Thursday, November 26, 2020

Kamu pun Menjelma Menjadi Alter Ego

 

"Pergilah sejauh-jauhnya, karena aku ingin merindukanmu sedalam-dalamnya, membahasmu sepuas-puasnya, mengingatmu sedetail-detailnya, mengharapmu sesakit-sakitnya dan memahami eksistensimu senyata-nyatanya. Pergilah sejauh mungkin, maka kau tidak perlu tahu itu aku."

November, salah satu bulan favoritku karena dianugerahi hujan. Dan aku menulis ini di saat hujan sedang rutin-rutinnya menyambangi bumi ketika cuaca sedang panas-panasnya. Dan entah, aku memang terlalu mahir manyangkutpautkan semesta dengan kejadian yang aku alami, dengan perasaan yang aku rasakan. Seperti dilebih-lebihkan, padahal ini cuma sebuah apresiasi atas bakat menulisku.

Penggalan puisi singkat di atas mendadak muncul di kepala saat aku tanpa sengaja membaca salah satu ‘status’nya. Seperti aku ingin menjawab dengan lantang, merespons dengan tegas bahwa keputusannya untuk pergi bukanlah hal yang menggentarkan. Meskipun aku tidak tahu subjek dalam ‘statusnya’ sungguhan aku atau bukan.

Malam saat aku akhirnya menyerah memberitahunya semua naskah-naskah berisi lukaku, berisi kedooku, berisi aibku, saat itulah aku sebenarnya sudah mempersilakan ia pergi. Aku sudah siap dengan segala risiko dibenci. Seolah sosok dia yang selama ini kuidamkan sudah ter-copy, menjadi satu sosok alter ego atas kehendakku sendiri.

Kubangun ia menjadi apa yang aku mau, sosok yang paling mampu menyakiti lewat semua kesempurnaan. Sangat jauh berbeda dari apa yang sebenarnya nyata ada dalam sosoknya. Aku benar-benar tenggelam dalam ilusi kesempurnaan yang kuciptakan sendirian. Membiarkan sosok nyatanya pergi lewat semua keikhlasan.

Aku ikhlas. Sungguh-sungguh ikhlas bila ia membenciku. Terlebih setelah ia tahu apa yang selama ini kutulis tentangnya. Tentang imajinasi indah yang kurealisasikan lewat sebuah cerita-cerita panjang. Cerita yang semestinya bisa mendapat banyak apresiasi, namun tidak pantas mendapatkan publikasi.

Oleh karena itu saat dia memutuskan pergi, aku sungguhan siap. Hatiku kuat. Aku tidak akan mengemis meminta kehadirannya kembali dalam hidupku. Aku sudah memahami diriku sendiri, sudah mampu mengenali mana luka, mana ilusi, mana bahagia dan mana nyata. Aku tidak keberatan sama sekali jika ia pergi, memutus semua rantai komunikasi yang kita miliki.

Terima kasih karena pernah ada. Kepergianmu malah memberiku banyak ruang sebebas-bebasnya untuk berekspresi tanpa takut diketahui.

Ya Tuhan, berapa entri yang cuma bisa kutulis dalam satu tahun ini?

Semoga di bulan Desember nanti ada satu entri lagi, ya? *senyum*

Share:

Sunday, October 4, 2020

Kim Junghyun and His Psycopath Role

 

 

Blog ini memang memiliki tingkatan abstraksi yang tinggi. Isinya bisa mengarah ke mana saja, tapi aku selalu memiliki satu tujuan; yaitu diriku. Setiap entri yang aku publikasikan di sini adalah penjelasan secara tidak langsung mengenai apa yang aku alami dan rasakan, termasuk satu entri ini. Sebuah entri yang judulnya mirip seperti judul artikel gosip K-Drama yang kebanyakan ditulis dengan minim informasi dan menonjolkan foto-foto aktor gantengnya.

Sebelum aku menyalahkan Kim Junghyun yang tidak terlalu terkenal (aku yakin), izinkan aku menjelaskan kenapa aku sampai menulis artikel dengan mencatut namanya sebagai judul.

Pertama, dibandingkan aktor K-Drama lain yang memiliki tubuh tinggi dan atletis, sebut saja seperti Kim Woobin, Lee Minho atau Park Seojun, aku malah tertarik dengan perawakan seorang Kwak Siyang yang bahkan namanya belum pernah menduduki posisi main role disebuah drama.

Kemunculan dan performa Kwak Siyang di Running Man membuatku kagum. Entah, perawakannya tinggi dan cukup atletis namun tidak berlebihan. Sebuah sosok yang kuasumsikan sangat cocok untuk menggambarkan seorang David Joachim—tokoh utama novel yang sedang kutulis. Bahunya lebar, rahangnya kokoh, dia terlihat tampan dan bisa sangat manis bila tersenyum. Terlebih suaranya yang khas serta tawanya yang renyah membuatku semakin mengimajinasikan begitulah sosok David sebenarnya.

Sebentar, sudah berapa nama aktor Korea yang kusebutkan? Apakah cukup membingungkan? Hahaha. Aku memang harus memutar lewat stasiun dulu untuk sampai ke pasar dekat rumah. Intinya aku memang menikmati setiap penjelasan yang detail seperti ini. Toh aku menulis entri ini untuk diriku sendiri. Namun aku mengasumsikan seperti ada pihak kedua yang kuajak berbicara di sini.

Jadi, mari kita ingat sosok Kwak Siyang yang aku simpan untuk role model tokohku.

Jika kalian membaca ceritaku Beautiful Move On, di sana setiap detail fisik yang aku gambarkan untuk David selalu kuambil dari Kwak Siyang. Namun dengan kesan lokal tentunya. Tidak 100% mirip dengan Kwak Siyang.

Sudah cukup dengan Kwak Siyang. Sekarang kita akan memasuki babak baru perkenalan dengan nama dalam judul entri ini. Sebelum itu izinkan aku menjelaskan kenapa aku menulis entri ini dengan sangat runtut dan panjang.

Di entri-entri sebelumnya, aku selalu membandingkan keberhasilan, pencapaian, kebahagiaanku dengan seseorang. Aku mengasumsikan diriku sebagai orang yang kalah, orang yang tidak bisa beranjak dari masa lalu, if u’re guys get the point. Aku sungguhan menulis tentang diriku, tentang apa yang aku rasakan. Namun, setelah aku rasakan, aku telah lagi, aku pun bertanya; apakah benar aku gagal move on? Apakah sungguhan aku merasa tidak bahagia karena terus membandingkannya dengan dia?

Dia; harus kuakui dialah satu sosok dari masa lalu yang menciptakan momen paling bahagia dalam hidupku. Aku sungguhan memiliki dia. Sosok yang aku anggap sebagai alasan kenapa aku merasa gagal. Gagal bahagia, gagal menemukan apa yang aku mau, gagal mencintai orang lain, gagal percaya pada diri sendiri, gagal membiarkan orang lain untuk bersimpati denganku. Aku hanya berfokus padanya. Seperti dialah pusat duniaku.

Tapi aku sadar, dia baru datang sebagai interupsi di saat aku mulai menulis DLN, prekuel Beautiful Move On di tahun 2018. Padahal kisah kami sudah lama berakhir sejak 2015. Kenapa aku baru merasakan kesedihan mendalam seolah aku gagal move on di tahun ketiga setelah aku berpisah darinya?

Dulu aku buta. Aku menutup mata. Sampai Kim Junghyun dan peran psikopatnya memberiku sedikit pertimbangan.

Kim Junghyun adalah main aktor di serial Welcome to Waikiki season pertama. Sebuah drama lucu yang level humornya cenderung tidak masuk akal. Tapi meskipun begitu, aku terhibur dengan dramanya. Sampai pada akhirnya aku merasa tokoh Kang Donggu yang diperankan oleh Kim Junghyun mengingatkanku pada seseorang. Suaranya yang dalam saat berbicara, model rambutnya yang dipotong sederhana dan sedikit berponi, perawakannya yang tegap tinggi dengan bahu lebarnya.

Kwak Siyang. Dia mengingatkanku pada sosok Kwak Siyang milik David Joachim dalam karakter novelku.

Jujur, disaat aku mengecek cast drama ini, nama Kim Junghyun bukan berada di daftar utama pemainnya. Padahal di dalam dramanya dia memerankan tokoh utama central yang berkaitan dengan semua tokoh di sana. Saat itu aku merasa tidak adil dan memutuskan untuk mencaritahu mengenai Kim Junghyun lebih lanjut.

Paska memerankan sosok absurd, kocak dan cenderung aneh di drama Welcome to Waikiki, Junghyun menerima tawaran untuk bermain di drama bertajuk Time (bukan sebuah drama yang hype I guess). Di sana dia mendapatkan peran sebagai Cheon Suho, sosok kaya raya yang sedikit dingin dan bengis, bahkan diibaratkan sebagai psikopat. Aku kurang tau bagaimana alur cerita drama Time itu, tapi dari artikel yang aku baca, ternyata berita yang dituliskan tentang Kim Junghyun dan perannya di Time cukup pantas untuk dibicarakan.

Kim Junghyun dalam jumpa pers drama Time


Dalam sebuah jumpa pers drama Time, Junghyun menuai kontroversi karena sikapnya yang dinilai tidak profesional. Banyak netter yang membicarakannya dan menyebutnya berperingai buruk. Namun kemudian terungkap saat acara jumpa pers tersebut ternyata Junghyun sudah mengalami depresi.

Depresi atas apa?

Sebagai aktor, tentu saja Junghyun merasa tertantang setelah mendapatkan peran psikopat. Ia berlatih keras untuk menyesuaikan karakternya dengan tokoh Cheon Suho tersebut. Karena terlalu ‘mendalami’ karakternya, Junghyun menjalani kesehariannya (di luar kepentingan syuting) sebagai Cheon Suho, bukan lagi sebagai Kim Junghyun. Dia mengalami abstraksi dalam dirinya hingga membuat dia kesulitan makan dan tidur. Memang kalau hanya membaca fakta ini, rasanya seperti biasa saja. Tapi tidak mudah untuk mengalami kesulitan melakukan 2 hal penting seperti makan dan tidur jika memiliki gangguan yang serius.

Lalu atas saran dokter, Kim Junghyun harus berhenti dari drama Time. Dan jalan hengkang Junghyun pun terasa amat panjang. Ia mesti melakukan banyak diskusi dengan kru produksi, belum lagi para netter yang tidak sepenuhnya bisa memahami kondisinya. Namun pada akhirnya sang sutradara memutuskan sosok Cheon Suho mati akibat sakit. Dengan begitu Kim Junghyun berhenti dari proses syuting drama sepanjang 32 episode itu.

Kim Junghyun dalam drama Welcome to Waikiki


Dan apa hubungannya dengan entri ini?

Hm, entahlah. Kuharap sampai sini saja semuanya sudah bisa dipahami.

Setelah membaca artikel Junghyun aku seperti mendapatkan cermin untuk merefleksikan diri sendiri. Tapi aku tekankan sekali lagi, aku belum resmi duduk di kursi konsultasi, berhadapan dengan psikolog profesional dan mendapatkan diagnosanya. Aku hanya berasumsi, serba berasumsi.

Aku yang kehilangan selera makan, aku yang sering sedih secara berebihan, aku yang sering menangis tanpa alasan, aku yang merasa hidupku sudah tidak berguna, aku yang merasa kehilangan tujuan tanpanya, bagaimana jika itu semua hanyalah ‘alter ego-’ku karena terlalu mendalami karakter David Joachim?

Dan di awal aku mengalami semua prosesi ini, saat aku menangis tidak berkesudahan pertama kalinya, aku berasumsi ini hanyalah pendalaman karakterku pada tokoh yang kubuat. Aku terlalu berlarut-larut dengan novel Beautiful Move On dan menciptakan sosok David dalam diriku. Dan aku nyaman dengan itu. Aku seperti menjadikan David sebagai diriku yang hidup di dunia yang lain. Apa yang aku inginkan, apa yang belum sempat aku dapatkan, apa yang pernah aku lewatkan, kutuliskan semuanya dengan jelas dalam karakter David.

Persis, seolah David adalah sosokku yang paling aku inginkan ada.

Aku tidak tahu istilah apa yang harus aku gunakan untuk menyebut masalah yang kualami. Tapi ini berpengaruh pada kehidupan nyataku. Bukan hanya membuatku kehilangan selera makan, aku bahkan menarik diri dari lingkungan, aku sungguhan berwatak kasar, cuek, tidak pedulian, temperamental dan bahkan kesulitan berempati apalagi jatuh cinta. Persis seperti David.

Aku tidak tahu apakah yang kurasakan ini serupa dengan apa yang dirasakan Kim Junghyun.

Bedanya, Kim Junghyun sudah berhasil mengatasi dirinya. Dia sudah sembuh dan sudah kembali berakting. Sedangkan aku, aku masih menikmati prosesi menghidupkan David untuk memuaskan dahaga yang tidak kulegakan di dunia nyataku.

Aku masih sibuk menulis Beautiful Move On dan mencoba memenangkan diriku sendiri. Meski sejatinya David dalam diriku sangat-sangat mempengaruhi kehidupan nyataku.

Apa aku sungguhan butuh psikolog? Ataukah aku terlalu berlebihan menyikapi ini.

Hahaha, sepertinya aku saja yang lebay.


Share:

Wednesday, May 20, 2020

The World I Live In; Pathologhical Liar



Hai, Nat.
Umurku sudah 23 tahun. Seharusnya aku sudah bisa sebahagia kamu. Sudah bisa mulai memikirkan masa depan, menyusun kisah cinta dengan calon pedamping idaman, atau mulai meniti kariri agar tetap berpenghasilan.
Tapi semakin dewasa, akalku mulai tergerogoti ketidakwarasan. Aku lebih suka bermain-main, mencari keberadaan hidup yang tidak pernah bisa aku miliki. Misalnya soal kekasih idaman. Aku menjelma menjadi sosok yang aku inginkan, sesuatu yang bila sungguh aku nekatkan hanya akan menambah dosa dan beban keluarga.
Lalu mereka datang; para korbanku. Mereka percaya figur ini ada. Figur yang aku definisikan sebaik mungkin, sifat, rupa, lata belakang, fisik dan lain sebagainya. Lantas larut dalam cerita karena aku pendefinisi yang baik. Atau barangkali adalah manipulatif ulung. Merasa berdosa? Tidak.
Aku melakukannya sekali, kemudian lagi. Terus berulang kali. Ketahuan sekali, merasa aman dan tetap mengulanginya lagi. Aku memanipulasi semua secara bertahap. Membangun rasa simpati dari mereka seolah mereka sedang bberkenalan dengan figur yang aku idamkan ada. Bahkan hebatnya, aku tidak kesulitan membedakan mana dunia nyataku dan mana dunia hasil manipulasiku.
Sampai detik di mana aku mulai sadar, korbanku banyak sekali.
Detik di mana di sebuah platform ada yang tengah mendiskusikan istilah faker dan bagaimana manipulasinya bekerja. Lantas aku berkaca, Nat. pakah aku sama jahatnya seperti para fakers itu? apakah aku bagian dari mereka?
Tapi kebohonganku tanpa mencari untung! Aku tidak butuh uang! Aku hanya ingin menghidupkan figur yang ingin sekali kuhidupkan. Aku hanya butuh sebuah cerita hidup yang lebih baik dari kehidupanku sekarang. Aku cuma butuh perhatian, simpati dan rasa sayang.
Aku tidak sama.
Sampai tadi, kutemui istilah pathological liar.
Hey, it suits me well.
Pathological liar biasanya berbohong tanpa ada keinginan mendapatkan sesuatu. Merupakan pencerita yang ulung, meski garis besar cerita mereka terdengar rumit, namun dengan kemampuannya mereka dapat meyakinkan orang lain. Hal ini dapat dikatakan dipicu oleh keinginan untuk mendapatkan simpati dan kekaguman orang lain. Tak jarang mereka sampai terbawa arus sampai mempercayai kebohongannya sendiri. Dan kebohongan pathological liar terjadi dalam skala besar dan berulang, tanpa mngambil keuntungan materi sesudahnya.
See?
Setelah bertahun aku hidup mengcover diri menjadi orang lain, membiarkan orang menganggap aku seperti itu, membenci diri sendiri saat tampil apa adanya. Aku baru tau, mungkin inilah yang kuderita selama ini.
Tidak ada studi lanjutan yang bisa menjelaskan penyebab terjadinya pathological liar, atau berefek apa nanti pada akhirnya. Yang jelas, aku mesti membuang rasa cinta banyak orang padaku karena sosok yang kumainkan tidak sungguhan ada.
Jahat sekali. Tapi aku terus mengulanginya.
Nat, kenapa aku tidak punya banyak uang bahkan setelah aku bekerja, ya? Sebelum aku tau diagnosa apa yang sebenarnya ada pada tangisan-tangisanku di malam hari dan keinginanku untuk bunuh diri, kini aku tau ada abnormlaitas lain dalam batas warasku. Aku butu psikiater. Tapi kenapa mahal sekali untuk satu konsultasi.
Aku bingung harus menceritakan yang mana. Tapi sepertinya semua abnormalitas ini bermula setelah aku kehilangan kebahagiaan dari keberadaanmu.
Kalau kamu sampai baca ini, aku berani sumpah kamu tidak akan mengerti. Kamu terlalu normal untuk emamhami aku yang abnormal.
Kamu satu dari sekian orang awam itu, yang tidak bisa menilai sebuah kesalahan dari segi psikologi. Apa yang akan kamu tanamkan hanyalah aku jahat, aku menyedihkan dan aku tidak pantas dikasihani.
Ya Tuhan, siapa yang sebenarnya jahat di sini?
Aku yang abnormal atau dia yang awam?
Dan satu hal yang perlu kamu tau Nat, tidak ada kebahagiaan yang sempurna dari sebuah manipulasi. Jadi aku tidak pernah bahagia. Hehe.

Share:

Friday, March 20, 2020

I Cannot Find My Grand Escape



Berpikir ini bukan depresi selalu terjadi. Menertawakan diri sendiri kemudian bilang kalau ini cuma halusinasi tanpa ekstasi. Demi Tuhan, sebagian hati yang lain terkadang berontak dan bilang; kamu sakit. Tapi pikiran datang mempertegas rasionalitas bahwa ini terjadi sebab fantasi. Aku seorang penulis yang mahir berkhayal membangun cerita yang sebenarnya tiada. Dan ketiadaan itu bertransformasi menjadi tangis-tangis yang kudengungkan sebagai depresi. Barangkali.

Aku belum benar-benar duduk di kursi klinik, bertatap muka dengan psikolog dan membicarakan segala sesuatunya dengan kesaksian sebuah meja.

Bulan-bulan melelahkan yang mengundang putus asa nyaris tiap malam kini telah sedikit memudar. Tahun 2020 menjemput takdir baru sembari berharap ada satu jalan pintas untuk menemukan pintu keluar dari nestapa berkepanjangan. Lewat sebuah pekerjaan. Pengalaman luar biasa yang aku dapatkan. Terlalu antusias hingga lemah diri mengantarkanku lelap tanpa sulitnya buaian. Cukup pejamkan mata dan menghilang di dalam alam mimpi.

Senikmat itu rasanya tertidur tanpa usaha.

Dan kini, saat lelah yang kurasa berubah menjadi ogah. Tuntutan yang tak pernah habis, target yang seringkali tak masuk akal, suruhan yang mesti diikuti, masukan yang tak pernah mendapat tempat. Semua mengubahku perlahan menjadi pengingkar janji. Janji yang pernah kubualkan di depan pertemuan, saat mereka mengetes sejauh mana aku menginginkan pekerjaan ini.

Semua tekanan telah membuatku padam. Harapan yang pernah kujunjung setinggi langit nyaris runtuh di hadapan kepengecutan. Aku nyaris menghentikan langkah, menutup pintu jalan pintas ini karena tak sekapasitas. Sesak sekali untuk bertahan di ruangan yang tak memberimu napas.

Meski jalan ini tetap kutapaki, sesekali aku masih saja goyah. Apakah ini sungguhan jalan keluar yang aku inginkan? Apakah ini sungguhan cara agar membuatku bertahan?

Aku kehilangan saat tujuanku bukan lagi kamu.

Semua keinginanku berhamburan. Semua ingatan ekstensiku hidup perlahan berguguran. Masa depan tak pernah lagi terlihat. Sedangkan masa lalu tercetak jelas mengikuti langkahku. Aku sendirian. Tanpa bantuan.

Mau mencari pinjaman tangan saja perlu menukar ribuan rahasia. Bila enggan, mereka mana paham? Untuk apa aku mengemis bantuan sedangkan ketakutanku tak pernah diungkapkan? Padahal aku takut pada diriku sendiri. Kenapa sampai saat ini tidak pernah berhasil menjadi apa yang kuinginkan. Kenapa sampai detik ini bergerak sesuai apa yang diinginkan orang.

Tapi keinginanku sepenuhnya berkawan dengan dosa. Identitasku nyaris tak diterima dunia. Satu saja kuungkapkan, maka dia akan lari. Takut setelah tau siapa aku. Ngeri aku menjerumuskannnya barangkali. Tidak sudi pinjamkan tangan sebentar untuk membantu.

Aku tidak pernah diterima oleh diriku sendiri. Bagaimana aku bisa diterima oleh orang lain?

Tidak ada yang benar-benar mengundang tawaku. Demi Tuhan aku rindu bagaimana aku berkawan tanpa kepalsuan. Tertawa tanpa sembunyikan luka. Aku sungguhan takut menuliskan ini. Takut luka itu basah lagi. 
Share:

Thursday, January 30, 2020

Hujan Seharian dan Kesedihan Menahun


Aroma hujan masih bersisa. Bekasnya bahkan terasa di ujung penciuman. Suaranya masih kentara di telinga. Basahnya tetap terasa di ujung jemari. Karena sungguh Tuhan telah tunjukkan kuasa-Nya. Satu doa dari hamba kerdil sepertiku kembali dikabulkan.

Paska sujud rutinku pada-Nya, hari ini doaku berulang sama; Tuhan, biarkan hujan tetap begini. Aku tidak pernah membenci hujan meski basahnya kadang menyebalkan.

Lantas hujan turun seharian tanpa henti. Sejak pagi tadi aku belum melihat mentari sampai malam ini aku menggigil di balik selimut. Dan sekali lagi, Tuhan masih peduli padaku yang kerap lalai pada hubungan kami. Antara pencipta yang tunggal dan mahkluk ciptaan serba kekurangan.

Tapi nikmat hujan yang tak pernah kubenci mesti berakhir kala pesan yang kukirimkan kemarin berujung sebuah sambutan. Sedikit banyak kami berbasa-basi, ia hanya sebagai formalitas. Dan aku susah payah tampilkan keadaan yang sama baiknya.

Satu kabar itu datang bagaikan jelmaan tulisanku yang menjadi nyata. Mendorong aku sebagai tokoh utama jatuh ke dalam lubang hitam berisi duri tajam. Di mana-mana rasanya sakit. Butuh banyak waktu sampai aku berhenti melamun. Butuh berjuta tenaga sampai kakiku kembali bergerak. Aku dibuatnya diam. Lama. Resapi kesadaran diri; oh kita sudah jauh sekali.

Aku tidak pernah tahu, puncak yang ia buat setinggi apa. Dia terlalu dewasa untuk mengartikan jalan hidupnya dengan sempurna. Sokongan latar belakang kehidupan yang baik. Menjadikan semua jalannya mulus tanpa hambatan. Atau memang ia adalah sosok sempurna yang takdirnya bersih dari kecacatan. Hingga apapun pilihannya tidak pernah salah sedikit pun.

Lalu aku? Hanya seonggok daging yang nyaris mati. Salahkan takdir melulu, gampang meyesal dan menyerah. Bosan adalah nama tengah. Tidak pernah mencintai apa yang dilakukan sedangkan harapannya dipupuk setinggi langit. Sudah tau jalannya terjal, tidak ada sokongan pula. Masih saja tertidur di ranjang dan enggan beranjak.

Menatap masa depan saja tak bisa.

Tahun 2020. Satu perbedaan jarak kembali tergelar. Panjang. Jauh. Tak tergapai. Aku merangkak, ia berlari. Aku mencari, ia menemukan.

Satu kunci yang kuyakini menjadi perbedaan besar dari kita bukanlah soal siapa yang bersemangat dan siapa yang malas. Melainkan siapa yang berhasil melupakan dan siapa yang masih berkubang dalam ingatan.

Demi apapun. Bila rasa sakit di kaki akibat 8 jam berdiri tidak pernah kurasakan seperti sekarang, dan aku hanya terdiam di atas kasur setiap hari, aku mungkin sudah sungguhan mati.

8 jam ini adalah gang kecil berkelok tempatku kabur dari kejaran kematian. Tiap hari aku berlari. Lelah pada malam hari, hingga tak sempat menangisi bantal yang tak bersalah. Sibuk di siang hari, hingga tak ingat berapa luka yang terus bertumpuk bebani pikiran.

Aku cuma harus bertahan. Demi apapun aku mesti bertahan untuk 8 jam ini. Tiap hari. Bukan materi yang kunanti. Tapi hanya kesibukan, kelelahan, agar rasa tak bergunaku berkurang.

Sempat berpikir kenapa Tuhan sekejam ini rayakan hujan seharian yang lama kunanti dengan satu kabar menusuk dada sampai aku tak kuat berdiri?

Ternyata ini adalah harga yang mesti kubayar. Tuhan telah kabulkan doaku pagi ini memohon hujan turun karena aku merindukannya.

Semoga setelah ini aku masih bertahan hidup.











Share:

Monday, December 23, 2019

I'm Dead on My Own Nightmare




Mungkin ini sudah agak sedikit terlambat, ketika seharusnya pagi tadi setelah aku terbangun, aku bisa langsung menuliskan setiap detail apa yang aku alami. Aku mengira semua mimpi-mimpi tentang pesawat jatuh, gempa, tsunami yang pernah menghampiri adalah yang terburuk. Nyatanya, semalam aku mengalami fase paling buruk dalam mimpiku. Mimpi yang menjelaskan ketakutan terbesarku selama ini.

Bukan bencana alam. Bukan juga psikopat kejam berlari mengejarku sambil mengangkat pecahan botol.

Ketakutan terbesarku adalah diriku sendiri.
Aku yang dulu masih bisa tertawa tanpa perlu banyak usaha kini menjelma menjadi sosok yang ingin menghentikan kehidupan. Aku. Aku yang ternyata sudah berubah sejauh ini. Sebanyak ini.

Mimpi itu adalah visualisasi apa yang aku takutkan selama ini. Apa yang paling mengganggu dan membebaniku. Aku masih ingat mimpi semalam terdiri dari banyak fragmen yang berantakan. Tiap fragmen berisi masing-masing ketakutan dan pesan yang jelas. Aku tidak ingat fragmen mana yang lebih dulu datang dan mana yang kemudian menyusul di belakang. Tapi aku akan mencoba untuk mereka ulang semampu ingatanku.


Kejadian pertama, aku mengajak salah satu teman terdekat yang aku asumsikan sebagai orang paling dekat dan sering hang out denganku. Atau kemungkinan dia adalah saudara yang lama tidak bertemu dan mau mengajakku pergi keluar, menghabiskan waktu bersama. Saat itu aku yang biasanya selalu menggunakan pakaian serba monokrom, tiba-tiba saja memilih pakaian warna kuning cerah dengan perpaduan hijau. Dan hebatnya, aku tidak merasa risih sama sekali.

Ibuku memberiku uang 500 ribu, padahal aku tidak pernah diberi uang saku sebanyak itu. Aku mengasumsikan bagian ini terjadi setelah aku dititipkan uang sekian juta setelah ibu menyelesaikan pesanannya. Tapi waktu itu aku menolak. Aku mengambil uang 100 ribu sebagai bekal untuk pergi dengan 'orang itu'.

Saat aku menyalakan motor dan menyusul dia di rumahnya, mendadak rumah itu menjelma menjadi rumah tetanggaku dulu. Dia bukan bagian anggota keluarga itu, namun dia berdiri di sana dengan pakaiannya yang rapi. Tapi ketika aku melintasi depan rumahnya, aku melihat anggota keluarganya sedang memindahkan banyak barang ke dalam bagasi mobil. Aku berpikir keluarganya akan pergi.

Dan tentu saja, dia tersenyum getir ke arahku sambil menggeleng. Dia tidak jadi pergi denganku. Dia lebih memilih pergi dengan keluarganya.

Aku cuma bisa senyum saat itu. Sedikit kecewa karena dia membatalkan janji sepihak. Aku tidak masalah dengan banyak waktu yang kugunakan untuk berpakaian serapi ini. Aku hanya kecewa tidak banyak waktu yang kami punya malah berujung pada pembatalan pertemuan secara sepihak.

Dan meskipun itu hanya mimpi, aku sungguhan kecewa.

Bagian ini adalah refleksi setelah beberapa kali teman-temanku sibuk mengumbar janji bertemu denganku dan kemudian membatalkan sepihak dengan alasan yang tidak masuk akal. Meski mereka temanku, aku kehilangan banyak respek kepada mereka. Aku hanya pura-pura menikmati berbicara dengan mereka, tapi jauh di dalam hati aku sudah dikecewakan berkali-kali. Ini bukan masalah besar bagi orang normal pada umumnya. Membatalkan janji, not kind of big deal. Tapi buatku, yang hatinya sering tertempa banyak luka, satu kekecewaan berujung kebencian yang berlamat-tamat.

Aku yang kecewa karena dia membatalkan janji pada akhirnya menepikan motor. Aku melihat kontak di ponsel, mencari sekiranya siapa teman yang bisa kuajak pergi agar hari ini rencanaku tetap berjalan. Bahkan aku ingat dengan uang 100 ribu yang kupegang, aku bisa mentraktirnya beli tiket bioskop untuk nonton berdua. Tapi mimpiku bagian ini terputus dan berganti ke fragmen berikutnya.

Kejadian kedua, adalah ketika aku memasuki sebuah ruangan sempit yang dipenuhi oleh meja makan bundar. Sekelilingnya ada beberapa orang yang duduk sambil menikmati hidangan serba mewah yang ada di atas meja. Aku melihat salah satu di antara mereka adalah C, sosok yang selalu menjadi momok yang paling kubenci selama di kampus. Dia dikenal sebagai 'sosialita' dengan para gank-nya. Mereka semua berkumpul di sana, menikmati hidangan.

Aku mengasumsikan fragmen ini sebagai akibat dari rasa benci setiap kali aku melihat C di kampus. Tidak hanya aku, banyak teman-teman sekelas yang enggan berbaur dengan C yang punya gaya hidup berlebihan. Dan aku pun tidak tahu kenapa harus dia yang duduk di sana, menikmati banyak makanan enak dengan teman-teman satu gank-nya?

Fragmen berikutnya. Kejadian ketiga, terjadi ketika aku membaur dengan sebuah komunitas yang tidak aku ingat namanya. Kami mendatangi salah satu tempat wisata di Bali, yang dikelilingi sawah menghijau. Seorang perempuan dengan kaos polo merah seragam resmi tempat wisata itu menjelaskan tiap detail informasi kepada rombongan kami.

Tapi tiba-tiba saja gerimis turun dan membuat rombongan berpencar untuk mencari tempat berteduh. Aku mengikuti pemandu wisata itu berteduh di bawah gazebo. Salah satu temanku dan temannya ikut duduk di sana. Kami berempat terlibat perbincangan. Lebih tepatnya pemandu wisata itu melanjutkan penjelasan yang ia bisa di bawah gazebo. Aku dan temanku mendengarkan dengan saksama.

Aku masih ingat bagaimana posisi duduk kami. Aku duduk sendiri menghadap pemandu wisata itu, sedangkan dia dan temannya duduk bersebalahan dengan badan agak condong ke arah temanku. Temanku sendiri duduk di paling ujung deretan mereka berdua.

Meskipun si pemandu wisata tidak langsung berbicara denganku, aku masih memperhatikannya. Sampai temanku itu berdiri dan berpamitan. Dia bilang maaf karena dia harus pergi ke suatu tempat saat pemandu wisata tadi sedang asyik menjelaskan. Setelah kepergiannya, pemandu wisata itu terlihat kagok. Dia memutar sedikit posisi duduknya ke arahku untuk berpura-pura senang melanjutkan penjelasannya.

Tapi tidak lama setelah itu, hujan semakin menjadi dan basahnya merembes sampai tempat duduk kami di gazebo. Pemandu wisata itu menjadikan alasan bocor sebagai topeng agar ia bisa pergi. Dia berpamitan sambil tersenyum padaku. Dia memakai sandalnya terburu-buru, seakan aku bisa menikam punggungnya kapan saja dengan pisau.

Di sana aku tau, dia hanya tidak mau berbicara denganku. Dia jauh lebih nyaman dan mengenali temanku, bukan aku. Dia lebih memilih pergi daripada terlibat perbincangan denganku. Saat itu aku merasa aku benar-benar ditinggalkan sendiri.

Aku ikut turun dari gazebo, menerobos hujan sendirian. Hujan tidak terlalu besar sebenarnya, pandanganku masih belum terganggu. Hanya saja rambut dan pakaianku menjadi basah. Aku berjalan menelusuri tempat wisata itu, melihat rombongan lain juga sama nekatnya menerobos hujan. Bedanya, mereka berjalan secara berkelompok. Mereka tertawa dan membicarakan sesuatu. Ada pula yang bercanda di bawah payung. Ada juga yang sibuk bercerita dengan salah satu pedagang kaki lima.

Sedangkan cuma aku yang sendirian di sana. Aku kesulitan harus membaur kemana. Karena aku tahu, mereka semua tidak akan menerimaku.

Kejadian ini aku asumsikan sebagai pengalaman yang kualami ketika aku duduk di gazebo kampus sendirian, sedangkan mahasiswa lain asyik bercengkerama satu sama lain. Aku yang duduk sendiri karena semua temanku pergi, atau aku memang bukan 'bagian' dari mereka. Momen ini sering terjadi dulu saat aku masih sibuk kuliah dan 'terpaksa' ikut organisasi. Aku sering duduk sendirian tanpa teman di gazebo kampus. Melihat mahasiswa lain saling bercanda tanpa beban.

Kejadian keempat, kejadian terakhir sebelum aku dipaksa bangun.

Adalah ketika aku menjadi salah satu siswa SMA dengan seragam bewarna krem. Kemeja atas krem polos dengan dasi warna kecoklatan dan bawahan rok atau celana kotak-kotak bewarna senada dengan dasi. Aku masih ingat detail itu dengan jelas. Bahkan suasana sekolah pun sama suramnya. Seperti kita berada di sebuah momen preset lightroom Instagram yang marak digunakan anak kekinian.

Mulanya, aku melihat V. Dia adalah sosok bertubuh tambun yang pernah menjadi momok yang kubenci saat SMP, sama seperti C. Tidak ada relasi yang berarti sebenarnya antara aku dan dia. Hanya saja aku membencinya karena dia bersama teman-teman segank-nya pernah merusak salah satu kenanganku di sekolah dulu.

Aku melihat V tengah berdiri bersama teman-temannya di depan kelas. Melingkar. Entah membahas apa. Saat aku melintas di depan mereka, tatapan mereka berubah menjadi sadis. Memandangku jijik seolah aku adalah orang yang tidak seharusnya mereka lihat. Aku berjalan pelan sambil sedikit mengabaikan. Lagi-lagi sendirian.

Dan entah kemudian aku duduk di salah satu tepian lorong sekolah. Saat itu ada banyak siswa berkeliaran. Bahkan beberapa terlihat duduk di sebelahku, membicarakan sesuatu tanpa menganggapku ada di sana. Aku hanya diam selama beberapa saat, merenungi sesuatu sembari bersandar di tiang penyangga yang terbuat dari beton yang dicat warna krem perpaduan coklat.

Tiba-tiba saja aku berputar arah menghadap tiang, aku mengepalkan tangan kanan dan memukul tiang itu dengan keras. Sekali, dua kali. Tidak ada yang memperhatikan. Karena aku merasa belum ada darah yang keluar, aku memukul lebih keras lagi. Terus dan terus. Mereka yang melintas hanya menyaksikan sambil berteriak, sebagian lagi berbisik dengan teman di sebelahnya. Tidak ada satupun yang berusaha menghentikanku.

Sampai salah seorang guru pria muncul dari salah satu kelas. Dia berteriak memerintahkan seseorang menahanku. Akhirnya siswa yang duduk di sebelahku tadi bergerak, ia mencengkeram lenganku agar aku berhenti memukul tiang. Tapi itu hanyalah cengkeraman biasa, tidak ada tenaga sama sekali untuk benar-benar menghentikanku. Dari sana aku paham dia tidak sungguhan ingin memintaku berhenti. Dia hanya melakukannya agar ia terlihat bersimpati.

Setelah mereka tahu ada orang yang menghandle-ku, mereka kemudian kembali menjalani aktifitas masing-masing. Para siswa yang melintas dan sempat terdiam menyaksikanku kembali berjalan menuju kantin. Pak Guru yang tadi sempat menyuruhku berhenti pada akhirnya kembali memasuki kelas tanpa perlu turun tangan dan cuma mengandalkan perintah. Aku terus melukai tanganku sampai berdarah. Rasanya sakit sekali. Tulang-tulang di tanganku seperti berserakan di dalam kulit.

Aku melupakan fakta bahwa setelah ini aku tidak bisa menulis lagi.

Aku mendorong siswa yang mencengkeram tanganku, membuatnya terjungkat ke belakang. Aku melihat kepalan tanganku, lebam membiru. Hanya itu. Tanpa ada darah. Dan karena aku tidak menemukan darah, aku merasa kurang. Aku merasa belum puas. Larilah aku ke sebuah ruangan kecil dan gelap di salah satu bagian sekolah. Aku asumsikan itu sebagai gudang. Di sana aku tidak ingat proses ceritanya. Yang aku tahu adalah akhir dari fragmen ini menunjukkan fakta bahwa aku gantung diri.

Ya. Aku membunuh diriku sendiri di dalam mimpi.

Aku tidak tahu apakah aku langsung mati di gudang itu, ataukah para siswa dan guru menemukan aku di sana? Yang jelas aku merasa mesti menggantung diriku sendiri demi membebaskan perasaan yang membebaniku setelah menatap mata mereka.

Dan kemudian aku bangun.

Aku menyadari aku hanya terbaring di atas kasur, beralaskan bantal, memeluk guling, terbebat selimut. Bukan aku yang sedang menggantung tak bernyawa di gudang sekolah.

Saat itu air mataku menetes. Pelan. Sedikit. Tapi susah untuk dihentikan. Aku mengusapnya, menetes lagi, menyekanya, turun lagi. Butuh banyak waktu sampai aku benar-benar sadar. Fragmen-fragmen mimpi itu terasa nyata. Aku diam beberapa waktu untuk mencerna. Kenapa harus batal janjian? Kenapa harus C dan makanan mewah? Kenapa harus gazebo dan diabaikan? Kenapa harus memukul beton dan berdarah? Kenapa harus gantung diri?
Ternyata semua fragmen itu tercipta dari sudut tersembunyi dalam hatiku. Apa yang aku takutkan. Apa yang aku inginkan.

Lalu aku coba bangkit dari tidur, memeriksa  kepalan tangan kananku. Normal. Tanpa luka. Tanpa rasa sakit. Tapi semua itu nyata.

Kenapa mimpi kali ini kisahnya tersusun begitu sempurna? Mereka yang kubenci muncul secara bersamaan. Apa yang kutakutkan datang secara bergiliran. Dan apa yang aku inginkan hadir sebagai akhir yang klimaks.

Aku sudah setahap ini. Apakah masih perlu kuperdebatkan lagi? Apakah masih pantas kusebut ini bukan hal besar yang tidak perlu terlalu dipikirkan?

Jadi, kapan aku benar-benar mati?



Share:

Monday, December 16, 2019

Desember, dan Aku Masih Begini


Siapa yang tidak menanti bulan ini? Mungkin karena hujannya? Atau sebab dinginnya? Atau bahkan demi habiskan natal dan tahun baru? Pada akhirnya Desember tidak lagi kuingat sebagai bulan kelahiran, bulan yang aku asumsikan sebagai pelepas rindu pada masa-masa SMA dulu. Mengulang ingatan bersama dia, yang masih enggan beranjak dari singgasananya di pikiranku.

Desember menjadi penanda, ini bulan keduabelas aku resmi menjalani 'night session' hampir setiap malam. Setiap kali emosiku mulai goyah, ratapan tangis dan pilu kembali menyela di antara empuk bantalku. Lalu ada satu tanya yang selalu terulang, "Kenapa aku masih hidup?".

Dan satu pernyataan lantang kuucapkan, "Aku pengen nyerah."

Tapi siapa yang dengar? Ini sudah malam. Semua terlelap tenang dalam buaian. Sedangkan aku nyaris kehilangan cara untuk bertahan. Menulis adalah caraku untuk tetap tinggal di bumi. Tanpanya, aku benar-benar kehilangan harapan. Lantas, saat aku kehilangan kesempatan, aku bisa apa? Aku tidak dipermudahkan untuk menguasai diri lewat tulisan lagi.

Untungnya, aku masih punya akal.

Aku ambil ponsel pinjaman, menulisi blog ini dengan pengaduan yang tidak jauh berbeda. Harapan satu beban ikut terbawa meski nanti, saat kembali kuletakkan ponsel ini di bawah bantal, pikiran dan ketakutan itu kembali terulang.

Menertawaiku yang masih lemah pada masa lalu.

Aku tidak yakin apa yang benar-benar bisa membuatku begini? Apakah sungguh karenanya? Aku merindukan dia di masa lalu? Ataukah aku memang telah terlampau jauh dari penciptaku, hingga hidupku tak menemui kemajuan? Ataukah aku memang sungguhan gila, berspekulasi pada penyakit yang barangkali tidak pernah benar-benar menggerogotiku?

Intinya, aku takut.

Aku takut menatap cerah matahari pagi. Lucu? Tertawakan saja. Bagiku sinarnya bukan untukku. Bila sehari ada 24 jam, aku ingin 20 jamnya untuk malam. Agar tidak banyak waktu yang kulalui untuk bertanggung jawab, dan lebih banyak waktu kuhabiskan untuk meratap.

Aku tidak pernah merasa benar-benar dibutuhkan. Aku bahkan lupa bagaimana rasanya dicintai. Meski ada ratusan orang yang bersedia pinjamkan pundaknya untukku, kematian jauh lebih mahir menggoda agar aku lebih bergantung padanya. Sayangnya, kematian tidak pernah memberiku jawaban atas rasa sakit yang selama ini kupertanyakan.

Memotong urat nadi atau merusak batang tenggorokan dengan tali? Melompat dari gedung tinggi atau menenggak cairan pemutih sampai botolnya kosong?

Mana? Mana yang instan dan tidak menyakitkan?

Kenapa tidak transfer saja penyakit padaku agar aku tidak perlu lakukan apapun. Atau biar dia tau aku lemah tanpanya. Atau apapun yang mungkin membuatku terlihat lemah sekalian.

Berikan aku lebih banyak waktu untuk sendiri. Aku akan habiskan semuanya untuk menangis sampai kepalaku sakit. Di selanya akan kupikirkan mana cara terbaik untuk utarakan kondisiku pada dunia. Apakah aku akan memutar lagu sedih di daftar putarku? Ataukah aku akan menulis sesuatu seperti ini lagi di blog? Atau bahkan akan kuasah pisau dapur yang baru dibeli kemarin?

Lebih baik membunuh diri sendiri atau orang lain? Mana yang lebih memuaskan?

Astaga. Aku sungguhan sakit.

Nat, kamu harus baca ini.





Share:

Monday, November 18, 2019

Malang; Kota Impian untuk Menangis





Sejak lama aku berekspektasi bisa datang kota ini, setidaknya—bisa mengambil waktu sebentar untuk melupakan kewajiban dan sedikit bersenang-senang. Tapi kemarin aku memutuskan sesuatu yang lebih ekstrim lagi, paska memoriku diobrak-abrik oleh kertas-kertas lusuh berisi tulisan tangannya.
Aku coba menenangkan diri, atau barangkali nyaris confessing about what really happened to me. Meski aku sering menemukan tempat yang cocok, tapi pada akhirnya aku kembali bungkam dan berpikir lebih baik tidak sekarang. Barangkali nanti dan bukan dia orangnya. Dan pada akhirnya yang terjadi hanyalah pembatalan total tentang rencana yang sudah kususun secara susah payah.
Tidak banyak orang yang mau mendengar ceritaku, apalagi mengetahui siapa aku sebenarnya. Jadi aku kembali berpikir, ah—lebih baik disimpan sendiri. Tapi aku sudah menyimpan ini nyaris enam tahun lamanya. Dan sering saja berspekulasi, ini bukan sejenis depresi. Buktinya aku tidak pernah berani mengambil pisau dan menyayat pergelangan tangan. Pikiran bunuh diri cuma sebatas lintasan ide di kepala, seolah itu ide cerita yang sering kali kuhasilkan lewat otak brilianku.
Dan kegagalan total menarikku kembali jatuh ke dalam pusaran yang sama. Aku menikmati dosa sendirian, menutupi diri dengan nama keluarga yang dikenal kebanyakan orang, padahal jauh di dalam aku sangat menyesal berada di keluarga ini. Bukan karena aku tidak mensyukuri hidup bahagia, melainkan karena aku hanya membawa malu dan rasa tidak pantas berada di antara mereka.
Lewat perbincangan sederhana saja air mataku tergoda untuk kembali keluar. Hampir setiap hari bahkan sebelum aku datang ke Malang, ada saja momen yang membuatku ingin menangis. Tapi kali ini aku asumsikan sebagai tangisan orang cengeng belaka, bukan jenis tangisan depresi yang mesti ditangani oleh ahli.
Aku berlebihan selama ini.
Aku hanya menghadapi masalah kecil—pikirku. Sebab aku tidak perlu sampai melakukan percobaan bunuh diri. Hanya sebatas pikiran di kepala, ancaman yang tidak akan benar terjadi. Nyaliku kerdil di depan bunuh diri. Dan itu sudah cukup membuktikan aku hanya merasa sedih yang berlebihan, bukan depresi seperti kata mereka.
Kadang aku ingin sungguhan sakit. Agar aku tidak perlu berdebat dengan diri, sebenarnya aku berada di posisi apa. Apakah aku cukup kuat untuk memendam masalah ini karena sebenarnya ini masalah sepele? Atau aku justru perlu membaginya dan mengkonsultasikannya dengan para ahli agar aku tertolong?
Dan pertanyaan semacam itu akan kembali berakhir dengan; cukup dirimu saja yang tau, masalahmu amat memalukan.
Sebagian besar orang mengalami kehidupan yang sulit di kampus, atau malah terlibat masalah keluarga yang seharusnya tidak ia rasakan. Jika dibandingkan dengan masalahku, mereka jauh lebih pantas menderita. Aku yakin sekali masalahku tidak ada apa-apanya dibanding masalah mereka.
Tapi kenapa pikiran itu datang nyaris setiap malam?
Saat sunyi dan gelap mulai memerangkap. Aku mengulang kembali dosa dan menangisinya kemudian. Mendadak merindukan masa lalu namun takut dengan masa depan yang terlepas. Terkadang coba membenahi masa sekarang agar masa depan bisa lebih baik, namun pada akhirnya mengingat nama atau melihat sosok yang sama sepertinya saja langsung membuatku menyerah.
Sebenarnya apa yang sedang kubahas?
Sengaja aku tidak perjelas agar iktikad hatiku tidak mudah terbaca. Aku nyaris menceritakan semua problema lewat tulisan ini, di atas kasur sebuah kamar sewa kecil, di lantai dua dengan pemandangan malam kota Malang. Aku nyaris saja menangis. Barusan. Lantas kuputuskan ambil laptop dan mulai mengetik. Ini sudah pukul setengah satu malam. Aku sedang berusaha menumpahkan air mataku menjadi sebuah kalimat.
Bersyukur Tuhan memberiku nikmat sebagai seorang pecinta kata. Apa dayaku kalau aku tidak bisa merangkai kata semudah ini? Mungkin kesedihanku sama sekali tidak bisa terbebaskan.
Dan ya, kemarin aku baru saja mengundang masa laluku kembali. Mulai coba membiarkan sedikit demi sedikit mereka paham, siapa aku sebenarnya tanpa perlu kujelaskan.
Apa yang bisa diharapkan dari aku?
Dibandingkan memupuk masa depan dengan cita-cita dan hasrat untuk hidup lebih layak, aku justru memikirkan cara bagaimana mengumpulkan keberanian untuk bunuh diri.
Dan mengabaikan dosa yang nanti diperhitungkan.
Sedangkan pahala pun sangat sulit kutemukan.
Ini aku. Pendosa yang terlihat baik-baik saja. Orang yang coba menjelaskan dirinya lewat apapun, namun tidak menemukan sama sekali kelegaan. Mungkin mati adalah kata lain dari lega, tapi aku tidak tau bagaimana caranya menemui kematian tanpa rasa sakit dan dosa.
Tuhan memang adil. Ia hanya tidak adil dalam aspek menciptakan pilihan menjemput kematian tanpa rasa sakit dan dosa. Andaikan pilihan itu ada. Bahkan aku tidak bisa memikirkannya.
Enam ratus Sembilan puluh sembilan kata, aku mengetik dan air mataku baru saja kembali turun. Di sini terlalu gelap dan sunyi, tipikal suasana yang paling ampuh mengundang tangisan tanpa alasan yang selalu kulakukan.
Siapa? Siapa orang pertama yang akan mendengarkan dosaku, aibku dan masa laluku? Orang pertama yang tidak mencapku sebagai manusia buruk dan justru memberiku pelukan. Di saat aku mempercayai satu orang, lantas aku tau dia pun punya masalah yang sama dan bahkan jauh lebih serius dibandingkan masalahku.
Kemudian aku kembali berpikir, kenapa aku nangis sih? Cengeng.
Bodoh banget masih hancurin masa depan dengan inget-inget semua hal dari masa lalu.
Dan sebenarnya aku nggak cukup kuat untuk jalan ke masa depan. Aku pengen berhenti. Aku pengen udahan ngejar prestasi dan pujian kayak yang dulu pernah aku lakuin. Aku pengen berhenti nyari target dan nyamain orang-orang seusiaku. Aku pengen berhenti. Sungguh. Aku udah nyerah.

 Malang, 18 November 2019

Share:

Saturday, November 9, 2019

Kupas Tuntas ‘Strangers from Hell’: Adaptasi Webtoon Terkeren!






Strangers from Hell boleh aja udah selesai pada 6 Oktober kemarin, tapi daripada nggak ngebahas sama sekali, mending aku ngebahas meskipun rada telat. Sempet kepikiran bakalan rugi kalo nggak ngebahas drama ini sama sekali, karena meski episodenya cuma 10 dan ratingnya nggak begitu memuaskan, jujur aku beneran excited untuk ngebahas tentang drama OCN yang diangkat dari Webtoon ini.
Strangers from Hell atau Hell is Other People, dengan judul alternatif yang diambil dari Webtoon yaitu Taineun Jiokida, adalah drama yang disiarkan di OCN setiap Sabtu dan Minggu jam 22.20 KST. Ini adalah drama pertama Yim Siwan setelah pulang wamil bulan Maret kemarin dan drama pertama Lee Dongwook sebagai tokoh antagonis.
KESAN PERTAMA
Aku udah liat berita perilisan drama ini sejak bulan Agustus, udah nontonin trailer-nya juga. Awalnya sih aku nggak terlalu tertarik dengan drama ini, meski aku pernah denger soal Webtoon-nya. Kukira drama ini bakal flat, bercerita tentang kehidupan kos sumpek, rusuh, pengap dan tua. Sekilas pemandangan kosnya pun nggak ada bagus-bagusnya. Cenderung serem malah.
Karena Yim Siwan dan Lee Dongwook juga menjadi salah satu penghuni, makanya kos ini sedikit tercerahkan (?). Yah, intinya pada akhirnya aku mau nonton drama ini karena ada oppa imut berbibir merah, Yim Siwan dan ahjussi rasa oppa berwajah pucat, Lee Dongwook. Berkat mereka, akhirnya aku dipertemukan dalam sensasi luar biasa antara ngeri dan kagum.
Tapi aku nggak langsung nonton pas tanggal perilisannya 31 Agustus. Aku nunggu episodenya kelar dulu, baru nonton. Aku nggak mau nunggu di tengah rasa penasaran kelanjutan episodenya hehe. Jadi aku baru mulai nonton pas tanggal 7 Oktober, sehari setelah episode terakhir dirilis.
KARAKTER DALAM DRAMA
Yoon Jong Woo (Yim Siwan) adalah pemuda 27 tahun yang merantau ke Seoul untuk bekerja di perusahaan milik kakak kelasnya di perguruan tinggi. Dia berasal dari keluarga miskin, anggota keluarganya hanya seorang ibu yang bekerja di pasar dan kakak yang sakit-sakitan. Jadi dia nggak punya cukup uang untuk tempat tinggal di Seoul yang rata-rata mahal.
Akhirnya dia nemu di web soal goshiwon (kos kecil untuk pelajar dan pekerja) bernama Eden dengan harga yang murah banget. Akhirnya dia memutuskan tinggal di sana (dengan terpaksa) sampai uangnya cukup untuk pindah ke tempat yang lebih layak. Jong Woo menghuni kamar 303.
Eom Bok Soon (Lee Jung Eun) adalah pemilik goshiwon. Ia ditampilkan dalam sosok wanita yang ramah dan sedikit cerewet. Dia selalu memanggil Jong Woo dengan sebutan ‘Si Tampan’. Sikapnya seolah peduli pada penghuni kos dan bahkan orang lain, tapi sebenarnya dia memiliki sisi gelap yang mulai terkuak seiring berjalannya cerita.
Hong Nam Bok (Lee Jong Ok) adalah penghuni kamar 313. Dia direpresentasikan sebagai pria paruh baya dengan kacamata dan senang mengenakan singlet. Kebiasaannya adalah menonton video porno dan mengumpulkan foto-foto model berbikini. Dia minim bicara dan paling sering membuat Jong Woo kesal. Diceritakan juga kalau dia bertingkah begini setelah usahanya bangkrut di Cina.
Byeon Deuk Jong (Park Jong Hwan) adalah penghuni kamar 306. Dia sebeneranya kembar, tapi hanya diperankan oleh satu orang. Sang kakak adalah pria biasa, yang emosinya sama seperti orang pada umumnya. Tapi sang adik sedikit memiliki gangguan mental, ia sering tertawa dan bertingkah seperti anak kecil. Nanti pada salah satu kesempatan, kakaknya mati dan membuat adiknya yang meski tampak tanpa emosi bisa menyimpan dendam.
Yoo Ki Hyuk (Lee Hyun Wook) atau si mata belok (besar). Dia penghuni kamar 302 yang sangat sedikit muncul di drama ini. Didefinisikan sebagai pria kaku yang misterius. Semua penghuni kamar di sekitarnya merasa enggan padanya. Dia merupakan karakter kunci yang membedakan versi drama dari Webtoon-nya.
Seo Mun Joo (Lee Dong Wook) adalah seorang dokter gigi yang membuka klinik di dekat Eden goshiwon. Ternyata dia juga tinggal di sana, tepatnya di kamar nomor 304. Divisualisasikan sebagai sosok pria 30 tahunan yang berwajah tampan dan pucat, misterius, sedikit provokatif namun tetap terlihat ramah dan tenang. Penduduk sekitar mengenal kebaikannya karena Mun Joo sering terlibat aksi sosial. Di balik itu semua, ia adalah sosok yang mengerikan.
Min Ji Eun (Kim Ji Eun) adalah pacar Jong Woo. Ia juga bekerja di Seoul, menemukan kesulitan dalam pekerjaannya sama seperti Jong Woo. Oleh karena itu, di saat Jong Woo mengeluh soal penghuni kos yang aneh dan masalah pekerjaannya, Ji Eun kurang bisa mendengarkan. Mulanya mereka saling menyayangi satu sama lain, namun seiring kesulitan yang mereka hadapi bersama, hubungan mereka merenggang.
Shin Jae Ho (Cha Rae Hyoung) adalah bos dan CEO perusahaan tempat Jong Woo bekerja. Dia memperkerjakan Jong Woo karena mereka memiliki relasi baik sejak di perguruan tinggi. Jae Ho selalu menganggap Jong Woo sebagai adiknya sendiri dan sering membantu. Namun, sifat dominannya membuat ia terlihat mudah meremehkan orang lain dan membuat Jong Woo kesal. Ia pun pernah kepergok mengantar Ji Eun pulang ke apartemennya.
An Hee Joong (Hyun Bong Sik) adalah penghuni kamar di depan kamar Jong Woo. Dia digambarkan sebagai sosok preman yang menjadi buronan polisi. Sifatnya temperamental dan kasar. Dia pernah terlibat pembicaraan dengan Jon Woo dan bilang kalau penghuni kos adalah orang-orang aneh. Namun pemilik kos justru memutar fakta kepada Jong Woo bahwa preman itulah yang aneh dan jahat. Beberapa hari setelah perbincangan mereka, Hee Joong menghilang tapi diasumsikan pindah kos oleh Eom Bok Soon.
Kang Seok Yoon (Noh Jong Hyun) adalah penghuni baru di kamar yang sama setelah preman itu ‘pindah’. Dia adalah sosok pemuda 25 tahun yang polos dan murah senyum. Dia mendekati Jong Woo karena usia mereka tidak terpaut jauh, nasib mereka yang sama dan merasa Jong Woo adalah orang baik. Mulanya mereka saling mencurigai, namun lama kelamaan Jong Woo hanya bisa mempercayai Seok Yoon dibandingkan penghuni lainnya.
So Jung Hwa (Ahn Eun Jin) adalah polisi patroli wanita yang terpaksa menyelidik kasus pembunuhan kucing di area kerjanya. Karena merasa curiga, ia terus menyelidiki meski tugas penyelidikan bukanlah tugas seorang polisi patroli. Sampai penyelidikannya membawa jung Hwa pada rahasia di balik Eden goshiwon. Ia berkenalan dengan Jong Woo untuk meminta informasi dan berusaha keras untuk membongkar rahasia itu. Meski pada akhirnya nanti ia akan menjadi salah satu ‘korban’.
PERBEDAAN VERSI DRAMA DAN VERSI WEBTOON [SPOILER]
Well, aku nggak pernah baca versi Webtoon-nya sih. Tapi dari berbagai artikel dan komentar yang aku baca, pada akhirnya aku ngerti secara garis besar apa perbedaan antara versi drama dan Webtoon. Jelasnya, versi drama dibuat jauh lebih menarik dan kompleks—yang ngebuat aku pada akhirnya tertarik nonton padahal sebelumnya nggak tertarik sama Webtoon-nya. Apalagi ada Lee Dongwook ya di versi drama wkwkwk. Kalo ada psikopat tamvan pasti aku eksaitit hoho!
Jadi di versi Webtoon, tokoh utama antagonis adalah si Ki Hyuk atau si mata belok. Dia di sana adalah pembunuh berdarah dingin yang bersembunyi di sebuah goshiwon kecil. Jadi nggak ada sisi unik yang terlalu mencolok dari sosok ini. Sedangkan tokoh dokter gigi yang diperankan Lee Dongwook ini sebenernya nggak ada.
Seo Mun Joo adalah karakter tambahan di versi dramanya. Sutradara sengaja ngebikin sosok ini sebagai tokoh utama antagonis, bukan Ki Hyuk. Seo Mun Joo dideskripsikan sebagai sosok pria mapan yang tampan. Bekerja sebagai dokter gigi—yang mana kerjaannya selain terdengar menjanjikan, memang berhubungan dengan membantu orang banyak. Cukup menjadi opsi yang bagus untuk menutupi keburukan di balik wajah gantengnya.
Nah, makanya saat Mun Joo ada di luar klinik dan terlepas dari identitas dokternya, kostum yang dia pake cenderung serupa sama Ki Hyuk. Kaos lengan panjang item dan celana panjang item. Identik.
Kemunculan Mun Joo ini cukup ngebikin alur drama berubah, namun nggak menghilangkan relasitas di antara keduanya. Makanya, di judul aku sebut ‘Strangers from Hell : Sebuah Adaptasi Webtoon Terkeren’, bukan terbaik. Karena kalo terbaik, lebih condong ke penempatan tokoh dan alur yang serupa.
Aku nggak bisa ngebandingin bagusan mana antara drama dan Webtoon, tapi yang jelas kemunculan Seo Mun Joo di sini bener-bener membantu mengurangi kesuraman drama ini wkwkwk. Ganteng banget woy aelah! Hubungan antara Munjoo dan Jong Woo juga nggak bisa diabaiin. Intens, dalam, menyesakkan, penuh misteri dan luar biasa.
Bisa dibilang Mun Joo ini kunci utama kenapa Strangers from Hell versi drama punya ending yang melegakan meski bisa disebut sebagai sad ending.
Ready for spoiler? Ini bakalan banyak, jadi siapin mental dan matamu untuk lanjut baca!
KUPAS TUNTAS ALUR STRANGERS FROM HELL [SPOILER]
Di episode awal, semua tokoh mendapat porsinya masing-masing. Dimulai pengenalan-pengenalan yang tetap mengangkat unsur mencekam. Jong Woo mulai membiasakan diri tinggal di kos barunya, terpaksa mendengar keributan, berbagi kamar mandi dan meladeni ibu kos yang cerewet.
Di kantor ia mesti berhadapan dengan senior yang nyebelin. Senior itu selalu ngejelekin Jong Woo karena dia pegawai magang yang bisa kerja hanya karena bantuan Jae Ho. Belum lagi waktu dia sumpek, dia nggak punya tempat buat curhat. Pacarnya pun punya masalahnya sendiri, jadi nggak bisa bener-bener dengerin curhatan Jong Woo. Nah, dari sini kita juga punya pelajaran penting; jadilah pendengar yang baik.
Setiap orang mesti mengeluarkan bebannya lewat curhatan. Kalo kamu punya temen yang pengen curhat, coba didengerin baik-baik. Jangan diabaiin. Kasih respons positif, meski kamu nggak bisa ngasih feedback berupa nasehat yang baik. Cukup jadi tempat curhatnya aja. Karena di drama ini ngebuktiin, semua masalah yang dipendem terus-terusan akan mempengaruhi kesehatan mental orang yang bersangkutan.
Dan kebetulan Jong Woo ini adalah penderita PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Penyakit ini biasanya diderita oleh orang yang punya kenangan buruk saat perang, kecelakaan, bencana alam atau pelecehan. Dan dalam kasusnya Jong Woo dimulai paska dia selesai wamil (dan kebetulan juga Yim Siwan beneran baru selesai wamil wkwkwk).
Ciri-ciri pengidapnya adalah orang yang emosinya nggak stabil, ia cenderung normal, tapi kalo ada sedikit pressure dia bakal berubah emosional, marah dan bakal ngelukai orang lain atau dirinya sendiri.
Awal Pertemuan dengan Ki Hyuk
Malam pertamanya di kos, Jung Woo makan satu meja dengan si preman, Hee Joong di dapur kos. Di sana Hee Joong bercerita soal penghuni kos yang aneh. Jong Woo pada mulanya nggak peduli. Sampai saat dia mau tidur, terdengar keributan di lorong kos. Ternyata waktu dia buka pintu kamarnya, Hee Joong lagi marahin si botak, Deuk Jong. Katanya sih si botak menyusup ke kamar si preman.
Eh, munculah Ki Hyuk, penghuni kamar 302 yang bersikap tenang tapi menyeramkan. Dia ngebuat suasana berbalik menyudutkan si preman dan apa yang Jong Woo lihat, semua penghuni kos seperti segan kepada Ki Hyuk. Entah siapa sebenarnya Ki Hyuk ini, tapi Jong Woo jarang sekali melihatnya di kos.
Penemuan Bangkai Kucing
So Jung Hwa yang ditugaskan untuk berpatroli sering mendapat laporan penemuan bangkai kucing. Ia mulai mendalami penyelidikan setelah penemuan bangkai kucing ketigabelas. Jung Hwa yakin sebelum membunuh manusia, seseorang sedang berlatih dengan membunuh kucing. Ia pun menganggap kasus ini sebagai kasus yang serius, meski jika ia nekat menyelidikinya, karirnya sebagai polisi akan terancam.
Dan penyelidikannya membawa ia pada si botak, Deuk Jong. Deuk Jong pun dibawa ke kantor polisi untuk investigasi. Namun karena penyakit mentalnya, semua informasi yang diberikan tidak akurat. Polisi lainnya pun meminta Jung Hwa untuk menghentikan penyelidikan dan membebaskan Deuk Jong. Jung Hwa hanya membebaskan Deuk Jong dari interogasi, namun tidak sedikit pun menghilangkan niat untut tetap menyelidiki.
Penyekapan Si Preman
Setelah insiden pertengakaran itu, semua penghuni kos (si mesum Nam Book, si botak Deuk Jong bersama kakaknya dan Ki Hyuk) bekerja sama menyekap si preman di lantai 4. Ada peraturan yang dibuat agar penghuni tidak pergi ke lantai 4, karena dulunya adalah bekas kos putri yang terbakar. Informasi ini tentu hanya berlaku untuk Jong Woo yang masih penghuni baru.
Penyekapan si preman pada akhirnya membuka fakta lain bahwa semua penghuni kos termasuk ibu kosnya adalah sebuah komplotan. Mereka bekerja sama untuk membunuh para penghuni kos lain dan bahkan memakan dagingnya! Mereka bergiliran menyiksa dan berebut untuk membunuh. Geez, so creepy.
Dalang di Balik Sosok Ki Hyuk yang Menyeramkan
Setelah ada laporan si preman hilang, seorang detektif mendatangi kos itu untuk mencari informasi. Tapi yang ia dapatkan hanya fakta kalo si preman sudah pindah tanpa memberi kabar apapun. Karena merasa keberadaannya terendus, Ki Hyuk membunuh detektif ini dengan gegabah.
Kemudian munculah Seo Mun Joo yang langsung mengubah sikap arogan Ki Hyuk menjadi segan. Mun Joo bilang kalo dia nggak suka dengan sikap gegabah Ki Hyuk dalam menyelesaikan masalah. Dan pada akhirnya Mun Joo membunuh Ki Hyuk di tempat sambil bilang, ‘Terima kasih atas kerjanya, Sayang’.
Sampai sini tau kira-kira apa maksud ucapan Mun Joo?
Pertemuan Pertama Jong Woo dengan Mun Joo
Kesuraman lingkungan kos ini diobati oleh salah satu pemandangan atapnya yang bagus. Ada beberapa scene yang diambil dari atas atap pada siang, sore dan malam hari. Kayaknya cuma atap bagian kos ini yang bagus wkwkwk.
Malam setelah ngebunuh Ki Hyuk, Mun Joo menemui Jong Woo di atas atap. Mereka terlibat obrolan yang menimbulkan asumsi Jong Woo kalo cuma Mun Joo satu-satunya penghuni kos yang keliatan normal. Belum lagi mereka sama-sama bahas soal pekerjaan selingan Jong Woo sebagai seorang novelis, di sana Mun Joo terlihat tertarik dan bahkan tau siapa penulis favorit Jong Woo.
Jong Woo mengaku cerita yang sedang dibuatnya adalah cerita seorang pianis terkenal dan berprestasi yang ternyata memiliki sisi kelam sebagai seorang pembunuh. Mun Joo terkesan dengan ide itu dan bilang kalo orang-orang seperti itu sungguhan ada di sekeliling mereka. Bahkan Mun Joo meralat tulisan Jong Woo yang bilang kalo si pianis mencekik korban dan merasakan suhu dingin tubuh korban yang merenggang nyawa. Mun Joo bilang seharusnya suhu yang dirasakan di tubuh korban itu panas bukan dingin. Sa ae lu, dia abis ngebunuh orang dengan cara yang sama weeee T_T
Dan Jong Woo sadar kalo Mun Joo ini sering banget senyum ke arahnya. Pas ditanya kenapa, Mun Joo bilang dia suka. Ada sesuatu yang dirasain pas ngeliat Jong Woo. Apakah cinta pada pandangan pertama? Wkwkkw. Iya, emang cinta, tapi dalam konteks negatif.
Dan sejak saatu itu Mun Joo mulai obsesif ke Jong Woo. Seperti ingin memiliki tapi nggak tau untuk apa.
Daging Manusia yang Bikin Gempar
Hubungan keduanya makin akrab. Jong Woo ngerasa cuma sama Mun Joo dia bisa ngobrol. Tapi semua mulai aneh saat mereka duduk di meja makan berdua, dan Mun Joo negluarin sekotak daging dari dalam kulkas. Katanya itu masakan ibu kos.
Jong Woo ngicipin, tapi rasanya aneh. Mun Joo bilang itu daging manusia, tapi kemudian dia ketawa dalam bilang kalo bercanda. Jong Woo mendadak nggak mau makan dan malah ketakutan.
Meski kemunculan daging ini cuma pemanis belaka, tapi sempat menggemparkan penonton, loh. Sampai kru drama ini membuat pernyataan resmi kalo itu daging hanya sebagai property untuk mengintenskan rasa ngeri yang dirasakan Jong Woo.
Meski begitu, tetep aja ada artikel dan video yang coba menelaah gimana sih rasa daging manusia itu setelah adegan ini rilis. Kacau!
Polisi vs Dokter Gigi
Sebenernya Jung Hwa ini adalah pasien langganan di kliniknya Seo Mun Joo. Kebetulan dia sakit gigi dan ngebuat jadwal untuk operasi. Dan pas operasi itu, nggak tau kenapa Mun Joo sengaja matiin CCTV dan ngebawa jarum suntik berisi cairan bius yang mau diaplikasiin ke Jung Hwa.
Beruntung karena Jung Hwa ditelepon atasannya dan menggagalkan aksi nekat Mun Joo yang aku pun nggak tau faedahnya buat apaan.
Sebenernya yang paling penting dari scene ini adalah saat Jung Hwa menyadari klinik milik Mun Joo ini punya relasi sama panti asuhan yang kebakaran puluhan tahun yang lalu. Jung Hwa bertanya-tanya, tapi dipendem demi menghargai Mun Joo sebagai dokternya.
Btw, mau dong aku sakit gigi kalo dokternya seganteng Lee Dongwook. Au!
Mun Joo yang Mulai Merasuki Jong Woo
Masalah sama senior di kantor, penghuni kos yang gila semua, bos yang dianggap kakaknya sendiri malah makin deket sama pacarnya, belum lagi ibunya minta uang untuk biaya berobat kakaknya, semua ngebikin Jong Woo semakin sering ‘kumat’. Penyakit PTSD-nya sering memutar memori di kepala ke kejadian saat dia wamil. Dan lucunya, semua memorinya diinterupsi sama kemunculan sosok Seo Mun Joo.
Mun Joo semakin berhasil ngedeketin Jong Woo dan mulai perlahan meyakinkan Jong Woo kalo dia berbeda dari yang lain. Mun Joo bilang sebaiknya Jong Woo melakukan apapun yang ingin dilakukan dan membebaskan dirinya dari perangkap. Ucapan Mun Joo perlahan mulai merasuki pikiran Jong Woo yang ‘lemah’ dan Jong Woo pun mulai sering melihat sosok Mun Joo dalam setiap kesempatan di hidupnya.
Belum lagi Mun Joo selalu membela Jong Woo di setiap kesempatan, termasuk saat ia terlibat pertengkaran dengan penghuni kos lain. Mun Joo akan menyelesaikan dan membela Jong Woo seolah Jong Woo adalah miliknya yang berharga. Obsesi Mun Joo pada Jong Woo akan semakin bertambah parah setelah ia membunuh orang demi Jong Woo.
Btw, kalo baca ini aku jadi inget lagunya Alec Benjamin yang If I Killed Someone for You. Di sana ada lirik kayak gini, do you want love me more if I killed someone for you?. Relatable banget kan yaaaa?
Penghuni Baru Pencerah Suasana
Aku nggak pernah nyangka bakalan ada penghuni yang masih mau tinggal di kos ini wkwkwk. Ngapain woy, nyari mati ajeeee. Dia adalah Kang Seok Yoon, seorang pemuda 25 tahun yang punya mimpi besar menjadi seorang rapper. Pas dia muncul di kos, kenapa aku yang berucap Alhamdulillah sih mewakili Jong Woo. Aku berharap dia penghuni normal yang bisa diajak berteman sama Jong Woo.
Seok Yoon adalah pemuda ceria yang polos, tinggal di kamar depan Jong Woo (bekas kamar si preman). Saking polosnya dia nggak nyadar kalo penghuni kos itu aneh sebelum akhirnya dikasih tau sama Jong Woo. Awal kemunculannya, dia ngetuk pintu kamar Jong Woo untuk pinjem charger. Ngakunya sih dia nggak punya charger, terus Jong Woo minjemin sambil saranin dia buat beli di mini market di deket kos.
Sutradaranya emang usil banget, karena sempet ngeliatin kalo sebenernya Seok Yoon ini punya charger di kamarnya. Charger punyanya Jong Woo ditaruh doang di atas meja, sedangkan charger dia dipake ngecas hapenya. Lah, terus dia minjem buat apa woy. Kukira dia orang baru komplotan penghuni kos yang cuma pura-pura ngobrol sama Jong Woo. Ternyata nggak kok, dia murni protagonis bagaikan malaikat kiriman Tuhan yang dateng ke kos busuk itu demi menemani Jong Woo.
Kematian Deuk Su
Sama seperti Ki Hyuk, Deuk Su (kakak kembaran Deuk Jong) bersikap gegabah dalam memperlakukan korban. Pada akhirnya Mun Joo kesel dan ngebunuh Deuk Su. Si adik sebenernya marah, tapi karena dia punya gangguan mental dan takut sama Mun Joo, dia nggak bisa berbuat apa-apa untuk membela kematian kakaknya.
Madu dan Racun
Hubungan Jong Woo dengan Seok Yoon semakin akrab. Mereka bahkan jalan bareng, diskusi bareng, makan bareng, sampe mandi bareng (karena kamar mandinya barengan). Seok Yoon terlihat memihak Jong Woo, bahkan saat Jong Woo ‘kumat’, Seok Yoon-lah yang berusaha menenangkan. Keduanya sepakat akan segera keluar dari kos itu setelah punya uang yang cukup. Jong Woo juga bilang kalo Mun Joo adalah sosok yang harus paling diwaspadai.
Meskipun Jong Woo seperti baru aja dapetin back up dari Seok Yoon untuk kelanjutan hidupnya di kos, dia justru dihaadapkan oleh kenyataan kalo Ji Eun, pacarnya diantar pulang oleh bosnya, Jae Ho. Hubungan mereka terlihat akrab, sampai Jong Woo merasa cemburu dan berasumsi mereka selingkuh di belakangnya.
Pelampiasan Pertama Jong Woo
Sejak lama Jong Woo yang mengidap penyakit itu ingin melampiaskan kemarahannya. Sering kali dalam beberapa scene Jong Woo terlihat menghajar orang yang membuatnya kesal, tapi itu cuma khayalan. Dan pada akhirnya, suatu malam saat ia dihadang oleh pemuda yang bersinggungan dengannya di warnet, Jong Woo dengan senang hati meladeni pertengkaran dengan mereka.
Jon Woo menghajar mereka membabi buta. Ia pun sampai berdarah dan lemah tak berdaya. Pada saat itulah Mun Joo datang dan bilang, ‘Mulai sekarang aku akan selalu ada di sisimu’.
Setelahnya Mun Joo juga membantu Jong Woo berdamai dengan para ibu korban di kepolisian. Polisi di sana berterima kasih pada Mun Joo karena mau bertanggung jawab membebaskan Jong Woo dan menenangkan suasana ricuh dari para ibu yang menuntut.
Setelahnya Jong Woo memohon pada Mun Joo untuk berhenti membuntuti dan menolongnya. Ia memutuskan pergi dari kos meski harus kehilangan tempat tinggal. Jong Woo cuma mau ngelepasin diri dari obsesi Mun Joo yang kayaknya baik, tapi sebenarnya punya niat buruk padanya.
Dan setelah insiden ini, Jong Woo nggak tanggung-tanggung untuk melampiaskan amarahnya. Beberapa hari kemudian dia merusak keyboard seniornya, Byung Min—yang selama ini bikin dia muak di kantor. Dan bahkan ia memukuli Byung Min dengan gelas kopi dan keyboard yang rusak. Semua orang beranggapan Jong Woo berubah menjadi menyeramkan.
Tingkat Obsesif Mun Joo yang Semakin Parah
Jae Ho, si bos menemui Jong Woo dengan pakaian yang masih sama seperti yang terakhir kali ia kenakan setelah insiden menghajar pemuda perusuh tempo hari. Jae Ho mengajak Jong Woo makan dan beliin dia sebuah baju ganti. Tapi ternyata tujuan utamanya bukan itu. Jae Ho berniat mempertemukan Jong Woo dengan Ji Eun untuk ngelurusin masalah salah paham yang ngebikin hubungan ketiganya merenggang.
Bukannya mendengarkan, emosi Jong Woo malah terpancing. Dia bahkan berniat memukul kepala Jae Ho dengan botol bir. Keributan di kafe itu ternyata dilihat oleh sosok yang berdiri di pojok, yang nggak lain dan nggak bukan adalah Mun Joo. Dia malah nyamperin dan ngelibatin diri dalam pertengkaran itu.
Di sana Mun Joo bicara untuk memancing emosi Jong Woo,
Tinggal di kos sempit itu ngebuat kita sendirian di dunia ini. Tapi kalo orang terdekat pun nggak paham perasaan kita, kamu tau persis kayak apa rasanya.
Dan juga untuk memancing emosi Jae Ho,
Jangan sok peduli sama dia. Kamu seneng karena bisa memperkejakan Jong Woo dengan murah. Dan akan lebih bagus lagi kalo kamu bisa ngerebut pacarnya.
Tapi setiap kali dia ngomong, dia selalu ngelihat tepat ke mata Jong Woo. Seolah berusaha berbicara sama Jong Woo dan mempengaruhinya. Di sini mungkin keliatan biasa aja, tapi serius tatapan matanya Mun Joo beneran ngeri.
Jong Woo yang kesal akhirnya ngajak Mun Joo bicara empat mata. Di sana Mun Joo semakin menjadi-menjadi mempengaruhi Jong Woo. Dia tau setiap masalah yang dialami sama Jong Woo, mulai dari masalah kantor, perselingkuhan dan keluarganya. Jong Woo semakin frustasi dan bilang ke Mun Joo untuk berhenti ngikutin dan ganggu dia.
Mun Joo pun pergi. Dan Jong Woo bilang ke Jae Ho untuk hati-hati. Jae Ho ngasih uang ke Jong Woo untuk tidur di hotel dan minta Ji Eun untuk nemenin sampai Jong Woo tenang.
Seorang Saksi Mata
Entah apa yang sebenernya dipikirin sama Mun Joo. Apakah dia terlalu terbiasa sama kegiatan bunuh-membunuh, seolah ngehilangin satu nyawa bukanlah perkara besar? Atau Mun Joo nggak terima sama perlakuan Jae Ho selama ini sama kesayangannya Jong Woo?
Karena Mun Joo sampe nekat datengin apartemen Jae Ho dan ngebunuh dia. Seperti yang disebut Jong Woo, hati-hati. Tapi sayang, Mun Joo terlalu pintar dan terlalu terlibat obsesi sampai dia ngebunuh Jae Ho dengan mudah. Hape Jae Ho pun diambil Mun Joo, dipake untuk rencana pembebasan obsesi selanjutnya.
Tapi saat pembunuhan itu, ternyata ada seorang jurnalis yang diam-diam menjadi saksi. Jurnalis ini langsung melapor polisi dan membuntuti Mun Joo sampai ke kos. Waktu di kos, dia ketemu sama si botak. Kukira penyelidikan si jurnalis ini kepergok sama si botak. Untung aja nggak.
Jangan Nodai Kepolosan Seok Yoon :(
Rasanya sedih karena Jong Woo pergi ninggalin kos sedangkan Seok Yoon masih stay di sana. Dia ketemu sama Mun Joo dan mereka ngobrol di meja dapur. Sebenernya tujuan Mun Joo ngajak ngobrol Seok Yoon adalah untuk mengukur sejauh mana hubungan antara Seok Yoon dan Jong Woo, seperti ada rasa cemburu atau sebuah rencana. Hmmm.
 Dan sama seperti yang pernah dilakuin ke Jong Woo sebelumnya, Mun Joo nawarin daging ‘manusia’ itu ke Seok Yoon. Bedanya Seok Yoon bilang daging itu enak, aduhhhhh huhuhuhu. Tapi waktu dibilang kalo itu daging manusia, Seok Yoon malah anggap itu candaan. Dan waktu Mun Joo bilang kalo Jong Woo pernah denger candaan yang sama dan reaksinya malah takut, di situlah Seok Yoon mulai ada yang nggak beres.
Kasiaaann...
Dan nggak tau kenapa Seok Yoon yang udah sepakat sama Jong Woo untuk nggak masuk ke lantai 4, pada akhirnya penasaran sama bunyi yang ada di sana dan nekat masuk. Dan bener aja, dia kepergok sama tiga penghuni gila (si mesum, si botak dan Mun Joo) dan berakhir dengan disiksa seperti korban lainnya.
Kenapa Jong Woo Tidak Menyadari Tangisan Seok Yeon?
Mun Joo juga mencabut paksa gigi Seok Yoon (tanpa obat bius) dan mengoleksinya bersama gigi-gigi korban yang lain. Kasihan banget sih ini sumpah. Di antara korban yang lain, aku paling kasian sama Seok Yoon. Dia polos banget sih :(
Menyerah Jadi Orang Jahat
Menemukan Bantuan yang Sebenarnya Tidak Berguna
Kok Ketikannya Beda?







Share: