Thursday, July 4, 2024

Hidup Ini Aneh, Kapal Ini Lebih Aneh Lagi

 Apa kabar 2024?

Enam bulan sudah berlalu, sejak terakhir kali aku menghabiskan waktu terlepas dari rentetan rasa takut yang tidak beralasan. Enam bulan berlalu dari terakhir kali aku mulai beranikan diri mengabaikan keharusan mendatangi meja psikiatri. Dan enam bulan berlalu dari perasaan sedikit tenang, rasa hidup nyaris secara utuh sebagai manusia.

Nyatanya, di usia menginjak 27 aku tidak lagi menemukan esensi kemanusiaan yang bahkan sedikit saja bisa membuatku waras. Aku nyaris gila dengan perasaan kosong yang menguasai diriku. Hampa. Hitam. Gelap. Pekat. Aku tidak punya perasaan apapun selain rasa takut pada apa yang akan terjadi. Pada segala sesuatunya yang bahkan belum terjadi.

Pertama, sahabatku pergi. Aku tidak sedih atau merasa kehilangan. Ya sudah, mungkin ini salah satu kesempatan bagi kami masing-masing. Dia dengan karir barunya. Aku dengan tantangan baruku. Usia kami sama, jalan cerita kehidupan kami pun nyaris sama. Apapun tentang kami selalu bersinggungan. Dan entah, seharusnya aku merasa kehilangan. Tapi sama sekali tidak ada apapun yang bisa membuatku merasakan perasaan tersebut. Kesepian. Kesedihan. Kehilangan. Sudah lama terhapus dari kamusku. Termasuk dalam kasus kepergiannya.

Kedua, aku tidak tahu apa yang diekspektasikan orang lain padaku? Aku jelas tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan. Dan tidak bisa tegas pada keinginanku sendiri. Aku terlalu mencari aman dengan mengikuti alur. Ketika alurnya memaksaku untuk terjun bebas pada tanggung jawab yang lebih mengerikan, dari sisi pikiranku yang mana aku sampai mengiyakan? Rasanya bukan aku yang menjawabnya. Aku berhadapan pada deskripsi jelas dari nominal tinggi yang ditawarkan, yaitu pada tanggung jawab dan pressure berkali kali lipat.

Ini topik utamanya. 

Mungkin benar, ada harga ada kualitas. Ada hak ada kewajiban. Dan tentu apa yang terjadi padaku bukan hal-hal manis yang sempat aku ekspektasikan di awal. Ini lebih dari apa yang pernah aku bayangkan. Lebih buruk maksudnya. Dan biarlah perkataan soal manusia tidak bisa pernah puas itu benar adanya.

Mengapa? Karena ketika aku mengharap yang lebih muda, berekspektasi lebih dapat dimengerti, lebih banyak ide yang selaras, lebih dapat dibantu dan diayomi, nyatanya tidak semua yang muda dapat menutup ekspektasi itu. Culture ya. Personality. Ini benar-benar menjadi faktor utama aku mendapatkan literal culture shock.

Diayomi? Tidak ada posisi yang bisa memenuhi pengharapanku itu. Ini sesederhana perintah dan tanggung jawab. Bukan saran dan pelaksanaan. Mendadak aku rindu pada orang yang dulu aku maki karena egonya. Setidaknya dia bukan hanya memerintah, namun juga mencarikan solusi dan jalan keluar.

Aku yang selama bertahun-tahun dibuai pada kondisi demikian, saat ini benar-benar harus berdiri di kaki sendiri. Mengikat tali sepatu, dan berlari sekencangnya untuk dapat menyamai semua hal yang berkelibat dengan cepat di depan mataku. Masalahnya, tidak ada 'pembelajaran'. Aku perlu sendiri mengamati dan meniru dengan cepat. Sialnya, banyak hal baru di luar kuasaku yang datang bagai air bah. Menakutkan.

Fisikku mungkin tampak baik. Namun mentalku kembali berantakan. Pasalnya, aku tidak lagi mencari bantuan pada antidepresan. Sekalinya aku takut dan cemas, semua mendadak melelahkan. Aku ketakutan berlebihan. Padahal sejatinya hal hal tidak akan semenakutkan itu.

Aku takut ide-ide yang pernah dipuji oleh orang itu (yang kumaki habis-habisan sebelumnya) terasa sia-sia sekarang. Aku ingin bergerak maju, dan terus saja dipukul mundur ke belakang. Semua ideku terbuang seolah percuma. Seperti otak ini ada baiknya diremukkan saja bersama tumpukan mobil bekas. 

Aku takut hal-hal unfamiliar seperti yang tidak berkaitan dengan passion-ku malah menyulitkan aku ke depan. Mendadak mimpi-mimpi soal masa depan dan karir yang kubangun secara kurang ajar di kelas gratis RevoU sirna terhapus tak berguna. Seperti... untuk apa kamu berpikir jauh ke depan? Berangan karirku setidaknya akan cemerlang? Kehidupanku akan sempurna? 

Kecemasan itu malah masih bertengger di sana. Melemahkanku. 

Dan ya, aku berada di suasana mencekam yang apapun serba tertutup dan tidak transparan. 

Persis seperti di labirin yang membatasi ruang gerakku. Belum bertindak pun aku keburu takut. Takut pada kegagalan yang bahkan tidak bepotensi terjadi jika kepalaku menghadap ke depan dan pundakku tegak. Aku keburu loyo. Keburu lesu. Usia yang nyaris sama tidak bisa menjamin aku mendapatkan kesempatan untuk membagi pola pikir yang sama.

Aku tertekan pada batasan ini, batasan itu. Kecemasanku menjadi-jadi.

Barangkali aku mesti ke psikiater lagi.

Dan ya, mau tidak mau aku harus kembali menghidupkan dunia alter egoku. Aku perlu melarikan diri barang sejenak, setiap harinya dari dunia fana menyebalkan ini, untuk dapat menyambut David, Nathan dan semua karakter lain dari dunia sebelah. 

Aku harus secara cerdas dan kreatif membangkitkan mereka kembali dengan bentuk kehidupan lain yang barangkali masih tetap sama menyesakkannya.

Dan selain Dokter Widya, aku semestinya perlu mengadu pada Tuhan. Ini keterlaluan. Rasa takut dan cemas ini sungguh keterlaluan. Aku menghadapi semuanya serba sendirian. Aku bekerja dan gajiku tidak membuatku bahagia. Aku beraktivitas dan saat tidur aku tidak merasakan esensi beristirahat. Aku tidak makan dan aku tidak sedikit pun merasa kelaparan. Aku menjabat kesempatan baru dan sama sekali tidak setitik pun membuatku merasa bangga.

Aku mati rasa. Mati. Yang benar-benar sungguhan mati. Aku ini hanya mayat hidup yang kebetulan masih punya cadangan nyawa tidak berfungsi. Perasaanku tidak pernah bahagia, sedih, kecewa, puas atau illfeel. Aku hanya punya rasa cemas dan takut.

Aku tidak tahu fungsi hidupku apa. Padahal aku tidak clubbing, tidak merokok atau minum, tidak narkoba, tidak seks bebas, tidak pacaran, tidak hura-hura. Hidupku normal dan stagnan. Tapi tetap, aku tidak punya tujuan hidup.

Mati pun saat ini kuyakini bukan opsi semenggoda sebelumnya. Tapi kehidupanku sudah tidak bisa dimaknai lagi.

Satu hal pasti yang mendeteksi kenapa mati rasaku sudah sampai level tertinggi adalah ketika aku tidak terlalu peduli orang lain menilaiku. Aku lah yang menilai diriku sendiri. Dan aku terlalu malas berfungsi menjadi manusia yang mau tidak mau harus terlibat dengan penilaian orang lain terhadapku.

Seperti sekarang. Di posisiku yang sekarang. Aku yakin banyak yang menilaiku. Aku tidak peduli dengan penilaian mereka sejujurnya. Aku lebih peduli pada diriku sendiri, seperti kemampuan adaptasi yang selama ini selalu kuelukan akan tetap sesuai mengikuti lingkungan sekitarku. Namun sepertinya kemampuan itu perlahan sirna di lingkungan dan culture yang sekarang.

Bagaimana ya, rasanya aku hanya seperti 'menebeng' di rumah orang. Cuma menumpang di kapal milik orang asing yang secara waktu dan kebudayaan jauh berbeda denganku. Kapan saja aku bisa melompat atau ditendang dari kapal ini. Selama arahku tidak sama atau keinginanku sedikit berbeda.

Menegerikan. Sungguh. Aku ketakutan setengah mati.




Share: