar aku tidak perlu lakukan apapun. Atau biar dia tau aku lemah tanpanya. Atau apapun yang mungkin membuatku terlihat lemah sekalian.

Berikan aku lebih banyak waktu untuk sendiri. Aku akan habiskan semuanya untuk menangis sampai kepalaku sakit. Di selanya akan kupikirkan mana cara terbaik untuk utarakan kondisiku pada dunia. Apakah aku akan memutar lagu sedih di daftar putarku? Ataukah aku akan menulis sesuatu seperti ini lagi di blog? Atau bahkan akan kuasah pisau dapur yang baru dibeli kemarin?

Lebih baik membunuh diri sendiri atau orang lain? Mana yang lebih memuaskan?

Astaga. Aku sungguhan sakit.

Nat, kamu harus baca ini.





Share:

Monday, November 18, 2019

Malang; Kota Impian untuk Menangis





Sejak lama aku berekspektasi bisa datang kota ini, setidaknya—bisa mengambil waktu sebentar untuk melupakan kewajiban dan sedikit bersenang-senang. Tapi kemarin aku memutuskan sesuatu yang lebih ekstrim lagi, paska memoriku diobrak-abrik oleh kertas-kertas lusuh berisi tulisan tangannya.
Aku coba menenangkan diri, atau barangkali nyaris confessing about what really happened to me. Meski aku sering menemukan tempat yang cocok, tapi pada akhirnya aku kembali bungkam dan berpikir lebih baik tidak sekarang. Barangkali nanti dan bukan dia orangnya. Dan pada akhirnya yang terjadi hanyalah pembatalan total tentang rencana yang sudah kususun secara susah payah.
Tidak banyak orang yang mau mendengar ceritaku, apalagi mengetahui siapa aku sebenarnya. Jadi aku kembali berpikir, ah—lebih baik disimpan sendiri. Tapi aku sudah menyimpan ini nyaris enam tahun lamanya. Dan sering saja berspekulasi, ini bukan sejenis depresi. Buktinya aku tidak pernah berani mengambil pisau dan menyayat pergelangan tangan. Pikiran bunuh diri cuma sebatas lintasan ide di kepala, seolah itu ide cerita yang sering kali kuhasilkan lewat otak brilianku.
Dan kegagalan total menarikku kembali jatuh ke dalam pusaran yang sama. Aku menikmati dosa sendirian, menutupi diri dengan nama keluarga yang dikenal kebanyakan orang, padahal jauh di dalam aku sangat menyesal berada di keluarga ini. Bukan karena aku tidak mensyukuri hidup bahagia, melainkan karena aku hanya membawa malu dan rasa tidak pantas berada di antara mereka.
Lewat perbincangan sederhana saja air mataku tergoda untuk kembali keluar. Hampir setiap hari bahkan sebelum aku datang ke Malang, ada saja momen yang membuatku ingin menangis. Tapi kali ini aku asumsikan sebagai tangisan orang cengeng belaka, bukan jenis tangisan depresi yang mesti ditangani oleh ahli.
Aku berlebihan selama ini.
Aku hanya menghadapi masalah kecil—pikirku. Sebab aku tidak perlu sampai melakukan percobaan bunuh diri. Hanya sebatas pikiran di kepala, ancaman yang tidak akan benar terjadi. Nyaliku kerdil di depan bunuh diri. Dan itu sudah cukup membuktikan aku hanya merasa sedih yang berlebihan, bukan depresi seperti kata mereka.
Kadang aku ingin sungguhan sakit. Agar aku tidak perlu berdebat dengan diri, sebenarnya aku berada di posisi apa. Apakah aku cukup kuat untuk memendam masalah ini karena sebenarnya ini masalah sepele? Atau aku justru perlu membaginya dan mengkonsultasikannya dengan para ahli agar aku tertolong?
Dan pertanyaan semacam itu akan kembali berakhir dengan; cukup dirimu saja yang tau, masalahmu amat memalukan.
Sebagian besar orang mengalami kehidupan yang sulit di kampus, atau malah terlibat masalah keluarga yang seharusnya tidak ia rasakan. Jika dibandingkan dengan masalahku, mereka jauh lebih pantas menderita. Aku yakin sekali masalahku tidak ada apa-apanya dibanding masalah mereka.
Tapi kenapa pikiran itu datang nyaris setiap malam?
Saat sunyi dan gelap mulai memerangkap. Aku mengulang kembali dosa dan menangisinya kemudian. Mendadak merindukan masa lalu namun takut dengan masa depan yang terlepas. Terkadang coba membenahi masa sekarang agar masa depan bisa lebih baik, namun pada akhirnya mengingat nama atau melihat sosok yang sama sepertinya saja langsung membuatku menyerah.
Sebenarnya apa yang sedang kubahas?
Sengaja aku tidak perjelas agar iktikad hatiku tidak mudah terbaca. Aku nyaris menceritakan semua problema lewat tulisan ini, di atas kasur sebuah kamar sewa kecil, di lantai dua dengan pemandangan malam kota Malang. Aku nyaris saja menangis. Barusan. Lantas kuputuskan ambil laptop dan mulai mengetik. Ini sudah pukul setengah satu malam. Aku sedang berusaha menumpahkan air mataku menjadi sebuah kalimat.
Bersyukur Tuhan memberiku nikmat sebagai seorang pecinta kata. Apa dayaku kalau aku tidak bisa merangkai kata semudah ini? Mungkin kesedihanku sama sekali tidak bisa terbebaskan.
Dan ya, kemarin aku baru saja mengundang masa laluku kembali. Mulai coba membiarkan sedikit demi sedikit mereka paham, siapa aku sebenarnya tanpa perlu kujelaskan.
Apa yang bisa diharapkan dari aku?
Dibandingkan memupuk masa depan dengan cita-cita dan hasrat untuk hidup lebih layak, aku justru memikirkan cara bagaimana mengumpulkan keberanian untuk bunuh diri.
Dan mengabaikan dosa yang nanti diperhitungkan.
Sedangkan pahala pun sangat sulit kutemukan.
Ini aku. Pendosa yang terlihat baik-baik saja. Orang yang coba menjelaskan dirinya lewat apapun, namun tidak menemukan sama sekali kelegaan. Mungkin mati adalah kata lain dari lega, tapi aku tidak tau bagaimana caranya menemui kematian tanpa rasa sakit dan dosa.
Tuhan memang adil. Ia hanya tidak adil dalam aspek menciptakan pilihan menjemput kematian tanpa rasa sakit dan dosa. Andaikan pilihan itu ada. Bahkan aku tidak bisa memikirkannya.
Enam ratus Sembilan puluh sembilan kata, aku mengetik dan air mataku baru saja kembali turun. Di sini terlalu gelap dan sunyi, tipikal suasana yang paling ampuh mengundang tangisan tanpa alasan yang selalu kulakukan.
Siapa? Siapa orang pertama yang akan mendengarkan dosaku, aibku dan masa laluku? Orang pertama yang tidak mencapku sebagai manusia buruk dan justru memberiku pelukan. Di saat aku mempercayai satu orang, lantas aku tau dia pun punya masalah yang sama dan bahkan jauh lebih serius dibandingkan masalahku.
Kemudian aku kembali berpikir, kenapa aku nangis sih? Cengeng.
Bodoh banget masih hancurin masa depan dengan inget-inget semua hal dari masa lalu.
Dan sebenarnya aku nggak cukup kuat untuk jalan ke masa depan. Aku pengen berhenti. Aku pengen udahan ngejar prestasi dan pujian kayak yang dulu pernah aku lakuin. Aku pengen berhenti nyari target dan nyamain orang-orang seusiaku. Aku pengen berhenti. Sungguh. Aku udah nyerah.

 Malang, 18 November 2019

Share: