Monday, October 14, 2019

Review Series Thailand : Theory of Love


Review Series Thailand : Theory of Love


Yeeaa, ini kali pertamanya aku nulis review tentang series Thailand. Selama ini aku cuma nulis review tentang film atau drakor doang. Entah kenapa kali ini aku pengen nulis review buat series yang satu ini. Tapi sebelum review-nya dimulai, aku mau cerita sedikit alasan kenapa aku mau repot-repot nulis review series Thailand ‘Theory of Love’.
Sebenernya aku tipe orang yang nggak begitu suka nonton film atau drama romantis. Kecuali kalo ada konsep melankolisnya, alias salah satu pemeran ada yang tersakiti. Anjer, ini aku kayak maso banget, ya. Yah, mungkin aku nggak begitu setuju sama hubungan yang happily from the start until the end. Harus ada yang berjuang dan tersakiti. Bahkan kalo itu pada akhirnya open ending atau sad ending aku bisa terima.
Nah, kemudian mari kita bahas soal tema bl atau boys love. Di Indonesia, tema ini udah umum ditemukan. Dan penggemarnya pun udah banyak. Meskipun kisah percintaan yang ditawarkan berasal dari hubungan sesama jenis, bukan berarti penikmatnya adalah orang yang mendukung atau bahkan melakukan hubungan demikian.
Tema bl ini adalah salah satu tema yang sedang marak di pasaran. Bahkan Korea pun, udah berani ambil tema ini sebagai salah satu ‘promosi’ industri perfilman mereka. Kenapa? Karena dari sudut pandangku pun, dengan mengangkat tema bl atau minimal bromance, plot konflik soal percintaan akan menjadi lebih banyak dan luas.
Serius.
Oke, sekarang aku bakal mulai review-nya. Di antara sekian banyak series Thailand, kenapa aku milih Theory of Love for my first time to reviewing Thai series?
Pertama, karena series ini punya tingkat kesedihan tokoh utama yang luar biasa. Kita bakal dibuat nangis sama kebodohan Third yang rela ngelakuin hal-hal nggak terduga hanya demi cintanya sama Khai.
Kedua, series ini menceritakan tentang persahabatan antar mahasiswa jurusan perfilman. Dan menurutku hal yang berhubung sama film itu punya nilai klasik. Ibarat film adalah cara terbaik untuk merefleksi kehidupan.
Ketiga, kebanyakan series Thailand sering terfokus sama lingkungan sekolah, dorm dan klub. Nah, series ini punya pengambilan setting yang beraneka, indah dan memorable.
Keempat, persahabatan mereka luar biasa kental. Bahkan mereka saling menyakiti, membela, melindungi dan semua dilakukan bersama sampai mereka sama-sama sukses.
Kelima, tokohnya sesuai sama karakter. Tampang playboy Off untuk karakter Khai. Muka manis Gun untuk karakter pendiam dan cerdas Third, dan lain sebagainya.
Dan inilah review Theory of Love khusus dari aku!
SINOPSIS
Theory of Love adalah series Thailand yang disiarkan mulai tanggal 1 Juni 2019 – 17 Agustus 2019. Punya total 15 episode yang semuanya udah bisa dinikmati lewat channel Youtube GMMTV dengan subtitle Inggris atau Indonesia.
Series ini mengisahkan tentang empat mahasiswa jurusan perfilman dengan sebutan ‘Savage Gang’, yang terdiri dari :


  •        Third (Gun Atthapan) : dia adalah sutradara dan penulis naskah yang handal. Karakternya bisa dibilang pendiam, serius, penuh tekad, mengedepankan urusan orang lain ketimbang urusannya, penurut, pekerja keras dan loveable. Dia diam-diam menyimpan perasaan pada Khai, sahabatnya yang womanizer—suka bergonta-ganti cewek hanya karena dia tampan dan populer. Third nggak akan pernah mau ungkapin perasaannya sama Khai karena dia tau Khai punya prinsip nggak mau pacaran sama sahabatnya sendiri.


  •    Khai (Off Jumpol) : dia adalah mahasiswa yang menguasai bagian sound. Dengan tampang menarik, sifat atraktif, tubuh yang kurus tinggi (menurutku dia punya badan yang oke buat pake baju apa aja), dan gaya berpakaian yang stylish, Khai sering bergonta-ganti cewek. Kelakuannya ini sampai sudah sangat dimaklumi oleh sahabatnya, dan bahkan Khai sampai nggak pernah sadar kalo Third punya rasa padanya. Khai nggak mau sakit hati kalo serius sama soal cinta-cintaan, makanya dia jadi playboy.


  •        Two (White Nawat) : dia punya potensi yang bagus dalam dunia fotografi. Di antara yang lain, jujur aku nggak begitu suka liat tampang dia (karena gaya rambutnya di series ini nggak banget). Tapi persepsiku luruh saat karakter Two di sini adalah poin penting untuk ngebuat kisah cinta Third menjadi lebih baik. Mendukung, membantu mengatasi masalah dan membela teman-temannya adalah sifat yang kusukai dari Two. Ibarat di dunia nyata, Two ini seperti teman yang jadi tempat curhat buat yang lainnya.


  •      Bone (Mike Chinnarat) : dia sangat mahir di bagian editing. Pertama kali lihat, pasti semua orang suka sama tampang Bone. Dia definisi yang tepat dari sosok cowok dewasa, dilihat dari wajah, kepribadian sampai pekerjaan. Bone adalah seorang barista yang bekerja paruh waktu di sebuah cafĂ© dengan tempat penyewaan film. Di antara teman-temannya, Bone doang yang straight wkwkwk. Kisah cinta Bone jauh lebih mengenaskan dan klasik sebenarnya. Tapi dia bener-bener menampilkan sosok dewasa dalam menangani kisah cinta tragisnya.

PLOT
Di episode awal, kita diperlihatkan bagaimana kedekatan hubungan antara Third dan Khai. Bayangin aja selama 3 tahun mereka deket, Third harus nyembunyiin rapat-rapat soal perasaannya sama Khai. Bahkan setiap kali Khai jalan sama cewek, bahkan sampai ciuman dan tidur sama cewek, sebenernya Third terluka meski di luar dia terlihat nggak pa-pa. Setiap Khai putus sama cewek, Third mengira itu kesempatannya buat lebih deket sama Khai, tapi pada akhirnya Khai selalu punya pacar baru lagi, lagi dan lagi.
Pada akhirnya Two mengetahui rahasia perasaan Third buat Khai, dan dia berjanji bakal bantuin Third untuk merealisasikan perasannya. Meskipun dapet bantuan dan dukungan dari Two, Third tetap menjadi pihak yang terluka. Khai dengan masa bodohnya ngelakuin hal-hal jahat ke Third tanpa disadarinya. Bahkan dia dicap sebagai orang bodoh yang nggak bisa baca perasaan orang lain.
Dan pada akhirnya Khai dapat karmanya. Dia ngerasain bagaimana rasanya cemburu dan dilukai. Aku sempet ngerasa seneng karena Khai bisa rasain betapa sakitnya posisi Third waktu itu. Bahkan aku ngerasa penderitaan Khai nggak bisa dibandingkan dengan penderitaan Khai selama tiga tahun terakhir. Kita bisa lihat, di beberapa episode ada momen Third nangis karena dilukai. Dan you know-lah, with that cute and innocent Gun’s face, tangisan kecemburuan bisa kerasa sakit banget. Tapi tangisan Khai yang playboy dan cenderung whatever-an juga bikin miris sih. Bayangin aja cowok nggak peka bisa nangis setelah mulai bisa ngerasa peka. What a big matter.
Tapi tenang, series ini akan berakhir happy ending buat perjuangan Third dalam mencintai Khai secara diam-diam selama 3 tahun. Tapi lika-liku sampai keduanya bisa saling bersatu beneran bikin capek. Ada banyak kepercayaan dan masa depan yang dipertaruhkan. Apalagi sifat Third yang dewasa dan penuh pertimbangan. Dia nggak mengedepankan ego buat dicintai balik sama his crush for 3 years, dia mempertimbangkan hatinya yang nggak mau disakiti lagi karena terlalu takut percaya sama Khai sering ingkar janji.
Setiap detail alur dalam series ini ditulis dengan baik. Ditambah ada banyak memorable scene entah itu yang bikin nangis, yang bikin ketawa, tegang atau bahagia. Semua dikemas dengan apik. Misalnya momen di series itu yang nggak bisa kulupain adalah saat Third ubek-ubek sampah demi nemuin barang pacarnya Khai, itu beneran sinting sih. Demi cinta bisa sampe gitu. Atau momen saat Third dan Khai belanja keperluan di IKEA dan malah berakhir jadi adegan kayak di rumah sendiri. Itu lucu sih, apalagi mereka berdua (Gun sama Off) emang udah deket sejak lama, jadi pembangunan karakter mereka di momen itu beneran lucu dan nyata.
Poin utama kenapa aku suka sama series ini adalah ada banyak alur dan scene luar biasa soal ‘perjuangan cinta’. Momen yang belum pernah aku temuin di series bl Thailand lainnya. Dan ceritanya pun diramu sama selingan humor soal kekonyolan mereka dengan sound effect lucu. Jadi yang awalnya tegang atau sedih mendadak jadi ngakak. Series ini adalah definisi terbaik dari, persahabatan, perjuangan, cinta, mimpi dan kepercayaan.
KEKURANGAN (HAL YANG NGGAK BEGITU KUSUKA)
Meskipun 90% series ini berhasil merebut hatiku, aku juga tetep punya beberapa poin yang nggak begitu kusuka. Misalnya, soal kisah cinta Two dan Aun. Menurutku itu terlalu memaksa. Rahasia perasaan di antara keduanya punya porsi yang lebih banyak dalam beberapa episode, sampai porsi buat mengetahui tentang perasaan satu sama lain dan saling cinta di antara mereka jauh lebih dikit. Meskipun aku ngerasa couple ini nggak cocok, aku tetep berespektasi kalo penyelesaian dan konklusi kisah cinta mereka bisa jadi  jauh lebih luwes dan dapet porsi yang seimbang.
Hal lain yang nggak kusuka dari series ini adalah kejadian yang terlalu dipaksakan. Contohnya, waktu Khai muncul di depan Third dengan penuh darah dan akhirnya pingsan. What the hell, dengan tulang kaki patah dan luka punggung seharusnya Khai nggak mungkin mampu jalan sejauh itu hanya untuk ketemu sama Third. Kayak nggak masuk akal aja gitu.
Terus di series ini momen mereka syuting dan ngerekam suara pake audio tapi malah kedengeran suara lain itu sering terjadi. Jadi istilahnya kayak nguping gitulah. Misal, waktu Third pegang boompole mikrofon saat syuting tugas sekolah, eh mikrofonnya malah ngerekam suara Khai yang lagi gombalin cewek di lantai dua. Momen kayak gini nggak terjadi sekali dua kali. Ibaratnya kayak sutradara coba menemukan cara lain untuk penyampaian yang dibicarakan pihak kedua kepada pihak pertama. Menurutku itu lucu dan bukannya unik (karena momennya ada beberapa jadi terkesan aneh).
Dan kalo aku berusaha nyari kekurangan dari series ini lagi, kayaknya belum nemu. Mungkin itu aja sih yang agak mengganggu buatku.
KELEBIHAN (CIRI KHAS SERIES INI YANG NGGAK KUTEMUI DI SERIES LAIN)
First of all adalah gaya berpakaiannya Khai! Aku suka banget sumpah!!! Nggak tau kenapa. Khai punya badan yang tinggi kurus, dia pake seragam selalu dimasukin ke celana, mempertegas betapa semampai dan bagusnya bodi dia. Kayak model kan biasanya punya bodi kurus dan tinggi. Dan meskipun dia pake motor cowok dan helm fullface, tapi tasnya malah tipe tas slempang kayak punya cewek.
Terus pakaian dia sehari-hari. Khai selalu suka pakai baju yang dimasukin ke celana, potongan leher rendah, celana kain longgar di atas mata kaki. Untuk seorang cowok yang berperan sebagai top, rasanya baru kali ini aku nemuin keberanian dia buat berpenampilan unik dan cenderung kesan feminimismenya. Dan menurutku Khai ini karakter yang lebih merepresentasikan mahasiswa desain atau model, bukan mahasiswa perfilman.
Hal lain yang kusuka dari series ini adalah cara penulisnya mengembangkan dunia perfilman menjadi lebih nyata. Bagaimana mereka berempat bisa terlibat secara langsung dengan film-film beken dunia. Misal, film favorit Third adalah ‘Flipped’ tahun 2010 yang bergenre komedi romantis. Yang kemudian dalam sebuah episode menjadi salah satu ‘senjata’ dari keretakan hubungan Third dan Khai.
Atau pembangunan karakter Third dan Khai yang suka melakukan proyek reviewing film di akun pribadinya. Dengan begitu karakter mereka beneran keliatan sebagai penikmat film karena mereka me-review banyak judul film.
Juga karakter Bone yang rela menemukan film Perancis tahun 50-an hanya demi bisa berkencan dengan seorang cewek. Mereka juga terlibat dengan bertukar film yang saling direkomendasikan satu sama lain. Kepemahaman kedua karakter ini pada banyak jenis film membuat proses pendekatan mereka jadi lebih indah dan klasik.
Hal yang kusuka lainnya adalah kekuatan pembangunan karakter Third. Menurutku Gun bisa menguasai karakter ini menjadi bagian dirinya sendiri. Nggak tau kenapa, di saat karakter lain ngerasain sakit hati, aku nggak bisa ngerasain hal yang sama kayak yang diperlihatkan lewat akting mereka. Tapi kalo yang nangis dan sakit hati itu Third, entahlah—aku bisa tanpa sadar ikut netesin air mata, bahkan sampai ngomong kasar saking keselnya.
Gun sama karakter Third ini beneran cocok. I find difficulty to describe how powerfull his character on this series.
PENILAIAN
Storyline : 9.5
Characters : 9.0
Scenes : 9.0
Backsound : 8.9
Rewatch value :  8.9
Total : 9.0

Pokoknya kalian harus nonton dan temuin sensasi beda dan memorable-nya series ini ketimbang series bl Thailand lainnya! Haappy watching!

Share:

Wednesday, January 9, 2019

RANDOM FACTS KIM JAE WOOK : SEBUAH PANDUAN STALKING



First of all, aku mau ngucapin terima kasih banyak buat temenku Indra Joshua yang udah merekomendasikan drama horor The Guest di saat aku minta rekomendasi drama thriller terbaru. Berkat rekomendasimu, akhirnya aku mengenal nama ahjussi rasa oppa ini, Kim Jae Wook.

Jae Wook pernah disebut sebagai paper boy gara-gara body dia yang terlalu langsing.

Pertama tau drama The Guest, aku menganggap sebelah mata karena kayaknya mustahil mempertemukan tiga orang dari latar belakang yang berbeda menjadi satu kesatuan sentral di drama ini. Menurutku sutradaranya terlalu maksa buat gabungin cenayang, pastor eksorsis dan detektif untuk bekerjasama. Tapi sinopsisnya tetep aja bikin aku penasaran, meski aku nggak pernah dengar nama-nama pemainnya kecuali namanya Kim Dong Wook yang malah salah kusangka Lee Dong Wook (jauh amat astaga, maklum masih awam, hehe).

Dan waktu aku liat poster The Guest, yang muncul pertama kali di otakku ini adalah anggapan kalo pastornya agak mirip sama Indra Herlambang minus kacamata. Aku berani berpikiran ngawur kayak gitu karena aku belum nonton dramanya. Dan setelah coba nonton The Guest, subhanallah… justru dia yang berhasil jadi pusat perhatian selama drama berlangsung. Iya, Si Indra Herlambang dari Korea itu.

Mirip Hendra Herlambang sekilas, 'kan? wkwkwk

Pastor di sana namanya Choi Yoon atau dikenal sebagai Matteo juga. Aku prefer panggil Matteo aja, biar lebih keren sekeren penampilannya wuahahah. Jadi Matteo adalah pastor pengusir setan (eksorsis) yang dipertemukan dengan cenayang bernama Hwa Pyung (Kim Dong Wook) dan detektif perempuan bernama Kang Gil Young (Jung Eun Chae).

Aku nggak ngerti sama sekali, kenapa Matteo bisa seseksi itu padahal dia seorang pastor? Kalian bisa liat dari jalan Matteo waktu pertama kali muncul dalam balutan pakaian pastor serba hitam dan haircut yang malah memperlihatkan kesan personel boyband ketimbang kesan pastor. Ada jarak di antara badan dan lengannya saat dia jalan, yang menunjukkan betapa tegapnya badan dia. Secara dia model, jadi cara jalannya aja pasti bagus.

Dan yang bikin semakin susah napas, Matteo ini digambarkan sebagai orang yang kaku dan dingin. Dia nggak akan bereaksi banyak terhadap apa yang dialaminya. So, kalau dia mulai marah, kesel, sedih atau kesakitan, pasti akan jadi sesuatu yang aku tunggu-tunggu.  Apalagi Matteo selalu tampil dalam baju serba hitam, yang mau nggak mau semakin menunjukkan betapa seksinya dia. Fyi, orang dengan balutan pakaian warna hitam akan keliatan semakin ramping dan jenjang. That’s why aku ngerasa nyaman sama pakaian warna hitam. Sedikit sekali kita bisa liat Matteo berganti pakaian, kira-kira cuma tiga kali dalam total 16 episode. Liat, sampe aku itungin saking excited-nya!
Kalo aku jadi iblis dan liat pastornya seseksi ini, kayaknya aku bakal rajin dateng ke tubuh manusia, deh.

Dan nama Kim Jae Wook langsung muncul setelah aku mulai stalking tentang Matteo. Dan oh, ini dia sosok asli aktor yang secara kurang ajar kubilang mirip Indra Herlambang. Setelahnya aku tau kalo Kim Jae Wook pernah berperan sebagai psikopat sadis di drama Voice. Oke, aku tau drama itu. Drama yang katanya bagus dan laris banget. Tentu aku merasa menyesal kenapa aku telat banget tau.

Kalo bukan karena Kim Jae Wook, mungkin aku nggak akan masukin Voice jadi next drama yang mau kutonton (meski telat). Apalagi dia yang jadi antagonisnya! Dia yang jadi psikopat-nya! Selama ini aku masih beranggapan aktor yang paling sukses memerankan peran psikopat seram tapi kharismatik adalah Lee Joon di drama Gap Dong. Nah, karena Kim Jae Wook ini aku jadi penasaran liat gimana aktingnya.

I need this man for another Voice series, please!

Dan holly crap! I must said that Kim Jae Wook is creepiest villain in K-Dramaland I’ve ever seen so far. Penampilannya dalam balutan setelan mahal, kendaraan mewah, dan tempat tinggal yang megah ngebuat tokoh Mo Tae Gu yang diperanin Kim Jae Wook terkesan sangat-sangat menyeramkan. Dia pake kekuasaan dan kekayaan ayahnya untuk bebas ngebunuh orang. Siapapun yang menurutnya pantas dibunuh.

Sikapnya yang sombong, memandang rendah orang lain dan nggak bisa menghargai nyawa orang keliatan banget dari caranya ngomong, caranya ngeliat, caranya jalan. Sumpah he’s doing well banget dalam memerankan tokoh Mo Tae Gu. Karakter yang jauh berbeda dari tokoh Matteo yang sebelumnya udah kutonton. Jadi makin terpukau sama kemampuan akting dan penampilan Kim Jae Wook ini.

Dan di sinilah aku sekarang. Mulai mengumpulkan informasi sebanyaknya tentang ahjussi rasa oppa ini. Sebenarnya aku udah mulai kesengsem sama Kim Jae Wook sejak aku nonton drama The Guest, sekitar bulan November tahun lalu. Hitungannya masih dua bulan lebih. Tapi dia belum bisa get out of my mind. Nempel terus kayak parasit, malah makin parah. Agak beda sama Hwang Chan Sung yang sebelumnya sempet kusinggung di sini juga.

Jadi inilah beberapa info yang bisa kudapat soal my newest and sexiest favorite actor, Kim Jae Wook!

Jae Uck with his bandmate

1       Kim Jae Wook lahir di Seoul, Korea Selatan tanggal 2 April 1983. Udah tua, ‘kan? Tapi herannya dia makin keliatan ganteng, makin seksi dan makin berkharisma. I can’t help myself!

2.       Bapaknya Jae Wook kerja jadi jurnalis. Dan waktu masih kecil bapaknya ini dipindah ke Jepang. Jadilah Jae Wook kecil ikutan pindah ke Jepang. Ada yang bilang juga kalo dia ini blasteran Korea-Jepang. Pantes kalo gitu, soalnya menurutku muka dia ada kesan-kesan Jepang-nya.

3.       Jae Wook pindah ke Korea lagi di usia 8 tahun (ada yang bilang 7 tahun). Itu masa-masa dia masuk sekolah pertama kali. Karena Jae Wook besar di Jepang, dia nggak tau bahasa Korea sama sekali dan malah fasih berbahasa Jepang. Dia juga nggak tau gimana aturan sekolah di Korea. Bahkan sempat waktu itu Jae Wook memilih untuk nggak usah sekolah.

4.       Keluarga Jae Wook terdiri dari ayah, ibu dan kakak laki-laki. Kakaknya-lah yang memberi inspirasi Jae Wook untuk tetap pergi ke sekolah karena dia mau ikut band sekolah seperti kakaknya.

5.       Setelah lulus dari SMA Dandae, Jae Wook coba peruntungan ikut audisi buat band ‘Kaksital’ dan dia diterima.

6.       Waktu SMA, Jae Wook pernah muncul di acara MBC TV, ‘Akdong Club’. Sebuah acara ragam yang mencari dan membuat idol group baru. Tapi karena pembawa acaranya nawarin kalau Jae Wook lebih bisa menyanyi dan menari seperti gayanya idol group daripada band rock, ada kemungkinan dia akan diterima. Tapi Jae Wook nolak karena dia genrenya rock dan lebih milih nyerah ikut audisi itu.

7.       Selain fokusnya masih di musik, Jae Wook coba peruntungan juga menjadi seorang model di saat usianya masih 17 tahun. Dia pertama kali menjadi model untuk majalah ‘YuHaeng Tongshin’.

8.       Jae Wook melanjutkan pendidikan di Seoul Institute of Arts. Di sana dia ngambil jurusan musik dan ngebuat band berisi 3 orang yang dikasih nama ‘Walrus’. Nama ini diambil dari lagunya The Betles berjudul’ I Am The Walrus’. Sampai sekarang pun Jae Wook masih konsisten sama band-nya.

9.       Pada tahun 2002 Jae Wook mencoba mengejar karir aktingnya untuk pertama kali setelah mendapat nasehat dari PD MBC, Park Sung Soo. Debut pertamanya adalah berperan sebagai anggota band dalam drama MBC, ‘Ruler of Your Own World’.

10.   Karir akting Jae Wook pada mulanya mengalami kesulitan. Dia sulit ditemukan muncul dalam film maupun drama setelah kemunculan pertamanya di drama itu. Sampai akhirnya Jae Wook memutuskan berhenti dari karir aktingnya.

11.   Lima tahun kemudian Jae Wook berubah pikiran dan kembali muncul dalam KBS drama, ‘Dalja’s Spring’ pada tahun 2007. Dia hanya memerankan peran kecil sebagai teman baik tokoh utama yang saat itu diperankan oleh aktor Lee Min Ki.

12.   Di tahun yang sama, Jae Wook kembali muncul dalam drama MBC, ‘Coffee Prince’ sebagai tokoh pendukung bernama No Seon Ki. Siapa sangka kalau Coffee Prince menjadi drama yang mendapat apresiasi dan rating penonton yang tinggi. Sehingga Jae Wook mulai dikenal berkat kemunculannya di drama ini. Waktu aku nggak sengaja bahas drama ini sama adek, emakku nyahut kalo beliau pernah nonton drama ini dulu. Emakku emang udah demen drakor dari lama, wajar ya kalau tau judul drakor-drakor lawas. Nggak kayak aku huhuhuhu.

13.   Sebenarnya sutradara drama Coffee Prince berniat menjadikan Kim Jae Wook sebagai pemeran karakter Jin Ha Lim, seorang pemuda ceria dan womanizer. Tapi PD Lee Yoon Jung berubah pikiran dan memberi peran No Seon Ki, tokoh yang lebih terkesan pendiam dan intropektif. Dia berharap Jae Wook merasa nyaman memerankan peran ini. Baik banget ya sutradaranya :’

14.   Di tahun yang sama, Jae Wook juga memulai debut filmnya dalam film berjudul ‘Bakery’ (sebuah film yang diangkat dari manga Jepang berjudul Antique Bakery). Dia merasa tertantang untuk memerankan tokoh Min Seo Woo, seorang pattisier bertalenta yang juga homoseksual. Jae Wook merasa sulit memerankan tokoh homoseksual secara alami, namun karena kesuksesannya di film ini tawaran job akting makin membanjiri namanya.

15.   Aku nonton cuplikan film ini di yutub, dan emang bener peran homo yang dibawa Jae Wook ini jauh lebih beda sama homo-homo yang pernah dimainin aktor Korea lainnya (kayak Kwak SI Yang, Lee Jee Hoon, Yeon Woo Jin). Di film ini Jae Wook bener-bener homo abis! Aku aja sampe ngerasa sedikit digusting ngeliat sifat homo dia yang provokatif. Dia pake baju seksi, nari-nari di atas panggung, yaaa… begitulah. Agak sedih sebenernya ngeliat Jae Wook begitu. Apalagi setelah film ini rilis, banyak netizen yang langsung mempertanyakan orientasi seksual Jae Wook. Soalnya dia menjiwai banget jadi Seo Woo-nya. Tapi Jae Wook ini Insya Allah normal, kok. 

16.   Jae Wook kembali muncul di drama ‘Bad Guy’ yang memerankan tokoh utama kedua. Bad Guy merupakan melodrama yang menceritakan Hong Tae Sung yang diperankan oleh Kim Jae Wook merupakan anak yang tidak diinginkan keluarganya dan menjadi sangat nakal. Drama ini mengambil beberapa scene di Jepang yang didukung oleh kemampuan berbahasa Jepang Jae Wook yang fasih.

17.   Drama berikutnya yang dibintangi Jae Wook adalah ‘Mary Stayed Out All Night’ di tahun yang sama atau dikenal juga sebagai  ‘Marry Me, Mary!’. Di drama ini Jae Wook berperan sebagai Jung In, pemuda kaya raya yang pindah dari Jepang ke Korea. Sekali lagi dia menunjukkan kemampuannya berbahasa Jepang. Emang diuntungkan banget Jae Wook karena dia bisa fasih berbahasa Jepang. Salut!

18.   Kim Jae Wook mengambil jeda untuk karirnya karena harus melakukan wajib miter selama 21 bulan. Dia memulai wajib militernya pada tanggal 5 Juli 2011 setelah melewati 5 bulan pelatihan. Dia kembali dari wajib militer pada bulan April 2013.

19.   Tidak ada yang mengubah Jae Wook setelah dua tahun. Kembalinya Jae Wook dari wajib militer, ia memulai lagi drama baru berjudul ‘Who Are You’ di tahun 2013. Dalam drama ini Jae Wook memerankan tokoh Lee Hyung Joon, arwah mantan pacar pemeran utama wanita yang gentayangan. Meski terkesan seram, nyatanya drama ini malah menunjukkan sisi melankolisnya. Terlebih ketika Jae Wook hanya bisa memperhatikan kebersamaan antara So Yi Hyun (mantan pacarnya) dan Taecyeon. Dan di antara semua gaya rambut Jae Wook di drama dan film-nya, aku paling suka sama gaya rambut dia di drama ini. Keren banget, ngebuat dia agak berbeda dan jauh keliatan lebih muda.

20.   Jae Wook kembali muncul di drama KBS tahun 2014 berjudul ‘Inspiring Generation’. Jae Wook berperan sebagai Kim Soo Ok yang cuma mengisi episode 1 sampai 8 doang.

21.   Setelahnya Kim Jae Wook tidak muncul di drama, melainkan dalam beberapa film seperti C’est Si Bon (2015), Plank Constant (2015), Two Rooms Two Nights (2016), The Last Princess (2016) dan film terbarunya Another Way (2017) juga sebuah film Jepang  berjudul Butterfly Sleep (2018).

22.   Kim Jae Wook kembali memukau para fans dengan kemunculannya sebagai Mo Tae Gu di drama OCN, ‘Voice’ pada tahun 2017. Drama ini digadang-gadang sebagai drama yang semakin melejitkan nama Kim Jae Wook yang sempat vakum, setelah ia sukses memerankan tokoh psikopat sadis dan kharismatik. Setelah drama ini, Jae Wook mengaku nggak mau lagi mainin karakter antagonis. Dia udah kapok meski sejatinya jadi peran apapun dia selalu sukses. Aku bener-bener dibuat merinding dan takut sama tokoh Mo Tae Gu yang diperanin Jae Wook di Voice. Dari cara dia senyum, cara dia jalan, cara dia ketawa. Semuanya creepy.

23.   Di tahun yang sama, Jae Wook kembali mencuri perhatian di drama Temperature of Love milik SBS. Ia berperan sebagai Park Jun Woo, seorang CEO muda yang tampan. Namun ia hanya berperan sebagai karakter pendukung di drama tersebut. Di drama ini banyak netizen yang marah-marah karena plot untuk Park Jun Woo kurang mengenakkan. Apalagi fans-nya Jae Wook yang udah nungguin kapan Jae Wook dapet cerita yang happily ever after sama tokoh utama ceweknya. Mesti aja jadi peran cowok kedua. Kesel, kan!

24.   Dan tentu ini dia drama terbaru yang cukup banyak menarik fans-fans baru Kim Jae Wook (salah satunya aku hehe) adalah ‘The Guest’ milik OCN yang rilis tahun 2018. Drama ini merupakan wadah reuni antara Kim Jae Wook dan Kim Dong Wook yang mana keduanya pernah memainkan drama Coffee Prince setelah 11 tahun berlalu. Dalam beberapa platform ada banyak orang yang mengaku baru menjadi fans Kim Jae Wook setelah melihat kemunculannya di The Guest. Aku suka gaya rambut Jae Wook di drama ini setelah gaya rambut yang di Who Are You. Dia keliatan lebih muda, fresh, kalem dan tetep seksi setelah sebelumnya dia meranin tokoh misterius Mo Tae Gu di Voice. Hanya karena sebuah gaya rambut, karakternya keliatan jauh berbeda.

25.   Selain menekuni musik dan akting, Jae Wook juga mempunyai hobi yaitu membaca, bermain baseball dan sepak bola. Jae Wook adalah big fans salah satu klub sepak bola Inggris, Liverpool. Dia juga senang berberes karena Jae Wook tipikal orang yang suka kebersihan. Biasanya dia membutuhkan waktu 4-5 jam untuk bersih-bersih. Tapi dia membatasi dirinya buat nggak nyuci celana jeans-nya sendiri. Iyalah, selama ini aku yang nyuci semua celana dia. Hahaha.

26.   Jae Wook adalah pecinta binatang. Dia memiliki seekor anjing bewarna coklat dan seekor kucing Russian blue bewarna abu-abu gelap. Kecintaannya terhadap binatang peliharaan bisa dilihat di akun Instagram pribadi Kim Jae Wook, @jaeuck.kim yang fotonya bahkan kayaknya lebih banyak memenuhi instagram dia daripada fotonya sendiri.

27.   Walrus, band Kim Jae Wook mengeluarkan satu album single pada tahun 2011. Album ini terdiri dari 3 lagu yaitu Mozaic, To Be dan Seoul Witch. Genre-nya didominasi oleh rock dan terdapat juga selipan genre pop. Dan sampai sekarang Jae Wook tetap mempertahankan gaya rocker-nya di tengah arus K-Pop yang mendominasi. Dia tetap konsisten dengan band tersebut tidak peduli seberapa tenar namanya sekarang. Sekali rocker tetap rocker!

28.   Aku pernah coba liat konser Walrus di Osaka. Kayaknya lagu-lagu band itu ditulis dalam bahasa Jepang. Aku masih belum tau personil Walrus yang lain ini orang Korea apa Jepang. Tapi kalo ngeliat perform Jae Wook sama band-nya, aku kayak ngeliat band Jepang. Apalagi rambut Jae Wook yang panjang dan ikal itu, jadi inget vokalis band- Jepang yang biasanya pernah menggunakan gaya rambut itu, semacam Hiroki ‘MFS’, Taka ‘OOR’, Ruki ‘the GazettE’.

29.   Sebelum wamil, Kim Jae Wook ikut drama musikal bareng seniornya Choi Jae-woong, Jo Jung-seok dan Kim Dong-wan. Judul dramanya Hedwig and The Angry Inch’, sebuah drama yang menceritakan jalan hidup seorang musisi transgender, Hedwig. Nah, kalo misalnya Jae Wook jarang banget dapet peran utama di dra atau film yang dibintangi, maka di drama musikal ini Jae Wook kepilih langsung jadi pemeran utama Hedwig yang mau nggak mau menuntut dia berperan sebagai transgender dengan make up tebal dan rambut pirang panjang. Aku nggak tau betapa profesional-nya Kim Jae Wook dalam berakting. Semua peran udah pernah dicobain, bahkan peran sebagai legenda dunia yang tentu bakal disorot sama banyak orang.

30.   Di tahun 2018 Kim Jae Wook kembali mendapat tawaran bermain di drama musikal yang berjudul ‘Amadeus’. Lagi-lagi Jae Wook dipertemukan dengan aktor senior Jo Jung Suk dalam drama ini. Amadeus menceritakan kisah hidup seorang legenda penggubah dunia, Wolfgang Amadeus Mozart. Kalian pasti tau Mozart, kan? Nah, Jae Wook meranin tokoh itu dengan rambut putih dan mengandalkan kemampuan bermain pianonya. Aku seneng karena lagi-lagi Jae Wook dapet peran utama  yang nggak gampang. Dan semoga setelahnya Jae Wook bisa jadi tokoh utama di drama maupun film-film yang dibintanginya nanti.

31.   Jae Wook bertangan kidal. Terlihat jelas dari drama-drama yang dimainkannya. Seperti Mo Tae Gu di Voice, yang memegang bola besi berat dengan tangan kiri untuk membunuh orang. Ini bola besi, loh. Modelnya kayak barbel gitu, berat dan mesti pake tenaga kalo mau bawa. Nah, di sana Tae Gu selalu ngebunuh orang pake tangan kiri yang artinya dia memang tumpuan utamanya pake tangan kiri. Dia juga selalu pake jam tangan di tangan kanan, salah satu ciri khas orang-orang bertangan kidal.

32.   Tapi meskipun dia kidal, menurutku Jae Wook ini punya kemampuan menyeimbangkan antara tangan kanan dan kiri. Ada istilahnya, tapi aku lupa. Aku pernah baca di artikel tentang orang-orang bertangan kidal tapi bisa menyeimbangkan tangan kanannya (secara di mana-mana tangan kanan adalah tangan terbaik untuk berinteraksi sama orang) kayak Jae Wook ini. Katanya sih langka banget ada orang yang bisa seimbang pake tangan kanan dan kiri. Kenapa aku bilang Jae Wook ini punya kemampuan menyeimbangkan kedua tangannya? Kalian tau Moldy gitarisnya band Radja, nggak? Nah, Moldy itu kidal, jadi dia main gitarnya pake tangan kiri. Sedangkan Jae Wook akan tetap pakai tangan kanan untuk main gitar. Metik senar gitar nggak gampang, ges. Apalagi kalo bukan pake tangan utama.

33.   Selain itu Jae Wook mengaku bahwa dirinya adalah seorang atheis. Meski di Korea sana nggak sedikit selebriti yang memilih nggak beragama, tapi aku tetep sedih setelah tau Jae Wook atheis. Orang penuh talenta dan bakat, orang yang sukses macam dia nggak percaya Tuhan? Hell no… siapa yang memberimu kehidupan ini, Oppa? Aku jadi inget kata-kata Jae Wook waktu di drama Voice dan The Guest. Di Voice, waktu korbannya bilang ‘Kamu akan dihukum oleh Tuhan’ sebelum dia dibunuh Mo Tae Gu, Mo Tae Gu malah ketawa dan bilang ‘Kamu bicara seperti itu seolah di dunia ini ada Tuhan’. Aku jadi kepikiran, gimana Jae Wook di kehidupan nyatanya? Aku benre-bener penasaran sama pola pikir atheis. Apa mereka nggak ngerasa butuh surga, apakah mereka nggak takut sama dosa, apakah mereka nggak percaya hal-hal gaib. Dan lucunya, di saat Jae Wook memerankan tokoh Pastor Matteo di The Guest, ada banyak adegan di mana dia nyebut-nyebut nama Tuhan seolah dia percaya. Aku tau itu karena tuntutan peran. Cuma aku penasaran, orang kayak Jae Wook ini panduan hidupnya dari mana? Wong aku yang nggak baca Al Quran sebulan aja langsung ngerasa hidup nggak tenang, wkwkwk.

34.   Jae Wook pernah dikabarkan dating dengan beberapa artis Korea maupun Jepang. Banyak banget, tapi langsung dikonfirmasi bukan. Tapi kalo ditanya tipenya Jae Wook, katanya sih dia prefer sama cewek-cewek Jepang. Mungkin dia wibu, hahahah. Cinta pertama Jae Wook waktu dia SMP, dia pacaran sama cewek Jepang yang umurnya lebih tua 9 tahun. Menurutku cewek Jepang jauh lebih manis sikapnya, lebih feminim dan mungil (?) ketimbang cewek Korea. Mungkin Jae Wook suka tipe-tipe itu.
35.   Aku suka setiap kali stalking Instagram Jae Wook, dia banyak nulis caption lucu. Banyak posting tentang binatang peliharaannya. Dan nggak pernah ngumbar kehidupan pribadi.

Oh, ya ada lagi yang mesti kubahas soal Jae Wook ini. Sebenernya aku kurang suka ngeliat Jae Wook rambut panjang. Aku trauma liat dia jadi Seo Woo yang gay itu. Apalagi kalo liat Jae Wook yang rambutnya panjang trus pake kaos lengan panjang ketat, duh kesan gay-nya makin kerasa. Aku lebih suka liat dia jadi Matteo di The Guest atau jadi hantu ganteng di Who Are You.

KJW as Wolfgang A Mozart

Ini waktu dia wawancara setelah wamil. Tetep ganteng ye.

Waktu aku liat Jae Wook pake rambut panjang, aku langsung keinget sama live action Black Butler tahun 2014. Kalian tau nggak Black Butler? Itu tuh manga yang ceritanya tentang bangsawan muda yang punya butler iblis bernama Sebastian. Di komiknya sih Sebastian itu ganteng banget, ges. Saking gantengnya, banyak yang bilang kalo Sebastian itu nggak akan pernah bisa diperanin sama aktor manapun di live action-nya. Tapi akhirnya kepilihlah Mizushima Hiro yang jadi Sebastian dengan rambut panjang dan wajah yang sebenernya nggak ganteng-ganteng amat. Dan setelah aku liat Jae Wook berambut panjang, entah kenapa aku malah berpikir kalo Jae Wook ini memungkinkan untuk jadi Sebastian. Secara muka dia lebih ganteng daripada Mizushima Hiro hahahah. Coba deh, pasti cocok.

Voice 

Who Are You

The Guest

Temperature of Love


Jae Wook ini lucu, kalo rambutnya dibiarin panjang, maka kesan muka Jepangnya kerasa banget. Kalian tau Miyavi musisi dari Jepang? Nah, banyak yang bilang kalo rambut Jae Wook panjang ini mirip banget sama Miyavi. Sedangkan kalo rambut dia dipotong pendek, muka dia langsung balik lagi kesan Korea-nya. Hahaha. Bisa gitu, ya.

Rasanya mudah banget buat jatuh cinta sama Kim Jae Wook hanya berselang beberapa menit setelah aku nonton episode kedua drama The Guest. Aku ngerasa semakin lama passion buat lebih suka ke ahjussi ketimbang ke oppa jauh lebih kerasa akhir-akhir ini. Aku tau, mungkin beberapa bulan lagi minatku ke Jae Wook akan berkurang, sama kayak minatku ke Suga, Lay, Lee Joon atau Chansung. Tapi aku bener-bener menemukan pribadi yang berbeda dari membaca semua infonya Jae Wook ini. Seolah Jae Wook adalah tipikal orang yang ‘I don’t give a shit’. Masa bodoan sama pendapat orang dan dia tetap jadi diri sendiri. Dia nggak pernah takut ambil resiko apapun, dibuktikan dari penolak ikut audisi, ambil peran film atau drama jadi banci dan gay. Terlalu profesional dan sempurna. 

Aku mau bilang terima kasih sama ibu dan bapaknya Jae Wook. Makasih udah melahirkan cowok ini 13 tahun lebih dulu sebelum aku lahir. Karena kalau 20 tahun setelah aku lahir, dia sama aja kayak bapakku. Haha. Makasih udah melahirkan seorang Kim Jae Wook yang udah ganteng dari lahir tanpa operas plastik. Terima kasih juga pada Tuhan yang udah memberi proporsi tubuh yang bagus serta bakat luar biasa pada cowok ini. Aku yang mewakili dia untuk bilang terima kasih. Aku nggak tau apakah dia pernah bersyukur pada Tuhan atas semua keindahan yang dimilikinya, sedangkan dia bahkan tidak pernah menganggap keberadaan-Nya?

Dear, Kim Jae Wook-ahjussi semoga kamu selalu sehat. Keriput boleh muncul di wajah gantengmu karena aku tau kamu nggak pernah operasi plastik, asal tetaplah jadi dirimu sendiri. I love you who you are. Aku tunggu kemunculanmu di drama lainnya. Semoga peran berikutnya kamu bisa jadi tokoh utama J




Share:

Friday, March 23, 2018

Ngangenin Tapi Jahat


Kebetulan besok kuliah libur karena ada salah satu upacara perayaan umat Hindu di Bali, maka malam ini aku ngetik satu entri baru. Sebenernya ada banyak entri yang udah aku ketik di sela-sela waktu senggangku. Tapi aku nggak punya kesempatan buat publish dengan alasan paket internetku habis dan Wi-Fi kampus sama sekali nggak bisa diandalin. Dan entri yang kutulis kali ini bukan tentang Suga dan tetek bengeknya, melainkan tentang apa yang ada di pikiranku hari ini. Anggap ajalah semacam curhatan, bedanya aku yang semula nggak pernah publish curhatan jadi pede buat publish curhatan sendiri di blog. Aku nggak promosi ke orang-orang buat baca tulisanku, yah anggap aja yang nggak sengaja mampir ke entri ini lagi kurang beruntung sampai harus baca tulisan nggak penting macam ini.
Jadi ini masalah tentang masa lalu. Kalau sebelumnya kalian pernah baca entriku yang ngebahas soal virus otaku, di sana aku sempat nyebutin temen yang pernah ngajak aku kenalan hanya karena selembar kertas print-an lirik lagu Jepang. Nah, masa lalu yang aku bakal ceritain itu adalah dia. Panggil aja dia Aozora, dulu aku sempet manggil dia dengan sebutan itu karena Aozora punya arti langit biru yang cerah, sesuai sama sifatnya yang ceria.
Nah, aku dan Aozora ini udah kepisah lebih dari 3 tahun lamanya setelah kelulusan. Nggak pernah ketemu sama sekali, padahal dulu pas di SMA cukup deket dan rajin banget berkabar. Semasa SMA, Aozora dan aku sama-sama belajar bahasa Jepang, dalam artian kita saling menyukai bahasa Jepang. Sampai kita cukup sering nulis surat dengan huruf hiragana-katakana Jepang hanya karena nggak mau surat kita dibaca orang lain. Kita sering tukeran anime, komik dan lain sebagainya. Aku kasih tau lagu Jepang kesukaanku dan dia pun sering ngasih tau aku lagu Jepang kesukaannya.
Kalo boleh dibilang sih, dia salah satu alasan kenapa aku semangat menekuni bahasa Jepang dan bertekad terus mempelajari bahasa Jepang bahkan setelah lulus sekolah. Dia juga yang bikin aku mau nggak mau harus paham tentang Korea, khususnya EXO karena dia suka sama boyband itu. Dan pengaruhnya bener-bener berhasil mempengaruhiku sampai sekarang. Sampai kami sama-sama lulus, kuliah, sibuk dan lost contact. Di saat aku masih tetap begini, nggak ada perubahan yang berarti pada sosokku saat SMA dan saat kuliah, dia justru berubah drastis menjadi pribadi yang lebih baik.
Dia masuk ke salah satu UIN ternama di kota kelahirannya, ambil jurusan yang mau nggak mau akan mendekatkan dia sama Tuhan dan Nabi-nya, membuat dia berpakaian pantas, santun, rapi dan berkelakuan serupa. Sedangkan aku yang ngotot untuk kuliah di kota tempat tinggal, masuk ke univ yang mayoritas beragama Hindu, memaksa aku semakin membuka jangkauan pergaulan, ke cewek ke cowok, ke agama ini, ke agama itu. Ngebuat aku semakin hilang sikap santun dan sopannya, cara berpakaian yang apa adanya, nggak mikirin sopan santun atau pantas apa nggaknya. Aku nyesuaiin lingkungan pergaulanku, mengingat untuk bisa dianggap ada di antara mereka ya memang harus beginilah jalannya.
Saat itulah perbedaan kontras kita keliatan. Dia menjadi pribadi yang jauh lebih baik, sedangkan aku tetap begini. Buruk. Nggak ada perubahan. Statis. Dan mungkin itu pula yang mendasari dia agak risih bergaul denganku. Maksudku, selama ini cuma aku yang seolah berusaha ngontak dia. Berusaha ngebangun topik pembicaraan biar kita nggak lost contact. Aku inget banget, bahkan aku masih punya buktinya kalo dia pernah nulis di buku agendaku bualan soal ‘Div, pokoknya kalo kita lulus nanti jangan sampai lost contact ya’ dan bualan lainnya tentang bagaimana seharusnya kita jaga komunikasi sebagai sahabat meskipun jarak memisahkan. Tapi nyatanya? Dia sendiri yang ngebuat jarak kita yang aslinya udah jauh jadi makin jauh. Dia nggak pernah keliatan berusaha ngehubungin aku kalo nggak aku yang ngehubungin dia duluan. Pernah memang, sesekali dia nelpon tapi kalo bukan karena aku mana mungkin?
Dan beberapa minggu ini aku maksa diri buat bikin akun WA. Iya, aku emang nggak terlalu tertarik sama WA meskipun rata-rata temen dan keluargaku pake WA. Karena akun yang kubutuhin cuma Line, di sana aku udah cukup buat dapet info tentang kuliah, diskusi soal matkul bareng temen kampus dan dapet pengumuman libur kuliah. Dan WA punya beberapa kekurangan yang bikin aku nggak tertarik buat instal aplikasinya di hape. Sampai pada beberapa temen asrama dan sekolahku terus neror aku buat minta nomor WA, akhirnya aku buat deh. Dan WA kujadiin salah satu media buat menjalin kontak lagi sama Aozora yang selama ini biasanya hanya sebatas komunikasi lewat DM Instagram.
Dan begitulah, awal komunikasi kita sih asyik-asyik aja, seperti teman lama yang nggak berkabar sekian bulan dan saling sharing cerita. Tapi lama kelamaan dia jadi susah bales topik chat kita yang udah susah payah kubangun. Jawabannya sering ‘hahaha’, ‘wkwkwkw’, ‘iya’ gitu doang. Kalo giliran aku yang bales gitu, dia read doang. Memang sih balesan macam gitu pantesnya cuma dapet read doang. Tapi aku inget banget dulu kalo kita SMS-an (belum pake Line atau WA), dia berusaha tetep ngelanjutin obrolan sampai kita bener-bener capek. Dan misalnya kalo pesanku udah nggak dibales sama dia, aku nggak perlu ngerasa takut kalo besok obrolan kita nggak bakal berlanjut. Pasti berlanjut kok, entah itu yang mulai aku duluan atau dia. Tapi kalo sekarang, pesanku nggak dibales sama dia yaudah berarti itu akhir dari obrolan kita untuk beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan.
Dia beralasan kalo dia nggak punya cukup banyak waktu untuk bales chat. Dia sibuk nyari referensi buat proposolannya. Dan hell that’s me too. Aku pun demikian. Aku juga proposalan. Bahkan aku udah maju seminar komperehensif, sedangkan dia baru ngajuin judul doang. Sebenernya, kalo dibilang siapa yang lebih sibuk, aku bakal jauh lebih sibuk daripada dia. Dia sempat bilang juga kalo kuliahnya cuma hari Senin, Selasa dan Kamis. Sisa SKS-nya nggak lebih dari 20. Matkul yang tersisa hanya 6. Bandingin sama aku yang kuliah dari Senin sampai Kamis, kadang Jumat pun ada tambahan. SKS-ku masih 22 untuk semester ini. Dan matkulnya masih ada 8. Sebenernya aku nggak pantes memprotes kesibukan dia, barangkali dia punya kesibukan di luar kuliah yang nggak aku tau. Tapi kalo cuma untuk memulai obrolan dan bales chat doang, beratkah itu? Sedangkan aku yakin hape bakal selalu ada di samping dia? Dan kuotanya nggak mungkin habis nggak kayak aku?
Well, sejauh ini aku yakin kalo alasan utama kenapa dia menggelar jarak dari aku bukan karena dia sibuk. Melainkan karena dia nggak mau terpengaruh aku lagi. Aku, seorang temen dia yang belum berubah. Masih tetep sama kayak dulu. Nggak peka, pemalas, cuek, masa bodoan. Meskipun jarak kita jauh dan kita hanya bisa berinteraksi lewat dunia maya, aku tau kalo dia nggak mau terlalu meladeni temen yang nggak ngasih benefit apapun ke dia. Sedangkan dia udah berubah sejauh ini. Udah menjadi pribadi yang lebih baik. Mana mungkin dia mau bergaul sama aku? Dia punya sahabat, namanya mirip kayak aku (kata dia dulu). Dia tetep berteman sama sahabatnya itu sampai sekarang karena keduanya sama-sama sudah berubah menjadi orang yang lebih baik, lebih santun, lebih menyenangkan.
Aku siapa sih bagi dia? Cuma temen lama yang ngukir luka, kenangan yang dulu sempet keliatan manis tapi kalo sekarang dipikir rasanya menjijikkan. Malu-maluin. Dan ngebuat dia berpikiran ‘buat apa sih kita ngalay kayak gitu? Kekanak-kanakan banget. Pake nyimpen kenang-kenangan lagi, sok-sok buat buku, pop up, video. Buat apaan?’. Ya, kuakuin itu kenangan yang nggak sepantesnya di inget. Anggep ajalah saat sekolah dulu kita masih bego-begonya, masih jahiliyyah. Tapi sungguhan, sampai sekarang aku nggak bisa ngelupain semuanya. Saat kapan kita ketemu pertama kali, saat kapan kita satu bus bareng, saat kapan dia ngasih kejutan ultahku, saat kapan aku nginep di asrama dia. Aku memang terlalu over exposed. Dan aku emang terlalu nuntut sesuatu yang seharusnya nggak semudah itu aku dapetin : waktu luangnya dia. Tapi apa salahnya sih seorang sahabat pengen menjalin komunikasi lagi?
Aku belum jadi pribadi yang lebih baik, memang. Memang belum. Lalu, apa itu alasanmu nggak mau ngobrol bareng aku lagi? Apa aku harus perfect dulu baru kamu bersedia ngechat aku duluan dan nanyain ‘gimana harimu kali ini?’.
Jadi jangan salahin aku kalo percaya sama kata-kataku sendiri, ‘real friends are never exist’. Sebaik-baiknya dia di masa lalumu, belum tentu dia akan bersikap baik di masa depan. Dan buat kamu Aozora, untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bukan berarti kamu bisa meninggalkan masa lalu sepenuhnya.


Denpasar, March 20, 2018
8.20 PM

Share: