Tuesday, May 16, 2023

Mereka Bersembunyi dan Tak Menyapa

 

Dua bulan berlalu sejak entri terakhir. Selama itu, tidak sekali pun aku melewati malam dengan tangisan keras yang mengambil kewarasanku untuk tidak terlelap. Aku juga tidak tahu kenapa depresi dan kecemasan kini bersembunyi cukup dalam, sehingga aku tidak lagi bersua dengan mereka. Meskipun demikian, aku merasa bersyukur. Aku setidaknya mampu berfungsi layaknya manusia seutuhnya.

Selama dua bulan berlalu, ada banyak peristiwa yang seharusnya kuceritakan. Mulai dari momen bulan Ramadan yang jauh lebih baik daripada tahun sebelumnya. Seperti perasaan sederhana yang tercipta ketika aku tidak merasa lapar. Atau kefasihanku pada ibadah yang sedikit kubandingkan dengan teman-teman yang tidak melakukannya. Atau kesempatanku berbuka bersama dengan beberapa teman. Atau keinginanku untuk menyambut Hari Raya dan bertemu dengan banyak orang, sangat berbanding terbalik dengan tahun lalu yang memilih untuk mengunci diri di rumah dan tidak pergi kemanapun.

Dua perbedaan ini sangat bergantung pada penyakitku. Ketika ia bersembunyi cukup rapi, maka yang kurasakan adalah rasa senang pada hal-hal wajar. Bukan lagi ketakutan atau ketidakpercayaan. 

Dan pada momen yang paling kusyukuri, kesempatan menghabiskan cuti hari Raya dengan waktu yang lebih luang, dengan perasaan yang lebih tenang. Aku berkesempatan untuk keliling kota bersama sepupu dengan motor, mengunjungi cafe lokal dengan rasa kopi yang lumayan. Hal yang tidak pernah sempat kulakukan sebelumnya dalam waktu sempit. 

Pergi bertemu teman lama, teman kampus. Mengunjungi rumahnya, pergi foto dan makan bersama. Membicarakan banyak hal yang tidak terlampau intens. Lebih menginginkan bersua melepas rindu daripada mengadu nasib. 

Membuat janji dengan teman sekolah yang terakhir kali kutemui sekitar 7 tahun yang lalu. Melepas rindu sambil memakan ramen dan menyeruput kopi. Mendengarkan banyak konflik yang terjadi di antara teman-teman lainnya, berita yang secara kurang ajar kutinggalkan. Dan dengan sadar menamparku bahwa aku terlalu tidak peduli pada relasi yang seharusnya kubangun dan kujaga.

Menyempatkan pergi menyeberangi pulau, menyapa Kota Madura dan mencicip kulinernya. Melipir ke Tunjungan Plaza untuk melihat-lihat kehidupan super cepat khasnya Kota Surabaya. Menyapa kembali Malang, yang saat itu datang dengan mendung gelapnya. 

Liburan sederhana yang belum pernah kunikmati sejauh ini. Tanpa gangguan penyakitku. Tanpa gangguan pekerjaan yang berarti. Bahkan kuakui aku kembali berkerja dengan perasaan yang nyaman, fisik yang tidak terlampau lelah meski sejatinya aku menempuh perjalanan ratusan kilometer. Sekali lagi, penyakitku mengambil peran soal ini. Tanpa mereka, semua berjalan teramat normal dan baik.

Kemudian soal perasaanku. Aku masih sama halnya seperti yang dulu. Menyimpan dalam semua perasaan suka diam-diam. Mencoba menetralkan perasaan jengkel dan marah pada hal-hal sepele yang pemicunya tergolong tidak penting. Aku mendengar kabar soal dirinya, yang dalam waktu dekat akan menjadi sosok lain yang mungkin akan sulit kupahami. Daripada merasa takut akan kehilangan, aku justru menikmati hal-hal yang masih bisa kami bahas bersama.

Sebenarnya, perasaanku pada dia sudah lama netral. Aku mengandalkan kenyataan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Maka, tanpa perlu kutemukan, aku disuguhi beberapa kekurangannya yang jika dipaksakan berselaras denganku, akan sangat berpotensi besar untuk saling menghancurkan.

Jadi sisa waktu yang kumiliki hanya kugunakan untuk menikmati sisa kelebihannya yang terlihat. Hal-hal yang mengundang atensiku secara berlebih sebelumnya, yang tidak kutemukan dalam pribadi lain orang-orang di sekitarku.

Berjalan lebih jauh dari perasaan suka atau kagum, aku sempat dihadapkan pada kondisi yang sudah tertanam dalam radarku. Ketika aku mampu membaca pikiran seseorang bahkan sebelum ia mengucapkannya. Daripada kesulitan memahami apa yang hendak ia utarakan, aku lebih bingung bagaimana caranya bereaksi. Aku hanya bisa mendengarkan, menenangkan, meyakinkan. Dan kemudian menyadari bahwa aku bukan lagi pendengar dan pemberi solusi yang baik.

Klaim-klaim sepihak itu harusnya sudah kutanggalkan sejak lama.

Aku sudah kehilangan diriku sejak lama. Sejak penyakit ini mampir dan enggan pergi, hanya bersembunyi. Jadi, demi apapun aku tidak pernah takut kehilangan orang-orang di luar lingkup keluargaku. Mereka yang memutuskan datang, maka sudah seharusnya aku membiarkan mereka pergi. Dan ketika satu per satu orang yang pernah memilihku, pada akhirnya memilih yang lain, aku sudah cukup kuat dan tegas untuk ditinggalkan. Yang tersulit justru datang dari bagaimana cara aku semestinya bersikap? Apakah aku harus menangis? Apakah aku harus mengiyakan saja? Atau aku harus menahannya sekuat tenaga?

Yang terjadi adalah aku berusaha menjalankan fungsiku sebagai manusia. Mengutarakan hal-hal yang seharusnya diucapkan dan entah apakah itu memberi mereka makna atau tidak.

Oh ya, beberapa kali aku terlibat dalam seminar atau pelatihan tentang membaca kepribadian tim. Ada beberapa cara dan tips yang mereka sampaikan. Aku merasa beberapa hal sudah tidak cukup relevan denganku semenjak aku sudah menaruh lebih ketertarikan pada membaca kepribadian orang sejak lama. Dan setelah menemukan beberapa kepribadian, aku merasa enggan untuk mencaritahu kepribadian-kepribadian lain untuk sekarang. Bahkan aku masih merasa bingung dengan kepribadian sendiri, yang terkadang berubah sesuka hati.

Tapi kepribadian baru yang sudah mencapai level diriku kali ini adalah 'pemarah'. Sejauh yang aku tahu, aku adalah tipikal orang yang menghindari konflik, menjunjung kedamaian, sampai-sampai fokus pada ketenangan jiwa dan dianggap cuek. Namun, akhir-akhir ini emosiku gampang tersulut untuk hal-hal kecil. Ada sedikit saja celah untuk memicu amarahku, maka kesabaranku yang dibatasi dinding tipis setipis tisu akan pecah berantakan. Ketika orang tua atau rekan kerja menggunakan nada yang agak tinggi, maka kubalas dengan nada yang agak tinggi juga. Ketika aku fokus berkerja, dan beberapa orang menganggu, aku tidak segan memarahinya.

Aku sudah sampai ditahap, bagaimana untuk melatih kesabaran? Apakah aku perlu yoga? Hahahaha. Tidak masalah, apapun akan kulakukan selain harus menghadi godaan untuk melukai diri lagi.







Share:

Sunday, March 5, 2023

Ketika Aku Mendadak Lebih Diam daripada Malam

 "Kak, sorry, ya. Tapi pas pertama kenal Kakak, kukira Kakak galak tau. Soalnya mukanya jutek banget."

Itu salah satu pengakuan yang kudengar kurang lebih minggu kemarin. Dari salah satu tim baru yang bergabung dengan perusahaan. Yang entah kenapa justru diiyakan oleh teman-temannya yang lain. Dan bahkan disetujui cepat oleh timku. 

Aku tidak pernah menganggap itu sebagai hinaan. Sebab, soal demikian aku suddah familiar mendengarnya bahkan sejak kuliah dulu. Kalau waktu itu aku masih diliputi penuh tanda tanya soal kenapa cap 'jutek' itu melekat erat pada raut wajahku. Kini di saat aku telah berhasil mempelajari soal diriku sendiri, aku mengerti apa penyebabnya.

Karena aku seorang INFP murni.

Ya, lagi-lagi soal MBTI. Mungkin beberapa temanku sudah bosan mendengarkan aku berkoar soal tipe kepribadian ini. Namun, aku tidak pernah lelah membahasnya—meski beberapa orang sudah mengklaim MBTI layaknya zodiak, sebab melalui MBTI aku berhasil memahami kepribadianku sendiri. Tahu jawaban atas segala pertanyaan yang tidak terdefinisi bahkan sejak dulu aku masih di sekolah. Kenapa aku pandai menulis naskah cerita yang menyesakkan, kenapa aku selalu dihantui mimpi-mimpi aneh dalam tidur, kenapa aku bisa membuat relasi dengan orang yang paling dijauhi sekalipun, kenapa beberapa orang merasa segan dan sungkan untuk pointing me out as a joke.

Ya, karena aku INFP. Murni. Lima kali tes lebih kuambil pun, hasilnya tetap INFP. 

Dari situlah aku memahami, penilaian sederhana yang diasumsikan orang ketika pertama kali mengenalku bukanlah berasal dari wajahku yang jutek—sebenarnya. Itu karena aku tidak pernah menaruh fokus pada orang lain karena terlalu sibuk tenggelam dalam pikiranku sendiri. Ada banyak ide, memori, fantasi yang bertarung di dalam kepalaku. Sehingga fokusku itu dinilai sebagai diam yang dingin. Yang membangun dinding di sekitarnya, sehingga tidak bisa membiarkan sembarang orang mau masuk untuk berkenalan. Wajar mereka takut.

Jangankan mereka yang baru, teman lamaku, seseorang yang paling spesial pun, akan kalah atensi jika harus ditandingkan dengan isi kepalaku. Tidak ada yang spesial. Hanya diam. Diam dan tenang. Seperti tidak punya energi untuk biacara. Bahkan hanya untuk menanggapi.

Aku punya satu cerita yang menjadi pemicu awal aku memutuskan untuk menulis entri ini.

Sebagai seorang introver, aku tidak punya teman. Ibuku sampai bertanya dalam sebuah kondisi, "emang kamu ngga punya temen?". Yah, dengan apa adanya aku menjawab, "memang ngga punya."

Jadi, yang benar-benar kuanggap teman adalah yang kurasa memang punya kesamaan denganku. Entah itu sesederhana sama usia, sama berat badan, atau bahkan yang paling menggelikan adalah sama-sama pasien seorang psikiater. 

Dalam beberapa hari, aku pergi dengan salah satu temanku ini. Teman senasib yang dulu pernah kubawa masalahnya ke meja konsultasi. Teman yang paling kutakuti ia akan pergi. Selama perjalanan sampai di tempat tujuan, dia terus mengajakku bicara. Mulai A sampai Z. Apapun itu. Dia bahkan tanya soal kabar rekan kerjaku, bagaimana pekerjaanku. Hal-hal yang dulu dengan mudahnya kuceritakan padanya tanpa satupun pemicu. Seolah aku mengajaknya bertemu memang hanya untuk menceritakan kabar masing-masing.

Namun malam itu tidak demikian. Selama kami bersama, hanya dia yang mengisi pembicaraan. Aku hanya merespons dengan iya, tidak, senyum, tawa kagok dan hal-hal remeh yang jika dia adalah aku, aku pasti sudah marah. Namun dia cukup sabar dan memahami. Dia tetap menerimaku yang pasif untuk tetap berada dalam satu waktu dan ruangan dengannya. Tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali.



Mulai dari kita nonton Netflix bersama, makan bersama, sampai main ke pantai bersama. Semuanya diisi oleh kepasifanku. Di sanalah aku menjadi seburuk-buruknya introver yang lebih mirip anti-sosial. Biasanya sekelas duduk di tepi pantai, mendengarkan debur ombak dan merasakan angin sepoi yang menyibak pakaian, ada satu sesi paling jujur di antara kami. Siapapun yang duduk di sebelahku. Selalu kuberitakan soal kesenangan, kepedihan, kekecewaaan, penderitaan. Sesi jujur yang bahkan bisa menjadi ajang untuk saling menelanjangi diri. Oh, ternyata aku sebenarnya ini. Oh, ternyata kamu adalah itu.

Namun, sampai roda motornya mencapai halaman rumahku, aku tetap beku bak manekin. Yang kuucapkan hanya 'terima kasih dan hati-hati'.

Ini pun berlaku pada pertemuanku dengan salah satu teman lama di sebuah kota baru. Kota yang kini seperti rumah ketigaku setelah Malang. Kota yang jalanan, kuliner dan cuacanya seperti telah kupahami. Malam itu, melalui sedikit kesempatan kita menyempatkan bertemu. Diawali dengan makan malam bersama, diakhiri dengan ngobrol panjang di emperan Point Coffee sambil menyaksikan pegawai setempat mulai bergantian shift.

Aku yang pernah menjadi the best story teller, yang pernah mengklaim diriku sebagai pendefinisi terbaik, malam itu hanya berlaku seperti pendengar yang tidak punya banyak respons. Padahal, materi yang tersaji di meja kami adalahh materi yang paling langka kubicarakan. Status kondisi dan latar belakang yang terpendam nyaris serupa. Sesama INFP, sesama penulis, sesama penikmat buku, sesama pemiliki alter ego, sesama pengonsumsi obat. Ada sejumlah topik yang sangat berpotensi dibahas, memakan lebih banyak waktu ketimbang sisa jam malam di hari itu.

Namun semua hanya nyaris menjadi pembicaraan satu arah. Karena aku cuma bisa merespons di bagian akhir. Dan dia pun mungkin merasa, ahini teman yang aku cari, ada banyak kesamaan, dia pasti akan mengerti perasaanku. Seharusnya aku juga merasa begitu. Tapi, aku cuma bisa mendengarkan seluruh ceritanya dengan sedikit respons jika diperlukan.

Semua itu terjadi bukan karena ada satu definisi mutlak bahwa seorang INFP adalah pendengar yang baik, yang akan memahami persoalanmu dan tidak menjustifikasi masalahmu sepihak. Bukan. Itu lebih ke karena hidupku begitu saja, sulit seperti biasa, tidak ada yang menarik, jadi apa yang harus aku ceritakan?

Terlepas aku masih dalam fase mengagumi seseorang pun, aku tidak berniat untuk menceritakannya. Atau bahkan aku telah menuntaskan beberapa series dan drama pun, meski menarik aku tidak merasa butuh merekomendasikannya. Yang benar-benar terjadi hanyalah ketika we share same thought about psychology. Aku memperjelas teori psikologi dari buku terakhir yang kubaca dan menarik keingintahuannya lebih jauh. Lihat! Pukul sebelas malam, di emper teras sebuah convinience center, kita bahas soal psikologi! Segila itu!

Jika topik itu tidak terangkat dalam perbincangan, mungkin aku benar-benar pasif menghadapinya. Teori psikologi awal abad ke-20 nyatanya jauh lebih menggairahkan daripada membahas konten hidupku yang tidak jauh-jauh dari rasa cemas. Dari sanalah bisa kusimpulkan, dibandingkan membahas soal kabar dan kehidupan yang sudah mulai mencapai titik kebosanan di usia 26 tahun, aku lebih terpacu untuk membahas hal-hal di dunia yang masih belum terpecahkan

Khas-nya seorang INFP.

Terlepas dari itu, aku menyadari bahwa aku sudah benar-benar ada di tahap yang lelah pada kondisiku sekarang. Meski di entri sebelumnya kusambut tahun 2023 dengan semangat menggebu soal hobi dan resolusi baru, nyatanya seiring berjalannya waktu, aku merasa penyakit lamaku kembali merenggut keceriaanku. Aku kehilangan minat pada banyak hal. Termasuk pada sosok idaman yang selama ini kukagumi dalam diam. Aku kehilangan minat pada hobi, pekerjaan, rutinitas. Semuanya.

Kehilangan minat itu menjadikan aku tidak memiliki apapun untuk dibicarakan. Meski sejatinya isi kepalaku benar-benar berisik sekali tidak ada satupun kesempatan aku bisa mengeluarkannya meski itu harus kepada orang yang tepat. Bukan karena aku tidak berani, tapi lebih ke karena aku malas ini akan memakan banyak waktu. Bagaimana kalau pengutaraan isi kepalaku justru berujung pada pertikaian? Karena sejatinya kepalaku tidak lagi diisi oleh sesuatu yang menyenangkan? Aku tidak suka berdebat, memilih diam dan mengalah. 

Sebelumnya, aku menemui fase yang luar biasa melelahkan. Ketika setiap kali aku tidur, aku tidak pernah tidak bermimpi. Mimpi soal apapun. Soal lanjutan kejadian hari ini, mimpi soal masa lalu, mimpi soal hal yang mustahil terjadi, mimpi soal selebriti terkenal, mimpi soal bencana alam. Tidak pernah terlewat satu kali pun. Dan ini membuat tidurku justru tidak nyaman. Aku cukup sering terbangun di tengah malam akibat mimpi. Atau merasa bangun tidur dalam kondisi yang kurang melegakan.

Sebelum tidur pun demikian. Misalnya aku melakukan aktifitas yang menyenangkan seperti hang out, menonton film atau apapun. Namun saat aku berusaha tidur, kelebat pikiran melemparku pada fakta-fakta tidak nyata. Ketakutan yang belum terjadi. Bagaimana kalau begini. Bagaimana kalau begitu. Seharusnya begini. Seharusnya begitu. Setiap aku berusaha memejamkan mata, butuh waktu setengah sampai satu jam untuk bedamai oleh pikiran itu.

Pikiran-pikiran itu bahkan menciptakan aku yang benci mendengar suara notifikasi karena mengakumulasikan ketakutan akan terjadi dalam sebuah chat atau telepon. Menciptakan diriku untuk menghindari lebih banyak orang, tempat, situasi, yang bahkan belum tentu buruk. Tapi sudah tertanam dalam pikiranku melalui ketakutan sebelum tidur itu.

Dari sanalah aku merasa bahwa aku menjadi amat lebih diam daripada malam sekalipun. Ketika malam masih bersua dengan hiruk pikuk kota yang ramai, aku benar-benar kehilangan citra diri sebagai makhluk sosial yang berkomunikasi. Aku tidak sedang melakukan pembicaraan dengan siapapun di sosial media. Instagram, Twitter. Semua kosong. WhatsApp yang tidak melakukan kesalahan, kini menjadi salah satu media yang mulai kutakuti seperti Line sebelumnya. Telegram hanya teman lama, yang pembahasannya ini itu saja. 

Terlebih di dunia nyata. Kepasifanku bertambah parah. Ketika berhadapan dengan seseorang, di kepalaku ada satu dua skenario jawaban yang hendaknya aku lontarkan. Namun berakhir hanya dengan satu dua anggukan. Oke, biar ngga lama dan ribet, saya iyain aja omonganmu. Kira-kira seperti itu.

Dan iya. Soal tangisan. Aku sudah lama tidak menangis. Ekspresi emosi itu sama sekali hilang dari dalam diriku. Seolah yang tersisa hanya ada emosi takut, khawatir dan biasa saja. Bahagia pun tidak ada. Terakhir menangis sepertinya malam saat bulan Juni kala itu, ketika aku merutuki diriku sendiri soal menimbulkan perasaan aneh pada individu baru. Itu saja. Sudah lama ternyata.

Dan aku benar-benar tidak tahu cara berkomunikasi sekarang. Lebih banyak diam dan berjuang mengontrol isi kepala yang kalut dan kusut. Aku takut bahkan sampai kubawa hal ini ke meja konsultasi pun aku masih kesulitan bicara. 

Bahkan aku tidak membuat reaksi pada hal-hal yang terjadi di sekitar. Semua emosi berakhir dengan tanpa reaksi sama sekali. Separah itukah?


Share:

Friday, January 13, 2023

Sapaan Pertama di Tahun 2023

 Hai, it's been so long since the last I posted my entry. Waktu berlalu teramat cepat dan aku resmi berusia 26 tahun sekarang. Tidak ada urgensi yang berarti untuk bisa membawaku kembali menyapa di blog ini—sebenarnya. Tapi mengingat adakalanya kita mesti berkabar, untuk memberitahu siapapun bahwa kita masih hidup, maka di sini aku mulai menulis lagi. Bukan di kamar tidur dengan lampu padam seperti biasanya, kini aku duduk di sebuah cafe dan memutuskan untuk menulis satu entrirandomly.

Karena sudah lebih dari lima bulan aku tidak menyapa. Dan ini adalah tahun baru, however it's still January. Maka biarkan aku memberi kabar dulu terkait perkembangan dan hal-hal yang terjadi selama ini.

Pertama, rasa aneh yang muncul di dadaku sejak hari pertama bulan Juni adalah sesuatu yang nyata. Bukan sebuah bentuk abstrak yang tidak terdefinisi. Karena bagaimana pun aku mencoba mengabaikannya, aku selalu bereaksi berlebihan setiap kali ada sesuatu yang baik terjadi. Namun, perasaan itu tetap terinterupsi oleh sifat bawaanku sebagai anak pertama dan  seorang INFP—barangkali. Karena aku selalu punya momen di mana pada akhirnya aku membencinya tanpa atau dengan alasan, bahkan yang paling sederhana sekali pun. Namun di kemudian hari aku tetap tersenyum oleh candaannya.

Aku merasa itu titik terlemah ketika aku membagi fokus dunia kepada seseorang secara berlebih. Jadi, kuputuskan perasaan aneh itu tetap di situ tanpa usaha dikembangkan. 

Kedua, pada akhirnya aku berhasil menuntaskan apa yang dulu pernah aku dambakan. Laptop. Aku berhasil mendapatkan laptop seharga dua digit dengan uangku sendiri. Ini bukan bentuk kesombongan. Demi Tuhan. Jika mengingat dulu aku pernah menganggap laptop adalah barang yang hanya bisa dibeli oleh 'orang kaya', maka ini seperti ada keinginan terpendam untuk mematahkan anggapan itu. Terlebih aku memang tipikal orang yang tidak sepenuhnya bisa terlepas dari laptop. Aku bisa melakukan apa saja dengan laptop yang selama ini kupunya. Jadi, bukannya mubazir, laptop dua digit ini akan sangat membantuku. Terlebih ketika mengingat laptop sebelumnya mungkin akan menangis jika bisa berbicara, menuntutku karena terlalu banyak kuforsir untuk berkerja, hahaha.

Di samping itu seperti saat sekarang, kala aku duduk seorang diri di cafe. Menyicipi kopi kesukaan dengan ditemani laptop. Akan kutunjukkan bahwa laptop yang kubawa bukan lagi laptop seberat 3 kilo dengan layar penuh frame. 


Ketiga, dalam kurun waktu lima bulan terakhir aku mulai kembali mengambil atensi pada buku bacaan. Bukan hal yang merepotkan mengingat aku memang terbiasa dengan kegiatan itu bahkan sejak aku masih mengenakan seragam putih merah. Aku mulai memperbaiki lagi kealpaan literasiku yang jujur saja cukup mempengaruhi tingkat fokusku, mempengaruhi kapabilitasku dalam mengungkapkan pikiran, mempengaruhi kemampuan untuk menyusun kata. Reading helps me a lot!

Dan aku semakin memperluas koneksi untuk bisa menjaga minatku soal buku. Membentuk target sendiri agar bisa membaca sekian buku dalam kurun waktu tertentu. Dan membeli buku dengan uang gaji tanpa merasa keberatan atau berpikir dua kali—karena itu yang selalu kupikirkan sebelum kerja dulu. Membentuk koneksi dengan teman-teman sehobi untuk mendapatkan motivasi 'mereka saja bisa maka aku harus bisa'.

Keempat, aku merasa ada banyak hal yang lebih baik yang bisa kulakukan. Seperti menjawab mimpi-mimpi sederhana keluargaku yang dulu belum sempat terwujud. Meskipun jika dibandingkan dengan pencapaian orang lain, aku berada di titik ini bukanlah suatu hal yang bisa dikomparisasikan. Namun aku telah lama berhenti menggunakan standar orang lain untuk bisa mencari arti keberhasilan.

Kelima, hal paling baik. Beberapa minggu setelah aku menuliskan entri sebelumnya, aku kembali mengunjungi dokterku. Mengadu padanya tentang rasa iri yang mengembang layaknya airbag di dalam hati. Kuluncurkan rasa kebencian itu pada dokterku dan apa yang kudapat? Aku tidak menemukan esensi melarikan diri untuk sesi yang kubayar dengan jerih payah dari gajiku.

Dari sana aku mengetahui, dokter pun melakukannya untuk uang. Dokter pun manusia yang juga butuh pertolongan dari masalahnya. Dan tidak seperti mendapat resep obat demam dan flu yang bisa kamu dapatkan dari dokter manapun. Untuk menemukan dokter yang cocok dengan kondisi mentalmu, kamu butuh trial and error berkali-kali. Bersyukur jika menemukannya kali pertama. Jika sepertiku yang merasa tidak cocok? Bahkan bukan hanya obat penenang, dokternya pun membuat semuanya terasa sesak.

Namun ketidakcocokan itu justru berbuah panjang lima bulan ke depan. Di sini aku duduk di cafe selepas kerja, aku sedang dalam kondisi netral yang tidak merasakan emosi berlebih. Tidak senang. Tidak sedih. Tidak marah juga. Aku bisa lebih mengontrol perasaanku dan berfokus pada diriku sendiri. Rasa takut sudah jarang ada. Terlebih pada hal-hal tidak perlu yang bahkan belum terjadi.

Speaking of mental condition, setiap orang yang punya masalah pada mentalnya tentu ada bentuk atau sistem unik di dalam kepalanya, kan? Aku merasa demikian. Meskipun aku sudah tidak pernah merasa takut atau bereaksi berlebihan pada hal-hal sepele. Aku tetap saja mendapatkan mimpi buruk tentang kehilangan, bencana, putus asa. Aku meyakini mimpi adalah peran alam bawah sadar yang mengakumulasi semua peristiwa yang ada dalam hidup. Dan mimpi buruk yang terjadi dalam tidurku bukanlah kebetulan semata. Aku tau itu adalah proyeksi dari ramainya alam bawah sadar yang tidak bisa kukunjungi di kala aku sadar seperti sekarang.

Lalu aku juga membicarakannya pada teman satu kapasitas. Di sebuah cafe lain di tengah kota sana. Aku menjelaskan soal mimpi-mimpiku. Juga pada mimpi tidak penting yang berasal dari akumulasi hal-hal yang kualami dalam dua atau empat hari terakhir. Dia mengaku dia tidak pernah mendapatkan mimpi seperti itu di saat aku menganggapnya itu adalah hal lumrah yang terjadi hampir di setiap pengalaman manusia.

Dia justru mengaku sering menemukan dejavu dalam kegiatannya. Seperti pernah merasakan atau melakukan hal yang sama namun tidak berhasil ia temukan tepatnya kapan itu terjadi. Dari sana aku menyadari dengan kondisi yang sama-sama tidak sempurna, nyatanya hasil yang diproyeksikan oleh sistem di kepala kita berbeda. Dan memang, manusia seunik itu. Psikologi benar-benar tidak kalah untuk merebut atensi sama halnya dengan astronomi.

Meneruskan soal isi kepala manusia yang unik, aku mengantongi buku Jung's Map of The Soul. Buku ini kubeli atas rekomendasi teman di Twitter. Berisi pengenalan tentang ilmu Psikologi Jungian yang ditulis oleh 'fans-nya', Murray Stein. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan rata-rata bahasa ilmiah psikologi yang pemahamannya butuh satu fokus yang kuat.

Meskipun harus kuakui jauh lebih mudah membaca buku diktat mata kuliah bahasa Jepang, Jung's Map of The Soul membuka mataku soal keunikan isi kepala manusia yang abstrak. Sama halnya dengan atensi dan rasa penasaranku soal alam semesta. Mereka jauh di sana, gelap, tak tergapai. Namun kita mempercayainya. Oleh karena itu ketika Jung memperkenalkan istilah Ego, Shadow, Persona, Anima/Animus dan lain sebagainya di dalam pikiran manusia, entah kenapa aku menganggap semua itu ada sama halnya dengan alpha centaury yang jaraknya ratusan juta tahun cahaya di atas sana.

Dan yah, itulah kabarku di awal tahun 2023. Menikmati streaming netflix secara bebas tanpa gangguan—pasalnya aku sudah memiliki aksesnya dengan dukungan sinyal Wifi di rumah yang cukup cepat. Mempertaruhkan waktu kerjaku yang sibuk untuk membaca buku dengan target 20 buku dalam setahun. Menerima kritikan yang cukup mengukir luka di hati, namun berhasil kutaklukkan dengan pikiran-pikiran positif tanpa bantuan obat atau dokter lagi. Tidak ada dalam waktu dekat meniatkan diri untuk mencari bantuan lagi, sementara waktu dan semoga untuk selamanya.

Dan semoga hal luar biasa yang tidak pernah aku planning di awal tahun, hal yang menyenangkan dan membuatku bangga pada pencapaianku sendiri bisa benar-benar terjadi di tahun ini.

Jika sebelumnya aku menutup entri dengan keinginan mati, maka kali ini aku menutupnya dengan doa. Aku menerima diriku apa adanya. Tidak peduli apa kekuranganku, karena fokus duniaku bukan mereka. Bukan untuk membuat mereka mau menerimaku, melainkan untuk membuat aku nyaman dengan kondisiku saat ini.

Semoga kalian pun sehat selalu.

 

Share:

Monday, July 25, 2022

Merespons Ketakutan dengan Kebencian

 Dibanding mengambil sebuah pisau, aku bersusah payah meraih tas laptop dan mengeluarkan kembali laptop ini. Mengetik satu entri yang dulu bisa menjadi salah satu obat, jika harus dibandingkan dengan opsi melukai diri. Ketika satu-satunya pelarian yang selama ini bisa menguatkan, pada akhirnya harus berakhir sebab ketidakmampuanku melakukan hal-hal yang dicintai. Semuanya membuatku lebih kehilangan arah dan tidak tahu harus berlabuh kemana.

Aku memilih weekend sebagai salah satu hal di dunia yang menjadi kesukaan—selain kucing, kopi dan hujan. Aku mengaitkan weekend dengan sesuatu yang bisa kulakukan secara lebih, jika dibandingkan dengan hari-hari biasa. Namun siapa sangka, melalui percakapan dan pernyataan dari satu dua orang, weekend kali ini berubah menjadi mimpi buruk panjang yang menakutkan.

Terlepas dari aku yang memang pada dasarnya sering dijahili oleh alam bawah sadar lewat mimpi-mimpi buruk menakutkan, pada dasarnya aku pula punya ketakutan tak berujung. Layaknya yang sama dirasakan oleh mereka yang mengidap satu penyakit sama sepertiku. Ketakutan pada sesuatu yang tidak berbentuk, sesuatu yang tidak pernah kita rasakan, sesuatu yang belum tentu akan terjadi.

Ketika otak manusia normal pada umumnya berkerja untuk mendeteksi rasa takutsecara wajar, maka otakku berkerja secara overworked. Dia memikirkan banyak ketakutan yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Membaca buku, mendengar lagu, melakukan hobi apapun yang dulu menjadi sebuah pelarian pada akhirnya akan kalah dari sebutir obat penenang. Obat yang perlu ratusan kali kembali kupikir akan kukonsumsi, mengingat meskipun aku butuh, aku masih waras untuk merasa kuat menahan ini sendirian tanpa bantuan apapun.

Menahan semua ketakutan ini.

Setelah berselang lama pertemuan kami tidak pernah terjadi, sebuah kebetulan mengantarkan kami pada satu cerita baru. Khususnya untukku yang selalu merasa terdepak, terbuang, tersingkirkan. Bahkan sejak insiden enam orang dalam mobil, aku merasa seharusnya ada lima saja yang di dalam. Siapa aku? Kenapa aku ada di sini? Kenapa aku duduk dan terlibat dengan mereka yang bahkan tidak kusanggupi topik pembicaraannya?

Lewat cerita baru itu, aku kewalahan dalam merespons. Sebagai manusia normal, yang dulu pernah kurasakan demikian adanya—aku membalas dengan candaan dan rasa syukur. Toh, itu berita baik. Aku masih bisa berfungsi layaknya manusia yang masih punya kehidupan, meski sejatinya dalam dasar hati dan pikiranku sudah lama mati.

Dan bahkan, aku memutuskan rantai kealpaanku menulis entri setelah melalui malam penuh tangisan, kesulitan tidur, hari Senin yang hampa dan ditutup dengan tangisan kembali. Keinginan mencekik leher, menggores nadi, menghantam buku-buku jemari ke tembok, semuanya nyata di mataku. Dan dalam sepersekian detik aku mengalihkan dengan mengambil laptop ini kembali untuk melarikan diri.

Tapi pikiranku seperti sutradara, fasih menakdirkan plot cerita yang bahkan belum terjadi. Kubuat asumsi cerita mereka akan mulus berjalan, kubuat semuanya akan saling tertawa menguatkan, mendukung satu sama lain. Tidak sabaran dengan progress setiap harinya. Mirip seperti dua sahabat yang saling sharing tentang perkembangan episode drkaor kesukaan.

Ditambah fakta aku terjengkal janji lain saat berusaha menemuinya kemarin. Pemicunya adalah sumber dari ketakutan ini muncul. Orang baru yang entah tanpa alasan aku tidak pernah ingin tahu apapun tentangnya. Fakta lain tentang dia berusaha memperkenalkanku sebagai teman sharing-nya yang selalu memberi rekomendasi pada hiburan yang pernah kami gandrungi bersama. Dengan kenyataan bahwa percakapan yang tempo hari terjadi di antara kami adalah berawal dari percakapan yang ia bangun dengannya. 

Fakta jika kutelusuri ini lebih jauh adalah sesuatu yang dulu pernah terjadi. Dengan orang lain. Berbeda latar belakang. Berbeda gender. Berbeda tujuan. Berbeda fungsi dan maksud. Tapi tetap kunamai dengan ancaman.

Ancaman untuk mematikanku dalam diam. Diam tidak berkutik. Diam tidak mendapat ruang dan waktu. Diam tidak menerima kesempatan. Lagi. Seperti dulu. Seperti aku yang menjadi orang pertama yang ia tuju saat pertama kali ia menjejakkan kaki di tempatku. Lebih lima tahun lamanya.

Ketakutan itu membawaku—tanpa sadar—untuk membuka identitas diri. Tentang apa yang sebenarnya yang telah terjadi dan yang telah kualami sendirian selama ini. Aku yang ditinggal pergi salah satu sosok penguat dan sosok yang ingin kukuatkan. Sosok yang secara curang mendahuluiku mengakhiri penderitaan.

Kubongkar itu semua lewat pertemuan jam 8 malam. 

Aku bisa menilai pemahaman seseorang. Dan harus kuakui, lewat obrolan itu dia telah berusaha sekuat mungkin untuk membantuku. Dia telah berusaha untuk menjadi fungsinya selama ini dalam hubungan kami. Tanpa pernah dia ketahui, dia adalah pemicu utama aku menyerah—setelah kuputuskan beberapa kali melalui pertemuan dengan obrolan biasa saja—untuk pada akhirnya membuka apa yang terjadi. Tanpa tahu dia adalah bom waktu yang meledak dalam diriku, menyeretku pada titik terlemah anak sulung keluargaku yang selama ini selalu kuat dihantam banyak cobaan.

Dialah pemicu sampai saat aku mengetik ini, dadaku masih sesak saking takutnya. 

Bagaimana jika pada akhirnya semua orang di dunia ini mendapatkan garis finisnya lebih dulu dan terpaksa meninggalkanku sendirian? Bagaimana jika pada akhirnya aku berjuang sendiri tanpa ada satupun ruang kosong untuk memuntahkan ketakutan dan obat-obatan yang sudah kuminum?

Semua punya kehidupan dan tujuan. Garis finis masing-masing. Dan aku masih saja bersikap seolah parasit yang menempel. Menumpang kehidupan karena hidupku sendiri sudah kubunuh jauh-jauh hari.

Dan lihatlah, betapa jahatnya aku yang mengungkapkan semua rahasia kelam setelah mendengar kabar bahagia? Betapa sangat terlihat aku berusaha mengikatnya dalam perasaan bersalah, yang boleh saja kuciptakan suatu saat nanti secara manipulatif hanya untuk mendapatkan pertolongan? Bagaimana aku sejahat ini? Tidak ada bedanya dengan Ted Bundy yang dihukum mati setelah membunuh para gadis secara brutal demi tujuan pribadinya.

Hari-hari berjalan biasa. Aku masih menemukan cara melempar jokes kepada teman-teman, menerima lelucon mereka dengan tawa yang terdengar renyah. Mendapati Pak Bos tetap mendukungkun bagaimanapun pusingnya dia dalam mengurus perusahaan. Menemukan semua teman-temanku ada untukku, menerimaku di sana, tanpa menjatuhiku satu kebencian.

Semua berjalan amat normal. Dan aku masih tetap tidak bisa bertahan!

Aku masih kepikiran mati sampai menulis titik terakhir yang kuimbuhkan dalam entri ini.



Share:

Thursday, June 2, 2022

Terlalu Banyak Pengecualian yang Dia Ciptakan di Bulan Juni

 

Dua Juni. Juni bukan bulan spesial bagiku, meski ada istilah ‘Hujan Bulan Juni’ yang diambil langsung dari karya Sapardi. Tidak memberi alasan apapun padaku meski sejatinya aku selalu jatuh cinta pada hujan. Aku juga kurang paham apa yang membuatku lama tidak mengunjungi blog. Semua perasaan dan kebiasaan yang dulu lama bersarang di dalam diriku perlahan menghilang. Entah terkikis apa. Aku tidak lagi mengejar blogging sebagai sesuatu yang perlu untuk melepas penat. Tidak lagi bisa fokus membaca buku atau tulisan sendiri bahkan lima menit pun.

Aku sudah kehilangan sebagian besar jati diri, meski hanya sekali aku mengunjungi meja konsultasi.

Sebenarnya, hari-hari yang kulalui tidak memiliki episode penting yang perlu dibagikan. Seandainya ada, aku tidak punya keinginan dan minat untuk membagikannya. Aku hanya melakukan rutinitas harian sebagai sebuah robot yang hanya bertumpu pada baterai. Bergerak seperlunya, sudah mati sesungguhnya.

Satu-satunya alasan aku menulis satu entri di tengah gempuran deadline—plus besok aku ada meeting—adalah karena aku menangis untuk perasaan baru. Pertama kali setelah sekian lama. Perasaan yang entah bisa kuasumsikan sebagai rasa kagum atau suka, rasa nyaman atau bahkan jatuh cinta.

Apa yang paling kuat menggempurku adalah perasaan cemburu ketika ‘seseorang’ itu bersanding dengan orang lain. Bukan, maksudku jika ada orang lain yang bersanding dengannya.

Masalah terbesar bukan dari kesulitanku untuk mencari celah agar bisa berbahasa banyak dengannya. Bukan pula tentang bagaimana aku susah payah mendaftar organisasi demi bisa menemuinya lebih lama, mencari cara untuk berinteraksi dengannya.

Bukan.

Masalah terbesarnya terletak pada dia adalah keseharianku. Sosok yang semua datanya bisa kudapatkan tanpa perlu mencari. Bukan sosok misterius yang perlu kukejar dan kucaritahu tanpa basic sebagai informan, mata-mata atau detektif. Kegiatan yang dulu pernah dengan gila kulakukan pada kakak tingkat di kampus.

Sosok ini datang di ruang yang sama denganku. Kapasitas yang tidak perlu diragukan. Frekuensi yang menyerupai. Hal-hal yang seharusnya mesti kusyukuri, namun berakhir harus kutangisi.

Seseorang yang sejak awal sudah menaruh ruang kesempatan bagi siapapun untuk mencintainya. Atau paling tidak ingin mendekati dan berinteraksi lebih dengannya. Dia membuka kesempatan bagi siapapun, termasuk aku—untuk mengisi ruang itu. Tanpa atau dengan iktikan lain yang bahkan aku pun tidak tahu apakah akan sama referensinya dengan milikku?

Aku bahkan bisa menikmati setiap detailnya dengan mudah. Mendapatkan apa yang tidak atau sulit mereka dapatkan darinya. Aku menyimpan baik hal-hal yang ia berikan tanpa sadar. Hal-hal yang dulu tidak pernah aku asumsikan akan aku jaga dan simpan.

Namun, dalam sekelebat momen semuanya berubah.

Kali pertama aku mulai merasa cemburu. Kali kedua aku mulai mendeteksi tidak ada yang berubah darinya, namun aku merasa dia tampak menjadi lebih istimewa di mataku. Dan saat itu, tanpa percobaan kali berpapun berikutnya—aku menangis.

Di perjalanan malam melalui jalanan lengang pukul 10 malam, aku menepuk dada untuk memastikan jantungku tidak boleh berdegup. Aku memastikan kalau aku tidak boleh jatuh cinta. Aku memastikan kalau aku tidak boleh kembali terluka.

Bagaimana pun, sosoknya berada di galaksi paling jauh, meski raganya berdiri di bayangan yang sama denganku. Dengannya, aku memunculkan pengecualian-pengecualian yang dulu belum pernah aku bangun. Pengecualian seperti aku tidak suka A kecuali dia, aku tidak mau B kecuali dia, aku tidak boleh C kecuali dia.

Dia datang seperti pembeda. Entah kenapa dia bisa menciptakan banyak jenis pengecualian.

Namanya Dokter Widhya. Psikiater pertama yang mendengar secuil keluhku bulan Maret kemarin. Psikiater yang menyatakan bahwa aku berteman erat dengan gangguan kecemasan. Aku tidak tahu apakah dengan deklarasi seorang psikiater aku boleh mendiagnosis diriku sendiri setelahnya?

Karena setiap kali sosok itu muncul dengan pengecualian, aku datang bersama kecemasan. Cemas soal banyak kekurangan yang berbaris di belakangku. Tidak rupawan, tidak cerdas, tidak kaya, tidak aktif, tidak ramah, tidak baik, tidak supel, tidak mapu dalam banyak hal dan banyak-banyak-banyak lagi kecemasan.

Cemas bagaimana aku bisa tersiksa patah hati nanti—ketika ia hahahihi dengan orang lain. Cemas bagaimana aku bisa membagi lagi waktuku yang sudah padat untuk mengurusi urusan hati karena dirinya. Cemas bagaimana aku yang sudah punya kebiasaan menangis tanpa alasan, akhirnya bertambah alasannya untuk menangis.

Jangankan nanti, semalam pun aku menangis. Takut kecemasan yang belum terjadi memenuhi kepalaku.

Aku menangis saat perjalanan pulang, saat di atas Kasur sebelum tidur malam, sampai pagi saat aku mematut diri di depan kaca, kutemui mataku bengkak.

Hanya karena satu sosok pembawa pengecualian; dirinya.

Bahkan kini, mendengar suaranya saja sudah membuat jemariku terkepal. Ingin memukul tembok keras-keras. Melihat fotonya saja sudah membuatku menjambak rambut, berusaha melepas pikiran dan ketakutan dari kepala.

Ini baru permulaan. Biasanya, akan menghilang seiring berjalannya waktu. Aku mendoakan pengecualian yang dia buat pada prinsipku tidak akan bertahan lama. Aku sudah berkali-kali menampar diri dengan kenyataan jarak kami terlampau jauh. Mustahil bagiku untuk mengejarnya.

Ah, begini ternyata rasanya ‘jatuh cinta’ seseorang yang mengidap depresi. Lebih banyak takutnya ketimbang senyum-senyum sendirinya.

Share:

Saturday, March 12, 2022

DEPRESI; BATAS TERDEKAT KEMATIAN

 

Ini Sabtu malam. Paska mengambil waktu untuk berkeliling kota sejenak, mengendarai motor sendirian sambil membiarkan lagu-lagu dari Spotify berputar, aku akhirnya kembali menyapa blog ini lagi dengan satu entri lainnya. Sebuah entri yang menjadi jawaban serta pembeda dari semua entri yang pernah aku tulis sejak bertahun-tahun lamanya. Sebuah entri yang aku asumsikan tidak seratus persen menyuarakan apa yang aku rasakan dalam setidaknya 3 hari terakhir.

Jika menarik jauh ke belakang, aku akan menemukan ada banyak entri yang membahas tentang kondisi mentalku. Diselingi dengan kata-kata bunuh diri. Juga kalimat-kalimat sok tau yang sering kuklaim berkat apa yang kurasakan selama ini. Aku sempat frustasi ingin mendapatkan bantuan, namun di lain sisi aku sama frustasinya karena menganggap apa yang kualami hanya sebatas hal biasa. Sebuah hal yang bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penderitaan orang lain. Hal yang tidak seharusnya bisa disetarakan dengan harga satu kali duduk di ruang konsultasi.

Namun di tengah mendung gelap dan hujan yang cukup awet Kamis kemarin, aku memacu motorku melintasi kota demi mendapatkan satu bantuan pertamaku. Ya, aku akhirnya memberanikan diri untuk menemui seorang psikiater setelah bertahun-tahun lamanya bertahan seorang diri. Akhirnya aku menyerah dan mencari bantuan.

Aku gugup karena itu adalah kali pertama aku bertemu dengan seorang psikiater. Aku pernah konsultasi dengan dokter sebelumnya. Membahas tentang keluhan fisik yang aku rasakan. Seperti tahun lalu saat aku tiba-tiba anosmia, demam, batuk dan mual, yang kemudian didiagnosa sebagai gejala Covid-19. Saat aku mendeskripsikan gejala yang kualami waktu itu, rasanya sangat mudah dan apa adanya.

Namun kemarin yang duduk di depanku adalah seorang psikiater. Dokter yang tentunya akan membantuku dalam kondisi yang berbeda. Dengan sedikit kesulitan aku coba memberanikan diri untuk lebih terbuka pada kondisiku. Aku membicarakan apa yang kurasakan, apa yang kualami, semua kesedihan, ketakutan, kekhawatiran.

Karena ini pengalaman pertama, aku dibuat takjub saat Dokter menuliskan semua yang kedeskripsikan pada selembar kertas. Mirip seperti jurnalis. Beliau menambahkan catatan-catatan penting dari setiap pernyataan yang aku utarakan. Lalu beliau mengambil jeda berpikir sejenak, coba menganalisa dan menark kesimpulan dari catatan yang ditulisanya.

Dan seperti yang kuduga, aku didiagnosa depresi (nilai indikatornya berat).


Dokter sempat menjelaskan apa yang harus kulakukan setelahnya. Tentang meminum obat antidepresan, tentang terapi dan mulai latihan journaling.

Saat mendengarkan penjelasan itu aku merasa perjalananku akan sangat panjang—mengingat aku tidak punya persiapan apa-apa dalam memutuskan bahwa aku harus menemui seorang psikiater. Aku tidak mengharapkan orang tuaku ikut membantu. Aku juga tidak mengharapkan rekan kerja atau atasanku harus tau. Aku memutuskan dan melakukan semuanya sendirian. Di usiaku yang ke-25 tahun.

Yang justru aku takutkan adalah ketika aku terlibat dalam peristiwa impulsif, aku harus menyebutkan depresi sebagai pembelaan. Aku berusaha menahan diri untuk tidak mendeklarasikan kondisiku pada orang awam yang menganggap penderita depresi bukan sesuatu yang perlu diperhitungkan kondisinya.

Aku takut dalam setiap proses penyembuhan seperti terapi yang disarankan Dokter, aku akan menghadapinya sendirian, memendamnya sendirian. Tanpa dukungan. Aku belum yakin aku bisa menerima bantuan psikiter sepenuhnya. Aku takut aku tidak bisa kooperatif mengikuti arahan psikiater. Aku takut seberapa banyak biaya konsultasi, obat dan terapi yang harus kutanggung sendirian.

Dan pada fakta bahwa salah satu sahabat terbaikku meninggal dunia.

Sahabat yang tahun lalu menemaniku di sebuah café, menandaskan kopi bersama sambil bercerita secara terbuka tentang kerisauan dan ketakutan masing-masing. Sahabat yang aku menyesal karena tidak bisa sepenuhnya membalas kebaikannya sejak kami masih SMP. Dia yang membantuku, yang membuatku merasa tidak sendirian dulu saat masih pertama kali di asrama. Sahabat yang tau semua seleraku, buku, musik, film.

Sahabat yang menjadi prioritas orang pertama yang kutemui saat aku pulang kampung. Sahabat yang jika kuhitung-hitung sudah 15 tahun lamanya kenal baik denganku dan keluargaku. Sahabat yang seharusnya jadi orang pertama yang tau bahwa aku mengidap depresi.

Dia pergi jauh sehari setelah aku didiagnosa depresi. Jauuuhhh sekali. Sampai aku tidak mungkin bisa menghubunginya kembali saat aku pulang nanti.

Aku adalah orang yang sulit meluapkan emosi lewat tangisan. Namun kemarin, setelah mendengar kabar ini, aku tidak memedulikan lagi di mana posisiku, ada siapa saja di sekitarku. Aku menangis sejadi-jadinya di depan umum untuk kali pertama. Tanganku bergetar, dadaku sesak. Beberapa teman memintaku beristirahat, tapi tetap aku paksakan mengingat semua hal harus berjalan baik-baik saja.

Saat aku mengendarai motor pulang, aku kembali menangis sejadi-jadinya. Aku kehilangan satu rumah terbaikku. Rumah yang bahkan mampu menampung semua ketakutan dan kegelisahanku yang selama ini tidak pernah bisa leluasa kutumpahkan di rumahku sendiri.

Satu harapanku pergi. Tepat di hari pertama aku meminum antidepresan, tepat satu hari aku mendapat diagnosa dari psikiater pertama yang kutemui selama 25 tahun kehidupanku.

Sesampainya di rumah, aku menangis berkali-kali. Melihat chat terakhirnya yang kuabaikan menimbulkan rasa bersalah yang luar biasa padaku. Aku menyesal karena tidak menemuinya terakhir kali. Aku marah pada diriku karena dia bahkan belum sempat berpamitan. Aku benci diriku yang membiarkan chat terakhirnya yang bertanya apakah aku bisa menemuinya kuabaikan selama seminggu sebelum kematiannya.

Aku menulis entri ini jauh lebih jujur dibanding entri-entri sebelumnya. Ini sungguhan apa yang terjadi pada hidupku di usia 25 tahun. Berjuang sendirian, kehilangan tempat berpulang, kehilangan minat pada pekerjaan, tidak betah berada di rumah, keinginan mengakhiri hidup yang semakin meningkat.

Hal-hal yang sama sekali tidak selaras dengan pikiran dan pengalaman para 25 tahun lainnya yang sudah memikirkan investasi dan pernikahan.

Aku tertawa karena Nathan tidak melihat aku yang versi begini.

Share:

Sunday, January 30, 2022

PARA ANONIM UNTUK SEORANG ANONIM


Beberapa hari yang lalu, aku menemukan fotoku saat masih bayi. Aku mengasumsikan usiaku masih 2 sampai 3 bulan saat itu. Wajahku bersih, badanku gemuk berisi, mataku indah, rambutku lebat dan hitam. Aku menyaksikan foto itu saat usiaku sudah 25 tahun sekarang. Sebuah usia yang membuatku melontarkan banyak rasa kasihan pada foto bayi itu.

Aku mengasihaniku di usia 3 bulan karena ketidaktahuannya akan menjadi apa ia kelak saat dewasa. Mengapa aku di masa sekarang pernah mengambil keputusan yang salah, pernah mengabaikan pelajaran, pernah tidak berusaha sekuat tenaga, pernah menyia-nyiakan kesempatan, pernah teledor dalam melakukan sesuatu. Semua hal yang aku lakukan dan membuat bayi itu berubah menjadi sosok yang penuh keputusasaan seperti sekarang.

Foto hanya pemanis, bukan fotoku

Aku mengasihani diriku sendiri karena aku telah banyak mengubah apa yang telah dibangun oleh ibuku. Masa-masa kecil yang kulihat dalam foto, aku berpakaian rapi sekali, aku memakai tas yang lucu, memakai sepatu yang bagus, memakai aksesoris yang cantik. Aku akan sebaik dan sebagus itu di ‘tangan’ ibuku. Namun ketika aku sudah mulai diberi kesempatan mengurus diriku sendiri, mengambil keputusan sendiri, banyak sekali hal yang salah yang telah aku lakukan.

Luka-luka di tubuhku akibat aku terlalu mengabaikan dan sembrono. Rambutku yang tidak selembut dan sebagus dulu akibat aku pernah salah merawatnya. Wajahku yang kusam akibat aku malas mencuci wajah. Mata pandaku yang menyebalkan akibat aku mengulur waktu tidur dan sering mengonsumsi gadget. Semua hancur berantakan setelah ibuku lepas tangan.

Ibuku tetap memberi nasehat namun aku sering kali mengabaikan.

Aku ada di masa-masa antara hitam dan putih. Kedewasaanku sebagai manusia 25 tahun sedang diuji. Aku dihadapkan oleh sebuah pilihan yang riskan, yang masih saja kuhadapi dengan pikiran 18 tahunku. Dalam momen-momen itu tengkukku jadi sakit, kepalaku berpendar pusing, bahkan sering kali tanpa dipicu apapun aku mual dan sampai muntah.

Aku berusaha mengajak teman keluar, pergi kemanapun, memakan apapun, agar pikiranku sedikit terdistraksi oleh hal-hal yang membuat ku ketakutan dari masa lalu. Hal yang pernah melukaiku selama bertahun-tahun tanpa sebab, yang membuatku mengharapkan kematian, yang membuatku ketakutan. Aku kini kembali menantangnya! Dengan luka menganga yang belum sepenuhnya sembuh. Aku tidak tahu bagaimana akhirnya, tapi akan tetap kucoba. Ibaratnya, jika aku harus mati, maka aku akan mati.

Aku tidak tau kenapa aku sulit menghargai diriku sendiri di saat aku masih bisa menemukan para anonim menuliskan pesan padaku.

Tidak ada obat yang lebih menyenangkan ketimbang membaca pesan-pesan dari anonim yang menyemangatiku, yang memuji karyaku, yang membuat aku senyum-senyum sendiri karena terharu. Aku tidak tahu sebenarnya mereka mengirimkan itu semua murni untukku atau malah untuk David?

Yang kuyakini hanyalah aku merasa bersyukur masih bisa membaca pesan-pesan itu sebagai obat.

Ini sebab diriku yang tidak memiliki kemampuan untuk menerima diri sendiri. Low self-esteem atau identity crisis barangkali. Makanya, dibandingkan show off wajahku di foto profil media sosial, mencantumkan nama sesuai akte kelahiranku di semua platform online, aku cenderung membatasi diri sebagai anonim, atau at least menggunakan nama samaran.

Lewat abstraksi identitas ini, mereka yang terus menerka kepribadian dan sosokku pun pada akhirnya membuat imajinasi sendiri. Mereka akan menciptakan sosok baru sesuai dengan karakteristik tulisanku, cara aku merespons, gaya bahasaku atau foto profil orang lain yang aku pinjam (aku tidak pernah mencuri foto profil orang lain kecuali memang foto idol atau aktor, ya).

Maka dari itu, mereka yang terlanjur menciptakan karakter imajinerku cenderung tidak akan bisa membenci sosok ciptaannya sendiri. Mereka akan tetap menyukaiku. Kebanyakan.

Ah, mungkin kemisteriusan yang aku bawa dan label anonim yang melekat erat padaku membuat aku sulit mendapatkan jodoh. Maksudku, aku tidak menemukan satu pun sosok yang bisa mengenaliku dan membaca potensiku sebagai manusia. Toh, lebih dari apapun aku tidak ngebosenin-ngebosenin amat. Aku enak diajak ngobrol, aku pendengar yang baik, aku bisa menjadi support system yang kebanyakan orang butuhkan.

Tapi karena mungkin aku terlalu menutup diri, ditambah ada satu kondisi mental yang sangat sulit aku jelaskan, makanya aku seperti jarum dalam jerami yang sulit ditemukan. Tersembunyi dalam satu universe sendiri.

Lagipula aku dan David sudah cukup. Kami akan bekerjasama untuk tidak membunuh diri kami.

 

Share:

Friday, January 7, 2022

Januari, Rasa Tidak Bersyukur dan Mimpi yang Kurang Ajar

 

Aku mengetik entri ini di usiaku yang sudah 25 tahun. Siapa sangka kan seorang berusia 25 tahun masih sempat-sempatnya mengeluhkan soal beban hidup? Padahal hal itu sudah terjadi bahkan sejak pertama menginjak usia 20-an. Ibaratnya ini sudah tahun keempat atau kelima seharusnya aku berhasil adaptasi atau menikmati semua beban hidup yang sering dikeluhkan orang-orang sebagai ‘quarter life crisis’.

Gambar 1.1 Lokasi terakhir sebelum aku jatuh sakit



Namanya juga INFPs. Tipe manusia yang paling cerewet isi kepalanya. Plus aku sudah terbiasa menulis sejak kelas dua SD. Bukan hal yang patut dipertanyakan sebenarnya. Justru ketika orang maniak menulis sepertiku justru tidak punya tulisan sama sekali dalam kurun waktu amat lama. Seolah patut dipertanyakan ‘bencana hati’ apa yang menderaku sampai-sampai aku kehilangan kemampuan menulis?

Keluhan pertamaku berasal dari rasa luar biasa karena untuk kedua kalinya tubuhku bereaksi akibat kelelahan. Di bulan Mei atau April, aku pernah ambruk sekitar tujuh hari. Dokter bilang aku punya gejala Covid-19. Memang waktu itu beberapa rekan kantor sempat ada yang sakit, aku tidak merasakan barangkali aku terinfeksi dari penyakit mereka.

Tapi kemarin. Tepat setelah aku pulang kerja di hari ulang tahun. Tepat setelah kutandaskan segelas vanilla latte bersama salah satu malaikatku—dan kami terlibat perbincangan tidak penting soal film dan drama—pada akhirnya aku ambruk. Fisikku sudah tidak tahan lagi. Aku demam tiga hari. Ditambah darah rendah, pusing, mual, batuk, flu. Perpaduan klasik kalau tubuh sudah kelelahan.

Ada tiga sampai empat macam obat yang aku konsumsi. Tapi penyakit yang kuprediksikan akan pulih dalam satu hari nyatanya membutuhkan waktu lebih lama dari dugaanku. Butuh lebih banyak dosis obat sampai aku sungguhan pulih. Dan bahkan di hari pertamaku kembali berkerja, aku masih merasa duniaku seperti berputar.

Tapi aku bersyukur atas rasa sakit yang sempat kualami selama nyaris seminggu kemarin. Aku mendapat lebih banyak waktu istirahat, lebih banyak waktu untuk menikmati ruangku sebagai introver, lebih banyak waktu untuk tidak dituntut apapun.

Karena bagaimana pun, aku merasa ada dua sisi dalam diriku. Malaikat dan iblis.

Keluhan keduaku berasal dari ketidakmampuan aku mengendalikan emosiku sendiri. Di satu sisi, aku ingin memberontak, menuntut, mendebat. Di sisi lain aku hanya berserah diri dan membiarkan semua terjadi karena aku masih tahu diri.

Masih ingat Yoon Jongwoo yang diperankan Im Siwan di series OCN ‘Strangers from Hell’?

Di sana Jongwoo digambarkan sering membanting barang, memukuli orang, mendebat, mencela, merusak. Namun kenyataannya, semua itu hanya bayangan di kepala yang tidak mungkin ia realisasikan. Itu pelanggaran. Kamu akan dicap aneh, jahat, buruk, jika kamu bersikeras membebaskan emosimu itu dari kepala.

Nah, itulah yang kurasakan beberapa bulan belakang.

Dalam kondisi jenuh, ditambah trauma dan depresi yang masih tidak tertolong, serta rasa takut pada banyak hal yang tidak terdifinisi, aku dipaksa dihadapkan pada keinginan dan tuntutan pekerjaan yang melampaui akal sehatku. Bukan. Bukan jenis pekerjaan apa yang harus aku lakukan. Bukan pula pada bagaimana aku seharusnya melakukannya. Sudah kubilang di entri-entri sebelumnya, aku bekerja di bidang yang aku kuasai, jadi aku menikmatinya.

Hal-hal yang seketika mengubahku menjadi Yoon Jongwoo adalah ketika aku bisa melihat dengan jelas perbandingan di saat atasanku tidak mampu membaca bahwa aku telah berhasil. Ya, memang divisiku bukan divisi yang gagal-suksesnya bisa diukur dengan nominal angka. Divisiku sangat abstrak. Sangat tidak kentara.

Maka di saat aku berhasil, di saat aku sudah melakukan tanpa diminta, di saat aku menemukan jalan sendiri, di saat aku sudah melakukan inovasi, semuanya seperti abu dari kertas yang terbakar. Berterbangan tertiup angina dan hilang tak berbekas.

Aku tidak butuh apresiasi. Aku hanya butuh hasil kerjaku diakui.

Masa semua rencana kerja yang aku buat—aku yang paling rapi dan terstruktur—masih dikomentari kurang ini kurang itu? Sedangkan divisi lain yang tidak jauh berbeda denganku, hanya punya sekitar 20 menit komentar dibanding aku yang 1,5 jam lamanya.

Timeline katanya, tapi tadi aku lihat tidak semua divisi mencantumkan timeline. Dan tidak ada yang dikomentari.

Tidak sesuai dengan RK tahunan katanya, tapi dalam beberapa agenda kerjaku memang sudah mencakup bagian RK tahunan. Aku ingin sekali defend dan menunjukkan poin-poinnya, tapi aku masihlah Yoon Jongwoo di episode ketiga, yang masih belum hilang kesabaran dan akal sehatnya gara-gara Seo Munjoo.

Aku baca interaksi para pekerja di salah satu postingan Twitter. Alasan seorang karyawan resign lebih banyak dipengaruhi oleh atasan, kemudian lingkungan kerja, barulah struktur dan jenjang karir. Untuk gaji sebenarnya nomor sekian. Rasanya tidak elok juga kalau kita bisa menikmati gaji yang banyak tapi gaji itu bukan dari jerih payah kita yang dilirik.

Di tengah meeting, INFP sepertiku melayangkan lamunan tentang cuti yang ingin kuambil nanti. Tentang bagaimana aku bertemu ini, bersama ini, makan ini, pergi ke sini, melakukan ini. Banyak hal.

Aku terlalu jenuh. Terlalu kehilangan kendali atas diriku sendiri. Aku seperti kehilangan visi hidup, semangat hidup. Depresi benar-benar menggerogoti kehidupan normalku.

Aku tahu, dalam sudut hatiku yang terdalam aku tetap merasa bersyukur. Semua atasanku memberikan kritik padaku untuk membuatku sadar dan bangun dari tidur panjang. Mereka tidak akan melakukannya jika mereka tidak memedulikanku, kan? Mereka sebenarnya peduli padaku, tapi karena aku merasa seperti Yoon Jongwoo, rasa kepedulian itu berubah seperti penghinaan.

Ingat kan atasan sekaligus kakak kelas Yoon Jongwoo di kantor? Dia super baik, peduli dan suka menolong semua kesulitan Yoon Jongwoo. Dia kasih Jongwoo pekerjaan, kepercayaan, treatment baik, bahkan materi juga. Tapi apa yang Jongwoo lihat? Atasannya seperti menghina dirinya, mengganggu, melukai.

Persis seperti itu yang aku rasakan.

Akal sehatku bilang ini wajar, ini bentuk kepedulian dan rasa sayang. Tapi hatiku terus berontak, you got a pride! You should never let someone brings you down!

Aku bener-bener ngga tau harus bawa masalah ini ke siapa. Aku sakit kepala dan hilang nafsu makan setiap kali mikirin ini.

Dan keluhan terakhir, yang membuat hari ini semakin buruk.

Aku ngga tau ini ada campur tangan Tuhan atau ngga, atau ini memang murni ulah dari alam bawah sadarku yang bermain-main soal mimpi. Semalam akum impi tentang dia lagi. Jelas sekali. Durasi yang lama dan bahkan saat aku terbangung karena alarm, aku tertidur dan bisa melanjutkan mimpiku lagi.

Di universe yang aku rasakan di mimpi, aku bertemu dia. Mengobrol, bercengkerama, tukeran parfum, dll. Aku ngga tau kenapa alam bawah sadarku selalu memproyeksikan dia sebagai sosok yang sempurna dan berada di level tertinggi. Sosok yang tidak akan pernah bisa aku raih meski dulu kita pernah di tempat yang sejajar.

Ada seperti satu universe lain yang ia tinggali dan tidak bisa aku kunjungi. Seperti ada dalam frame yang berbeda. Tertahan oleh satu portal yang hanya bisa orang-orang tertentu masuki dan itu bukan aku.

Mimpi itu membawaku duduk terdiam cukup lama. Terlalu nyata. Seperti ada kesan ‘yah… cuma mimpi’ yang mendalam. Lalu, dengan nekat aku coba kembali menghubunginya. Iseng bertanya kabar, karena aku tahu dalam beberapa aspek dia coba menghapus semua yang bisa membuatnya berelasi denganku. Dia tidak pernah berinteraksi lagi dengan duniaku (bahkan hanya lewat social media). Seperti sengaja menciptakan jarak.

Namun dengan bodohnya, aku melintasi portal itu hari ini. Menghasilkan sesuatu yang baik? Oh, tentu saja tidak.

Mau kamu sebutkan Leonardo DiCaprio atau Camilla Cabelo, manusia yang mustahil terjamah oleh tanganmu yang masih sering menyentuh tahu isi dan pisang goreng. Bagiku cuma dia satu-satunya manusia dengan dinding penyekat yang tinggi dan dingin.

Aku tidak merindukan dia sebagai orang yang kucenderungi dalam konteks tuntutan nafsu atau rasa ketertarikan. Aku merindukan dia karena dia satu-satunya orang yang cuma meninggalkan bekas baik dalam rapor hidupku yang merah. Dia yang membuat aku tidak pernah menjadi orang yang lemah dan putus asa. Dia pernah menjadi sumber semangatku, menjadi alasan terbesar aku bersemangat pergi ke sekolah.

Aku hanya ingin mendapatkan sumber kebahagiaanku kembali. Tapi dia menyalahartikannya sebagai hal yang harus dihindari.

Setelah kuciptakan alter ego bernama David dan pujaannya, Nathan. Semua terasa lebih mudah sekaligus menjengkelkan. Aku masih tidak bisa yakin mana dunia nyataku dan mana yang cuma ilusi bagiku.

Siapa yang punya 25 tahun lebih berat daripada ini?

 

Share:

Wednesday, December 15, 2021

Entri Pertama di Bulan Desember

 

Rasanya waktu cepat berlalu. Sudah Desember saja. Sebentar lagi usiaku genap seperempat abad. Di usia segini pun aku tidak­ tertarik soal mimpi dan kehidupan. Bosan mendengar semua manusia harus berjalan di satu koridor yang sama; lulus—kerja—menikah—punya anak—Selalu begitu nyaris berlaku di setiap kehidupan manusia.

Bagaimana kalau manusianya seperti aku yang tidak punya persiapan masa depan? Asal bisa menjalankan hari ini saja sudah syukur.

Aku tidak akan membawa entri pertamaku di bulan Desember ini kea rah sana. Terlalu luas seperti akan membuat artikel ilmiah. Aku akan cenderung menulis keluhan yang tidak sempat kuungkapkan lebih dari sebulan terakhir. Mengingat cukup banyak pekerjaan yang ada, ditambah lagi antara hidup dan mati memastikan aku tidak kehilangan kemampuan menulis di blog—karena kemampuan menulis di Wattpad sudah menghilang dua tahun berjalan.

Desember ya? Hujan, sih. Tetap sama seperti Desember-Desember sebelumnya. Dan aku berharap akan selalu sama. Karena sampai kapanpun meskipun hujan menyebalkan, aku tetap menyukai hujan lebih dari apapun di dunia ini.

Lebih dari Ju Ji Hoon yang 3 dramanya sedang kutonton sekitar sebulan terakhir.

Aku akan menjadikan entri ini akumulasi dari perasaan baik dan perasaan buruk yang kualami belakangan ini. Dimulai dari bagaimana aku mulai aktif mengonsumsi drama-drama yang terus berganti setiap minggunya. Jika aku melihat catatan Daylio-ku, rata-rata aku menuntaskan drama dalam 6 hari. Cukup cepat mengingat rata-rata drama adalah 14-20 episode.

Mengingat fakta aku dapat berfungsi sebagai gudang rekomendasi (khususnya thriller-mystery) juga cukup membuatku relief. Termasuk pada fakta ibuku yang tetap asyik diajak bicara soal drama.

Kebahagiaan lain adalah aku berhasil mendapatkan hape impian!

Ya, hape ungu yang tidak sengaja aku lihat di billboard salah satu konter hape di tengah kota. Seiseng itu! Memaksimalkan uang tabungan, tidak nongkrong dine in atau minum kopi dan tidak check out Shopee selama beberapa bulan.

Ini adalah hape termahal yang aku punya. Hape yang aku beli atas dasar iseng, bukan karena hape sebelumnya rusak. Sebuah pencapaian yang masih aku kagumi sampai sekarang.

 Saat aku mencoba fiturnya, aku dibuat kagum oleh desainnya pertama kali. Sederhana dan elegan. Kedua, aku dibuat terpukau oleh kameranya yang super keren—bahkan untuk potret malam hari!

Ketiga, oleh sound output-nya yang jernih banget, lebih jelas dibanding suara yang keluar dari laptopku! Keempat, baterenya yang meskipun cuma berkapasitas 4500 mAh, tapi tetap awet seharian. Dan demi Tuhan, hape ini fast charging banget! Tidak akan lebih dari 1,5 jam setiap kali ngecas di sisa baterai 30% (karena aku selalu punya kebiasaan cas hape di angka persentase baterai 30%).

Sisanya sih sebenarnya sama saja dengan hape lainnya. Tapi tentu dengan pengorbanan yang kulakukan sekitar 2 bulan untuk punya hape ini, fitur-fitur yang lain pasti akan membuatku nyaman.

Beralih ke perasaan buruknya.

Sebentar lagi usiaku 25 tahun. Tentu itu kabar buruk, mengingat orientasi dunia ini terus diukur dari jumlah angka dari usia kita—dan pencapain kita. Melelahkan kalau membayangkan masa depan. Apalagi bagi seseorang yang sering berpikiran bunuh diri sepertiku. Tapi karena lokasi ulang tahunku berada di bulan terbaik dan terindah, bulan Desember—yah, aku akan selalu menikmatinya. Terutama musim dingin dengan hujan dan kelabunya.

Perasaan buruk kedua adalah aku cepat Lelah dengan banyak orang. Aku cepat merasa bersalah. Cepat terpancing emosinya. Cepat berpikiran semua orang meninggalkanku. Cepat berpikiran aku tidak pantas. Dan itu terjadi berkali-kali nyaris setiap hari.

Karena berpindah dari hape lama ke hape baru, aku melupakan rutinitasku menulis Daylio. Saat itu aku belum tahu kalau semua entri di Daylio bisa diimpor. Dan kemarin malam aku harus merelakan waktuku untuk begadang demi menuntaskan entri-entriku yang hilang di Daylio yang kuinstal di hape baru.

Dari Daylio itu aku bisa melihat perkembangan mood-ku. Meski tetap saja aku sering memilih indikator ‘biasa saja’ dibandingkan ‘baik’ atau ‘buruk’.

Hal terparahnya adalah aku sudah kehabisan tenaga untuk memberikan perhatianku pada orang yang memang membutuhkannya. Aku hanya berlaku ‘kalau kamu butuh, bilang’. Tidak lagi mengajukan ‘kamu kenapa?’ pertama kali.

Aku sudah sering memberikan banyak perhatian pada orang-orang dan berakhir seperti sia-sia saja.

Sepertinya keinginanku untuk berteman semakin memudar.

Aku akan kembali menulis entri kalau aku berhasil menonton bioskop sendiri, ya. Aku pengen dari dulu. Sendirian.

Share:

Wednesday, November 3, 2021

TUKANG INTIP, GEJALA FISIK DAN PROSES PENDEWASAAN

 

Kondisiku sekarang ya? Malam hari, suara jangkrik ngga tau kenapa tumben-tumbennya bisa sekeras itu di luar sana. Biasanya malam hujan. Ini sudah November, jadi hujan sudah mulai rutin datang. Tapi ngga tau kenapa hari ini ngga turun. Aku mengetik di laptop dengan posisi duduk, memakai kacamata—yang tidak cukup membantuku terlepas dari sakit kepala ini—sambil mendengar musik instrumental dari Spotify. Aku mengandalkan hotspot ponselku yang datanya akan berakhir masa aktifnya di tanggal 8 November nanti.

Seharusnya aku memaksa diriku untuk menuntaskan menyalin ulan notulensi meeting yang kutulis di binder tadi pagi. Tapi terdistraksi pada tumpukan imajinasi di kepala seorang INFP sepertiku. Dan ya, pada akhirnya berakhir dengan satu entri blog seperti biasa; tidak penting-penting amat.

Hari ini bukan sebuah bagian hidup yang istimewa, yang perlu kurayakan dalam sebuah tulisan entri panjang. Hari ini tidak banyak yang terjadi sebenarnya. Aku hanya ingin menyimpulkan isi kepalaku dari pikiran-pikiran yang sudah kutimbun beberapa minggu terakhir.

TUKANG INTIP

Semua bermula ketika aku masih diberi kepercayaan mengikuti management meeting sampai hari ini. Aku masih bisa menyaksikan betapa banyak rencana masa depan yang bisa menjadi salah satu jalan aku berkembang. Bangkit dari keinginan bunuh diri yang selalu kutangisi setiap malam waktu itu.

Aku perlahan diberi kepercayaan, diberi kesempatan. Dan semua terjadi secara naik turun, kadang begitu mulus, kadang juga terjal.

Aku tidak tahu bagaimana orang lain akan menyikapi jika mereka berada di posisiku. Kehilangan partner kerja berulang kali dengan banyak cara, namun diberi mimpi besar di depan yang menjanjikan. Bukan. Bukan mereka yang sebenarnya memberiku mimpi. Mereka hanya memberiku jalan untuk bangkit dan bermimpi kembali. Mimpiku tidak spesifik, tidak harus menikah di usia dua puluh lima, tidak harus punya rumah di usia dua puluh tujuh.

Mimpiku hanya bisa menjalani hari ini, melupakan ketakutan dan kegagalan di belakang. Dan bangkit lagi untuk lebih menghargai hidup.

Dan seperti yang aku pernah tulis di entri sebelumnya; Satu-satunya hal yang memberatkanmu ketika kehilangan adalah sebab kamu merasa memilikinya. Jika tidak ada rasa kepemilikan, kehilangan hanya terasa seperti satu fase ketika Tuhan mengganti yang tidak baik buatmu menjadi yang lebih baik

Sebagai orang yang mudah lelah bersosialisai dan membangun hubungan yang tidak perlu, aku terbiasa tidak banyak bergantung dan berharap pada orang lain. Aku biarkan Tuhan memainkan momen kapan mereka datang dan kapan mereka pergi. Aku bisa mengubah setiap pertemuan menjadi satu bahan untuk memperbaiki diri. Dan tentu, untuk meyakinkan diri bahwa aku bisa mengandalkan diriku sendiri. Diriku amat berharga.

Aku sangat berterima kasih pada minimnya rasa malu yang dimiliki pecundang itu. Dia masih mengintip kehidupanku lewat story—entah disengaja atau tidak. Hal yang tidak mungkin kulakukan pada orang yang tidak berguna dan tidak punya nilai lagi di hidupku. Aku tipikal orang yang ‘Okay, waktunya mute atau block dia’, meski tentu sempat dikatai sebagai pengecut.

Dengan tidak adanya rasa malu dan jiwa keponya, aku sangat sangat sangat diberi panggung untuk menunjukkan jati diriku yang sebenarnya. Lihat! Aku masih berdiri dan bahkan berkembang. Aku punya versi hidup yang lebih baik dibandingkan ketika dia terlibat. Aku sekuat itu. Aku tahu mana sampah dan benalu yang harus kubuang jauh-jauh untuk tetap hidup.

Terima kasih karena masih menjadi salah satu list di viewer story-ku! Aku suka diberi kesempatan show off. Tetap begitu, ya. Menjadi tukang intip tapi dari setiap keberhasilanku.

GEJALA FISIK

Selain soal Si Kepo yang cuma matang di usianya tapi tidak dengan sikapnya, aku juga mulai merasa ada yang tidak beres dengan kondisiku.

Di buku yang aku beli setahun yang lalu, aku belajar bahwa gangguan mental dapat mempengaruhi beberapa fungsi fisik juga. Aku tidak terlalu memperhatikan dan hanya menganggap gangguan mental menyerang secara emosional. Seperti tendensi menangis tanpa alasan, mendapat banyak flash back pada masa lalu, merasa tidak nyaman dengan pemicu trauma, mudah kehilangan minat dan semangat, sampai keinginan bunuh diri. Hal-hal yang secara personal akan dipicu dari tingkat emosional yang tidak terkendali.

Namun, Senin-ku diawali dengan keluhan tengkuk yang terasa berat. Sudah pernah kualami, namun ini parah sekali. Aku sudah mencoba semua cara. Tidur lebih awal, mengurangi kegiatan di depan laptop, saat kerja pun aku rutin melakukan perenggangan dan minum air putih. Aku juga sampai mandi air hangat, meminta pijet sama bapak, menggunakan bantal yang lebih rendah, sampai meminum obat.

Tapi tidak banyak berubah di hari-hari berikutnya. Bahkan sampai sekarang.

Dan entah kenapa, Senin kemarin aku merasa seperti ketakutan. Aku mengendarai motor berangkat ke kantor dengan kecepatan yang jauh lebih lambat dibandingkan biasanya. Aku tidak berbicara dengan orang-orang kantor seharian. Aku gelisah dan tidak tenang. Aku kesulitan menyelesaikan pekerjaan.

Tapi aku tidak tahu kenapa.

Dan sampai sekarang, dalam beberapa kondisi ketika aku memikirkan sesuatu, jemari tanganku akan bergetar sesekali. Aku cenderung meremas jemariku sendiri pada momen yang tidak perlu. Tidak ada dendam. Tidak ada ketakutan.

Tapi kondisi fisik ini terjadi secara kontinyu di awal minggu pertama bulan November. Terhitung 37 bulan setelah aku mulai menyadari ada yang tidak beres denganku.

Tapi aku terus ditampar dengan kenyataan bahwa barangkali aku terlalu mendramatisasi kondisi ini. Bagaimana bila sebenarnya aku baik-baik saja? Bagaimana bila kondisi yang kualami selama 37 bulan ini adalah satu proses pendewasaan yang wajar dan juga dirasakan oleh orang seusiaku lainnya? Bagaimana jika aku sudah menabung untuk menyewa satu meja konsultasi aku malah ditertawakan karena masalahku tidak serius?

Ketakutan sebenarnya justru terletak pada semua pertanyaan bagaimanaku.

Lalu, lewat kemampuan diri yang sudah dibentuk untuk menyelesaikan apapun secara mandiri, maka aku memutuskan batasan bagi diriku sendiri juga. Jika kondisi ini terus terjadi dan sampai mengganggu aktifitasku, baru aku akan mencari pertolongan.

Sementara, biar blog ini saja yang tahu.



RELASI DENGAN BEBERAPA ORANG

Berangkat dari fakta ada yang tidak beres denganku sejak nyaris 3 tahun lalu, aku mulai membentuk versi terbaik dari diriku.

Aku membangun dinding yang tinggi. Dinding kuat yang di semua sisi, sehingga bukan sembarang orang yang bisa masuk dan menginterupsi. Aku saja pemilih soal makanan, apalagi soal relasi sesame manusia?

Dan dari dindingku itu, aku mulai tahu yang kucari dalam hidup ini adalah ketenangan. Momen bisa menikmati waktu dan mengapresiasi diri sendiri. Melakukan hal seperlunya dan meminimalisir terlibat pada konflik yang memicu emosi.

Tidak lagi kukejar angka pada followers. Kugunakan sebaik mungkin fitur mute, hide, remove and block yang sudah susah payah disediakan oleh developer media sosial. Tidak lagi kumeraih banyak interaksi dengan mutual, merasa perlu berinteraksi dengan orang tidak dikenal. Tidak merasa urgent pula pada reply story, view story dan upload story. Aku benar-benar telah melakukan semuanya dengan batas kemampuan.

Dan entah kenapa hari ini aku kembali ‘terlibat’ dengan salah satu teman SMP-ku. Dia berubah menjadi sedikit ‘terbuka’, sangat sangat sangat jauh dari pribadinya yang aku kenal dulu. Sempat waktu itu aku kirimkan pesan concern padanya, tapi tidak bersambut baik.

Tentu, aku akan melakukan hal yang sama jika aku ada di posisinya. Toh, itu soal pilihan hidup. Aku pun pernah memiliki pilihan hidup yang tidak bisa diterima oleh orang lain bahkan kedua orang tuaku. Dan aku merasa marah, terganggu, kesal, ketika ada yang mengikutcampuri pilihan hidupku.

The difference is aku tidak mempublikasikannya. Aku tidak bangga padanya. Aku tidak membicarakannya secara berulang. But she does.

Hari ini aku dipertemukan pada satu story-nya yang entahlah, terlalu bersemangat, berapi-api mengomentari keinginan ‘temannya’ untuk memintanya kembali. Aku pernah menasehatinya sekali. Sekali. Dan kuputuskan untuk meninggalkan dia sendiri ketika kurasa dia juga perlu melewati proses yang berat untuk memutuskan ‘berubah’.

Tapi semua menjadi amat-amat mengganggu ketika dia me-repost pesan baik orang yang menasehatinya dan mengomentarinya dengan embel-embel ‘ngga sekali dua kali ya ngingetin aku’ but what she also does? Dia juga ngga sekali dua kali mem-blow up nasehat-nasehat orang dan pointing mereka yang salah? Do you think you’re strong? Cool? Nope. You’re messed up. You’re too weak to accept yourself.

Dan ya, dari sana aku mulai belajar ini bukan kali pertama aku punya point of view yang berbeda dari kebanyakan orang. Aku bisa menemukan pendekatan lain yang tidak kebanyakan orang bisa pikirkan. Jika mereka pada umumnya ‘menasehatinya untuk kembali’, maka aku ‘menasehatinya untuk tidak mengurusi pendapat orang dan menyalahkan orang lain’. Ada beberapa pendekatan yang bisa kita lakukan untuk menyentuh orang-orang kehilangan arah seperti mereka. Cara yang tidak bisa dilakukan secara langsung dengan menuju kekurangannya.

Sama halnya waktu aku duduk dengan teman yang kubahas di entri kemarin. Ditemani suara ombak dan tiupan angin laut, setelah panjang kali lebar ia menjabarkan kisahnya, aku memberikan satu nasehat yang mengundang pertanyaan darinya; ‘kenapa aku harus ngelakuin itu?’

Aku bisa membaca apa yang akan terjadi di depan. Aku bisa menemukan potensi masalah yang mungkin terjadi di pertengahan jalan. Aku menjadi begini siap dan hebat akibat proses pendewasaan. Ternyata, pendewasaan tidak melulu soal sakit. Dia juga bercerita tentang perbaikan dan progress pembenaran.

Atau barangkali ini memang versi yang cuma bisa dipahami dan dipelajari oleh seorang INFP. Si Tukang Melamun yang otaknya terlalu berisik memikirkan dan mengaitkan hal-hal kecil yang tidak dipikirkan kebanyakan orang.

Hahaha, barangkali.

 

 

 

Share:

Thursday, October 21, 2021

KETIKA MANUSIA MENJADI AMAT MELELAHKAN

 

Aku nyaris berhasil melewati Oktober dengan perasaan hampa. Tidak ada lagi gejolak menggebu dan kekhawatiran yang dulu cukup sering mengganggu. Ketika aku sibuk memikirkan apa yang seharusnya kulakukan di ulang tahunnya? Perlukah aku tetap mengirimkan basa-basi paska dia mengetahui satu rahasia besar yang kupendam dalam?

Aku berhasil mengabaikannya bukan sebab aku sudah melupakannya. Melainkan sebab aku merasa mulai semakin banyak mengabaikan. Hal-hal penting selevel kerjaan, orang-orang di sekitar bahkan nyaris juga atasan, jam makan dan kondisi kesehatan. Semuanya menjadi lebih terasa nyaman bila diabaikan.

Aku mendengungkan keinginan memiliki ponsel baru. Nyatanya aku tidak 100% tahu apa kegunaan aku memiliki sosial media di dalamnya. Aku tidak ingin berinteraksi. Aku menutup diri dan tidak mau muncul ke permukaan.

Semula aku tidak memahami, sampai kemarin lewat sebuah obrolan aku menemukan pandangan mata orang terhadapku yang menutup diri.

Dia salah satu temanku yang tersisa. Bermula dari pertemuan di waktu ospek, ditakdirkan berada di gugus yang sama, jurusan yang sama dan takdir yang nyaris sama. Dia satu-satunya yang mau bertahan denganku yang sulit dibaca dan dimengerti. Dia sering bertanya tentang alasan di balik pintuku yang tertutup rapat sejak 3 tahun lalu.

Kami tidak sekapasitas. Bahkan aku tidak pernah merasa sekapasitas dengan siapapun.

Namun dia masih tetap mengejarku sampai ke ujung dunia.

Lima bulan lamanya kami tidak bertemu. Terhitung Mei lalu. Saat aku bertemu dengannya lagi, dia masih orang yang sama seperti yang kukenal. Bukan teman terbaik, namun cukup membuatku merasa aku masih manusia.

Dalam sebuah rencana dadakan, kami dipertemukan senja dan kopi. Seperti rutinitasku biasanya, bila bertemu pantai dan angin laut, aku terduduk diam sampai malam. Dan kemarin ada dia yang menemani. Kubiarkan ia aktif bercerita tentang hal-hal yang terjadi padanya selama 5 bulan terakhir. Dan aku menyadari dia lebih mampu menjelaskan sesuatu, mencari konklusi dalam sebuah topik, cukup runtut sebenarnya, namun masih tetap tidak menjamah kapasitas orang pasif sepertiku.

Di antara banyak topik obrolan yang terjadi, aku tidak banyak menginterupsi. Aku hanya sesekali memberinya nasehat dan tentu saja dia mengapresiasi kemampuanku mencarikan solusi.

Setelah terlibat banyak perbincangan, kami terikat pada sebuah kata-kata dan mimpi sederhana tentang menghabiskan waktu bersama lain kali. Aku tahu ini hanya basa-basi. Tapi seperti satu pikiranku di awal saat dia menawarkanku untuk bertemu dengannya. Mulanya aku ingin membuat alasan untuk tidak pergi, namun kemudian aku menyadari jika tidak bersama dia, aku sudah tidak punya teman lagi.

Di antara kepasifanku kemarin, dia menyimpulkan bahwa ada rasa terima kasih yang ia miliki padaku, karena aku menerima semua curhatnya dengan tenang. Dia kirimkan satu postingan Instagram tentang itu padaku. Dan aku tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Sebab aku memang begitu, menjadi seorang pendengar yang baik paska merasakan beberapa kesulitan dalam proses pendewasaan.

Momen yang tidak biasa terjadi bukan hanya kemarin.

Hari ini aku ditegaskan pada satu fakta aku akan kembali kehilangan. Mendengar deklarasi itu aku tidak banyak bereaksi sebenarnya. Detak jantungku stabil, denyut nadiku tenang.

Satu-satunya hal yang memberatkanmu ketika kehilangan adalah sebab kamu merasa memilikinya. Jika tidak ada rasa kepemilikan, kehilangan hanya terasa seperti satu fase ketika Tuhan mengganti yang tidak baik buatmu menjadi yang lebih baik. Hanya itu.

Jujur, meski di depan ada banyak hal yang mesti kulakukan sendirian, gejolak dan anganku pada akan jadi apa mereka nanti membuatku bersemangat. Pada dasarnya aku memang tipikal orang yang selalu bersemangat di awal. Sebuah awal yang dijanjikan itu membuatku merasa istimewa dan diperhatikan.

Mau berapa kali pun aku dihancurkan, mereka bahkan tidak bisa menyentuh ujung hidungku. Aku tidak pernah memberi rasa pada relasi yang aku bangun dengan semua orang. Jadi, saat relasi itu terputus pun, aku tidak pernah mengalami kesulitan. Aku akan tetap berjalan di kakiku sendiri. Selain memang karena aku mampu melakukan banyak hal, aku juga masih punya back up yang lebih tahu mana yang mesti dipertahankan.

Ah, rasanya tidak sabar aku menunggu momen terbaru yang akan datang.

Pada usaha-usaha tanpa alasan yang dengan bodoh mereka lakukan, aku tahu tidak ada satupun kebenaran yang mereka putuskan. Kemudian kubiarkan mereka tetap menyaksikan aku bertumbuh hari demi hari dengan tangan dan kakiku sendiri. Bukan karena mereka. Melainkan paska tanpa kehadiran mereka.

Aku tidak sedang membuat entri untuk menghibur diri. Sungguh.

Aku hanya menuliskan beberapa hal yang terjadi yang kemudian membuatku semakin sadar, betapa aku lalai dan abai pada banyak orang. Mereka seperti menakutiku. Meskipun sebenarnya bukan begitu.

Aku mendadak tidak mau lagi membalas chat dari korban pathological liar yang seharusnya tetap terjadi untuk menjaga dunia utopia yang kubangun sendiri. Tidak juga chat dari seseorang yang selalu bersamaku untuk menggosipi dunia hiburan Korea. Apalagi chat dari customer atau mahasiswa haus sponsorship, telepon dari kurir JNE, share post di DM IG dari teman, reply stories dari beberapa kontak.

Semuanya demi Tuhan aku abaikan. Dan aku nyaman mematikan centang biru, last active, share story only, hide story from. Seolah fitur privacy setting adalah nama tengahku.

Sempat waktu itu kusebut gejalaku ini sebagai sebuah rasa takut. Tapi lama kelamaan setelah kupelajari lagi, perasaan ini hanya karena efek memiliki banyak relasi dengan semua jenis orang terasa amat melelahkan. Selain mereka tidak sekapasitas, mereka juga belum tentu tidak akan menusukmu dari belakang nanti.

Drama, konflik, rumor. Hal-hal menyebalkan yang sungguh ingin aku tertawakan.

Mengurus diri sendiri saja sudah melelahkan, jangan banyak bertingkah di depanku! Kamu salah orang!

 

Share: