Monday, October 28, 2024

Entri Ini Sebaiknya Ngga Dibaca

 Dua bulan tersisa sampai tahun 2024 mengakhiri masa abdinya. Sebuah tahun yang tidak banyak punya arti buatku kecuali 'dapat pekerjaan'. Sudah. Itu saja yang sepertinya spesial. Aku mengikuti interview pertama, kemudian langsung lolos. Berada di sebuah perusahaan yang terbilang cukup baru dan penuh adaptasi pada banyak tren. Terjun bebas pada bidang kreatif yang tidak punya batasan. Sehingga semuanya terasa sulit dibatasi. Rasanya selalu kurang ini, kurang itu. Blablabla.

Tahun 2024 juga menjadi tahun pertama kalinya aku menangis di depan umum. Anxiety sialan itu kambuh tidak tahu tempat. Padahal cuma rasa khawatir doang, tapi bikin mual setiap pagi, pusing ngga karuan. Sulit tidur dan ngga nafsu makan. Aku belum benar-benar menimbang lagi berat badanku. Mungkin sudah berkurang dari angka terakhir yang kulihat di awal tahun. 

Aku lanjut minum fluoxtine, berdampingan langsung dengan clobazam. Dosisnya ngga turun-turun dari tahun lalu. Tapi aku ngga bohong soal mereka sungguhan bekerja keras lebih keras daripada karyawan satu office yang kutemui. Mereka mana mungkin bisa membuatku nyaman dan aman. Fluoxtine dan clobazam does their part so damn well. Lucunya, kombinasi kedua obat ini ngga ada efek apapun kalau coba aku satukan dengan kafein.

Dibandingkan tahun sebelumnya yang penuh naik turun, aku cenderung mati rasa di tahun ini. Padahal kalau aku bisa urutkan, ada banyak kebaikan yang bahkan belum pernah aku terima dari tahun sebelumnya. Tapi aku memang kurang bersyukur, jadinya terasa flat. Rumah baru. Pekerjaan baru. Teman baru. Kesempatan baru. Kalau aku mau, bisa saja aku menulis sepuluh ribu kalimat pada entri ini soal kebaikan-kebaikan itu. Nyatanya? Aku terlalu malas.

Mungkin aku akan mengungkapkan apa saja yang terjadi di 2024 dan membuatku menjadi lebih memahami bagaimana dunia bekerja. Sepertinya itu bukan pembahasan yang membosankan.

Baiklah. Akan aku mulai dari pekerjaan.

Seperti yang kusebutkan di awal, aku terlalu hoki bisa menerima invitation interview pertama dan langsung diterima tanpa perlu interview ke tempat lain lagi (sebenarnya ada 2 lainnya, tapi aku tidak tertarik juga). Ibaratnya langsung klop. Aku dengan ekspektasi pengembangan karir, mereka dengan ekspektasi pengalaman tiga tahunku di bidang kreatif marketing.

Tapi lucunya, kami berdua sama-sama bertolak belakang. Seperti Tom and Jerry yang berkelahi jika bertemu, namun akan saling merindukan jika berjauhan. Aku lupa pada fakta perusahaan tempatku bekerja adalah perusahaan baru berusia dua tahun, settlement bukan bagian dari mereka. Aku terlibat banyak oleh trial and error dengan segudang ketidakpastian. Aku tidak bisa membedakan mana identitas brand atau identitas pemilik. Sebagai karyawan medioker, aku masih bersusah payah berenang dalam lautan ketidakpastian mau dibawa kemana sebenarnya perusahaan ini. 

Mereka pun sama kalapnya. Tiga tahun masa abdiku di bidang itu memang barangkali menandakan aku punya skill. Tapi mereka terlalu terburu-buru. Mereka tidak punya banyak waktu dan pertimbangan untuk menelaah sisi diriku yang lain. Aku adalah sosok yang pernah terluka tanpa sengaja, tengah berusaha melawan trauma yang tidak diketahui asal muasalnya. Ketika mereka berekspektasi aku bisa menahan pressure yang katanya serba 'fast pace', mereka melihat sosok sakitku. Sosok lemah dan kambuhan yang seperti baiknya tidur saja di ranjang Rumah Sakit Jiwa.

Pelajaran yang kudapat dari sini adalah sesederhana; I'm worth to millions. Aku tidak bisa hanya iya-iya saja, hanya oke, noted, baik, siap. Aku perlu membeberkan apa yang ada di kepala, soal apapun yang secara perspektifku barangkali akan menjadi cermin atau pertimbangan mereka. Belajar dari temanku Si Debater, aku seorang Mediator mulai memahami pola-pola ini. System failure is really exist, nearer than our breath. Caranya adalah, lawan, negosiasi atau tinggalkan. 

Kedua, hal ini jauh lebih lucu. Trauma masing-masing orang itu sungguhan lucu. Seperti komedi yang bisa ditampilkan per episode dan ditunggu setiap minggunya. Kebetulan aku terlibat dalam komedi ini, yang mana aku seorang paling mengabaikan dan menghindari pertikaian ditarik kerah bajunya oleh seseorang yang butuh komunikasi, kejelasan dan familiar dengan konfrontasi. Jika pertikaian fisik dibolehkan, dengan tubuh yang jauh lebih besar aku bisa saja menendang badan munglinya dengan keras. Menampar wajah yang bertengger dua mata melotot itu dengan tanganku sampai memerah.

Beruntung sebelumnya aku sempat mengobrol dan tahu sedikit banyak tentang latar belakang karakter gila itu terbentuk. Jadi, aku memaklumi dengan sangat bahwa konfrontasi dan 'marah-marah' memang sarapan dan makan malam hariannya. Aku sempat menyarankannya bertemu psikolog atau psikiater, tapi dia menolak karena bersikukuh pada pendirian 'dia masih normal'. Aku pun agak bingung, normal yang dimaksud apakah saat dia berada di tengah keluarganya yang serba marah-marah itu?

Dan aku pun sama saja. Minim komunikasi dari kecil ternyata tidak secara sadar membawaku pada sosok yang tertutup dan menghindari penyelesaian. Aku benci pertikaian jauh lebih daripada aku harus melakukan apa-apa sendiri. Aku akan cenderung mengalah dan terlihat lemah. Tapi menurutku, itu satu-satunya coping mechanism yang bisa kulewati untuk keep my sanity fine. Takutnya, aku sungguhan bisa membunuh.

Aku terlalu banyak memendam. Terlaluuuuuu banyak. Tak terhitung jumlahnya. Aku takut meledak di salah satu kondisi dan kutembak kepalanya like Joker does. Jadi, aku akan memilih hengkang dan dicap sebagai pengecut.

Apa yang lucu di bagian ini juga terlihat dari satu dua orang yang berusaha terlibat tapi tidak menghasilkan apa-apa. Trauma masa lalu mereka yang kudengar secara suka rela dari mulut mereka sendiri membuatku menarik kesimpulan, suara patah-patahnya, jemari yang gemetar, mata yang sulit fokus, hey, kamu sungguhan tidak apa-apa untuk terlihat kuat di chat dan sangat butuh bantuan saat hadir secara jasad? 

Kamu yang berusaha netral dan memvalidasi perasaan hampir setiap orang, terlalu lemah untuk mengambil keputusan, pada akhirnya kalah telak oleh dominasi orang yang derajatnya bahkan jauh berada di bawah kakimu. Kenapa? Apakah kamu takut pada mata membeliaknya yang seperti barong itu? Hey, percayalah kalian sama-sama punya trauma, aku pun sama. Kehidupan kita belum selesai. Wajar kalau kamu tidak bisa menyelesaikan masalah ini. Tapi ini pun jadi pelajaran buatku bahwa semua orang adalah manifestasi trauma masa lalunya. Termasuk aku. Hahahaha.

Beralih yang ketiga, mungkin agak melompat karena ini terjadi baru kemarin. Sejauh ini aku berdampingan erat dengan masalah mental yang mengganggu fungsiku sebagai manusia normal. Dan pada akhirnya aku coba bagikan ceritaku secara utuh (yeay akhirnya David sungguhan bertemu profesional). Aku memperkenalkan David kepada seorang psikolog. Bagaimana aku menghidupkannya dan secara fasih membuat dunianya. Btw, tanggal 31 ini David ulang tahun. Happy birthday David! Dan Noah Sebastian! Uhuy!

Ketika ditarik ke belakang, ujung-ujungnya aku adalah manifestasi dari kurangnya komunikasi di internal keluarga. Gila aja. Keluargaku utuh, sempurna, bahagia. Tidak ada KDRT. Tidak hidup terpisah. Masih bisa makan. Bisa berpakaian. Bisa berpegian. Aku punya fasilitas. Aku punya tempat pulang. Aku punya dukungan. Tapi apa kata psikolog itu? Keluarga utuh bukan satu-satunya jaminan bahwa aku bisa hidup secara normal?

Wah, ada kurang adilnya di sini. Mari bicarakan temanku yang saat ini hidup satu keluarganya terpisah karena kesibukan masing-masing. Tidak pernah ada bonding yang mengikat seperti halnya aku yang setiap hari masih bisa melihat kedua orang tuaku. Tapi dia normal. Dia tidak menderita penyakit mental apapun. Dia kuat dan beraktivitas seperti orang lainnya secara fasih dan kuat. Bahkan dia sempat berujar "Aku iri dengan hidupmu, orang tuamu." tanpa dia sadari bahwa keduanya adalah manifestasi jangka panjang aku yang begini. Aku dengan David. 

Psikolog mahal. Mahal banget njir. Aku agak kapok menghabiskan uang sebanyak itu untuk satu buah konsultasi. Masalahnya, ketika aku mengandalkan meja Indomaret, yang jadi psikolog justru aku. Aku menampung cerita mereka dan bisa mengambil posisi untuk memvalidasi, menguatkan atau bahkan memberikan solusi (ada kafein akan lebih efektif).

Tapi setidaknya dengan kesempatan bertemu psikolog pertama kalinya seumur hidup aku jadi tahu, bahwa aku yang berusia 27 tahun ini adalah hasil dari aku yang berusia 10 tahun, 16 tahun. Dan aku mesti menyelesaikannya segera sebelum aku benar-benar berusia 30 nanti. Aku tidak mau anakku dibesarkan oleh orang tua yang belum selesai dengan dirinya, dengan masa lalunya. Mengerikan.

Dan yah, jika dibandingkan tahun 2023, aku masih punya teman nongkrong sepulang kerja yang asyik karena pekerjaan sebelumnya memang tidak seserius sekarang. Driver sampai orang gudang pun bisa jadi sangat dekat denganku, kita bolak-balik Denpasar-Singaraja rutin dan tidak menganggap itu pekerjaan overtime karena dilakukan dengan suka cita.

Kalo sekarang? Bisa pulang aja syukur. Keluarnya juga masih bahas ngga jauh-jauh soal kerjaan. Bisa-bisanya di kontrak kerja dateng jam 8 pagi dan masih ada yang setengah 9 baru absen. What the fuck? Giliran pulang on time jam 4 teng, dibahas terus ngga kelar kelar hinaannya. Funny how you try to playing about time with the most on time human ever existed? Mau ada acara selingan pun nol besar. Nonsense. Aku mostly keluar untuk baca dan nulis sendiri di cafe, sekalinya ada tandem itu pun untuk buka sesi konsultasi. HAHAHAHAHA.

Tahun lalu aku juga masih sempat dekat dengan beberapa 'cowo' yang ujung-ujungnya juga menyerah dengan sifat dinginku. Kalah dingin mungkin dan aku suka sekali melihat they're falling together for no further hope. Aku sampai datang mengunjungi tempat kerja salah satunya yang jauh di Jimbaran hanya untuk mengejutkan "Sureprise Motherfucker!" dan menagih utang yang tidak pernah ia sanggup bayar lunas. Dasar cowo ngga modal. Sudah pendek, ngga beriman, sok iye, suka ngutang. Kalo bagian begini, sifat dinginku barangkali bisa mengalahkan "dingin tetapi tidak kejam"-nya Alucard.

Tahun ini aku kebanyakan melihat orang-orang di sekitarku bersama istri, suami, anak, menikah, pacaran, blablablabla. Sedangkan aku tahun ini sungguhan lagi ngga suka sama siapa-siapa dan ngga ada yang juga suka sama aku. Bisa-bisanya ada temanku yang lama ngga ketemu, sekalinya ngajak ketemu untuk bahas pacar dan cowo yang lagi deketin dia. Kubukalah lagi sesi konsultasiku (plus kafein dari Aren Oat Latte), memberi saran yang auto dikerjakan. It seems work on her. Setahun cuma ketemu dua kali, ketemuan pertama berita soal CV yang kubuat untuk dia berhasil ngebuat dia keterima kerja dan aku pun keterima kerja di bulan yang sama, pertemuan kedua ya soal cowo yang lagi deketin dia. Udah, abis itu she no bother me with another meet.

Ada juga cowo rese yang unconscious 'melecehkan' cewe samar-samar, ngga cuma satu. Aku sampai tampar mukanya dengan kalimat panjang ala psikolog sesat yang lebih banyak caci maki daripada ngasih solusi (ditemani kafein dari Caffe Mocha juga kebetulan). Gila aja dia obsesive ngga sehat ke cewe orang. Perlu dijedotin kepalanya berkali-kali sampai dia sadar, dunia ngga cuma berputar buat dia doang. Perkara ngga ada yang mau terima tawaran menu makan siangnya aja ngga berarti orang lain ngejauh dan benci dia. Kukira aku paling melankolis, ternyata masih ada jauh yang udah over dan ngga ketolong. Grow up please.

Tapi man of the show nya adalah dua orang XXTJ yang kebetulan sama-sama muncul di tahun ini. Rese, sumpah. Paling iye soal data, padahal nol. Nir empati, udah teriak-teriak ngga jelas, nada bicara kayak lagi seriosa, masih ngga sadar letak kesalahannya. Pernah minta maaf? Sama sekali ngga. Sok-sok an nutup identitas diri biar ga bisa dijatuhin orang lain, padahal diri mereka yang ngejatuhin diri sendiri dengan sifat ekstrimnya.

Kalo yang satu sih masih bisa diajak kerjasama, aku masih punya benteng besar yang bisa kujadiin tempat sembunyi. Mungkin bisa agak luwes, atau aku konfrontasi langsung karena posisinya cukup mengunci dia untuk bertindak overreacting. Nah, yang satu ini, orang biasa, modal nolep dan backingan doang. Jadi kalo mau overreacting over everything dia mah kayak nothing to lose. Kan orang-orang taunya dia capable. Yah, ngga ngurusin juga orang yang ini. Fluoxtine ngga mempan sama dia, lihat mukanya bikin mual. Bukan mual takut, lebih ke mual yang ewwww what the fucking fuck?

Udahlah itu aja recent update kehidupan Radiva yang begini begini aja. Flat banget broh 2024 kayak ngga ada yang terjadi. Mana sisa lagi dua bulan. Satu-satunya yang bisa bikin aku puas adalah hmmmmm bisa solo trip lagi kali ya kayak awal tahun hahahahaha.


Share: