Saturday, November 30, 2024

Mari Kita Apresiasi Tahun 2024 dengan Cara Menjengkelkan

 Halo, ini aku — Radiva yang sebentar lagi bertambah usia. Memasuki bulan Desember mendadak menjadi menyeramkan untuk aku yang tahun ini tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Sudah kubahas di entri sebelumnya, 2024 tidak banyak yang berarti. Atau memang akunya saja yang menganggap semuanya jadi tidak berarti.

Tahun ini dengan cepat aku kehilangan dan mendapat teman. Aku cukup banyak menemui orang, namun tidak ada yang benar-benar bisa membuatku 'secure'. Aku berusaha melunak, mengalah, kembali menjadi seorang Mediator yang tidak suka berdebat dan menghindari pertikaian. Namun aku juga berubah cepat menjadi 180 derajat berbeda, mengonfrontasi, memarahi dan berdebat dengan orang yang mengusik kedamaian atau idealisme tertentu.

Siapa sangka? Aku bisa merasakan perasaan yang bergejolak untuk menyakiti orang lain — dan diri sendiri. Pikiran menyayat pergelangan tangan tidak muncul, jujur saja. Tapi apa yang berkelebat di kepala adalah perasaan ingin menampar orang, menendang badannya dan memaki di depan wajah mereka. Entah siapa. Dan juga hadir perasaan ingin merusak diri dengan menghantamkan kepalan tangan di kaca atau cermin, membanting barang dengan sekuat tenaga atau berteriak secara bebas untuk mengeluarkan semua jenis emosi.

Karena, aku tidak menangis.Tidak untuk emosi yang entah bentuknya apa.

Tapi demi bisa menenangkan sisi mengerikan yang ingin mengintip dari balik kepribadianku, aku coba akan menariknya untuk flashback kepada apa yang terjadi di tahun 2024 ini. Dan tentu, di setiap momen akan kutambahkan bentuk pelajaran apa yang bisa aku dapatkan.

1. Mengikuti Komunitas Buku

Sebagai seorang introver yang berelasi hanya dengan orang-orang hitungan jari, menjadi sebuah tantangan tersendiri untukku mengikuti sebuah komunitas buku. Aku terbilang member yang mendahului saat jumlah peserta yang hadir tidak lebih dari 10 orang. Aku bertemu orang-orang dengan pola pikir beragam yang luar biasa. Seketika rasa banggaku pada diri sendiri menyurut, seolah aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan mereka.

Kemudian entah apakah aku terlalu menonjol atau memang mereka gambling saja, aku terpilih menjadi salah satu panitia yang membantu keberlangsungan komunitas debutan itu. Sampai jumlah member-nya melampaui 25 orang. Apakah aku bangga? Tentu saja aku bangga. Bukan pada diriku sendiri, melainkan pada mereka yang bisa datang untuk memberikan kesan pesan tentang buku yang mereka baca dan tentang pengalaman pribadi mereka.

Sebagai seorang emotional master (referensi ini aku dapatkan dari sebuah video Youtube untuk melabeli INFP), aku tergugah pada cerita individu setiap member yang berusaha membuka diri. Aku senang dan mendapatkan energi untuk memahami perjuangan mereka. Seperti mendapat teman seperjuangan. Ada yang jauh lebih menderita daripada aku. Begitulah yang kurasakan. Sehingga aku menganggap komunitas ini menjadi seperti 'rumah kedua'.

Dibandingkan seseorang yang menganggap komunitas ini sebagai komunitas membaca buku biasa yang tidak punya aturan — hanya karena dia datang untuk menunjukkan berapa banyak judul buku yang dia tuntaskan — aku dan beberapa orang lainnya menganggap semua member adalah keluarga yang mesti dijaga dan dirayakan. Namun, orang ini merusak dengan egonya yang sama sekali tidak menghargai perasaan orang lain. Dia sebut orang-orang sepertiku sebagai orang sensitif yang tantruman hanya karena aku merasa gagal untuk merayakan kepergian salah satu member yang bahkan lebih dulu kukenal.

Seketika aku menarik diri dari komunitas ini. Hanya karena orang ini berada di sana tanpa merasa perlu meminta maaf, sedangkan dia memerintahkan aku untuk meminta maaf secara sopan layaknya pelaku pembunuhan yang akan diliput di berita televisi. Egonya besar sekali, cara bicaranya kasar dan konfrontasinya membuat panitia lain seketika berubah dari bilang A jadi bilang B. Pengaruh yang luar biasa. Sehingga aku manifestasikan sebagai salah satu bentuk pertahanan diri yang bisa ditiru — meskipun salah. Hahahaha. 

Persetan dengan orang ini. Dengan tanpa usaha berlebih aku memilih menyimpan energiku untuk memblokir semua akses dari dia, termasuk akses untuk mengikuti kembali komunitas buku ini. Toh, tanpa mereka aku juga masih bisa baca buku sebebasnya, masih bisa mendengar cerita dari para 'pasien'-ku sambil minum kopi, masih bisa berkumpul dengan orang-orang yang jauh lebih luas dan beragam hobi dan latar belakang ketertarikannya. Bukan cuma kutu buku.

Meskipun harus melepaskan, setidaknya aku punya banyak referensi buku yang menarik dan intensiku untuk membaca buku di tahun ini mendadak berkembang pesat. Tahun lalu aku hanya menyelesaikan 4 buku. Tahun ini saat entri ini ditulis, aku sudah melahap 13 buku. Sebuah apresiasi yang hebat!

2. Pengalaman Kerja Baru

Sekali lagi aku bertanya, apakah aku terlalu menonjol atau mereka hanya gambling untuk menerimaku bergabung di perusahaan mereka? Sebuah perusahaan berkembang yang produktif — yang siapa pun jika menyebutnya akan membawa rasa bangga tersendiri. Tapi ternyata kenyataan di baliknya berbeda sepenuhnya.

Sub-judul kutulis 'pengalaman kerja baru' karena sungguhan baru. Dalam sekitar kurun waktu 8 bulan aku menemukan banyak pengalaman yang bisa menamparku untuk lebih berhati-hati dalam menandatangani dokumen perusahaan yang melibatkan pihak pekerja dan perusahaan. 

Aku boleh saja baru punya satu pengalaman kerja, nyaris 4 tahun lamanya. Di bidang yang sama, yaitu 'marketing'. Secara CV seharusnya sudah menjanjikan. Terlebih di perusahaan sebelumnya aku benar-benar difasilitasi belajar marketing selama bertahun-tahun semenjak wabah Covid melanda. Aku selalu bilang ketika alasan kenapa aku bertahan di perusahaan itu meskipun dengan gaji yang tidak seberapa; "Cuma di sini kita belajar, kita dibayar."

Wow, terdengar seperti maniak belajar. Tapi jujur saja, skill dan pengalamanku bertambah berkali-kali lipat. Aku yang introver, kadang bisa switch mode to extrovert ketika dibutuhkan. Aku yang malu mengawali pembicaraan atau takut pergi kemana pun sendirian mendadak jadi fasih menghadapi semuanya akibat tuntutan pekerjaan.

Jika kubandingkan dengan pekerjaan sekarang, aku juga punya skill dan pengalaman baru yang bahkan bertambah sebelum aku genap bekerja selama satu tahun di sini. Skill dan pengalaman itu adalah skill konfrontasi dan pengalaman mendeteksi perusahaan yang punya system failure. Termasuk politik di dalamnya dengan permainan ala koruptor yang banyak menyembunyikan rahasia. Wow, tentu ini menjadi pengalaman langsung yang berharga. Mengetahui bahwa karakter seseorang bisa 'dibentuk' oleh kekuasaan dan uang.

Demi Tuhan, drama Korea yang aku tonton ternyata terjadi sungguhan di depan mataku. Bodoh jika mereka menganggap aku menerima banyak informasi yang tidak seharusnya keluar. Aku seorang intuitive — yang bahkan jika dicek berkali-kali MBTI-nya akan terus memasang huruf N ketimbang S. Aku bisa 'membaca' orang dan situasi dari intuisi, jadi aku hanya perlu penegasan dengan deklarasi dari yang lain. Kemudian aku akan berkata dalam hati; "Tuh, kan benar!"

Namanya perintis, terdengar luar biasa dalam kurun waktu dua tahun sudah ada sekian outlet dan ratusan karyawan. Ketenaran dan uang barangkali bisa dikantongi dengan mudah. Tapi aku lupa pada fakta barangkali perkembangan pesat yang terjadi bisa saja tidak seimbang dengan pemahaman pemimpinnya kepada managemen tim dan sistem kerja yang sempurna.

Aku yang terbiasa di-nina bobo di perusahaan sebelumnya dengan kelas gratis, buku, seminar untuk menjadi leader dan marketer yang baik mendadak clueless pada job desc pekerjaan sendiri. Belum tahu apa-apa soal sistem internal perusahaan sudah langsung ditodong dengan angka produksi yang mesti keluar besok. WTF? Aku bahkan tidak pernah tahu SOP, KPI dan visi misi perusahaan. Tiba-tiba banget diagungkan materi PPT-nya hanya untuk meningkatkan rasa percaya diri pada posisi tertentu, kemudian dicaci maki dan diteriaki materi PPT yang sama untuk demand semua dapat bekerja sesuai keinginannya. 

Katanya uang bukan masalah. Gaji bisa dibicarakan. Nyatanya, untuk apa gaji bertambah hanya demi bisa menjalankan kapal tanpa navigasi? Membungkam mulut dengan memberi privilige gaji dua digit dan double job? Tidak masalah jika datang terlambat dan tidak ada uang overtime — meski overtime seringkali dikaitkan dengan loyalitas. Kontradiktif sekali.

Apa yang paling lucu adalah kenapa aku bisa-bisanya ditipu dengan sign contract yang jelas-jelas merugikan sebelah pihak. Dokumen kontrak yang 'katanya' adalah peraturan perusahaan(?) dan sama sekali tidak ada copy-an slip gaji. Banyak pelanggaran yang terjadi, tapi belum satu pun yang bertindak untuk melaporkan. Mari bertahan untuk menyaksikan keruntuhan.

Ini pelajaran keduaku di tahun 2024. Intinya, bukan cuma cowo saja yang bisa dilabeli red flag. Perusahaan pun sama. Ngga melulu mereka bagus di branding, internal SDM-nya juga sama bagusnya. No way. Literally big NO. 

3. Kita adalah Manifestasi Masa Lalu

Aku bangga menggunakan kapabilitas intuisiku untuk mendeteksi orang dan lingkungan sekitar. Terlebih ketika aku bisa meraih mereka dan membuktikan intuisiku benar. Di tahun 2024, aku banyak sekali menjadi destinasi bagi beberapa orang yang membutuhkan pertolongan. Minimal validasi, lebih lagi kalau bisa solusi. Mulai dari yang perkara pacarnya, perkara pendidikannya, perkara orang tuanya, perkara saudaranya, perkara finansialnya, sampai perkara rumah tangganya. 

Aku sempat mikir; "Buset, ini kalo aku pasang tarif sepertinya lumayan."

Aku juga kurang tahu dapat kekuatan dari mana menjadi salah satu tempat ternyaman mereka untuk menceritakan hal-hal sekrusial itu. Dibandingkan dibuat sibuk oleh pekerjaan— yang mana mungkin sibuk, untuk realisasiin satu project aja alurnya lama banget— aku lebih sibuk keluar dan menjadi 'psikolog' amatir mereka.

Mereka akan selalu memulainya dengan "Kamu sibuk ngga?" untuk yang bisa bertemu tatap muka atau "Aku boleh telepon?" untuk yang jaraknya jauh. Aku selalu mengedepankan mereka, bahkan mengorbankan kebutuhan pekerjaan sendiri demi bisa memenuhi ruang kebutuhan mereka. Jika hal yang kulakukan sama seperti seorang hero menolong civilian, barangkali aku sudah masuk ke daftar Avengers, hahahahaha.

Karena penasaran, aku mencoba mengambil beberapa review dari mereka soal kenapa mereka mempercayaiku untuk mendengar cerita seberat dan serumit itu? Mereka bilang; "Karena aku tau dari awal kamu ngga judgmental." Ada pula yang bilang; "Kamu pendengar yang baik, aku ngerasa aman."

Apakah aku terbang? JELAS. Daripada orang-orang yang cuma bisa konfrontasi tanpa bisa memahami emosi orang— seperti menyebutnya oversensitive dan enggan meminta maaf— aku bangga menjadi orang yang ada dan dipercaya kapabilitasnya sebagai individu yang memikul bersama beban mereka. Karena why not? 

Orang sialan itu sempat mempertanyakan aku kenapa aku 'memvillainized' diri sendiri? Apakah untuk terlihat lebih dominan dan overpower? Aku berpikir dalam dan kemudian mengiyakan, tentu saja aku perlu terlihat dominan untuk bisa dilihat potensi dan kapabilitasnya since I couldn't offer both of visual and wealth? Dan ternyata, aku justru menjadi lebih kuat dan solid ketika ada orang yang membutuhkanku. Bukan karena ingin dominasi, lebih ke rasa bahagia ketika kamu berhasil membantu orang lain.

Tahu kan bagaimana perasaan itu? Seperti lega dan bangga.

Tidak cuma dari pihak-pihak baik saja. Aku juga menilai orang-orang 'jahat' (di hidupku) melalui intuisi dan ceritanya secara langsung. Aku memahami benar bahwa setiap perilaku mereka adalah manifestasi masa lalu yang barangkali 'menyangkut' dan belum selesai. Sehingga menciptakan karakter yang demikian. Jadi semisal perempuan gila itu memelototiku dengan matanya, berteriak dengan suara keras yang bising, aku tahu itu adalah manifestasi bahwa di rumah, dia adalah orang yang diperlakukan sama. 

Dari korban, menjadi pelaku. Selalu begitu, bukan?

Hal ini juga terjadi padaku yang ternyata punya konklusi setelah berkonsultasi dengan psikolog. Manifestasi sikap dan reaksiku yang cukup private (atau sederhananya dicap cuek), serta bagaimana aku berusaha ada di setiap kesulitan temanku untuk mendengarkan cerita mereka dan membantu mencarikan solusi. Nyatanya, itu adalah manifestasi karena selama ini aku jarang dan nyaris tidak pernah didengarkan. Komunikasiku minim sekali sejak kecil, sehingga itu juga menyebabkan aku kesulitan berkomunikasi dalam sistem profesional.

Jadi, jika pemimpin perusahaanku (aku malas menyebutnya bos atau direktur— karena aku pun tidak tahu dia memosisikan diri jadi apa) bersikap grasak grusuk tanpa planning, suka men-delay dan sekaligus menuntut semua terjadi sesuai deadline, serta punya penyakit trust issues yang parah— sampai membatasi akses pada data, sampai membeli jabatan orang hanya untuk menguntit— tentu saja aku paham. Paham betul bahwa itu semua manifestasi bahwa dia tidak pernah dipercaya di masa lalu. Atau boleh kukatakan secara kasar 'kamu tidak punya apa-apa untuk ditawarkan dan dibanggakan, sehingga orang-orang tidak mempercayaimu'.

Tidak apa-apa, aku paham.

4. Bakat yang Masih Belum Hilang






5. Aku dan Bapak

Di poin ketiga aku bilang kan bahwa relasi dan komunikasiku dengan keluarga minim sekali. Aku jarang didengarkan— atau memang terbiasa memendam akibat suatu hal. Sehingga aku sama sekali tidak punya hubungan romantis dan intim dengan keluarga, terutama kepada orang tuaku sendiri.

September menjadi titik balik untukku, ketika bapak salah satu teman terbaikku menghembuskan napas terakhirnya di hari Jumat akibat sakit. Beberapa hari setelah temanku ini ulang tahun. Beberapa minggu dan bulan sebelumnya aku melihat stories dia yang sedang merawat bapaknya, meminta doa kepada rekan terdekat. Ketika satu story-nya muncul dan memperlihatkan kepergian bapaknya, aku ikutan kalap.

Masalahnya, aku tidak berada di sana, tidak bisa menenangkannya. Aku berusaha meraihnya di DM, dia sebut butuh waktu paling tidak satu minggu. Dan ketika aku punya kesempatan untuk menemuinya secara langsung, aku bersemangat untuk menyewa jasa ojek online demi bisa menemuinya di sebuah cafe.

Dia bercerita detail tentang kronologi perawatan bapaknya. Betapa sayangnya dia pada bapaknya. Sesabar itu dia merawat dan mengabaikan kewajibannya sebagai seorang dewasa yang perlu bekerja. Menukarnya dengan barang termahal— yaitu waktu bersama bapak. Aku senang sekali mendengar banyak orang yang peduli terhadap bapaknya. Bahkan setelah bapaknya tiada, orang-orang tetap menghormati beliau.

Aku sempat mengatakan bahwa aku ingin kematian yang tenang di hari Jumat seperti bapaknya. Untuk siapapun. Agar tidak lagi menderita atau merasakan sesuatu yang mengenaskan. Kedamaian itu terkadang membuatku berharap. Dan tentu, kesabaran dan keteguhan temanku membuatku iri, sebab aku bukan anak yang demikian.

Dan benar saja.

Dua minggu yang lalu saat sebelum entri ini ditulis, ibuku menggedor pintu kamar selepas subuh. Bilang bahwa bapakku kecelakaan. Kebiasaan bapakku yang kemana-mana tidak pernah bawa ponsel membuat aku jengkel setengah mati. Telepon itu datang dari orang yang kenal bapak dan ibuku. Dengan muka pucat dan sama-sama takut, aku berangkat bersama ibu menyusul bapak. Bayangkan, hanya melihat motorku rusak parah, aku tidak tahu separah apa kecelakaan itu terjadi. Pecahan kaca di jalan, puing-puing mobil berserakan. Aku menutup mulut. Bingung mesti bereaksi apa.

Aku mengambil ponsel, mengabadikan TKP. Bukan sebagai orang pansos yang minta dikasihani, bukan pula untuk bukti dan menemukan pelaku. Tapi hanya sebagai bukti aku tidak mungkin bisa berangkat kerja dengan kondisi bapakku yang seperti ini. Hanya untuk membuktikan ke atasan bahwa kejadian ini nyata adanya. Sialan. Pekerjaanku bahkan tidak berhak mendapatkan kehadiran seorang karyawan yang sedang tertimpa musibah. Tapi aku masih saja merepotkan diri untuk meminta izin dan meminta maaf.

Ketika suara ambulan dari kejauhan terdengar, aku semakin panik lagi. Ini seperti di drama Korea atau film-film. Aku belum pernah merasakan ini seumur hidup. Aku tidak pernah melihat orang yang kukenal secara langsung dibopong masuk ke ambulan. Aku duduk di sebelahnya, memegang tangan bapakku sambil menyebut; "Sabar, Pak."

Suara nguing nguing ambulan memecah pagi hari. Bahkan matahari belum muncul. Aku kelabakan sendiri memfoto sana sini. Sumpah, ini pengalaman yang mesti kuabadikan dalam momen tahun 2024, kali pertama dalam seluruh hidupku. Dan tentu, aku berhasil mengabadikannya di entri blog ini. Pengalaman yang sama sekali tidak mau kurasakan kembali. Meski ujung-ujungnya tetap saja, foto yang kuambil di ambulan juga sebagai salah satu bukti aku izin tidak bekerja.

Aku melihat bapakku dibawa oleh perawat di atas kasur beroda— yang entah apa namanya— menuju ke IGD. Dipasang selang infus, selang oksigen dan pendeteksi denyut nadi. Astaga, Demi Tuhan, kalau bisa ditukar, mending aku saja yang begitu, aku saja yang terbaring di sana. Jangan bapakku. Setidaknya bapak tidak kesakitan di usianya yang sudah sepuh dan aku punya alasan kuat untuk absen dari kantor sialan itu— ngga papa meskipun sakit jadi taruhannya.

Aku langsung teringat dan membandingkan kapabilitasku dengan temanku itu. Bagaimana dia bisa menemani bapaknya di atas ranjang rumah sakit. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menertawakan bapakku yang mengeluh kesakitan. Masalahnya, aku berani taruhan kalau aku yang merasakan di posisi bapak, ego dan rasa maluku jauh lebih tinggi daripada bapak. Bapak mah bodo amat dilihat perawat dan dokter mengeluh kesakitan. Kalau aku di posisi bapak, aku mungkin sudah mati-matian menahan rasa sakitnya agar tidak disebut lebay. Hahahaha. 

Hal terberatnya adalah, ketika ibu datang menyusul dan langsung mengantar bapak cek rontgen, HP ibuku berkali-kali berdering. Deretan nama yang kukenal tapi lupa bergantian menelepon, bertanya kondisi bapak. Aku heran, seberapa banyak relasi bapak dan ibu sampai berita ini cepat menyebar. Bahkan itu baru dua jam setelah kejadian. Aku sungguh capek harus menganggkat satu persatu telepon dan mejelaskan berulang kali kronologi kecelakaan bapakku.

Tuhan masih sayang bapak. Bapak ngga papa dan boleh pulang. Tapi rasa takut dan amarahku masih terpendam dalam. Seperti aku ingin menuntut dan mengujarkan umpatan atau pukulan terhadap pelaku. Entah apakah jenis seperti ini adalah bentuk rasa sayangku kepada bapak? Ataukah menertawakannya yang mengeluh kesakitan juga jadi salah satunya?

Hari-hari dimana berita bapak kecelakaan menyebar cepat. Selama lebih dari seminggu, setiap hari, orang-orang datang bergantian menyambangi bapak di rumah. Orang yang tidak pernah tahu rumahku pun datang. Orang yang rumahnya berjarak 40 menit dari rumahku pun datang. Orang yang sibuk bekerja pun menyempatkan datang. Bahkan ada yang datang dua kali. Semuanya membawa bingkisan, buah, roti, susu, vitamin dan masih banyak lagi.

Apa yang hebat, kakak bapakku, keluarganya dari kampung menempuh perjalan ratusan kilometer untuk bisa datang 'menjenguk' adiknya. Dan yang paling lucu adalah, ibu-ibu pengajian kenalan ibuku yang biasanya berkumpul untuk arisan atau pengajian pada hari itu justru berkumpul hanya untuk menjenguk bapakku. Aku (juga ibu dan keluarga bapakku dari kampung) kaget melihat belasan ibu-ibu muncul di rumah, bukan untuk arisan atau pengajian. Antara mau ketawa atau nangis. Introverku meraung-raung nyaris setiap hari. Wow. Hanya bisa kusebut wow. 

Aku bingung mentranslate-kan perasaanku. Aku senang sekali ada banyak orang yang peduli pada bapak. Bapakku orang baik. Buktinya bapak menjaga keluargaku utuh. Bapakku masih diberikan kesehatan. Bapakku masih dikenal orang-orang. Kalau tidak, mana mungkin ada yang mengabari ibuku bapakku kecelakaan dan sampai repot-repot mau ikut olah TKP dan mencari kontak pelaku kecelakaan?

Namun di lain sisi aku teringat, bagaimana nanti jika suatu hari bapak mendahuluiku? Apakah aku perlu jeda lebih lama seperti temanku untuk bisa menemani dan menjelaskan kronologinya berulang kali? Melelahkan sepertinya. Maka, aku memutuskan tidak mau mengalami hal itu. Sama sekali.

Jika bisa dibalik, dari kisah terakhir ini, pelajaran yang kuambil bukan 'bagaimana aku harus memperlakukan bapak ibuku secara baik selama mereka masih ada'. Tapi justru rasa penasaran, jika nanti aku pergi terlebih dahulu, siapa yang akan datang? Apakah teman dan relasiku akan sebanyak itu bergantian datang? Kurasa yang datang justru lebih banyak dari relasi ibu dan bapakku. Aku tidak punya siapa-siapa dan seandainya punya pun aku tidak mau repot berbasa-basi demi menjaga relasi. Kind of weird.

Oh, ya satu lagi. Salah satu tamu yang datang sempat datang menjenguk bapak berujar begini; "Kalau orangnya rajin ke masjid, pasti banyak yang kenal dan peduli."

Hatiku langsung terketuk. Bagaimana dengan aku jika nanti aku mati?

Share:

Monday, October 28, 2024

Entri Ini Sebaiknya Ngga Dibaca

 Dua bulan tersisa sampai tahun 2024 mengakhiri masa abdinya. Sebuah tahun yang tidak banyak punya arti buatku kecuali 'dapat pekerjaan'. Sudah. Itu saja yang sepertinya spesial. Aku mengikuti interview pertama, kemudian langsung lolos. Berada di sebuah perusahaan yang terbilang cukup baru dan penuh adaptasi pada banyak tren. Terjun bebas pada bidang kreatif yang tidak punya batasan. Sehingga semuanya terasa sulit dibatasi. Rasanya selalu kurang ini, kurang itu. Blablabla.

Tahun 2024 juga menjadi tahun pertama kalinya aku menangis di depan umum. Anxiety sialan itu kambuh tidak tahu tempat. Padahal cuma rasa khawatir doang, tapi bikin mual setiap pagi, pusing ngga karuan. Sulit tidur dan ngga nafsu makan. Aku belum benar-benar menimbang lagi berat badanku. Mungkin sudah berkurang dari angka terakhir yang kulihat di awal tahun. 

Aku lanjut minum fluoxtine, berdampingan langsung dengan clobazam. Dosisnya ngga turun-turun dari tahun lalu. Tapi aku ngga bohong soal mereka sungguhan bekerja keras lebih keras daripada karyawan satu office yang kutemui. Mereka mana mungkin bisa membuatku nyaman dan aman. Fluoxtine dan clobazam does their part so damn well. Lucunya, kombinasi kedua obat ini ngga ada efek apapun kalau coba aku satukan dengan kafein.

Dibandingkan tahun sebelumnya yang penuh naik turun, aku cenderung mati rasa di tahun ini. Padahal kalau aku bisa urutkan, ada banyak kebaikan yang bahkan belum pernah aku terima dari tahun sebelumnya. Tapi aku memang kurang bersyukur, jadinya terasa flat. Rumah baru. Pekerjaan baru. Teman baru. Kesempatan baru. Kalau aku mau, bisa saja aku menulis sepuluh ribu kalimat pada entri ini soal kebaikan-kebaikan itu. Nyatanya? Aku terlalu malas.

Mungkin aku akan mengungkapkan apa saja yang terjadi di 2024 dan membuatku menjadi lebih memahami bagaimana dunia bekerja. Sepertinya itu bukan pembahasan yang membosankan.

Baiklah. Akan aku mulai dari pekerjaan.

Seperti yang kusebutkan di awal, aku terlalu hoki bisa menerima invitation interview pertama dan langsung diterima tanpa perlu interview ke tempat lain lagi (sebenarnya ada 2 lainnya, tapi aku tidak tertarik juga). Ibaratnya langsung klop. Aku dengan ekspektasi pengembangan karir, mereka dengan ekspektasi pengalaman tiga tahunku di bidang kreatif marketing.

Tapi lucunya, kami berdua sama-sama bertolak belakang. Seperti Tom and Jerry yang berkelahi jika bertemu, namun akan saling merindukan jika berjauhan. Aku lupa pada fakta perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan baru berusia dua tahun, settlement bukan bagian dari mereka. Aku terlibat banyak oleh trial and error dengan segudang ketidakpastian. Aku tidak bisa membedakan mana identitas brand atau identitas pemilik. Sebagai karyawan medioker, aku masih bersusah payah berenang dalam lautan ketidakpastian mau dibawa kemana sebenarnya perusahaan ini. 

Mereka pun sama kalapnya. Tiga tahun masa abdiku di bidang itu memang barangkali menandakan aku punya skill. Tapi mereka terlalu terburu-buru. Mereka tidak punya banyak waktu dan pertimbangan untuk menelaah sisi diriku yang lain. Aku adalah sosok yang pernah terluka tanpa sengaja, tengah berusaha melawan trauma yang tidak diketahui asal muasalnya. Ketika mereka berekspektasi aku bisa menahan pressure yang katanya serba 'fast pace', mereka melihat sosok sakitku. Sosok lemah dan kambuhan yang seperti baiknya tidur saja di ranjang Rumah Sakit Jiwa.

Pelajaran yang kudapat dari sini adalah sesederhana; I'm worth to millions. Aku tidak bisa hanya iya-iya saja, hanya oke, noted, baik, siap. Aku perlu membeberkan apa yang ada di kepala, soal apapun yang secara perspektifku barangkali akan menjadi cermin atau pertimbangan mereka. Belajar dari temanku Si Debater, aku seorang Mediator mulai memahami pola-pola ini. System failure is really exist, nearer than our breath. Caranya adalah, lawan, negosiasi atau tinggalkan. 

Kedua, hal ini jauh lebih lucu. Trauma masing-masing orang itu sungguhan lucu. Seperti komedi yang bisa ditampilkan per episode dan ditunggu setiap minggunya. Kebetulan aku terlibat dalam komedi ini, yang mana aku seorang paling mengabaikan dan menghindari pertikaian ditarik kerah bajunya oleh seseorang yang butuh komunikasi, kejelasan dan familiar dengan konfrontasi. Jika pertikaian fisik dibolehkan, dengan tubuh yang jauh lebih besar aku bisa saja menendang badan munglinya dengan keras. Menampar wajah yang bertengger dua mata melotot itu dengan tanganku sampai memerah.

Beruntung sebelumnya aku sempat mengobrol dan tahu sedikit banyak tentang latar belakang karakter gila itu terbentuk. Jadi, aku memaklumi dengan sangat bahwa konfrontasi dan 'marah-marah' memang sarapan dan makan malam hariannya. Aku sempat menyarankannya bertemu psikolog atau psikiater, tapi dia menolak karena bersikukuh pada pendirian 'dia masih normal'. Aku pun agak bingung, normal yang dimaksud apakah saat dia berada di tengah keluarganya yang serba marah-marah itu?

Dan aku pun sama saja. Minim komunikasi dari kecil ternyata tidak secara sadar membawaku pada sosok yang tertutup dan menghindari penyelesaian. Aku benci pertikaian jauh lebih daripada aku harus melakukan apa-apa sendiri. Aku akan cenderung mengalah dan terlihat lemah. Tapi menurutku, itu satu-satunya coping mechanism yang bisa kulewati untuk keep my sanity fine. Takutnya, aku sungguhan bisa membunuh.

Aku terlalu banyak memendam. Terlaluuuuuu banyak. Tak terhitung jumlahnya. Aku takut meledak di salah satu kondisi dan kutembak kepalanya like Joker does. Jadi, aku akan memilih hengkang dan dicap sebagai pengecut.

Apa yang lucu di bagian ini juga terlihat dari satu dua orang yang berusaha terlibat tapi tidak menghasilkan apa-apa. Trauma masa lalu mereka yang kudengar secara suka rela dari mulut mereka sendiri membuatku menarik kesimpulan, suara patah-patahnya, jemari yang gemetar, mata yang sulit fokus, hey, kamu sungguhan tidak apa-apa untuk terlihat kuat di chat dan sangat butuh bantuan saat hadir secara jasad? 

Kamu yang berusaha netral dan memvalidasi perasaan hampir setiap orang, terlalu lemah untuk mengambil keputusan, pada akhirnya kalah telak oleh dominasi orang yang derajatnya bahkan jauh berada di bawah kakimu. Kenapa? Apakah kamu takut pada mata membeliaknya yang seperti barong itu? Hey, percayalah kalian sama-sama punya trauma, aku pun sama. Kehidupan kita belum selesai. Wajar kalau kamu tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Tapi ini pun jadi pelajaran buatku bahwa semua orang adalah manifestasi trauma masa lalunya. Termasuk aku. Hahahaha.

Beralih yang ketiga, mungkin agak melompat karena ini terjadi baru kemarin. Sejauh ini aku berdampingan erat dengan masalah mental yang mengganggu fungsiku sebagai manusia normal. Dan pada akhirnya aku coba bagikan ceritaku secara utuh (yeay akhirnya David sungguhan bertemu profesional). Aku memperkenalkan David kepada seorang psikolog. Bagaimana aku menghidupkannya dan secara fasih membuat dunianya. Btw, tanggal 31 ini David ulang tahun. Happy birthday David! Dan Noah Sebastian! Uhuy!

Ketika ditarik ke belakang, ujung-ujungnya aku adalah manifestasi dari kurangnya komunikasi di internal keluarga. Gila aja. Keluargaku utuh, sempurna, bahagia. Tidak ada KDRT. Tidak hidup terpisah. Masih bisa makan. Bisa berpakaian. Bisa berpegian. Aku punya fasilitas. Aku punya tempat pulang. Aku punya dukungan. Tapi apa kata psikolog itu? Keluarga utuh bukan satu-satunya jaminan bahwa aku bisa hidup secara normal?

Wah, ada kurang adilnya di sini. Mari bicarakan temanku yang saat ini hidup satu keluarganya terpisah karena kesibukan masing-masing. Tidak pernah ada bonding yang mengikat seperti halnya aku yang setiap hari masih bisa melihat kedua orang tuaku. Tapi dia normal. Dia tidak menderita penyakit mental apapun. Dia kuat dan beraktivitas seperti orang lainnya secara fasih dan kuat. Bahkan dia sempat berujar "Aku iri dengan hidupmu, orang tuamu." tanpa dia sadari bahwa keduanya adalah manifestasi jangka panjang aku yang begini. Aku dengan David. 

Psikolog mahal. Mahal banget njir. Aku agak kapok menghabiskan uang sebanyak itu untuk satu buah konsultasi. Masalahnya, ketika aku mengandalkan meja Indomaret, yang jadi psikolog justru aku. Aku menampung cerita mereka dan bisa mengambil posisi untuk memvalidasi, menguatkan atau bahkan memberikan solusi (ada kafein akan lebih efektif).

Tapi setidaknya dengan kesempatan bertemu psikolog pertama kalinya seumur hidup aku jadi tahu, bahwa aku yang berusia 27 tahun ini adalah hasil dari aku yang berusia 10 tahun, 16 tahun. Dan aku mesti menyelesaikannya segera sebelum aku benar-benar berusia 30 nanti. Aku tidak mau anakku dibesarkan oleh orang tua yang belum selesai dengan dirinya, dengan masa lalunya. Mengerikan.

Dan yah, jika dibandingkan tahun 2023, aku masih punya teman nongkrong sepulang kerja yang asyik karena pekerjaan sebelumnya memang tidak seserius sekarang. Driver sampai orang gudang pun bisa jadi sangat dekat denganku, kita bolak-balik Denpasar-Singaraja rutin dan tidak menganggap itu pekerjaan overtime karena dilakukan dengan suka cita.

Kalo sekarang? Bisa pulang aja syukur. Keluarnya juga masih bahas ngga jauh-jauh soal kerjaan. Bisa-bisanya di kontrak kerja dateng jam 8 pagi dan masih ada yang setengah 9 baru absen. What the fuck? Giliran pulang on time jam 4 teng, dibahas terus ngga kelar kelar hinaannya. Funny how you try to playing about time with the most on time human ever existed? Mau ada acara selingan pun nol besar. Nonsense. Aku mostly keluar untuk baca dan nulis sendiri di cafe, sekalinya ada tandem itu pun untuk buka sesi konsultasi. HAHAHAHAHA.

Tahun lalu aku juga masih sempat dekat dengan beberapa 'cowo' yang ujung-ujungnya juga menyerah dengan sifat dinginku. Kalah dingin mungkin dan aku suka sekali melihat they're falling together for no further hope. Aku sampai datang mengunjungi tempat kerja salah satunya yang jauh di Jimbaran hanya untuk mengejutkan "Sureprise Motherfucker!" dan menagih utang yang tidak pernah ia sanggup bayar lunas. Dasar cowo ngga modal. Sudah pendek, ngga beriman, sok iye, suka ngutang. Kalo bagian begini, sifat dinginku barangkali bisa mengalahkan "dingin tetapi tidak kejam"-nya Alucard.

Tahun ini aku kebanyakan melihat orang-orang di sekitarku bersama istri, suami, anak, menikah, pacaran, blablablabla. Sedangkan aku tahun ini sungguhan lagi ngga suka sama siapa-siapa dan ngga ada yang juga suka sama aku. Bisa-bisanya ada temanku yang lama ngga ketemu, sekalinya ngajak ketemu untuk bahas pacar dan cowo yang lagi deketin dia. Kubukalah lagi sesi konsultasiku (plus kafein dari Aren Oat Latte), memberi saran yang auto dikerjakan. It seems work on her. Setahun cuma ketemu dua kali, ketemuan pertama berita soal CV yang kubuat untuk dia berhasil ngebuat dia keterima kerja dan aku pun keterima kerja di bulan yang sama, pertemuan kedua ya soal cowo yang lagi deketin dia. Udah, abis itu she no bother me with another meet.

Ada juga cowo rese yang unconscious 'melecehkan' cewe samar-samar, ngga cuma satu. Aku sampai tampar mukanya dengan kalimat panjang ala psikolog sesat yang lebih banyak caci maki daripada ngasih solusi (ditemani kafein dari Caffe Mocha juga kebetulan). Gila aja dia obsesive ngga sehat ke cewe orang. Perlu dijedotin kepalanya berkali-kali sampai dia sadar, dunia ngga cuma berputar buat dia doang. Perkara ngga ada yang mau terima tawaran menu makan siangnya aja ngga berarti orang lain ngejauh dan benci dia. Kukira aku paling melankolis, ternyata masih ada jauh yang udah over dan ngga ketolong. Grow up please.

Tapi man of the show nya adalah dua orang XXTJ yang kebetulan sama-sama muncul di tahun ini. Rese, sumpah. Paling iye soal data, padahal nol. Nir empati, udah teriak-teriak ngga jelas, nada bicara kayak lagi seriosa, masih ngga sadar letak kesalahannya. Pernah minta maaf? Sama sekali ngga. Sok-sok an nutup identitas diri biar ga bisa dijatuhin orang lain, padahal diri mereka yang ngejatuhin diri sendiri dengan sifat ekstrimnya.

Kalo yang satu sih masih bisa diajak kerjasama, aku masih punya benteng besar yang bisa kujadiin tempat sembunyi. Mungkin bisa agak luwes, atau aku konfrontasi langsung karena posisinya cukup mengunci dia untuk bertindak overreacting. Nah, yang satu ini, orang biasa, modal nolep dan backingan doang. Jadi kalo mau overreacting over everything dia mah kayak nothing to lose. Kan orang-orang taunya dia capable. Yah, ngga ngurusin juga orang yang ini. Fluoxtine ngga mempan sama dia, lihat mukanya bikin mual. Bukan mual takut, lebih ke mual yang ewwww what the fucking fuck?

Udahlah itu aja recent update kehidupan Radiva yang begini begini aja. Flat banget broh 2024 kayak ngga ada yang terjadi. Mana sisa lagi dua bulan. Satu-satunya yang bisa bikin aku puas adalah hmmmmm bisa solo trip lagi kali ya kayak awal tahun hahahahaha.


Share:

Thursday, July 4, 2024

Hidup Ini Aneh, Kapal Ini Lebih Aneh Lagi

 Apa kabar 2024?

Enam bulan sudah berlalu, sejak terakhir kali aku menghabiskan waktu terlepas dari rentetan rasa takut yang tidak beralasan. Enam bulan berlalu dari terakhir kali aku mulai beranikan diri mengabaikan keharusan mendatangi meja psikiatri. Dan enam bulan berlalu dari perasaan sedikit tenang, rasa hidup nyaris secara utuh sebagai manusia.

Nyatanya, di usia menginjak 27 aku tidak lagi menemukan esensi kemanusiaan yang bahkan sedikit saja bisa membuatku waras. Aku nyaris gila dengan perasaan kosong yang menguasai diriku. Hampa. Hitam. Gelap. Pekat. Aku tidak punya perasaan apapun selain rasa takut pada apa yang akan terjadi. Pada segala sesuatunya yang bahkan belum terjadi.

Pertama, sahabatku pergi. Aku tidak sedih atau merasa kehilangan. Ya sudah, mungkin ini salah satu kesempatan bagi kami masing-masing. Dia dengan karir barunya. Aku dengan tantangan baruku. Usia kami sama, jalan cerita kehidupan kami pun nyaris sama. Apapun tentang kami selalu bersinggungan. Dan entah, seharusnya aku merasa kehilangan. Tapi sama sekali tidak ada apapun yang bisa membuatku merasakan perasaan tersebut. Kesepian. Kesedihan. Kehilangan. Sudah lama terhapus dari kamusku. Termasuk dalam kasus kepergiannya.

Kedua, aku tidak tahu apa yang diekspektasikan orang lain padaku? Aku jelas tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Dan tidak bisa tegas pada keinginanku sendiri. Aku terlalu mencari aman dengan mengikuti alur. Ketika alurnya memaksaku untuk terjun bebas pada tanggung jawab yang lebih mengerikan, dari sisi pikiranku yang mana aku sampai mengiyakan? Rasanya bukan aku yang menjawabnya. Aku berhadapan pada deskripsi jelas dari nominal tinggi yang ditawarkan, yaitu pada tanggung jawab dan pressure berkali kali lipat.

Ini topik utamanya. 

Mungkin benar, ada harga ada kualitas. Ada hak ada kewajiban. Dan tentu apa yang terjadi padaku bukan hal-hal manis yang sempat aku ekspektasikan di awal. Ini lebih dari apa yang pernah aku bayangkan. Lebih buruk maksudnya. Dan biarlah perkataan soal manusia tidak bisa pernah puas itu benar adanya.

Mengapa? Karena ketika aku mengharap yang lebih muda, berekspektasi lebih dapat dimengerti, lebih banyak ide yang selaras, lebih dapat dibantu dan diayomi, nyatanya tidak semua yang muda dapat menutup ekspektasi itu. Culture ya. Personality. Ini benar-benar menjadi faktor utama aku mendapatkan literal culture shock.

Diayomi? Tidak ada posisi yang bisa memenuhi pengharapanku itu. Ini sesederhana perintah dan tanggung jawab. Bukan saran dan pelaksanaan. Mendadak aku rindu pada orang yang dulu aku maki karena egonya. Setidaknya dia bukan hanya memerintah, namun juga mencarikan solusi dan jalan keluar.

Aku yang selama bertahun-tahun dibuai pada kondisi demikian, saat ini benar-benar harus berdiri di kaki sendiri. Mengikat tali sepatu, dan berlari sekencangnya untuk dapat menyamai semua hal yang berkelibat dengan cepat di depan mataku. Masalahnya, tidak ada 'pembelajaran'. Aku perlu sendiri mengamati dan meniru dengan cepat. Sialnya, banyak hal baru di luar kuasaku yang datang bagai air bah. Menakutkan.

Fisikku mungkin tampak baik. Namun mentalku kembali berantakan. Pasalnya, aku tidak lagi mencari bantuan pada antidepresan. Sekalinya aku takut dan cemas, semua mendadak melelahkan. Aku ketakutan berlebihan. Padahal sejatinya hal hal tidak akan semenakutkan itu.

Aku takut ide-ide yang pernah dipuji oleh orang itu (yang kumaki habis-habisan sebelumnya) terasa sia-sia sekarang. Aku ingin bergerak maju, dan terus saja dipukul mundur ke belakang. Semua ideku terbuang seolah percuma. Seperti otak ini ada baiknya diremukkan saja bersama tumpukan mobil bekas. 

Aku takut hal-hal unfamiliar seperti yang tidak berkaitan dengan passion-ku malah menyulitkan aku ke depan. Mendadak mimpi-mimpi soal masa depan dan karir yang kubangun secara kurang ajar di kelas gratis RevoU sirna terhapus tak berguna. Seperti... untuk apa kamu berpikir jauh ke depan? Berangan karirku setidaknya akan cemerlang? Kehidupanku akan sempurna? 

Kecemasan itu malah masih bertengger di sana. Melemahkanku. 

Dan ya, aku berada di suasana mencekam yang apapun serba tertutup dan tidak transparan. 

Persis seperti di labirin yang membatasi ruang gerakku. Belum bertindak pun aku keburu takut. Takut pada kegagalan yang bahkan tidak bepotensi terjadi jika kepalaku menghadap ke depan dan pundakku tegak. Aku keburu loyo. Keburu lesu. Usia yang nyaris sama tidak bisa menjamin aku mendapatkan kesempatan untuk membagi pola pikir yang sama.

Aku tertekan pada batasan ini, batasan itu. Kecemasanku menjadi-jadi.

Barangkali aku mesti ke psikiater lagi.

Dan ya, mau tidak mau aku harus kembali menghidupkan dunia alter egoku. Aku perlu melarikan diri barang sejenak, setiap harinya dari dunia fana menyebalkan ini, untuk dapat menyambut David, Nathan dan semua karakter lain dari dunia sebelah. 

Aku harus secara cerdas dan kreatif membangkitkan mereka kembali dengan bentuk kehidupan lain yang barangkali masih tetap sama menyesakkannya.

Dan selain Dokter Widya, aku semestinya perlu mengadu pada Tuhan. Ini keterlaluan. Rasa takut dan cemas ini sungguh keterlaluan. Aku menghadapi semuanya serba sendirian. Aku bekerja dan gajiku tidak membuatku bahagia. Aku beraktivitas dan saat tidur aku tidak merasakan esensi beristirahat. Aku tidak makan dan aku tidak sedikit pun merasa kelaparan. Aku menjabat kesempatan baru dan sama sekali tidak setitik pun membuatku merasa bangga.

Aku mati rasa. Mati. Yang benar-benar sungguhan mati. Aku ini hanya mayat hidup yang kebetulan masih punya cadangan nyawa tidak berfungsi. Perasaanku tidak pernah bahagia, sedih, kecewa, puas atau illfeel. Aku hanya punya rasa cemas dan takut.

Aku tidak tahu fungsi hidupku apa. Padahal aku tidak clubbing, tidak merokok atau minum, tidak narkoba, tidak seks bebas, tidak pacaran, tidak hura-hura. Hidupku normal dan stagnan. Tapi tetap, aku tidak punya tujuan hidup.

Mati pun saat ini kuyakini bukan opsi semenggoda sebelumnya. Tapi kehidupanku sudah tidak bisa dimaknai lagi.

Satu hal pasti yang mendeteksi kenapa mati rasaku sudah sampai level tertinggi adalah ketika aku tidak terlalu peduli orang lain menilaiku. Aku lah yang menilai diriku sendiri. Dan aku terlalu malas berfungsi menjadi manusia yang mau tidak mau harus terlibat dengan penilaian orang lain terhadapku.

Seperti sekarang. Di posisiku yang sekarang. Aku yakin banyak yang menilaiku. Aku tidak peduli dengan penilaian mereka sejujurnya. Aku lebih peduli pada diriku sendiri, seperti kemampuan adaptasi yang selama ini selalu kuelukan akan tetap sesuai mengikuti lingkungan sekitarku. Namun sepertinya kemampuan itu perlahan sirna di lingkungan dan culture yang sekarang.

Bagaimana ya, rasanya aku hanya seperti 'menebeng' di rumah orang. Cuma menumpang di kapal milik orang asing yang secara waktu dan kebudayaan jauh berbeda denganku. Kapan saja aku bisa melompat atau ditendang dari kapal ini. Selama arahku tidak sama atau keinginanku sedikit berbeda.

Menegerikan. Sungguh. Aku ketakutan setengah mati.




Share:

Monday, March 25, 2024

Sebuah Halaman yang Kutujukan untuk Rasa Muak

 Maret nyaris berakhir. Sejauh ini, level mati rasa yang hadir bukan lagi sesuatu yang bisa diremehkan. Aku mahir merasa muak, namun bersamaan dengan ituaku juga mahir mengabaikan. Konsistensiku pada hal-hal yang aku dengungkan di awal tahun, setidaknya jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Ibaratnya, ketika tahun 2023 rasa rutinku dalam membaca buku hanya bertahan sampai tiga bulan pertamasaat ini, jumlah buku yang kulahap menyamai dengan seluruh buku selama satu tahun di tahun 2023. Alasannya? Kehidupanku lebih terstruktur dan rutin. Berbeda jauh dari khasnya seorang perceiver yang terdiktat dalam INFP.

Jauh daripada itu, rasa-rasa takut dan muak terus mengguyur bak air bah. Silih berganti datang secara bergiliran seperti pekerja shift delapan jam. Pagi muak, siang terasa tak terjadi apa-apa. Atau bisa sebaliknya. Pagi biasa-biasa saja, siangnya berubah jadi muak. Pengamatan kepada inner-self kemudian melemparku pada kenyataan potensi HSP yang tersistem dalam diri. Dan di sinilah aku mengalokasikan satu halaman untuk mengkultuskan rasa muak dari seorang HSP dan INFP yang tak bosan aku kotakkan dalam kepribadian.

Mereka yang Mendengung Dosa


Aku dapat mengklaim diriku adalah potensi besar pendosa. Setidaknya, dengan nilai-nilai hidup dan agama yang diperkenalkan, aku mampu bertahan di kaki sendiri. Tidak terjatuh atau terjerumus pada hal yang terlihat menyenangkan, namun nyatanya lebih banyak merugikan. Kehidupan di abad modern dengan semua dunia dalam genggaman, membuat akudan banyak orang, mesti mengiyakan semua perbedaan yang disuguhkan di meja kehidupan. Tidak semua sistem di kehidupan orang lain berjalan sama seperti sistem dalam kehidupan kita.

Namun yang tidak bisa dipungkiri adalah; kita hidup dalam tatanan dunia. Diciptakan beberapa peraturan agar manusia tidak menyerupai hewan. Tapi peraturan dan tatanan tidak semuanya bisa kita lahap sampai kenyang. Untuk beberapa orang, mereka berkeinginan merobek hal-hal yang tak sejalan dengan prinsip. Atau paling tidak hal-hal yang membuat mereka merasa direpotkan.

Aku menjadi bagian dunia baru. Hal-hal yang sempat menjawab mimpi dan doa yang kupanjat malam itu. Aku tersenyum sumringah, seperti berada di sebuah taman nan jauh penuh dengan bunga bermekaran. Aku seperti ingin bermain di sana, menikmati banyak keindahan yang lama terlupakan dari kehidupanku sebelumnya.

Namun datanglah sosok itu. Layaknya Dorian Gray yang diam-diam dielukan kehadiran raganya yang utuh. Aku sempat kalap. Seumur hidup, aku tidak pernah bersinggungan dengan sosok semacam Dorian Gray yang rentan terluka. Setiap kali aku mendengar kisahnya, aku merasa aku disuap paksa oleh konsumsi novel teenlit dan FTV murahan yang diburu kejar tayang. Plot-nya berantakan, satu masalah ditumpuk dengan masalah baru, tanpa ada kejelasan penyelesaian.

Aku sempat skeptis. Namun kemudian aku menyadari, sosok ini tidak pernah hidup dalam kesempurnaan. Tidak sesempurna materi yang ia coba suguhkan di social media. Meskipun aku sempat mengapresiasi dunia menyanjung rupa dan raganyalayaknya universe tempat Dorian Gray berada, nyatanya yang kudapati kemudian adalah rasa hampa yang dalam dan gelap. Dia tidak utuh. Sama sekali tidak utuh.

Hidupnya penuh kekurangan fungsi yang seharusnya berjalan layaknya kehidupan manusia lain. Namun dia tidak pernah berkesempatan mendapatkannya. Sehingga dalam diriku yang berusia lebih dari seperempat abad, kuyakini sosoknya jauh tidak lebih beruntung daripada diriku sendiri. Terlepas secara materiil dan kesempatan yang ia dapatkan jauh lebih baik dibandingkan milikku secara kasat mata. 

Dia mendambakan validasi. Seumur hidupnya.

Oleh karena itu, rasa muak, rasa jijik, rasa tidak nyaman yang tanpa sengaja ia ciptakan dalam kehadiranku di sana, perlahan berubah menjadi ketidakpedulian. Meskipun bertemu sosok sepertinya adalah pengalaman baru yang penuh rahasia untuk dieksplorasi, minatku mendadak menguap hanya dari statement validasi yang dia ajukan hampir di setiap kesempatan.

Dia tidak malu mendengung dosanya. Dia menormalisasikan ketidaknormalannya. Dan hanya dengan pemahaman aku dan mereka, tidak lantas mengiyakan bahwa apa yang dia pilih adalah sebuah kebenaran. Aku justru iba dan kasihan. Namun aku memilih untuk mengabaikan. Fokus hidupku akan jauh lebih penuh kejutan dibandingkan hidupnya yang tak kalah penuh kekosongan.

Dan tidak hanya Si Dorian Gray. Beberapa sosok yang memukauku sejak pertama kali, berubah menjadi hal-hal kosong karena pendengungan dosa yang tak terelakkan. Secara bangga, mereka mengklaim ada suatu bentuk perlawanan dari status hukum dan ketentuan fasih yang diciptakan untuk melindungi mereka. Apa yang membuatku muak adalah fakta nyata bahwa mereka dengan ringan hati menyampaikan jenis dosa yang mereka perbuat.

Mereka tidak meyakini dosa karena pada dasarnya potensi pahala selalu datang beriringan dengan kerumitan sistem. Ya, tentu banyak orang yang memilih lebih mudah dan mendapat dosa daripada lebih sulit dan mendapat pahala.

Mereka yang Menuntut Dunia Mengikutinya


Merasa muak dengan seseorang bagiku tidak butuh banyak alasan. Sekelebat penglihatan, satu dua percakapan, aku bisa langsung menentukan; dia pantas bertahan atau justru bisa dibuang. Namun kehidupan emosiku yang terlalu kaya tidak dapat menolongku untuk bersikap sedikit jahat pada orang-orang yang pusat dunianya pada diri mereka sendiri. Aku akan kembali ke status awal; penolong, pengasih, pendengar dan mediator.

Orang pertama. Dia adalah satu dari dua orang yang aku hapus kontaknya seketika aku mengepak barang-barangku dan hengkang dari kehidupan membosankan terdahulu. Aku berpikiran bahwa tidak akan lagi ada relasi kebutuhan yang bisa aku canangkan pada esensi kehadirannya di dunia. Tidak sampai pada akhirnya dialah yang justru pertama kali menghubungiku. Dengan raut bingung dan menahan tawa, aku menerima telepon dari nomor tidak terdaftar di kontakku tersebut.

"............" di mengucap sesuatu seperti hanya aku orang yang dia pikirkan untuk bisa menjadi penolong. Dan yes I am! Di dunia penuh orang baik, aku adalah orang paling baik. 

Satu setengah jam aku habiskan untuk memotivasi mentalnya yang mendadak sama lemahnya dengan mentalku. Satu setengah jam pula aku mencoba menahan tawa agar sisi manusiawiku tetap terdeteksi radarnya, terlepas seberapa banyak aku menimbun rasa benci bahkan dari detik pertama kali aku berhadapan muka dengannya.

Dia adalah salah satu orang egois yang menuntut seisi dunia harus berjalan sesuai kehendaknya. Kini, karma mulai menggerogoti mentalnya. Dan aku menawarkan solusi hanya sebagai selimut untuk tawaku yang tak tertahankan.

Orang kedua. Adalah penyesalan terbesarku kenapa aku sempat berpikir dia akan berada satu level dengankudengan kamidalam hal memandang dunia dari berlembar-lembar tulisan mahal itu. Dia hadir dengan tembok besar yang mengukung kami, menginterupsi setiap pembicaran menjadi fokus hanya pada dirinya dan dunianya. 

Aku melihat salah satu terdiam dan lebih pasif. Mengamati, berbaur dan kehilangan fungsi yang selama ini terlihat tegas. Aku tahu dia mampu. Namun karena orang kedua ini stole the show secara tidak sopan, para orang waras hanya bisa mengalah dan fokus pada tema yang nyata saat itu. Termasuk dirinya yang mendadak kelu. Kemudian dia berujar padaku semacam; "Dia mendominasi sekali dengan dunianya." Dan aku tidak bisa lebih setuju daripada melalui satu tawa ringkih yang menyampaikan rasa sama lelahnya.

Beruntung aku tidak punya kekuasaan untuk menghapus keberadaan orang kedua sialan ini. Karena jika ya, mungkin tanpa kesempatan kedua pun aku sudah membatasi interupsinya pada dunia kami yang tenang dan hangat. Aku tidak akan membiarkan lebih banyak orang muak sepertiku, bahkan hanya dari pemilihan emoji khasnya seperti seorang wibu akut yang menyebalkan. 

Orang ketiga. Kali ini kenormalan presensinya yang kala itu membuatku amazed ternyata tidak lebih dari versi upgrade dari orang kedua. Mengapa demikian? Karena orang ketiga tertolong rasionalisme dan sense pemecahan masalahnya yang cukup tinggi (baca: tidak hanya omongan tanpa isi seperti orang kedua). Dia hadir layaknya seorang jenderal dengan sebilah pisau besar dan tajam. Siap menghunus siapapun yang tidak sepemahaman dengan ideologinya.

Kukira kehadirannya yang tetap dan utuh dapat menyamai mereka yang berjenis sama. Nyatanya? Dia hanyalah seorang melankolis frustasi yang salah memilih forum. Dia ingin belajar memahami cinta lebih jauh, namun berakhir dengan persoalan alam semesta. Dia berang, merasa banyak waktunya terbuang. Dan itulah alasan yang cukup menjanjikan mengapa dia bersembunyi dalam ketakutan. 

Dia adalah pecundang. Di mata cinta, dia adalah aku yang suka mengambil langkah nekat. Bedanya, aku masih cukup perasa. Sedangkan dia tidak punya rasa dan esensi keindahan. Rencana-rencana kerdil yang ia dengungkan untuk menjemput idamannya, berakhir dengan keputusasaan karena dia tidak pernah memberi kesempatan dirinya untuk belajar dari banyak hal.

Termasuk pada perbedaan pendapat, pedebatan, diskusi yang kala itu hadir layaknya gorengan sepuluh ribu yang baru saja selesai digoreng. Hangat dan nikmat. 

Yah, begitulah kehidupanku per akhir bulan ketiga tahun ini. Tidak ada banyak hal yang menarik. Hanya rutinitas yang coba kuresapi dalam keseharian hidup, seperti pekerjaan baru, komunitas baru, kebiasaan baru dan orang-orang baru. 

Terlepas dari apapun, aku masih tidak punya siapa-siapa yang dapat menggetarkan esensi Tuhan menciptakan hati dan perasaanku sebagai manusia. Tidak sampai aku benar-benar merasakan rasa kagum dan ingin, bukan rasa penasaran belaka.

Setidaknya, aku tidak dalam kondisi mendamba kematian. Itu kabar baiknya.
Share:

Monday, February 12, 2024

Sapaan yang Terlambat untuk 2024

Hari ini aku menonton Supernatural episode 10 season 14, bercerita tentang usaha Sam dan Castiel membantu Dean muncul dalam pikirannya sendiri yang sudah dikuasai oleh Archangel Michael. Sam dan Castiel berada di dalam pikiran Dean, penuh dengan teriakan, ratapan, tangisan. Kemudian Castiel berujar; "Dean been through a lot. There's so many trauma in his head."

Dan kemudian aku iseng melemparkan pikiranku pada kondisiku sendiri. Trauma. Tentu saja aku tidak semenderita Winchester Brothers, tapi yang namanya trauma, mau besar atau kecil, mau jarang atau sering, tetap adalah sebuah trauma.

Sebenarnya aku sudah menyiapkan satu entri yang sekarang bersarang di draft, paska aku terlempar ke dalam jurang ketika semua skenario yang kuciptakan untuk alter egoku beralih menjadi kenyataan. Aku, dengan segudang niatan untuk solo traveling, meninggalkan traumatisme pekerjaan yang kurang ajar, kemudian mendadak menjadi hancur total oleh banyak berita dan kenyataan yang datang dari usaha kealpaanku.

Aku kurang paham siapa yang salah disini. Apakah aku yang menjunjung tinggi kealpaan selama bertahun-tahun, kemudian malah jatuh tersungkur setelah menemukan banyak kabar dari mereka yang kutinggalkan. Apakah mereka yang hidup dengan normal, tanpa mengetahui bahwa mereka sempat menciptakan satu rasa takutentah sedikit atau banyakyang menarikku pada malam penuh tangisan, khasnya seorang penderita gangguan kejiwaan.

Nathan; memberikan kabar kepada David, dia telah menikah. Sesuai dengan plot yang aku kembangkan, di universe yang aku sengaja ciptakan sejak satu tahun paska kelulusan, secara tanpa sadar. Dengung-dengung soal pernikahan Nathan telah aku tuangkan dalam beberapa plot yang menyakitkan, masih soal melarikan diri, soal kematian, soal perayaan dan soal tangisan.

Satu minggu yang lalubegitu klaimnya, bertepatan dengan tanggal aku memulai solo traveling. Perayaan yang sama soal rasa bahagia, namun berbeda dalam pengukiran luka. Dan David, setelah mendapatkan kabar itu, mendadak menjelma dalam diriku dan melumpuhkanku pada ratapan yang tidak terelakkan. 

Bukan, ini bukan soal cemburu. Ini lebih pada terlalu sempurna gambaran pada alter ego Nathan, beserta betapa perih setiap bumbu yang kutuangkan dalam universe David. Tentu juga soal garis finish yang menjadi salah satu penghambat David untuk melanjutkan hidup. Karena sampai usia yang sama denganku pun, David masih belum mendapatkan garis finish-nya. Meskipun secara nyata, siapa yang hendak menentukan garis finish? 

Jika memang garis finish kehidupan itu ada, apakah itu pada pernikahan atau kematian? Jika Nathan memiliki pernikahan untuk mencapai garis finish-nya, maka David punya seribu satu cara untuk mencapai kematian sebagai garis finish-nya.

Tidak berhenti di sana. Trauma yang muncul di kepalaku juga mengambil panggung kembali ketika aku bertemu dengan Ivan, inisial alter ego yang sempat aku tuliskan dalam cerita. Dia datang tanpa trauma, tersenyum menyambutku. Sama seperti sembilan sampai sepuluh tahun yang lalu. Dia mengorbankan dirinya, demi dapat bersamaku, menemaniku. Dan perlakuan-perlakuannya, yang bahkan sulit bisa aku lakukan setelah sembilan sampai sepuluh tahun berlalu, membuat aku setidaknya kewalahan untuk menjaga kewarasan.

Bagaimana tidak? Aku ingin meninggalkan semuanya di belakang. Namun dia justru muncul, membangkitkan nostalgia pada dosa dan luka yang sempat kulakukan di masa bodohku. Dan dia tidak sama sekali menandainya sebagai penghinaan. Dia sama sekali tidak takut padaku, membenciku. Dia tetap memanusiakanku yang sejak lama kehilangan fungsinya sebagai manusia yang utuh.

Kemudian aku mesti berbohong soal identitas Ivan. Dengan latar belakang yang semakin cemerlang, satu tiket menuju surga yang sudah ia kantongi, membuatku harus berimprovisasi. Aku dapat dengan tegas memposisikan diri pada karangan kisahku kepada para korban. Aku mendetailkan Ivan sebagai kekasih Tuhan. Suci, penuh kebenaran, hal-hal yang seharusnya jauh dari aku yang kerdil dan hina. 

Dan bicara soal kekasih Tuhan, aku semakin kehilangan kewarasan saat masa-masa sulit PTPS berlanjut. Aku mengemban tugas sebagai pengawas, sebuah pengalaman baru yang menuntut ilmu komunikasiku sebagai marketing dilatih lebih dari seharusnya. Di sanalah pada akhirnya aku mendapat kesempatan untuk menemukan sosok lain dari manusia setara Ivan. Bahkan lebih. Hampir 90% kutemukan kesempurnaan di dalam sosoknya.

Otak INFP-ku menjelajah dunia baru, ide-ide, fantasi, bayangan, imajinasi, soal bagaimana seharusnya dia yang berada di kehidupan nyata dengan segala kesempurnaannya bisa aku abadikan. Aku mengklaim sebagai INFP, sebagai salah satu artist, semua hal penting dan tidak pasti mendapatkan tempatnya sendiri untuk diabadikan. Dan dia adalah salah satunya. Kesempurnaan nyata yang bahkan melampaui Nathan dalam universe yang aku ciptakan. 

Sosok yang barangkali hanya bisa kita temukan one in million, layaknya karakter Wattpad yang sangat mustahil terjadi dan ditemui di dunia nyata.

Aku tidak akan mendeskripsikan kesempurnaannya di sini. Karena aku tidak mau dia berakhir seperti sosok yang datang pada bulan Juniyang pribadinya sempat kudengungkan dalam beberapa entri di blog ini. Tuhan menjawab doaku semalam dengan fakta bahwa kesempurnaannya telah menjadi milik seseorang yang beruntung. Dan lagi-lagi egoku mengambil kewarasan, berujar bahwa memiliki pasangan adalah sebuah kelemahan.

Seolah orang lain yang terlalu menginterupsi bisa jadi mengurangi level kesempurnaan. Padahal ini tentang dia, bukan aku yang menjalani. Ego ini terlalu gila. Bisa-bisa aku tetap terperangkap dalam trauma berkepanjangan jika terus begini.

Dan ya. Aku berhenti mengonsumsi antidepresan. Sengaja. Setelah aku tetap menangis di tengah perjalanan solo traveling yang kuanggap berhak mengurangi level depresiku, aku memutuskan untuk tidak kembali bergantung dan percaya pada proses pengobatan psikiater. Meskipun demikian, momen terpuruk yang menjelma dalam beberapa malam itu akan kucoba bagikan dengan dokterku. Semoga. Aku berusaha mengenyampingkan ego dan rasa malu, karena traumaku bisa jadi tidak terlalu penting atau bahkan terdengar lucu bagi sebagian besar orang.

Orang tuaku sudah mulai mendeklarasikan secara halus soal aku semestinya mendapatkan pekerjaan baru. Ketika satu persatu dari mereka sudah mendapatkan garis finish, memikirkan hal-hal beberapa langkah lebih depan. Aku justru terperangkap dalam penyebab trauma yang tercipta sejak 2013. Aku masih di usia 17 tahun, mencoba mencaritahu apa yang sedang terjadi saat itu. Kenapa refleksi traumatisme yang diciptakan olehku di usia 17 tahun terasa menyakitknya di usiaku yang ke-27 tahun. Senyata dan seperih itu, ia masih bertahan. Dan puluhan obat antidepresan tidak sepenuhnya membantu.

Dan demi Tuhan, aku tidak punya lagi kapabilitas untuk berkegiatan seperti bekerja, terikat pada kontrak perusahaan. Sebut saja aku tidak mau lagi mengalami 'trauma' yang sama dari berkerja di perusahaan toxic, sebut saja ini masih menjadi salah satu proses adjustment disorder yang dideklarasikan dokter bulan Oktober tahun lalu. 

Namun 100% aku telah mengikhlaskan apa yang terjadi, menghilangkan semua ego dan kebencian, rasa ingin balas dendam. Dan aku begini, tidak bertenaga untuk kembali produktif sepertinya bukan karena aku nyaman untuk tidak terikat pada apapun. Ini lebih karena aku butuh waktu lebih banyak untu beristirahat. Mati misalnya?

2024 telah berlalu nyaris 2 bulan. Dan ya, masalah kematian masih menjadi agendaku yang terasa cukup menggiurkan.

Share: